Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

Profesi guru sungguh unik dan berat. Apalagi guru di sekolah Kristen. Tanggung jawab yang di embannya sungguh di atas rata-rata. Sedemikian seriusnya peran itu hingga Alkitab menulis “Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru, sebab kita tahu bahwa sebagai guru kita akan dihakimi dengan ukuran yang lebih berat.” (Yakobus 3:1). Pernahkah kita mencoba merenungkan ayat itu dan menyadari kebenarannya?

Dokter juga adalah sebuah profesi mulia yang juga berat. Coba bayangkan, ada seorang dokter yang berkata pada pasiennya, “Kurangi merokok, paru-parumu sudah mulai kena flek.” Sang pasien yang perokok berat pun mulai berusaha berhenti. Lantas suatu hari di sebuah café si pasien melihat dokternya sedang menghisap kretek dalam-dalam sambil ngopi. Di sisi lain,  ada seorang guru yang menasehati muridnya yang kepergok sedang merokok. “Merokok itu tidak baik, kamu merusak tubuh pemberian Allah, dan menghamburkan uang anugerah Allah.” Kemudian pada malam harinya keduanya berpapasan di jalan dan si murid melihat sang guru asyik menghisap rokok sambil berjalan sendiri. Bandingkan reaksi dan pengaruh yang ditimbulkan perilaku guru pada murid, dan dokter pada pasiennya. Kemungkinan besar si murid akan terus merokok dan hilang rasa hormat dan kepercayaannya pada sang guru, sementara pasien mungkin tetap akan mengurangi kebiasaan merokok demi kesehatannya dan membiarkan dokter mengambil resiko atas perilakunya sendiri. Inilah yang membuat profesi guru menjadi tak biasa. Ketika memutuskan menjadi guru, kita terikat pada etika yang layak dijunjung tinggi.

Seorang guru sudah sepatutnya mendukung dan menaati semua peraturan dan tata tertib sekolah. Dengan bersikap demikian guru memberi pengaruh yang baik pada siswa-siswa, hingga mereka pun terdorong untuk taat pada peraturan. Guru tidak boleh menunjukkan atau membicarakan keraguannya atas peraturan maupun tata tertib sekolah kepada murid atau orangtua siswa. Apabila ada keraguan, sebaiknya hanya dibicarakan dengan Kepala Sekolah. Sekolah harus menunjukkan kesatuan. Seluruh pihak yang menjadi bagian dari sekolah harus menghargai kebijakan yang ditetapkan. Bila kita tidak menghargai diri sendiri, bagaimana orang lain akan menghargai kita?

Beberapa hal perlu kita perhatikan untuk menjaga profesi guru tetap berada di tempat bermartabat, demi pengaruh baik yang kita sebarkan ke murid-murid, antara lain :
1. Guru harus memiliki sikap yang mencerminkan suatu kepribadian dengan standar yang tinggi, setiap saat. Sikap seorang guru terhadap wali murid, sesama guru, dan pimpinan, sebaiknya selalu menyenangkan, ramah, penuh pertimbangan, dan hormat.
2. Guru harus dapat dipercaya untuk menyimpan rahasia. Dalam situasi apa pun hal-hal yang dirahasiakan tidak boleh dibocorkan pada siapa pun.
3. Informasi yang bersifat rahasia sebaiknya tetap dipegang teguh sesuai aturan. Guru seharusnya tidak asal bicara. Perlu menunjukkan rasa hormat yang tinggi kepada Kepala Sekolah dan sesama guru setiap saat. Jangan menyapa dengan nama panggilan di depan orang lain.
4. Apabila ada siswa yang melanggar peraturan sekolah, guru boleh menangani sendiri atau membawa ke Kepala Sekolah atau staf. Ini bukan masalah yang perlu dirahasiakan.
5. Pergunakan waktu kerja dengan baik, dan jangan mencuri waktu orang lain dengan melakukan kunjungan yang tidak perlu. Kemana pun ia pergi, seorang guru Kristen mewakili sekolah milik Yesus Kristus. Sikap dan tindakan-tindakannya hendak lah jauh dari celaan, agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Ada orang yang beranggapan, setelah jam sekolah usai, dan setelah guru berada di luar lingkungan sekolah, dia bebas melakukan apa yang diinginkannya. Namun, tentu lah sulit bagi guru untuk bisa mengajar murid-murid tentang prinsip hidup yang baik bila dia sendiri melanggar prinsip tersebut.

*ditulis ulang berdasarkan buku “Panduan untuk Guru-guru Sekolah*

By NO Comment , , , 10th November 2009

Leave a Reply

*

WhatsApp chat