Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

Di internet,  saya mencoba menelusuri info terbaru mengenai gadis-gadis korban jejaring sosial dunia maya. Ada berita ditemukannya siswi SMP Diva Erriani Lelita atau Erin  (12) yang kabarnya diculik teman Facebook-nya. Ada juga berita mengenai Komnas Perlindungan Anak (KPA) yang telah menerima setidaknya 100 laporan kasus Facebook terkait dengan pengaduan tentang dampak dari penggunaan situs jejaring sosial dunia maya tersebut. Lalu di sebuah forum, tiba-tiba pandangan saya tertuju pada sebuah postingan yang cukup menohok: 2/3 Siswi SMP di Indonesia sudah tidak perawan.

Apa gak salah, nih?

Postingan yang terakhir  ini membuat saya termangu beberapa jenak. Rasanya antara percaya dan tidak. Dalam hati saya, jangan-jangan ini hanya postingan orang iseng aja. Maklum, namanya saja di dunia maya banyak juga tulisan yang ngawur. Walau demikian, saya sangat tertarik. Penasaran ceritanya. Agar yakin, saya pun menelusuri datanya berbagai situs media arus utama. Ternyata info tadi gak salah, cuma belum lengkap. Menurut hasil survei yang dilakukan Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak 2008 di 33 provinsi di Indonesia, 62,7 % siswi remaja yang tercatat sebagai pelajar SMP dan SMA di Indonesia, sudah tidak perawan lagi! Wow…!!!

Pertanyaannya adalah apakah nilai-nilai budaya  dan moralitas bangsa ini sudah bergeser?

Entahlah. Saya kemudian teringat tulisan Mariska Lubis di Kompasiana, Perawan, Oh, Perawan , yang mengupas  tentang arti penting keperawanan. Dalam tulisan tersebut Mariska menggambarkan bahwa di Amerika Serikat pada dekade 80-an, masih banyak orang yang punya pikiran bahwa seorang perempuan yang sudah menginjak usia remaja tidak keren bila masih perawan. Bahkan dianggap memalukan. Ini menunjukkan betapa dalam pandangan mereka keperawanan itu tidak mempunyai arti.

Jika hasil survei Komnas Perlindungan Anak di atas benar adanya, maka justru Indonesia yang justru cenderung mengadopsi pandangan Amerika tadi.  Dalam sebuah polling menyebutkan bahwa 56 persen anak-anak gadis usia sekolah menengah di Amerika sudah melakukan hubungan seksual. Jika ini dijadikan perbandingan, berarti kondisi Indonesia sekarang sudah lebih gawat dibanding Amerika! Karena di Amerika saat ini malah mulai ada trend di mana keperawanan menjadi simbol kekuatan seorang perempuan.

Kok di Indonesia bisa begini, ya? Bukankah budaya bangsa ini memandang keperawanan sebagai suatu yang sangat sakral dan penting? Bahkan begitu pentingnya, tak jarang pria menceraikan istri yang baru dinikahinya setelah diketahuinya sudah tidak perawan lagi di malam pertama. Akan tetapi, jika dikaitkan dengan hasil survei ini maka jelas pandangan tersebut jelas sudah bergeser. Toh, kalau belum bergeser, maka saya tidak bisa membayangkan betapa banyaknya wanita yang nantinya akan diceraikan suaminya gara-gara mengetahui istrinya sudah tak perawan lagi. Kecuali kalau si istri mampu menipu suaminya dengan menjadi perawan palsu,  misalnya dengan melalui operasi hymenoplasti.

Entah siapa yang salah dalam hal ini. Apakah orang tua, lingkungan, atau ada faktor lain. Mungkin ini semua penting menjadi renungan khususnya bagi orang tua yang mempunyai anak gadis remaja. Kembalikanlah budaya bangsa yang berpandangan bahwa keperawanan itu sakral adanya dan hanya untuk dipersembahkan kepada suami yang sah di malam pertama.

Semoga bermanfaat.

Salam Kompasiana
sumber : kompas.com

By 1 Comment , , , 17th February 2010
  • Pieter
    19th March 2010

    Orang Indonesia beberapa tahun lalu sangat berbeda dengan sekarang. Dulu, bahkan berpacaran pun rasanya malu dengan orang. Tetapi kini, orang yang tidak berpacaran jadi malu. Dulu virginitas sangat dianggap tinggi nilainya, dan org yg sudah tidak virgin lagi sangat malu dan mendapat tekanan yang lumayan tinggi dari masyarakat, karena hal itu dianggap tabu. Tetapi kini, rasanya jika mendengar obrolan anak remaja/pemuda, sepertinya kata “tidak virgin” sudah tidak menghebohkan seperti dulu..mengapa ini bisa terjadi di Indonesia yang “Timur” ini?
    1. Pengaruh Jaman
    Suka atau tidak, sadar atau tidak, rasa-rasanya kita semakin berkiblat ke Barat. Segala yang Barat dianggap maju dan modern, dan segala yang Timur menjadi ketinggalan jaman. Musik Barat dan pakaian Barat lebih disukai dari musik tradisional, dsb. Hal ini membuat tanpa sadar budaya dan gaya hidup Barat pelan-pelan memasuki alam pikir orang Indonesia untuk lebih toleran, bebas, dsb.

    2. Pengaruh Media
    MTV, Film-film yang ditonton, bahkan sinetron Indonesia yg lebih mengadopsi pemikiran dan gaya hidup Barat, membuat anak-anak remaja/pemuda lebih siap untuk berhubungan seks sebelum menikah daripada beberapa tahun lalu.

    Hal ini menjadi keprihatinan kita semua. What should we do??

    1. Guru sahabat siswa.
    Banyak siswa yang bergumul dengan hal ini membutuhkan tempat untuk curhat. Jikalau kita sebagai guru mampu menjadi sahabat, maka kemungkina anak datang dan bertanya pada sumber yang baik akan besar. Takutnya banyak siswa yang memilih curhat dengan teman lain, dan akhirnya mendapat nasihat yang tidak baik.

    2. Guru mengingatkan siswa.
    Jika kita diam saja, maka takutnya siswa menganggap hal ini bukan hal besar. Tetapi mumpung guru menjadi teladan dan suaranya masih bisa didengar murid, kita perlu memikirkan untuk memberikan pengajaran yang tepat dan dengan bahasa yang murid bisa pahami.

    Tolong tambahkan 🙂
    Gbu all

    Reply

Leave a Reply

*

WhatsApp chat