Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

Waktu pertama kali masuk gedung SMP, rasanya bangga banget. Dan, aku sempet kayak kampungan gitu saat liat bangunan, fasilitas, dan segala macem yang ada di SMP yang begitu kerennya.
Setelah itu, aku jadi sering pamer ke adikku sehingga dia kadang jadi kesal gara-gara ceritaku tentang SMP Athalia. Dengan bangganya, aku ngangkat kepala dan bilang, ”Di SMP pasti seru banget, dan aku yakin, hari-hariku di SMP akan jauh lebih baik dibanding waktu di SD!”
Sampai akhirnya, hari pertamaku di SMP tiba.
Hari pertamaku di SMP dimulai dengan MOS – kependekan dari Masa Orientasi Siswa. Baru aja permulaan, kami dikerjain sama kakak-kakak kelas kami. Kami disuruh minta tanda tangan kakak-kakak kelas. Nggak hanya itu, bagi para cewek mesti juga diperintahkan untuk menguncir rambut jadi empat kunciran.
Meskipun dikerjain, aku seneng banget. Aku makin jatuh cinta sama SMP Athalia. Rasanya nggak pengen pulang!
Hari-hari MOS selanjutnya tentu nggak kalah serunya dibanding hari pertama. Terutama di hari keempat. Di hari itu, kami bisa kenal temen-temen sekelas lebih deket lagi. Di kelasku, anak-anak barunya cuma tiga orang.Ketiganya cowok. Nama mereka adalah Jordan, Budi dan Ferdi. Selebihnya, aku sudah tahu mereka sejak SD meskipun nggak kenal deket. Intinya, aku merasa temen sekelasku asyik-asyik. Dengan watak yang berbeda-beda, mereka mewarnai kelasku dan menambah semangatku untuk jalani hari-hari di SMP. Lagi-lagi, aku nggak bisa nggak bilang, “Di SMP bakalan sempurna!”
Aku pun menyelesaikan MOS dan mulai dapetin temen-temen baru.
Becca, cewek serba rapi dan bersih tapi gaul. Sarah yang keren dan jago bahasa Inggris, namun rendah hati. Lalu Feli yang cinta mati sama Korea. Feli juga jago kerajinan tangan dan termasuk yang paling muda di kelas. Terakhir, Lila. Cewek yang gayanya serba ling-lung dan cengo.
Bagiku mereka adalah temen terdekatku yang bisa nerima aku apa adanya. Kami kompak banget. Contohnya seperti saat ini, saat kami baru aja bubaran sekolah.
“Cuy, besok sama-sama pake vest yuk! Biar kompak!” usul Feli, kreatif.
“Boleh! Sekalian aja kuncirannya kembaran. Karetnya warna biru, ya” tambahku penuh semangat.
“OKE!” jawab Lila, Becca, dan Sarah, serempak. Kami benar-benar kompak kan?
Tapi, tiba-tiba aja kegembiraan kami lenyap. Bisik-bisik yang berasal dari ujung ruangan yang jadi penyebabnya. Serentak kami mencari sumber bisikan.
Ternyata, Jordan, Budi dan beberapa cowok anggota gank mereka. Mereka ngeliatin kami sambil nunjuk-nunjuk dengan jari. Sangat nggak sopan.
Aku yang cepet naek darah langsung nyerocos, “Kenapa sih mereka?!”
“Sabar dulu, Jes. Bisa aja mereka bukan ngomongin kita” Lila mencoba nenangin aku.
“Sabar gimana?! Menurut lo, emang mreka ngomongin siapa?! Tembok?! Jelas-jelas mreka nunjuk-nunjuk kita!” kataku ketus.
“Udah, ngapain sih cari-cari masalah?”tambah Sarah.
“Mending kita lanjutin latian soal yang tadi” Becca ikut nimbrung.
Emosiku surut. Aku nggak bisa ngebantah nasihat mereka. Tapi, cowok-cowok itu tampaknya serius mencari masalah.
Sewaktu kami berjalan di lorong sekolah, mereka ngeluarin komentar-komentar yang bikin aku panas lagi.
“ Ngapain sih pake acara kembaran segala? Kayak mau ngapain aja..” kata Jordan sinis.
Pengen rasanya aku datengin mereka tapi tanganku langsung dipegang oleh Feli. Dia sepertinya tahu persis isi hatiku.
“Tau tuh, norak deh! Kampungan banget sih!” sambung Mikey, temen mereka.
Aku bener-bener nggak bisa menahan diri lagi. Mereka nggak hanya mengkritik tapi udah mulai mengejek. Kusentak pegangan tangan Feli dan langsung datengin mereka.
“Mau lo apa sih?! Apa urusan lo sama kita?! Kita mau jungkir balik kek, lompat-lompat kek, suka-suka kita!” dampratku.
Eh, mereka malah ngelewatin aku dengan santainya sambil berkata, “Nggak penting.”
Aku makin kesel!!! Bayangin aja, betapa nyolot dan menyebalkannya mereka!
Untung temen-temenku yang menangkap gelagat aku bakalan meledak buru-buru menarikku masuk kelas. Mereka sama denganku. Marah besar. Bedanya, mereka bisa menguasai diri. Aku pun menarik napas. Aku mesti juga bisa menguasai diri.
Tapi, kayaknya aku bener-bener harus belajar penguasaan diri. Sebab, sejak saat itu , Jordan dan gank-nya sering mengejek kami. Hari-hari kami rasanya jadi hancur gara-gara ulah mereka. Kesenanganku di awal-awal sekolah di SMP langsung lenyap. Ternyata dugaanku salah. Di SMP tidak sesempurna bayangan dan harapanku.
Hingga suatu saat, sekolah ngadain program LDC. LDC itu semacam training bagi muri-murid yang pengen jadi NCO. NCO sendiri adalah mereka yang bertugas mengurus kegiatan BB dan bertanggungjawab atas squad-nya. Di LDC nanti kita bukan sekedar di-training aja tapi juga di-test.Jika kita lulus test, kita baru bisa menjadi NCO.
“Girls, gue mesti bisa masuk seleksi LDC, dan harus bisa lulus!” ucapku pada temen-temenku. Ya. Aku berencana ikut LDC!
“Tumben mau ikut acara yang tough, Jes?” Sarah langsung menanggapi.
“Karena gue mau belas dendam! Kalau gue bisa jadi NCO, gue pengen Jordan dan gank-nya liat kalo gue bisa jadi lebih kuat dari mereka!” jawabku penuh amarah.
“Lo memang jenius, Jes!” puji Lila cepat.”Gue dukung lo!!!”
Maka, aku pun mendaftar dan dengan hati deg-degan menunggu hasilnya. Dan, ternyata aku lolos seleksi! Begitu aku membaca pengumuman yang ditempel aku pun berteriak gembira, “Gue lulus!!!”
Temen-temenku langsung mengerumuniku dan memberikan semangat, “Bagus, Jes, sekarang lo bisa bales dendam sama mereka!”
Aku yang bangga karena berhasil diterima ikut LDC langsung ngebayangin diriku menjadi NCO dan membuat cowok-cowok itu kalah. Tetapi, mendadak aja sebuah ayat muncul di benakku, “Jika engkau makan, atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan segala sesuatu, lakukanlah untuk kemuliaan Tuhan.”
Jantungku rasanya berhenti berdetak. Aku sadar, aku salah. Aku salah karena motivasiku ikut LDC adalah balas dendam, bukan memuliakan Tuhan.
Kupandang temen-temenku dengan tatapan kosong. Keliatannya aku bukan cuma salah tapi salah besar. Aku telah membawa temen-temenku menyimpan dendam yang sama. Kugelengkan kepalaku pelan. Pengen rasanya aku menangis kalau aja nggak inget sedang berada di antara murid lainnya yang sibuk membaca pengumuman LDC.
Kutelan ludahku. Kerongkonganku rasanya kering. Lalu, kutarik temen-temenku menjauh dari keramaian. Aku nggak bisa biarin semuanya makin nggak bener. Aku harus ngomong kebenaran. Ngomong kalau tujuanku ikut LDC adalah untuk memuliakan Tuhan. Dan, kami semua harus nyingkirin semua dendam nggak perlu yang bikin hari-hari kami jadi nggak nyaman.
“Girls…” Suaraku terdengar serak. Temen-temenku yang heran gara-gara kutarik mendadak, menatapku penasaran. Mereka menunggu kelanjutan kalimatku.
“… gue udah salah. Percuma gue jadi NCO kalau cuma dendam… Gue mau jadi NCO karena gue mau memuliakan Tuhan…”
Sunyi… Temen-temenku nggak ada yang komentar. Mereka takjub. Kaget. Nggak nyangka…
Tapi, dari sorot mereka yang disertai anggukan pelan, aku ngerti kalau mereka setuju denganku.
Kuhembuskan napasku kuat-kuat. Kali ini seluruh hatiku nyaris meledak oleh sukacita!

***
Hari LDC akhirnya dateng juga. Perasaanku bercampur senang, semangat juga deg-degan. Aku takut nggak lulus. Tapi aku inget kalau yang terpenting bukan lulus atau enggaknya tapi semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Jadi, selama LDC, aku memberikan yang terbaik untuk Tuhan.
Kemudian… hari pengumuman kelulusan LDC pun tiba… Saat dibacain, jantungku memompa dua kali lebih cepat. Aku tegang luar biasa. Namun keteganganku mencair saat namaku disebut!
Sepenggal doa sederhana meluncur tak terbendung saat itu juga di hatiku,
“Tuhan, terima kasih telah memberikanku KESEMPATAN KEDUA. Sebenarnya, aku nggak layak lulus seleksi LDC karena motivasiku yang salah. Tapi Engkau masih memberiku kesempatan, dan mengijinkan aku mengubah motivasiku untuk melakukannya bagi kemuliaanMu!”

– Jacynda 7D –

By NO Comment , , , 11th May 2010

Leave a Reply

*

WhatsApp chat