Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

Pembelajaran koperatif sesuai dengan karakteristik manusia sebagai makhluk sosial yang perlu berinteraksi dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembagian tugas, dan toleransi. Dengan memanfaatkan kenyataan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, dan tanggung jawab. Selain itu siswa juga dapat belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada kontrol dan fasilitas, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.

Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi, dan pelaporan.

Untuk dapat membuat proses pembelajaran ini menjadi lebih menarik, ada baiknya siswa tidak diperbolehkan membawa buku atau catatan. Metode ini dapat digabungkan dengan metode lainnya seperti talking stick atau problem based learning.

Beberapa contoh yang pernah saya lakukan berkenaan dengan metode pembelajaran ini adalah:

  1. Memutar film singkat yang berisi aplikasi Hukum Newton dalam kehidupan sehari-hari, setelah itu siswa duduk dalam kelompok untuk mendiskusikan pembelajaran dari film tersebut.
  2. Memberi modul tentang Hukum Pascal. Siswa berdiskusi dalam kelompok untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pada modul tersebut.

Kedua kegiatan diatas diakhiri dengan presentasi kelompok di akhir jam pelajaran.

Nilai positif dari metode ini:

  1. Siswa dapat belajar untuk menganalisa kejadian di sekitar mereka dan menyimpulkannya
  2. Siswa dapat berinteraksi dengan siswa lain, bertanya yang belum dimengerti dan memberi informasi yang telah diketahui
  3. Siswa dapat belajar mempertanggung jawabkan hasil pemikiran mereka di depan orang lain

Nilai negatif dari metode ini:

  1. Membutuhkan waktu yang cukup lama (2 JP)
  2. Membutuhkan ruang yang cukup besar dan cukup kedap suara (karena diskusi kelompok biasanya tidak tenang)
  3. Siswa dapat menjadi pasif atau minder dalam kelompok diskusi
  4. Penilaian dapat bersifat subjektif

 

Oleh: Mattias Malanthon, S.T.

Pustaka :

Ngalimun, 2012.  Strategi dan Model Pembelajaran. Banjarmasin. Scripta Cendekia.

Leave a Reply

*

WhatsApp chat