Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

Aiko di Tokyo

Aiko berlari menuju ibunya sambil meneteskan air mata, padahal tadi pagi ia pergi dan bermain dengan temannya dengan wajah gembira.

“Apakah kemiskinan itu, Bu? Anak-anak di taman bilang kita miskin. Benarkah itu, Bu?” Tanya Aiko kepada ibunya.

“Tidak, kita tidak miskin, Aiko. Miskin berarti tidak mempunyai sesuatu apa pun untuk diberikan kepada orang lain,” kata ibu.

“Tapi kita memerlukan semua barang yang kita punyai,” kata Aiko. “Apakah yang dapat kita berikan?”

“Kau ingatkah perempuan pedagang keliling yang ke sini minggu lalu? Kita memberikan sebagian dari makanan kita kepadanya. Karena ia tidak mendapat tempat menginap di kota, ia kembali ke sini dan kita memberinya tempat tidur,” ibu memberi contoh.

“Ibulah yang memberinya. Hanya saya sendiri yang miskin. Saya tak punya apa-apa untuk saya berikan kepada orang lain,” kata Aiko.

“Oh, kau punya. Setiap orang mempunyai sesuatu untuk diberikan kepada orang lain. Pikirkanlah hal itu dan kau akan menemukan sesuatu,” jawab ibu meyakinkan Aiko.

Aiko mencari tahu apa yang dapat ia berikan pada orang lain. Ia membongkar barang-barang yang ia miliki, tas, alat tulis dan segala sesuatu yang ia miliki. Namun ia tidak menemukan apapun. Tiba-tiba wajahnya nampak gembira.

“Bu! Saya mempunyai sesuatu untuk saya berikan,” kata Aiko.

Ya, Aiko telah menemukan sesuatu yang dapat ia berikan kepada orang lain dan ia dapat memberikannya kepada banyak orang, bahkan kepada seluruh orang tanpa berkurang sedikit pun. Sehingga ia dapat terus memberi dan memberi tanpa pernah kehabisan.

Aiko sangat senang karena ia telah menemukan sesuatu untuk dibagikan pada orang lain. Namun kini hati Aiko kembali sedih. Suatu malam Aiko mendengar bahwa adiknya Toru yang pintar akan dinaikkan melompat satu kelas tahun depan. Jadi tahun depan ia akan sekelas dengan adiknya.

Aiko sangat senang dengan keberhasilan Toru, namun ia sangat sedih karena ia harus satu kelas dengan Toru. Teman-temannya pasti akan mengejeknya kembali. Apa yang harus ia lakukan?

Suatu hari paman Ogawa berkunjung dan membawa kabar yang sungguh mengejutkan bagi Aiko. Sebuah kabar yang mengharuskan Aiko berteman dengan Kenichi yang sangat egois dan pemarah, dengan bapak dan ibu Ito yang penuh kasih, dan nenek yang selalu menghiburnya. Bahkan ia harus mengalami peristiwa badai topan yang merubuhkan rumah bapak dan ibu Ito serta menimpa tubuh Genji, seorang anak lelaki yang suka melempar bapak dan ibu Ito dengan sayur-sayuran. Apa yang harus Aiko lakukan?

Bagaimana kelanjutan kisah Aiko? Yuk, baca cerita lengkapnya dalam Buku “Aiko di Tokyo”. Bukunya dapat dibeli di toko buku terdekat atau untuk siswa Athalia dapat dipinjam dari Perpustakaan SMP. Tanyakan saja pada ibu Hana, ibu Ita, atau ibu Ros letaknya di mana ya…… Selamat membaca …

-IB/ Karakter-

 

Leave a Reply

*

WhatsApp chat