Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

Athalia Student Territory

Sumi San lahir dalam sebuah keluarga yang miskin. Hutang mengharuskan ayahnya mendekam beberapa lama di dalam penjara. Pada saat ayahnya keluar dari penjara, sang ayah memutuskan untuk bekerja ke kota. Karena pekerjaan di kota pasti akan sangat sibuk, maka ayahnya mengajak Sumi untuk ikut serta dengannya untuk mengurusi kebutuhannya. Sifat Sumi yang sangat rajin, telaten dan mandiri, menjadi pertimbangan. Ayah Sumi yakin, Sumi pasti akan dapat menolong dan merawatnya dengan baik.

Akhirnya Sumi dan ayahnya menyewa sebuah tempat di kota untuk mereka jadikan tempat tinggal. Suatu hari ayah Sumi membawa seorang temannya yang bernama Shigeru. Shigeru akan tinggal serumah dengan mereka agar biaya sewa dapat dibagi dua. Ayah Sumi berharap uang hasil bekerja dapat ia tabung lebih banyak sehingga hutang-hutang keluarganya dapat segera lunas. Awalnya semua berjalan dengan lancar, sampai suatu hari ketika Sumi dan ayahnya berencana untuk kembali ke kampung halaman mereka di Funo, Shigeru meminta Sumi untuk tinggal bersamanya di kota. Ternyata selama ini Shigeru sudah menaruh hati pada Sumi San. Namun pada saat permintaannya ditolak oleh Sumi, maka Shigeru menjadi marah dan menodai Sumi. Rasa sedih yang mendalam dialami oleh Sumi San, namun ia tidak mau menceritakan apa yang ia alami kepada orang tuanya karena ia khawatir akan membuat mereka cemas. Sumi San yang pergi ke kota dengan wajah gembira kini pulang ke kampung halaman dengan wajah yang sedih.

Setelah tinggal beberapa lama di Funo, kesedihan Sumi akhirnya sirna, hal ini disebabkan karena ia menyukai kehidupan di Funo dan terlebih  lagi karena ia dapat berkenalan dan menjadi dekat dengan salah seorang pemuda bernama Katzuo.

Keadaan ekonomi keluarga yang sangat sulit akhirnya memaksa Sumi untuk pergi ke Kobe dan bekerja sebagai tukang tenun sambil melanjutkan sekolahnya di malam hari. Sumi bekerja dan belajar dengan sangat rajin, hingga akhirnya kesibukannya yang sangat padat membuatnya terkena bronchitis dan beri-beri. Ia dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan dan terpaksa kembali ke kampung halaman karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan baginya untuk bekerja kembali.

Setelah kondisi kesehatan Sumi membaik, Sumi memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya ke Hirosima. Ia mengambil jurusan juru rawat. Akhirnya Sumi dapat menyelesaikan pendidikannya dan bekerja sebagai juru rawat pada sebuah rumah sakit. Namun sebuah kabar menyedihkan datang dari kampung halamannya. Sumi mendapat berita bahwa ibunya meninggal dan ia harus segera pulang ke Funo.

Kesedihan mendalam kembali menghampirinya, selain karena kematian Ibunya juga karena ia harus meninggalkan pekerjaannya sebagai juru rawat. Ia harus tinggal di Funo untuk mengurus rumah tangga. Sebagai anak tertua Sumi sadar bahwa beban itu harus ia pikul. Keputusan ini sungguh bukan hal yang mudah bagi Sumi. Namun, ia dan ayahnya yakin bahwa mereka dapat mengatasi kesulitan yang sedang terjadi dan segalanya pasti akan kembali normal dengan bantuan dewa Hotoke San. Sumi dan keluarganya adalah penganut agama Budha. Prinsip hidupnya didasarkan pada ajaran tersebut, yaitu bahwa “hidup hanyalah soal nasib semata, biarpun manusia dapat berbuat sesuatu untuk meringankan beban hidupnya”. Sumi dibesarkan dalam ajaran ini dan ia menyerahkan hidupnya pada nasib. Ia berusaha untuk mencari jalan keluar dari masalah yang terjadi dalam hidupnya dan berharap mudah-mudahan nasib baik akan menghampirinya pada masa yang akan datang.

Di samping mengurus rumah tangga, Sumi juga terus memperdalam pengetahuan keperawatannya. Ia berharap suatu hari nanti dapat bekerja pada sebuah distrik dengan penghasilan yang jauh lebih besar daripada penghasilan di rumah sakit. Nasib baik nampaknya berpihak pada Sumi, ia diterima sebagai perawat di Badan Kesehatan Distrik di bagian timur Kobe.

Suatu hari, Sumi mendapat tugas baru. Ia ditugaskan merawat Machan, putra tunggal keluarga Komatsu yang menderita bisul pada kakinya. Tugas tesebut mengharuskannya untuk datang setiap hari ke rumah Machan. Kedatangan Sumi selalu disambut gembira oleh Machan, mereka berdua benar-benar telah menjadi sahabat. Namun secara diam-diam, Komatsu, ayah Machan, menaruh perhatian khusus kepada Sumi dan ia memikirkan segala cara untuk mendapatkan Sumi. Sumi mengetahui hal tersebut, dan karenanya ia berusaha menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan Komatsu, mengingat Komatsu sudah memiliki istri. Sumi akhirnya pindah ke Tokyo.

Namun tanpa ia sangka keberadaannya di Tokyo diketahui oleh Komatsu dan Komatsu sengaja datang ke Tokyo untuk menemuinya dan untuk memaksanya menikah dengan Jiro. Jiro adalah adik Komatsu.

Sumi sama sekali tidak dapat menolak paksaan Komatsu untuk menikah dengan Jiro adiknya. Tanpa sepengetahuan Sumi, Komatsu telah mendatangi ayah Sumi dan meminta agar Sumi dinikahkan dengan Jiro. Komatsu berjanji kepada ayah Sumi bahwa ia akan membantu keluarga Sumi melunasi hutang. Perjodohan adalah hal yang biasa pada waktu itu. Karena tidak memiliki pilihan, akhirnya Sumi setuju pada rencana perjodohan itu. Ia tahu bahwa keputusannya itu akan membuatnya kehilangan orang yang ia cintai yaitu Kazuo dan harus hidup dekat oleh bayang-bayang Komatsu.

Ternyata Jiro bukanlah pria baik-baik. Jiro selalu menghabiskan sepanjang malam dengan minuman keras dan wanita. Sumi tinggal sendirian di rumah, rasa sepi mulai menghampirinya dan ia bertekad untuk mengakhiri penderitaannya dengan bunuh diri. Namun, pikiran tersebut segera dibuangnya jauh-jauh ketika ia mengingat hutang ayahnya yang belum lunas.

Keinginan dan niat Komatsu untuk menikahkan Sumi dengan Jiro pada dasarnya tidaklah baik. Tujuan utamanya bukanlah untuk membahagiakan Sumi ataupun adiknya Jiro, namun hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Komatsu ingin agar Sumi dapat tinggal dekat dengannya sehingga ia dapat menjalankan rencana jahatnya pada Sumi. Kesempatan itu akhirnya tiba. Pada saat Jiro tidak ada di rumah, maka Komatsu menyelinap masuk ke kamar sumi dan ingin menodainya. Untunglah teriakan dan jeritan minta tolong Sumi didengar oleh kakak Komatsu yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Kakak Komatsu akhirnya menyelamatkannya dan membawanya ke sebuah rumah dekat pantai yang ditinggali oleh seorang janda bernama Yamada.

Sumi San akhirnya tinggal dengan Yamada beberapa bulan dengan hati yang penuh kebencian kepada Komatsu. Karena perasaan benci yang sangat besar, akhirnya suatu malam Sumi menjalankan suatu ritual yang biasa dilakukan oleh orang Jepang untuk melampiaskan kebencian pada seseorang. Beberapa bulan kemudian, Sumi San mendapat informasi bahwa Komatsu menjadi gila dan meninggal di rumah sakit. Seiring dengan kematian Komatsu, akhirnya Sumi pulang ke rumahnya.

Pada saat Sumi tinggal di rumah Yamada, ia pernah dikenalkan dengan seorang yang bernama Koide. Koide adalah seorang Kristen. Koide menceritakan mengenai kasih Tuhan kepada Sumi San, namun Sumi tidak dapat percaya bahwa Tuhan mengasihinya setelah begitu banyak penderitaan yang dialaminya.

Pada saat Sumi sudah kembali ke rumahnya, rasa sepi kembali menghampirinya. Suatu saat Koide mengajaknya untuk menghadiri kebaktian Kristen. Sumi pada dasarnya tidak tertarik untuk ikut, namun ia akhirnya memutuskan untuk ikut karena ia tidak mau tinggal sendirian di rumah dan kesepian. Akhirnya Sumi selalu menghadiri kebaktian tersebut, namun ia tetap tidak mau percaya kepada Tuhan. Baginya Tuhan itu harus dapat dilihat dan dibuktikan keberadaannya. Tuhan itu harus dapat diterima oleh akal pikiran.

Suatu hari Pendeta Honda dan Koide mengajak sumi untuk berdoa, pada saat itulah Sumi merasakan perubahan dalam dirinya. Akal logikanya mulai pudar dan dia mulai percaya kepada Tuhan. Ia tetap tidak melihat Tuhan, namun ia merasakan bahwa Tuhan itu benar-benar nyata. Perubahan didalam diri Sumi berlangsung dengan perlahan tapi pasti. Ia yakin bahwa dirinya adalah milik Kristus.

Dua tahun kemudian terjadi perang pasifik. Rumah Sumi tak luput dari keganasan perang tersebut. Semuanya hancur terkena Bom. Ia dan suaminya Jiro akhirnya memutuskan untuk pulang ke Funo, kampung halamannya. Di tengah perjalanan menuju Funo, Jiro pergi begitu saja meninggalkan Sumi. Pada saat yang sama seorang pria menyapa Sumi dan begitu ia tahu bahwa sumi adalah seorang perawat, maka ia menawari pekerjaan kepada Sumi sebagai perawat di desa Sawadani. Begitulah akhirnya Sumi kembali bekerja, namun kali ini ia bekerja dengan cara yang berbeda. Sumi menjalani hidupnya dengan rasa bahagia dan selalu melayani pasiennya dengan penuh kesabaran. Tak jarang juga Sumi menceritakan mengenai Tuhan Yesus kepada para pasiennya.

Setelah tinggal beberapa lama di Sawadani, Sumi sangat prihatin dengan keadaan desa tersebut, khususnya dengan keadaan para pemudanya. Sumi melihat banyak remaja putri yang hamil diluar nikah dan melahirkan anak tanpa memperdebatkan siapa ayah dari anak tersebut. Hamil diluar nikah adalah hal yang lumrah di desa itu. Berangkat dari keprihatinan itulah, Sumi berinisiatif untuk mengadakan kebaktian di rumahnya untuk mengenalkan Yesus kepada para penduduk khususnya para pemuda. Akhirnya atas usul pendeta Honda, Sumi mengundang pendeta Hasimoto untuk memimpin kebaktian di rumahnya. Empat kebaktian telah dilaksanakan, dan banyak penduduk yang datang. Para pemuda bahkan datang secara khusus untuk berbicara kepada pendeta Hasimoto dan Sumi mengenai kekhawatiran dan penyesalan mereka akan dosa yang sudah mereka perbuat saat ini. Akhirnya dua puluhan orang menyerahkan diri untuk ikut Yesus dan dibabtis.

Ketenangan dan kenyamanan yang dirasakan Sumi di Sawandani ternyata tidak berlangsung lama. Hanya dalam waktu yang singkat, keadaan berubah drastis. Pendeta Budha memberi tekanan kepada penduduk untuk melarang anggota keluarga mereka menghadiri pembelajaran firman Tuhan di rumah Sumi, para penduduk yang sudah menyerahkan diri untuk mengikut Yesus mengalami banyak tantangan untuk tetap setia pada imannya, Sumi diusir dari rumahnya dan didiagnosis menderita penyakit berbahaya bahkan Dokter mengatakan bahwa ia hanya dapat bertahan hidup beberapa bulan saja.

Bagaimana kehidupan Sumi dan nasib orang-orang percaya di Sawandani berikutnya?

Silahkan baca kisah lengkapnya di buku “Gadis Pejuang Iman”.

-IB/ Tim Karakter-

Referensi: http://www.sabda.org/

Leave a Reply

*

WhatsApp chat