Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

Setiap Bulan April, maka umat Kristen di seluruh dunia akan mempersiapkan dirinya untuk memperingati hari Paskah. Beberapa rangkaian ibadah dan kegiatan dilakukan beberapa minggu menjelang hari Paskah dan pada hari Paskah itu sendiri. Misalnya, Rabu Abu, Kamis Putih, Jumat Agung, Perjamuan Kudus, pengakuan dosa, baksos, jalan sehat, games, perlombaan, dll. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan berlalunya hari Paskah, seringkali yang tertinggal di dalam diri kita hanyalah serangkaian memori mengenai kegiatan-kegiatan tersebut dan ucapan syukur karena dosa-dosa kita telah ditebus. Pada kenyataannya, Paskah juga berbicara mengenai ketaatan. Ketaatan Yesus dalam rencana keselamatan dan ketaatan manusia sebagai umat yang telah diselamatkan.

Apakah taat itu? Pertanyaan ini sebenarnya adalah pertanyaan yang umum, dan rata-rata akan dijawab seperti ini: Taat adalah kemampuan untuk patuh menjalankan perintah. Jawaban tersebut tidaklah salah, namun juga tidak 100% benar. Taat bukanlah suatu kemampuan. Keberhasilan untuk taat tidak didasari oleh kekuatan atau kemampuan seseorang.

Yosua, sebagai penerus Musa untuk memimpin Bangsa Israel masuk ke Tanah Kanaan, sempat mengalami kebimbangan. Rupanya Yosua kaget bahwa dirinya dipilih untuk memimpin Bangsa Israel. Melihat Bangsa Israel yang bebal dan pelbagai perang sengit melawan musuh yang kuat, membuat Yosua gentar. Kemudian Musa berkata kepadanya “…kuatkan dan teguhkanlah hatimu…” (Yosua 1:6,7). Dari nasihat Musa ini, Yosua menjadi tahu, bahwa itu artinya dia tidak boleh berpaling dari perintah untuk memimpin Bangsa Israel. Dia harus tunduk pada perintah itu. Apapun rintangannya, Yosua harus menyelesaikan perintah Allah. Yosua mulai belajar mengenai ketaatan.

Taat atau tidak taat akan terlihat ketika seseorang berada di dalam situasi yang sulit. Tidak mudah mengatakan bahwa orang itu taat, bila dia berada di dalam situasi yang baik-baik saja. Ketaatan akan terlihat ketika seseorang diuji masuk dalam kebimbangan, kebingungan, ketakutan, atau perasaan-perasaan lainnya yang cenderung mendorong untuk lari dari perintah yang seharusnya dikerjakan.

Taat adalah sikap dan tindakan memusatkan perhatian serta mengusahakan untuk tetap sesuai dengan perintah yang diberikan untuk mencapai tujuan. Allah tidak hanya memberikan perintah-Nya, tetapi juga memberikan kunci atau cara yang tepat agar perintah tersebut berhasil dikerjakan. Untuk dapat taat, Alkitab mengajarkan agar kita merenungkan kebenaran Allah siang dan malam  (Yosua 1:8).

Manusia tidak bisa taat hanya dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri, karena akan berhadapan dengan berbagai cobaan/rayuan. Bersama Allah, ketaatan akan membuahkan hasil. Karena Allah, yang tidak pernah berubah itu, Dia-lah yang akan mendampingi kita untuk memerangi cobaan atau rayuan si jahat.

Kisah ketaatan juga bisa kita lihat saat Yesus bergumul di Taman Getsemani (Matius 26:36-46). Yesus pada saat itu sebagai manusia mengalami ketakutan yang luar biasa, ketika Dia harus menghadapi saat penyaliban. Yesus dengan jujur mengatakan ketakutan-Nya, tetapi pada saat yang sama Dia juga berkata bahwa sekalipun berat, biarlah kehendak Bapa yang terjadi. “Ya Bapa-Ku, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” Yesus mau bertindak sebagai pribadi yang taat.

Pada akhirnya, kita mengetahui bahwa Yesus tetap menjalankan proses penyaliban itu tanpa mengeluh sepatah kata pun. Yesus mau memikul salib yang berat dan menyakitkan itu, untuk menebus dosa manusia. Ketaatan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa di dalam taat membutuhkan pengorbanan dan penundukan diri. Ketika kita mau taat, maka kita juga harus mau menanggung resiko akibat ketaatan tersebut. Ketaatan selalu berhadapan dengan godaan. Kita sebagai manusia pasti tidak kuat menanggung godaan tersebut.

Bersyukurlah bila kita bisa memanggil nama yang ajaib itu, yaitu: Yesus. Yesus sudah membuktikan bahwa Dia adalah pribadi yang taat. Rintangan yang begitu hebat, bahkan maut yang menghadang, ternyata tidak bisa menghancurkan ketaatan-Nya. Maka, bila kita ingin taat menyelesaikan suatu perintah, janganlah ditanggung sendiri. Mintalahlah Yesus mendampingi diri kita. Karena kita akan digandeng-Nya melewati perjalanan ketaatan itu hingga tuntas. Taat bersama Yesus, pasti membuahkan kemenangan.

Meskipun peringatan Paskah baru saja kita lewati, namun demikian biarlah semangat Paskah terus menyala dalam kehidupan kita. Karena, melalui Paskah kita akan selalu diingatkan tentang ketaatan yang sejati.

BD/Tim Karakter

Leave a Reply

*

pengumuman PSB
WhatsApp chat