Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik.

Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?

(Mikha 6:8)

 Bersikap adil, mencintai kesetiaan, dan hidup rendah hati di hadapan Allah, merupakan tuntutan Tuhan kepada kita.  Berdasarkan hal ini, mari kita coba bertanya: mengapa kita dituntut hidup berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup rendah hati? Apa yang sedang terjadi sehingga Tuhan menuntut hal tersebut? Dan, mengapa dalam Mikha 6:8 menggunakan kata “tuntut”?

Dalam terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), Mikha 6:8 dituliskan sebagai berikut “…Yang dituntut-Nya dari kita ialah supaya kita berlaku adil, selalu mengamalkan cinta kasih, dan dengan rendah hati hidup bersatu dengan Allah kita.” Jelas sekali, Mikha 6:8 berkata dengan tegas bahwa Tuhan menuntut manusia untuk hidup seperti yang diminta-Nya, yaitu: berlaku adil, mencintai kesetiaan – mengamalkan cinta kasih, dan hidup rendah hati – hidup bersatu dengan Allah.

Kata “menuntut” menggambarkan adanya syarat yang tak tergantikan. Bila tuntutan tidak dipenuhi, maka ada konsekuensi berat yang harus ditanggung. Konsekuensi dari tuntutan yang tidak dipenuhi dalam drama penculikan biasanya diperlihatkan dengan kematian. Alkitab mencatat dalam Kejadian 9:5 bahwa Tuhan begitu serius dengan janji-Nya kepada Nuh. Siapapun yang membunuh Nuh dan keturunannya, akan dituntut balas oleh Tuhan, “Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia.” Kata “tuntutan” menjelaskan adanya situasi yang gawat darurat, yang harus diperhatikan dan diselesaikan sesegera mungkin.

Kembali pada pertanyaan awal, mengapa kita dituntut untuk hidup adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati? Kondisi gawat darurat apakah yang membuat kita harus hidup adil, setia, dan rendah hati? Apakah kita sudah hidup dalam kekurangan: keadilan, kesetiaan dan kerendahan hati? Seberapa gawatnya hidup ini bila tidak ada lagi hati yang mau hidup dalam keadilan, kesetiaan, dan kerendahan hati?

Ketika Nabi Mikha berkata keras “…Yang dituntut-Nya dari kita ialah supaya kita berlaku adil, selalu mengamalkan cinta kasih, dan dengan rendah hati hidup bersatu dengan Allah kita,” sudah bisa dipastikan bahwa sesungguhnya dunia ini sudah miskin hati yang mau hidup dalam keadilan, kesetiaan, dan kerendahan hati. Semuanya akan bermuara pada konsep BELAS KASIH.

Belas kasih adalah gelora (passion) untuk menyatakan kasih kepada sesama. Belas kasih akan membawa kita memandang hormat soal keadilan. Tidak akan ada lagi intimidasi antara yang kuat dengan yang lemah. Dengan belas kasih tidak akan ada lagi ketidaksetiaan. Perceraian adalah suatu hal yang dibenci Allah. Iblis senantiasa berusaha memecahbelah persekutuan orang percaya. Oleh karena itu, ketika kesetiaan sudah tidak ada lagi, itu salah satu pertanda kuasa Iblis menerpa kehidupan Anda. Dengan belas kasih tidak akan ada lagi kesombongan. Kejahatan yang paling jahat dimulai dari sikap sombong. Siapapun yang hidup dalam kerendahan hati, kehidupannya akan selalu dipenuhi oleh penghiburan dari Tuhan (2 Kor.7:6a).

Hidup dengan belas kasih, memampukan kita untuk hidup sesuai dengan tuntutan Allah. Itulah hidup yang baik dan indah! Amin. (BD/ Karakter Kerohanian)

By NO Comment 28th October 2014

Leave a Reply

*

pengumuman PSB
WhatsApp chat