Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

“Tutut..tutut… “ alarm jam berbunyi setiap pagi. Sebelum matahari terbit kita sudah harus membuat keputusan apakah akan segera bangun dari tempat tidur atau justru menarik selimut dan kembali terlelap. Begitu pula ketika sudah bangun kita juga harus memutuskan apakah akan mandi atau sarapan terlebih dahulu. Setiap manusia rata-rata membuat lebih dari 200 keputusan setiap harinya. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali di malam hari.

Tapi terkadang kita tidak menyadari bahwa setiap keputusan yang kita ambil, ternyata menentukan masa depan kita. Setiap keputusan akan membawa kita pada satu kondisi yang berbeda dari keputusan yang lainnya. Oleh karena itu kita harus selalu mempertimbangkan dengan matang setiap keputusan yang akan kita ambil.

Di sisi lain, perlu kita ketahui juga bahwa pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan saat membuat keputusan tidak dapat muncul dengan sendirinya. Pertimbangan atau pemikiran mengenai konsekuensi dari pilihan-pilihan merupakan hasil dari pengalaman sebelumnya. Lalu bagaimana dengan anak-anak yang belum memiliki cukup pengalaman untuk memikirkan konsekuensi dari setiap keputusannya?

Di pertengahan bulan Januari 2015 ini sempat beredar berita dimana ada seorang anak remaja yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri (metro.sindonews.com/read/950371/31/siswa-smp-di-pancoran-gantung-diri-dalam-lemari-1421209068). Sudah beberapa kali kita mendengar hal ini, dimana ada anak-anak yang berani mengambil keputusan tanpa memikirkan baik-baik dampaknya bagi diri dan orang lain di sekitar mereka. Anak-anak yang berani mengakhiri hidupnya mungkin tidak berpikir bahwa hal ini akan menyedihkan hati orang tua mereka dan bahwa bunuh diri bukanlah satu-satunya jalan keluar. Begitu juga halnya dengan para remaja yang memutuskan bunuh diri hanya karena masalah percintaan atau orang-orang yang terjebak dalam obat-obatan terlarang dan minuman keras. Seperti yang kita sudah dengar, menurut data BNN pada tahun 2014, 4,2 juta orang di Indonesia menjadi pecandu narkotika dan setiap tahunnya 51.000 pecandu meninggal.

Semua ini tak lain merupakan hasil dari pengambilan keputusan yang mereka lakukan. Tetapi bagaimana caranya agar mereka bisa mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan kehendak Tuhan? Di sinilah orang tua berperan untuk mendampingi anak ketika membuat keputusan.

Bu Charlotte Priatna dalam seminarnya ‘Bagaimana Mendampingi Anak Membuat Keputusan’ Sabtu, 17 Januari 2015 lalu juga menjelaskan bahwa terdapat beberapa alasan yang membuat anak dapat mengambil keputusan yang salah/ tidak tepat. Diantaranya adalah,

• Adanya tekanan dari teman sebaya
• Kelihatan bagus di awal/ terlihatnya bagus
• Bosan
• Tidak mempertimbangkan konsekuensinya
• Tidak dapat berhenti memikirkannya

Beberapa alasan ini secara langsung maupun tidak langsung telah memengaruhi anak dalam memutuskan sesuatu. Khususnya para remaja saat ini dengan pergaulan yang semakin luas dan yang berarti juga semakin rentan untuk terpengaruh trend di sekitar mereka. Berbagai informasi yang baik maupun tidak baik dengan begitu mudahnya diakses dan masuk dalam pikiran anak. Oleh karena itu pendampingan dari orang tua sangat penting dan sebaiknya diberikan sejak anak masih kecil.

Ketika masih kecil, anak-anak memang akan bergantung sepenuhnya pada orang tua dalam mengambil keputusan. Orang tua harus siap menjadi ‘time keeper’ dan ‘organizer’ bagi keseharian anak-anak karena mereka belum mengerti apa yang mereka lakukan dan apa akibat dari kelakuan itu di kemudian hari. Orang tua bertanggung jawab untuk mendampingi kehidupan anak hingga mereka mampu membuat keputusan sendiri dan bertanggung jawab atas keputusan itu.

Orang tua masih harus membuat keputusan bagi anaknya hingga anak mulai masuk sekolah dasar. Ketika masuk di sekolah dasar, anak mulai diberi kesempatan untuk memutuskan meski masih berupa keputusan-keputusan sederhana. Anak mulai bisa memutuskan sikap yang diambil ketika berhubungan dengan orang lain. Ketika sudah memasuki usia sekolah menengah pertama dan akhir, anak mulai diberi porsi kesempatan yang lebih untuk mengambil keputusan, seperti kapan waktunya belajar dan kapan waktunya bermain. Anak juga perlahan harus mulai belajar bertanggung jawab atas hidupnya. Kemudian anak dapat dilepas untuk mengambil keputusan sendiri ketika mulai memasuki usia kuliah atau setelah lulus sekolah.

Perlahan orang tua memang harus berani melepaskan pegangan anak-anak mereka. Meski begitu anak tetap membutuhkan pendampingan dan monitoring dari orang tua ketika menjalani keputusan yang mereka pilih. Anak-anak pun harus diingatkan bahwa setiap keputusan yang telah mereka ambil harus mereka jalani dengan suka hati dan bertanggung jawab. Tujuan hidup setiap anak harus menjadi poros ketika mereka membuat keputusan. Anak harus diajarkan bahwa yang terpenting dalam hidup bukan sekedar memiliki dan melakukan apa yang mereka sukai, tetapi juga sungguh-sungguh menjadi seseorang yang dapat memberkati orang lain. Kehidupan mereka adalah milik Tuhan dan mereka harus dapat menggunakannya juga untuk kemuliaan Tuhan.

Bila anak sudah memiliki prinsip hidup yang benar, maka dengan sendirinya mereka dapat lebih mudah untuk memilih mana yang tepat untuk dijalaninya. Kita juga harus belajar untuk menyerahkan segala sesuatunya pada Tuhan karena Ia tahu mana yang terbaik bagi kita. Jangan biarkan emosi sesaat atau keinginan diri sendiri memengaruhi keputusan yang diambil, tetapi terus libatkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Jadi janganlah takut mengambil keputusan ketika kita sudah mengandalkan Tuhan. (LDS)

Leave a Reply

*

WhatsApp chat