Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

Courageous adalah film keempat yang diproduksi oleh Sherwood Pictures setelah Flywheel, Facing the Giant dan Fireproof. Film ini adalah hasil karya Kendrick bersaudara, Alex dan Stephen.

Stephen yang menjadi penulis naskah dan produser yang juga sudah menyutradari beberapa film menyaksikan banyak berkat yang mereka lihat pada film sebelumnya yaitu Fireproof. Dia menceritakan kisah seorang wanita yang sudah meninggalkan pernikahannya selama 27 tahun dan akhirnya setelah menonton film Fireproof ia berusaha mencari jejak suaminya dan akhirnya bisa bersatu kembali dengan keluarganya.

Stephen mengatakan, gerejanya berdoa untuk film berikutnya setelah Fireproof. Kendrick bersaudara berdoa meminta Tuhan menyatakan cerita untuk mereka. Pada saat itulah Tuhan terus mengingatkan mereka tentang runtuhnya keayahan. Ketidakhadiran para ayah dalam keluarga di Amerika persentasenya cukup besar. Dalam keluarga Afrika Amerika, hampir tiga-perempat dari para ayah hilang. Ketika Tuhan menunjukkan pada mereka, mereka menuliskannya dalam catatan dan berdoa agar bisa menyusunnya dengan benar. Mereka terus berdoa agar mereka bisa membuat film ini dengan baik.

Kalau film Fireproof bertemakan pernikahan, Courageous bertemakan keayahan. Film ini melibatkan banyak sukarelawan dari Gereja Sherwood tempat Kendrick bersaudara melayani. Film ini lahir dari pergumulan doa mereka.

Sumber: http://visi-bookstore.com

Penasaran dengan ceritanya? Mari kita baca ringkasan film dibawah ini.

“Kajian dilakukan pada peningkatan aktivitas kekerasan geng, dalam hampir semua kasus. Semua anggota geng; pelarian, anak yang OD, pemakai obat-obatan, dan remaja di penjara memiliki persamaan ciri. Ciri itu adalah, kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga tanpa ayah. Dengan kata lain, jika tidak ada ayah kemungkinannya 5 kali lebih besar anak-anak akan bunuh diri atau memakai obat-obatan dan kemungkinan untuk berakhir di penjara 20 kali lebih besar. Aku tahu kelompok kalian telah bekerja keras dan aku tahu kalian melihat sisi terburuk orang-orang. Tapi pada saat waktu kerja selesai, pulanglah dan sayangilah keluarga kalian.” Kalimat ini adalah pengarahan yang diberikan oleh seorang Sherif kepada sekelompok anggota kepolisian Albaniy Georgia yang sarat dengan dunia kekerasan.

Adam, Nathan, Shane dan David adalah empat orang polisi yang bertugas di kepolisian Albaniy Georgia. Mereka yang tidak memiliki kegiatan apa-apa pada akhir pekan, berencana untuk bertemu dan memanggang bistik bersama. Pertemuan akhir pekan yang awalnya bertujuan untuk mengisi akhir pekan dengan bersenang-senang dan memanggang bistik akhirnya berubah menjadi diskusi mengenai isu yang dsampaikan oleh Sherif di dalam pengarahannya. Diskusi akhirnya berlanjut dengan sharing mengenai ayah-ayah mereka. Bagaimana mereka menjalani hidup tanpa ayah atau dengan ayah yang tidak bertanggung jawab.

Sebuah pertemuan yang aneh telah membawa seorang pria yang bukan seorang polisi bergabung dengan mereka. Kelompok akhir pekan itu kini beranggotakan lima orang. Masing-masing dari mereka adalah seorang ayah dan memiliki permasalahan keluarga yang berbeda-beda.

Adam adalah seorang ayah memiliki dua orang anak (putra dan putri) yang tanpa sadar telah memberikan perhatian yang berbeda kepada anaknya sehingga menimbulkan sakit hati pada putranya.

Nathan memiliki seorang anak remaja yang suka memberontak, karena merasa selalu dikekang oleh ayahnya khususnya dalam hal berpacaran.

Shane telah bercerai dengan istrinya dan memiliki seorang putra. Pengadilan memutuskan hak asuh anak jatuh kepada istrinya. Secara berkala ia selalu bertemu dengan anaknya dan menghabiskan waktu bersamanya. Ia sangat ingin menjadi seorang ayah yang dikagumi oleh anaknya. Ia juga seorang yang memiliki ambisi pada uang dan dapat menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

David adalah yang termuda di antara mereka. Ia adalah seorang yang tidak percaya pada hal-hal religius. Ia belum menikah, namun telah berhubungan dengan seorang gadis yang menyebabkan gadis tersebut hamil. Namun pada saat ia mengetahuinya ia lari dari tanggung jawabnya dan meninggalkan gadis tersebut beserta anaknya dengan alasan bahwa ia merasa tidak mencintai gadis tersebut.

Javier adalah seorang pekerja harian yang baru saja dipecat dari pekerjaannya. Keluarganya hidup dengan penuh kekurangan, namun imannya kepada Tuhan memberinya kekuatan untuk berjuang menjadi seorang suami dan ayah yang dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.

Suatu hari putri Adam meninggal dunia, kesedihan mendalam meliputi dirinya. Dia diperhadapkan pada dua pilihan; marah kepada Tuhan karena waktu-waktu yang tidak ia miliki dengan putrinya atau bersyukur kepada Tuhan karena waktu-waktu yang sudah ia lewati dengan putrinya. Adam memutuskan untuk bersyukur dan percaya pada Tuhan. Keputusan itu membawanya semakin dekat dengan Tuhan dan membawanya kedalam perenungan tentang apa yang Tuhan harapkan darinya sebagai seorang ayah. Hal ini ternyata membawa pemulihan di dalam keluarganya, khususnya pada hubungannya dengan putranya.

Peristiwa ini akhirnya membuat Adam berinisitif untuk membuat resolusi bagi dirinya. Ia berjanji akan menjadi seorang ayah yang bertanggung jawab. Adam pun mengumpulkan teman-temannya dan menceritakan kepada mereka mengenai resolusi yang akan diambilnya. Ia berkata, “Aku tak mau menjadi ayah yang cukup baik. Kita punya waktu yang pendek untuk memberi pengaruh pada anak-anak kita. Pola apapun yang kita tentukan untuk mereka akan digunakan untuk anak-anak mereka dan generasi setelahnya. Kita punya tanggung jawab untuk membentuk kehidupan. Kurasa itu tidak boleh dianggap remeh. Setengah dari semua ayah di negara ini gagal melakukan itu. Aku tak mau jadi salah satu dari antara mereka. Ini bukan hanya soal menghabiskan waktu dengan anak-anak kalian. Itu hal yang sudah pasti. Aku bicara soal menetapkan standar yang mereka harus bidik dalam kehidupan. Aku belajar bahwa Tuhan ingin agar aku membuat putraku jadi pria sejati. Aku tidak bisa melakukannya dengan santai. Aku tak boleh pasif.”

Mendengar perkataan Adam, keempat temannya akhirnya mengambil keputusan untuk berkomitmen menjadi pria dan ayah yang bertanggung jawab. Mereka berlima akhirnya menyelenggarakan upacara penandatanganan resolusi dan mengucapkan janji mereka di hadapan Tuhan dan keluarga. Pada saat upacara, Pendeta mengingatkan mereka bahwa tantangan, kontroversi dan konflik akan datang dan menguji komitmen mereka, untuk itu mereka harus memiliki keteguhan hati.

Hari terus berlalu, satu demi satu tantangan, kontroversi dan konflik datang menghampiri mereka. Masing-masing dari mereka berjuang untuk menghadapnya, berjuang untuk menjadi ayah yang bertanggung jawab, berjuang untuk mengampuni, berjuang untuk menyangkal diri dan berjuang untuk taat. Hari demi hari mereka menyaksikan bagaimana Tuhan menyertai dan bekerja di dalam hidup mereka, memberi mereka kekuatan untuk berjuang. Dalam perjuangan itu, ada yang menang namun ada pula yang jatuh dan terus berjuang untuk menang.

Sebuah film yang sangat memberkati. Film yang wajib ditonton oleh para ayah yang memiliki keinginan untuk menjadi ayah yang bertanggung jawab dan oleh para ibu yang ingin mendukung seorang ayah menjadi ayah yang bertanggung jawab. Film ini juga sangat baik ditonton oleh setiap orang yang belum menikah karena begitu banyak pelajaran dan nilai-nilai yang dapat dipetik dari setiap pergumulan, keputusan, dan peristiwa yang dialami oleh para tokoh.

Bagaimana, ada yang tertarik untuk menonton film ini? Film ini dapat dibeli di toko-toko buku Kristen atau di toko-toko yang menjual CD/DVD. Teman-teman juga dapat meminjam film ini di perpustakaan SMP sekolah Athalia.

IB/Tim Karakter

 

Leave a Reply

*

WhatsApp chat