Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

(Pahlawan Iman? Jadilah Salah Satunya!)

Oleh: Ni Putu Mustika Dewi – Staf PK3 Sekolah Athalia

 

Tanggal 10 November secara khusus ditetapkan sebagai Hari Pahlawan Nasional di negeri ini, oleh sebab itu tema yang diusung pada ALC News bulan November 2018 adalah “PAHLAWAN IMAN”. Apa yang terlintas di benak dan pikiran Saudara saat mendengar kata “pahlawan” atau hero? Dengan cepat satu per satu tokoh superhero karya Marvel berputar dalam imajinasi. Para pahlawan itu ditampilkan sebagai sosok yang kuat, extraordinary person karena memiliki kekuatan supranatural dan unik. Terlintas pula beberapa sosok pahlawan nasional yang rela mengorbankan dirinya untuk kepentingan bangsa ini; memperjuangkan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia, seperti Cut Nyak Dien, Pangeran Diponegoro, Soekarno dan Moh. Hatta.

Berdasar hasil pencarian dari KBBI, pahlawan memiliki arti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani; hero. Masih menurut KBBI kata hero sendiri berarti orang yang dikagumi karena kecakapan, prestasi, atau karena sebagai idola. Jika demikian arti dari kata pahlawan, apakah memungkinkan untuk setiap kita, orang-orang yang hidup oleh karena penebusan Tuhan Yesus menjadi pahlawan?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita akan belajar dari seorang anak perempuan Israel yang tertawan di negeri Aram. Kisahnya dapat kita temukan di dalam 2 Raja-raja 5:1-3. Meski tokoh ini hanya dipaparkan dalam 3 (tiga) ayat, kita dapat melihat karakter unik yang secara alami terpancar keluar dari dalam diri anak ini.

Pada ayat 3, jelas dapat kita baca perkataan anak tersebut kepada nyonyanya, “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.” Tanggapan yang ia lontarkan ini merupakan buah nyata dari karakter penuh perhatian dan iman yang tumbuh di dalam dirinya. Di dalam konteks hidupnya yang pada saat itu menjadi seorang pelayan isteri Naaman, ia dengan penuh perhatian mendengar dengan hati bahwa Naaman, sang tuan yang adalah seorang pahlawan tentara, sakit kusta. Lebih dalam dari sekadar mendengar dengan telinga, anak perempuan ini paham akan apa yang didengarnya, dan ia tahu secara pasti jawaban atas kebutuhan sang tuan. Naaman membutuhkan kesembuhan dari penyakit mematikan yang ia derita.

Firman Allah yang ditanamkan kepadanya sebagai seorang anak Israel menghasilkan iman yang hidup; “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran akan Firman Allah.” (Roma 10:17). Anak perempuan ini percaya bahwa oleh Allah orang Israel Naaman dapat disembuhkan. Dengan iman ia dapat mengenali kehendak Allah dalam situasi yang sedang dihadapi dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah. Ia mampu dan berani untuk mengatakan kebenaran bahkan kepada sang tuan, yang kedudukannya jauh lebih tinggi.

Bagaimana akhir kisah ini? Naaman disembuhkan dari penyakit kustanya! Pada 2 Raja-raja 5:15 secara jelas Naaman menyatakan, “Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah lain kecuali di Israel.” Naaman tidak hanya menerima kesembuhan namun juga keselamatan. Ia kini percaya kepada satu-satunya Otoritas Tertinggi dalam hidup ini yakni Allah yang hidup, Allah orang Israel.

Dengan demikian, apakah anak perempuan tersebut layak disebut sebagai pahlawan? Meski Alkitab tak mencatat namanya, tak seorang pun dapat menyangkali bahwa anak perempuan ini telah menjadi pahlawan iman bagi Naaman. Demikian juga dengan diri saya dan Saudara! Nama kita tidak tercantum/disebut dimana-mana sebagai sosok yang dikagumi atau dikenal khalayak ramai. Hidup kita biasa saja dengan permasalahan biasa dan di dalam rutinitas yang sangat biasa; sebagai seorang ibu rumah tangga atau ibu yang berkarier atau ayah yang mencari nafkah atau siswa yang belajar di sekolah atau guru yang mendidik generasi muda atau staf yang bekerja di belakang meja. Maukah kita dipakai-Nya menjadi orang yang memperjuangkan kebenaran? Menjadi orang yang berjuang menghidupi iman percaya kita di tengah komunitas kita?

Teruslah dengan penuh perhatian mendengar dengan hati dan dengan iman kenalilah kehendak Allah dalam setiap situasi yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup saya dan saudara! Saudara dan saya akan dipakai-Nya untuk menjadi pahlawan iman bagi mereka yang kita kasihi. Nama kita tercantum lekat di hati mereka. “Tuhan, layakkan dan pakai aku untuk menyaksikan SIAPA ENGKAU di mana pun, kapan pun, dan dalam keadaan apa pun.

The Hero of Faith… I want to be that one, LORD!”

 

Leave a Reply

*

pengumuman PSB
WhatsApp chat