Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

Oleh: Daniel Santoso Ma, M.Th.

Mazmur 121 dikenal bukan hanya sebagai sebuah nyanyian iman, namun juga sebuah refleksi perjalanan hidup bersama dengan Tuhan. Peristiwa hidup dalam Mazmur 121 dapat menjadi gambaran yang nyata tentang apa yang kita alami pada masa kini. Peziarah Israel dengan jelas melukiskan setiap pergumulan hidup dengan fenomena yang berbeda dengan fenomena masa kini, namun memiliki kesamaan esensi.


Bagi kaum Israel yang tinggal jauh dari Yerusalem, kegiatan ziarah ke Yerusalem tempat dimana bait Allah berada, memiliki tantangan tersendiri. Di satu sisi, perjalanan panjang ini membawa semangat sukacita karena ada kesempatan untuk beribadah kepada Allah, namun di sisi lain perasaan was-was muncul tatkala mengetahui bahaya besar menghadang. Namun, semua tantangan tersebut tidak mengecilkan semangat dan iman mereka untuk menghadap Allah. Mereka percaya bahwa Allah merupakan sumber keselamatan dan pertolongan kala suka maupun duka. Pengenalan yang benar terhadap Allah membawa para peziarah Israel memiliki keyakinan yang kokoh bahwa Allah adalah penjaga Israel yang sejati.


Seruan para peziarah dalam ayat 1 –“Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?”– mengandung sebuah kecemasan, ketakutan, bahkan kekuatiran tentang kondisi buruk yang mungkin akan mereka hadapi. Bahaya orang jahat dan kondisi alam yang tidak bersahabat menjadi perhatian utama dalam Mazmur 121. Kita akan melihat dua tantangan besar yang dihadapi oleh para peziarah, sekaligus dua identitas Allah yang mereka percaya, dapat mengatasi tantangan-tantangan tersebut.


Kendala pertama berhubungan dengan adanya para penjahat dan perampok sepanjang perjalanan. Perjalanan ziarah ini dilakukan minimal tiga kali dalam setahun oleh para peziarah. Mereka sangat mengenal kondisi perjalanan yang dilalui, melewati lembah, gunung, dan padang pasir. Biasanya para penjahat bersembunyi dalam lembah maupun lereng gunung dan bersiap untuk merampok para peziarah. Para perampok ini dikenal sebagai penjahat yang kejam dan tidak segan untuk mengambil nyawa para peziarah (gambaran penjahat dapat juga dilihat dari kisah Orang Samaria yang murah hati).


Meskipun, perjalanan ziarah ini menyeramkan dan kekuatan para peziarah terbatas, mereka berpegang pada identitas Allah sebagai sang Penolong. Identitas pertama yang dikenalkan para peziarah adalah Allah yang menyelamatkan. Ungkapan “di sebelah tangan kananmu” (ay. 5) merupakan sebuah ekspresi yang kuat tentang kekuasaan dan kekuatan Allah dalam menjaga para peziarah Israel. Dalam hal ini, Allah digambarkan sebagai sebuah perisai dan perlindungan.


Kendala kedua berhubungan dengan kondisi alam. Ayat 6 ini menarik karena mengatakan “Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam.” Bagaimana matahari dan bulan dapat menyakiti para peziarah? Ketika mempelajari kondisi geografis padang pasir, kita akan menemukan perbedaan cuaca yang ekstrim pada waktu siang dan malam. Para peziarah menceritakan suasana panas pada waktu siang sebagai gambaran matahari yang menyakiti. Panas yang menyengat kulit dan haus yang berkepanjangan membuat kondisi tubuh menjadi lelah dan lemah. Sedangkan, suasana dingin membeku sebagai gambaran bulan pada waktu malam membuat para peziarah tidak dapat beristiharat dengan nyenyak, bahkan mereka berjuang dari hewan buas.


Namun, para peziarah percaya pada identitas Tuhan yang menjadikan langit dan bumi (ay.2). Sebutan ini merupakan identitas Allah yang melekat sejak zaman purba. Pernyataan iman tentang Allah sang Pencipta menjadi jawaban iman atas kegentaran para peziarah menghadapi kondisi alam yang tidak bersahabat. Mereka percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan para peziarah pada waktu apapun karena Allah selalu berjaga-jaga (ay. 3-4).


Sama seperti peziarah Israel, kita sekalian juga peziarah dalam dunia ini sambil menyongsong kedatangan Tuhan Yesus kedua kali. Perjalanan iman kita juga mengalami pasang surut seperti lautan luas. Kita tidak tahu secara pasti apa yang akan dialami sepanjang tahun 2019. Mungkin, ada suka maupun duka, ada keluarga dan teman yang datang maupun pergi, ada berkat maupun kemalangan; namun, di atas segala sesuatu yang terjadi, kita harus memiliki keyakinan bahwa Tuhan Yesus selalu menjaga.


Pada akhirnya, Mazmur 121 menjadi pernyataan iman sekaligus mengarahkan seluruh fokus dan perhatian kita sepanjang tahun 2019 dengan berkata, “TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya” (ay. 7-8).

By NO Comment 4th January 2019

Leave a Reply

*

pengumuman PSB
WhatsApp chat