Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

Oleh: Februari Wati, S.E.,M.Div.

“Ketika kehilangan kekayaan, Anda tidak kehilangan apa-apa. Ketika kehilangan kesehatan, Anda kehilangan sesuatu. Ketika kehilangan karakter, Anda kehilangan segala-galanya.” – Billy Graham

“Sikap dan perilaku seseorang merupakan cerminan karakter dari orang tersebut. Manusia seharusnya memiliki karakter Kristus karena ia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Kejatuhan dalam dosa membuat manusia hidup dalam arus dunia yang menyesatkan, tetapi bagi orang percaya ia dimampukan untuk membedakan mana yang benar dan salah, serta tidak terlibat dalam arus dunia yang destruktif.


Setiap manusia termasuk anak-anak penting memiliki karakter Kristus. Anak-anak digambarkan seperti domba-domba yang lemah, sedangkan roh dunia digambarkan seperti serigala yang buas dan siap memangsa kawanan domba. Kamus Gambaran Alkitab mencatat bahwa Domba tanpa Gembala tidak dapat bertahan hidup lama. Domba dikenal sebagai hewan yang sangat lemah, yang tidak dapat melindungi dirinya sendiri seperti hewan lain.


Pada zaman dulu, domba-domba tidak dipelihara di tempat berpagar. Mereka dibiarkan dan hidup berbaur dengan hewan lain (Yes. 65:25). Keselamatan para domba sangat terancam dari serangan serigala-serigala yang kelaparan. Domba juga digambarkan sebagai hewan yang sangat mudah tersesat dan tidak bisa menemukan jalan kembali ke kandang walaupun jaraknya sangat dekat. Ketidakberdayaan domba membuat mereka hidup bergantung sepenuhnya pada gembala. Ketidakberdayaan domba ini mencerminkan diri manusia yang lemah dan rapuh, yang sangat mudah digoda dan dibinasakan.


Yesaya 40:11 menggambarkan Allah sebagai Gembala yang menggendong anak domba di tangan-Nya untuk diberikan perlindungan, tempat berteduh bahkan mendapat perawatan saat sakit atau terluka.


Anak-anak diibaratkan sebagai kawanan domba yang mudah tersesat dan lemah, yang harus dituntun dan dilindungi. Oleh karena itu, mereka membutuhkan tuntunan dari orang yang lebih dewasa untuk berproses dan bertumbuh hingga karakter Kristus terpancar dalam diri mereka. Namun, pertanyaannya, siapakah yang harus berperan menjadi gembala mereka?

Panggilan sebagai Gembala
Manusia adalah wakil Allah dalam dunia ciptaan-Nya. Semua pekerjaan yang diusahakan manusia dalam dunia bukan hanya memenuhi kebutuhan hidup semata melainkan menyadari adanya panggilan Allah. Panggilan Allah dijalankan lewat kehadiran diri kita sebagai gembala yang baik dalam setiap waktu dan tempat. Gembala yang dipanggil untuk membawa anak-anak dari gelap menuju terang. Dari kebutaan secara rohani kepada kecerahan rohani. Gembala membantu anak-anak yang terperangkap dalam dosa dan tersesat untuk berjumpa dengan kasih Anugerah Allah. Peran menjadi gembala bagi anak-anak merupakan respons dari hati kita yang mengasihi Allah dan panggilan untuk bersaksi dari amanat Agung yang kita imani.

Tiga Prinsip dalam Penggembalaan
A. Transformasi Hidup
Gembala secara pribadi perlu mengalami terlebih dahulu transformasi hidup di dalam Kristus. Sebab tidak mungkin orang buta menuntun orang buta menuju kecerahan rohani. Paulus memaparkan transformasi hidup meliputi pengudusan, pembaharuan, dan pemuliaan diri di dalam Kristus. Segala usaha atau tindakan berpegang pada kebenaran Allah yang bekerja dalam diri kita untuk menjadi manusia segambar dan serupa dengan Allah (2 Petrus 1:3-9). Dalam transformasi hidup, seorang gembala juga harus membangun spiritualitas yang benar dalam melihat dan menghadapi berbagai kebingungan dan kondisi keruntuhan moral yang terus mencuat dalam kehidupan manusia. Kondisi yang membingungkan dan demoralisasi yang ada terkadang memerlukan pemikiran dan tindakan yang cepat dan tepat. Kondisi demikian diharapkan dari diri seorang gembala memiliki kehidupan spiritualitas yang baik di dalam kebenaran Allah yang terintegrasi dalam kehidupan secara holistik (heads, hearts, hands).

B. Tongkat dan Gada (Maz. 23:4)
Para gembala, dalam menjalankan otoritas dan tanggung jawabnya, harus selalu menyiapkan segala kebutuhan, yaitu sebagai penuntun, pelindung, dan pendamping setia bagi domba-dombanya. Dalam hal ini, tongkat dan gada menjadi alat yang dibutuhkan gembala dalam menjalankan tugasnya. Tongkat (dari kayu) menjadi lambang dari bimbingan Allah, yang biasanya dipakai gembala untuk menuntun domba ke jalan yang benar. Sementara itu, gada (dari besi) melambangkan kekuatan, kuasa, dan wibawa, yang menunjukkan bahwa Allah menjamin dengan kasih dan kekuatan-Nya untuk melindungi umat-Nya dari ancaman bahaya. Seperti Allah yang memegang tongkat ke atas domba ketika mereka memasuki kandang, memperhatikan satu demi satu yang lewat untuk memastikan bahwa semua domba telah ada di sana dalam keadaan aman (Yeh. 20:37). Dari paparan tersebut, kita dapat memahami bahwa sebagai seorang gembala yang baik, kita perlu memakai kuasa dan kekuatan Allah dalam membimbing anak-anak domba kita.

C. Menjadi Teladan
Teladan atas kasih yang Kristiani dan buah roh haruslah tecermin dalam diri seorang gembala yang baik. Yesus Kristus adalah teladan gembala yang baik. Dalam beberapa bagian Alkitab, Yesus diberi gelar sebagai “Gembala Agung segala domba” (Ibr.13:20); “Gembala dan Pemelihara Jiwa” (1 Ptr. 2:25); “Gembala bagi orang-orang terbuang” (Mat. 6:34; 9:36; 15:24; Luk 19:10). Yesus Kristus adalah gembala yang baik (Yoh 10:3-30) yang tidak memperhatikan diri sendiri, tetapi terus mencari domba yang hilang atau tersesat, menguatkan mereka yang lemah, membalut yang terluka, menyembuhkan yang sakit, menuntun dengan kelemahlembutan, dan melayani dengan rela berkorban tanpa mengharapkan imbalan. Bahkan, 1 Ptr. 5:3-4 menekankan hendaknya setiap gembala tetap menjadi teladan bagi kawanan domba dan bukan sebagai penguasa atas kawanan domba itu.
Apabila teladan karakter Kristus tidak tecermin atau ditemui dari diri gembala, anak-anak pun akan sulit mempraktikkannya dalam kehidupan mereka. Tidak ada yang menjadi model untuk diteladani. Di sekolah, bersama para siswa, guru perlu menerapkan gambaran diri Tuhan dan karakteristik kasih Tuhan dalam berbagai situasi di sekolah. Kelas bisa menjadi semacam “laboratorium” tempat guru dan anak-anak mempraktikkan karakter Kristen.
Sementara itu, di rumah, orang tualah yang memegang peranan untuk menjadi teladan bagi anak. Orang tua menjadi sosok yang mencerminkan kasih Allah, mentransfer nilai kebenaran firman Tuhan, dan terus memberikan motivasi kuat kepada anak-anaknya ketika mengalami kesulitan.

By NO Comment 2nd August 2019

Leave a Reply

*

WhatsApp chat