Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

Oleh: Tjio Ayuthia, S.Psi

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna
(Roma 12:2).

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal (Mazmur 139:23-24).

Perubahan merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan di dalam kehidupan ini. Berbicara tentang perubahan tentunya terkait dengan stres yang menyertai perubahan. Sekecil dan sepositif apa pun perubahan tersebut, tentunya ada krisis dan penyesuaian diri yang perlu mengikutinya. Perubahan dari anak menjadi remaja, perubahan dari remaja menjadi dewasa, menjadi tua, perubahan dari seorang diri menjadi memiliki pasangan, memiliki anak, perpindahan tempat kerja, perpindahan sekolah, perpindahan tempat tinggal, kondisi tubuh dari sehat menjadi tidak sehat, bahkan perubahan-perubahan kecil di dalam hidup sehari-hari (mobil yang rusak sehingga perlu direparasi, pergantian asisten rumah tangga, dan lain sebagainya).

Alkitab juga berbicara tentang perubahan. Namun, perubahan yang dimaksud bukanlah sekadar perubahan yang terjadi dan dapat dilihat dari luar, melainkan perubahan mendasar yang terjadi di dalam pusat hidup kita. Sebuah transformasi, perubahan total hati yang merupakan sumber kehendak, pemikiran, keinginan, pertimbangan, penilaian, cara pandang, dan cara kita menyikapi segala hal. Sebuah perubahan radikal yang menggoncangkan, meruntuhkan tiang-tiang dan fondasi kenyamanan kita. Sebuah perubahan di luar kuasa manusia. Sering kali kita menilai sebuah perubahan dari luarnya saja, sebab memang kita terbatas dan tidak dapat menguji hati manusia, tetapi Tuhan menilai kedalaman hati kita.

Thomas Keating dalam Invitation to love (2011) menceritakan tentang seseorang yang sebelum pertobatannya sering kali minum-minum di bar dan bangga sekali ketika semua teman lain sudah mulai mabuk, dirinya masih tidak mabuk karena memiliki daya tahan yang tinggi terhadap alkohol. Bagi orang ini, daya tahan tersebut merupakan simbol dominasi dan sukses. Suatu hari, individu ini mengalami pertobatan dan menyerahkan diri masuk ke dalam sebuah ordo religius yang ketat di dalam menjalankan ibadahnya. Setelah beberapa minggu lamanya berpuasa menjelang Jumat Agung dan Paskah, ia mendapati dirinya sebagai satu-satunya orang yang bertahan sampai akhir berpuasa penuh, sedangkan rekan-rekan lain mulai berguguran karena sakit. Tiba-tiba ia merasakan di dalam hatinya sebuah luapan kebanggaan yang sama seperti dulu ia rasakan ketika teman-temannya mulai mabuk karena minuman beralkohol. Bedanya rasa bangga yang ada sekarang adalah karena berhasil mengalahkan semua rekan yang lain di dalam hal berpuasa. Di sini kita dapat melihat bahwa secara lahiriah individu tersebut tampak berubah, yang tadinya seorang peminum menjadi seorang yang religius, tetapi ternyata jauh di lubuk hatinya masih bertakhta sebuah keinginan yang sama untuk menjadi yang paling hebat, paling utama, mengalahkan semua orang yang lain.

Kisah di atas mengingatkan kita kepada para murid Yesus yang sering kali bertengkar tentang siapakah yang terbesar di antara mereka (Matius 18:1–5; Matius 20:21–24; Lukas 9:46–48; Lukas 22:24–30) sampai-sampai Tuhan Yesus pada malam terakhir sebelum Ia ditangkap dan disalibkan, memberikan contoh konkret kepada para murid untuk saling merendahkan diri dan melayani. Tuhan Yesus, Sang Raja dan Tuhan mengosongkan diri-Nya, mengambil posisi seorang budak, mencuci kaki para murid dan berkata, “Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung. Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan. Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.” (Lukas 22:24–27)

Alkitab berbicara tentang perubahan sebagai perombakan total dan mendasar di dalam diri kita. Perubahan seperti ini tidak dapat kita usahakan dengan kekuatan kemauan diri, yang biasanya didorong oleh motivasi untuk menjadi lebih baik daripada orang lain, bukan supaya Kristus yang lemah lembut dan rendah hati benar-benar bekerja melalui hidup kita. Motivasi yang pertama terkait prestasi pribadi, yang jika tampak berhasil, membuat kita berbesar hati dan menyombongkan diri, “Saya lebih mencintai Tuhan dibanding kamu, saya lebih taat dibanding kamu, saya orang yang lebih baik daripada kamu.” Sementara itu, motivasi kedua tidak lain dan tidak bukan adalah kerinduan yang Tuhan beri untuk kenosis, mengosongkan diri, seperti Kristus mengambil rupa seorang hamba, yang tidak rupawan sehingga kita memandang ataupun menginginkan-Nya (Yesaya 53:2). Perubahan di dalam hati ini tidak dapat kita buat-buat agar tampak baik dari luar. Kita tidak dapat memalsukannya sebab manusia melihat muka, tetapi Tuhan melihat hati (1 Samuel 16:7).

Jika demikian, apa yang dapat kita lakukan? Apakah kita rindu untuk diubahkan menjadi semakin seperti Kristus? Tuhan Yesus mengundang kita, kata-Nya, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Matius 11.28). “Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:4-5). Datang dan melekat kepada Tuhan adalah bagian yang dapat kita lakukan, sedangkan transformasi hidup adalah karya-Nya di dalam kita ketika kita memberikan ruang lebih banyak bagi Dia untuk berkarya di dalam dan melalui kita.

Perubahan adalah buah dari persekutuan kita dengan Tuhan. Itu adalah buah Roh dan bukan buah yang kita hasilkan dari diri kita sendiri, sebagai hasil kerja kita sendiri. Tugas kita sebagai ranting-ranting Kristus adalah menempel kepada-Nya sebagai Pokok Anggur, bukan berupaya untuk mendekorasi diri dengan berbagai buah tempelan yang kita pinjam dari berbagai tempat lain. Jadi, dalam kehidupan Bapak/Ibu, apakah yang dapat bapak/ibu lakukan untuk menempel pada Kristus dan memberikan ruang lebih banyak bagi Tuhan untuk bekerja, berbicara dan berkarya melalui diri bapak/ibu? Apakah bentuk nyata “melekat kepada Tuhan” di dalam hidup Anda? Selamat memperluas ruang hati bagi Kristus yang lemah lembut dan rendah hati!

Leave a Reply

*

WhatsApp chat