Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Mens sana in corpore sano—di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Athalia mengangkat isu ini sebagai bahan seminar yang diselenggarakan pada Kamis, 5 Desember 2019. Seminar bertema “Mental Health” dibawakan oleh seorang narasumber yang berprofesi sebagai psikiater—dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ—dari Rumah Sakit Marzoeki Mahdi, Bogor. Beliau membawakan dua sesi untuk jenjang SMP dan SMA dengan tema yang sama.

Dr. Lahargo mengawali diskusi dengan penjelasan mengenai definisi sehat. Sehat dalam diri seorang individu berarti sehat secara fisik, sosial, dan jiwa. Beliau menekankan ciri-ciri sehat jiwa, yang meliputi perasaan senang/bahagia, bisa beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari, serta mampu menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri dan orang lain. Bagi seorang remaja, di tengah segala perubahan hormon dan dinamika transisi dari masa anak menuju fase dewasa awal, mereka bergumul dengan banyak hal. Dr. Lahargo menyebutkan setidaknya ada tujuh perubahan kondisi emosional yang dialami seseorang di masa remaja, yaitu meningkatnya perhatian pada lawan jenis; rasa setia terhadap kelompok sebaya; mudah terpengaruh; egois; mudah kecewa, kesal, malu, tertekan, tersinggung; ingin dipuja (narsisis); ingin tahu dan ingin mencoba. Di tengah segala perubahan dalam kehidupan sosial dan emosional, remaja rentan mengalami stres. Saat merasa bahwa stresor itu mengganggu kehidupan sosial, emosional, akademik, atau kesehatan fisik, para remaja ini mungkin kebingungan memutuskan untuk menemui profesional—psikolog atau psikiater—atau tidak.

Berkonsultasi dengan para profesional—entah psikolog atau psikiater—sama saja ketika kita berobat ke dokter. Bedanya, kita pergi menemui dokter untuk keluhan fisik, dan menemui psikolog atau psikiater ketika ada keluhan secara emosional. Mengobrol dengan para profesional akan membantu kita melihat masalah secara objektif dan menemukan insight untuk memecahkannya.

Salah satu dampak negatif stres dalam kehidupan remaja adalah perasaan frustasi yang bisa mengakibatkan seseorang mengalami keluhan fisik, seperti pusing, sakit perut, sampai tidak nafsu makan. Namun begitu, stres juga punya dampak positif, salah satunya mendorong individu makin termotivasi melakukan yang lebih baik! Nah, andai saja anak remaja kita sedang bergumul dengan perasaan stres, dr. Lahargo memberikan tujuh tips cara mengatasi stres secara sehat. Mari kita simak!

  • Jangan ragu untuk minta bantuan.
  • Bernapas pelan dan panjang.
  • Mengonsumsi makanan sehat.
  • Berolahraga.
  • Mengerjakan tugas tanpa menunda.
  • Jangan khawatir terhadap hal-hal yang tidak bisa kita kontrol.
  • Ampuni kegagalan.

Kehidupan remaja memang kompleks. Mereka berdinamika dengan segala perubahan, beradaptasi dengan fase kehidupan yang baru, dan menyongsong masa dewasa awal. Kiranya setiap orangtua, teman sebaya, guru, konselor, bisa ambil bagian dan peran dalam hal kesehatan mental, salah satunya dengan mendengarkan tanpa menghakimi! (SO)

By NO Comment , 10th January 2020

Leave a Reply

*

WhatsApp chat