Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

Pandemi Covid-19 membuat banyak keluarga harus di rumah saja. Orang tua bekerja di rumah, sedangkan anak belajar di rumah. Beberapa anak mungkin sudah merasakan kebosanan karena terbiasa bersosialisasi dengan teman sebaya di sekolah dan menghabiskan banyak waktu di luar rumah. Nah, kira-kira, apa yang bisa dilakukan orang tua untuk membuat anak selalu bersemangat menjalani hari-hari setelah belajar di rumah?

Praktisi homeschooling, Aar Sumardiono, dalam artikelnya berjudul “Sekolah Libur karena Virus Corona, Ini Tips untuk Orangtua Temani Anak Belajar di Rumah” (Kompas.com, 16 Maret 2020), menyampaikan pendapatnya soal kondisi di rumah saja. Menurutnya, kondisi ini bisa dimaknai sebagai kesempatan untuk menjalin relasi yang lebih dalam dengan anak.

Pada hari-hari biasa, orang tua dan anak menjalani kesibukannya masing-masing. Mereka bertemu sejenak pada pagi hari saat sarapan di meja makan, kemudian “berpencar” ke tempat tujuan masing-masing. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu di luar rumah kemudian bertemu kembali pada malam hari—saat tubuh sudah sangat lelah.

Kita bisa memaknai kondisi khusus ini untuk mempererat relasi antaranggota keluarga. Manfaatkan waktu dengan efektif. Setelah selesai mengerjakan tugas masing-masing, mari bercengkerama. Anda bisa menghabiskan sisa hari dengan mengobrol, bercerita, dan melakukan hal lainnya bersama—hal-hal yang kadang terlewat di hari-hari yang sibuk.

Beberapa orang tua mengaku bingung cara memulai interaksi dengan anak. Media apa yang bisa digunakan sebagai ice breaker? “Masa hanya duduk bareng di ruang TV dan meminta anak bercerita tentang kesehariannya?”

Tentu Anda perlu kreatif! Pikirkan media yang bisa digunakan untuk seru-seruan dengan anak. Salah satu caranya, yaitu dengan bermain! Yes! Pilih permainan yang memungkinkan anak dan orang tua menjalin relasi lebih dekat. Salah satunya melalui permainan ular tangga.

Ada yang menarik dari permainan yang satu ini. Permainan ini berisi angka-angka sehingga kita bisa memodifikasi ketentuan bermain. Mari coba bermain ular tangga bercerita! Setiap pemain mengocok dadu, menjalankan pion, dan menganggap angka-angka yang dilaluinya sebagai hitungan usia. Misalnya, jika pion pemain berhenti di angka 17, pemain harus menceritakan pengalaman mengesankan saat berumur 17 tahun. Saat pion anak menyentuh angka 40, anak bisa menceritakan “bayangannya” saat ia nanti berusia 40 tahun. Saat pion bertemu dengan ular dan harus turun ke bawah, orang tua maupun anak bisa bercerita tentang kegagalannya. Saat pion anak merangkak naik karena melalui tangga, anak juga diminta menyebutkan karakter apa saja yang harusnya dimiliki untuk mencapai kesuksesan.

Orang tua bisa menggunakan media permainan ular tangga untuk berkisah, mendengarkan cerita anak, sampai menanamkan karakter. Permainan ini sederhana, mudah, dan tidak memerlukan biaya besar. Orang tua dan anak bisa belajar bersama lewat kisah-kisah yang dibagikan atau “menikmati” satu kisah untuk dibahas lebih dalam untuk diambil hikmahnya. Bukankah ini media terbaik untuk menjalin relasi?

Apakah Anda punya ide permainan lain yang sama serunya? [SO]

By NO Comment 30th May 2020

Leave a Reply

*

WhatsApp chat