Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

Oleh: Bella Kumalasari, Staf Karakter – PK3

*Sebuah refleksi dari beberapa referensi buku dan webinar: Coronavirus and Christ (John Piper, 2020), Where Is God in A Coronavirus World? (John Lennox, 2020), webinar apologetika mengenai kejahatan dan penderitaan oleh Bedjo Lie, M.Th.

Mengakhiri dan memasuki tahun pelajaran dengan situasi bekerja dan belajar dari rumah tentu bukan menjadi kebiasaan kita. Situasi ini terasa asing, mungkin aneh. Terkadang terasa menyenangkan, tetapi di sisi lain juga menyedihkan dan membawa gejolak di dalam hati.

Pandemi Covid-19 seperti membawa kita ke dalam ketidakpastian yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Di tengah kemajuan teknologi, ketersambungan seluruh dunia melalui internet, kegagahan artificial intelligent, kita dihadapkan dengan “musuh” yang bahkan tidak bisa kita lihat. Virus yang sangat kecil ini memorakporandakan seluruh rencana yang mungkin sudah kita susun sejak awal tahun atau bahkan tahun lalu. Rencana liburan dan bertemu dengan keluarga di kampung halaman juga terpaksa ditunda. Kebijakan-kebijakan pemerintah terus diperbarui yang membuat sebagian masyarakat kebingungan, tetapi rasanya tidak kunjung menjawab persoalan. Ajakan untuk hidup di “normal” yang baru sudah dicanangkan dengan gamblang. Namun, apakah semudah itu menjalaninya?

Dapat dikatakan bahwa pandemi ini menimbulkan penderitaan bagi umat manusia. Mungkin kita mulai meragukan Allah, jiwa kita lelah dan terkuras, atau kita sangat khawatir dan mulai bertanya, “Sampai kapan kita akan bertahan?” Namun, alih-alih menjadi semakin terpuruk karena kondisi ini (atau kondisi lainnya kalaupun bukan virus corona), mari kita datang kepada Allah, Sang Batu Karang yang teguh.

ALLAH YANG BERDAULAT
Allah adalah Allah yang berdaulat atas segalanya—tidak terkecuali dalam kondisi yang pahit menurut kita. Ia berdaulat atas penyakit, bencana alam, kesulitan, kejahatan, dan penderitaan yang kita alami. Ya, ini semua ada di dalam kendali-Nya dan terjadi atas seizin Dia, meskipun bukan berarti Ia senang melihat kita menderita. Ia Mahapengasih, Ia Mahatahu. Ia tidak plin-plan, Ia sempurna dalam sifat-sifat-Nya. Kita memang tidak dapat memahami-Nya sepenuhnya, tetapi bukankah justru hal itu yang membuat Dia layak kita percayai sebagai Tuhan?

Kedaulatan yang memerintah atas penyakit adalah juga kedaulatan yang menopang dalam masa kehilangan. Kedaulatan yang mencabut nyawa adalah juga kedaulatan yang menaklukkan maut dan membawa orang-orang percaya ke surga dan kepada Kristus. Kedaulatan yang dapat menghentikan wabah virus corona, meski sekarang tidak melakukannya, adalah kekuatan yang sama yang memelihara jiwa-jiwa yang sekarang ada di dalamnya.” (Piper, 2020)

Oh, sungguh tak terselami hikmat-Nya! Bukankah kedaulatan-Nya begitu cermat sehingga tidak ada seekor burung pipit pun yang jatuh tanpa izin-Nya, tidak sehelai rambut pun ada/hilang tanpa izin-Nya, dan tidak satu virus pun ada tanpa izin-Nya? Kabar baiknya, kita lebih berharga dari pada banyak burung pipit! (Mat. 10:29-31)

ALLAH YANG MENGASIHI SAYA
“Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Roma 8:32)

Kerelaan Allah menyerahkan Anak-Nya yang tunggal telah membuktikan kasih-Nya kepada kita sekaligus menegaskan betapa Ia akan memakai seluruh kedaulatan-Nya untuk “mengaruniakan segala sesuatu kepada kita”. Ya, segala sesuatu, termasuk ketika “… kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari …” (Roma 8:36) demi kemuliaan-Nya—entahkah membawa kita melewati bahaya maut ini dengan selamat ataupun seperti yang dikatakan Paulus dalam ayat-ayat selanjutnya, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup … tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 8:38-39).

Keberadaan Allah yang berdaulat sekaligus mengasihi saya membuat kita dapat melangkah dengan yakin bahwa ada tangan yang memegang hidup kita dengan sempurna meskipun kita tidak dapat melihat berpuluh-puluh langkah ke depan. Kedaulatan-Nya dalam menciptakan dunia ini, kasih-Nya dalam kisah penebusan di kayu salib dan kubur yang kosong, tidak berhenti sebagai kisah klasik beribu-ribu tahun yang lalu ataupun suatu kisah “dongeng” yang indah dalam kekekalan kelak. Ia ada saat ini, di sisi Anda dan saya, terlibat dan menentukan ini dan itu dalam setiap detik kehidupan kita, “… supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia” (1 Tes. 5:10).

Selamat memulai tahun pelajaran yang baru di dalam rengkuhan kasih dan kedaulatan-Nya yang tak pernah berubah.

Leave a Reply

*

pengumuman PSB
WhatsApp chat