Pengendalian Diri (1)

A happy person is not a person in a certain set of circumstances, but rather a person with a certain set of attitudes. Demikian kata bijak yang diucapkan seseorang bernama Hugh Downs.

Hidup ini menyenangkan atau tidak bukan ditentukan oleh kondisi di sekitar. Kita sendiri lah, bagaimana cara kita menghadapi hidup, itu yang menentukan hidup ini akan indah atau begitu melelahkan hingga titik tanpa harapan. Kemampuan mengendalikan diri adalah salah satu karakter, sekaligus juga keterampilan hidup, yang sangat bermanfaat.

Ketika kita mengendalikan diri, kita bukan sedang membatasi diri secara pasif. Justru secara aktif kita mengatur hidup. Hidup ini harus memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekedar memuaskan keinginan diri sendiri. Dengan mengendalikan diri, kita sebenarnya sedang menundukkan keinginan kita yang egois agar bisa mencapai tujuan yang jauh lebih besar dan berarti.

Lima Konsep Kunci Pengendalian Diri
Pengendalian diri adalah kebalikan dari pemuasan diri. Tentu tak salah bila kita melakukan hal yang menyenangkan diri. Ada banyak hal positif yang bisa kita lakukan yang akan membuat diri kita puas. Misalnya mencapai nilai maksimal di pelajaran yang selama ini jadi momok setiap siswa atau mencetak gol terbanyak dalam pertandingan antarkelas. Namun ketika hidup kita hanya terfokus pada diri sendiri, kita akan menjadi egois, sangat mudah terbawa suasana dan akhirnya kehilangan kendali diri. Agar dapat mengendalikan diri dengan baik kita perlu memberi perhatian pada orang lain. Kita akan terhindar dari keinginan untuk terus-menerus memuaskan diri sendiri dan terhindar dari kehilangan kendali diri. Fokus pada orang lain adalah konsep pertama dalam mengendalikan diri.

Ketika riak air sungai menerpa tepian sungai, kita akan berpikir air sungai dibatasi oleh tepian sungai itu. Air tak berdaya keluar dari batas yang ditetapkan tepian sungai. Namun ketika riak air terus-menerus menerpa, apa sebenarnya yang sedang terjadi? Tepian sungai mulai tergerus dan berubah bentuk, mengikuti gerakan air. Kita semua memiliki kelemahan. Bila tak dikendalikan, kelemahan itu akan mengikis konsep-konsep baik yang selama ini telah kita miliki. Seorang siswa tahu bahwa bila dia mulai bermain game, dia akan lupa waktu. Padahal sekarang sedang minggu ujian dan dia tahu harus belajar. Ketika dia tetap memutuskan untuk bermain game, dan akhirnya tak siap untuk ujian, konsep baik yang sebenarnya telah dia miliki yaitu tidak boleh mencontek, bisa berubah. Dia berpikir, sekali ini saja lah aku membuat contekan, sebab nilai kali ini akan sangat menentukan. Maka mulai lah terjadi ‘pengikisan dinding sungai’. Karena itu, kenali lah kelemahan kita, dan jaga diri baik-baik agar tak tersandung oleh kelemahan itu. Ini konsep kedua pengendalian diri.

Konsep ketiga adalah membatasi diri. Makan secukupnya, tidur secukupnya, gunakan uang secukupnya. Jangan menunggu hingga ada faktor dari luar, misalnya penyakit, ancaman sanksi, atau kebangkrutan, memaksa kita untuk mau tak mau harus mengatur diri.

Seorang yang bijak akan mengetahui kapan godaan menjadi terlalu besar untuk bisa dihadapi. Kisah Yusuf dan istri Potifar adalah cerita nyata yang tak pernah usang, contoh yang sangat baik dalam hal pengendalian diri. Yusuf pergi meninggalkan godaan istri Potifar. Dia tidak tetap tinggal di ruangan itu dan berusaha menyadarkan perempuan itu atas kesalahannya. Di saat seperti itu, daripada kalah, lebih baik menghindar. Inilah konsep keempat, berpaling dan tinggalkan godaan!

Akhirnya, konsep kelima adalah mencari dukungan. Manfaatkan kekuatan kelompok untuk menghadapi tantangan. Temukan orang yang dapat dipercaya, yang memiliki kekuatan justru di wilayah yang menjadi kelemahan kita. Mereka yang sulit mengendalikan nafsu belanja perlu menemukan seseorang yang bisa dipercaya dan biarkan dia mengontrol budget. Mereka yang kesulitan mengatur makan harus memberi kepercyan pada orang lain untuk menyusunkan menu dan memantau tiap kali waktu makan. Tentu butuh kerendahan hati untuk membiarkan orang lain ikut mengendalikan hidup kita. Namun ini cara yang jauh lebih bermartabat daripa mengisolasi diri dan membiarkan diri terus-menerus kalah.

Rantai Internal Pengendalian Diri
Agar bisa mengendalikan diri, seseorang harus bisa menjadi manajer bagi dirinya sendiri, menjaga segala aspek dalam dirinya agar berjalan seimbang dan sesuai porsi masing-masing. “Emosi” harus berada dalam kendali “kemauan diri” (aspek pembuat keputusan yang mempelajari pilihan-pilihan yang ada dan memutuskan pilihan terbaik). “Kemauan diri” itu sendiri harus tunduk pada “akal sehat” (aspek yang melakukan pemikiran, analisis, dan aplikasi atas tiap pengetahuan yang dimiliki). Dan tentu saja “akal sehat” itu harus bereaksi secara benar terhadap “hati nurani” yang semestinya telah dibentengi oleh prinsip-prinsip karakter yang baik. Orang yang mengembangkan manajemen diri yang semacam ini pasti lah seseorang yang seimbang, dan bahagia.

Jemi duduk dengan malas di depan meja belajarnya, memandang setumpuk tugas yang harus dia kerjakan. Aduhhh…kapan semua tugas ini selesai, keluhnya. Rasanya dia ingin segera terbang ke lantai bawah, menyalakan TV dan memainkan game PS terbarunya. Namun akhirnya dia memantapkan hati, membuka buku pertama, dan mulai mengerjakan tugasnya. Hati nuraninya bicara: kamu tahu yang baik. Lakukan lah yang baik, jangan tunda-tunda. Akal sehatnya membenarkan, karena dia tahu dua hari lagi tugas harus dikumpulkan bila dia ingin mendapat nilai yang baik. Jemi pun menundukkan kemauan dirinya di bawah kendali akal sehat, dan memutuskan untuk mengerjakan tugas. Rasa malas dan emosi lain pun dia taruh di bawah kendali keputusan yang telah dibuat. Jemi menyingkirkan playstation dari pikirannya dan mulai bekerja.

Keterampilan untuk menjaga keseimbangan antara emosi, kemauan diri, dan akal sehat harus dilatih terus menerus. Ini lah perang utama yang kita hadapi setiap saat agar bisa mengatakan “TIDAK!” pada keinginan untuk memuaskan diri sendiri dan memilih melakukan yang benar.

Great eaters and great sleepers are incapable of anything else that is great.
~Henry IV of France~

Be Sociable, Share!

There are no comments, yet.

Why don’t you be the first? Come on, you know you want to!

Leave a Comment

*

Athalia Magazine