Building The Nation By Building Your Children

artikel parenting
Oleh: Beryl Sadewa Lumenta, guru SMP

 

Negara adalah struktur sosial terbesar dalam suatu bangsa. Negara tersusun dari unit-unit sosial lain yang lebih kecil yang saling mempengaruhi dalam hubungan yang kompleks. Unit sosial terkecil itu adalah keluarga. Kalau negara digambarkan sebagai sebuah rumah, maka batu pondasinya, ubin pada lantainya, batu bata pada dindingnya, dan genteng pada atapnya adalah penggambaran dari kumpulan keluarga.

Peran keluarga yang sangat penting, dalam unit sosial terkecil inilah, generasi penerus bangsa muncul, tumbuh, dan berkembang. Kuat lemahnya mereka, sangat tergantung pada kondisi keluarga tempat mereka tumbuh dan berkembang. Masa depan bangsa tergantung pada generasi mudanya. Jika generasi muda kuat, maka akan kokoh pulalah bangsa itu, namun jika mereka lemah, akan rapuhlah bangsa itu. Dengan kata lain, keluarga yang sehat, akan menghasilkan generasi muda yang kuat, dan pada gilirannya akan menghasilkan bangsa yang kokoh.

Banyak di antara kita para orang tua, yang mungkin kurang menyadari pengaruh keberadaan keluarga kita bagi perkembangan bangsa, khususnya bangsa Indonesia. Kita mengakui bahwa seorang duta besar yang bertugas di luar negeri dikatakan sedang menjalankan tugas negara. Begitu pula seorang tentara yang diutus ke perbatasan untuk memperkuat pertahanan. Demikian juga sama halnya dengan seorang dokter yang diutus ke pedalaman Papua untuk mengatasi masalah gizi buruk dan wabah campak. Bagaimana dengan peran kita sebagai orang tua? Kita mungkin bukan duta besar, tentara atau dokter, tapi kita juga sedang menjalankan tugas negara yang tidak kalah pentingnya dengan mereka, kita sedang mendidik generasi muda penerus bangsa.

Mungkin ada yang berpikir bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab guru dan sekolah. Kalau demikian adanya, saya terpaksa harus mengatakan bahwa pernyataan itu salah. Guru dan sekolah TIDAK pernah dimaksudkan untuk menggantikan peran orang tua dan keluarga. Guru dan sekolah adalah rekan sekerja orang tua dan keluarga dalam mendidik anak. Seperti yang tertulis dalam Ulangan 6, bahwa orang tua diberikan mandat untuk mendidik anak-anak mereka.

Ada tiga aspek dasar dalam pendidikan: aspek kognitif atau pengetahuan, aspek afektif atau sikap/karakter, dan aspek psikomotor atau keterampilan. Mungkin tidak semua orang tua memiliki pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan oleh anak untuk dipelajari, dalam hal inilah guru dan institusi sekolah berperan. Dalam pembentukan karakter anak, orang tua dan guru sama-sama berperan dalam membentuk karakter anak. Meskipun demikian, Tuhan memberikan tanggung jawab pendidikan atau pembentukan karakter anak kepada orang tua.

Ulangan 6:7 mengatakan : “… haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Ada dua implikasi dari ayat tersebut. Yang pertama adalah bahwa pendidikan (karakter) tidak dapat dilakukan sesekali (apalagi hanya sekali saja) melainkan harus terus-menerus. Yang kedua, pendidikan karakter terhadap anak hanya efektif bila dilakukan dengan cara “bergaul akrab” dengan anak.
Cara terbaik dalam memberikan pendidikan karakter bagi anak adalah dengan menjadi teladan bagi mereka sebab telinga anak mungkin tertutup terhadap nasihat, tetapi matanya selalu terbuka melihat teladan. Dan cara apakah yang lebih baik bagi orang tua dalam memberikan teladan bagi anak-anaknya selain dengan bergaul akrab dengan mereka? Tuhan Yesus tinggal dengan murid-murid-Nya supaya Ia dapat bergaul akrab dengan mereka. Murid-murid Tuhan Yesus setiap hari selalu melihat teladan dari Sang Guru. Di sini tampak jelas bahwa peran orang tua tidak tergantikan oleh guru. Guru tidak mungkin bersama-sama dengan anak setiap hari, sedangkan orang tua tinggal bersama anak.

Walaupun demikian, ada perbedaan besar antara berada di tengah anak-anak, dengan hadir di tengah-tengah mereka. Kita bisa saja berada bersama-sama dengan anak-anak kita, namun mereka tidak merasakan kehadiran kita. Keberadaan kita bisa mereka rasakan kalau ada interaksi antara kita dengan mereka. Pelajaran-pelajaran paling berharga bisa anak-anak kita dapatkan pada saat kita sedang beraktivitas bersama mereka. Momen-momen penting dapat muncul tiba-tiba, kesempatan baik bagi kita untuk menyampaikan nilai-nilai moral kepada anak-anak kita.

Ketika kita membangun karakter anak-anak kita, kita sedang mempersiapkan anak-anak kita menghadapi masa depannya; dan masa depan anak-anak kita adalah masa depan bangsa dan negara kita. Kita sebagai orang tua mengambil bagian yang sangat penting dalam membangun bangsa kita. Bahkan mungkin kita mempunyai peran yang lebih besar dari yang kita bayangkan; karena pemimpin bangsa kita di masa depan bisa jadi salah satu dari anak-anak kita.

Be Sociable, Share!

There are no comments, yet.

Why don’t you be the first? Come on, you know you want to!

Leave a Comment

*

Athalia Magazine