Hatiku Tertuju Pada-Mu

Oleh: Noverman S. Gea, guru SMP

warung teologi

Mazmur 71:8
“Mulutku penuh dengan puji-pujian kepada-Mu, dengan penghormatan kepada-Mu sepanjang hari.”

 

Karya seni merupakan ekspresi yang bisa dihasilkan seseorang untuk mengaplikasikan diri di dalam kehidupan ini. Bagian ini merupakan tanggung jawab setiap insan untuk melakukannya karena setiap orang sudah diberi potensi oleh Tuhan untuk berkarya. Kegiatan untuk mengekspresikan diri inilah yang mendorong semua orang untuk menghasilkan sebuah karya. Namun kegiatan mengekspresikan diri ini kadang tidak didasari dengan tujuan yang tepat melainkan digantikan dengan tujuan-tujuan yang sebenarnya hanya bersifat sekunder.

Berbicara mengenai sejarah karya seni baik itu seni musik, seni rupa, seni tari dan seni teater, sudah terjadi sejak dunia ini diciptakan oleh Tuhan. Ini berarti bahwa Tuhan yang menciptakan dunia ini beserta segala isinya merupakan creator seni yang luar biasa. Hal ini mengingatkan kita bagaimana Allah yang adalah creator seni yang luar biasa itu harus disembah oleh bangsa Israel. Musa disuruh mendirikan mezbah dan Musa berkata “Tuhanlah panji-panjiku” (Keluaran 17:15). Kemudian di masanya, raja Daud menyatakan kekagumannya kepada Tuhan dengan cara menari di hadapan Tuhan (2 Sam. 6:21) diiringi berbagai macam alat musik, sambil bernyanyi kepada Tuhan (2 Sam. 6:5). Dan di masa Salomo, Tuhan memerintahkan untuk mendirikan rumah bagi Tuhan dengan segala persiapan mulai dari para seniman yang akan mengerjakan berbagai macam pahatan, sampai kepada persediaan bahan untuk mendirikan rumah bagi Tuhan (Bait Allah).

Ketika bangsa Israel dikeluarkan Tuhan dari perbudakan di tanah Mesir, tujuan utama Tuhan hanyalah satu, yakni “…, supaya mereka beribadah kepada-Ku;…” (Keluaran 8:1). Ini merupakan sebuah dorongan yang disampaikan kepada kita sebagai orang-orang yang telah ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus, dari ‘kegelapan’ kepada terang Kristus, yakni bahwa tujuan hidup kita hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Namun, ketika manusia diberikan banyak potensi untuk berkarya maka tujuan manusia melakukannya lebih mengarah kepada pengakuan diri (harga diri), pencarian nafkah (harta), menyenangkan diri (keinginan), dan lainnya yang selalu mengarah pada diri sendiri. Bagian ini pulalah yang sering mendorong manusia untuk berkarya “tanpa batas”.

Dalam buku Modul 4 Pelajaran Musik SMP yang disusun oleh KILANG Orchestra Music School hal. 19, ditulis bahwa Istilah Musik zaman Baroque (berarti ‘sangat dekoratif’) terinspirasi dari gaya arsitektur Jerman dan Austria antara abad 17 dan 18. Pada zaman ini perkembangan musik sangat dipengaruhi oleh gaya arsitektur pada zaman itu sehingga komposisi musik pada umumnya berbentuk “polifoni”. Pengaruh arsitektur ini sangat terasa pada bagian-bagian dinamika, tempo, dan ekspresi sebuah karya musik. Pada zaman ini pulalah musik masih sangat berorientasi pada penyembahan kepada keagungan Sang Pencipta. Namun pergeseran zaman musik memulai pergeseran makna karya musik: zaman Klasik ke zaman Romantik dan saat ini sudah berada pada zaman Modern.

Semua karya seni (dalam sudut pandang seni) pasti berharga dan penting. Tetapi tidak semua karya seni memiliki makna yang baik dan memberi pengaruh yang baik juga. Oleh sebab itu, kita sebagai pelaku dan atau penikmat seni harus berhati-hati untuk memberi input yang baik agar output atau karya yang kita hasilkan berkenan di hadapan Tuhan sebagai satu-satunya tujuan dari karya setiap manusia yakni memuliakan Dia.

There are no comments, yet.

Why don’t you be the first? Come on, you know you want to!

Leave a Comment

*

Athalia Magazine