Kerendahan Hati Samuel Morse

artikel kerendahan hati

 

Samuel Finley Breese Morse lahir di Charlestown, Massachussetts, Amerika, tanggal 27 April 1791. Dia adalah anak sulung dari tiga putra keluarga Dr. Jedidah Morse, seorang pendeta dan ahli geografi. Samuel muda dibesarkan dalam keluarga yang memegang teguh ajaran Alkitab tentang penciptaan.

Pada saat itu, proses komunikasi berjalan dengan sangat lambat. Morse sendiri mengalami masalah-masalah yang disebabkan oleh kelambatan komunikasi itu. Misalnya, Pada tahun 1811, ketika dia tiba di London sebagai siswa seni, hubungan Inggris dan Amerika Serikat sedang sangat tegang. Kapal-kapal Inggris menyerang kapal-kapal Amerika Serikat yang diyakini mengangkut barang untuk musuh Inggris, yaitu Perancis. Akhirnya, Inggris berupaya mengadakan rekonsiliasi dengan mengirimkan sebuah pesan. Sayangnya, ketika pesan itu sedang dalam perjalanan melintasi Samudra Atlantik yang membutuhkan waktu satu bulan, Amerika Serikat sudah menyatakan perang. Perang ini berakhir dua tahun kemudian. Sesudah perjanjian perdamaian ditandatangani, tentara Amerika dan tentara Inggris masih saja terlibat dalam pertempuran besar lain karena mereka tidak tahu bahwa perang sudah usai.

Pengalaman lain yang dirasakan Morse berkaitan dengan lambatnya proses komunikasi adalah pada saat istrinya yang masih muda meninggal mendadak di New Haven, Connecticut, yang terpisah 500 kilometer dari Washington D.C. tempat Morse berada. Dia tidak bisa menghadiri pemakaman istrinya karena berita tentang kematian istrinya tersebut baru sampai kepadanya melalui pos satu minggu kemudian. Morse menyadari bahwa masalah internasional dan personal yang dia alami bisa dicegah jika listrik bisa dipakai untuk komunikasi.

Pada tahun 1832, ketika berada dalam pelayaran dari Eropa menuju Amerika Serikat, Morse mendapat gagasan tentang telegrafi elektromagnetik rangkaian tunggal. Dengan bantuan Leonard Gale, dosen ilmu alam, selama lima tahun Morse mengembangkan gagasannya menjadi model yang operasional. Setelah selesai, Morse mendemonstrasikan telegrafi kepada para usahawan dengan harapan mereka mau membiayai pembangunan jalur telegrafi. Karena tidak ada penanam modal swasta yang tertarik, dia menghabiskan waktu satu tahun lagi untuk membangun model yang lebih baik dan mendemonstrasikannya kepada pemerintah Amerika Serikat. Lagi-lagi, dia tidak berhasil mendapatkan bantuan keuangan. Morse akhirnya pergi ke Inggris dan Eropa selama satu tahun untuk mencari dukungan keuangan, tapi ia juga mengalami kegagalan. Sekembalinya ke Amerika Serikat, Morse mencoba untuk menarik minat masyarakat. Dia memasang kawat terisolasi melintasi pelabuhan New York dan mengumumkan di surat-surat kabar bahwa dia akan melakukan demonstrasi umum. Tapi malang, jangkar sebuah kapal tersangkut memutuskan kawatnya. Alih-alih dukungan, Morse malah mendapat cemoohan.

Kegagalan demi kegagalan dialami oleh Morse. Ia menjalani sebelas tahun penuh frustrasi.  Morse tidak memunyai uang dan sering kelaparan. Namun, dia tidak pernah mengalihkan pandangannya dari Tuhan. Pada masa-masa sulit ini, dia menulis “Saya sangat yakin bahwa, meskipun terasa aneh, semua ini diatur oleh tangan Bapa Surgawi.” Kepercayaan Morse kepada Juru Selamat dan Tuhannya, Yesus Kristus, tampak nyata dalam semua aspek kehidupan dan pekerjaannya. Selama tahun-tahun penuh kemiskinan, kesedihan, frustrasi, dan cemooh, Morse selalu mengandalkan berkat Allah yang tak berkesudahan, dia mengatakan: “Hanya Dia yang bisa menopang saya … melalui semua percobaan saya.”
Pada tahun 1843, Morse berupaya lagi menarik minat pemerintah Amerika Serikat untuk membiayai penerapan telegrafinya. Kali ini dia berhasil. Meskipun banyak kesulitan teknis, dia berhasil membangun jalur telegrafi pertama dari Washington ke Baltimore. Morse telah membuat revolusi dalam komunikasi dengan menerapkan ilmu. Dia menerima banyak penghargaan oleh karena penemuan-penemuannya di bidang telegraf. Namun Morse tetap seorang Kristen yang rendah hati. Untuk setiap karyanya,  ia mengaku, “Semuanya adalah karya Dia …. Bukan bagi kami, tapi bagi nama-Mu-lah, ya, Tuhan, semua pujian.”
Dalam setiap keberhasilannya, Morse selalu berkata; “Saya telah membuat aplikasi berharga di dunia telegraf, namun itu bukan karena saya lebih baik, lebih hebat dari orang lain, tapi karena Tuhan dalam rencanaNya untuk umat manusia, harus merevelasikan hal tersebut lewat seseorang. Tuhan telah memilih untuk menyatakannya untuk dunia lewat diriku.”

(IB – Tim Karakter, Sumber:
http://biokristi.sabda.org/samuel_morse_1791_1872_penemu_telegraf_dan_seorang_kristen_yang_aktif, http://serba2.wordpress.com/2012/03/25/kerendahan-hati-samuel-morse/)

Be Sociable, Share!

There are no comments, yet.

Why don’t you be the first? Come on, you know you want to!

Leave a Comment

*

Athalia Magazine