Mendidik Anak dengan Benar Sejak Awal

Oleh: Beryl Sadewa Lumenta, guru SMP

parenting

Tahun baru, identik dengan awal yang baru. Sering kali orang mengawali tahun dengan membuat resolusi tahun baru, yang biasanya berupa komitmen untuk melakukan sesuatu yang baik. Mengapa di awal tahun? Karena, disadari atau tidak, kita tahu bahwa melakukan sesuatu yang baik dan benar, jika dimulai dari awal, maka hasilnya akan maksimal.

Hal yang sama berlaku di dunia parenting. Semua orang tua yang baik, pasti menginginkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik pula; taat, disiplin, bertanggung jawab, sabar, inisiatif, dan lain-lain. Jika kita mulai mendidik anak kita sejak dini, maka hasilnya juga akan lebih baik. Lebih mudah mendidik anak agar memiliki karakter yang baik daripada memperbaiki karakter mereka ketika mereka sudah beranjak remaja, atau bahkan dewasa.

Masalahnya, hal tersebut ternyata tidak mudah, dan yang paling sulit adalah bagaimana mendidik anak agar konsisten melakukan apa yang benar.. Kalau sekedar memberitahu mereka apa yang baik dan tidak baik, atau mendorong mereka melakukan apa yang baik dan benar sesekali, tentu tidak terlalu sukar. Lantas bagaimana caranya?

Ada 3 hal yang harus kita perhatikan.
Yang pertama, anak membutuhkan teladan dari orang tuanya. Ada pepatah mengatakan bahwa telinga anak mungkin tertutup terhadap nasehat, tapi matanya selalu terbuka melihat teladan. Ketika kita konsisten melakukan apa yang benar, maka anak kita akan cenderung meneladani perilaku kita, demikian pula sebaliknya. Percuma kita menasehatkan satu hal kepada anak kita, tapi anak kita melihat hal yang tepat berkebalikan dengan apa yang kita katakan.

Yang kedua, harus ada kesehatian antara Ayah dan Ibu. Artinya, Ayah dan Ibu harus memiliki nilai-nilai yang sama, dan harus sepakat mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak. Misalnya, ketika orang tua mau mengajarkan tanggung jawab kepada anak, dengan meminta dia merapikan mainannya. Ayah dan Ibu harus sepakat bahwa anak harus merapikan mainannya. Jika Ayah berkeras anak membereskan mainannya, tapi Ibu membolehkan anak untuk tidak membereskan mainannya, misalnya, maka anak akan cenderung mencari-cari celah untuk tidak melakukan tanggung jawabnya, dibalik kata-kata: “Kata Ibu boleh”sehingga akan sulit mengharapkan anak konsisten membereskan mainannya.

Yang terakhir, kita sebagai orang tua, harus bergaul akrab dengan anak-anak kita. Sediakanlah waktu untuk melakukan berbagai hal bersama-sama dengan mereka. Bermain, menonton, jalan-jalan, membaca buku, atau berolahraga bersama. Proses pendidikan karakter dalam keluarga adalah proses transfer nilai dari orang tua kepada anak-anaknya. Dan transfer nilai ini mustahil terjadi tanpa interaksi antara orang tua dan anak. Kalau sekedar transfer pengetahuan saja, bisa kita lakukan dengan memberi anak-anak kita nasehat, tapi tidak dengan transfer nilai. Sering kali saat yang paling tepat untuk mengajarkan nilai-nilai yang kita percayai kepada anak adalah saat kita sedang melakukan aktivitas sederhana bersama anak-anak kita. Momen-momen itu sering kali muncul saat kita sedang bersama-sama dengan anak-anak kita, kita yang perlu peka melihat momen-momen tersebut. Pernah suatu kali sedang duduk menunggu pesanan makanan di restoran, dan anak saya tiba-tiba bertanya: “Papi, aku kalau berdoa makan kan hampir selalu sama tuh kata-katanya, kira-kira Tuhan bosen gak, ya?” Sebenarnya, saat itu adalah momen yang sangat tepat untuk saya mengajarkan kepada anak saya mengenai sikap hati saat berdoa, tapi sayang, saat itu saya hanya bisa tertawa karena tidak siap menangkap momen yang muncul tiba-tiba.

Jika kita melakukan ketiga hal tersebut secara konsisten, maka akan lebih mudah bagi anak-anak kita untuk konsisten melakukan apa yang benar. Selamat mencoba.

Be Sociable, Share!

There are no comments, yet.

Why don’t you be the first? Come on, you know you want to!

Leave a Comment

*

Athalia Magazine