Mengenali “Panggilan” Anak

Oleh: Tri Ananda, Kabag SDM Sekolah Athalia

parenting, mengenali panggilan anak

“Apa sih yang kau tahu?”, sebuah kalimat yang mungkin pernah kita sebagai orang tua atau guru perkatakan kepada anak atau siswa kita. Kalimat yang dikatakan bisa secara langsung ataupun hanya dalam hati. Perkataan tersebut biasanya muncul karena sebuah pemahaman bahwa sebagai orang yang lebih dewasa, orang tua atau guru sudah mempunyai “banyak” pengalaman hidup. Pengalaman hidup yang membuat orang dewasa dapat merasa sudah banyak tahu, dan mempunyai pra-anggapan bahwa anak atau siswa tidak “banyak” mengerti atau kurang berpengalaman.
Saat anak atau siswa kita masih kecil, pra-anggapan itu diterima oleh anak tanpa perlawanan. Tetapi ketika anak beranjak remaja, maka ada tuntutan adanya pembuktian atas pra-anggapan tersebut. Jika orang tua tidak mampu membuktikan pra-anggapannya maka yang terjadi adalah pertentangan bahkan mungkin pemberontakan. Apakah pertentangan atau pemberontakan ini harus terjadi? Hal tersebut bisa tidak terjadi. Dengan cara menghilangkan pra-anggapan atau sikap “underestimate” terhadap anak. Sebaliknya, mengembangkan sikap “trust” kepada anak. Bukankah akan lebih tentram apabila relasi kita sebagai orang tua/guru dengan anak bisa berjalan dengan baik? Bagaimana caranya?
Rasul Paulus memberikan nasihatnya dalam bentuk “penguatan” dan “kepercayaan” kepada Timotius sebagai generasi yang lebih muda dalam melakukan tugas panggilannya, untuk: “Beritakanlah dan ajarkanlah semuanya itu. Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda…” (1 Timotius 4: 11 – 12). Dalam lanjutan dari pasal ini, diungkapkan faktor-faktor yang mendukung keberhasilan dalam menjalankan tugas panggilan bukan faktor usia melainkan berkenaan dengan faktor keteladanan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian. Keteladanan inilah yang membuat orang meskipun dia masih muda bisa dipercaya dan mampu menjalankan tugas-tugas yang diembannya. Ini juga yang seharusnya dilakukan orang tua kepada anak/anak didiknya.
Orang tua terlebih dahulu memberikan teladan baik dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian kepada anaknya. Sehingga anak/siswa bersedia melakukan dengan senang hati hal-hal yang sudah diteladankan oleh orang tuanya. Orang tua harus memberikan kepercayaan kepada anak/siswanya mulai dari tanggung jawab dalam perkara yang kecil, sampai mereka siap untuk melakukan tanggung jawab dalam perkara-perkara yang besar (Matius 25: 23).
Oleh karena itu ketika orang tua/guru ingin mengenali “panggilan” anak, maka sebagai landasannya adalah membangun kepercayaan. Orang tua atau guru mulai belajar memberikan kepercayaan kepada anak-anak, dan hal ini akan menolong anak untuk mengenali panggilannya sendiri. Bimbingan orang tua, tanpa adanya pemaksaan kehendak orang tua kepada anak sangat dibutuhkan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah hindari pemenuhan semua keinginan anak atau memanjakan anak tanpa ada “tali kekang” sedikit pun. Hal ini akan membuat anak/siswa lepas kendali dan terlanjur menjadi susah untuk dikendalikan.
Dalam kitab Hosea 11:4 dituliskan, “Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih”. Jadi “tali kekang” yang harus dikenakan kepada anak/siswa kita adalah tali kesetiaan dengan ikatan kasih, bukan tali yang membelenggu mereka sehingga mereka memberontak untuk melepaskan diri dari tali itu dan apabila terlepas menjadi “liar” tak terkendali.
Jadi langkah-langkah praktis yang bisa kita pikirkan dan lakukan dalam upaya untuk mengenali “panggilan” anak/siswa kita, adalah:

  1. Dengarkan apa yang menjadi mimpi-mimpi/keinginan mereka.
  2. Ujilah mimpi-mimpi/keinginan mereka dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif, misalnya: Apakah sudah dipikirkan konsekuensinya bagi diri anak, keluarga, teman, dan masyarakat? Apakah anak/siswa mampu dan tahan dalam menjalankan semua konsekuensi itu?
  3. Apabila anak/siswa sudah firm dengan dirinya sendiri , bahwa ia akan mampu/tahan menjalankan dan menghadapi konsekuensinya, maka kita dapat mempersilahkan anak/siswa untuk menjalani “panggilan” yang menjadi pilihannya.
  4. Terus lakukan monitoring bila dalam prosesnya anak/siswa memerlukan dukungan, coaching ataupun counseling. Bahkan, pantau terus untuk mendapati bilamana ada kebutuhan mereka melakukan redefinisi terhadap “panggilan” yang dipilihnya.

Apabila ada kebutuhan untuk redefinisi, maka kita akan mulai lagi dengan langkah pertama, sehingga dalam prakteknya akan terus terjadi siklus aksi – refleksi – aksi.
Tulisan ini adalah sebuah tawaran, buah pemikiran dalam rangka menolong anak/siswa untuk mengenali “panggilan”nya. Perihal penerapannya, hal ini sangat bergantung pada sikap yang diambil. Pemaparan ini juga bukan merupakan formula yang kaku, tetapi bisa disesuaikan dengan konteks yang kita hadapi. Selamat mencoba.

Be Sociable, Share!

There are no comments, yet.

Why don’t you be the first? Come on, you know you want to!

Leave a Comment

*

Athalia Magazine