Menghargai Alam, Menghargai Tuhan

Kejadian 2:15

“Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

Ulangan 20: 19

“Apabila dalam memerangi suatu kota, engkau lama mengepungnya untuk direbut, maka tidak boleh engkau merusakkan pohon-pohon di sekelilingnya dengan mengayunkan kapak kepadanya, buahnya boleh kaumakan, tetapi batangnya janganlah kautebang; sebab, pohon yang di padang itu bukan manusia, jadi tidak patut ikut kau kepung.”

Ketika sedang menjelajah internet beberapa waktu lalu saya menemukan satu event atau gerakan yang unik. Gerakan ini setiap tahun menjadi satu event besar di beberapa negara dan sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu. Beberapa diantara kita mungkin pernah mendengar atau justru pernah terlibat dalam gerakan ini. Gerakan Earth Hour. Gerakan Earth Hour adalah salah satu gerakan yang diprakarsai oleh WWF (World Wildlife Foundation)- organisasi konservasi lingkungan hidup yang independen dan terbesar di dunia. Setiap orang di seluruh dunia dapat berpartisipasi dalam gerakan ini. Pada tahun ini, tepatnya pada tanggal 28 Maret 2015, kita dapat ikut berpartisipasi dengan mematikan listrik atau lampu di rumah maupun di tempat kerja kita selama satu jam atau lebih, mulai dari pukul 08.30-09.30 malam waktu setempat. Bila seluruh penduduk dunia melakukannya, maka perubahan besar tentu dapat terjadi.

Berbicara mengenai pendayaguna memang tidak dapat lepas dari kontribusi kita sebagai manusia pada kelestarian alam atau lingkungan hidup. Dalam kitab Kejadian, Tuhan Allah dengan jelas mengatakan agar kita harus mengusahakan dan memelihara taman atau bumi ini. Tuhan memang menganugerahkan kita kuasa atas alam dan segala isinya. Namun kembali lagi bahwa semua ini merupakan ciptaan dan milik Tuhan saja (Mazmur 24:1) yang seharusnya kita hargai dan pelihara dengan segenap hati.

Adakala memang kita sebagai manusia lupa. Lupa bahwa apa yang kita makan dan gunakan sehari-hari berasal dari alam yang juga merupakan makhluk hidup. Lupa bahwa segala sesuatu membutuhkan proses untuk tumbuh. Bila direnungkan kembali, manusia sebenarnya tidak dapat hidup tanpa alam, tanpa tumbuhan dan hewan, tetapi alam dapat terus tumbuh dengan baik tanpa adanya manusia. Oleh karena itu Adam dan Hawa diciptakan pada urutan terakhir ketika semua telah tersedia bagi kehidupan mereka. Bukan berarti alam adalah segalanya, tetapi manusia harus lebih menghargai alam sebagai ciptaan Tuhan yang menyediakan seluruh kebutuhan kita di bumi.

Perlu kita ketahui juga bahwa ternyata menghargai alam dan isinya juga merupakan salah satu bagian dalam mengembangkan karakter anak. Hal ini tertera dalam buku Let The Children Come-Along The Virtuous Way (buku yang dipakai dalam Parenting Class-Teen). Mengajarkan anak untuk menghargai alam juga berarti mengajarkan anak untuk menghargai orang lain dan terutama menghargai Allah sendiri. Mengenalkan keindahan yang telah Tuhan ciptakan pada anak dapat membangun kepekaan dan tanggung jawab anak untuk mau terlibat menjaga dan menciptakan lingkungan yang sehat untuk kehidupan mereka. Bukan justru merusak dan mengeksploitasi alam yang sudah semakin hancur ini. Tuhan sendiri mengingatkan kita dalam Ulangan 20:19 untuk tidak melibatkan alam dalam peperangan kita.

Oleh karena itu alangkah baiknya bila kita semua sebagai manusia dapat hidup harmonis bersama dengan alam. Jangan biarkan bencana-bencana yang harus datang mengingatkan kita untuk berubah, tapi biarlah apa yang telah kita terima dari Tuhan juga dapat kita bagikan melalui perilaku kita sehari-hari. Pertumbuhan yang baik hanya dapat terjadi ketika kita mau belajar untuk berubah menjadi lebih baik. Sadari bahwa setiap gerakan dan perubahan-perubahan kecil yang kita lakukan hari ini akan menentukan masa depan anak cucu kita nanti. Think wise and action! (LDS/karakter kerohanian)

Be Sociable, Share!

There are no comments, yet.

Why don’t you be the first? Come on, you know you want to!

Leave a Comment

*

Athalia Magazine