FAQ

Konsep apa yang digunakan Sekolah Athalia dalam mendidik anak-anak?
Sekolah Athalia yakin bahwa tiap anak itu diciptakan Allah secara unik. Tidak ada anak yang bodoh. Semua anak cerdas dalam satu atau beberapa kecerdasan. Karena itu Sekolah Athalia mendidik dengan pendekatan kecerdasan majemuk Howard Gardner. Namun cerdas saja tidak cukup. Sekolah Athalia percaya bahwa karakter itu sangat penting. Seorang yang cerdas, tanpa karakter yang baik, tidak akan berhasil dalam hidupnya.

Bagaimana Sekolah Athalia menerapkan konsep kecerdasan majemuk Howard Gardner dalam pembelajaran di Athalia?
Sekolah Athalia mengadakan pelatihan kecerdasan majemuk untuk para guru. Guru-guru didorong untuk mengenali gaya belajar siswa yang berbeda-beda dan dilatih untuk membantu siswa  mengenali kecerdasan masing-masing serta mengembangkan potensi yang mereka miliki. Di SMP, pada semester kedua tiap tahunnya seluruh siswa diminta membuat karya tulis yang tema dan gaya penulisannya dibebaskan sesuai dengan kecerdasan mereka masing-masing.

Sekolah Athalia menyatakan diri sebagai “Komunitas Pembelajar Berbasis Karakter”. Apa maksudnya?
Sekolah Athalia percaya bahwa tiap orang yang ada di Athalia, –bukan hanya murid— harus terus belajar. Guru, karyawan, para pimpinan, orangtua siswa, bahkan satpam dan office boy pun harus terus belajar. Yang perlu dipelajari bukan hanya ilmu pengetahuan karena Sekolah Athalia percaya bahwa mengasah aspek kognitif saja tidak cukup. Karakter pun penting untuk dibentuk.  Sekolah Athalia menekankan pada komunitas karena Sekolah percaya bahwa karakter tak mungkin tumbuh dalam kesendirian. Untuk bisa memiliki karakter yang teguh, orang harus berada dalam sebuah komunitas. Komunitas yang baik akan saling mengasah dan saling mengasuh dalam semangat saling mengasihi.

Bagaimana konsep karakter dan kecerdasan majemuk disampaikan ke murid?
Kecerdasan majemuk dan karakter selalu dimasukkan dalam lesson plan. Misalnya lesson plan tentang metamorphosis. Kecerdasan majemuk yang dipelajari misalnya kecerdasan natural dan kecerdasan linguistic. Karakter yang dipelajari misalnya kesabaran, tentang bagaimana kepompong itu harus menunggu sekian lama dan setelah waktunya tiba pun harus dengan sabar dan perlahan-lahan mengeluarkan sayapnya dari kepompong.

Sekolah Athalia adalah sekolah Kristen. Apakah sekolah ini lebih menekankan pada pengajaran agama?
Sekolah Athalia adalah sekolah nasional yang berciri kristiani. Sebagai institusi pendidikan, Sekolah Athalia terbeban untuk ikut mendidik dan mencerdaskan generasi muda Indonesia dengan menggunakan  kurikulum nasional (KTSP=Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Selain menggunakan KTSP, Sekolah Athalia juga menjadi Pilot Project kurikulum 2013 untuk kelas I dan IV SD. Namun, sesuai dengan visi yang diterima para pendiri Sekolah Athalia, maka sekolah ini berciri kekristenan. Artinya, Sekolah Athalia memandang manusia, ilmu pengetahuan, dan segala aspek kehidupan lainnya, dari sudut pandang iman Kristen. Sekolah Athalia juga menekankan pendidikan karakter yang sesuai dengan standar etika iman Kristen. Yang menjadi penekanan bukanlah agama itu sendiri melainkan spiritualitasnya: bagaimana agar tiap anggota komunitas Athalia bisa saling mengasihi, saling mendukung, belajar beriman, menyadari kesalahan dan bertobat, dll.

Bagaimana Sekolah Athalia mengajarkan karakter baik pada siswa-siswinya?
Setiap tahun Sekolah Athalia memilih sebuah karakter khusus untuk masing-masing kelas untuk dipelajari bersama baik secara terintegrasi dalam pelajaran kelas, lewat pelajaran Character Building, maupun lewat kegiatan-kegiatan di luar pelajaran.  Siswa diajarkan untuk memahami karakter tersebut, merasakan, dan berlatih untuk mengaplikasikan karakter tersebut di mana pun mereka berada. Para siswa juga melakukan berbagai proyek yang tertuang dalam lesson plan untuk mendukung peneguhan karakter itu dalam dirinya. Namun, Sekolah Athalia juga percaya bahwa untuk itu semua butuh proses, dan proses akan memakan waktu.

Apa visi Sekolah Athalia?
Visi Sekolah Athalia adalah siswa yang menjadi murid Tuhan. Sekolah Athalia memandang setiap siswa sebagai ciptaan Tuhan yang perlu dikembalikan kepada martabatnya yang mula-mula: Manusia yang diciptakan bukan untuk mementingkan diri sendiri atau mencari keuntungan  diri, melainkan diciptakan Allah untuk memuliakan Allah.

Bagaimana Sekolah Athalia memposisikan orang tua murid?
Sekolah Athalia percaya bahwa Allah meletakkan tanggung jawab pengasuhan seorang anak sepenuhnya di pundak orang tua. Namun tuntutan kehidupan modern  membuat orang tua tak mungkin terus mendampingi anak dan mengajarinya segala macam hal yang dibutuhkan anak untuk bekal hidupnya. Sebagai bagian dari tanggung jawab itulah orang tua memilih sekolah yang tepat bagi anaknya. Karena itu, Sekolah Athalia memandang orang tua sebagai mitra dalam mendidik anak-anak yang dipercayakan sebagai murid Sekolah Athalia. Orang tua perlu bekerjasama dengan Sekolah, dan ikut bertanggung jawab dalam pendidikan anak-anak.

Moto Sekolah Athalia “Right From The Start”. Apa maknanya?
Sekolah Athalia percaya bahwa sejak dini seorang anak harus dididik dengan benar pada jalan yang benar secara konsisten. Membiarkan seorang anak saat dia kecil dengan niat mendidiknya saat dia sudah lebih besar, adalah cara yang lebih sulit dan seringkali harus dibayar dengan harga mahal.

Bagaimana perbandingan jumlah guru dan siswa di Sekolah Athalia?
Jumlah murid di kelas Batita maksimal 10 siswa dengan 2 orang guru kelas. Untuk Pra TK, TK A & TK B  maksimal  jumlah siswa 20 anak dengan 2 guru di setiap kelas. SD kelas I &  kelas II, jumlah siswa maksimal 26 anak dengan 2 guru kelas. SD kelas III hingga SMP maksimal jumlah siswa 26 orang dengan 2 orang guru pembimbing. Saat ini Sekolah Athalia menerima siswa baru sampai kelas XII (SMA III).

Sekolah Athalia menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Mengapa tidak bahasa Inggris seperti sekolah baru yang banyak bermunculan sekarang?
Sekolah Athalia percaya bahwa seorang anak harus dididik untuk menghargai akar budayanya. Tiap anak perlu belajar bahasa ibu masing-masing (biasanya bahasa daerah/suku) dan bahasa nasionalnya, yaitu bahasa Indonesia. Kaena itu Sekolah Athalia mendorong tiap siswanya untuk belajar bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dan mencintai akar budayanya. Dengan begitu nasionalisme, kecintaan generasi muda pada bangsanya sendiri, akan tumbuh karena mereka mengenal kekuatan budaya mereka dengan baik. Sekolah Athalia memahami bahwa globalisasi menuntut penguasaan bahasa Inggris yang menjadi bahasa international. Karena itu, Sekolah Athalia memberi porsi yang cukup banyak untuk pelajaran Bahasa Inggris, lebih banyak daripada standar Depdiknas. Untuk SD, pelajaran Bahasa Inggris standar Depdiknas adalah sebagai Mulog (Muatan Lokal) atau tidak wajib sedangkan Sekolah Athalia mengalokasikan 5 jam/minggu mulai dari kelas III dan 3 jam/minggu untuk kelas I dan II. Untuk SMP, standar bahasa Inggris 4 jam/minggu tapi Sekolah Athalia mengalokasikan 6 jam/minggu untuk pelajaran Bahasa Inggris.

Di Sekolah Athalia tidak ada kantin. Mengapa, dan bagaimana bila siswa lapar dan haus selama di sekolah?
Sekolah Athalia tidak membuka kantin karena ingin orang tua tahu dengan jelas makanan dan minuman apa saja yang dikonsumsi anak selama di sekolah. Sekolah Athalia menyediakan katering untuk siswa dan daftar menu disediakan di TU dan bisa diambil oleh siswa (khususnya siswa SMP dan SMA) bila berminat sehingga orang tua bisa memantau makanan siswa. Tiap hari menu siswa selalu terdiri atas nasi, lauk, sayur, dan buah. Untuk minuman, Sekolah Athalia menyediakan dispenser air minum dan drinking fountain. Siswa bebas mengambil minum untuk kebutuhannya selama di sekolah.

Siapa pendiri Sekolah Athalia dan siapa sekarang yang menjadi pengelolanya?
Sekolah Athalia didirikan oleh Ibu Charlotte K. Priatna. Saat ini Sekolah Athalia dikelola oleh Yayasan  Pendidikan Kristen Athalia Kilang yang pada periode 2015 – 2020 dipimpin oleh Bapak Hendra Amin.

Be Sociable, Share!
Athalia Magazine