Rescamp 2019: Belajar tentang Pengendalian Diri dan Tanggung Jawab



Oleh: Melvin Johan Laluyan dan Bella Kumalasari

Pada 3–4 Mei 2019 lalu, siswa kelas 6 SD Athalia mengikuti Rescamp (Responsibility Camp). Kali ini, Rescamp diadakan di Camp Hills Eco Stay, Bogor. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Rescamp diadakan di tempat terbuka untuk memberikan kesempatan kepada para siswa untuk berkegiatan di alam terbuka.


Rescamp diadakan di masa akhir siswa belajar di jenjang Sekolah Dasar dengan tujuan siswa dapat mengevaluasi karakter-karakter yang telah mereka pelajari selama 6 tahun terakhir, sekaligus menjadi kesempatan para guru mengapresiasi dan meneguhkan pertumbuhan karakter siswa. Oleh karena itu, camp ini bertemakan “Tanggung Jawab”, yang melingkupi karakter yang dipelajari di tiap level, yaitu tepat waktu, rajin, jujur, tertib, inisiatif, dan pengendalian diri. Karakter pengendalian diri yang baru saja mereka pelajari di kelas 6 menjadi titik berat Rescamp kali ini.


Acara dimulai dengan ice breaking. Kemudian, siswa-siswi memiliki waktu yang menyenangkan bersama kelompok-kelompok lintas kelas dalam permainan pos. Mereka berbagi tugas, bekerja sama, bermain di lapangan maupun di kolam renang. Setelah seru berbasah-basahan, mereka diberi waktu untuk mandi, istirahat, serta menikmati snack sore sebelum berkumpul kembali di aula. Tak hanya keseruan yang didapat, permainan pos pun tak lupa dimaknai. Siswa-siswi diajak untuk bertanya-jawab mengenai karakter-karakter apa yang mereka pelajari dan terapkan dalam permainan-permainan tersebut.


Acara dilanjutkan dengan pembahasan tokoh Yakub. Melalui kisah Esau dan Yakub, siswa-siswi diajak untuk mengenali sisi positif dan negatif Yakub yang kemudian direfleksikan ke dalam diri masing-masing. Melalui sharing yang didampingi oleh bapak dan ibu guru, anak-anak diajak untuk mengenali sisi positif dan negatif mereka, hal-hal apa yang masih sulit dalam pengendalian diri mereka, serta cara mengatasinya.


Diselingi dengan makan malam, siswa-siswi kembali belajar dari Yakub, yaitu transformasi yang dialaminya. Siswa-siswi diajak untuk melihat perubahan Yakub dari yang sebelumnya egois dan manipulatif menjadi orang yang rendah hati dan siap menghadapi segala sesuatu. Tidak hanya satu arah, siswa-siswi diajak untuk melakukan simulasi melalui Unfair Game menggunakan permen dan dadu. Ada ketentuan-ketentuan yang ditetapkan yang membuat mereka mendapat ataupun kehilangan permennya. Melalui situasi yang mungkin tidak menguntungkan atau membuat mereka kesal, siswa-siswi diajar untuk mengenali emosi mereka dan merespons dengan benar. Terlihat kepolosan, kejujuran, maupun kedewasaan anak-anak ini dalam tanya-jawab yang dilakukan serta tantangan yang diberikan. Ada yang merasa kesal karena permennya selalu diambil, tetapi ketika ditantang untuk memberikan semua permen yang ia miliki pada temannya ia rela memberikan. Ada pula yang masih sulit dalam membagi dan menyisakan satu permen untuk dirinya sendiri. Ada siswa yang merasa kesal, namun bukan karena ketidakadilan yang dialaminya sendiri melainkan karena ia merasa temannya tidak adil pada teman yang lain. Ketika ditantang bahwa hal itu tidak memengaruhi/merugikan dirinya, siswa tersebut berkata, “Tapi kan yang hidup di dunia ini bukan aku doang.” Sungguh bersyukur untuk pertumbuhan karakter yang terjadi dalam diri setiap siswa-siswi!


Pada malam hari, pada momen api unggun siswa-siswi dipandu untuk merenungkan kembali kehidupan mereka dan diajak untuk berkomitmen belajar mengendalikan diri.


Keesokan harinya, kegiatan dimulai dengan renungan pagi bersama dan olahraga. Setelah sarapan, anak-anak masuk ke dalam sesi terakhir, yaitu “Scrolling Kehidupan”. Pada sesi ini, anak-anak diingatkan pada tiga hal yang harus dilatih agar dapat berubah/memperbaiki diri, yaitu punya perencanaan, fokus, dan bergerak cepat. Setelah sesi ini selesai, anak-anak diajak untuk menikmati keindahan alam dengan melakukan perjalanan ke Curug Cigamea. Di sana anak-anak menikmati segarnya udara dan air pegunungan.


Melalui Responsibility Camp, siswa-siswi diajak untuk menyadari bahwa semakin mereka besar, semakin banyak juga tanggung jawab mereka terhadap diri sendiri, sesama, dan lingkungan. Kiranya Tuhan yang telah memberikan pertumbuhan karakter dalam diri siswa-siswi akan meneruskannya hingga semakin serupa dengan-Nya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Hubungi kami via WhatsApp