BELAS KASIH

Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik.

Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?

(Mikha 6:8)

 Bersikap adil, mencintai kesetiaan, dan hidup rendah hati di hadapan Allah, merupakan tuntutan Tuhan kepada kita.  Berdasarkan hal ini, mari kita coba bertanya: mengapa kita dituntut hidup berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup rendah hati? Apa yang sedang terjadi sehingga Tuhan menuntut hal tersebut? Dan, mengapa dalam Mikha 6:8 menggunakan kata “tuntut”?

Dalam terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), Mikha 6:8 dituliskan sebagai berikut “…Yang dituntut-Nya dari kita ialah supaya kita berlaku adil, selalu mengamalkan cinta kasih, dan dengan rendah hati hidup bersatu dengan Allah kita.” Jelas sekali, Mikha 6:8 berkata dengan tegas bahwa Tuhan menuntut manusia untuk hidup seperti yang diminta-Nya, yaitu: berlaku adil, mencintai kesetiaan – mengamalkan cinta kasih, dan hidup rendah hati – hidup bersatu dengan Allah.

Kata “menuntut” menggambarkan adanya syarat yang tak tergantikan. Bila tuntutan tidak dipenuhi, maka ada konsekuensi berat yang harus ditanggung. Konsekuensi dari tuntutan yang tidak dipenuhi dalam drama penculikan biasanya diperlihatkan dengan kematian. Alkitab mencatat dalam Kejadian 9:5 bahwa Tuhan begitu serius dengan janji-Nya kepada Nuh. Siapapun yang membunuh Nuh dan keturunannya, akan dituntut balas oleh Tuhan, “Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia.” Kata “tuntutan” menjelaskan adanya situasi yang gawat darurat, yang harus diperhatikan dan diselesaikan sesegera mungkin.

Kembali pada pertanyaan awal, mengapa kita dituntut untuk hidup adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati? Kondisi gawat darurat apakah yang membuat kita harus hidup adil, setia, dan rendah hati? Apakah kita sudah hidup dalam kekurangan: keadilan, kesetiaan dan kerendahan hati? Seberapa gawatnya hidup ini bila tidak ada lagi hati yang mau hidup dalam keadilan, kesetiaan, dan kerendahan hati?

Ketika Nabi Mikha berkata keras “…Yang dituntut-Nya dari kita ialah supaya kita berlaku adil, selalu mengamalkan cinta kasih, dan dengan rendah hati hidup bersatu dengan Allah kita,” sudah bisa dipastikan bahwa sesungguhnya dunia ini sudah miskin hati yang mau hidup dalam keadilan, kesetiaan, dan kerendahan hati. Semuanya akan bermuara pada konsep BELAS KASIH.

Belas kasih adalah gelora (passion) untuk menyatakan kasih kepada sesama. Belas kasih akan membawa kita memandang hormat soal keadilan. Tidak akan ada lagi intimidasi antara yang kuat dengan yang lemah. Dengan belas kasih tidak akan ada lagi ketidaksetiaan. Perceraian adalah suatu hal yang dibenci Allah. Iblis senantiasa berusaha memecahbelah persekutuan orang percaya. Oleh karena itu, ketika kesetiaan sudah tidak ada lagi, itu salah satu pertanda kuasa Iblis menerpa kehidupan Anda. Dengan belas kasih tidak akan ada lagi kesombongan. Kejahatan yang paling jahat dimulai dari sikap sombong. Siapapun yang hidup dalam kerendahan hati, kehidupannya akan selalu dipenuhi oleh penghiburan dari Tuhan (2 Kor.7:6a).

Hidup dengan belas kasih, memampukan kita untuk hidup sesuai dengan tuntutan Allah. Itulah hidup yang baik dan indah! Amin. (BD/ Karakter Kerohanian)

Berkreasi bersama di Smart Club Handicraft

Smart club Handicraft dilaksanakan setiap hari Kamis, pukul 15.30-17.00 bagi murid-murid SMP. Smart club Handicraft ini memang baru saja diadakan pada tahun ajaran 2014/2015, namun ternyata mendapat respon yang cukup baik dari para siswa. 15 orang siswa mendaftarkan diri untuk mengikuti smart club yang terdiri dari siswa-siswa kelas VII dan VIII.

Selama beberapa pertemuan, kelas Handicraft telah mengajarkan keterampilan seperti membuat pola, menjahit, dan sebagainya. Segala keperluan peralatan dan bahan seperti kain flanel, jarum, dan benang telah disediakan dahulu oleh guru pengajar. Hal ini memudahkan para siswa untuk berkarya karena semua bahan telah tersedia. Para siswa juga diperbolehkan untuk memilih pola mana yang sesuai dengan keinginan mereka. Selama beberapa pertemuan terakhir para siswa telah memiliki keterampilan untuk membuat gantungan kunci, boneka magnet, serta hiasan untuk gantungan pintu, dan sebagainya.
hasil handicraft
Pada dasarnya Bu Djuwita selaku guru pengajar memang ingin agar kelas smart club tidak menjadi kelas yang kaku dan membebankan siswa. Oleh karena itu Bu Djuwita berusaha menjadikan kelas Handicraft sebagai kelas yang menyenangkan dimana anak-anak dapat berkreasi. “Saya memang tidak menerapkan peraturan khusus di dalam kelas, yang penting mereka mau mengikuti dan mau mengerjakan dengan sungguh-sungguh,” kata Bu Djuwita.

Selama kelas berlangsung, Bu Djuwita juga mendatangi siswa satu persatu dan membantu para siswa yang kesulitan secara perlahan. Pekerjaan siswa yang sudah selesai akan dikumpulkan untuk dinilai. Setelah dinilai, hasil pekerjaan dapat dibawa pulang dan dipakai sesuai keinginan para siswa. Namun, Bu Djuwita tidak mau terpaku hanya pada hasil, tetapi juga pada proses mereka dalam mengerjakan. Apakah mereka mengerjakannya dengan tekun dan sungguh-sungguh memiliki keinginan untuk belajar.

kelas handicraft
Meski biasa didominasi oleh perempuan, ternyata ada juga siswa laki-laki yang mengikuti kelas Handicraft. Kelas ini sendiri memang terbuka  bagi setiap siswa SMP yang ingin mengikuti. Maka dari itu Bu Djuwita dengan senang hati juga mengajar para siswa laki-laki yang memang memiliki keinginan untuk belajar.

kelas handicraft
Tidak ada diskriminasi dalam kelas yang didominasi oleh perempuan, sebaliknya justru salah satu siswa laki-laki dapat mengajari teman-temannya yang masih kesulitan. Memang tentu ada siswa-siswa yang masih belajar secara perlahan, tetapi Bu Djuwita selalu menghimbau agar semua dapat saling membantu satu sama lain. Hal ini jugalah yang mungkin membuat para siswa rajin untuk datang ke kelas dan tidak melewatkan pertemuan di setiap minggunya. (LDS)

Untuk mengetahui Smart Club apa saja yang ada di Sekolah Athalia, klik di sini

 

Untung dan Rugi

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?”
-Matius 16:26a-

Ingatlah perasaan Anda ketika ada orang memuji Anda, ketika Anda disetujui, diterima, disanjung. Dan bandingkan dengan perasaan yang timbul dalam hati Anda ketika Anda menatap matahari terbenam atau matahari terbit, atau Alam pada umunya, atau ketika Anda membaca sebuah buku atau menonton film yang sepenuhnya Anda nikmati. Kecaplah perasaan itu dan bandingkan dengan yang pertama. Pahami bahwa perasaan yang pertama berasal dari pemujaan diri, promosi diri. Hal itu merupakan perasaan duniawi. Perasaan kedua berasal dari pemenuhan diri, perasaan jiwa.

Berikut satu lagi perbandingan: Ingatlah perasaan Anda ketika Anda sukses, ketika Anda telah berhasil, ketika Anda menjadi nomor satu, ketika Anda memenangkan sebuah permainan atau perdebatan. Dan bandingkan dengan perasaan ketika Anda benar-benar menikmati pekerjaan yang sedang Anda lakukan, yang menyerap semua perhatian Anda, sesuatu yang saat ini sedang Anda lakukan. Dan sekali lagi perhatikan perbedaan kualitas antara perasaan duniawi dan perasaan jiwa.

Ada satu lagi perbandingan: Ingatlah perasaan Anda ketika Anda punya kekuasaan, ketika Anda jadi bos, orang-orang menghormati Anda, menjalankan perintah Anda; atau ketika Anda popular. Dan bandingkan perasaan duniawi itu dengan perasaan akrab, persahabatan, waktu-waktu ketika Anda sepenuhnya menikmati diri Anda ditemani seorang kawan atau sekelompok orang di mana ada hal yang menyenangkan dan tawa.

Setelah Anda melakukannya, cobalah memahami sifat sebenarnya dari perasaan duniawi, yaitu promosi diri dan pemujaan diri. Perasaan itu tidak alami, melainkan diciptakan oleh masyarakat Anda dan budaya Anda untuk membuat Anda produktif serta bisa dikendalikan. Perasaan itu tidak menghasilkan nutrisi dan kebahagiaan yang diperoleh ketika seseorang merenungkan alam atau menikmati hubungan dengan teman atau pekerjaannya. Perasaan itu dimaksudkan untuk menghasilkan getaran, gairah-dan kekosongan.

Lalu, amati diri Anda selama satu hari atau satu minggu dan pikirkan berapa banyak tindakan yang Anda lakukan, berapa banyak kegiatan Anda yang tidak terkontaminasi oleh hasrat akan getaran itu, gairah itu yang hanya menghasilkan kekosongan, hasrat akan perhatian, persetujuan, ketenaran, popularitas, kesuksesan, atau kekuasaan.

Dan lihatlah orang-orang di sekitar Anda. Adakah satu orang saja yang tidak kecanduan perasaan duniawi itu? Satu orang saja yang tidak dikendalikan olehnya, merindukannya, menghabiskan setiap menit baik secara sadar maupun tidak sadar mengejarnya? Ketika melihat hal itu, Anda akan mengerti betapa orang mencoba memperoleh dunia dan, dalam prosesnya, kehilangan jiwa mereka. Karena mereka menjalani kehidupan yang kosong dan tak berjiwa.

Dan inilah sebuah perumpamaan hidup untuk Anda renungkan: Sekelompok wisatawan duduk dalam bus yang melaju di daerah yang berpemandangan indah: danau dan gunung dan padang hijau dan sungai. Namun, mereka menutup tirai jendela bus. Mereka tidak tahu apa yang ada di balik tirai. Dan sepanjang perjalanan, mereka bertengkar tentang siapa yang akan duduk di kursi kehormatan dalam bus, siapa yang akan mendapat pujian, siapa yang akan dihormati, Dan demikianlah kelakuan mereka sampai perjalanan itu berakhir.

Apakah Anda mau menjadi seperti wisatawan-wisatawan itu yang hanya mengejar apa yang tidak kekal? Atau maukah Anda mau berubah menjadi seperti apa yang Allah inginkan bagi kita. Menjadi anak-anak-Nya yang mau mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya.

Sumber:
De Mello, Anthony. 1991. The Way to Love. PT Gramedia: Jakarta. (dengan perubahan seperlunya)

Belajar Bersama di Parenting Class (Kid & Teen)

“Mama, bayi itu asalnya dari mana ya?”

“Papa, tadi temanku bilang dia suka sama aku, aku mesti jawab apa?”

Pernahkah anak Anda mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu dan Anda tidak siap menjawabnya? Pernahkah Anda berharap akan adanya sarana yang dapat membantu dan membimbing Anda sebagai orang tua? Atau akan adanya wadah untuk saling berbagi dengan orang tua lainnya? Bila iya, maka Parenting Class adalah jawabannya. Parenting Class adalah sebuah kelas pembelajaran yang khusus diberikan bagi para orang tua. Terkait hal ini, maka Sekolah Athalia mengadakan Parenting Class untuk membantu para orang tua murid. Salah satunya adalah untuk membantu orang tua paham cara mengasuh dan mendidik anak sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab.

Parenting Class di Sekolah Athalia

Sekolah Athalia adalah sekolah yang berbasis pada karakter Oleh karena itu pengembangan karakter harus dilakukan di dalam keseluruhan hidup anak. Pengembangan karakter anak di sekolah harus didukung juga dengan pengembangan karakter anak di rumah. Namun kita semua sadar bahwa tidak semua orang tua tahu dan mengerti bagaimana cara untuk mendidik dan mengasuh anak dengan tepat. Untuk itulah Sekolah Athalia berinisiatif untuk membantu para orang tua melalui Parenting Class.

Parenting Class juga merupakan sarana untuk memfasilitasi para orang tua murid untuk saling berbagi dan belajar. Berbagi mengenai kehidupan mereka selama menjadi orang tua dan belajar bagaimana untuk menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak mereka. Parenting Class sendiri dibagi menjadi dua. Parenting Class (Kid) diperuntukkan bagi orang tua yang memiliki anak usia 0 hingga kelas 5 SD. Kemudian Parenting Class (Teen) diperuntukkan bagi orang tua yang memiliki anak diatas kelas 5 SD.  Parenting Class (Kid) dan Parenting Class (Teen) saat ini masing-masing diikuti oleh 29 pasang orang tua.

Komitmen Orang Tua untuk Belajar

Setiap orang tua harus berkomitmen untuk menyediakan jangka waktu dua tahun untuk Parenting Class (Kid) dan satu tahun untuk Parenting Class (Teen). Pada setiap Parenting Class, orang tua juga harus memiliki buku yang akan menjadi panduan dalam setiap pertemuannya. Parenting Class (Kid) saat ini memakai buku Let the Children Come Series, Along the Virtuous Way. Sedangkan Parenting Class (Teen) memakai buku Let the Children Come Series, Along the Middle-Years Way.

Parenting Class (Kid) dan (Teen) sejak bulan Oktober 2014 diadakan setiap dua minggu sekali dan difasilitasi oleh Bu Charlotte Priatna sebagai pembicara. Selama Parenting Class, orang tua diminta untuk aktif dalam membahas materi maupun melakukan tanya jawab. Oleh karena itu, para orang tua dibagi dalam kelompok-kelompok sesuai dengan area tempat tinggal mereka. Masing-masing kelompok akan mengadakan pertemuan secara mandiri untuk berdiskusi sebelum pertemuan Parenting Class. Setiap pertemuan, masing-masing kelompok secara bergantian akan mempresentasikan hasil diskusi mereka. Setelah kelompok yang bertugas selesai mempresentasikan hasil diskusi mereka, maka akan diadakan sesi diskusi yang dipandu oleh Ibu Charlotte. Tanya jawab biasanya diisi dengan pembahasan mengenai materi yang tidak dimengerti atau dengan pengalaman serta kesulitan yang dialami oleh orang tua dalam mendidik dan membesarkan anak.

Keluarga yang Berproses

Setiap keluarga pastinya memiliki pengalaman hidup yang berbeda. Ada keluarga yang membagikan pengalaman mereka dalam menumbuhkan kesadaran, tanggung jawab dan kepedulian anak-anak. Ada juga keluarga yang membagikan kesulitan mereka dalam mengkomunikasikan kepada anak mengenai pergumulan mereka. Baik pergumulan dalam menghadapi sakit penyakit atau jatuh bangun dalam ekonomi keluarga.

Proses ini membuat para orang tua bisa saling mendukung, saling mendoakan atau bahkan membantu mencari pemecahannya. Mereka bisa merasakan bahwa mereka tidak sendiri dan menyadari bahwa di dunia ini tidak ada keluarga yang sempurna. Setiap orang mempunyai kelemahan dan kelebihan, termasuk mereka sebagai orang tua. Namun semua kembali lagi pada seberapa besar keinginan para orang tua untuk belajar dan memperbaiki diri. Didukung juga dengan kerinduan mereka untuk memiliki keluarga yang bertumbuh dan berproses di dalam Tuhan. (LDS)

Siapa yang Membunuh Laut Mati?

Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan (Amsal 11:24)

Laut Mati itu mati karena “kekikirannya”. Tahun berganti tahun, laut itu senantiasa menerima aliran air dari Sungai Yordan dan beberapa pegunungan di sekitarnya tetapi tak pernah mengalirkan air keluar. Volume air di laut Mati berkurang karena proses penguapan bukan dengan mengalirkannya ke luar-ke sungai-sungai  atau laut lainnya. Akibatnya, laut Mati menjadi sangat asin karena air yang mengalami proses penguapan meninggalkan zat-zat mineralnya. Laut Mati memiliki kandungan 33,7% garam (8,6 kali lebih banyak dari kandungan garam di laut biasa). Derajat keasinan yang sangat tinggi ini menyebabkan laut Mati tidak dapat berfungsi sebagai laut yang merupakan tempat hidup ikan-ikan dan hewan laut lainnya. Ikan-ikan dan hewan laut lainnya tidak dapat hidup di dalam laut Mati karena terlalu asin.

Ada yang masuk, tetapi tidak pernah dialirkan keluar. Ini sama dengan orang yang selalu menerima makanan rohani dan berkat dari Tuhan tetapi tak pernah mau membagikannya kepada orang lain. Pada akhirnya, kehidupan rohaninya akan mati.

Seorang siswa menemui seorang dosennya dan mengeluh bahwa ia tidak mencapai kemajuan dalam pelajarannya. Lalu, ia bertanya apakah ia memang memerlukan seorang guru privat.

“Seorang guru privat?” kata profesor yang bijak itu. “Yang kamu butuhkan adalah seorang murid!”

Seorang pria berkata kepada saya, “Saya tidak belajar banyak dari Alkitab sampai saya mulai mengajar Sekolah Minggu. Sejak itu saya mulai membagikan Firman, dan bukan hanya menerima.” Cara yang paling baik untuk belajar adalah dengan mengajar orang lain. Berapa banyak yang Anda berikan setelah Anda menerima?

Murah Hati

Konsep murah hati bukan berbicara soal kebaikan memberi pada saat kelimpahan. Konsep murah hati di Perjanjian Lama mengajarkan bahwa murah hati berarti tidak menggenggam kuat-kuat harta kita. Kita harus terbuka pada orang yang membutuhkan, bahkan memberikan bantuan sesuai dengan yang diperlukan (Ulangan 15:8). Kitab Ulangan 15 juga mengingatkan bahwa ketika memberi hati kita tidak boleh berdukacita (Ulangan 15:10). Murah hati berarti memberi dengan hati yang tulus. Pada akhirnya di Ulangan 15 mengingatkan bahwa ketika kita sudah mampu memberi, itu berati kita harus mengingat bahwa dahulu kita juga bagian dari kaum yang pernah diberi / ditolong (Ulangan 15:15).

Alkitab juga mengajarkan bahwa konsep memberi jangan dibatasi oleh waktu (occasional). Amsal 21:26 memberitahu bahwa: kalau saja nafsu selalu mengikat manusia sepanjang waktu, dengan demikian hakekatnya keinginan untuk memberi tidak boleh terbatas oleh waktu.

Murah hati adalah adalah ekspresi kasih untuk memberi, yang dilakukan dengan sikap sukacita dan dengan kerelaan (2Korintus 9:7, 11). Memberi dengan sikap murah hati akan memberikan kepuasan yang sesungguhnya karena itulah yang diminta oleh Tuhan.

Sumber: http://alkitab.sabda.orghttp://www.asal-usul.com

-BD/Tim Karakter-