Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

Erika Kristianingrum, Orang Tua Siswa.

Bulan November 2021 lalu saya mengikuti program CARE (Connect – Accept – Restore – Equipt). Program ini digagas oleh Bu Charlotte untuk membantu peserta menemukan jati diri dan menyembuhkan luka-luka yang sedang dirasakan. Diharapkan, setelah mengikuti program ini, peserta mampu menolong orang lain.

Untuk sementara, program ini karena berupa pilot project sehingga pesertanya ditujukan hanya untuk CPR dan CC Sekolah Athalia. Pada pertemuan ketiga, yang membahas tentang value, belief, dan attitude, materi yang disampaikan sangat menohok saya. Waktu tiap peserta diminta untuk memikirkan value, belief, dan attitude, saya bisa dengan mantab dan yakin bahwa value saya adalah keluarga. Buat saya, itu hal yang paling penting bagi saya saat ini. Belief yang saya yakini, keluarga adalah tempat kita pulang, tempat ternyaman, tempat di mana susah dan sedih dilalui bersama; tempat di mana saya tidak perlu memakai topeng untuk menjadi orang lain. Saya bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu memikirkan penilaian orang. Salah satu contoh attitude yang mendukung kedua hal tersebut, yaitu saya tidak akan pernah pergi berlibur sendiri dengan teman-teman. Menurut saya, liburan adalah momen menyenangkan yang seharusnya saya habisnya bersama keluarga.

Namun, malam hari setelah pertemuan itu, pikiran saya terusik. Saya memikirkan value yang saya yakini, yang tertentu tentu saja berpengaruh terhadap belief dan attitude. Saya teringat pesan fasilitator untuk terus menggali hal ini agar semakin mengenal diri.

Saya merenungkan banyak hal, terutama dalam hal mendidik dan membesarkan anak-anak. Saya mengajarkan anak-anak untuk memiliki hati yang mau melayani orang lain. Saya juga berpesan kepada mereka untuk senantiasa menjadi berkat buat orang lain, memiliki sopan santun, dan bergaul dengan baik. Saya juga selalu menemani mereka saat belajar.

Begitu juga terhadap suami. Saya selalu menyiapkan segala keperluannya, mengantarnya sampe ke pintu pagar saat dia akan berangkat kerja, dan mengingatkannya untuk makan saat sedang di kantor.

Saya melakukan semua itu dengan pemikiran bahwa merekalah yang terpenting buat saya. Namun, malam itu saya merenung lebih dalam lagi sampai pada satu titik Tuhan menyingkapkan semuanya. Saya sadar bahwa selama ini saya melakukan semuanya bukan karena keluarga begitu penting, tetapi untuk diri sendiri.

Selama ini, saya mengajarkan anak-anak tentang cara bergaul dengan orang lain agar saya dilihat sebagai ibu yang berhasil mendidik anak dengan benar, sesuai ajaran Tuhan. Saya juga punya motif agar anak-anak tidak kepahitan kepada saya dan membenci saya di kemudian hari. Begitu juga saat memperlakukan suami. Saya ingin terlihat sebagai istri yang baik dan berbakti di mata suami dan orang lain. Ternyata, value saya adalah REPUTASI.

Ya… malam itu Tuhan menyingkapkan semuanya. Tak sadar, air mata saya menetes. Saya sadar bahwa menanggapi panggilan menjadi seorang ibu tidak mudah. Jika anak-anak bersikap tidak baik, orang akan bertanya, “Siapa ibunya?”. Jika terjadi sesuatu terhadap suami, orang akan berpendapat istrinya pasti kurang melayani suaminya dengan baik. Tidak ada penghargaan khusus atau promosi jabatan untuk seorang ibu terutama ibu rumah tangga seperti yang didapat wanita yang mendapatkan promosi jabatan di sebuah perusahaan.

Seorang ibu tidak akan pernah mendapat penghargaan sebagai ibu terbaik dari orang lain selain dari keluarganya sendiri. Setidaknya, hal-hal itulah yang saya percaya selama ini. Oleh karena itu, saya menganggap keluarga begitu penting karena dari keluargalah saya bisa mendapatkan reputasi yang baik. Hal inilah yang ingin saya capai: orang lain harus menilai saya baik.

Namun, akhirnya saya sadar bahwa semua itu pemikiran yang salah. Saya mulai belajar mengubah semua motivasi dalam menanggapi panggilan sebagai ibu rumah tangga dan istri. Saya seharusnya meresponsnya sebagai wujud syukur karena Tuhan sudah begitu besar mengasihi dan memberikan anugrah yang besar kepada saya: seorang suami yang baik dan anak-anak yang manis. Sudah sewajarnya saya melayani mereka sesuai dengan yang Tuhan mau, bukan sebagai alat agar orang melihat dan menilai saya sebagai ibu dan istri yang baik.

Saat ini, saya masih terus belajar memiliki motivasi yang benar, yaitu sebagai ucapan syukur kepada Tuhan agar hanya nama Tuhan yang dipermuliakan. Saya ingin Tuhan berkenan atas saya karena telah mendengar panggilan sebagai ibu rumah tangga sesuai dengan yang Dia kehendaki sehingga hanya nama-Nya yang dipermuliakan.

By NO Comment 24th January 2022
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

*

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
WhatsApp chat