Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

Oleh: Ni Putu Dewi, staf Pengembangan Karakter Sekolah Athalia.

Metamorphosis Camp (MetCamp) merupakan kegiatan tahunan SMP Athalia yang ditujukan bagi para siswa kelas 7. Kegiatan ini bertujuan sebagai jembatan pembelajaran karakter bagi siswa yang baru lulus dari jenjang SD dan masuk ke SMP. Pada tahun pelajaran ini, profil karakter siswa SD Athalia adalah Tanggung Jawab, sedangkan profil karakter siswa SMP adalah Caring & Sharing. Sesuai dengan namanya, “metamorphosis” berarti perubahan. Kami berharap, para siswa semakin menyadari bahwa mereka akan mengalami beberapa perubahan di usia remaja—tidak hanya secara fisik, tetapi juga dalam hal tanggung jawab. Kini, tanggung jawabnya bukan hanya memikirkan kebutuhan diri sendiri, melainkan juga kebutuhan orang lain, yang merupakan wujud nyata dari caring & sharing.

Para siswa SMP Athalia tahun ini termasuk dalam Gen Z sehingga kehidupan mereka sangat dekat dengan gadget dan media sosial. Kondisi pandemi Covid-19 juga membuat keseharian mereka terus terkoneksi dengan internet. Hal inilah yang mendasari bahasan salah satu sesi berjudul “Tanggung Jawab Remaja dalam Penggunaan Media Sosial dan Internet”. Sesi ini dibawakan oleh Pak Christian Naa dengan sangat interaktif dan dibuka dengan pertanyaan, “Apa kata firman Tuhan mengenai media sosial dan teknologi? Apakah ada hukum Taurat yang secara rinci mengatakan tentang penggunaan handphone dan Instagram?” Jawabannya: tidak ada! Namun, bukan berarti Alkitab tidak memberikan prinsip tentang cara hidup yang benar di zaman ini. Di dalam 1 Korintus 10: 23-24 & 31, Paulus memaparkan secara jelas tentang prinsip hidup yang tidak akan tergerus oleh zaman.

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. Jangan seorang pun yang mencari keuntungan sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain. … Aku menjawab: jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.

Artinya, kita sebagai orang yang telah ditebus oleh Kristus di atas kayu salib diperbolehkan melakukan “segala sesuatu”. Namun, sebelum memutuskan melakukan “sesuatu”, ada empat hal yang perlu kita pikirkan.

  1.  Apakah “sesuatu” itu berguna?
  2. Apakah “sesuatu” itu membangun orang lain?
  3. Apakah “sesuatu” itu untuk keuntungan/kepentingan orang lain, bukan hanya tentang diri saya?
  4. Apakah “sesuatu” itu untuk kemuliaan nama Tuhan?

Empat poin tersebut akan menjadi motif/dasar/alasan atas segala hal yang kita lakukan, termasuk konten di akun media sosial. Untuk mempermudah para siswa memahami sesi ini, Pak Christian Naa memberikan sebuah ilustrasi. Misalnya, saat kita liburan ke Swiss dan melihat gunung yang besar di sana. Kita memfoto dan mengunggahnya di Instagram dengan captionHow Great Thou Art”. Di sini, kita dapat memilih motif: ingin menyombongkan diri bahwa saya sedang pergi ke Swiss atau menunjukkan kepada orang lain betapa hebatnya Allah yang menciptakan gunung ini.

Tidak hanya soal motif, media sosial juga memberi banyak pengaruh lain dalam kehidupan. Contohnya, beberapa orang yang terlalu fokus di media sosial jadi tidak memperhatikan relasi dengan orang lain di dunia nyata, keinginan untuk menunjukkan hanya sisi baik dan keren di media sosial, menyebarkan berita bohong, bahkan menjadi pelaku cyber bullying. Pertanyaannya, bagaimana cara agar kita bijak dalam menggunakan media sosial? Berikut adalah beberapa tips dari sesi ini.

  1. Bagikan hal baik yang kita lihat dan dengar.
  2. Jangan memberikan Like atau Comment pada toxic content karena cara kerja fasilitas search di media sosial (contohnya Instagram) tergantung pada konten-konten yang sering kita lihat atau cari. Instagram tetaplah aplikasi yang tidak bisa membedakan antara baik dan buruk, sehingga frekuensi kemunculan konten-konten tertentu tergantung pada postingan yang sering kita beri perhatian melalui like dan comment.
  3. Mencari tahu kebenaran suatu informasi dari beberapa sumber terpercaya sebelum membagikannya di media sosial.
  4. Berhati-hatilah dalam melakukan obrolan melalui Direct Message dengan orang yang tidak dikenal.

Sesi ini juga menekankan bahwa apa yang kita bagikan di media sosial menunjukkan siapa diri kita, sehingga perlu berhikmat dalam mengunggah sesuatu di media sosial. Sebelum mengakhiri sesi ini, Pak Christian Naa juga mengajak para siswa kelas 7 untuk melakukan social media check up dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut secara pribadi.

  1. Apa yang ingin saya tunjukkan melalui media sosial?
  2. Apakah saya menampilkan sosok pribadi yang sama, baik di media sosial maupun dunia nyata?
  3. Siapa saja yang saya follow sehingga memengaruhi cara pikir dan perilaku saya?

Kami berharap sesi ini membantu para siswa kelas 7 SMP Athalia semakin bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial!

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

*

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
WhatsApp chat