Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

Oleh: Lili Irene, M.Th – Staf Kerohanian Sekolah Athalia

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia
Dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih
Aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing
(1 Korintus 13:1)


Berapa bahasa yang kita kuasai? Mungkin ada yang menguasai satu bahasa, dua bahasa bahkan ada yang lebih. Bella Devyatkina seorang anak usia empat tahun memukai penonton televisi di negerinya, Rusia karena berhasil menguasai enam bahasa asing sekaligus. Tentu suatu kebanggaan jika kita bisa menguasai berbagai bahasa yang ada di dunia. Lewat penguasaan berbagai bahasa, selain terlihat keren juga bisa memudahkan kita dalam pergaulan dan berelasi dengan setiap orang.

Ayat 1 Korintus 13: 1 menyentak kita dengan mengatakan sekalipun kita bisa berkata-kata atau menguasai semua bahasa bahkan bahasa malaikat sekalipun namun jika kita tidak mempunyai kasih maka itu sia-sia saja. Andai kata kulakukan yang luhur mulia, jika tanpa kasih cinta hampa tak berguna,
ajarilah kami bahasa kasih-Mu agar kami dekat pada-Mu ya Tuhanku, ini adalah kutipan sebuah lagu yang sekaligus doa agar kita diajari bahasa kasihnya Tuhan. Ayat sekaligus nyanyian ini mengingatkan kita memang penting menguasai semua bahasa namun yang paling penting bagi kita orang percaya adalah kita bisa menguasai bahasa kasih atau bahasa cintanya Tuhan.

Mungkin ada di antara kita yang begitu mudah mengucapkan katakata yang kasar dan makian ketika kita marah. Mungkin ada di antara kita yang mempunyai kesulitan untuk bisa mengendalikan kata-kata. Bahkan Bahasa Kasihnya Tuhan ketika kita berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengatur bahasa yang kita
gunakan ada kalanya kita terpeleset, bukan? Bahasa yang kita gunakan sangat mungkin bisa menyakiti orang lain jika kita tidak berhati-hati. Mungkin kita pernah mendengar ada anak-anak atau orang-orang yang sakit hati atau memendam luka dengan kata-kata yang kasar, cenderung mengkritik atau membanding-bandingkan mereka dengan saudaranya,/temannya dan tidak membangun. Semua itu menghancurkan harga diri mereka. Anak-anak yang sejak kecil mendengar kata-kata kasar dari orang di sekitar mereka seperti orang tua, guru ataupun teman-temannya akan hidup dalam kepahitan. Kisah seorang anak yang tidak pernah dipuji untuk apapun yang ia kerjakan malah dihina dan diejek akhirnya putus asa dan memilih jalan pintas. Sungguh sebuah ironi, bukan?


Gary Chapman dalam bukunya, mengatakan ada 5 cara untuk mengekspresikan bahasa kasih yaitu:

  • Pujian (Words Of Affirmation)
  • Waktu bersama (Quality Time)
  • Tindakan Pelayanan (Art of Service)
  • Menerima Hadiah (Receiving Gift)
  • Sentuhan Fisik (Physical Touch)

Kelima bahasa kasih yang diungkapkan Gary adalah hal-hal yang juga anak-anak kita butuhkan dalam kehidupan mereka. Mereka membutuhkan pujian, pemberian penghargaan, waktu yang kita berikan,
sentuhan kehangatan dan tindakan nyata kita kepada mereka.

Namun hal penting yang tidak boleh kita lupakan dari hal yang diungkapkan oleh Gary adalah sebagai orang tua dan para pendidik mari kita berdoa agar kita diajar bahasa kasih-Nya Tuhan sehingga dengan bahasa itu kita dapat berkata-kata yang membangun dan menguatkan anak-anak dan orang-orang di sekitar kita. Bahasa kasihnya Tuhan yang telah nyata diberikan kepada kita orang berdosa yaitu Ia rela mati di atas kayu salib, dihina dan dicemooh namun tidak membalas semua itu. Ia memberikan bahasa kasih kepada kita lewat pengorbanan-Nya di kayu salib. Bahasa kasih yang lemah lembut menerima kita orang berdosa, berkorban, mengampuni dan menyelamatkan kita. Oleh karena itu biarlah kita juga bisa memberikan bahasa kasihnya Tuhan lewat tutur kata yang lembut, membangun dan menguatkan bagi anak-anak kita dan orang-orang di sekitar kita. Kiranya Tuhan memampukan kita semua.

By NO Comment , 6th October 2022
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

*

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
This is the sidebar content, HTML is allowed.
WhatsApp chat