Telp. +62-021-5383866, +62-021-5377891 Email: admin@sekolahathalia.sch.id

Oleh: Antonius Hermawan – Orang tua siswa kelas 4M

Kondisi ekonomi di tahun 2023 diprediksi oleh banyak ekonom akan semakin berat. Selain itu kondisi pandemi dua tahun terakhir seakan tidak berakhir. Bahkan varian covid baru terus ditemukan sehingga seakan akhir dari pandemi tidak dapat diprediksi dengan pasti. Di sisi lain, kita melihat perang Ukraina dan Rusia yang seakan menambah berat beban ekonomi dunia. Beginilah kondisi dunia yang ada dengan segudang masalahnya.

Mengetahui hal di atas tidak membuat hidup kita jauh lebih mudah, sebaliknya pengetahuan di atas justru menambah beban hidup kita dengan realita yang tidak mudah pula. Mulai dari pemikiran mau makan apa hari ini, konflik dengan teman sekantor atau teman usaha, konflik dengan pasangan, hingga masalah anak-anak. Maka tidak heran, banyak orang mulai bertanya-tanya, “Bagaimana kita dapat tetap bersukacita di tengah kondisi ini?”

Apa kata Alkitab tentang sukacita? Dalam Filipi 4:4-7, Rasul Paulus menasihatkan untuk bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan, bahkan dikatakan untuk kedua kalinya untuk bersukacita. Bahkan di ayat selanjutnya, ia mengatakan agar kebaikan kita diketahui semua orang.

Bagaimana kita dapat senantiasa bersukacita bahkan menyatakan kebaikan kita kepada semua orang? Kuncinya ada pengharapan di ayat 6, karena di situ kita dalam segala situasi dapat menyatakan permintaan kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur dan damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus. (Ayat 7)

Jadi di tengah segala keadaan yang tidak menentu dan seakan tidak berpengharapan, kita bisa mengucap syukur karena kita dapat berdoa kepada Allah yang bisa memberi kita kemampuan untuk menghadapi semuanya dalam damai sejahteranya yang memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus.

Pemeliharaan dalam Kristus menjadi sesuatu yang pasti bagi kita karena Ia bukan Allah yang tidak pernah mengalami pencobaan sebagai manusia, melainkan Ia sendiri telah turun sebagai manusia dan taat sampai mati. Artinya Ia mengerti segala pergumulan kita.

Jadi sukacita yang dituliskan di sini bukan sukacita sebagai motivasi atau pikiran positif yang kita usahakan, tapi semata-mata karena anugerah Allah yang telah Kristus kerjakan di dalam kita, sehingga kita dapat berdoa dalam situasi apapun dalam pemeliharaan damai sejahtera-Nya.

Itulah sukacita yang sejati, bukan sukacita yang didasarkan oleh kondisi sekitar kita, tapi sukacita karena pengharapan di dalam Dia, bahwa kita ini milik-Nya, dan kita selalu dapat berdoa kepada-Nya.

By NO Comment 9th December 2022
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

*

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
This is the sidebar content, HTML is allowed.
WhatsApp chat