Review Film Like Arrows: Pelajaran Kerendahan Hati dalam Mendidik Anak Menurut Alkitab

film like arrows
Gambar: https://usa.newonnetflix.info/

Film Like Arrows merupakan film Kristen yang mengangkat tema parenting berbasis nilai Alkitab, khususnya tentang kerendahan hati orang tua dalam mendidik anak. Film ini menyajikan refleksi mendalam mengenai perjalanan panjang menjadi orang tua dan bagaimana iman memainkan peran penting dalam membentuk keluarga.

Informasi Singkat Film Like Arrows

Sekilas Tentang Film Like Arrows

Like Arrows adalah film keluarga Kristen yang berfokus pada kehidupan rumah tangga dan dinamika pengasuhan anak. Film ini ditulis oleh Alex Kendrick, sosok yang dikenal luas melalui karya-karya film Kristen populer seperti Facing the Giants, Fireproof, Courageous, War Room, dan Overcomer.

Keterlibatan Kendrick menjadi nilai tambah tersendiri, mengingat sebelumnya ia juga mengangkat tema fatherhood dalam film Courageous. Hal ini menjadikan Like Arrows relevan dan kuat secara pesan, khususnya bagi keluarga Kristen.

Parenting Is a Journey: Menjadi Orang Tua adalah Sebuah Proses

Parenting is a journey” menjadi tagline utama film ini. Kisah dimulai dari Charlie dan Alice, sepasang muda-mudi berusia 20-an yang memutuskan menikah, hingga perjalanan mereka di usia senja sebagai orang tua dan kakek-nenek.

Film ini menggambarkan bahwa menjadi orang tua bukanlah perjalanan yang selalu mulus. Berbagai tantangan muncul di setiap fase kehidupan, mulai dari:

  • Tahun ke-5 pernikahan, saat Alice harus mengasuh dua anak sambil bergumul dengan trauma masa lalu
  • Tahun ke-15 hingga ke-22, saat anak-anak menghadapi krisis iman dan pergaulan
  • Hingga akhirnya di tahun ke-49, ketika anak-anak mereka menyadari dan bersyukur atas warisan iman yang ditinggalkan orang tua mereka

Masalah-masalah tersebut terasa sangat dekat dengan realitas kehidupan keluarga masa kini.

Makna Mazmur 127:4 dalam Film Like Arrows

Judul film ini diambil dari Mazmur 127:4:

“Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.”

Ayat ini menjadi fondasi utama film, menggambarkan bahwa anak adalah titipan Tuhan, sementara orang tua adalah “pahlawan” yang bertugas mengarahkan mereka ke sasaran yang benar sesuai kehendak Allah.

Parenting Berdasarkan Prinsip Alkitab

Film ini menekankan bahwa tugas orang tua bukan membentuk anak sesuai ambisi pribadi, melainkan menolong anak menemukan tujuan hidup yang Tuhan tetapkan. Hal ini baru disadari Charlie dan Alice setelah anak pertama mereka kehilangan iman dan menjadi ateis, sementara anak kedua hampir terjerumus dalam pergaulan yang salah.

Kesadaran ini membawa mereka pada titik balik: mencari pertolongan Tuhan dan belajar kembali melalui kelas parenting di gereja, berlandaskan firman Tuhan dalam Mazmur 127:4.

Nilai Kerendahan Hati yang Dapat Dipelajari

Salah satu karakter utama yang sangat kuat dalam film ini adalah kerendahan hati (humility). Charlie dan Alice menyadari keterbatasan mereka sebagai orang tua dan memilih untuk bersandar sepenuhnya kepada Tuhan.

Kerendahan hati menurut Alkitab tercermin dalam:

  • Mau terus belajar (Mazmur 25:9)
  • Mau mendengarkan nasihat (Amsal 23:9)
  • Memercayai kehendak Allah (Mazmur 131:1–3)
  • Menyadari campur tangan Tuhan (Lukas 18:9–14)
  • Bersabar (1 Petrus 5:6)

Kelima sikap ini terlihat jelas dalam perubahan sikap Charlie dan Alice, termasuk keberanian mereka untuk mendengarkan anak, menerima kritik, dan meminta maaf.

Memercayai Kehendak dan Rencana Allah dalam Keluarga

Kerendahan hati tidak terlepas dari pengenalan akan Tuhan. Keputusan keluarga ini untuk membaca Alkitab dan berdoa bersama menjadi langkah penting dalam membangun iman keluarga.

Yesus berkata:

“Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.” (Matius 11:29)

Meski anak pertama mereka baru kembali kepada Tuhan setelah 30 tahun, Charlie dan Alice tetap setia menunggu, berdoa, dan mempercayai rencana Tuhan. Mereka bahkan mencatat setiap jawaban doa sebagai pengingat nyata akan penyertaan Tuhan.

Kesimpulan: Film Parenting Kristen yang Layak Ditonton

Film Like Arrows sangat direkomendasikan bagi orang tua dari berbagai usia, calon orang tua, maupun pelayan keluarga di gereja. Film ini menjadi pengingat bahwa mendidik anak membutuhkan kerendahan hati, ketekunan, dan ketergantungan penuh kepada Tuhan.

Melalui film ini, kita diajak untuk kembali menyadari bahwa orang tua bukanlah sosok yang serba tahu, melainkan hamba Tuhan yang terus belajar dalam menjalani panggilan sebagai pendidik anak.

Langit Biru

Langit Biru adalah film musikal hasil produksi Blue Caterpilar Films (BCF). Film ini bercerita tentang tiga orang sahabat yang duduk di bangku SMP, bernama Biru, Amanda, dan Tomtim.

Biru adalah anak perempuan yang tinggal dengan ayahnya sedangkan ibunya sudah meninggal. Ayahnya bekerja sebagai pilot. Kesibukan ayahnya sebagai seorang pilot membuat Biru harus menjalani masa remajanya dengan hanya sedikit perhatian dari orang tua. Biru adalah anak yang mandiri, namun memiliki kesulitan dalam mengendalikan emosinya. Hal ini membuatnya sering kali terlibat perkelahian dengan Bruno, anak laki-laki di kelasnya yang suka iseng dan mem-bully teman-teman yang lebih lemah.

Amanda adalah anak perempuan yang lemah lembut dan penolong. Ia memiliki seorang adik bernama Brandon yang jago nge-dance­. Rumah Amanda adalah tempat dia dan dua sahabatnya menghabiskan waktu bersama, terlebih karena Ibu Amanda sangat jago membuat kue.

Tomtim adalah satu-satunya anak lelaki di antara mereka. Namun, meskipun dia adalah anak laki-laki, ia memiliki sifat penakut, bahkan lebih penakut dibandingkan dengan Biru dan Amanda. Karena sifatnya yang penakut inilah ia seringkali menjadi sasaran keisengan Bruno. Ia kerap di-bully oleh Bruno tanpa dapat menghindar atau mempertahankan diri, akhirnya Biru dan Amanda mengambil peran sebagai pelindungnya.

Bruno sendiri adalah anak yang suka mem-bully­ dan melawan guru di sekolah. Ia awalnya berasal dari keluarga yang sangat kaya, namun kematian ayahnya membuat ia harus membantu ibunya bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bruno adalah salah seorang mentor di tempat Brandon adik Amanda berlatih dance.

Berbagai tindakan bully yang dilakukan Bruno kepada Tomtim membuat Biru dan Amanda menjadi sangat marah. Namun mereka melihat ada hal yang aneh pada diri Bruno. Sifat Bruno yang suka iseng dan mem-bully teman-teman di sekolah sangat berbeda dengan sifatnya di tempat latihan dance. Di tempat latihan dance, Bruno dikenal sebagai orang yang sangat menyenangkan, baik hati dan sabar. Hal ini membuat mereka bertanya-tanya.

Pada suatu hari, Ibu Guru memberikan mereka sebuah tugas untuk membuat presentasi dalam bentuk video dan siswa bebas memilih tema. Biru, Amanda dan Tomtim menjadi teman satu kelompok. Biru mengusulkan agar mereka membuat sebuah video yang mengungkapkan mengenai perbuatan-perbuatan jahil dan tindakan bully yang dilakukan oleh Bruno. Kelompok sepakat dan mulailah mereka melakukan pengintaian terhadap Bruno dan merekam seluruh gerak-geriknya, baik di sekolah maupun di tempat latihan dance.

Pada saat mereka melakukan pengintaian ke rumah Bruno, mereka mengetahui dari satpam yang sedang jaga bahwa rumah itu sudah dijual dan kini keluarga Bruno sudah pindah ke tempat lain. Suatu hari Biru melihat Bruno sedang mengantarkan pesanan ke sebuah toko yang ada di mall. Pada saat Bruno hendak pulang, Biru mengikuti Bruno dan melihatnya berhenti dan masuk ke sebuah rumah yang sederhana. Rumah yang sangat jauh berbeda dengan rumahnya yang sebelumnya.

Biru, Amanda dan Tomtim memutuskan untuk mendatangi rumah Bruno pada saat Bruno tidak ada di rumah. Mereka disambut dengan hangat oleh Ibu Bruno. Pada saat mereka masuk, mereka diperkenalkan dengan adik perempuan Bruno yang ternyata menderita Down Syndrom. Selama ngobrol dengan ibu Bruno, Biru berusaha merekam beberapa perkataan Ibu Bruno dan adiknya. Bruno marah besar pada saat ia tahu bahwa Biru, Amanda dan Tomtim datang ke rumahnya. Hal ini karena selama ini Bruno selalu berusaha untuk merahasiakan keadaan keluarganya dari siapapun, termasuk teman-temannya.

Hari presentasi proyek kelompok pun tiba. Ibu guru sengaja mengundang para orang tua untuk datang melihat hasil presentasi anak-anak mereka. Pada saat ibu guru meminta kelompok Biru, Amanda dan Tomtim maju kedepan, mereka pun mempresentasikan sebuah video yang berjudul “Bruno”.  Melihat judul presentasi tersebut, Bruno sangat kesal, terlebih pada saat itu ada Ibunya yang menonton.

Video presentasi diawali dengan berbagai tindakan bully yang dilakukan oleh Bruno. Hal ini membuat Ibu Bruno sangat kaget. Ia tidak menyangka anaknya dapat melakukan semua hal itu di sekolah. Di rumah, Bruno selalu menjadi anak yang baik, senang membantu, penyayang dan selalu menjaga serta merawat adiknya yang menderita Down Syndrom.

Adegan berikutnya dalam video menunjukkan sisi lain dari Bruno yang merupakan anak yang baik, rajin, sabar, dan penyayang. Pada saat video menampilkan bagaimana Bruno berperan sebagai seorang kakak yang selalu menjaga adiknya yang menderita Down Syndrom, Bruno merasa malu, marah dan segera berlari keluar ruangan. Biru, Amanda dan Tomtim kaget melihat hal tersebut, namun mereka tetap melanjutkan presentasi. Di akhir dari presentasi, mereka memberi pesan agar tidak menilai orang lain dari luarnya, dan kita harus berusaha untuk lebih mengenal lagi teman-teman kita, baik teman yang baik maupun teman yang suka mem-bully . Pesan lain yang mereka sampaikan adalah jika kamu menjadi korban bully jangan diam, katakan tidak pada bully. Jadilah kawan, bukan lawan.

Selesai presentasi, ayah Biru menyarankan agar Biru dan teman-temannya meminta maaf kepada Bruno. Ayah Biru berkata bahwa presentasi mereka pasti membuat Bruno merasa tidak nyaman karena kisah hidupnya diketahui oleh banyak orang. Dan benar saja, akibat presentasi itu Bruno tidak masuk sekolah selama beberapa hari.

Pada suatu hari Ibu Bruno datang ke sekolah dan pada kesempatan itu Biru dan Tomtim meminta Ibu Bruno untuk memberikan surat dan video ungkapan maaf mereka pada Bruno. Pada saat Bruno, ibu serta adiknya menonton video tersebut, Bruno mengakui bahwa ia menjadi seorang yang suka mem-bully karena ia takut teman-temannya akan memandang rendah padanya karena ia sudah tidak memiliki ayah. Ibunya menyemangatinya agar ia berdoa dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Setelah pembicaraan dengan ibunya, Bruno akhirnya memutuskan untuk berkunjung ke rumah Tomtim untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang telah ia lakukan pada Tomtim. Tomtim menyambut hangat ungkapan maaf dari Bruno dengan membagi kue kesukaannya pada Bruno. Bruno dan Tomtim akhirnya pergi bersama ke acara Natal kelas mereka. Tempat mereka bertemu dengan Biru, Amanda dan teman-teman lainnya untuk akhirnya saling memaafkan satu sama lain dan menjadi teman.

Film yang bagus bagi kita yang bekerja di institusi pendidikan yang sangat rentan dengan praktek bully. Film ini juga bagus ditonton bersama anak dan keluarga agar mereka memiliki pemahaman tentang bully dan tahu bagaimana harus berespon terhadapnya. Bagaimana, ada yang tertarik untuk menonton film ini? Film ini dapat dibeli di toko-toko buku Kristen atau di toko-toko yang menjual CD/DVD. Teman-teman juga dapat meminjam film ini di perpustakaan SMP sekolah Athalia.

IB/Tim Karakter

Courageous -Honor Begins at Home-

Courageous adalah film keempat yang diproduksi oleh Sherwood Pictures setelah Flywheel, Facing the Giant dan Fireproof. Film ini adalah hasil karya Kendrick bersaudara, Alex dan Stephen.

Stephen yang menjadi penulis naskah dan produser yang juga sudah menyutradari beberapa film menyaksikan banyak berkat yang mereka lihat pada film sebelumnya yaitu Fireproof. Dia menceritakan kisah seorang wanita yang sudah meninggalkan pernikahannya selama 27 tahun dan akhirnya setelah menonton film Fireproof ia berusaha mencari jejak suaminya dan akhirnya bisa bersatu kembali dengan keluarganya.

Stephen mengatakan, gerejanya berdoa untuk film berikutnya setelah Fireproof. Kendrick bersaudara berdoa meminta Tuhan menyatakan cerita untuk mereka. Pada saat itulah Tuhan terus mengingatkan mereka tentang runtuhnya keayahan. Ketidakhadiran para ayah dalam keluarga di Amerika persentasenya cukup besar. Dalam keluarga Afrika Amerika, hampir tiga-perempat dari para ayah hilang. Ketika Tuhan menunjukkan pada mereka, mereka menuliskannya dalam catatan dan berdoa agar bisa menyusunnya dengan benar. Mereka terus berdoa agar mereka bisa membuat film ini dengan baik.

Kalau film Fireproof bertemakan pernikahan, Courageous bertemakan keayahan. Film ini melibatkan banyak sukarelawan dari Gereja Sherwood tempat Kendrick bersaudara melayani. Film ini lahir dari pergumulan doa mereka.

Sumber: http://visi-bookstore.com

Penasaran dengan ceritanya? Mari kita baca ringkasan film dibawah ini.

“Kajian dilakukan pada peningkatan aktivitas kekerasan geng, dalam hampir semua kasus. Semua anggota geng; pelarian, anak yang OD, pemakai obat-obatan, dan remaja di penjara memiliki persamaan ciri. Ciri itu adalah, kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga tanpa ayah. Dengan kata lain, jika tidak ada ayah kemungkinannya 5 kali lebih besar anak-anak akan bunuh diri atau memakai obat-obatan dan kemungkinan untuk berakhir di penjara 20 kali lebih besar. Aku tahu kelompok kalian telah bekerja keras dan aku tahu kalian melihat sisi terburuk orang-orang. Tapi pada saat waktu kerja selesai, pulanglah dan sayangilah keluarga kalian.” Kalimat ini adalah pengarahan yang diberikan oleh seorang Sherif kepada sekelompok anggota kepolisian Albaniy Georgia yang sarat dengan dunia kekerasan.

Adam, Nathan, Shane dan David adalah empat orang polisi yang bertugas di kepolisian Albaniy Georgia. Mereka yang tidak memiliki kegiatan apa-apa pada akhir pekan, berencana untuk bertemu dan memanggang bistik bersama. Pertemuan akhir pekan yang awalnya bertujuan untuk mengisi akhir pekan dengan bersenang-senang dan memanggang bistik akhirnya berubah menjadi diskusi mengenai isu yang dsampaikan oleh Sherif di dalam pengarahannya. Diskusi akhirnya berlanjut dengan sharing mengenai ayah-ayah mereka. Bagaimana mereka menjalani hidup tanpa ayah atau dengan ayah yang tidak bertanggung jawab.

Sebuah pertemuan yang aneh telah membawa seorang pria yang bukan seorang polisi bergabung dengan mereka. Kelompok akhir pekan itu kini beranggotakan lima orang. Masing-masing dari mereka adalah seorang ayah dan memiliki permasalahan keluarga yang berbeda-beda.

Adam adalah seorang ayah memiliki dua orang anak (putra dan putri) yang tanpa sadar telah memberikan perhatian yang berbeda kepada anaknya sehingga menimbulkan sakit hati pada putranya.

Nathan memiliki seorang anak remaja yang suka memberontak, karena merasa selalu dikekang oleh ayahnya khususnya dalam hal berpacaran.

Shane telah bercerai dengan istrinya dan memiliki seorang putra. Pengadilan memutuskan hak asuh anak jatuh kepada istrinya. Secara berkala ia selalu bertemu dengan anaknya dan menghabiskan waktu bersamanya. Ia sangat ingin menjadi seorang ayah yang dikagumi oleh anaknya. Ia juga seorang yang memiliki ambisi pada uang dan dapat menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

David adalah yang termuda di antara mereka. Ia adalah seorang yang tidak percaya pada hal-hal religius. Ia belum menikah, namun telah berhubungan dengan seorang gadis yang menyebabkan gadis tersebut hamil. Namun pada saat ia mengetahuinya ia lari dari tanggung jawabnya dan meninggalkan gadis tersebut beserta anaknya dengan alasan bahwa ia merasa tidak mencintai gadis tersebut.

Javier adalah seorang pekerja harian yang baru saja dipecat dari pekerjaannya. Keluarganya hidup dengan penuh kekurangan, namun imannya kepada Tuhan memberinya kekuatan untuk berjuang menjadi seorang suami dan ayah yang dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.

Suatu hari putri Adam meninggal dunia, kesedihan mendalam meliputi dirinya. Dia diperhadapkan pada dua pilihan; marah kepada Tuhan karena waktu-waktu yang tidak ia miliki dengan putrinya atau bersyukur kepada Tuhan karena waktu-waktu yang sudah ia lewati dengan putrinya. Adam memutuskan untuk bersyukur dan percaya pada Tuhan. Keputusan itu membawanya semakin dekat dengan Tuhan dan membawanya kedalam perenungan tentang apa yang Tuhan harapkan darinya sebagai seorang ayah. Hal ini ternyata membawa pemulihan di dalam keluarganya, khususnya pada hubungannya dengan putranya.

Peristiwa ini akhirnya membuat Adam berinisitif untuk membuat resolusi bagi dirinya. Ia berjanji akan menjadi seorang ayah yang bertanggung jawab. Adam pun mengumpulkan teman-temannya dan menceritakan kepada mereka mengenai resolusi yang akan diambilnya. Ia berkata, “Aku tak mau menjadi ayah yang cukup baik. Kita punya waktu yang pendek untuk memberi pengaruh pada anak-anak kita. Pola apapun yang kita tentukan untuk mereka akan digunakan untuk anak-anak mereka dan generasi setelahnya. Kita punya tanggung jawab untuk membentuk kehidupan. Kurasa itu tidak boleh dianggap remeh. Setengah dari semua ayah di negara ini gagal melakukan itu. Aku tak mau jadi salah satu dari antara mereka. Ini bukan hanya soal menghabiskan waktu dengan anak-anak kalian. Itu hal yang sudah pasti. Aku bicara soal menetapkan standar yang mereka harus bidik dalam kehidupan. Aku belajar bahwa Tuhan ingin agar aku membuat putraku jadi pria sejati. Aku tidak bisa melakukannya dengan santai. Aku tak boleh pasif.”

Mendengar perkataan Adam, keempat temannya akhirnya mengambil keputusan untuk berkomitmen menjadi pria dan ayah yang bertanggung jawab. Mereka berlima akhirnya menyelenggarakan upacara penandatanganan resolusi dan mengucapkan janji mereka di hadapan Tuhan dan keluarga. Pada saat upacara, Pendeta mengingatkan mereka bahwa tantangan, kontroversi dan konflik akan datang dan menguji komitmen mereka, untuk itu mereka harus memiliki keteguhan hati.

Hari terus berlalu, satu demi satu tantangan, kontroversi dan konflik datang menghampiri mereka. Masing-masing dari mereka berjuang untuk menghadapnya, berjuang untuk menjadi ayah yang bertanggung jawab, berjuang untuk mengampuni, berjuang untuk menyangkal diri dan berjuang untuk taat. Hari demi hari mereka menyaksikan bagaimana Tuhan menyertai dan bekerja di dalam hidup mereka, memberi mereka kekuatan untuk berjuang. Dalam perjuangan itu, ada yang menang namun ada pula yang jatuh dan terus berjuang untuk menang.

Sebuah film yang sangat memberkati. Film yang wajib ditonton oleh para ayah yang memiliki keinginan untuk menjadi ayah yang bertanggung jawab dan oleh para ibu yang ingin mendukung seorang ayah menjadi ayah yang bertanggung jawab. Film ini juga sangat baik ditonton oleh setiap orang yang belum menikah karena begitu banyak pelajaran dan nilai-nilai yang dapat dipetik dari setiap pergumulan, keputusan, dan peristiwa yang dialami oleh para tokoh.

Bagaimana, ada yang tertarik untuk menonton film ini? Film ini dapat dibeli di toko-toko buku Kristen atau di toko-toko yang menjual CD/DVD. Teman-teman juga dapat meminjam film ini di perpustakaan SMP sekolah Athalia.

IB/Tim Karakter

 

Freedom Writers

Film ini diangkat dari kisah nyata, dari sebuah buku yang berjudul Freedom Writers Diary. Film ini menceritakan tentang kehidupan seorang guru bernama Erin Gruwel dan murid-muridnya di kelas 203 sekitar tahun 1990an. Pada masa itu, terjadi kerusuhan dan konflik antar ras. Kerusuhan dan konflik ini telah merenggut banyak jiwa dan menebarkan kebencian dan dendam pada hampir seluruh masyarakat Long Beach.

Erin Gruwel baru saja akan mengawali karirnya sebagai guru Bahasa Inggris. Ia ditugaskan untuk menangani sebuah kelas di ruang 203, dimana murid-muridnya berasal dari berbagai ras yang berbeda. Hampir seluruh muridnya rasis dan saling membenci satu sama lain. Hari pertama mengajar bukanlah awal yang menyenangkan bagi Erin, keadaannya sebagai seorang kulit putih membuat murid-muridnya sulit untuk menerima dan bahkan justru menaruh kecurigaan dan rasa benci padanya. Hal ini memengaruhi bagaimana murid bersikap dan bertingkah laku di kelas. Tak ada rasa hormat yang ditunjukkan murid kepada Erin, bahkan sering kali murid-muridnya berkelahi di tengah-tengah pelajaran sehingga Erin harus memanggil petugas untuk melerai mereka. Tekanan dan tantangan untuk mengajar tidak hanya diperoleh Erin dari murid-murid di kelasnya, tetapi juga dari suami dan ayahnya.

Pada awal mengajar, Erin hanya berusaha menyampaikan materi dan membuat murid-muridnya mengerti mengenai materi yang ia sampaikan. Ia tidak menyadari keadaan yang sedang dialami dan dihadapi oleh murid-muridnya yang menjadi tembok penghalang mereka untuk dapat menjadi seorang murid yang baik. Pada suatu hari, Erin menemukan sebuah gambar salah seorang muridnya. Gambar itu adalah gambar seorang kulit hitam dengan bibir yang sangat tebal. Disinilah akhirnya Erin melihat betapa seriusnya isu rasis yang ada di kelasnya. Erin akhirnya memutuskan untuk menjadikan isu rasis menjadi media pengajaran Bahasa Inggrisnya. Erin berharap ini tidak hanya akan meningkatkan nilai akademis mereka, namun juga dapat menolong mereka terbebas dari belenggu benci dan dendam akibat rasisme.

Berbagai macam cara dilakukan Erin untuk menjangkau murid-muridnya. Seringkali cara yang ia lakukan sangat berbeda dari yang dilakukan oleh rekan sekerjanya yang lain. Namun cara-cara itu ditambah dengan ketulusan dan kasih sayang dari Erin berhasil menyentuh hati murid-muridnya. Hubungan antara Erin dan murid-muridnya juga menjadi semakin dalam pada saat Erin meminta mereka untuk menulis jurnal. Erin meminta murid-muridnya untuk menceritakan apapun tentang diri mereka di jurnal; masa lalu, saat sekarang, masa depan, hal-hal baik, hal-hal buruk, puisi, lagu, dll. Erin mengatakan bahwa ia tidak akan menilai tugas tersebut, sehingga siswa tidak perlu khawatir akan isi tulisannya, namun jika mereka ingin agar Erin membaca tulisan mereka, maka mereka dapat meletakkannya di dalam lemari terkunci yang telah disediakan Erin sebelumnya. Tanpa disangka ternyata hampir seluruh murid meletakkan jurnal mereka di lemari tersebut dan ingin agar Erin membacanya. Lewat jurnal inilah Erin mulai mengenal murid-muridnya lebih dalam secara pribadi. Lewat tulisan mereka, Erin akhirnya mengerti apa yang mereka alami, rasakan, dan penyebab kebencian serta dendam yang ada di dalam diri mereka. Hal ini sangat menolong Erin untuk memahami keadaan murid-muridnya sehinggga ia dapat menerapkan metode mengajar yang lebih tepat.

Usaha Erin untuk mengajar dan menolong murid-muridnya ternyata tidak mendapat dukungan dari pihak sekolah. Pihak sekolah sudah terlanjur memiliki cap tertentu pada murid-murid Erin. Pihak sekolah menilai murid-murid Erin tidak memiliki harapan dan masa depan. Hal ini menyebabkan sangat sulit bagi Erin untuk memperoleh bahan ajar yang ia perlukan. Bahkan ijin untuk meminjam buku di perpustakaan sekolah pun tidak Erin dapatkan. Pihak sekolah merasa bahwa murid-murid Erin tidak dapat membaca dan hanya akan menghilangkan, mencoret atau merusak buku tersebut.

Tantangan dan hambatan yang dialami Erin tidak membuatnya menyerah. Erin sudah bertekad untuk melakukan yang terbaik bagi murid-muridnya. Oleh karena itu Erin memutuskan untuk bekerja di dua tempat lainnya (menjadi pramuniaga di sebuah toko Bra dan menjadi penjaga pintu Hotel) agar ia dapat memiliki uang yang cukup untuk membelikan buku-buku yang dibutuhkan murid-muridnya, membiayai perjalanan tour mereka, dan hal-hal lainnya.

Pada suatu kesempatan, Erin mengadakan sebuah perjamuan untuk para murid yang ia sebut sebagai “Toast for Change”. Pada perjamuan ini, setiap siswa diminta untuk merayakan kebebasan mereka dan mengambil sebuah arah baru di dalam hidup mereka. Satu per satu murid-murid Erin maju ke depan untuk membagikan pandangan, harapan, dan komitmen mereka. Perlahan tapi pasti, kini murid-murid Erin mulai terbebas dari rasisme serta kebencian dan dendam yang ditimbulkannya. Kini mereka memiliki pengharapan dan tujuan yang baru di dalam hidup mereka.

Di akhir film dijelaskan bahwa murid-murid Erin akhirnya dapat lulus dari SMU dan menjadi orang pertama di keluarga mereka yang lulus SMU dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Jurnal yang pernah ditulis oleh murid-murid Erin akhirnya dibuat menjadi sebuah buku dan dipublikasikan pada tahun 1999. Buku ini diberi nama “The Freedom Writers Diary”. Beberapa tahun kemudian Erin dan murid-muridnya mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama “Yayasan Freedom Writers”. Yayasan ini mereka dedikasikan untuk mengulang kesuksesan ruang kelas 203 di ruang kelas di seantero negeri.

Film ini sangat baik untuk kita tonton khususnya ketika kita bekerja dalam dunia pendidikan. Lewat film ini kita dapat belajar bagaimana perhatian dan kasih sayang dari seorang guru dapat mengubah hidup banyak murid, dan bagaimana perubahan dari setiap murid ini membawa perubahan-perubahan bagi lebih banyak orang. Kita juga akan mendapatkan banyak sekali inspirasi mengenai metode-metode mengajar yang efektif, belajar mengenai hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam proses belajar-mengajar, dan bagaimana kekuatan sebuah kepedulian dapat merobohkan tembok-tembok pemisah dan memberi harapan baru dalam hidup seorang murid.

Selamat menonton…!

IB/ Tim Karakter

 

Front of the Class

“Wak..wakk… hup..hup!!”

Bukan, itu bukanlah suara-suara bebek atau kawan-kawannya. Suara-suara itu adalah milik Brad Cohen. Sejak kecil Brad telah didiagnosis menderita Tourette Syndrome. Tourette Syndrome atau sindrom Tourett adalah gangguan saraf pada otak yang mengakibatkan terjadinya tik vokal dan otot yang tidak terkontrol. Hal ini tergantung pada tingkat stress dan kondisi di lingkungan sekitar. Tanpa sengaja, seperti bersin yang tak tertahan, kapan saja Brad dapat melontarkan kata-kata/ celotehan seperti “wak..wak.. “ atau sekedar “Hup” sambil menyentak-nyentakkan kepala atau wajahnya seperti sedang kejang.

Hal ini membuatnya sulit untuk berkomunikasi dengan orang lain karena orang-orang merasa terganggu dengan kelakuannya itu. Ketika ia duduk di sekolah dasar, orang-orang belum mengerti gangguan yang dimiliki Brad. Mereka mengira itu memang kelakuan nakal Brad. Hampir setiap hari ia dihukum atau diperintahkan untuk menghadap kepala sekolah karena kelakuannya yang dianggap mengganggu kelas. Brad tidak mengerti, ia sendiri tidak memiliki niat untuk mengganggu kelas, namun semua itu tak dapat ia kendalikan.

Untungnya Brad memiliki seorang ibu yang sangat perhatian dan sayang padanya. Ibu Brad percaya pada penjelasan Brad dan akhirnya membawa Brad menemui dokter dan bahkan psikiater. Tetapi ternyata mereka pun tak dapat menemukan gangguan yang dimiliki Brad. Ibu Brad tak putus asa, ia pergi ke perpustakaan dan membaca buku-buku kesehatan hingga akhirnya setelah lama mencari ia pun menemukan Tourette Syndrome. Meski belum ada obat yang dapat mengobatinya, Brad tidak sedih dan menyerah.

Suatu hari di sekolah, gangguan Brad terjadi lagi dan guru Brad yang kesal menghukumnya untuk menghadap kepala sekolah. Brad pun terpaksa menemui kepala sekolah baru yang kemudian meminta Brad untuk hadir mengikuti konser sekolah. Brad kaget, ia tahu benar kalau ia pasti akan mengganggu konser itu, namun kepala sekolah bersikeras agar Brad hadir. Benar saja, saat konser berlangsung seisi aula terganggu dengan tik Brad. Di akhir konser, kepala sekolah memanggil Brad ke depan dan dengan lembut bertanya pada Brad mengenai gangguan yang dimilikinya. Brad pun menjelaskan gangguan yang dimilikinya dengan jelas hingga kemudian kepala sekolah bertanya mengenai satu hal,

“Lalu apa yang dapat kami lakukan untukmu Brad?” tanyanya.
“Aku hanya minta agar diperlakukan seperti anak-anak normal lainnya..” jawab Brad.

Hal ini membuat seisi sekolah bertepuk tangan untuk Brad, untuk ketabahan dan semangatnya. Brad tak pernah melupakan kejadian itu, suatu hal kecil yang dilakukan kepala sekolahnya menjadi begitu berarti bagi kehidupan Brad. Pengalamannya selama di sekolah inilah yang membuat Brad akhirnya bertekad untuk menjadi seorang guru.

Perjalanan Brad tidak mudah, meski ia mendapat nilai tinggi saat sekolah dan kuliah, ia ditolak oleh 24 sekolah ketika melamar menjadi guru karena kekurangannya. Sekolah-sekolah itu merasa anak-anak justru akan terganggu saat belajar karena suara-suara yang ditimbulkan Brad.

Brad sudah hampir putus asa, tetapi keluarga dan teman Brad terus memberinya semangat. Mereka mengingatkannya kembali pada impiannya menjadi guru dan ia pun mencoba lagi. Akhirnya usaha Brad tidak sia-sia. Salah satu sekolah menjawab lamaran Brad dan memberinya kesempatan untuk wawancara. Melalui wawancara tersebut, kepala sekolah melihat semangat, dedikasi, dan filosofi Brad yang benar dalam mendidik anak-anak. Akhirnya Brad diterima untuk mengajar. Brad begitu gembira. Ia bertekad untuk menjadi guru yang baik bagi siswa-siswanya. Meski di awal ia mengalami banyak kesulitan, ia tetap berusaha mengajar tiap siswanya dengan sukacita.

Siswa-siswa Brad sangat tertarik pada setiap pelajaran yang diajarkan karena metode-metode pembelajaran Brad yang menyenangkan. Brad terbuka pada anak-anak mengenai sindrom Tourett yang dimilikinya dan berusaha menjangkau serta membesarkan hati anak-anak yang kesulitan dalam belajar. Usaha dan kerja keras Brad itu tak sia-sia. Setelah beberapa lama mengajar, ia mendapat penghargaan sebagai Teacher of the Year untuk negara bagian Georgia.

“Aku ingin menjadi guru hebat yang tak pernah kumiliki selama ini. Aku ingin menjadi sosok panutan yang baik dan penuh perhatian bagi anak-anak dan dapat mendatangkan perubahan positif dalam hidup mereka.”

Brad tak hanya menjadi inspirasi bagi murid-muridnya, ia juga menjadi inspirasi bagi para guru dan orang-orang penyandang disabilitas lainnya. Ia membuktikan keterbatasan yang dimilikinya tak akan dapat membatasi impiannya.

buku Front of the Class

Apabila bapak/ibu tertarik untuk mengetahui lebih lanjut cerita Brad dan metode pembelajaran yang Brad gunakan, bapak/ibu dapat membeli dan membaca bukunya yang juga berjudul Front of the Class di toko buku terdekat. (LDS/karakter kerohanian)