Dibentuk dengan Berbagi Hidup

oleh: Merry David

Dari buku Sacred Marriage karya Gary Thomas.

Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu (Matius 7: 1–2).

Gary Thomas dalam bukunya menekankan bahwa pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan dalam satu rumah, tetapi juga menjadi sarana pembentukan diri. Ketika dua individu berbagi hidup dalam pernikahan, mereka secara alami akan mengalami berbagai tantangan yang dapat memperkuat atau justru melemahkan hubungan. Salah satu tantangan terbesar dalam pernikahan adalah kecenderungan untuk menghakimi pasangan dan menolak untuk mendengarkan.

Tidak ada manusia yang sempurna, begitu pula pasangan kita. Jika kita hanya berfokus pada kekurangan pasangan, kita akan kehilangan kesempatan untuk melihat kelebihan dan kekuatan yang bisa menjadi inspirasi bagi kita. Oleh karena itu, dalam perjalanan pernikahan, penting bagi kita untuk saling menerima, memahami, dan bertumbuh bersama, bukan saling menghakimi.

Baca Juga : Athalia Learning Community Nomor 6 Tahun 2021

Berbagi Hidup: Proses Pembelajaran dan Perubahan Diri

Berdasarkan pengalaman pribadi, saya menyadari bahwa kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan, apalagi seperti yang sering ditampilkan dalam drama Korea yang penuh dengan keindahan dan romansa. Ketika merenungi tema PIT dengan judul “Dibentuk dengan Berbagi Hidup”, saya mulai berpikir, apa saja yang sudah saya dan suami lalui sebagai pasangan? Di usia pernikahan kami yang baru 13 tahun, kami tidak hanya memiliki banyak persamaan, melainkan juga perbedaan.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Gary Thomas, kita bisa belajar dan dibentuk oleh pasangan, saya pun mengalaminya. Contoh beberapa hal yang saya pelajari dari suami saya, yaitu dalam hal percaya kepada orang lain, berani berpendapat, humble, dan lain sebagainya.

Dulunya saya tidak mudah percaya dengan orang lain sehingga saya selektif dalam memilih teman. Hal ini karena saya pernah dikecewakan oleh orang yang saya percayai sehingga tidak mudah bagi saya untuk percaya kepada orang lain lagi. Namun, suami saya mengajarkan saya untuk mau belajar memercayai orang. Misalnya di dalam pekerjaan, saya mulai bisa berbagi tugas dengan rekan kerja ketika saya bekerja sebagai sekretaris. Sebelumnya, semua pekerjaan saya tangani sendiri dan rekan saya hanya melakukan pekerjaan yang ringan-ringan saja. Dampaknya, saya sering kali kerja lembur untuk menyelesaikan pekerjaan. Ketika saya mulai belajar untuk memercayai orang lain, hidup saya tentunya menjadi lebih ringan. Dengan demikian, saya juga belajar untuk lebih rendah hati.

Baca Juga : Kenali Bahasa Kasih Pasangan: Kunci Hubungan Harmonis

Dibentuk dengan Berbagi Hidup

Belajar Mempercayai Orang Lain

Dahulu, saya adalah orang yang tertutup atau antisosial. Namun, kemudian saya belajar bersedia membuka diri. Perubahan ini memungkinkan saya untuk melayani Tuhan bersama banyak orang. Apalagi ketika saya sudah menjadi orang tua dan anak saya bersekolah di Athalia. Mau tidak mau saya harus bersosialisasi dengan banyak orang tua lainnya karena di Athalia ada komunitas orang tua. Ketika saya bersedia diubah, saya merasa sangat terbantu dalam bersosialisasi dan berani ketika diminta melayani menjadi CPR lalu sekarang di BPH APC, serta berani melayani di gereja lokal kami.

Saya bersyukur suami tidak pernah menghakimi kekurangan saya ini. Dia membantu saya untuk terus memperbaiki diri. Begitu juga sebaliknya, saya juga belajar untuk tidak menghakimi kekurangan suami. Saya sadar, ketika saya menunjukkan jari telunjuk ke orang lain, sesungguhnya ada empat jari lainnya yang menunjuk ke diri saya.

Demikian sharing dari saya, kiranya Tuhan Yesus memberkati. Terima kasih.

Posted in Kisah Inspiratif and tagged , .