Lubang Kosong dalam Hati Anak dan Pentingnya Peran Ayah

Refleksi dari Seminar Parenting SMA Sekolah Athalia, 22–24 Januari 2020

Hanya Tuhan yang Mampu Mengisi Kekosongan Manusia

Manusia memiliki “lubang-lubang” dalam dirinya—kekosongan yang tidak dapat diisi oleh benda, orang lain, atau bahkan orang terdekat sekalipun. Hanya Tuhan Yesus Kristus yang mampu memenuhi lubang tersebut sepenuhnya.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang mencoba menambal kekosongan itu dengan cara yang salah. Di tengah pertengkaran orang tua yang tiada henti, ancaman perpisahan, dan suasana rumah yang penuh makian, anak-anak justru makin merasa hampa dan terluka.

Lubang yang seharusnya diisi kasih malah terisi luka. Akibatnya, muncul fenomena baru di kalangan remaja masa kini—mudah jatuh cinta di usia muda. Mereka mencari figur kasih dan perhatian, terutama karena sosok ayah tidak sungguh-sungguh “hadir” dalam hidup mereka.


Pentingnya Peran Ayah, Kehadiran dan Waktu Berkualitas

Setiap ayah diharapkan memiliki waktu berkualitas bersama anak-anaknya. Minimal sekali dalam seminggu, anak perlu mendapatkan “jatah” waktu berdua dengan ayah—bukan bersama seluruh keluarga, tapi benar-benar berdua.

Waktu ini penting untuk memenangkan kembali hati anak dan membangun kedekatan emosional yang sering hilang karena kesibukan.

Keterlibatan dan peran ayah sangat berpengaruh terhadap cara anak melihat kasih dan relasi, termasuk dalam memandang hubungan romantis di usia remaja. Banyak anak yang mencari kasih dari lawan jenis karena mereka tidak pernah merasakan kasih dan perhatian ayah di rumah.


Mengapa Remaja Terlalu Cepat Berpacaran?

Dalam Seminar Parenting SMA Athalia — sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong—yang diselenggarakan pada tanggal 22–24 Januari 2020, Ibu Charlotte Priatna memaparkan pandangannya mengenai fenomena ini.

Beliau menegaskan bahwa pacaran adalah langkah menuju pernikahan. Jika demikian, mengapa harus berpacaran di usia 15 tahun, padahal rencana menikah mungkin baru terjadi di usia 30-an?

“Fase saling mengenal satu sama lain ada di lingkaran pertemanan, bukan pacaran.” — Charlotte Priatna

Anak remaja perlu memahami bahwa pacaran bukan sarana untuk belajar mengenal lawan jenis, melainkan bagian dari proses menuju pernikahan yang memerlukan kedewasaan dan tanggung jawab.


Orang Tua Sebagai Sahabat Anak

Tugas orang tua adalah memberikan pemahaman yang benar tentang pacaran, sekaligus menjadi sahabat bagi anak. Jika anak merasa nyaman bercerita kepada orang tua, mereka tidak perlu mencari tempat curhat lain yang bisa memberi pandangan keliru.

Ketika anak mulai terbuka dan mengaku “naksir” seseorang, orang tua dapat masuk dengan lembut untuk menanamkan batasan-batasan sehat.
Remaja boleh menaksir seseorang, tetapi mereka juga perlu didorong untuk membuka diri dan memperluas pergaulan.


Waktu yang Tepat untuk Pacaran

Pacaran seharusnya dimulai saat anak sudah cukup dewasa dan mampu menentukan arah hidupnya sendiri. Dalam proses ini, ada beberapa fase yang perlu dilewati:

  1. Cinta perlu diuji. Perasaan suka harus melalui proses pengujian waktu.
  2. Doakan dengan sungguh-sungguh. Mintalah peneguhan Tuhan apakah hubungan itu berasal dari-Nya.
  3. Lihat karakter secara utuh. Pacaran adalah kesempatan melihat kelebihan sekaligus kekurangan pasangan.

Orang tua berperan penting sebagai outsider yang objektif. Saat anak memperkenalkan pacarnya, orang tua bisa memberikan pandangan jujur dan bijak. Sebab, ketika sedang jatuh cinta, segalanya tampak indah—even yang sebenarnya buruk.


Penutup

Relasi antara orang tua—terutama ayah—dan anak merupakan fondasi penting dalam perkembangan emosional remaja. Kehadiran, perhatian, dan waktu berkualitas jauh lebih bermakna daripada nasihat tanpa kedekatan.

Anak-anak yang merasa dikasihi dan didengar oleh orang tuanya tidak akan mudah mencari kasih di luar rumah. Karena lubang dalam hati manusia hanya bisa diisi oleh satu Pribadi: Tuhan Yesus Kristus. ✝️ (SO)

Posted in berita and tagged , , .