Oleh: Ngatmiati, S.Th
Mengawali Tahun dengan Doa
Pada 6–7 Januari 2020, Sekolah Athalia—sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong—mengadakan retret guru dan staf dengan tema “Tetaplah Berdoa”, berdasarkan 1 Tesalonika 5:17.
Tema ini diangkat karena adanya kesadaran bahwa dunia pendidikan kini menghadapi tantangan besar yang dapat memengaruhi proses pembelajaran. Tantangan yang berat kerap membuat semangat melemah, sehingga doa menjadi penopang utama dalam kehidupan pribadi maupun pelayanan.
Melalui kegiatan retret ini, para guru dan staf Athalia didorong untuk kembali bertekun dalam doa, merasakan pengalaman baru bersama Tuhan, dan memperbarui komitmen untuk hidup dalam ketergantungan kepada-Nya.
Tantangan Keluarga di Era Modern
Tantangan tidak hanya dihadapi di dunia pendidikan, tetapi juga dalam kehidupan keluarga masa kini.
Beberapa tantangan yang sering muncul antara lain:
- Pergeseran nilai moral karena pengaruh budaya yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.
- Jadwal sekolah dan pekerjaan yang padat, membuat waktu kebersamaan keluarga berkurang.
- Penggunaan teknologi (media sosial, game, dll.) yang sering mengalihkan perhatian dari keluarga.
- Masalah ekonomi, komunikasi, dan relasi antaranggota keluarga.
Jika tidak disikapi dengan benar, hal-hal ini dapat menggoyahkan keharmonisan keluarga bahkan menyebabkan retaknya hubungan antara suami, istri, dan anak-anak.
Banyak keluarga sudah berupaya memperbaiki keadaan, namun hasilnya belum seperti yang diharapkan. Dalam kondisi seperti ini, keluarga tidak boleh kehilangan pengharapan, tetapi perlu bersandar kepada Tuhan melalui doa bersama.
Belajar dari Keluarga Hana
Kisah Hana dalam 1 Samuel 1:1–3 menjadi teladan yang indah tentang keluarga yang setia berdoa.
Keluarga Hana setiap tahun pergi ke Silo untuk beribadah dan mempersembahkan korban kepada Tuhan semesta alam.
Saat menghadapi pergumulan—karena belum dikaruniai anak dan diejek oleh Penina—Hana tidak mengeluh kepada manusia, melainkan membawa pergumulannya kepada Tuhan.
Ia mengakui kuasa Tuhan dan berserah penuh kepada-Nya, dan Tuhan menjawab doanya dengan memberi anak, bahkan enam anak termasuk Samuel (1 Sam. 2:21).
Kisah ini mengingatkan bahwa keluarga yang berdoa bersama akan menjadi keluarga yang kuat menghadapi badai kehidupan.
Manfaat Doa Bersama dalam Keluarga
Keluarga yang memiliki waktu doa bersama akan mengalami banyak berkat rohani dan emosional. Beberapa manfaat doa keluarga antara lain1:
- Melepaskan luka dan mengajarkan pengampunan.
Melalui doa, keluarga dapat saling mengampuni dan mengalami penyembuhan hati. - Memperkuat komunikasi dan relasi.
Doa yang tulus dan terbuka menjembatani kesalahpahaman serta mempererat hubungan antaranggota keluarga. - Memberi perlindungan rohani.
Doa memampukan keluarga menghindari keputusan yang salah dan menjauh dari godaan dosa. - Menyehatkan tubuh dan jiwa.
Doa menurunkan stres dan menumbuhkan ketenangan batin bagi setiap anggota keluarga. - Mendidik anak untuk mencari Tuhan sejak dini.
Anak belajar bahwa Tuhan adalah sumber pertolongan dan kasih yang sejati. - Menanamkan cara pandang ilahi.
Melalui doa yang berlandaskan Firman Tuhan, keluarga melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup mereka. - Menjadi warisan iman bagi anak-anak.
Anak-anak akan mengenang keluarganya sebagai keluarga pendoa, dan meneladani kebiasaan ini di masa depan.
Penutup
Melalui retret ini, guru dan staf Sekolah Athalia belajar untuk tetap berdoa dalam segala keadaan, baik dalam pelayanan maupun kehidupan keluarga.
Doa bukan hanya permohonan, melainkan bentuk kebergantungan penuh kepada Tuhan—sumber kekuatan sejati.
Mari terus membangun keluarga pendoa, karena keluarga yang berdoa bersama adalah keluarga yang bertumbuh dalam kasih, iman, dan pengharapan di dalam Kristus.
“Tetaplah berdoa.” – 1 Tesalonika 5:17 ✝️
1 Disarikan dari https://www.beliefnet.com/love-family/galleries/6-benefits-of-praying-together-as-a-family.aspx; https://www.crosswalk.com/family/parenting/kids/10-benefits-of-family-prayer-time.html