SSD (Soal Sering Ditanya)

Konsep apa yang digunakan Sekolah Athalia dalam mendidik siswa?

Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen berbasis pendidikan karakter Kristen di Serpong, yakin bahwa tiap anak itu diciptakan Allah secara unik. Tidak ada anak yang bodoh. Semua anak cerdas dalam satu atau beberapa kecerdasan. Karena itu Sekolah Athalia mendidik dengan mengakui keberagaman pendekatan. Sekolah Athalia percaya bahwa karakter itu sangat penting. Seorang yang cerdas, tanpa karakter yang baik, tidak akan berhasil dalam hidupnya.

Bagaimana Sekolah Athalia menerapkan konsep kecerdasan yang berbeda-beda pada tiap siswa dalam pembelajaran di Athalia?

Sekolah Athalia mengadakan pelatihan kecerdasan majemuk untuk para guru. Guru-guru didorong untuk mengenali gaya belajar siswa yang berbeda-beda dan dilatih untuk membantu siswa  mengenali kecerdasan masing-masing serta mengembangkan potensi yang mereka miliki. Seluruh siswa TK B-SMA, pada semester kedua tiap tahunnya melakukan presentasi hasil belajarnya kepada orang tua.

Sekolah Athalia menyatakan diri sebagai “Komunitas Pembelajar Berbasis Karakter”. Apa maksudnya?

Sekolah Athalia percaya bahwa tiap orang yang ada di Athalia, –bukan hanya siswa— harus terus belajar. Guru, karyawan, para pimpinan, orang tua siswa, bahkan satpam dan office boy pun harus terus belajar. Yang perlu dipelajari bukan hanya ilmu pengetahuan karena Sekolah Athalia percaya bahwa mengasah aspek kognitif saja tidak cukup. Karakter pun penting untuk dibentuk.  Sekolah Athalia menekankan pada komunitas karena Sekolah percaya bahwa karakter tak mungkin tumbuh dalam kesendirian. Untuk bisa memiliki karakter yang teguh, orang harus berada dalam sebuah komunitas. Komunitas yang baik akan saling mengasah dan saling mengasuh dalam semangat saling mengasihi.

Sekolah Athalia adalah sekolah Kristen. Apakah sekolah ini lebih menekankan pada pengajaran agama?

Sekolah Athalia adalah sekolah nasional yang berciri kristiani. Sebagai institusi pendidikan, Sekolah Athalia terbeban untuk ikut mendidik dan mencerdaskan generasi muda Indonesia dengan menggunakan kurikulum Merdeka yang dimodifikasi menjadi kurikulum Sekolah Athalia. Namun, sesuai dengan visi yang diterima para pendiri Sekolah Athalia, maka sekolah ini berciri kekristenan. Artinya, Sekolah Athalia memandang manusia, ilmu pengetahuan, dan segala aspek kehidupan lainnya, dari sudut pandang iman Kristen. Sekolah Athalia juga menekankan pendidikan karakter yang sesuai dengan standar etika iman Kristen. Yang menjadi penekanan bukanlah agama itu sendiri melainkan spiritualitasnya: bagaimana agar tiap anggota komunitas Athalia bisa saling mengasihi, saling mendukung, belajar beriman, menyadari kesalahan dan bertobat, dll.

Bagaimana Sekolah Athalia mengajarkan karakter baik kepada siswa?

Sekolah Athalia membuat kurikulum khusus pendidikan karakter. Tiap tahun, siswa mempelajari karakter yang sudah ditetapkan kurikulum karakter.
Lewat Shepherding Time, maupun lewat kegiatan-kegiatan di luar pelajaran.  Siswa diajarkan untuk memahami karakter tersebut, merasakan, dan berlatih untuk mengaplikasikan karakter tersebut dimanapun mereka berada. Para siswa juga melakukan berbagai proyek yang tertuang dalam lesson plan untuk mendukung peneguhan karakter itu dalam dirinya. Namun, Sekolah Athalia juga percaya bahwa untuk itu semua butuh proses, dan proses akan memakan waktu.

Apa visi Sekolah Athalia?

Visi Sekolah Athalia adalah siswa yang menjadi murid Tuhan. Sekolah Athalia memandang setiap siswa sebagai ciptaan Tuhan yang perlu dikembalikan kepada martabatnya yang mula-mula: Manusia yang diciptakan bukan untuk mementingkan diri sendiri atau mencari keuntungan  diri, melainkan diciptakan Allah untuk memuliakan Allah.

Bagaimana Sekolah Athalia memposisikan orang tua murid?

Sekolah Athalia percaya bahwa Allah meletakkan tanggung jawab pengasuhan seorang anak sepenuhnya di pundak orang tua. Namun, tuntutan kehidupan modern membuat orang tua tak mungkin terus mendampingi anak dan mengajarinya segala macam hal yang dibutuhkan anak untuk bekal hidupnya. Sebagai bagian dari tanggung jawab itulah orang tua memilih sekolah yang tepat bagi anaknya. Karena itu, Sekolah Athalia memandang orang tua sebagai mitra dalam mendidik anak-anak yang dipercayakan sebagai murid Sekolah Athalia. Orang tua perlu bekerja sama dengan sekolah, dan ikut bertanggung jawab dalam pendidikan anak-anak.

Motto Sekolah Athalia “Right From The Start”. Apa maknanya?

Sekolah Athalia percaya bahwa sejak dini seorang anak harus dididik dengan benar pada jalan yang benar secara konsisten. Membiarkan seorang anak saat dia kecil dengan niat mendidiknya saat dia sudah lebih besar, adalah cara yang lebih sulit dan seringkali harus dibayar dengan harga mahal.

Bagaimana perbandingan jumlah guru dan siswa di Sekolah Athalia?

Jumlah murid di kelas Batita maksimal 10 siswa dengan 2 orang guru kelas. Untuk Pra TK maksimal 15 siswa, TK A & TK B  maksimal  jumlah siswa 20 anak dengan 2 guru di setiap kelas. SD  maksimal jumlah siswa di setiap kelas 28 siswa. Kelas I-II terdapat guru kelas dan asisten, kelas III-VI terdapat guru kelas dan guru bidang studi.  SMP maksimal jumlah siswa di setiap kelas  26 dengan 2 orang guru pembimbing. SMA maksimal jumlah siswa di setiap kelas 28  dengan 2 orang guru pembimbing.

Sekolah Athalia menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Mengapa tidak bahasa Inggris seperti sekolah baru yang banyak bermunculan sekarang?

Sekolah Athalia percaya bahwa seorang anak harus dididik untuk menghargai akar budayanya. Setiap siswa perlu belajar bahasa ibu masing-masing (biasanya bahasa daerah/suku) dan bahasa nasionalnya, yaitu bahasa Indonesia. Karena itu Sekolah Athalia mendorong tiap siswanya untuk belajar bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dan mencintai akar budayanya. Dengan begitu,  nasionalisme, kecintaan generasi muda pada bangsanya sendiri, akan tumbuh karena mereka mengenal kekuatan budaya mereka dengan baik. Sekolah Athalia memahami bahwa globalisasi menuntut penguasaan bahasa Inggris yang menjadi bahasa internasional. Karena itu, Sekolah Athalia memberi porsi yang cukup banyak untuk pelajaran Bahasa Inggris, lebih banyak daripada standar kurikulum diknas.

Di Sekolah Athalia tidak ada kantin. Mengapa, dan bagaimana bila siswa lapar dan haus selama di sekolah?

Sekolah Athalia tidak membuka kantin karena ingin orang tua tahu dengan jelas makanan dan minuman apa saja yang dikonsumsi anak selama di sekolah. Sekolah Athalia menyediakan katering untuk siswa dan daftar menu dikirimkan setiap akhir bulan melalui grup WA orang tua  sehingga orang tua bisa memantau makanan siswa. Sekolah Athalia menyediakan dispenser air minum dan drinking fountain. Siswa bebas mengambil minum untuk kebutuhannya selama di sekolah.Siswa membawa sarapan dan makan siang secara mandiri jika tidak ikut katering sekolah.

Siapa pendiri Sekolah Athalia dan siapa sekarang yang menjadi pengelolanya?

Sekolah Athalia didirikan oleh Ibu Charlotte K. Priatna. Saat ini Sekolah Athalia dikelola oleh Yayasan Pendidikan Kristen Athalia Kilang yang pada periode 2025 – 2030 dipimpin oleh Bapak Daniel Eliezer Linardi.