Kamp Karakter GROWING CAMP

Tri Febrianti Manurung (Guru TK B)

 

Tentang Growing Camp

Ekspresi sukacita murid-murid di jenjang KB-TK sangat mudah terlihat saat mereka beraktivitas. Ketika mereka bermain, bercanda, dan tertawa bersama teman-temannya ataupun ketika mencoba hal-hal baru keceriaan mereka terpancar. Sejak dini, KB-TK Athalia mendidik murid untuk memahami bahwa sukacita yang mereka rasakan setiap hari berasal dari Sang Pencipta.

Di sekolah ini, murid-murid dilatih untuk memiliki kesadaran bahwa Tuhan senantiasa hadir dalam setiap proses pertumbuhan dan perkembangan mereka. KB-TK Athalia percaya bahwa melalui profil karakter Joyful Explorer, setiap kegiatan pembelajaran dirancang untuk berfokus pada pembentukan tiga karakter dasar. Ketiga karakter tersebut adalah penuh perhatian, taat, dan bersukacita.

Dalam kegiatan belajar mengajar, guru dan terapis berupaya kreatif mengembangkan materi pembelajaran agar setiap murid makin mudah mengenal kasih Tuhan. Kasih yang adalah sebagai sumber sukacita yang mereka rasakan. Semangat inilah yang menjadi dasar pelaksanaan Growing CAMP 2026. Tema “Karakter Kristus Bertumbuh Dalamku” merupakan refleksi dari firman Tuhan dalam Yohanes 3:16:


“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,

sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,

supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa,

melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Pelaksanaan Growing Camp

Growing CAMP yang dilaksanakan pada Sabtu, 23 Mei 2026, menjadi momen istimewa bagi seluruh murid TK B. Kegiatan ini bukan sekadar ajang kebersamaan. Kamp ini merupakan bentuk apresiasi dan peneguhan atas proses pertumbuhan karakter yang telah mereka jalani selama bersekolah di KB-TK Athalia.

Melalui kegiatan kamp karakter Growing CAMP, murid-murid diajak untuk mengalami secara langsung bagaimana menjadi pribadi yang memiliki semangat Joyful Explorer. Pribadi yang bertumbuh dengan hati yang penuh sukacita, taat, penuh perhatian. Juga pribadi yang berani mencoba hal-hal baru, peduli terhadap sesama, serta belajar menghidupi karakter Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kegiatan diawali dengan sesi foto bersama, dilanjutkan dengan berjalan mengelilingi kompleks sekolah. Suasana pagi itu terasa meriah dan penuh keceriaan. Para murid mendapat kesempatan untuk beraktivitas bersama teman dan guru di luar ruang kelas. Sukacita sederhana juga tampak ketika mereka belajar menyiapkan sarapan sendiri. Aktivitas dimulai dengan mengoleskan selai pada roti hingga membuat teh secara mandiri. Melalui kegiatan ini, mereka belajar bertanggung jawab, percaya diri, serta menikmati proses melakukan hal-hal sederhana dengan usaha mereka sendiri. Selanjutnya, murid-murid mengikuti ibadah bersama dan mendapatkan pembelajaran mengenai pendidikan seksualitas (sex education). Pendidikan seks ini disampaikan sesuai dengan tahap perkembangan usia mereka. Pendidikan seksualitas penting pada tahapan usia ini agar sejak awal mereka sudah mempunyai pemahaman yang benar. Pemahaman secara alkitabiah tentang maksud Tuhan menciptakan seorang pria dan seorang wanita.

Pada akhir kegiatan, ada video apresiasi dari orang tua. Ada juga ungkapan kasih dari para guru menjadi momen yang penuh haru dan syukur. Melalui momen tersebut, murid-murid kembali diteguhkan dalam tiga karakter dasar yang telah dipelajari bersama, yaitu penuh perhatian, ketaatan, dan sukacita.

 

Doa dan Harapan

Melalui kamp karakter Growing CAMP ini, diharapkan para murid belajar bahwa saat ini mereka sedang dalam fase pertumbuhan dan perkembangan. Dengan pengertian ini diharapkan mereka bersedia dengan rendah hati untuk terus mencoba melakukan yang terbaik. Berusaha sebisa mungkin tidak selalu bergantung pada teman, guru, dan orang tua. Mereka bisa mandiri saat melakukan hal sederhana sesuai dengan tahap perkembangan usia mereka. Dengan menghidupi profil karakter Joyful Explorer, mereka diharapkan dapat terus membawa sukacita. Mereka juga dapat senantiasa memuliakan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan mereka di masa depan.

Growing camp
Growing camp
Growing camp
Growing camp
Growing camp
Growing camp
Growing camp

Komitmen Murid Kristus

komitmen murid kristus

 

Victor Sumua Sanga (Kepala SMA Athalia)

 

Dipahat oleh Tuhan

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Markus 8:34)

Michelangelo, sang maestro seni rupa, pernah berujar bahwa tugasnya saat memahat patung David bukanlah menciptakan keindahan, melainkan membuang segala sesuatu yang “bukan David” dari blok marmer besar tersebut. Ia memandang setiap bongkahan batu mengandung mahakarya tersembunyi yang hanya bisa muncul melalui proses pemahatan yang keras dan presisi.
Ilustrasi ini adalah metafora sempurna bagi disiplin rohani dalam Markus 8:34. Menjadi murid Kristus bukanlah tentang menambahkan atribut agamawi, melainkan mengizinkan Tuhan “memahat” dan membuang ego, kesombongan, serta ambisi pribadi yang menutupi gambar Kristus dalam diri orang percaya.

Disiplin Murid Kristus

Melalui perkataan-Nya kepada orang banyak dan murid-murid-Nya, Yesus sedang meruntuhkan ekspektasi mereka yang mengikutinya karena mengharapkan kejayaan politik dan kekuasaan. Yesus mendefinisikan ulang makna “mengikuti Aku” dari obsesi pada takhta kekuasaan menjadi komitmen siap menderita.
Ayat ini menegaskan tiga disiplin yang tidak terpisahkan dan perlu dimiliki oleh pengikut Kristus, diantaranya:

  1. Menyangkal Diri: Ini adalah pemutusan hubungan dengan kepentingan ego. Ketika Petrus pernah “menyangkal” Yesus dengan berkata, “Aku tidak kenal Dia.” Hal itu serupa dalam bagian ini, bahwa seorang murid harus “menyangkal diri” dengan berkata, “aku tidak lagi mengenali diriku sebagai tuanku sendiri.” Kita berhenti menjadi pusat gravitasi hidup kita.
  2. Memikul Salib: Bagi jemaat mula-mula, memikul salib berarti perjalanan satu arah menuju eksekusi. Ini dimaknai sebagai penyerahan total terhadap konsekuensi mengikut Yesus. Kepengikutan kita kepada Yesus memiliki konsekuensi yang dapat menghantar kita pada penderitaan dan penganiayaan dalam berbagai bentuk.
  3. Mengikut Yesus: Menggunakan bentuk kata kerja yang berkelanjutan menunjukkan bahwa kepengikutan kita kepada Yesus adalah perjalanan sehari-hari, bukan peristiwa sekali jadi. Karakter Kristus dibentuk melalui pengulangan yang setia dan ketekunan dalam penderitaan.

Tanpa disiplin ini, murid Yesus bisa terjebak dalam apa yang disebut Dietrich Bonhoeffer sebagai “anugerah murahan”. Pengampunan tanpa pertobatan atau salib tanpa ketaatan. Dalam bukunya The Cost of Discipleship, Bonhoeffer menulis: “Ketika Kristus memanggil seseorang, Dia mengundangnya untuk datang dan mati.” Kematian yang dimaksud adalah matinya manusia lama agar kehidupan baru di dalam Kristus dapat memancar.

Ajakan untuk Berkomitmen

Sebagai komunitas Sekolah Athalia, disiplin rohani bukan sekadar peraturan formal, melainkan “ruang kerja” Allah untuk pertumbuhan kita. Sebagai pendidik dan tenaga kependidikan, menyangkal diri berarti melayani siswa bukan demi validasi profesional, melainkan melampaui itu. Menyangkal diri sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan berarti membuang ego merasa “paling tahu” demi pertumbuhan anak didik. Sebagai siswa, memikul salib berarti siap menerima penolakan dari teman sebaya, rela sendiri, dicap “munafik” demi membangun disiplin rohani sebagai murid Kristus. Sebagai orang tua, itu berarti, berhenti menjadikan anak sebagai alat pencapaian ambisi pribadi, melainkan dengan rendah hati mendukung rencana dan panggilan Tuhan atas hidup mereka.

Mari kita izinkan Sang Seniman Agung terus memahat hidup kita hingga yang tersisa hanyalah gambar Kristus yang nyata.

 

Rooted in God’s Story

Rooted in God's Story

Sylvia Tiono Gunawan (Staf Kerohanian)

 

Akar merupakan bagian pohon yang umumnya berada jauh di dalam tanah dan tidak terlihat. Namun, akar memiliki peran yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Akar yang sehat menyerap sari-sari makanan dengan baik sehingga tanaman dapat bertumbuh kuat, sehat, bahkan berbuah. Sama seperti akar pohon yang tertanam sehat dan kuat berdampak pada pertumbuhan pohon, demikian pula iman. Iman yang tertanam kuat di dalam Kristus akan menolong pertumbuhan rohani setiap orang percaya.

Berakar pada Firman Tuhan

Rasul Paulus, dalam surat Kolose, mengingatkan kita bahwa menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan iman orang percaya. Perjalanan hidup yang masih Tuhan izinkan untuk kita lalui harus terus diisi dengan kehidupan yang seturut kehendak-Nya. Hal ini hanya dapat terjadi ketika kita terus berakar di dalam Dia. Dengan berakar pada Firman-Nya—kisah kasih dan karya Allah yang tertuang dalam Alkitab—kita akan diteguhkan dan diarahkan untuk menapaki hari depan.

 

Berakar dalam Kisah Tuhan

Berakar dalam kisah Tuhan berarti belajar memahami dan menghayati karya Tuhan dalam Alkitab serta membiarkan kisah itu membentuk hidup kita. Hal ini berarti kita terus belajar mengenal Tuhan lebih dalam. Kita terus berusaha memahami siapa Dia, apa yang Dia inginkan, dan bagaimana Dia bekerja. Kehidupan yang berakar pada kisah-Nya berarti menjadikan Dia pusat hidup kita. Dalam praktiknya, semakin kita mengenal Dia, semakin kita percaya kepada-Nya. Hidup kita pun akan diubahkan menjadi makin serupa Kristus dari waktu ke waktu.

Berakar dalam kisah-Nya tidak terjadi secara otomatis, melainkan membutuhkan upaya yang terus-menerus dan penuh kesungguhan dari setiap orang percaya. Artinya, sebagai tenaga pendidik, orang tua, dan murid yang telah menerima Kristus, kita belajar meninggalkan kebiasaan hidup yang tidak sesuai dengan firman-Nya, menjalani setiap detail kehidupan dengan cara Tuhan, terus-menerus mencari kehendak-Nya, serta bertanya kepada Tuhan dalam mengambil setiap keputusan, baik yang besar maupun yang kecil.

Kehidupan yang berakar pada Tuhan akan memfilter cara pikir dan cara hidup kita. Kita dituntun untuk melihat kehidupan ini dengan cara pandang-Nya, membuat keputusan dengan cara pikir-Nya, serta menghadapi kesulitan dengan iman yang tetap teguh. Dalam prosesnya, Roh Kudus tidak meninggalkan kita menghadapi kehidupan ini sendirian. Ia akan menolong dan menopang kita sehingga kita bukan hanya makin berakar di dalam Dia, tetapi juga dapat bertumbuh dan berbuah bagi kemuliaan nama Tuhan. Oleh karena itu, sebagai tenaga pendidik, orang tua, dan murid, marilah kita terus berakar di dalam Tuhan agar hidup kita menyenangkan hati-Nya dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.

 

Kepenuhan Hidup dalam Kristus (Kolose 2:6–7)
“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu, hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia. Hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.”

Identitas Orang yang Lahir Baru

Kisah Nikodemus

 

Stella Ika Yunita Tahapary (staf PK3)

 

Dasar Identitas

Kasih Allah menjadi dasar dari identitas baru orang yang lahir kembali di dalam Kristus. Melalui percakapan Yesus dengan Nikodemus dalam Yohanes pasal 3, kita melihat bahwa kelahiran baru bukanlah hasil usaha manusia, melainkan respons terhadap kasih Allah yang begitu besar—kasih yang rindu menyelamatkan manusia dari kebinasaan dan menganugerahinya hidup yang kekal.
Pernahkah kita berpikir, siapakah jati diri kita yang sesungguhnya?

 

Identitas Sejati

Setiap hari, kita mungkin membawa dokumen identitas seperti KTP, SIM, atau paspor. Dokumen-dokumen tersebut mencatat data fisik dan legal kita. Namun, apakah hal itu cukup untuk mendefinisikan siapa diri kita? Tentu tidak. Identitas sejati melampaui sekadar tulisan di atas kertas; ia adalah “akar” yang membentuk cara kita berpikir, bersikap, dan memandang hidup.

Sebagai orang percaya, bagaimana kita menyandang identitas “lahir baru” di tengah dunia yang fana ini? Untuk memahami hal tersebut, mari kita belajar dari Nikodemus. Ia adalah seorang Farisi—seorang terpelajar yang memahami Hukum Taurat dengan sangat baik. Namun, secara mengejutkan, ia justru mengalami kebingungan ketika Yesus berkata:

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh. Janganlah engkau heran karena Aku berkata kepadamu: kamu harus dilahirkan kembali.”

Dua Macam Identitas

Melalui kisah Nikodemus, Yesus membedakan dua jenis identitas manusia. Pertama, daging (sarx). Daging melambangkan natur manusia yang berdosa, yang cenderung hidup mandiri tanpa Tuhan dan menuruti hawa nafsu. Apa yang dilahirkan dari daging menghasilkan dosa (Galatia 5:19–21). Identitas lama ini berpusat pada diri sendiri.
Kedua, roh (pneuma). Roh melambangkan Roh Kudus sebagai Sang Pemberi Hidup. Orang yang dilahirkan oleh Roh menjadi “anak-anak Allah” (Roma 8:14), dipimpin oleh Roh, dan menghasilkan buah Roh (Galatia 5:22–23). Lahir baru berarti mengalami pergantian identitas, dari sarx menuju pneuma.

Menanggapi hal ini, teolog Tim Keller mengemukakan tiga tanda nyata dari seseorang yang memiliki identitas sebagai orang yang telah lahir baru. Pertama, kesadaran akan kehadiran Tuhan. Hidup tidak lagi dipenuhi kekosongan, melainkan persekutuan yang hidup dengan Allah setiap hari. Kedua, transformasi oleh firman. Alkitab tidak lagi sekadar menjadi buku pengetahuan, melainkan kekuatan yang secara aktif mengubah cara hidup serta keputusan yang diambil. Ketiga, kekaguman akan kasih karunia. Semakin seseorang mengenal Tuhan, ia tidak menjadi sombong secara rohani, tetapi justru semakin rendah hati dan menghargai anugerah-Nya yang tak terhingga.

 

Menghidupi Identitas

Pada akhirnya, identitas kita sebagai orang yang lahir baru berakar sepenuhnya pada kasih Allah yang tidak bersyarat—kasih yang rela memberikan Anak-Nya yang tunggal demi keselamatan kita. Kiranya kasih ini tidak berhenti hanya sebagai pemahaman intelektual, melainkan menjadi identitas yang sungguh kita hidupi. Marilah kita menunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah milik Kristus melalui perkataan dan perbuatan yang memancarkan kasih-Nya.

Ibadah Syukur HUT ke-30 Sekolah Athalia

Klik di sini untuk melihat/men-download album dokumentasi rangkaian acara HUT ke-30 Sekolah Athalia.

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan (Staf PK3)

Penyertaan Tuhan

Perjalanan selama tiga puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Perjalanan ini juga tidak selalu dilalui dengan kegemilangan dan tanpa rintangan. Namun, perjalanan ini layak untuk dijalani, bahkan disyukuri, sebab ada Tuhan di sana dengan anugerah-Nya. Tuhan hadir, memimpin, menyertai, serta menopang Sekolah Athalia sampai hari ini. Perjalanan ini menjadi bukti nyata betapa luar biasanya Allah yang berkarya di sekolah ini.

Acara Ibadah Syukur dalam Rangka HUT ke-30 Sekolah Athalia

Oleh sebab itu, pada momen HUT ke-30 Athalia ini, Komunitas Sekolah Athalia bersama-sama menikmati Ibadah Syukur. Ibadah syukur khusus karyawan diadakan pada Jumat, 24 Oktober 2025, dan dilayani oleh Pdt. Yung Tik Yuk. Sedangkan ibadah syukur untuk umum beserta tamu undangan diadakan pada Sabtu, 25 Oktober 2025, dilayani oleh Ev. Anne Kartawijaya.

Ibadah Syukur ini kembali mengingatkan setiap anggota komunitas betapa besar dan ajaib kebaikan dan karya Tuhan di tengah Sekolah Athalia. Ibadah ini diwarnai dengan pujian, penghormatan, dan pengagungan atas kasih setia Allah kepada komunitas ini. Selain itu juga melalui kesaksian kisah hidup dari guru, siswa, dan orang tua yang secara langsung merasakan topangan tangan Tuhan.

Setiap kesaksian membuktikan bagaimana Tuhan setia dan terus bekerja dalam hidup setiap individu maupun komunitas Athalia. Kesaksian dari rekan-rekan mengingatkan kembali tentang bagaimana Tuhan berkenan memakai sekolah ini untuk terus menjadi berkat bagi banyak orang. Setiap pembelajaran dan setiap interaksi dipakai Tuhan untuk membentuk komunitas Athalia agar terus mengandalkan Tuhan dan makin serupa dengan Kristus.

Kebenaran firman Tuhan yang disampaikan oleh hamba-hamba-Nya juga mengingatkan setiap pendengar untuk terus berjalan bersama Tuhan. Diajak untuk mengalami Tuhan, baik di dalam komunitas Athalia maupun dalam kehidupan pribadi. Juga untuk memiliki perspektif yang benar dan mengikuti kehendak Tuhan dalam dunia pendidikan: mendidik anak untuk hidup takut akan Tuhan dan makin serupa dengan Kristus.

Komitmen untuk terus berjalan bersama Tuhan juga diteguhkan bersama-sama dalam ibadah ini. Ibadah diakhiri dengan pujian syukur atas apa yang telah Tuhan kerjakan di dalam dan melalui Sekolah Athalia. Selain itu juga sekaligus menaikkan doa agar Tuhan terus memimpin perjalanan Athalia selanjutnya.

Doa dan Harapan

Perjalanan Sekolah Athalia ke depan mungkin akan penuh tantangan, ditambah lagi dengan kemajuan zaman yang dapat menggerus iman anak-anak Tuhan. Oleh sebab itu, mari kita terus berdoa bagi Sekolah Athalia. Kiranya Tuhan terus menjaga dan memakai sekolah ini untuk membimbing setiap siswa menjadi murid Tuhan dan menghidupi rencana Tuhan baginya.

Doakan juga setiap anggota Komunitas Athalia—yayasan, pimpinan, karyawan, siswa, serta orang tua—agar bertumbuh dalam iman, memiliki karakter Kristus, dan menjadi terang di mana pun berada. Kiranya Sekolah Athalia terus meninggikan Tuhan dan dipakai Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya di setiap zaman.
Soli Deo Gloria.

HUT ke-80 RI di Athalia – sekolah Kristen di Serpong

Delapan puluh tahun yang lalu, para pahlawan berjuang dengan semangat, doa, dan harapan akan masa depan Indonesia yang lebih baik.
Mereka percaya, Indonesia harus merdeka —
agar anak cucu bisa menikmati hidup yang damai, aman, dan sejahtera.

Hari ini, kemerdekaan itu sudah ada di tangan kita.
Tapi perjuangan belum selesai.
Sekarang giliran kita untuk menjaga dan meneruskannya.

Di Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di Serpong,
kami turut ambil bagian dalam perjuangan ini —
melalui pendidikan karakter yang ditanamkan sejak awal.
Kami percaya, bangsa yang besar dimulai dari generasi muda yang punya hati benar,
berintegritas, dan siap membawa Indonesia maju.

Mari terus jaga persatuan,
teguhkan kedaulatan,
wujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dari Athalia, sekolah Kristen di Serpong, kami membawa semangat dan cinta untuk Indonesia Maju.
Dirgahayu ke-80 Republik Indonesia!
Merdeka!

HUT ke-80 RI di Athalia, sekolah Kristen di Serpong Utara

Ikuti IG Sekolah Athalia: komunitassekolahathalia (https://www.instagram.com/komunitassekolahathalia)

HUT ke-30 Athalia: Rangkaian Acara

HUT ke-30 Athalia

Dalam rangka menyambut HUT ke-30 Athalia, Sekolah Athalia mengadakan rangkaian acara bertema ‘God’s Amazing Journey‘. Tema ini dipilih sebagai bentuk refleksi atas penyertaan Tuhan yang luar biasa sejak Sekolah Athalia berdiri 30 tahun yang lalu hingga saat ini.

Berikut adalah rangkaian acara HUT ke-30 Sekolah Athalia:

  1. Seminar 6uru: 12 April 2025
  2. Seminar Pasutri: 24 Mei 2025
  3. Family Day: 7 Juni 2025
  4. Alumni Homecoming: 5 Juli 2025
  5. AORTAlia (Alumni Orang Tua Athalia) Homecoming: 20 September 2025
  6. Ibadah Syukur: 25 Oktober 2025


Untuk informasi lengkap seputar jadwal dan detail acara, kunjungi Instagram resmi Sekolah Athalia di komunitassekolahathalia.

Mari rayakan bersama momen penuh makna ini dan jadi bagian dari God’s Amazing Journey!

Baca juga: Ibadah Syukur HUT ke-25 Tahun Sekolah Athalia

Siapakah Sesamaku Manusia?

Stella Ika Yunita Tahapary (Staf Kerohanian PK3)

engasihi sesama manusia

Mengasihi Sesama Manusia tanpa Pandang Bulu

Yesus cinta semua anak, semua anak di dunia, kuning, putih, dan hitam semua dicinta Tuhan..” kalimat ini adalah lirik dalam sebuah lagu Sekolah Minggu yang menyampaikan pesan tentang kasih Allah yang besar untuk semua orang dari berbagai ras, suku, dan budaya. Kasih Tuhan tidak membedakan siapa kita, tetapi menyentuh setiap hati yang terbuka untuk menerima-Nya. Kasih Allah memberikan teladan kepada kita untuk bisa mengasihi sesama manusia tanpa memandang kesamaan atau perbedaan di antara manusia, lalu siapakah yang dimaksud dengan sesama kita?

Perumpamaan Tentang Kisah Orang Samaria yang Baik Hati

Salah satu kisah yang sangat mengesankan dalam Alkitab adalah perumpamaan tentang seorang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37). Tuhan Yesus memberi gambaran empat tokoh dalam kisah ini. Tokoh pertama adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Yerusalem adalah kota suci bagi umat Israel dan Yerikho adalah kota yang terletak lebih rendah, sehingga perjalanan ini biasanya dilakukan setelah seseorang selesai beribadah. Dalam perjalanan ini, orang tersebut dirampok oleh penyamun dan dibiarkan terluka setengah mati.

Tokoh kedua adalah seorang imam dan tokoh ketiga adalah orang Lewi. Keduanya sama-sama melayani Tuhan. Kedua tokoh ini adalah orang-orang yang seharusnya lebih peka terhadap penderitaan sesama. Namun, keduanya melewati orang yang terluka itu dan tidak memedulikan nasibnya. Mereka lebih memilih untuk menghindar daripada menolong. Hal ini menunjukkan ironi yang mendalam: orang-orang yang mengaku sebagai pelayan Tuhan dan rajin beribadah justru gagal mengamalkan kasih Allah dalam kehidupan nyata mereka.

Tokoh keempat adalah seorang Samaria yang mungkin tidak terduga bagi ahli Taurat. Orang Samaria sering dianggap lebih rendah oleh orang Yahudi karena mereka merupakan keturunan campuran antara orang Yahudi dan bangsa lain. Namun, dalam perumpamaan ini, orang Samaria justru menunjukkan tindakan kasih yang luar biasa. Hatinya tergerak oleh belas kasihan (Lukas 10:33). Ia membalut luka-luka orang yang terluka itu dengan minyak dan anggur dan membawanya ke tempat penginapan untuk dirawat lebih lanjut. Ia bahkan rela berkorban lebih jauh dengan memberikan uang kepada pemilik penginapan dan menjanjikan pembayaran lebih jika diperlukan.

Tiga hal yang dilakukan oleh orang Samaria ini adalah:

  1. Tergerak oleh belas kasihan: Ia tidak peduli dengan latar belakang orang yang terluka itu. Hanya belas kasihan yang mendorongnya untuk bertindak.
  2. Melayani dengan sukacita: Orang Samaria ini menolong dengan sukacita tanpa mengharapkan balasan.
  3. Rela berkorban: Ia berkorban baik waktu, tenaga, dan uang untuk menolong orang yang terluka itu.

Jika kita merangkum kisah ini, tiga hal yang dilakukan oleh orang Samaria adalah contoh nyata dari kasih yang diajarkan Yesus kepada kita. Sama seperti orang Samaria, Yesus Kristus juga datang untuk menolong kita yang berdosa. Ia tergerak oleh belas kasihan, menolong kita dengan sukacita, dan rela berkorban dengan memberikan hidup-Nya untuk menanggung dosa kita. Kasih Allah yang besar inilah yang seharusnya kita teladani dalam hidup kita.

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk mengasihi sesama tanpa membedakan latar belakang baik itu agama, suku, ras, atau status sosial. Seperti orang Samaria yang menolong tanpa memandang perbedaan, kita juga diajak untuk menunjukkan kasih Allah dengan cara yang sama. Kasih yang tidak membeda-bedakan, kasih yang tergerak oleh belas kasihan, kasih yang melayani dengan sukacita, dan kasih yang rela berkorban.

Pada bulan ini, banyak orang merayakan hari Valentine, hari yang penuh kasih dengan berbagi kepada orang yang mereka kasihi. Namun, kita sebagai orang Kristen dipanggil untuk berbagi kasih dengan cara yang lebih luas. Kasih yang melampaui batas-batas yang sering dibentuk oleh dunia. Mungkin Tuhan menggerakkan Anda untuk berbagi kasih dengan orang yang berbeda agama, berbeda suku, atau bahkan dengan musuh kita. Semua ini kita lakukan dengan satu kesadaran bahwa Allah terlebih dahulu mengasihi kita, sehingga kita bisa mengasihi sesama kita. Kiranya Tuhan menolong kita menjadi saluran berkat bagi sesama.

Waspada! Ini 10 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua

keluarga

 

Dr. Paul Bohn, seorang psikiater, mengatakan bahwa orang tua zaman sekarang sering kali berusaha melindungi anak-anak mereka dari segala bentuk ketidaknyamanan. Akibatnya, ketika anak menghadapi kegagalan dalam hidup, mereka merasa ada sesuatu yang sangat salah terjadi.

Terlalu memanjakan, ingin menjadi sahabat terbaik, hingga menetapkan standar yang tidak realistis. Apakah Anda termasuk salah satu yang melakukannya?

Yuk, simak dan refleksikan cara kita dalam mengasuh anak!

10 Kesalahan Orang Tua yang Sering Dilakukan

Kesalahan No. 10: Memuja Anak Berlebihan

Banyak keluarga modern tanpa sadar hidup dalam komunitas child-centric (menempatkan anak sebagai pusat dari segala hal). Hal ini mendorong orang tua untuk melakukan segala sesuatu, membelikan, dan menghujani anak dengan cinta serta perhatian.

Meskipun begitu, Dr. Paul Bohn berpikir bahwa sangat penting untuk mengingat bahwa anak-anak kita diciptakan untuk dicintai, bukan dipuja. Ketika kita memperlakukan mereka sebagai pusat dari dunia, kita menciptakan idola palsu. Daripada rumah yang child-centric, kita seharusnya mengusahakan sebuah rumah yang Christ-centric (berpusat pada Kristus). Anak-anak kita tetap dicintai, hanya saja dalam cara yang lebih baik, yang mengutamakan ketidakegosian di atas keegoisan.

Kesalahan No. 9: Menganggap Anak Selalu Sempurna

Banyak orang tua sulit menerima kritik tentang anak mereka, bahkan ketika disampaikan atas dasar kasih dan demi kebaikan anak mereka. Akibatnya, mereka menolak kenyataan dan kehilangan kesempatan untuk mencegah masalah sebelum berkembang lebih jauh.

Kenyataan dapat menyakitkan, tetapi ketika kita mendengar dengan hati dan pikiran yang terbuka, hal itu akan menguntungkan kita. Kita dapat mencegah lebih dini sebelum situasi berkembang di luar kendali. Sangat mudah untuk menghadapi anak bermasalah daripada memperbaiki orang dewasa yang sudah rusak.

Seorang psikiater dari Children’s of Alabama menegaskan bahwa intervensi dini adalah kunci. Anak-anak lebih elastis dan lebih mudah dibantu saat masih muda. Ketika masalah berlangsung cukup lama, maka hal itu akan menjadi bagian dari identitas mereka.

Kesalahan No. 8: Hidup Melalui Anak

Orang tua tentu bangga melihat anaknya sukses. Bahkan terkadang, kita dapat lebih bahagia daripada aat kita sendiri yang mencapainya. Namun, bahaya muncul ketika anak menjadi perpanjangan eksistensi kita.

Tanpa sadar, kita melihat mereka sebagai kesempatan kedua untuk meraih impian yang belum tercapai. Akhirnya, itu bukan lagi mengenai mereka, tetapi mengenai kita. Inilah dimana kebahagiaan mereka menjadi tercampur aduk dengan kebahagiaan kita.

Kesalahan no. 7: Ingin Menjadi BFF (Best Friend Forever) Anak

Dalam ceritanya, Dr. Paul Bohn membagikan dirinya yang pernah bertanya kepada seorang imam untuk menyebutkan kesalahan orang tua terbesar yang dia lihat dalam mengasuh anak. Imam tersebut berpikir sesaat kemudian menjawab, “Ketika orang tua tak berani mengambil peran sebagai orang tua”.

Tentu, saya sebagai orang tua ingin dicintai dan dihargai oleh anak-anak. Tetapi, jika saya melakukan tugas sebagai orang tua dengan benar, mereka akan marah dan kadang-kadang tidak menyukai saya. Mereka akan memutar mata mereka, menguap, dan mengerang, dan berharap mereka dilahirkan di keluarga lain.

Itu bagian dari proses tumbuh kembang. Fokuslah untuk menjadi orang tua yang membimbing, bukan sekadar menyenangkan. Di samping itu, berusaha jadi BFF hanya membuat kita permisif dan takut kehilangan persetujuan mereka—yang justru bisa berdampak buruk bagi masa depan mereka.

Kesalahan no. 6: Mengasuh Secara Kompetitif

Di era persaingan ketat, banyak orang tua terjebak dalam pengasuhan kompetitif, bahkan hingga merusak hubungan dengan keluarga lain. Semua berakar dari rasa takut seperti takut anak tertinggal, takut mereka tak cukup sukses, dan lain sebagainya.

Akibatnya, banyak orang tua berusaha membekali anak mereka dengan berbagai kursus dan teknologi sejak dini, dengan harapan dapat meningkatkan peluang kesuksesan di masa depan. Namun, sejatinya kesuksesan bukan sekadar mengikuti tren, melainkan dibangun melalui karakter yang kuat dan etos kerja yang tinggi. Anak perlu memahami bahwa pencapaian tidak diberikan begitu saja, tetapi harus diperjuangkan dengan dedikasi dan usaha.

Karakter mungkin tidak terlihat penting pada masa remaja. Namun pada masa dewasa, itu adalah segalanya.

Kesalahan no. 5: Tidak Menikmati Masa Kecil Anak

Membesarkan anak adalah perjalanan yang melelahkan, baik secara fisik maupun emosional. Tak jarang, kita berharap mereka cepat tumbuh demi kenyamanan kita. Kita juga bertanya-tanya tentang masa depan mereka. Apa yang menjadi passion mereka? Apakah Tuhan memberikan karunia yang jelas? Apakah bakat seni mereka akan menjadikan mereka Picasso berikutnya, atau apakah suara merdu mereka akan membawa mereka setenar Taylor Swift?

Sebagai orang tua kita berharap demikian untuk mengetahui kekuatan memelihara mana yang akan memampukan kita untuk mengarahkan mereka pada arah yang jelas.

Namun, di tengah ambisi itu, kita mungkin lupa untuk membiarkan anak kita menjadi anak kecil dan menikmati satu-satunya masa kecil yang diberikan pada mereka. Bagi mereka, hal ini bukan tentang menjadi produktif, ini tentang keberadaan/ menjadi ada. Ini tentang bermimpi besar dan menikmati kehidupan. Tekanan pada anak-anak dimulai terlalu cepat. Kita perlu melindungi mereka dari tekanan-tekanan itu. Kita perlu untuk membiarkan mereka bersenang-senang dan tumbuh sesuai dengan kecepatan mereka, sehingga:

  1. Mereka dapat mengeksplore ketertarikan mereka tanpa takut gagal, dan
  2. Mereka tidak “burned out”.

Izinkan anak tumbuh sesuai ritmenya. Biarkan mereka bermain, mengeksplorasi, dan menikmati satu-satunya masa kecil yang mereka miliki. Sebab, sekali terlewat, masa itu tak akan pernah kembali.

Kesalahan no. 4: Memaksakan Impian pada Anak

Sebagai orang tua, kita memiliki mimpi untuk anak-anak kita. Hal itu bermula ketika kita hamil, sebelum jenis kelaminnya diketahui. Diam-diam kita berharap agar anak kita menjadi seperti kita, namun lebih pintar dan lebih bertalenta.

Tetapi ironinya adalah, anak-anak kita mengikuti cetakan kita dengan cara yang terbalik. Mereka keluar dari jalur dengan cara yang tidak dapat kita antisipasi. Tugas kita adalah mencari tahu sifat mereka, tunduk pada ketetapan Allah, dan melatih mereka pada ketetapan Allah. Memaksakan mimpi kita pada mereka tidak akan berhasil. Hanya ketika kita melihat mereka sebagaimana adanya merekalah yang dapat membuat kita dapat berdampak kuat dalam kehidupan mereka.

Kesalahan no. 3: Tidak Memberi Contoh yang Baik

Ada pepatah, “Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata.”

Sama halnya dengan pepatah di atas, kata-kata bijak saja tidak cukup jika tidak disertai dengan teladan dalam mendidik anak. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat. Cara kita menghadapi kegagalan, memperlakukan orang lain, atau berbicara tentang pasangan, semuanya menjadi contoh yang mereka tiru.

Bagaimana orang tua menghadapi penolakan dan penderitaan… bagaimana orang tua memperlakukan teman dan orang asing… anak-anak memperhatikan hal-hal ini. Cara orang tua merespon memberikan mereka ijin untuk bertindak dan melakukan hal yang sama.

Jika ingin anak-anak menjadi luar biasa, kita harus memiliki tujuan yang luar biasa juga. Ketika ingin anak-anak memiliki kualitas tertentu, maka kita harus terlebih dahulu memiliki kualitas tersebut. Dengan begitu kita sebagai orang tua dapat menjadi contoh bagi mereka, tidak sekedar menyuruh mereka menaati perkataan kita.

Kesalahan no. 2: Menghakimi Orang Tua Lain

Setiap orang tua memiliki pendekatan unik dalam membesarkan anak, dipengaruhi oleh nilai, pengalaman, dan situasi masing-masing. Meskipun kita mungkin tidak selalu setuju dengan pola asuh orang lain, penting untuk diingat bahwa tidak ada metode yang mutlak benar atau salah.

Dengan bersikap lebih terbuka dan menghargai perbedaan, kita tidak hanya menghindari konflik yang tidak perlu tetapi juga memberikan contoh positif bagi anak-anak kita tentang pentingnya toleransi dan kebijaksanaan dalam menilai orang lain.

Kesalahan no. 1: Meremehkan Pentingnya Karakter

Banyak orangtua tidak fokus dalam mengembangkan karakter anak dan bahkan menganggap karakter sebagai hal yang tidak penting. Padahal, karakter inilah yang akan meletakkan dasar mereka untuk bahagia dan masa depan yang sehat. Hal-hal ini lebih penting dari pada semua nilai, rapor, dan penghargaan yang pernah mereka terima.

Tidak seorangpun dari kita dapat memaksa anak kita untuk memiliki karakter tertentu. Hal ini karena bagi anak-anak usia 10 atau 15 tahun, karakter tidak akan berarti banyak. Mereka cenderung lebih peduli pada penghargaan secara langsung yang diberikan pada saat itu juga (short-term gratification). Namun, kita tahu bahwa apa yang akan terjadi pada usia 25, 30, dan 40 bukanlah seberapa jauh mereka dapat melempar bola, atau apakah mereka menjadi cheerleader, tetapi bagaimana mereka memperlakukan orang lain dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri. Jika kita ingin agar mereka membangun karakter, kepercayaan diri, kekuatan, dan kegembiraan, kita butuh untuk membiarkan mereka menghadapi kesengsaraan dan mengalami kebanggaan yang mengikuti ketika mereka menjadi lebih kuat di sisi lain.

Sulit untuk melihat anak-anak kita jatuh, tetapi kadang-kadang kita harus. Terkadang, rasa sakit jangka pendek adalah investasi bagi pertumbuhan dan ketahanan mereka di masa depan.

Karakter: Warisan Terbesar untuk Anak

Mengasuh anak memang bukan hal yang mudah, dan tidak ada orang tua yang sempurna. Namun, dengan memahami kesalahan orang tua dalam mendidik anak, kita bisa berusaha menjadi lebih baik.

Mari refleksikan kembali: Apakah Anda pernah melakukan salah satu kesalahan di atas? Bagaimana cara Anda memperbaikinya?

Kari Kubiszyn Kampakis.

Sumber: http://www.viacharacterblog.org/

13 Tips untuk Mengatasi Kemalasan

Kemalasan sepertinya sudah mendarah daging dalam diri manusia. Namun tetap saja hidup yang penuh dengan kemalasan tidak akan dapat membawa kebaikan. Khususnya saat kita bekerja. Apakah kita dapat mengalahkan kemalasan dan memberi diri yang terbaik untuk menyelesaikan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita? Berikut ini adalah 12 tips mengatasi kemalasan yang dapat membantu kita melawan kemalasan dalam diri.

1. Break down a task into smaller tasks

Kita seringkali menghindari tugas karena kita melihatnya terlalu besar, terlalu membutuhkan banyak tenaga dan waktu. Memecah tugas menjadi tugas-tugas sederhana dapat mengatasi hal ini. Maka setiap tugas tidak akan terlihat terlalu sulit atau mengintimidasi. Daripada langsung mengerjakan satu tugas besar, kita dapat menyelesaikan tugas-tugas kecil yang tidak terlalu membutuhkan banyak tenaga. Pendekatan ini dapat diaplikasikan tak hanya dalam mengerjakan tugas, tetapi juga tujuan atau capaian lain yang perlu kita lakukan. Hal ini cenderung dapat mengurangi kemalasan yang sering kita rasakan.

2. Rest, sleep and exercise

Dalam kasus tertentu, kemalasan dapat diakibatkan kelelahan dan kekurangan energi. Jika hal ini yang terjadi, kita perlu beristirahat dan juga memberikan tubuh latihan yang cukup serta udara yang segar.

3. Motivation

Dalam kasus tertentu, alasan dari kemalasan adalah karena kurangnya motivasi. Kita dapat memperkuat motivasi melalui afirmasi/penegasan, visualisasi dan pikiran mengenai pentingnya melakukan dan mengerjakan tugas untuk mencapai tujuan.

4. Have a vision of what and who you want to be

Seringkali dengan merefleksikan diri pada sosok ideal kita, tujuan yang kita ingin capai, kehidupan yang kita inginkan, dapat memotivasi kita untuk memulai aksi kita.

5. Think about benefits

Pikirkan keuntungan-keuntungan yang akan kita raih bila kita mengatasi kemalasan dan mulai bekerja, dari pada berpikir mengenai kesulitan dari tugas-tugas yang ada. Fokus pada kesulitan dari tugas dapat membuat kita menjadi lemah dan putus asa, ingin menghindar dan malas. Penting untuk kita memfokuskan pikiran dan perhatian pada hal yang positif dan tidak fokus pada hal-hal yang menyulitkan/menghambat.

6. Thinking about the consequences

Pikirkan mengenai apa yang akan terjadi bila kita mengalah pada kemalasan dan tidak melaksanakan tugas kita. Pikiran mengenai konsekuensi ini dapat mendorong kita juga untuk mulai mengerjakannya.

7. Doing one thing at a time

Fokuslah untuk mengerjakan satu hal di satu waktu. Jika kita merasa ada banyak hal yang harus dilakukan kita mungkin akan langsung merasa terbanjiri tugas dan membiarkan kemalasan menguasai kita dimana seharusnya kitalah yang menguasai kemalasan kita.

8. Visualization

Imajinasi kita memiliki pengaruh yang besar pada pikiran, kebiasaan dan sikap kita. Visualisasikan diri kita mengerjakan tugas dengan mudah dan penuh semangat. Lakukan hal ini sebelum memulai satu tugas dan juga ketika merasa malas atau ketika pikiran berbisik pada kita untuk meninggalkan tugas-tugas.

9. Repeat affirmations

Katakan pada diri sendiri:

“Saya dapat mencapai tujuan dan target saya.”

“Saya memiliki energi dan motivasi untuk bekerja dan melakukan apa yang saya inginkan.”

“Mengerjakan sesuatu membuat saya lebih kuat.”

“Melakukan sesuatu membuat semua mungkin tercapai.”

10. Regards a task as an exercise

Anggaplah setiap tugas sebagai latihan untuk membuat kita lebih kuat, lebih meyakinkan dan lebih tegas.

11. Procrastination

Hindari penundaan yang merupakan salah satu bentuk kemalasan. Jika ada hal yang harus dilakukan, mengapa tidak melakukannya sekarang dan menyelesaikannya? Kenapa membiarkannya mengganggu pikiran kita?

12. Learn from successful people

Lihatlah orang-orang yang sukses, dan bagaimana mereka tidak membiarkan kemalasan menang. Belajarlah dari mereka, bicara pada mereka dan asosiasikan diri dengan mereka.

13. Pray

Satu hal yang tak boleh kita lupakan saat bekerja adalah memulainya dengan doa. Jika kita percaya bahwa setiap pekerjaan berasal dari Tuhan dan untuk Tuhan saja maka tentunya kita dapat lebih termotivasi untuk menyelesaikannya. Bersandarlah dan minta pertolongan pada Tuhan saat pikiran dan kemalasan menghinggapi diri kita.

Dari tips mengatasi kemalasan di atas, mana yang paling mudah untuk dipraktekkan?

Diterjemahkan dari     : www.successconsciousness.com/overcoming-laziness.html-LDS

“Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga,”

Amsal 12:27

Baca juga: Rajin