Learning with Wonder: Makin Tahu, Makin Kagum

Mercy Gracia Mintodihardjo (Staf Chaplain)

 

Dalam bahasa Inggris, wonder dapat berarti rasa kagum (kata benda) sekaligus rasa ingin tahu (kata kerja). Kita sering mengira bahwa semakin banyak belajar, semakin kecil ruang bagi rasa kagum. Seperti trik sulap, begitu mekanismenya kita pahami, hal itu tidak lagi mengagumkan kita.

Namun, true learning tidak memadamkan wonder (rasa kagum). Bila dijalani dengan benar, belajar mengenal Allah dan dunia ciptaan-Nya justru akan menumbuhkan rasa kagum yang dalam dan berkelanjutan.

1. Learning with wonder begins with seeing

“O Lord my God,
When I in awesome wonder,
Consider all the works
Thy hands have made,
I see the stars,
I hear the rolling thunder,
Thy pow’r throughout
The universe displayed!”

 

Himne ini senada dengan perenungan Daud ketika ia mengagumi alam semesta buatan Allah (Mazmur 8:2–4). Kejadian 1:31 menceritakan bagaimana Allah melihat ciptaan-Nya dan menilai bahwa semuanya “sungguh amat baik”.

Learning with wonder dimulai dengan melihat kepada Allah yang terus setia memelihara ciptaan-Nya—Sang Pencipta yang membentuk setiap serpih salju dengan keunikannya dan meragamkan warna daun musim gugur. Kemudian, kita melihat kepada diri sendiri yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya serta telah diberi kehormatan sekaligus tanggung jawab untuk memelihara ciptaan sebagai wakil Allah (Mazmur 8:5–9).

Cara paling mendasar dalam memelihara ciptaan adalah dengan belajar. Ketika kita memahami bahwa segala sesuatu yang kita pelajari adalah ciptaan Allah yang baik dan indah, belajar tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang biasa atau remeh. Semakin kita belajar, semakin kita mampu menolong orang lain melihat apa yang telah Allah jadikan.

2. Learning with wonder requires us to open up

Learning with wonder berarti membuka diri terhadap hikmat Allah dan cara kerja-Nya yang dahsyat, sambil menyadari keterbatasan pemahaman kita. Inilah yang diakui Ayub ketika menyadari kekeliruannya:

“..tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui.”
(Ayub 42:3)

 

Namun, keterbatasan ini tidak membuat kita putus asa, melainkan melatih kita untuk rendah hati ketika belajar. Keterbatasan tersebut membuat kita menghargai proses, menyambut pertanyaan-pertanyaan sulit, dan menerima kenyataan bahwa akan selalu ada misteri sekalipun kita terus belajar.

3. Learning with wonder asks us to stop

Learning with wonder berarti berhenti sejenak, menyisihkan waktu untuk mengagumi, merenungkan, dan menikmati Allah serta karya-Nya. Dengan kata lain, learning with wonder berarti membiarkan Allah menjadi Allah dan manusia menjadi manusia.

Di manakah tempat terbaik untuk berhenti dan mengagumi-Nya? Di kaki Yesus Kristus. Puncak kemuliaan dari karya ajaib Allah. Di antara jutaan bintang dan atom mikroskopis. Keajaiban terbesar di alam semesta ada pada kayu salib—tempat Anak Allah, Yesus Kristus, menyerahkan nyawa-Nya bagi orang berdosa.

“And when I think
That God, His Son not sparing,
Sent Him to die,
I scarce can take it in
That on the cross,
My burden gladly bearing,
He bled and died

To take away my sin!

 

Berbeda dari trik sulap, makin kita mempelajari dan memahami Allah serta karya-Nya, makin besar wonder yang kita dapatkan. Maka, mari renungkan bagaimana kita bisa learning with wonder. Mungkin dengan tetap tekun belajar pada pelajaran yang tidak kita sukai, menciptakan lingkungan yang aman untuk bertanya, dan menjawab setiap pertanyaan dengan sabar.

Tuhan, tolonglah kami, komunitas sekolah Athalia, agar bisa learning with wonder. Amin.

Menemani Remaja Menjadi Sesama yang Baik

Beryl Sadewa (Kepala SMP Athalia)

 

Keunikan Murid SMP

Masa remaja awal di jenjang SMP merupakan fase transisi kritis yang penuh gejolak emosi dan perkembangan sosial. Pada usia ini, murid mulai beranjak dari cara berpikir konkret menuju pemikiran abstrak (formal operational stage). Mereka mulai aktif mencari jati diri, serta mulai menggumulkan dan mempertanyakan iman mereka secara pribadi (searching faith). Menyadari keunikan perkembangan tersebut, pendidik di SMP Athalia dipanggil tidak hanya untuk mentransfer ilmu. Namun juga menemani, memahami, dan memfasilitasi pertumbuhan murid secara utuh.

Pembentukan Profil Murid

Melalui landasan ini, SMP Athalia menghadirkan Pathway Keunikan Unit (PKU). PKU ini didesain khusus untuk membentuk profil murid SMP Athalia, yaitu Good Neighbor. Program ini melatih remaja yang biasanya terfokus pada diri sendiri agar mulai berorientasi ke luar diri dan peduli pada sesama. Profil ini dibangun secara konsisten di atas empat karakter utama, yaitu:

  • tanggung jawab (responsibility)
  • kepuasan hati (contentment)
  • kerendahan hati (humility)
  • dan kemurahan hati (generosity).

Tahap dalam Perjalanan Pathway Keunikan Unit

Perjalanan PKU ini dirancang secara sistematis dalam tiga tahap yang selaras dengan perkembangan murid di setiap jenjang. Di kelas VII, murid berada pada tahap Understanding Self. Di tahap ini murid diajak mengenali kepribadian, potensi diri, hingga regulasi emosi melalui refleksi dan kemandirian. Proses adaptasi awal ini diperkuat lewat kegiatan Prepare to Learn Program (PLP) dan program Retreat.

Di kelas VIII, murid memasuki tahap Understanding Others. Pada tahap ini, murid diajak untuk mulai mengalihkan fokus kepada orang lain, terutama orang-orang di sekitar mereka. Mereka diajak belajar bekerja sama, menumbuhkan empati, dan membangun persahabatan yang sehat. Pada tahap ini, sekolah memfasilitasi murid untuk belajar menerapkannya, antara lain, dalam kegiatan Caring and Sharing Camp.

Akhirnya, di kelas IX, murid dipersiapkan dalam tahap Serving Others untuk menumbuhkan tanggung jawab sosial, kepemimpinan, dan rekonsiliasi. Sekolah mendukung murid mendapatkan pengalaman nyata melalui program Field Trip. Program ini dirancang khusus untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat. Selain itu, mereka juga belajar melayani dan tinggal di tengah-tengah masyarakat yang mereka layani melalui program Live In.

Menjelang akhir masa pendidikan mereka di SMP, sekolah memfasilitasi murid untuk menyelesaikan konflik-konflik yang mungkin terjadi. Konflik-konflik yang ada dan belum selesai selama mereka menempuh pendidikan di SMP Athalia. Sarana yang disediakan adalah melalui program Rekoleksi. Selain itu, murid juga berlatih berpikir kritis dan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya untuk membantu sesama melalui program Graduate Impact Project.

SMP Athalia juga menyediakan ruang-ruang perjumpaan melalui Kelompok Tumbuh Bersama (KTB). Di sini, mereka diberikan kesempatan untuk menyalurkan kegelisahan dan pergumulan iman mereka. Dalam KTB ini, mereka didampingi oleh para pendidik yang siap membersamai perjalanan pertumbuhan iman mereka.

Komitmen Pendidik di SMP Athalia

Melalui semuanya ini, SMP Athalia berkomitmen mendampingi setiap remaja untuk bertumbuh menjadi pribadi yang peduli dan siap berdampak bagi sesama di dalam kasih Kristus.

Baca Juga: Membentuk Karakter Caring and Sharing Pada Anak

Komunitas yang Bertumbuh Bersama dalam Kisah-Nya

Oleh: Stella Ika Yunita Tahapary (Staf PK3)

 

Realitas Kesadaran Berkomunitas Hari Ini

Kita hidup di zaman yang memiliki tingkat kesadaran sangat tinggi. Banyak orang sadar akan pentingnya kesehatan sehingga mereka membentuk komunitas olahraga. Kesadaran akan kebersihan lingkungan melahirkan komunitas peduli lingkungan. Bahkan, kepedulian terhadap hewan menciptakan komunitas pecinta anjing dan kucing. Secara definisi, komunitas adalah kelompok orang yang hidup dan berinteraksi bersama karena memiliki kesamaan minat, nilai, atau tujuan hidup. Di dalam komunitas inilah, setiap individu belajar untuk saling mendukung dan melakukan hal yang mereka sukai secara bersama-sama.

Lalu, bagaimana Alkitab memandang sebuah komunitas? Di dalam Kisah Para Rasul 2:41–47, kita dapat melihat pola hidup jemaat mula-mula ketika mereka bersekutu. Firman Tuhan pada ayat 46 mencatat:
“Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati.”

Jika kita mengulas ayat tersebut, ada empat kata kunci utama yang menjadi fondasi persekutuan mereka:

  • Bertekun (proskartereo): memiliki arti senantiasa bersama-sama secara konsisten.
  • Sehati: menggambarkan kesatuan yang harmonis. Seperti berbagai instrumen musik dalam sebuah konser besar yang dipimpin oleh seorang konduktor, demikianlah Roh Kudus menyatukan setiap anggota jemaat Kristus.
  • Gembira: merupakan ungkapan sukacita murni yang mengalir dari Roh Kudus.
  • Tulus: mencerminkan kesederhanaan dan kejujuran moral yang sejati.

Jemaat mula-mula dapat hidup bersatu bukan karena kekuatan mereka sendiri, melainkan karena mereka dipersatukan oleh peristiwa turunnya Roh Kudus.

Kristus sebagai Dasar Persekutuan

Dietrich Bonhoeffer dalam bukunya Life Together menuliskan sebuah pesan berharga:
“Orang Kristen tidak hidup dalam persekutuan karena keinginan atau impian manusia, melainkan karena persekutuan itu ditemukan di dalam dan melalui Yesus Kristus. Dasar persekutuan kita bukan pada apa yang bisa kita berikan, melainkan pada apa yang telah Kristus lakukan bagi kita.”

Komunitas Kristen bukanlah sekadar tempat berkumpul dengan minat yang sama. Dasar dari persekutuan kita adalah karya Kristus yang telah menyelamatkan kita. Ketika kita berakar pada kisah kasih-Nya, kita dapat saling menerima, melayani, dan bertumbuh bersama secara sejati.

 

Akar dan Pertumbuhan Komunitas Kristen

Mari kita mengevaluasi persekutuan kita hari ini. Apakah komunitas kita sudah berakar pada kisah Kristus?
Ketika kita mengizinkan Roh Kudus memimpin persekutuan kita, kita akan memiliki ketekunan, kesatuan hati, sukacita, dan ketulusan. Mari kita terus bertumbuh bersama (growing together) di dalam kasih dan kebenaran-Nya.

Baca juga:

Perjalanan Mencari Komunitas yang Bertumbuh

Komunitas yang Membantu Bertumbuh

Mengenal Program Penelitian Murid SMA Athalia, Sebuah Upaya Menekuni Panggilan secara Akademis

Mengenal Program Penelitian Murid SMA Athalia
Gambar: magnific.com

Victor Sumua Sanga (Kepala SMA Athalia)

 

Pentingnya Penelitian

Mengapa penelitian penting bagi murid SMA? Penelitian menumbuhkan kepedulian dan kepekaan terhadap kebutuhan di sekitar dan kemampuan mencari solusi atasnya. Semangat ini berakar pada Kebenaran Alkitab dalam Filipi 2:4, “Dan janganlah masing-masing hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, melainkan kepentingan orang lain juga.” Penelitian, dengan demikian, bukan sekadar tugas akademis, melainkan latihan mengasihi sesama lewat karya nyata.

Selain itu, survei alumni SMA Athalia menemukan tiga pergumulan teratas yang mereka hadapi setelah lulus, satu diantaranya adalah kurangnya kemampuan riset dan penggunaan referensi ilmiah, hal-hal yang idealnya sudah mulai dilatih sejak di bangku SMA. Realitas ini telah diantisipasi oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie. Dalam sebuah wawancara di kanal Youtube Akbar Faizal Uncensored, ia menyampaikan bahwa budaya penelitian perlu dibangun sejak jenjang SMA. Hal ini dimaksudkan agar murid terbiasa berpikir kritis dan mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat sejak dini.

Bagi SMA Athalia, program penelitian murid adalah wujud nyata dari visi untuk mendidik anak menjadi murid Tuhan. Penelitian ini adalah sarana menekuni panggilan sebagai servant leader. Dibentuk untuk menjadi pribadi yang memberikan pengaruh dan kontribusi nyata demi memenuhi panggilan Tuhan dalam hidupnya. Program ini dirancang menjadi sarana bagi murid untuk menemukan masalah, menelusuri kebenaran, mencari solusi, dan mengembangkan inovasi sebagai wujud tanggung jawab iman dan mandat budaya. Melalui program ini murid didorong agar relevan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai upaya konkret dari pengaruh dan kontribusi mereka bagi dunia yang lebih baik.

 

Proses Program Penelitian

Lalu, bagaimana prosesnya? Penelitian di SMA Athalia tidak harus kaku dan menegangkan. Program ini dibuat sejalan dengan semangat pembelajaran abad ke-21 yang menekankan fun learning, eksplorasi kreatif, dan proses penemuan yang bermakna. Penelitian dapat menjadi kegiatan menyenangkan ketika siswa menghubungkan rasa ingin tahu dengan percobaan, pengamatan, inovasi, analisis, dan aksi nyata. Program ini bukan dirancang sebagai mini skripsi yang menuntut kesempurnaan akademik, melainkan sebagai latihan berpikir ilmiah yang bertanggung jawab. Proses menjadi lebih penting daripada hasil yang sempurna. Hal ini karena melalui proses itulah murid berlatih kejujuran terhadap data, ketekunan menghadapi kesulitan, kemampuan merefleksikan keterbatasan diri. Selain itu juga melatih kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan dan sesama sebagai tujuan akhir dari kegiatan ilmiah.


Untuk memandu proses ini, murid akan menempuh serangkaian langkah penelitian yang terstruktur, mulai dari menemukan masalah, merumuskan pertanyaan, mengumpulkan data, hingga menyampaikan hasil karya. Murid tidak berjalan sendirian, melainkan didampingi pendidik yang membimbing sepanjang prosesnya. Keterlibatan murid dalam penelitian akan dimasukkan dalam rapor akhir tahun ajaran sebagai bagian dari portofolio pembelajaran murid. Ini menjadi pengingat bahwa perjalanan menekuni panggilan lewat penelitian dihargai bukan hanya dari hasilnya. Namun, dari seluruh proses pertumbuhan karakter dan cara berpikir murid di sepanjang jalan.

 

Doa dan Harapan

Kami mengundang komunitas Sekolah Athalia untuk mendukung dan mendoakan program ini sehingga berjalan efektif dalam membangun profil servant leader yang memiliki pengaruh dan kontribusi nyata bagi masyarakat sekitar.

Kamp Karakter GROWING CAMP

Tri Febrianti Manurung (Guru TK B)

 

Tentang Growing Camp

Ekspresi sukacita murid-murid di jenjang KB-TK sangat mudah terlihat saat mereka beraktivitas. Ketika mereka bermain, bercanda, dan tertawa bersama teman-temannya ataupun ketika mencoba hal-hal baru keceriaan mereka terpancar. Sejak dini, KB-TK Athalia mendidik murid untuk memahami bahwa sukacita yang mereka rasakan setiap hari berasal dari Sang Pencipta.

Di sekolah ini, murid-murid dilatih untuk memiliki kesadaran bahwa Tuhan senantiasa hadir dalam setiap proses pertumbuhan dan perkembangan mereka. KB-TK Athalia percaya bahwa melalui profil karakter Joyful Explorer, setiap kegiatan pembelajaran dirancang untuk berfokus pada pembentukan tiga karakter dasar. Ketiga karakter tersebut adalah penuh perhatian, taat, dan bersukacita.

Dalam kegiatan belajar mengajar, guru dan terapis berupaya kreatif mengembangkan materi pembelajaran agar setiap murid makin mudah mengenal kasih Tuhan. Kasih yang adalah sebagai sumber sukacita yang mereka rasakan. Semangat inilah yang menjadi dasar pelaksanaan Growing CAMP 2026. Tema “Karakter Kristus Bertumbuh Dalamku” merupakan refleksi dari firman Tuhan dalam Yohanes 3:16:


“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,

sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,

supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa,

melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Pelaksanaan Growing Camp

Growing CAMP yang dilaksanakan pada Sabtu, 23 Mei 2026, menjadi momen istimewa bagi seluruh murid TK B. Kegiatan ini bukan sekadar ajang kebersamaan. Kamp ini merupakan bentuk apresiasi dan peneguhan atas proses pertumbuhan karakter yang telah mereka jalani selama bersekolah di KB-TK Athalia.

Melalui kegiatan kamp karakter Growing CAMP, murid-murid diajak untuk mengalami secara langsung bagaimana menjadi pribadi yang memiliki semangat Joyful Explorer. Pribadi yang bertumbuh dengan hati yang penuh sukacita, taat, penuh perhatian. Juga pribadi yang berani mencoba hal-hal baru, peduli terhadap sesama, serta belajar menghidupi karakter Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kegiatan diawali dengan sesi foto bersama, dilanjutkan dengan berjalan mengelilingi kompleks sekolah. Suasana pagi itu terasa meriah dan penuh keceriaan. Para murid mendapat kesempatan untuk beraktivitas bersama teman dan guru di luar ruang kelas. Sukacita sederhana juga tampak ketika mereka belajar menyiapkan sarapan sendiri. Aktivitas dimulai dengan mengoleskan selai pada roti hingga membuat teh secara mandiri. Melalui kegiatan ini, mereka belajar bertanggung jawab, percaya diri, serta menikmati proses melakukan hal-hal sederhana dengan usaha mereka sendiri. Selanjutnya, murid-murid mengikuti ibadah bersama dan mendapatkan pembelajaran mengenai pendidikan seksualitas (sex education). Pendidikan seks ini disampaikan sesuai dengan tahap perkembangan usia mereka. Pendidikan seksualitas penting pada tahapan usia ini agar sejak awal mereka sudah mempunyai pemahaman yang benar. Pemahaman secara alkitabiah tentang maksud Tuhan menciptakan seorang pria dan seorang wanita.

Pada akhir kegiatan, ada video apresiasi dari orang tua. Ada juga ungkapan kasih dari para guru menjadi momen yang penuh haru dan syukur. Melalui momen tersebut, murid-murid kembali diteguhkan dalam tiga karakter dasar yang telah dipelajari bersama, yaitu penuh perhatian, ketaatan, dan sukacita.

 

Doa dan Harapan

Melalui kamp karakter Growing CAMP ini, diharapkan para murid belajar bahwa saat ini mereka sedang dalam fase pertumbuhan dan perkembangan. Dengan pengertian ini diharapkan mereka bersedia dengan rendah hati untuk terus mencoba melakukan yang terbaik. Berusaha sebisa mungkin tidak selalu bergantung pada teman, guru, dan orang tua. Mereka bisa mandiri saat melakukan hal sederhana sesuai dengan tahap perkembangan usia mereka. Dengan menghidupi profil karakter Joyful Explorer, mereka diharapkan dapat terus membawa sukacita. Mereka juga dapat senantiasa memuliakan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan mereka di masa depan.

Growing camp
Growing camp
Growing camp
Growing camp
Growing camp
Growing camp
Growing camp

Komitmen Murid Kristus

komitmen murid kristus

 

Victor Sumua Sanga (Kepala SMA Athalia)

 

Dipahat oleh Tuhan

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Markus 8:34)

Michelangelo, sang maestro seni rupa, pernah berujar bahwa tugasnya saat memahat patung David bukanlah menciptakan keindahan, melainkan membuang segala sesuatu yang “bukan David” dari blok marmer besar tersebut. Ia memandang setiap bongkahan batu mengandung mahakarya tersembunyi yang hanya bisa muncul melalui proses pemahatan yang keras dan presisi.
Ilustrasi ini adalah metafora sempurna bagi disiplin rohani dalam Markus 8:34. Menjadi murid Kristus bukanlah tentang menambahkan atribut agamawi, melainkan mengizinkan Tuhan “memahat” dan membuang ego, kesombongan, serta ambisi pribadi yang menutupi gambar Kristus dalam diri orang percaya.

Disiplin Murid Kristus

Melalui perkataan-Nya kepada orang banyak dan murid-murid-Nya, Yesus sedang meruntuhkan ekspektasi mereka yang mengikutinya karena mengharapkan kejayaan politik dan kekuasaan. Yesus mendefinisikan ulang makna “mengikuti Aku” dari obsesi pada takhta kekuasaan menjadi komitmen siap menderita.
Ayat ini menegaskan tiga disiplin yang tidak terpisahkan dan perlu dimiliki oleh pengikut Kristus, diantaranya:

  1. Menyangkal Diri: Ini adalah pemutusan hubungan dengan kepentingan ego. Ketika Petrus pernah “menyangkal” Yesus dengan berkata, “Aku tidak kenal Dia.” Hal itu serupa dalam bagian ini, bahwa seorang murid harus “menyangkal diri” dengan berkata, “aku tidak lagi mengenali diriku sebagai tuanku sendiri.” Kita berhenti menjadi pusat gravitasi hidup kita.
  2. Memikul Salib: Bagi jemaat mula-mula, memikul salib berarti perjalanan satu arah menuju eksekusi. Ini dimaknai sebagai penyerahan total terhadap konsekuensi mengikut Yesus. Kepengikutan kita kepada Yesus memiliki konsekuensi yang dapat menghantar kita pada penderitaan dan penganiayaan dalam berbagai bentuk.
  3. Mengikut Yesus: Menggunakan bentuk kata kerja yang berkelanjutan menunjukkan bahwa kepengikutan kita kepada Yesus adalah perjalanan sehari-hari, bukan peristiwa sekali jadi. Karakter Kristus dibentuk melalui pengulangan yang setia dan ketekunan dalam penderitaan.

Tanpa disiplin ini, murid Yesus bisa terjebak dalam apa yang disebut Dietrich Bonhoeffer sebagai “anugerah murahan”. Pengampunan tanpa pertobatan atau salib tanpa ketaatan. Dalam bukunya The Cost of Discipleship, Bonhoeffer menulis: “Ketika Kristus memanggil seseorang, Dia mengundangnya untuk datang dan mati.” Kematian yang dimaksud adalah matinya manusia lama agar kehidupan baru di dalam Kristus dapat memancar.

Ajakan untuk Berkomitmen

Sebagai komunitas Sekolah Athalia, disiplin rohani bukan sekadar peraturan formal, melainkan “ruang kerja” Allah untuk pertumbuhan kita. Sebagai pendidik dan tenaga kependidikan, menyangkal diri berarti melayani siswa bukan demi validasi profesional, melainkan melampaui itu. Menyangkal diri sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan berarti membuang ego merasa “paling tahu” demi pertumbuhan anak didik. Sebagai siswa, memikul salib berarti siap menerima penolakan dari teman sebaya, rela sendiri, dicap “munafik” demi membangun disiplin rohani sebagai murid Kristus. Sebagai orang tua, itu berarti, berhenti menjadikan anak sebagai alat pencapaian ambisi pribadi, melainkan dengan rendah hati mendukung rencana dan panggilan Tuhan atas hidup mereka.

Mari kita izinkan Sang Seniman Agung terus memahat hidup kita hingga yang tersisa hanyalah gambar Kristus yang nyata.

 

Rooted in God’s Story

Rooted in God's Story

Sylvia Tiono Gunawan (Staf Kerohanian)

 

Akar merupakan bagian pohon yang umumnya berada jauh di dalam tanah dan tidak terlihat. Namun, akar memiliki peran yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Akar yang sehat menyerap sari-sari makanan dengan baik sehingga tanaman dapat bertumbuh kuat, sehat, bahkan berbuah. Sama seperti akar pohon yang tertanam sehat dan kuat berdampak pada pertumbuhan pohon, demikian pula iman. Iman yang tertanam kuat di dalam Kristus akan menolong pertumbuhan rohani setiap orang percaya.

Berakar pada Firman Tuhan

Rasul Paulus, dalam surat Kolose, mengingatkan kita bahwa menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan iman orang percaya. Perjalanan hidup yang masih Tuhan izinkan untuk kita lalui harus terus diisi dengan kehidupan yang seturut kehendak-Nya. Hal ini hanya dapat terjadi ketika kita terus berakar di dalam Dia. Dengan berakar pada Firman-Nya—kisah kasih dan karya Allah yang tertuang dalam Alkitab—kita akan diteguhkan dan diarahkan untuk menapaki hari depan.

 

Berakar dalam Kisah Tuhan

Berakar dalam kisah Tuhan berarti belajar memahami dan menghayati karya Tuhan dalam Alkitab serta membiarkan kisah itu membentuk hidup kita. Hal ini berarti kita terus belajar mengenal Tuhan lebih dalam. Kita terus berusaha memahami siapa Dia, apa yang Dia inginkan, dan bagaimana Dia bekerja. Kehidupan yang berakar pada kisah-Nya berarti menjadikan Dia pusat hidup kita. Dalam praktiknya, semakin kita mengenal Dia, semakin kita percaya kepada-Nya. Hidup kita pun akan diubahkan menjadi makin serupa Kristus dari waktu ke waktu.

Berakar dalam kisah-Nya tidak terjadi secara otomatis, melainkan membutuhkan upaya yang terus-menerus dan penuh kesungguhan dari setiap orang percaya. Artinya, sebagai tenaga pendidik, orang tua, dan murid yang telah menerima Kristus, kita belajar meninggalkan kebiasaan hidup yang tidak sesuai dengan firman-Nya, menjalani setiap detail kehidupan dengan cara Tuhan, terus-menerus mencari kehendak-Nya, serta bertanya kepada Tuhan dalam mengambil setiap keputusan, baik yang besar maupun yang kecil.

Kehidupan yang berakar pada Tuhan akan memfilter cara pikir dan cara hidup kita. Kita dituntun untuk melihat kehidupan ini dengan cara pandang-Nya, membuat keputusan dengan cara pikir-Nya, serta menghadapi kesulitan dengan iman yang tetap teguh. Dalam prosesnya, Roh Kudus tidak meninggalkan kita menghadapi kehidupan ini sendirian. Ia akan menolong dan menopang kita sehingga kita bukan hanya makin berakar di dalam Dia, tetapi juga dapat bertumbuh dan berbuah bagi kemuliaan nama Tuhan. Oleh karena itu, sebagai tenaga pendidik, orang tua, dan murid, marilah kita terus berakar di dalam Tuhan agar hidup kita menyenangkan hati-Nya dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.

 

Kepenuhan Hidup dalam Kristus (Kolose 2:6–7)
“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu, hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia. Hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.”

Identitas Orang yang Lahir Baru

Kisah Nikodemus

 

Stella Ika Yunita Tahapary (staf PK3)

 

Dasar Identitas

Kasih Allah menjadi dasar dari identitas baru orang yang lahir kembali di dalam Kristus. Melalui percakapan Yesus dengan Nikodemus dalam Yohanes pasal 3, kita melihat bahwa kelahiran baru bukanlah hasil usaha manusia, melainkan respons terhadap kasih Allah yang begitu besar—kasih yang rindu menyelamatkan manusia dari kebinasaan dan menganugerahinya hidup yang kekal.
Pernahkah kita berpikir, siapakah jati diri kita yang sesungguhnya?

 

Identitas Sejati

Setiap hari, kita mungkin membawa dokumen identitas seperti KTP, SIM, atau paspor. Dokumen-dokumen tersebut mencatat data fisik dan legal kita. Namun, apakah hal itu cukup untuk mendefinisikan siapa diri kita? Tentu tidak. Identitas sejati melampaui sekadar tulisan di atas kertas; ia adalah “akar” yang membentuk cara kita berpikir, bersikap, dan memandang hidup.

Sebagai orang percaya, bagaimana kita menyandang identitas “lahir baru” di tengah dunia yang fana ini? Untuk memahami hal tersebut, mari kita belajar dari Nikodemus. Ia adalah seorang Farisi—seorang terpelajar yang memahami Hukum Taurat dengan sangat baik. Namun, secara mengejutkan, ia justru mengalami kebingungan ketika Yesus berkata:

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh. Janganlah engkau heran karena Aku berkata kepadamu: kamu harus dilahirkan kembali.”

Dua Macam Identitas

Melalui kisah Nikodemus, Yesus membedakan dua jenis identitas manusia. Pertama, daging (sarx). Daging melambangkan natur manusia yang berdosa, yang cenderung hidup mandiri tanpa Tuhan dan menuruti hawa nafsu. Apa yang dilahirkan dari daging menghasilkan dosa (Galatia 5:19–21). Identitas lama ini berpusat pada diri sendiri.
Kedua, roh (pneuma). Roh melambangkan Roh Kudus sebagai Sang Pemberi Hidup. Orang yang dilahirkan oleh Roh menjadi “anak-anak Allah” (Roma 8:14), dipimpin oleh Roh, dan menghasilkan buah Roh (Galatia 5:22–23). Lahir baru berarti mengalami pergantian identitas, dari sarx menuju pneuma.

Menanggapi hal ini, teolog Tim Keller mengemukakan tiga tanda nyata dari seseorang yang memiliki identitas sebagai orang yang telah lahir baru. Pertama, kesadaran akan kehadiran Tuhan. Hidup tidak lagi dipenuhi kekosongan, melainkan persekutuan yang hidup dengan Allah setiap hari. Kedua, transformasi oleh firman. Alkitab tidak lagi sekadar menjadi buku pengetahuan, melainkan kekuatan yang secara aktif mengubah cara hidup serta keputusan yang diambil. Ketiga, kekaguman akan kasih karunia. Semakin seseorang mengenal Tuhan, ia tidak menjadi sombong secara rohani, tetapi justru semakin rendah hati dan menghargai anugerah-Nya yang tak terhingga.

 

Menghidupi Identitas

Pada akhirnya, identitas kita sebagai orang yang lahir baru berakar sepenuhnya pada kasih Allah yang tidak bersyarat—kasih yang rela memberikan Anak-Nya yang tunggal demi keselamatan kita. Kiranya kasih ini tidak berhenti hanya sebagai pemahaman intelektual, melainkan menjadi identitas yang sungguh kita hidupi. Marilah kita menunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah milik Kristus melalui perkataan dan perbuatan yang memancarkan kasih-Nya.

Ibadah Syukur HUT ke-30 Sekolah Athalia

Klik di sini untuk melihat/men-download album dokumentasi rangkaian acara HUT ke-30 Sekolah Athalia.

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan (Staf PK3)

Penyertaan Tuhan

Perjalanan selama tiga puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Perjalanan ini juga tidak selalu dilalui dengan kegemilangan dan tanpa rintangan. Namun, perjalanan ini layak untuk dijalani, bahkan disyukuri, sebab ada Tuhan di sana dengan anugerah-Nya. Tuhan hadir, memimpin, menyertai, serta menopang Sekolah Athalia sampai hari ini. Perjalanan ini menjadi bukti nyata betapa luar biasanya Allah yang berkarya di sekolah ini.

Acara Ibadah Syukur dalam Rangka HUT ke-30 Sekolah Athalia

Oleh sebab itu, pada momen HUT ke-30 Athalia ini, Komunitas Sekolah Athalia bersama-sama menikmati Ibadah Syukur. Ibadah syukur khusus karyawan diadakan pada Jumat, 24 Oktober 2025, dan dilayani oleh Pdt. Yung Tik Yuk. Sedangkan ibadah syukur untuk umum beserta tamu undangan diadakan pada Sabtu, 25 Oktober 2025, dilayani oleh Ev. Anne Kartawijaya.

Ibadah Syukur ini kembali mengingatkan setiap anggota komunitas betapa besar dan ajaib kebaikan dan karya Tuhan di tengah Sekolah Athalia. Ibadah ini diwarnai dengan pujian, penghormatan, dan pengagungan atas kasih setia Allah kepada komunitas ini. Selain itu juga melalui kesaksian kisah hidup dari guru, siswa, dan orang tua yang secara langsung merasakan topangan tangan Tuhan.

Setiap kesaksian membuktikan bagaimana Tuhan setia dan terus bekerja dalam hidup setiap individu maupun komunitas Athalia. Kesaksian dari rekan-rekan mengingatkan kembali tentang bagaimana Tuhan berkenan memakai sekolah ini untuk terus menjadi berkat bagi banyak orang. Setiap pembelajaran dan setiap interaksi dipakai Tuhan untuk membentuk komunitas Athalia agar terus mengandalkan Tuhan dan makin serupa dengan Kristus.

Kebenaran firman Tuhan yang disampaikan oleh hamba-hamba-Nya juga mengingatkan setiap pendengar untuk terus berjalan bersama Tuhan. Diajak untuk mengalami Tuhan, baik di dalam komunitas Athalia maupun dalam kehidupan pribadi. Juga untuk memiliki perspektif yang benar dan mengikuti kehendak Tuhan dalam dunia pendidikan: mendidik anak untuk hidup takut akan Tuhan dan makin serupa dengan Kristus.

Komitmen untuk terus berjalan bersama Tuhan juga diteguhkan bersama-sama dalam ibadah ini. Ibadah diakhiri dengan pujian syukur atas apa yang telah Tuhan kerjakan di dalam dan melalui Sekolah Athalia. Selain itu juga sekaligus menaikkan doa agar Tuhan terus memimpin perjalanan Athalia selanjutnya.

Doa dan Harapan

Perjalanan Sekolah Athalia ke depan mungkin akan penuh tantangan, ditambah lagi dengan kemajuan zaman yang dapat menggerus iman anak-anak Tuhan. Oleh sebab itu, mari kita terus berdoa bagi Sekolah Athalia. Kiranya Tuhan terus menjaga dan memakai sekolah ini untuk membimbing setiap siswa menjadi murid Tuhan dan menghidupi rencana Tuhan baginya.

Doakan juga setiap anggota Komunitas Athalia—yayasan, pimpinan, karyawan, siswa, serta orang tua—agar bertumbuh dalam iman, memiliki karakter Kristus, dan menjadi terang di mana pun berada. Kiranya Sekolah Athalia terus meninggikan Tuhan dan dipakai Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya di setiap zaman.
Soli Deo Gloria.

HUT ke-80 RI di Athalia – sekolah Kristen di Serpong

Delapan puluh tahun yang lalu, para pahlawan berjuang dengan semangat, doa, dan harapan akan masa depan Indonesia yang lebih baik.
Mereka percaya, Indonesia harus merdeka —
agar anak cucu bisa menikmati hidup yang damai, aman, dan sejahtera.

Hari ini, kemerdekaan itu sudah ada di tangan kita.
Tapi perjuangan belum selesai.
Sekarang giliran kita untuk menjaga dan meneruskannya.

Di Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di Serpong,
kami turut ambil bagian dalam perjuangan ini —
melalui pendidikan karakter yang ditanamkan sejak awal.
Kami percaya, bangsa yang besar dimulai dari generasi muda yang punya hati benar,
berintegritas, dan siap membawa Indonesia maju.

Mari terus jaga persatuan,
teguhkan kedaulatan,
wujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dari Athalia, sekolah Kristen di Serpong, kami membawa semangat dan cinta untuk Indonesia Maju.
Dirgahayu ke-80 Republik Indonesia!
Merdeka!

HUT ke-80 RI di Athalia, sekolah Kristen di Serpong Utara

Ikuti IG Sekolah Athalia: komunitassekolahathalia (https://www.instagram.com/komunitassekolahathalia)