HUT ke-30 Athalia: Rangkaian Acara

HUT ke-30 Athalia

Dalam rangka menyambut HUT ke-30 Athalia, Sekolah Athalia mengadakan rangkaian acara bertema ‘God’s Amazing Journey‘. Tema ini dipilih sebagai bentuk refleksi atas penyertaan Tuhan yang luar biasa sejak Sekolah Athalia berdiri 30 tahun yang lalu hingga saat ini.

Berikut adalah rangkaian acara HUT ke-30 Sekolah Athalia:

  1. Seminar 6uru: 12 April 2025
  2. Seminar Pasutri: 24 Mei 2025
  3. Family Day: 7 Juni 2025
  4. Alumni Homecoming: 5 Juli 2025
  5. AORTAlia (Alumni Orang Tua Athalia) Homecoming: 20 September 2025
  6. Ibadah Syukur: 25 Oktober 2025


Untuk informasi lengkap seputar jadwal dan detail acara, kunjungi Instagram resmi Sekolah Athalia di komunitassekolahathalia.

Mari rayakan bersama momen penuh makna ini dan jadi bagian dari God’s Amazing Journey!

Baca juga: Ibadah Syukur HUT ke-25 Tahun Sekolah Athalia

Siapakah Sesamaku Manusia?

Stella Ika Yunita Tahapary (Staf Kerohanian PK3)

engasihi sesama manusia

Mengasihi Sesama Manusia tanpa Pandang Bulu

“Yesus cinta semua anak, semua anak di dunia, kuning, putih, dan hitam semua dicinta Tuhan..” kalimat ini adalah lirik dalam sebuah lagu Sekolah Minggu yang menyampaikan pesan tentang kasih Allah yang besar untuk semua orang dari berbagai ras, suku, dan budaya. Kasih Tuhan tidak membedakan siapa kita, tetapi menyentuh setiap hati yang terbuka untuk menerima-Nya. Kasih Allah memberikan teladan kepada kita untuk bisa mengasihi sesama manusia tanpa memandang kesamaan atau perbedaan di antara manusia, lalu siapakah yang dimaksud dengan sesama kita?

Perumpamaan Tentang Kisah Orang Samaria yang Baik Hati

Salah satu kisah yang sangat mengesankan dalam Alkitab adalah perumpamaan tentang seorang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37). Tuhan Yesus memberi gambaran empat tokoh dalam kisah ini. Tokoh pertama adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Yerusalem adalah kota suci bagi umat Israel dan Yerikho adalah kota yang terletak lebih rendah, sehingga perjalanan ini biasanya dilakukan setelah seseorang selesai beribadah. Dalam perjalanan ini, orang tersebut dirampok oleh penyamun dan dibiarkan terluka setengah mati.

Tokoh kedua adalah seorang imam dan tokoh ketiga adalah orang Lewi. Keduanya sama-sama melayani Tuhan. Kedua tokoh ini adalah orang-orang yang seharusnya lebih peka terhadap penderitaan sesama. Namun, keduanya melewati orang yang terluka itu dan tidak memedulikan nasibnya. Mereka lebih memilih untuk menghindar daripada menolong. Hal ini menunjukkan ironi yang mendalam: orang-orang yang mengaku sebagai pelayan Tuhan dan rajin beribadah justru gagal mengamalkan kasih Allah dalam kehidupan nyata mereka.

Tokoh keempat adalah seorang Samaria yang mungkin tidak terduga bagi ahli Taurat. Orang Samaria sering dianggap lebih rendah oleh orang Yahudi karena mereka merupakan keturunan campuran antara orang Yahudi dan bangsa lain. Namun, dalam perumpamaan ini, orang Samaria justru menunjukkan tindakan kasih yang luar biasa. Hatinya tergerak oleh belas kasihan (Lukas 10:33). Ia membalut luka-luka orang yang terluka itu dengan minyak dan anggur dan membawanya ke tempat penginapan untuk dirawat lebih lanjut. Ia bahkan rela berkorban lebih jauh dengan memberikan uang kepada pemilik penginapan dan menjanjikan pembayaran lebih jika diperlukan.

Tiga hal yang dilakukan oleh orang Samaria ini adalah:

  1. Tergerak oleh belas kasihan: Ia tidak peduli dengan latar belakang orang yang terluka itu. Hanya belas kasihan yang mendorongnya untuk bertindak.
  2. Melayani dengan sukacita: Orang Samaria ini menolong dengan sukacita tanpa mengharapkan balasan.
  3. Rela berkorban: Ia berkorban baik waktu, tenaga, dan uang untuk menolong orang yang terluka itu.

Jika kita merangkum kisah ini, tiga hal yang dilakukan oleh orang Samaria adalah contoh nyata dari kasih yang diajarkan Yesus kepada kita. Sama seperti orang Samaria, Yesus Kristus juga datang untuk menolong kita yang berdosa. Ia tergerak oleh belas kasihan, menolong kita dengan sukacita, dan rela berkorban dengan memberikan hidup-Nya untuk menanggung dosa kita. Kasih Allah yang besar inilah yang seharusnya kita teladani dalam hidup kita.

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk mengasihi sesama tanpa membedakan latar belakang baik itu agama, suku, ras, atau status sosial. Seperti orang Samaria yang menolong tanpa memandang perbedaan, kita juga diajak untuk menunjukkan kasih Allah dengan cara yang sama. Kasih yang tidak membeda-bedakan, kasih yang tergerak oleh belas kasihan, kasih yang melayani dengan sukacita, dan kasih yang rela berkorban.

Pada bulan ini, banyak orang merayakan hari Valentine, hari yang penuh kasih dengan berbagi kepada orang yang mereka kasihi. Namun, kita sebagai orang Kristen dipanggil untuk berbagi kasih dengan cara yang lebih luas. Kasih yang melampaui batas-batas yang sering dibentuk oleh dunia. Mungkin Tuhan menggerakkan Anda untuk berbagi kasih dengan orang yang berbeda agama, berbeda suku, atau bahkan dengan musuh kita. Semua ini kita lakukan dengan satu kesadaran bahwa Allah terlebih dahulu mengasihi kita, sehingga kita bisa mengasihi sesama kita. Kiranya Tuhan menolong kita menjadi saluran berkat bagi sesama.

Mengasihi Tanpa Pilih Kasih

Hilda Davina S. (Staf Parenting)

mengasihi tanpa pilih kasih

Dilema Orang Tua dengan Lebih Dari Satu Anak

Orang tua adalah sumber kasih pertama bagi seorang anak, sehingga mengasihi anak adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan. Hal ini tampak lebih mudah dilakukan jika dalam satu keluarga hanya memiliki satu anak. Namun, bagi orang tua yang memiliki anak lebih dari satu, kadang terasa sulit untuk memberikan kasih dalam jumlah yang sama. Hal ini karena setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Tidak jarang terjadi perselisihan antara kakak adik hanya karena hal-hal kecil, seperti memperebutkan mainan, ataupun candaan yang berubah jadi ejek-ejekan. Walaupun terlihat sepele, orang tua tetap perlu peka dan bijaksana dalam menyikapi perselisihan, agar tidak menimbulkan sikap pilih kasih yang dapat memicu kecemburuan pada salah satu anak.

Anak yang merasa tidak dikasihi cenderung bertumbuh menjadi anak yang selalu cemas, rendah diri, dan kesulitan membangun hubungan interpersonal yang sehat di masa dewasa1. Selain itu sikap pilih kasih juga dapat merusak hubungan antara saudara dan menciptakan ketidakharmonisan dalam keluarga.

Tips Mengasihi Tanpa Pilih Kasih

Lalu, bagaimana agar orang tua dapat mengasihi anak-anaknya tanpa pilih kasih?

  • Pertama, orang tua perlu menyadari bahwa Tuhan menciptakan anak-anak dengan keunikan dan kelebihannya masing-masing, sehingga tidak perlu membandingkan-bandingkan anak yang satu dengan yang lain. Sebaliknya, orang tua perlu mendampingi anak memaksimalkan talenta yang mereka miliki sesuai kemampuannya masing-masing.
  • Kedua, bersikap adil terhadap setiap anak. Ketidakadilan orang tua dapat memicu kecemburuan dan iri hati pada anak. Adil yang dimaksud tidak selalu harus sama banyak, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan anak. Misalnya, kakak mendapat uang saku yang lebih besar dari adik karena kebutuhan kakak jauh lebih banyak.
  • Ketiga, orang tua perlu menyadari bahwa keberadaan anak bukanlah untuk kebanggaan ataupun alat investasi orang tua. Tiap anak adalah milik Tuhan yang dititipkan untuk dibimbing, agar dapat menghidupi panggilan-Nya melalui kemampuan dan talenta yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya2

Seperti Allah yang mengasihi manusia tanpa memandang perbedaan, mari menjadi orang tua yang mengasihi anak tanpa pilih kasih karena sesungguhnya kasih adalah hadiah terbesar yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anaknya.

1 “Effects of Parents’ Differentiation on Children and Young Adults”, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2894713

2 Orang Tua yang Tidak Pilih Kasih, https://hokimtong.org

Waspada! Ini 10 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua

keluarga

 

Dr. Paul Bohn, seorang psikiater, mengatakan bahwa orang tua zaman sekarang sering kali berusaha melindungi anak-anak mereka dari segala bentuk ketidaknyamanan. Akibatnya, ketika anak menghadapi kegagalan dalam hidup, mereka merasa ada sesuatu yang sangat salah terjadi.

Terlalu memanjakan, ingin menjadi sahabat terbaik, hingga menetapkan standar yang tidak realistis. Apakah Anda termasuk salah satu yang melakukannya?

Yuk, simak dan refleksikan cara kita dalam mengasuh anak!

10 Kesalahan Orang Tua yang Sering Dilakukan

Kesalahan No. 10: Memuja Anak Berlebihan

Banyak keluarga modern tanpa sadar hidup dalam komunitas child-centric (menempatkan anak sebagai pusat dari segala hal). Hal ini mendorong orang tua untuk melakukan segala sesuatu, membelikan, dan menghujani anak dengan cinta serta perhatian.

Meskipun begitu, Dr. Paul Bohn berpikir bahwa sangat penting untuk mengingat bahwa anak-anak kita diciptakan untuk dicintai, bukan dipuja. Ketika kita memperlakukan mereka sebagai pusat dari dunia, kita menciptakan idola palsu. Daripada rumah yang child-centric, kita seharusnya mengusahakan sebuah rumah yang Christ-centric (berpusat pada Kristus). Anak-anak kita tetap dicintai, hanya saja dalam cara yang lebih baik, yang mengutamakan ketidakegosian di atas keegoisan.

Kesalahan No. 9: Menganggap Anak Selalu Sempurna

Banyak orang tua sulit menerima kritik tentang anak mereka, bahkan ketika disampaikan atas dasar kasih dan demi kebaikan anak mereka. Akibatnya, mereka menolak kenyataan dan kehilangan kesempatan untuk mencegah masalah sebelum berkembang lebih jauh.

Kenyataan dapat menyakitkan, tetapi ketika kita mendengar dengan hati dan pikiran yang terbuka, hal itu akan menguntungkan kita. Kita dapat mencegah lebih dini sebelum situasi berkembang di luar kendali. Sangat mudah untuk menghadapi anak bermasalah daripada memperbaiki orang dewasa yang sudah rusak.

Seorang psikiater dari Children’s of Alabama menegaskan bahwa intervensi dini adalah kunci. Anak-anak lebih elastis dan lebih mudah dibantu saat masih muda. Ketika masalah berlangsung cukup lama, maka hal itu akan menjadi bagian dari identitas mereka.

Kesalahan No. 8: Hidup Melalui Anak

Orang tua tentu bangga melihat anaknya sukses. Bahkan terkadang, kita dapat lebih bahagia daripada aat kita sendiri yang mencapainya. Namun, bahaya muncul ketika anak menjadi perpanjangan eksistensi kita.

Tanpa sadar, kita melihat mereka sebagai kesempatan kedua untuk meraih impian yang belum tercapai. Akhirnya, itu bukan lagi mengenai mereka, tetapi mengenai kita. Inilah dimana kebahagiaan mereka menjadi tercampur aduk dengan kebahagiaan kita.

Kesalahan no. 7: Ingin Menjadi BFF (Best Friend Forever) Anak

Dalam ceritanya, Dr. Paul Bohn membagikan dirinya yang pernah bertanya kepada seorang imam untuk menyebutkan kesalahan orang tua terbesar yang dia lihat dalam mengasuh anak. Imam tersebut berpikir sesaat kemudian menjawab, “Ketika orang tua tak berani mengambil peran sebagai orang tua”.

Tentu, saya sebagai orang tua ingin dicintai dan dihargai oleh anak-anak. Tetapi, jika saya melakukan tugas sebagai orang tua dengan benar, mereka akan marah dan kadang-kadang tidak menyukai saya. Mereka akan memutar mata mereka, menguap, dan mengerang, dan berharap mereka dilahirkan di keluarga lain.

Itu bagian dari proses tumbuh kembang. Fokuslah untuk menjadi orang tua yang membimbing, bukan sekadar menyenangkan. Di samping itu, berusaha jadi BFF hanya membuat kita permisif dan takut kehilangan persetujuan mereka—yang justru bisa berdampak buruk bagi masa depan mereka.

Kesalahan no. 6: Mengasuh Secara Kompetitif

Di era persaingan ketat, banyak orang tua terjebak dalam pengasuhan kompetitif, bahkan hingga merusak hubungan dengan keluarga lain. Semua berakar dari rasa takut seperti takut anak tertinggal, takut mereka tak cukup sukses, dan lain sebagainya.

Akibatnya, banyak orang tua berusaha membekali anak mereka dengan berbagai kursus dan teknologi sejak dini, dengan harapan dapat meningkatkan peluang kesuksesan di masa depan. Namun, sejatinya kesuksesan bukan sekadar mengikuti tren, melainkan dibangun melalui karakter yang kuat dan etos kerja yang tinggi. Anak perlu memahami bahwa pencapaian tidak diberikan begitu saja, tetapi harus diperjuangkan dengan dedikasi dan usaha.

Karakter mungkin tidak terlihat penting pada masa remaja. Namun pada masa dewasa, itu adalah segalanya.

Kesalahan no. 5: Tidak Menikmati Masa Kecil Anak

Membesarkan anak adalah perjalanan yang melelahkan, baik secara fisik maupun emosional. Tak jarang, kita berharap mereka cepat tumbuh demi kenyamanan kita. Kita juga bertanya-tanya tentang masa depan mereka. Apa yang menjadi passion mereka? Apakah Tuhan memberikan karunia yang jelas? Apakah bakat seni mereka akan menjadikan mereka Picasso berikutnya, atau apakah suara merdu mereka akan membawa mereka setenar Taylor Swift?

Sebagai orang tua kita berharap demikian untuk mengetahui kekuatan memelihara mana yang akan memampukan kita untuk mengarahkan mereka pada arah yang jelas.

Namun, di tengah ambisi itu, kita mungkin lupa untuk membiarkan anak kita menjadi anak kecil dan menikmati satu-satunya masa kecil yang diberikan pada mereka. Bagi mereka, hal ini bukan tentang menjadi produktif, ini tentang keberadaan/ menjadi ada. Ini tentang bermimpi besar dan menikmati kehidupan. Tekanan pada anak-anak dimulai terlalu cepat. Kita perlu melindungi mereka dari tekanan-tekanan itu. Kita perlu untuk membiarkan mereka bersenang-senang dan tumbuh sesuai dengan kecepatan mereka, sehingga:

  1. Mereka dapat mengeksplore ketertarikan mereka tanpa takut gagal, dan
  2. Mereka tidak “burned out”.

Izinkan anak tumbuh sesuai ritmenya. Biarkan mereka bermain, mengeksplorasi, dan menikmati satu-satunya masa kecil yang mereka miliki. Sebab, sekali terlewat, masa itu tak akan pernah kembali.

Kesalahan no. 4: Memaksakan Impian pada Anak

Sebagai orang tua, kita memiliki mimpi untuk anak-anak kita. Hal itu bermula ketika kita hamil, sebelum jenis kelaminnya diketahui. Diam-diam kita berharap agar anak kita menjadi seperti kita, namun lebih pintar dan lebih bertalenta.

Tetapi ironinya adalah, anak-anak kita mengikuti cetakan kita dengan cara yang terbalik. Mereka keluar dari jalur dengan cara yang tidak dapat kita antisipasi. Tugas kita adalah mencari tahu sifat mereka, tunduk pada ketetapan Allah, dan melatih mereka pada ketetapan Allah. Memaksakan mimpi kita pada mereka tidak akan berhasil. Hanya ketika kita melihat mereka sebagaimana adanya merekalah yang dapat membuat kita dapat berdampak kuat dalam kehidupan mereka.

Kesalahan no. 3: Tidak Memberi Contoh yang Baik

Ada pepatah, “Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata.”

Sama halnya dengan pepatah di atas, kata-kata bijak saja tidak cukup jika tidak disertai dengan teladan dalam mendidik anak. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat. Cara kita menghadapi kegagalan, memperlakukan orang lain, atau berbicara tentang pasangan, semuanya menjadi contoh yang mereka tiru.

Bagaimana orang tua menghadapi penolakan dan penderitaan… bagaimana orang tua memperlakukan teman dan orang asing… anak-anak memperhatikan hal-hal ini. Cara orang tua merespon memberikan mereka ijin untuk bertindak dan melakukan hal yang sama.

Jika ingin anak-anak menjadi luar biasa, kita harus memiliki tujuan yang luar biasa juga. Ketika ingin anak-anak memiliki kualitas tertentu, maka kita harus terlebih dahulu memiliki kualitas tersebut. Dengan begitu kita sebagai orang tua dapat menjadi contoh bagi mereka, tidak sekedar menyuruh mereka menaati perkataan kita.

Kesalahan no. 2: Menghakimi Orang Tua Lain

Setiap orang tua memiliki pendekatan unik dalam membesarkan anak, dipengaruhi oleh nilai, pengalaman, dan situasi masing-masing. Meskipun kita mungkin tidak selalu setuju dengan pola asuh orang lain, penting untuk diingat bahwa tidak ada metode yang mutlak benar atau salah.

Dengan bersikap lebih terbuka dan menghargai perbedaan, kita tidak hanya menghindari konflik yang tidak perlu tetapi juga memberikan contoh positif bagi anak-anak kita tentang pentingnya toleransi dan kebijaksanaan dalam menilai orang lain.

Kesalahan no. 1: Meremehkan Pentingnya Karakter

Banyak orangtua tidak fokus dalam mengembangkan karakter anak dan bahkan menganggap karakter sebagai hal yang tidak penting. Padahal, karakter inilah yang akan meletakkan dasar mereka untuk bahagia dan masa depan yang sehat. Hal-hal ini lebih penting dari pada semua nilai, rapor, dan penghargaan yang pernah mereka terima.

Tidak seorangpun dari kita dapat memaksa anak kita untuk memiliki karakter tertentu. Hal ini karena bagi anak-anak usia 10 atau 15 tahun, karakter tidak akan berarti banyak. Mereka cenderung lebih peduli pada penghargaan secara langsung yang diberikan pada saat itu juga (short-term gratification). Namun, kita tahu bahwa apa yang akan terjadi pada usia 25, 30, dan 40 bukanlah seberapa jauh mereka dapat melempar bola, atau apakah mereka menjadi cheerleader, tetapi bagaimana mereka memperlakukan orang lain dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri. Jika kita ingin agar mereka membangun karakter, kepercayaan diri, kekuatan, dan kegembiraan, kita butuh untuk membiarkan mereka menghadapi kesengsaraan dan mengalami kebanggaan yang mengikuti ketika mereka menjadi lebih kuat di sisi lain.

Sulit untuk melihat anak-anak kita jatuh, tetapi kadang-kadang kita harus. Terkadang, rasa sakit jangka pendek adalah investasi bagi pertumbuhan dan ketahanan mereka di masa depan.

Karakter: Warisan Terbesar untuk Anak

Mengasuh anak memang bukan hal yang mudah, dan tidak ada orang tua yang sempurna. Namun, dengan memahami kesalahan orang tua dalam mendidik anak, kita bisa berusaha menjadi lebih baik.

Mari refleksikan kembali: Apakah Anda pernah melakukan salah satu kesalahan di atas? Bagaimana cara Anda memperbaikinya?

Kari Kubiszyn Kampakis.

Sumber: http://www.viacharacterblog.org/

13 Tips untuk Mengatasi Kemalasan

Kemalasan sepertinya sudah mendarah daging dalam diri manusia. Namun tetap saja hidup yang penuh dengan kemalasan tidak akan dapat membawa kebaikan. Khususnya saat kita bekerja. Apakah kita dapat mengalahkan kemalasan dan memberi diri yang terbaik untuk menyelesaikan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita? Berikut ini adalah 12 tips mengatasi kemalasan yang dapat membantu kita melawan kemalasan dalam diri.

1. Break down a task into smaller tasks

Kita seringkali menghindari tugas karena kita melihatnya terlalu besar, terlalu membutuhkan banyak tenaga dan waktu. Memecah tugas menjadi tugas-tugas sederhana dapat mengatasi hal ini. Maka setiap tugas tidak akan terlihat terlalu sulit atau mengintimidasi. Daripada langsung mengerjakan satu tugas besar, kita dapat menyelesaikan tugas-tugas kecil yang tidak terlalu membutuhkan banyak tenaga. Pendekatan ini dapat diaplikasikan tak hanya dalam mengerjakan tugas, tetapi juga tujuan atau capaian lain yang perlu kita lakukan. Hal ini cenderung dapat mengurangi kemalasan yang sering kita rasakan.

2. Rest, sleep and exercise

Dalam kasus tertentu, kemalasan dapat diakibatkan kelelahan dan kekurangan energi. Jika hal ini yang terjadi, kita perlu beristirahat dan juga memberikan tubuh latihan yang cukup serta udara yang segar.

3. Motivation

Dalam kasus tertentu, alasan dari kemalasan adalah karena kurangnya motivasi. Kita dapat memperkuat motivasi melalui afirmasi/penegasan, visualisasi dan pikiran mengenai pentingnya melakukan dan mengerjakan tugas untuk mencapai tujuan.

4. Have a vision of what and who you want to be

Seringkali dengan merefleksikan diri pada sosok ideal kita, tujuan yang kita ingin capai, kehidupan yang kita inginkan, dapat memotivasi kita untuk memulai aksi kita.

5. Think about benefits

Pikirkan keuntungan-keuntungan yang akan kita raih bila kita mengatasi kemalasan dan mulai bekerja, dari pada berpikir mengenai kesulitan dari tugas-tugas yang ada. Fokus pada kesulitan dari tugas dapat membuat kita menjadi lemah dan putus asa, ingin menghindar dan malas. Penting untuk kita memfokuskan pikiran dan perhatian pada hal yang positif dan tidak fokus pada hal-hal yang menyulitkan/menghambat.

6. Thinking about the consequences

Pikirkan mengenai apa yang akan terjadi bila kita mengalah pada kemalasan dan tidak melaksanakan tugas kita. Pikiran mengenai konsekuensi ini dapat mendorong kita juga untuk mulai mengerjakannya.

7. Doing one thing at a time

Fokuslah untuk mengerjakan satu hal di satu waktu. Jika kita merasa ada banyak hal yang harus dilakukan kita mungkin akan langsung merasa terbanjiri tugas dan membiarkan kemalasan menguasai kita dimana seharusnya kitalah yang menguasai kemalasan kita.

8. Visualization

Imajinasi kita memiliki pengaruh yang besar pada pikiran, kebiasaan dan sikap kita. Visualisasikan diri kita mengerjakan tugas dengan mudah dan penuh semangat. Lakukan hal ini sebelum memulai satu tugas dan juga ketika merasa malas atau ketika pikiran berbisik pada kita untuk meninggalkan tugas-tugas.

9. Repeat affirmations

Katakan pada diri sendiri:

“Saya dapat mencapai tujuan dan target saya.”

“Saya memiliki energi dan motivasi untuk bekerja dan melakukan apa yang saya inginkan.”

“Mengerjakan sesuatu membuat saya lebih kuat.”

“Melakukan sesuatu membuat semua mungkin tercapai.”

10. Regards a task as an exercise

Anggaplah setiap tugas sebagai latihan untuk membuat kita lebih kuat, lebih meyakinkan dan lebih tegas.

11. Procrastination

Hindari penundaan yang merupakan salah satu bentuk kemalasan. Jika ada hal yang harus dilakukan, mengapa tidak melakukannya sekarang dan menyelesaikannya? Kenapa membiarkannya mengganggu pikiran kita?

12. Learn from successful people

Lihatlah orang-orang yang sukses, dan bagaimana mereka tidak membiarkan kemalasan menang. Belajarlah dari mereka, bicara pada mereka dan asosiasikan diri dengan mereka.

13. Pray

Satu hal yang tak boleh kita lupakan saat bekerja adalah memulainya dengan doa. Jika kita percaya bahwa setiap pekerjaan berasal dari Tuhan dan untuk Tuhan saja maka tentunya kita dapat lebih termotivasi untuk menyelesaikannya. Bersandarlah dan minta pertolongan pada Tuhan saat pikiran dan kemalasan menghinggapi diri kita.

Dari tips mengatasi kemalasan di atas, mana yang paling mudah untuk dipraktekkan?

Diterjemahkan dari     : www.successconsciousness.com/overcoming-laziness.html-LDS

“Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga,”

Amsal 12:27

Baca juga: Rajin

20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

keluarga bahagia

Pernahkah Anda merasa mengembangkan karakter baik pada anak adalah hal yang menantang? Sebagai orang tua atau pendidik, kita tentu ingin membimbing mereka menjadi individu yang penuh perhatian, jujur, bertanggung jawab, dan berani. Namun, bagaimana cara terbaik untuk menanamkan nilai-nilai tersebut?

Dalam Parents, Kids & Character: Twenty-One Strategies to Help Your Children Develop Good Character, Dr. Helen LeGette membagikan strategi yang terbukti membantu anak tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan nilai. Berdasarkan pengalamannya selama 33 tahun di dunia pendidikan, ia menekankan bahwa membentuk karakter anak bukan sekadar memberi aturan, tetapi juga membangun kebiasaan dan keteladanan yang konsisten. Dengan pendekatan yang tepat, anak-anak akan lebih siap menghadapi kehidupan akademik, sosial, dan masa depan yang lebih baik.

Lantas, apa saja langkah konkret yang bisa dilakukan? Berikut 20 strategi yang dapat membantu anak mengembangkan karakter positif sejak dini!

Strategi Mengembangkan Karakter Anak di Rumah

1. Jadilah contoh atau teladan karakter di rumah.

“Tidak ada satupun yang lebih berpengaruh, dan lebih menentukan dalam hidup anak selain kekuatan moral dari contoh yang bisu” – William Bennet dalam The Book of Virtues.

Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika ingin mengembangkan karakter positif pada anak, orang tua harus melakukan apa yang mereka katakan dan menunjukkan nilai-nilai yang ingin diajarkan.

2. Perjelas nilai-nilai kita.

Beritahukan kepada anak-anak mengenai sikap kita terhadap isu-isu penting di sekitar. Karakter tumbuh melalui pembelajaran dan keteladanan. Untuk membantu anak menginternalisasi nilai-nilai positif, kita perlu mengajarkan keyakinan kita serta alasan di baliknya.

Ajak mereka berdiskusi mengenai berbagai isu sosial agar mereka memahami nilai-nilai yang penting dalam kehidupan.

3.  Tunjukkan rasa hormat pada pasangan, anak-anak, dan anggota keluarga lainnya.

Orang tua yang saling menghormati, berbagi tanggung jawab, dan menyelesaikan perbedaan dengan damai memberi teladan kuat tentang rasa hormat. Jika anak-anak mendapatkan pengalaman rasa hormat langsung dari dalam keluarga, lebih mudah bagi mereka untuk dapat menghormati orang lain. Sederhananya adalah, rasa hormat melahirkan rasa hormat.

4. Contohkan dan ajarkan sopan santun sejak dini.

Ajaklah anak-anak untuk menerapkan sopan santun di rumah, seperti mengucapkan “tolong” dan “terima kasih,” berbicara dengan hormat, serta mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian. Kebiasaan ini membentuk dasar interaksi sosial yang baik dan membantu mereka memahami pentingnya menghargai orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

5.  Sesering mungkin, makanlah bersama keluarga tanpa televisi.

Makan bersama adalah momen berharga untuk berkomunikasi dan membangun hubungan keluarga yang lebih erat. Tidak jadi masalah apakah makanan tersebut masakan rumah atau makanan yang dibeli di luar, namun unsur yang terpenting adalah waktu berbagi bersama-waktu yang disisihkan untuk memperkuat rasa memiliki satu sama lain dan rasa peduli pada keluarga.

6.  Rencanakan aktivitas keluarga.

Kegiatan sederhana seperti piknik, jalan-jalan, atau sekadar menghabiskan waktu bersama dapat menciptakan memori berharga dan memperkuat nilai kebersamaan dalam keluarga. Orang tua juga dapat melibatkan anak dalam perencanaannya. 

Baca juga: 13 Tips Ampuh Atasi Kemalasan – Dijamin Lebih Produktif!

Strategi Mengembangkan Karakter Anak Melalui Kebiasaan Positif

7.  Jangan berikan akses pada anak untuk alkohol dan obat-obat terlarang.

Teladankan perilaku yang benar dan ajarkan dampak negatif dari penyalahgunaan zat berbahaya agar mereka memahami pentingnya menjaga diri. Meskipun media dan lingkungan sering menggoda remaja untuk mencoba alkohol dan obat-obatan terlarang, contoh dan teladan orang tua tetap menjadi pengaruh terbesar dalam mencegah penyalahgunaan tersebut.

8.  Rencanakan proyek pelayanan keluarga atau kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kebangsaan.

Mengembangkan karakter anak bisa dilakukan dengan melibatkan mereka dalam kegiatan pelayanan masyarakat, seperti berbagi dengan tetangga atau membantu lansia. Hal ini dapat mengajarkan empati, kepedulian, dan kebiasaan melayani.

9.  Membacakan buku untuk anak-anak kita dan menyimpan atau menyediakan bacaan yang baik di rumah.

Buku adalah sumber inspirasi dan pendidikan karakter. Membaca bersama adalah bagian yang penting untuk menyampaikan warisan moral budaya dari generasi ke generasi. Pertanyaan dan pendapat anak-anak mengenai cerita memberikan pemahaman yang penting bagi orang tua mengenai pikiran, keyakinan, dan fokus perhatian anak-anak mereka.

10.  Batasi  pengeluaran atau belanja anak-anak.

Bantu anak-anak mengembangkan rasa menghargai pada hadiah, penghargaan atau reward yang bersifat non-material. 

Dalam budaya konsumerisme saat ini, anak remaja mudah untuk memercayai bahwa image-menggunakan baju yang “pantas”, mengendarai mobil yang “pantas”, dll-menggambarkan kesuksesan dan kebahagiaan.

Orang tua bisa menanamkan nilai yang lebih bermakna dengan menunjukkan cara bijak mengelola sumber daya atau dana yang dipercayakan kepada anak-anak.

11.  Diskusikan mengenai liburan dan maknanya.

Milikilah perayaan keluarga dan bangunlah tradisi keluarga. Abraham Lincoln mengamati bahwa dengan berpartisipasi dalam perayaan nasional menyebabkan orang-orang Amerika “merasa lebih terikat satu sama lain, dan terikat lebih kuat pada Negara dimana ia tinggal.” Memperhatikan liburan dan merayakan tradisi keluarga tidak hanya mengembangkan rasa keterikatan dan kekeluargaan dengan orang lain, tetapi hal ini juga menjadi perekat khusus yang mengikat kita bersama-sama sebagai manusia, anggota keluarga, dan warga negara.

12.  Gunakan momen sehari-hari sebagai kesempatan mendidik.

Gunakan berbagai situasi untuk memicu diskusi keluarga tentang isu-isu penting. Beberapa pendidikan karakter yang paling efektif dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang sedang berlangsung di dalam keluarga. Orang tua dan anak berinteraksi satu sama lain, mereka juga berinteraksi dengan orang lain di luar rumah, tak terhitung situasi yang dapat digunakan untuk mengajarkan pelajaran berharga tentang tanggung jawab, empati, kebaikan, dan belas kasih.

13.  Berikan tanggung jawab pekerjaan rumah untuk seluruh anggota keluarga.

Meskipun lebih mudah mengerjakan tugas rumah sendiri, menugaskan anak dengan pekerjaan rumah tangga akan mengajarkan mereka tanggung jawab dan kerja sama yang penting dalam kehidupan bermasyarakat.

14.  Tetapkan ekspektasi untuk anak-anak dan pertahankan agar mereka bertanggung jawab atas tindakannya.

Menentukan batasan yang rasional dan menerapkannya dengan benar akan menjadikan orang tua sebagai pemimpin moral di dalam rumah. Hal ini akan memberikan rasa aman bagi anak dan remaja, serta memungkinkan anak-anak tahu bahwa kita peduli pada mereka dan ingin mereka menjadi orang yang memiliki karakter baik.

15.  Jaga anak-anak tetap sibuk dalam kegiatan-kegiatan positif.

Anak-anak dan remaja memililki tingkat energi yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana menyalurkan energi tersebut ke dalam kegiatan-kegiatan positif, seperti olah raga, hobi, musik, seni, atau ke dalam kelompok komunitas gereja atau anak muda, atau kepramukaan. Kegiatan-kegiatan tersebut mempromosikan sikap memperhatikan orang lain, peduli, kerja sama dan juga memberikan anak perasaan berhasil.

Strategi Orang Tua dalam Membimbing Karakter Anak

16.  Belajar untuk mengatakan TIDAK dan jelaskan mengapa.

Sangat alami bagi anak-anak-khususnya remaja-untuk menguji batasan orang tua dan menantang otoritas orang tua. Terlepas dari protes yang diajukan anak, tindakan kasih sayang terbesar yang dapat diberikan oleh orang tua adalah dengan selalu bersikap tegas dan melarang keterlibatan anak dalam kegiatan yang berpotensi melukai mereka.

17.  Ketahuilah anak-anak sedang berada dimana, melakukan apa, dan dengan siapa.

Orang dewasa perlu mengkomunikasikan dengan berbagai cara bahwa kita peduli pada anak-anak dan mengharapkan yang terbaik dari mereka, tetapi kita juga menganggap serius tanggung jawab kita untuk membangun standar, memonitor, mendampingi, dan mengawasi mereka. Jangan ragu untuk mengenal teman dan orang tua mereka, meski dianggap “kuno.”

18.  Jangan menutup-nutupi atau membuat alasan untuk membenarkan perilaku anak yang tidak pantas.

Jika anak melakukan kesalahan, bantu anak memahami konsekuensi kesalahan mereka tanpa mencari pembenaran. Melindungi mereka dari akibat logis hanya menghambat pembelajaran tanggung jawab dan memberi kesan bahwa aturan bisa diabaikan.

19.  Perhatikan konten media yang dikonsumsi anak.

Di tengah maraknya konten dan informasi negatif, ajarkan anak menonton dengan bijak melalui contoh dan diskusi terbuka. Jika mereka mengakses tontonan tak pantas, berterus teranglah dan bagi perasaan kita mengenai hal itu, kemudian diskusikan mengapa bahan tontonan yang tidak pantas itu menyakiti dan mengganggu nilai-nilai keluarga.

20.  Ingat bahwa kita adalah orang dewasa.

Anak-anak tidak membutuhkan kita sebagai teman lain, tetapi mereka  membutuhkan kita sebagai orang tua yang peduli untuk mengatur dan menetapkan batas-batas yang tepat untuk perilaku mereka. Terkadang mengatakan “ayah saya tidak mengijinkan saya” dapat memberikan anak-anak remaja pelarian yang nyaman ketika mereka tidak ingin ikut serta dalam kegiatan yang meragukan.

Mengembangkan Karakter Anak, Investasi Jangka Panjang

Mengembangkan karakter anak bukan sekadar tugas, tetapi investasi jangka panjang dalam membentuk individu yang bertanggung jawab, beretika, dan siap menghadapi tantangan hidup. Dengan membiasakan mereka menerapkan sopan santun, memahami konsekuensi dari tindakan mereka, serta menetapkan batasan yang jelas, kita membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan berintegritas.

Adapted from Parents, Kids, & Character by Helen LeGette. – Available from the National Center for Youth Issues or from the Character Development Group. Used by permission.

Sumber: http://charactered.net -IB/ Tim karakter

Pelayanan Kaum Muda, Hati Sejuk di Zaman Penuh Tekanan

Oleh: Benny Dewanto, Kabag PK3.

kaum muda

Tentang Kaum Muda

Dalam pelayanan kaum muda, terdapat sebuah metode untuk menangkap kejujuran mereka saat berbicara tentang diri dan masa depannya melalui rekaman video pribadi (self-talk). Dalam durasi singkat, kurang lebih lima menit, metode self-talk tersebut ternyata dapat menggambarkan kejujuran kaum muda dan memungkinkan kaum muda untuk mengekspresikan refleksi mendalam tentang identitas, pergumulan hidup, serta harapan mereka. Padahal, kaum muda seringkali dianggap sebagai kelompok yang sulit dipahami, sehingga diperlakukan sebagai segmen yang khusus. Tidak jarang, karena cara pandang tersebut, terbangun gap antara kaum muda dengan generasi di atasnya.

Dari self-talk di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kaum muda merupakan pribadi yang rentan menderita karena perubahan zaman. Self-talk juga mencerminkan bagaimana kaum muda bangkit dan mendorong perubahan sebagai bentuk protes terhadap tekanan yang mereka hadapi. Ketika kaum muda gelisah karena “beban” tersebut, mereka mengambil aksi dengan melakukan perubahan zaman. Semakin besar tekanan tersebut, semakin cepat pula mereka melakukan perubahan. Alhasil, semakin lebar pula gap yang terjadi karena banyak pihak yang sulit mengerti atau memahami perubahan-perubahan tersebut. Jadi, ini seperti sebuah putaran yang tak berujung, yang menjadi lingkaran hidup kaum muda, yaitu tekanan (penderitaan) – ekspresi perubahan – gap ketidakmengertian.

Pelayanan Kaum Muda: Memahami dan Menolong yang Tawar Hati

Amsal 24:10–12 berkata: “10Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu. 11Bebaskan mereka yang diangkut untuk dibunuh, selamatkan orang yang terhuyung-huyung menuju tempat pemancungan. 12Kalau engkau berkata: “Sungguh, kami tidak tahu hal itu!” Apakah Dia yang menguji hati tidak tahu yang sebenarnya? Apakah Dia yang menjaga jiwamu tidak mengetahuinya, dan membalas manusia menurut perbuatannya?”

Perenung Amsal mengatakan bahwa Amsal 24:10–12 berbicara tentang perintah terhadap orang yang paham untuk menolong mereka yang rentan menyerah (the quitter). Bila renungan ini direfleksikan ke dalam fenomena kaum muda, ada sebuah pertemuan antara pihak yang tawar hati/sesak, yaitu kaum muda, dengan pihak yang— di mata Tuhan—sesungguhnya mengerti tentang persoalan yang menyebabkan tawar hati/sesak tersebut. Oleh karena itu, perenungan ini mengajak kita untuk berdiri sebagai pihak yang kedua.

Dalam perenungan tentang kaum muda yang dikaitkan dengan ayat di atas, sekalipun mereka melejit mengemukakan dunia, dalam kesesakan, mereka seperti pribadi yang tidak punya kekuatan karena tawar hati (ayat 10). Banyak penelitian yang menyatakan bahwa kekecewaan kaum muda berasal dari orang-orang terdekat yang seharusnya menjadi panutan hidup. Dalam hal ini, kata “tawar hati” pada Amsal menjelaskan makna lemas (hang limp), sebuah gambaran kekecewaan yang begitu mendalam hingga membuat dirinya enggan lagi berharap (grow slack). Akibatnya, kondisi lesu dan kecewa ini menjadikan mereka seperti korban empuk yang diintai untuk “dibunuh oleh dunia.”

Lebih lanjut, Amsal 24: 10–12 dapat dijadikan topik self-talk baik bagi kaum muda maupun kita, kaum dewasa. Dengan kata lain, ayat ini mengajak kita berdialog secara pribadi, menelusuri kejujuran hati terhadap apa yang kita rasakan dan ketahui. Ayat ini dapat direnungi oleh seluruh anggota komunitas Athalia, untuk menyejukkan hati agar komunitas ini siap menyejukkan hati generasi muda dalam menghadapi zaman-zaman selanjutnya: zaman yang bergerak cepat yang memunculkan kekhawatiran dan kecemasan; zaman alternatif yang akan semakin masif.

Menjaga Generasi Muda agar Tidak Terhuyung dalam Arus Dunia

Perjalanan iman anak-anak kita akan semakin ditantang oleh dunia yang akan menawarkan lebih banyak pilihan. Jurang jarak antara kebenaran dan kepalsuan menjadi semakin besar, membuat “mata menjadi rabun” dalam membedakannya. Dalam kondisi ini, semakin banyak kaum muda yang berpotensi berjalan terhuyung-huyung. Akankah kita abai dan tetap berada di dalam gap ini? Apakah kita akan membiarkan mereka terhuyung-huyung menuju kebinasaan seperti orang yang akan dipancung?

Untuk menolong mereka yang terhuyung-huyung, tentu kita sendiri tidak boleh menjadi linglung dan limbung. Membangun konsep pertolongan kehidupan yang terbaik adalah melalui pertemuan berbagi hidup, yaitu saling menggenggam dalam meniti jalan lurus dengan hati yang tulus. Amsal 24: 12 menuntut kita untuk memahami bahwa jiwa kita boleh terus bertumbuh oleh karena pertolongan-Nya. Karena itulah Dia menjaga dan meminta kita menjaga anak-anak ini.

Amsal 24: 12 nyata berkata bahwa kita seharusnya menjadi pribadi yang matang, pemerhati kebenaran dan pelaku pemberi pertolongan. Janganlah cepat berkata, “Kami tidak tahu tentang hal itu!” Janganlah menjadi bagian yang membuat kaum muda seperti terhuyung-huyung menuju tempat pemancungan. Mata-Nya yang tajam akan senantiasa menatap isi hati dan pikiran kita. Berdirilah tegak dalam kebenaran, tidak terseok-seok. Dalam pelayanan kaum muda ini, mari genggamlah kaum muda mendekat agar turut pula berdiri tegak dalam kebenaran. Hati-Nya yang sejuk pun akan menjadikan kaum muda Athalia menjadi penyejuk zaman.

Baca juga: Titik Temu Antargenerasi – Saling Memahami

Paduan Suara SD Athalia Tampil dalam Festival

paduan suara sd athalia
Tim paduan suara SD Athalia, sebuah sekolah Kristen di Serpong, tampil bersemangat di ajang Penabur International Choir Festival (PICF) 2024, yang berlangsung pada tanggal 9-14 September 2024. Di bawah arahan dan bimbingan conductor Ibu Asafel, tim paduan suara ini telah berhasil membawakan dua lagu berjudul “Naik Delman” dan “Alleluia, Alleluia!”, dengan iringan piano dari Ibu Bulan dan perkusi dari Pak Adit. Berkat latihan yang rutin dan intensif, penampilan para siswa mendapatkan apresiasi dari juri dan penonton, mereka juga dinilai penuh energi dan emosi yang menyentuh hati. Ibu Asafel mengungkapkan kebanggaannya, “Anak-anak ini luar biasa. Mereka belajar bekerja sama dan tampil dengan percaya diri”. Semoga pengalaman ini dapat menjadi motivasi besar bagi mereka untuk terus berkarya di masa depan, memuji dan memuliakan Tuhan melalui musik dan lagu, dan semangat tim paduan suara SD Athalia juga dapat menginspirasi anak-anak Indonesia lainnya untuk berani bermimpi dan berprestasi di kancah internasional”. Baca juga: Prestasi Paduan Suara Sekolah Athalia

Titik Temu Antargenerasi – Saling Memahami

Elia Okki (staf Bagian SDM)

pendidik dan siswa antargenerasi

Memahami Perbedaan Antargenerasi

Melakukan panggilan Tuhan untuk membawa anak-anak menjadi murid-Nya tidak hanya tugas orang tua, tetapi juga tugas orang dewasa di sekitarnya. Begitu pula di lingkungan Sekolah Athalia. Para pengajar dan staf mengemban peran yang sama, yaitu mendampingi setiap murid berproses dalam pertumbuhan karakter mereka. Namun, stigma yang dimiliki setiap generasi dapat menjadi penghalang untuk melayani lintas generasi.

Antargenerasi akan menghadapi kesenjangan karena setiap zaman memiliki ciri khas ketika mereka tumbuh besar. Oleh karena itu, kita perlu mencoba meminimalisasi kesenjangan antargenerasi dengan cara melihat peristiwa dan kondisi yang membentuk suatu generasi tiap zaman.

Setiap generasi lahir dengan sejarah yang berbeda. Kita ambil contoh generasi Milenial dan Gen-Z. Stillman (2018)1 menyebutkan bahwa generasi Milenial menghabiskan masa kecilnya dengan bermain dan kebanyakan lahir dari orang tua generasi Boomers yang memfokuskan diri untuk menumbuhkan harga diri anak dengan cara “lihat dan dengar anak”. Perspektif kerja Boomers ialah untuk kepuasan batin yang melahirkan pencarian makna bagi generasi Milenial dalam bekerja. Generasi Milenial akrab dengan istilah “komunikatif, kolaboratif, optimis, idealis, yang terbaik, work-life balance, menjadi teman”. Juga slogan “Susah-senang, mari rayakan hidup!” membuat Milenial fokus menikmati hidup di masa kini. Itulah ciri khas generasi Milenial.

Bagaimana dengan Gen-Z? Gen-Z menghadapi isu persoalan ekonomi dunia yang membentuk cara mereka menyikapi hidup. Orang tua yang kebanyakan berasal dari Generasi X, dengan sepenuh hati menyiapkan anak-anak Gen-Z dalam menghadapi dunia nyata secara mandiri. Peristiwa politik, COVID-19, resesi berat, masa depan, terorisme modern, isu lingkungan, disrupsi teknologi, dan sebagainya berdampak dalam hidup mereka. Mereka berjuang menata hidup masa depan agar memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dari orang tua mereka. Sebab itulah, pemikiran mereka terfokus pada “Apakah kehadiranku menghasilkan perbedaan atau tidak?”

Baca juga: Kunci Berkomunikasi dengan Anak: Buat Lebih Bermakna! dan My Story is God’s Story

Menjalani Iman di Tengah Perbedaan Generasi

Jadi, bagaimana kita bisa berjalan bersama generasi muda yang Tuhan titipkan di tengah kekacauan zaman? Perbedaan menjalani hidup antargenerasi tak seharusnya menjadi penghalang untuk jalan bersama dan menjadi murid-Nya, terutama di dalam kelompok kecil KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) yang dilayani oleh penulis.

Benner (2012)2 menekankan agar perjalanan bersama anggota kelompok kecil haruslah berfokus kepada Allah. Ia menyebutkan bahwa keramahan, kehadiran, dan dialog rohani perlu dibangun jika kita ingin menjalin persahabatan yang dasarnya adalah Kristus. Oleh karena itu, relasi harus dibangun dengan memprioritaskan perenungan mendalam daripada sekadar pertanyaan benar dan salah, menjadi komunitas doa, membagikan pengalaman rohani, penerimaan, dan saling mendukung. Zaman dan generasi bisa saja berbeda, tetapi Allah yang berdaulat dalam dunia dan kehidupan akan selalu menjumpai umat-Nya melampaui cara dan pikiran manusia. Anak-anak yang sedang berjalan bersama kita menghadapi pergumulannya, begitu pun kita. Kondisi ini membuat kita, generasi yang berbeda dengan mereka, perlu kepekaan dari Roh Kudus agar bisa berjalan bersama mereka. Hanya di dalam keterhubungan dan keterlibatan Allah saja ada pengharapan hidup. Kiranya Tuhan menolong kita.

  1. Stillman, D. & Jonah Stillman. 2018. Generasi Z: Memahami Karakter Generasi Baru yang Akan Mengubah Dunia Kerja. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ↩︎
  2. Benner, D. 2012. Sacred Companions (Sahabat Kudus). Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur. ↩︎

Paskibra Sekolah Athalia: Bukan Aku, Bukan Kamu, tetapi Kita

Joanne Emmanuel Layar (Siswa Kelas IX Wa)

paskibra sekolah athalia

Perkenalan

Halo! Nama saya Joanne Emmanuel Layar, anggota Paskibra Sekolah Athalia. Ini adalah tahun kedua saya menjadi anggota Paskibra. Sekitar dua tahun lalu saya memutuskan untuk mendaftar. Awalnya saya mendaftar tanpa ekspektasi akan diterima, hanya sekadar ingin mendisiplinkan dan menantang diri dengan hal yang baru. Pada hari seleksi, saya sedikit ragu karena tes-tes yang diberikan sangat berat dan menuntut kekuatan fisik. Namun, puji Tuhan saya diberi kesempatan untuk belajar lebih banyak lewat Paskibra.

Kisah Sebagai Paskibra Sekolah Athalia

Melalui Paskibra, saya dan teman-teman merangkai kisah kami masing-masing. Tentunya cerita yang kami rangkai setiap tahunnya berbeda. Bukan proses yang mudah karena kami harus membagi waktu dan melakukan tanggung jawab sebagai siswa sekaligus anggota Paskibra. Kegiatan ini bukan hanya sekadar berlelah-lelah latihan fisik dan baris-berbaris, tetapi juga tentang respons kami saat menghadapi rasa lelah tersebut. Ada saat kami merasa kemampuan kami sudah mencapai batas maksimal. Ada saat tidak yakin bahwa memilih untuk menjadi pengibar adalah pilihan yang tepat, bahkan sulit sekali untuk merasakan yang namanya semangat.

Selama latihan banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan, salah satunya yaitu saling mendukung antarteman. Paskibra Athalia memiliki kalimat khas yang berbunyi “Satu untuk semua, semua untuk satu”. Bila ada satu anggota yang melakukan kesalahan, semua anggota juga akan mendapatkan hukumannya yaitu “satu paket” untuk setiap kesalahan. Satu paket yang dimaksud setara dengan sepuluh kali push up. Hal itu mengajarkan saya bahwa ini bukan tentang siapa yang benar dan yang salah, tetapi tentang seluruh anggota adalah satu tim.

Menghitung sisa-sisa hari latihan yang makin menipis dan hari pengibaran yang makin dekat, banyak perasaan yang bercampur aduk antara khawatir, lelah, bangga, dan bersemangat. Akhirnya tibalah hari yang dinanti-nantikan. Sabtu, 17 Agustus 2024 merupakan hari yang sangat membanggakan dan mengharukan, tetapi juga menyedihkan. Saya sangat bersyukur dan bangga karena kami berhasil memberikan yang terbaik dalam melaksanakan tugas sebagai satu tim. Satu hal yang paling terasa setelah melaksanakan tugas adalah rasa bersyukur karena saya merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Banyak momen tak terulang yang akan saya rindukan, mulai dari berlari menuju lapangan supaya tidak telat latihan, hingga merasakan tulang yang encok sehabis latihan.

Hal yang Bisa Dipetik

Paskibra memproses diri saya untuk menjadi pribadi yang tangguh, disiplin, rendah hati, bertanggung jawab, dan masih banyak lagi. Walaupun sulit untuk dijalani, saya tidak pernah menyesal telah menjadi bagian dari tim Paskibra yang dapat membanggakan Indonesia. Satu kalimat dari saya untuk tim Paskibra, “Bukan aku, bukan kamu, tapi kita”. Pesan dari saya, jika bukan saat ini, biarkan Tuhan yang menentukan saatnya.

“PaskibraAA! Terima kasih.”

Baca juga: Pengalamanku Sebagai Paskibra