Sebagai manusia, kita adalah ciptaan Allah yang paling mulia karena diciptakan segambar dan serupa dengan diri-Nya. Kita diberi kemampuan untuk berpikir, berencana, merasakan emosi, berekspresi, dan mengambil tindakan. Setiap kita juga memiliki karakteristik, kepribadian, dan bakat unik yang membuat diri kita unik dan berbeda satu dengan yang lain.
Menjadi pribadi autentik berarti memahami diri, menghargai keunikan yang diberikan Tuhan, dan memaksimalkan potensi diri. Kehidupan yang autentik memberikan kepuasan dan makna yang lebih mendalam jika kita mampu melihat diri dari perspektif Allah.
Sayangnya, ada berbagai hal yang seringkali menghambat kita untuk bisa menjadi pribadi yang autentik. Beberapa orang tumbuh dalam lingkungan yang minim teladan dan kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan secara sehat, sehingga terbiasa untuk memendam atau bahkan menyangkal pikiran dan perasaan yang ada di dalam diri. Ada pula yang diberi tuntutan untuk mencapai atau menjadi sesuatu yang sebenarnya tidak selaras dengan bakatnya, lalu dikritik dan dipandang sebelah mata ketika hasilnya kurang maksimal.
Banyak manusia terbiasa memakai topeng demi mendapat penerimaan dan pengakuan. Ketika hal ini berlanjut dalam jangka waktu yang lama, sehingga mereka semakin tidak peka dengan pikiran, emosi, dan kebutuhannya sendiri. Kehidupan tidak lagi dilandasi oleh pengenalan yang benar akan diri dan Allah menjadikan hidup mudah terombang-ambing tanpa arah.
Bagaimana Menjadi Pribadi yang Autentik?
Tidak ada kata terlambat untuk mulai menjalani hidup dengan lebih autentik, sembari tetap menjaga keharmonisan relasi dengan orang-orang di sekitar. Kata kuncinya adalah membangun relasi yang baik dan dekat dengan diri sendiri. Kita dapat melatih diri untuk melakukan beberapa hal berikut ini:
Perhatikan dan sadari apa yang terjadi di tubuh kita. Leher atau bahu yang tegang mungkin terkait dengan apa yang ada dalam pikiran, perasaan, pemikiran, dan memori kita. Kondisi fisik dan psikologis kita saling mempengaruhi.
Biasakan memvalidasi pikiran dan perasaan kita, bukan menyangkalnya. Hal ini bukan berarti kita tidak boleh mengevaluasi apa yang kita pikirkan dan rasakan, tetapi langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengakui dan memberi ruang terlebih dahulu. Contoh kalimat validasi yang bisa kita katakan pada diri sendiri yaitu: “Aku menyadari bahwa aku berpikir kalau orang lain lebih beruntung dari diriku dan aku jadi mengasihani diri sendiri”, “Saat ini sedang ada kesedihan yang begitu besar dalam diriku dan aku mengizinkan diriku untuk merasakannya”, dan “Aku sebenarnya tidak suka dengan kecemasan yang sering muncul ini, tetapi aku belajar mengakui bahwa saat ini memang seperti itu kondisinya”.
Kenalilah diri kita sendiri. Apa yang kita kuasai, apa yang kita suka lakukan, apa yang membuat hati kita tergerak, apa yang penting dan bernilai bagi kita, dan semacamnya. Hadapi kebenaran tentang siapa kita dan akuilah jika memang ada aspek-aspek dari diri sendiri yang masih sulit untuk diterima. Kebenaran tidak selalu menyenangkan, tetapi dapat berpotensi membebaskan kita.
Sebagai orang tua, kita sering berpikir bahwa tugas utama kita adalah membimbing anak bertumbuh. Namun, pernahkah kita menyadari bahwa justru dalam proses itu, kita sendiri juga terus belajar dan bertumbuh?
Kami sekeluarga, termasuk Fidelio, anak kami, sepakat bahwa Fidelio tidak diberikan gadget atau laptop sampai waktu yang belum ditentukan, sampai umur dan pengendalian dirinya dirasa cukup. Suatu hari, sepulang kerja, saya dikejutkan oleh pengakuan jujur dari Fidelio, anak kami. Fidel bercerita dengan muka lesu,
“Ma, tadi papa lupa ya bawa laptopnya ke sekolah, ketinggalan di rumah”. “Oh, iya ya? Lalu kenapa, Nak?” (meski saya sudah bisa menebak jawabannya) “Tadi aku tergoda main sebentar dan nonton, tapi cuma 1 film pendek kok, Ma..” “Kamu merasa baik-baik saja?” “Ga, tadi pas buka laptop aku deg-degan.. Jadi abis nonton film, aku cepet-cepet tutup laptop, terus ngobrol lama sama Tuhan, terus tidur siang..” “Oh..” “Maaf ya, Ma, tadi juga aku minta maaf sama Tuhan..” Beberapa detik saya mencerna dan sontak berbicara dengan Tuhan, “Tolong saya, Tuhan… tolong percakapan ini.” “Terima kasih, ya Fidel, sudah mau jujur dan mau datang pada Tuhan, mau belajar taat meski susah ya pasti…tadi di sekolah Mama juga sempat jatuh, gagal dalam ini itu…bla bla bla…”
Iya ya, saya bersyukur percakapan itu ada sebelum saya membuat artikel ini. Saya pikir sebagai orang tua, sayalah yang seharusnya menolong anak saya bertumbuh. Namun, tidak secepat itu. Saya dan suami, sebagai komunitas terkecil di dalam keluarga untuk anak saya, justru tidak berhenti bertumbuh dan belajar, bahkan dari anak yang dititipkan Tuhan. Komunitas seperti apa yang dapat memungkinkan anggota-anggota di dalamnya bertumbuh?
Komunitas yang Sehat, Tempat Bertumbuh yang Sejati
Sebuah komunitas yang memungkinkan pertumbuhan bukanlah yang menuntut kesempurnaan, tetapi yang terbuka, otentik, dan tidak takut mengakui kelemahan. Tempat di mana kegagalan bukan akhir, tetapi kesempatan untuk belajar dan berubah.
Diri kita ibarat tanah, bagaimana benih bisa bertumbuh dengan baik kalau tanahnya tidak digemburkan, diaduk, bahkan dikeluarkan kerikil-kerikil yang menghalangi? Begitu juga kita, apakah masih menyimpan ego dan dosa yang bisa menghambat pertumbuhan diri sendiri, pasangan, atau anak-anak kita?
“It takes a village to raise a child”
Bagi semua anak-Nya yang diberi panggilan keorangtuaan, baik orang tua, pendidik, staf, pimpinan, yayasan, mari ‘keroyok’ anak-anak kita: keroyokan mendoakan, keroyokan ngumpul untuk saling berbagi dan belajar, keroyokan bergantung pada Tuhan, dan antusias mencari jawaban tentang relasi seperti apa yang Tuhan inginkan terjadi di dalam komunitas ini, terutama dalam komunitas keluarga kita masing-masing. Di luar sana, bahkan hanya dalam satu genggaman gadget, anak-anak kita diserbu dan dikeroyok dengan berbagai ‘hama’, kecuali.. kita, secara komunal, mau membayar harga, memberi diri sepenuhnya, sebisa kita.
Di tengah-tengah kesibukan apa pun yang kita kerjakan, ketika pulang ke rumah, mari beri relasi dan komunikasi yang nyata, otentik, tidak malu-malu, tidak ‘jaim’ (jaga image). Tentu tidak mudah, makanya jangan sendirian! Mari tidak berhenti merawat komunitas ini agar bersama-sama bertumbuh. Dengan demikian, anak-anak kita juga dapat ikut-ikutan bertumbuh dalam karakter Kristus karena berada di ‘taman’ komunitas yang menyuburkan. Salam gembur dan tumbuh!
Setiap individu akan mengalami berbagai fase perkembangan dalam hidupnya. Fase remaja merupakan salah satu tahapan yang sangat penting dalam proses pencarian identitas diri. Meskipun hal ini merupakan proses seumur hidup yang sudah dimulai sejak masa kanak-kanak. Namun, masa remaja adalah masa yang sangat signifikan. Menurut Santrock, hal yang penting dari perkembangan identitas diri pada masa remaja, terutama remaja akhir, adalah bahwa untuk pertama kalinya, perkembangan fisik, kognitif, dan sosioemosional sang remaja berkembang ke titik di mana ia dapat memilah, memadukan identitas, dan mengenali masa kanak-kanaknya, untuk membangun jalan yang sepantasnya menuju kedewasaan (Santrock, 2010).
Empat Status Identitas Diri
Menurut Santrock, identitas merupakan potret diri seseorang yang terdiri dari banyak bagian, diantaranya keyakinan spiritual; karier yang ditempuh; kepribadian; citra tubuh (body image); minat; suku bangsa/etnis dan lainnya. Dalam proses pembentukan identitas ini, remaja akan melakukan eksplorasi untuk menemukan pilihan mana yang paling sesuai dan nyaman buat dirinya, serta komitmen terhadap pilihannya. Santrock mengatakan bahwa Marcia mengelompokkan identitas individu ke dalam empat status berdasarkan ada tidaknya proses eksplorasi (krisis) serta komitmen yang diambil. Keempat status identitas tersebut adalah:
Identity Diffusion
Status pada individu yang belum melakukan eksplorasi dan belum mengambil komitmen atas pilihannya. Kemungkinan individu pada status ini belum tertarik akan pencarian identitas tersebut.
Identity Foreclosure
Status pada individu yang belum melakukan eksplorasi, tetapi sudah berkomitmen terhadap pilihannya. Hal ini sering kali terjadi oleh karena pilihan orang tua atau figur lain ditambah individu malas untuk melakukan eksplorasi terhadap alternatif-alternatif pilihan lainnya.
Identity Moratorium
Status pada individu yang tengah melakukan eksplorasi, tetapi belum juga berkomitmen terhadap pilihannya. Hal ini membuat individu tersebut kurang teguh pada pilihannya dan mudah goyah jika terdapat alternatif lain yang baru dieksplor.
Identity Achievement
Status pada individu yang telah melakukan eksplorasi dan membuat komitmen terhadap pilihannya.
Usulan Bagi Orang Tua dalam Menemani Remaja Mencari Identitas Diri
Perjalanan pencarian jati diri ini bukan hal yang mudah untuk dilalui oleh setiap remaja. Pendampingan dan dukungan yang tepat dari orang tua merupakan hal yang sangat dibutuhkan para remaja dalam menjalani proses ini. Berikut ini merupakan beberapa usulan yang bisa dilakukan oleh orang tua dalam menemani perjalanan anak-anak remaja mereka:
Menyadari bahwa ini merupakan perjalanan sang anak bersama dengan Tuhan dalam menemukan identitas seperti yang Dia inginkan.
Memberikan dukungan moral dan spiritual berdasarkan prinsip-prinsip iman Kristen yang baik, serta menciptakan lingkungan yang aman bagi remaja untuk berani melakukan eksplorasi diri.
Membantu dalam mengevaluasi hasil eksplorasi yang telah dilakukan anaknya dengan memberikan pertimbangan yang sesuai dengan pengenalan orang tua terhadap sang anak.
Melalui artikel singkat ini, kiranya orang tua bisa lebih memahami proses pencarian identitas pada remaja serta serius dalam mendampingi mereka dalam perjalanan ini.
Referensi:
Santrock, John W. (2010). Life-span Development (thirteenth edition). The McGraw-Hill Companies.
“Siapakah Aku?” Krisis Identitas yang Biasa Dialami Remaja. Yogyakarta: Center for Life-span Development, 2024. Diambil dari: https://clsd.psikologi.ugm.ac.id/2024/05/04/siapakah-aku-krisis-identitas-yang-biasa-dialami-remaja/
Bulan Bahasa diperingati setiap bulan Oktober di Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen yang berbasis pendidikan karakter di BSD, Serpong. Kegiatan ini menjadi momen refleksi akan peran krusial bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi antarindividu, tetapi juga sebagai sarana utama dalam membangun interaksi sosial yang efektif. Selain itu, komunikasi dengan anak secara efektif merupakan fondasi penting dalam membentuk hubungan yang sehat dan keterikatan emosi antara orangtua dan anak.
Komunikasi yang efektif berperan penting dalam membantu anak merasa dipahami, dihargai, dan didukung. Ketika anak merasa bahwa perasaan dan kebutuhannya diakui, mereka akan lebih mudah mengembangkan rasa percaya, serta merasa aman dan nyaman dalam lingkungannya. Kondisi ini secara tidak langsung mendukung perkembangan sosial dan emosional mereka.
Komunikasi yang berkualitas mencakup kemampuan untuk mendengarkan dengan empati, memahami perspektif anak, serta memberikan respons yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Meskipun komunikasi antara orang tua dan anak terlihat sederhana, pada praktiknya dibutuhkan kesabaran, keterampilan, serta kesiapan untuk menyediakan waktu yang cukup agar komunikasi dapat berjalan secara efektif.
Berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan orang tua untuk membangun komunikasi yang lebih bermakna dengan anak:
Active listening Saat berbicara dengan anak, pastikan Anda benar-benar hadir dalam percakapan. Hindari distraksi seperti ponsel atau pekerjaan lain, sehingga anak merasa dihargai dan didengar sepenuhnya. Mendengarkan secara aktif membantu anak-anak merasa didengar dan dipahami.
Reflective listening Salah satu cara untuk menunjukkan bahwa kita memperhatikan dan menangkap apa yang mereka katakan adalah dengan mengulangi apa yang mereka katakan dengan menggunakan frase yang berbeda. Misalnya, jika anak berkata, “Saya tidak mau bermain dengan Tono lagi.” Kita dapat merespons dengan, “Kamu sedang tidak mau main ya. Kelihatannya kamu sedang kesal.” Dengan ini, anak akan merasa dimengerti dan tidak dihakimi, sehingga anak dapat mengekspresikan emosi mereka tanpa penilaian.
Speaking clearly Gunakan bahasa yang dapat dimengerti untuk anak dan sesuai dengan usia mereka. Pemilihan kata harus jelas, spesifik, dan tidak menggunakan kata-kata yang kasar atau menghina. Menggunakan bahasa yang baik akan membantu memberikan contoh positif bagi anak-anak.
Explaining feelings Untuk membantu anak mengembangkan kecerdasan emosional, penting bagi mereka untuk belajar bagaimana memberi nama perasaan mereka. Ketika anak mengekspresikan perasaan mereka secara verbal, dengarkan apa yang mereka katakan dengan empati dan tanpa penilaian. Jika anak mengekspresikan perasaan mereka dengan cara nonverbal – misalnya melalui amarah atau tertawa dan bersenang-senang melakukan aktivitas yang mereka sukai, kita perlu membahasakan bagaimana perasaan mereka, seperti bahagia, sedih, santai, terluka, takut, lapar, bangga, mengantuk, marah, tidak berdaya, jengkel, malu atau gembira, dll.
Bangun Hubungan Lebih Dekat Lewat Komunikasi yang Positif
Berkomunikasi dengan anak secara efektif bukanlah hal yang instan, tetapi merupakan proses yang perlu dengan sengaja diciptakan dan dibangun karena sangat mempengaruhi hubungan orangtua dengan anak. Dengan memberikan waktu, perhatian, dan mendengarkan dengan baik, kita dapat membantu anak tumbuh dan berkembang secara positif. Semua ini membantu mereka merasa dicintai dan diperhatikan sebagai dasar yang kuat untuk setiap tahap perkembangan di masa depan.
Jika kamu diminta pendapat tentang salah seorang temanmu, kira-kira apa yang akan kamu katakan tentang dia? Apakah dia selalu ada untukmu, mendengarkan keluh kesahmu, dan membantu saat kamu membutuhkan? Atau justru kamu akan langsung berkata, “Dia mah toxic.”
Namun, bagaimana jika situasinya dibalik? Apa yang akan temanmu katakan mengenai dirimu? Apakah mereka akan menyebutkan hal-hal positif mengenai dirimu atau justru menganggap kamu sebagai teman yang toxic?
Toxic friendship adalah istilah yang seringkali dipakai untuk hubungan pertemanan yang dinilai memberikan pengaruh negatif. Hubungan ini bisa merugikan secara emosional, psikologis, bahkan sosial. Untuk memahami apakah hubungan pertemananmu sehat atau beracun, kenali ciri-ciri berikut ini.
Ciri-ciri Pertemanan Toxic yang Harus Diwaspadai
1. Ciri yang Terlihat Secara Langsung
Beberapa tanda toxic friendship dapat dikenali dengan mudah. Misalnya, teman yang sering menggunakan kata-kata kasar atau tidak sopan dalam berkomunikasi, terutama saat marah.
Selain itu, pertemanan bisa dikategorikan sebagai toxic jika salah satu pihak mendorong tindakan yang jelas-jelas salah. Misalnya, menyuruhmu berbohong demi menutupi kesalahannya dengan alasan “demi pertemanan.” Jika ini terjadi, hubungan tersebut tidak sehat dan bisa berdampak buruk bagi dirimu.
2. Ciri yang Tidak Terlihat Secara Langsung
Terkadang, toxic friendship tidak selalu tampak jelas. Ciri-ciri ini biasanya dirasakan karena mulai mengganggu kesehatan mental, seperti munculnya kecemasan atau ketakutan untuk kehilangan hubungan tersebut. Meski tidak nyaman, seseorang tetap bertahan dalam hubungan ini karena takut kehilangan teman.
Salah satu tanda yang sering muncul adalah adanya pihak yang selalu merasa benar dan membuat temannya merasa bersalah. Teman seperti ini cenderung memanipulasi situasi agar dirinya terlihat lebih baik dan membebankan kesalahan pada orang lain. Jika kamu merasa berada dalam hubungan pertemanan seperti ini, penting untuk segera mengevaluasi dan mengambil langkah tegas.
Kalau kamu merasa sedang berada dalam hubungan pertemanan yang bersifat toxic, ada beberapa hal yang dapat dilakukan:
1. Lakukan Refleksi Diri
Lakukan refleksi untuk dirimu sendiri. Tanyakan pada dirimu sendiri:
Apakah aku termasuk teman yang toxic? Jika ya, apa yang bisa aku ubah?
Apakah aku berada dalam hubungan pertemanan yang toxic? Jika iya, batasan seperti apa yang harus aku buat?
Mengenali peran dalam hubungan ini adalah langkah awal untuk memperbaiki atau menghindarinya. Jika kamu menyadari bahwa kamu memiliki sikap toxic, buatlah komitmen untuk berubah. Jika justru kamu yang menjadi korban, tetapkan batasan yang sehat agar hubungan tersebut tidak semakin merugikan dirimu.
2. Mengomunikasikan Masalah dengan Asertif
Setelah refleksi diri, langkah berikutnya adalah mengomunikasikan hasilnya kepada teman yang bersangkutan. Berbicara secara asertif berarti menyampaikan pendapat dengan jelas, tegas, tetapi tetap menghormati lawan bicara.
Jika merasa sulit melakukannya sendiri, ajak orang dewasa yang dapat dipercaya untuk mendampingi. Berikan waktu beberapa hari untuk saling merefleksikan hasil pembicaraan kalian. Setelah itu saling berusaha untuk memperbaiki interaksi dalam pertemanan sesuai dengan hasil pembicaraan kalian.
Tips yang paling penting saat berusaha memperbaiki interaksi pertemanan yang toxic adalah harus berani mengambil sikap untuk mengutarakan perasaan dan pendapatmu secara asertif dan tidak memendamnya.
Toxic friendship bisa berpengaruh besar dalam kehidupan seseorang. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tandanya, melakukan refleksi diri, dan berani mengambil tindakan. Dengan begitu, kamu bisa membangun hubungan pertemanan yang lebih sehat dan positif di masa depan.
“Andaikan aku memintanya untuk tetap di rumah saja…”
“Ini RS pasti gak menangani dengan benar…”
“Aku gagal… aku ga mampu menyelamatkan nyawanya… mestinya aku lebih
cepat membawanya ke RS…”
Kehilangan seseorang yang dikasihi, apalagi yang selama ini menjadi
belahan jiwa, akan menimbulkan dukacita yang mendalam. Ini adalah emosi yang
bisa sangat menguasai seseorang dan tidak mudah untuk dihadapi, apalagi bila
terjadi secara mendadak. Respons yang muncul umumnya adalah penyesalan,
kegundahan yang besar karena meyakini bahwa seharusnya kehilangan ini bisa
dihindari, andai saja…
Elizabeth Kübler-Ross dan David Kessler dalam bukunya On Grief and Grieving menuliskan bahwa
seseorang yang mengalami grief atau
dukacita umumnya akan masuk dalam lima tahap. Tahapan ini tidaklah baku karena
manusia adalah individu yang unik. Duka yang dialami atas peristiwa yang sama
bisa menimbulkan respons emosi yang berbeda antara satu individu dengan yang
lain. Grief bersifat individual
sehingga tidak semua orang menjalani pola yang sama dan dalam jangka waktu yang
sama. Teori mengenai Five Stages of Grief
ini diberikan sebagai upaya menolong seseorang yang mengalami dukacita untuk
setidaknya memiliki gambaran tentang apa yang akan dilaluinya, dan untuk
mengenali emosi-emosi yang mungkin akan dialami saat berduka.
1. Denial (Penyangkalan)
“Rasanya gak percaya dia tidak akan pernah duduk di kursi itu lagi…”
“Dia seperti hanya sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota
seperti biasa, dan sebentar lagi akan menelepon saya…”
Tahap pertama ini tidak berarti seseorang sengaja mengingkari
realitas yang ada. Namun kabar yang begitu tiba-tiba bisa membuatnya diserang shock yang hebat dan tak mampu lagi
merasa. Bagai terputus dari ruang dan waktu. Respons seperti ini sering kali
muncul karena realitas itu terlalu berat untuk ditanggung oleh jiwa. Berita
kematian terasa tidak nyata, seperti mimpi, karena otak tidak mampu
memrosesnya. Dalam tahap ini, tanpa disadari denial sedang menolong seseorang yang berduka untuk mengelola
perasaan, memberinya waktu untuk sedikit berjarak dengan dukacitanya. Tahap ini
membawa anugerah tersendiri karena secara natural seseorang akan mampu menerima
tekanan hanya sebatas kekuatannya saja. Bila tahap ini tidak hadir, munculnya
emosi yang membludak dengan begitu tiba-tiba bisa sangat mengguncangkan.
Di tahap ini mereka yang berduka akan banyak bercerita tentang orang yang dikasihi tersebut, tentang masa akhir hidupnya, rencana yang belum tercapai, dan cerita lain. Ini adalah cara pikiran beradaptasi dengan realitas. Dengan melakukan hal ini, penyangkalan perlahan mulai hilang dan realitas muncul dengan jelas di depan mata, membawa orang masuk ke tahap berikutnya: mencari jawaban. “Mengapa ini semua terjadi, apakah sebenarnya bisa dicegah?”, atau “Apa salahku sehingga pantas menerima ini?” Pada akhirnya, dengan banyaknya pertanyaan yang mulai bermunculan, makin menguat kesadaran bahwa kehilangan itu nyata. Penyangkalan mulai reda seiring dengan proses ini. Berbagai emosi mulai muncul ke permukaan.
Setelah melalui tahap penolakan, seseorang mulai menyadari bahwa mereka mampu bertahan. “Aku masih di sini… Aku masih bisa menghadapi semuanya…” Namun, di balik kesadaran itu, muncul berbagai emosi yang menyakitkan seperti marah, sedih, panik, kecewa, dan kesepian. “Kenapa ini terjadi padaku? Aku tidak pantas menerima ini! Aku belum siap!”
Kemarahan bisa tertuju ke mana saja—pada orang yang telah pergi, pada diri sendiri yang merasa tidak berdaya, atau bahkan pada Tuhan. “Kenapa kamu pergi dan meninggalkanku? Kenapa tidak lebih berhati-hati?” Amarah juga bisa muncul sebagai bentuk protes kepada Tuhan, mempertanyakan kehadiran-Nya di tengah penderitaan.
C.S. Lewis dalam A Grief Observed menggambarkan rasa kehilangan dengan begitu jujur: Ketika kita bahagia, Tuhan terasa dekat. Namun, saat kita dilanda duka dan mengetuk pintu-Nya, justru kita merasakan keheningan yang menyakitkan. Tahap kemarahan adalah bagian dari proses berduka yang perlu diterima. Luapkan kemarahan dengan cara yang sehat. Misalnya seperti berbicara dengan orang terdekat, menulis, berteriak di tempat yang aman, atau menyalurkannya melalui aktivitas fisik. Semakin kita mengizinkan diri merasakannya, semakin cepat kemarahan mereda.
Menurut Dr. Jill Bolte Taylor, reaksi kimia akibat emosi hanya bertahan 90 detik. Namun, jika seseorang terus merasa marah atau sedih berkepanjangan, itu sering kali disebabkan oleh pikirannya sendiri yang terus menghidupkan kembali perasaan itu. Dengan mengelola emosi, kemarahan akan berlalu. Ketika amarah mereda, muncul emosi lain—kesedihan, frustrasi, atau bahkan iri pada mereka yang tidak mengalaminya. Menghadapi setiap emosi dengan kesadaran akan membantu kita perlahan pulih.
3. Bargaining (Tawar-menawar)
Fase berikutnya yang umum terjadi adalah pikiran yang terus melayang ke masa sebelum dukacita… “Kalau aku lebih banyak berbuat baik, akankah semua ini berubah jadi sekadar sebuah mimpi buruk?” atau “Kalau saja aku lebih memahami dirinya, mungkinkah dia akan lebih sehat danlebih kuat bertahan…?” Rasa bersalah adalah emosi yang umumnya mendasari fase ini. Kalimat seperti “Tuhan, tolonglah…aku akan lakukan apa pun agar dia kembali…” merupakan respons khas yang dapat muncul juga di fase ini. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, Kübler-Ross dan Kessler menuliskan bahwa tahap demi tahap tidak selalu bersifat linear. Seseorang yang berdukacita dapat kembali lagi ke fase sebelumnya, atau bahkan melewati salah satu fase.
Sama seperti pada fase yang lain, penting untuk menerima emosi yang
muncul. Rasa bersalah dan tawar-menawar yang dilakukan adalah bagian upaya
untuk keluar dari rasa sakit akibat kehilangan, upaya mengalihkan diri dari
kepedihan yang sebenarnya. Mereka yang berduka tahu bahwa tawar-menawar tak
akan mengembalikan orang yang dikasihinya, tetapi tetap melakukannya selama
beberapa waktu karena dapat memberi kelegaan walau sesaat. “Tuhan, bagaimana bila aku saja yang mati dan
jangan dia?” Pikiran-pikiran semacam
ini akan terus muncul. Seiring
pikiran memproses seluruh tawar-menawar itu, akan muncul kesadaran mengenai
realitas yang sesungguhnya: orang terkasih sudah benar-benar pergi selamanya!
4. Depression (Depresi)
Perasaan hampa mulai muncul, sementara dukacita semakin mendalam. Namun, penting untuk memahami bahwa perasaan ini bukan gangguan mental, melainkan respons alami terhadap kehilangan yang besar. Ada keengganan menjalani hari, keinginan untuk tetap berada dalam kesedihan, dan pertanyaan tentang makna hidup. “Mengapa harus bangun? Untuk apa makan? Apa gunanya semua ini jika harus dijalani sendirian?”
Banyak orang berusaha mencegah mereka yang berduka agar tidak tenggelam dalam depresi. Kondisi ini sering dianggap tidak wajar dan perlu segera diatasi. Padahal, dalam proses berduka, depresi adalah bagian yang alami. Justru aneh jika kesedihan mendalam tidak menimbulkan perasaan tersebut.
Dalam konteks dukacita, depresi berfungsi sebagai mekanisme perlindungan. Sistem saraf secara alami menutup diri agar seseorang tidak langsung menghadapi emosi yang terlalu berat. Oleh karena itu, mendesak seseorang untuk segera pulih justru bisa memperburuk keadaan. Ibarat badai yang sedang mengamuk, memaksanya “keluar” terlalu cepat sama dengan memaksanya menghadapi gelombang besar tanpa persiapan.
Depresi bukan perasaan yang nyaman, tetapi cara terbaik menghadapinya adalah dengan menerimanya. Mengabaikannya hanya akan membuatnya terus menghantui. Seiring waktu, perasaan ini akan mereda, dan kehidupan perlahan berjalan kembali. Namun, dukacita tidak benar-benar hilang. Dari waktu ke waktu, rasa pedih itu mungkin datang lagi.
Seorang ibu yang kehilangan anaknya berkata, “Saya pikir sudah lebih baik, tetapi depresi itu kembali menghantam saya. Saya tahu, satu-satunya cara menghadapi badai ini adalah dengan melaluinya.”
5. Acceptance (Penerimaan)
Banyak yang mengira acceptance
terjadi ketika kita bisa menerima kehilangan dan menganggapnya sebagai peristiwa
yang biasa saja. Namun, acceptance
bukanlah seperti itu. Tahap ini adalah tentang menerima kenyataan bahwa dia
yang kita kasihi telah meninggalkan kita selamanya. Kita tak akan pernah
menyukai realitas ini atau merasa baik-baik saja. Namun, pada akhirnya kita
akan menerimanya dan belajar untuk hidup berdampingan dengan rasa kehilangan
ini. Kita mungkin akan berhenti marah kepada Tuhan, berhenti mencari jawaban,
dan menerima bahwa memang sudah waktunya kekasih hati kita pergi. Sementara
bagi kita, inilah waktunya untuk sembuh.
Dengan berjalannya waktu, ketika kita sedikit demi sedikit belajar hidup berdampingan dengan realitas, kita akan melihat bahwa ada hal-hal yang perlu diselaraskan karena hidup telah berubah selamanya. Kita perlu mengatur ulang peran kita, melepaskan tanggung jawab yang tak bisa kita pikul, dan melakukan penyesuaian lainnya. Acceptance adalah proses yang membutuhkan waktu. Griefing antara satu orang dengan yang lainnya berbeda karena sifatnya yang sangat personal.
Sedikit demi sedikit, energi yang kita curahkan pada kepedihan akan teralih pada hidup yang ada di hadapan kita. Kita mulai membangun perspektif baru, menemukan cara untuk mengenang dia yang telah pergi, dan menyelaraskan diri. Dalam proses ini, kita semakin mengenal diri. Anehnya, seiring dengan proses melewati dukacita ini, kita merasa makin dekat dengan kekasih yang telah pergi. Berbagai kenangan tentangnya mulai memberi kehangatan dan bukan lagi luka. Kita mulai belajar menyatukan lagi pecahan-pecahan hidup kita. Kita memulai relasi dan kisah baru, memberi perhatian kepada apa yang kita butuhkan. Selain itu, kita juga bergerak, berubah, bertumbuh…. kita mulai hidup lagi.
Itu semua akan terjadi bila kita memberi waktu pada diri kita untuk berduka.
Tips Mendukung Seseorang yang Sedang Mengalami Dukacita
1. Pahami tahap-tahap yang umumnya terjadi pada seseorang yang sedang mengalami kedukaan.
2. Kedukaan bersifat personal. Oleh karena itu, penanganannya bisa berbeda antara satu individu dengan yang lain. Bersabarlah bersama mereka untuk melalui tahap demi tahap sesuai kondisi masing-masing.
3. Seorang yang berduka perlu diberi kesempatan untuk berproses dan mengalami kesedihannya. Umumnya kita ingin menolong agar dia kembali bahagia, tetap melihat sisi positif, dan fokus pada berbagai hal baik yang hadir di sekelilingnya. Namun, sikap seperti itu bila terlalu cepat dikomunikasikan hanya akan membuat yang berduka makin terluka karena merasa kesedihannya dianggap tidak penting.
4. Tawarkan bantuan. Kita bisa menemani, memberi informasi, memberi dukungan dana, memberi bantuan transportasi, membelikan kebutuhan sehari-hari, membelikan mainan untuk anak, dan lain-lain.
Berduka dan Beriman
“Jangan sedih, dia sudah bahagia di surga…” adalah ungkapan penghiburan yang umum. Namun, apakah orang beriman tidak boleh bersedih saat kehilangan orang terkasih? Bagaimana seharusnya seorang beriman menghadapi dukacita?
Penelitian empiris menunjukkan bahwa individu lebih mampu mengatasi dukacita ketika diberikan ruang untuk berproses. Dukacita bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Kehilangan orang terkasih mengubah hidup secara signifikan. Oleh karena itu, wajar jika seseorang merasakan kesedihan mendalam.
Roma 12:15 menegaskan, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Paulus memahami bahwa menangis adalah respons alami terhadap kehilangan. Orang beriman boleh menangis dan diminta untuk mendukung sesama yang berduka dengan empati.
Dukacita Orang Beriman
Paulus menulis dalam 1 Tesalonika 4:13 bahwa orang beriman tidak berdukacita seperti mereka yang tidak memiliki pengharapan. Dalam teks aslinya, Paulus menggunakan kata “tertidur” untuk menggambarkan kematian. Ia menekankan bahwa orang percaya menantikan kedatangan Yesus kembali.
Orang yang telah meninggal tidak hilang selamanya. Mereka akan dibangkitkan ketika Kristus datang kembali. Pada saat itu, orang percaya akan bersatu kembali dengan mereka dalam kemuliaan Tuhan. Oleh karena itu, dukacita bagi orang beriman bukan tanpa batas, melainkan tetap diiringi pengharapan.
Paulus tidak mengabaikan kebutuhan emosional seseorang. Namun, ia menekankan bahwa kematian bersifat sementara. Kesedihan tetap ada, tetapi tidak boleh menjadi kesedihan yang tanpa harapan. Penghiburan sejati ditemukan dalam iman kepada Tuhan.
Makna Hidup dalam Menghadapi Dukacita
Pandangan terhadap hidup sangat memengaruhi cara seseorang menghadapi dukacita. Paulus berkata, “Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Ia menganggap hidup sebagai kesempatan untuk melayani Kristus.
Bagi Paulus, kehidupan di dunia ini bersifat sementara. Oleh karena itu, ia tidak takut menghadapi kematian. Justru, ia merindukan saat bersama Tuhan. Perspektif ini membantu orang beriman dalam menghadapi kehilangan.
C.S. Lewis dalam A Grief Observed menggambarkan hidup seperti permainan menyusun kartu. Kita bisa tertawa saat menyusunnya, tetapi situasi berubah jika setiap kartu menyangkut hidup dan mati seseorang. Kesadaran akan kefanaan membuat kita lebih serius dalam menjalani hidup.
Dukacita dapat menjadi momen refleksi. Ini adalah kesempatan untuk bertanya, “Apa makna hidup yang sejati?” Ketika menghadapi kehilangan, kita diajak untuk merenungkan tujuan hidup dalam terang iman kepada Tuhan.
Proses dalam Dukacita : Perspektif Psikologi dan Iman
R. Scott Sullender dalam Saint Paul’s Approach to Grief: Clarifying the Ambiguity menyebutkan bahwa setiap orang membutuhkan ruang untuk mengekspresikan emosi mereka. Namun, banyak orang justru menekan emosinya dan mengalihkannya ke hal lain.
Studi Cambridge University menemukan bahwa dukacita sehat mencapai puncaknya dalam 4-6 bulan. Setelah itu, kesedihan perlahan mereda. Proses ini sejalan dengan tahapan grief yang umum dialami seseorang.
Dalam menghadapi kehilangan, kita membutuhkan struktur, jeda, dan penghiburan. Struktur ini dapat ditemukan dalam ibadah dan pemahaman doktrin agama. Iman menuntun seseorang untuk tetap terhubung dengan Tuhan. Ibadah juga membantu seseorang dalam mengelola emosinya dengan lebih baik.
Kisah Ayub memberikan gambaran tentang keterpurukan akibat dukacita. Ia bahkan berharap tidak pernah dilahirkan (Ayub 3:10-11). Dalam penderitaannya, Ayub mempertanyakan Tuhan dan mengungkapkan emosinya dengan jujur.
Allah tidak langsung menjawab pertanyaannya, tetapi memberi respons yang dibutuhkan Ayub. Di akhir kisah, Ayub berkata, “Sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Ayub bertumbuh melalui penderitaan, bukan saat kondisinya pulih, tetapi ketika ia memahami Tuhan dengan lebih dalam.
Iman menjadi kekuatan bagi Ayub dalam menghadapi penderitaan. Ini juga berlaku bagi setiap orang percaya. Dalam dukacita, iman menjadi sumber penghiburan dan keteguhan hati.
Paulus menekankan pentingnya penghiburan dalam komunitas orang percaya. Penghiburan ini dapat dilakukan dengan tiga cara:
Memberikan pemahaman yang benar tentang dukacita, bahwa kesedihan orang Kristen bersifat sementara dan ada harapan akan sukacita mendatang.
Menyampaikan kata-kata penghiburan yang memberi harapan berdasarkan kebenaran firman Tuhan.
Melakukan interaksi langsung dengan mereka yang berduka. Paulus sendiri pernah merasakan penghiburan dari kunjungan Titus dan Timotius.
Ketika seseorang mengalami dukacita, kehadiran dan empati dari sesama orang beriman sangatlah berarti. Penghiburan bukan sekadar kata-kata, tetapi juga tindakan nyata dalam mendampingi mereka yang berduka.
Mazmur 119:92 berkata, “Sekiranya Taurat-Mu tidak menjadi kegemaranku, maka aku telah binasa dalam sengsaraku.” Dalam dukacita, iman kepada Tuhan memberi kekuatan dan penghiburan sejati bagi setiap orang percaya.