Waspada! Ini 10 Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua

keluarga

 

Dr. Paul Bohn, seorang psikiater, mengatakan bahwa orang tua zaman sekarang sering kali berusaha melindungi anak-anak mereka dari segala bentuk ketidaknyamanan. Akibatnya, ketika anak menghadapi kegagalan dalam hidup, mereka merasa ada sesuatu yang sangat salah terjadi.

Terlalu memanjakan, ingin menjadi sahabat terbaik, hingga menetapkan standar yang tidak realistis. Apakah Anda termasuk salah satu yang melakukannya?

Yuk, simak dan refleksikan cara kita dalam mengasuh anak!

10 Kesalahan Orang Tua yang Sering Dilakukan

Kesalahan No. 10: Memuja Anak Berlebihan

Banyak keluarga modern tanpa sadar hidup dalam komunitas child-centric (menempatkan anak sebagai pusat dari segala hal). Hal ini mendorong orang tua untuk melakukan segala sesuatu, membelikan, dan menghujani anak dengan cinta serta perhatian.

Meskipun begitu, Dr. Paul Bohn berpikir bahwa sangat penting untuk mengingat bahwa anak-anak kita diciptakan untuk dicintai, bukan dipuja. Ketika kita memperlakukan mereka sebagai pusat dari dunia, kita menciptakan idola palsu. Daripada rumah yang child-centric, kita seharusnya mengusahakan sebuah rumah yang Christ-centric (berpusat pada Kristus). Anak-anak kita tetap dicintai, hanya saja dalam cara yang lebih baik, yang mengutamakan ketidakegosian di atas keegoisan.

Kesalahan No. 9: Menganggap Anak Selalu Sempurna

Banyak orang tua sulit menerima kritik tentang anak mereka, bahkan ketika disampaikan atas dasar kasih dan demi kebaikan anak mereka. Akibatnya, mereka menolak kenyataan dan kehilangan kesempatan untuk mencegah masalah sebelum berkembang lebih jauh.

Kenyataan dapat menyakitkan, tetapi ketika kita mendengar dengan hati dan pikiran yang terbuka, hal itu akan menguntungkan kita. Kita dapat mencegah lebih dini sebelum situasi berkembang di luar kendali. Sangat mudah untuk menghadapi anak bermasalah daripada memperbaiki orang dewasa yang sudah rusak.

Seorang psikiater dari Children’s of Alabama menegaskan bahwa intervensi dini adalah kunci. Anak-anak lebih elastis dan lebih mudah dibantu saat masih muda. Ketika masalah berlangsung cukup lama, maka hal itu akan menjadi bagian dari identitas mereka.

Kesalahan No. 8: Hidup Melalui Anak

Orang tua tentu bangga melihat anaknya sukses. Bahkan terkadang, kita dapat lebih bahagia daripada aat kita sendiri yang mencapainya. Namun, bahaya muncul ketika anak menjadi perpanjangan eksistensi kita.

Tanpa sadar, kita melihat mereka sebagai kesempatan kedua untuk meraih impian yang belum tercapai. Akhirnya, itu bukan lagi mengenai mereka, tetapi mengenai kita. Inilah dimana kebahagiaan mereka menjadi tercampur aduk dengan kebahagiaan kita.

Kesalahan no. 7: Ingin Menjadi BFF (Best Friend Forever) Anak

Dalam ceritanya, Dr. Paul Bohn membagikan dirinya yang pernah bertanya kepada seorang imam untuk menyebutkan kesalahan orang tua terbesar yang dia lihat dalam mengasuh anak. Imam tersebut berpikir sesaat kemudian menjawab, “Ketika orang tua tak berani mengambil peran sebagai orang tua”.

Tentu, saya sebagai orang tua ingin dicintai dan dihargai oleh anak-anak. Tetapi, jika saya melakukan tugas sebagai orang tua dengan benar, mereka akan marah dan kadang-kadang tidak menyukai saya. Mereka akan memutar mata mereka, menguap, dan mengerang, dan berharap mereka dilahirkan di keluarga lain.

Itu bagian dari proses tumbuh kembang. Fokuslah untuk menjadi orang tua yang membimbing, bukan sekadar menyenangkan. Di samping itu, berusaha jadi BFF hanya membuat kita permisif dan takut kehilangan persetujuan mereka—yang justru bisa berdampak buruk bagi masa depan mereka.

Kesalahan no. 6: Mengasuh Secara Kompetitif

Di era persaingan ketat, banyak orang tua terjebak dalam pengasuhan kompetitif, bahkan hingga merusak hubungan dengan keluarga lain. Semua berakar dari rasa takut seperti takut anak tertinggal, takut mereka tak cukup sukses, dan lain sebagainya.

Akibatnya, banyak orang tua berusaha membekali anak mereka dengan berbagai kursus dan teknologi sejak dini, dengan harapan dapat meningkatkan peluang kesuksesan di masa depan. Namun, sejatinya kesuksesan bukan sekadar mengikuti tren, melainkan dibangun melalui karakter yang kuat dan etos kerja yang tinggi. Anak perlu memahami bahwa pencapaian tidak diberikan begitu saja, tetapi harus diperjuangkan dengan dedikasi dan usaha.

Karakter mungkin tidak terlihat penting pada masa remaja. Namun pada masa dewasa, itu adalah segalanya.

Kesalahan no. 5: Tidak Menikmati Masa Kecil Anak

Membesarkan anak adalah perjalanan yang melelahkan, baik secara fisik maupun emosional. Tak jarang, kita berharap mereka cepat tumbuh demi kenyamanan kita. Kita juga bertanya-tanya tentang masa depan mereka. Apa yang menjadi passion mereka? Apakah Tuhan memberikan karunia yang jelas? Apakah bakat seni mereka akan menjadikan mereka Picasso berikutnya, atau apakah suara merdu mereka akan membawa mereka setenar Taylor Swift?

Sebagai orang tua kita berharap demikian untuk mengetahui kekuatan memelihara mana yang akan memampukan kita untuk mengarahkan mereka pada arah yang jelas.

Namun, di tengah ambisi itu, kita mungkin lupa untuk membiarkan anak kita menjadi anak kecil dan menikmati satu-satunya masa kecil yang diberikan pada mereka. Bagi mereka, hal ini bukan tentang menjadi produktif, ini tentang keberadaan/ menjadi ada. Ini tentang bermimpi besar dan menikmati kehidupan. Tekanan pada anak-anak dimulai terlalu cepat. Kita perlu melindungi mereka dari tekanan-tekanan itu. Kita perlu untuk membiarkan mereka bersenang-senang dan tumbuh sesuai dengan kecepatan mereka, sehingga:

  1. Mereka dapat mengeksplore ketertarikan mereka tanpa takut gagal, dan
  2. Mereka tidak “burned out”.

Izinkan anak tumbuh sesuai ritmenya. Biarkan mereka bermain, mengeksplorasi, dan menikmati satu-satunya masa kecil yang mereka miliki. Sebab, sekali terlewat, masa itu tak akan pernah kembali.

Kesalahan no. 4: Memaksakan Impian pada Anak

Sebagai orang tua, kita memiliki mimpi untuk anak-anak kita. Hal itu bermula ketika kita hamil, sebelum jenis kelaminnya diketahui. Diam-diam kita berharap agar anak kita menjadi seperti kita, namun lebih pintar dan lebih bertalenta.

Tetapi ironinya adalah, anak-anak kita mengikuti cetakan kita dengan cara yang terbalik. Mereka keluar dari jalur dengan cara yang tidak dapat kita antisipasi. Tugas kita adalah mencari tahu sifat mereka, tunduk pada ketetapan Allah, dan melatih mereka pada ketetapan Allah. Memaksakan mimpi kita pada mereka tidak akan berhasil. Hanya ketika kita melihat mereka sebagaimana adanya merekalah yang dapat membuat kita dapat berdampak kuat dalam kehidupan mereka.

Kesalahan no. 3: Tidak Memberi Contoh yang Baik

Ada pepatah, “Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata.”

Sama halnya dengan pepatah di atas, kata-kata bijak saja tidak cukup jika tidak disertai dengan teladan dalam mendidik anak. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat. Cara kita menghadapi kegagalan, memperlakukan orang lain, atau berbicara tentang pasangan, semuanya menjadi contoh yang mereka tiru.

Bagaimana orang tua menghadapi penolakan dan penderitaan… bagaimana orang tua memperlakukan teman dan orang asing… anak-anak memperhatikan hal-hal ini. Cara orang tua merespon memberikan mereka ijin untuk bertindak dan melakukan hal yang sama.

Jika ingin anak-anak menjadi luar biasa, kita harus memiliki tujuan yang luar biasa juga. Ketika ingin anak-anak memiliki kualitas tertentu, maka kita harus terlebih dahulu memiliki kualitas tersebut. Dengan begitu kita sebagai orang tua dapat menjadi contoh bagi mereka, tidak sekedar menyuruh mereka menaati perkataan kita.

Kesalahan no. 2: Menghakimi Orang Tua Lain

Setiap orang tua memiliki pendekatan unik dalam membesarkan anak, dipengaruhi oleh nilai, pengalaman, dan situasi masing-masing. Meskipun kita mungkin tidak selalu setuju dengan pola asuh orang lain, penting untuk diingat bahwa tidak ada metode yang mutlak benar atau salah.

Dengan bersikap lebih terbuka dan menghargai perbedaan, kita tidak hanya menghindari konflik yang tidak perlu tetapi juga memberikan contoh positif bagi anak-anak kita tentang pentingnya toleransi dan kebijaksanaan dalam menilai orang lain.

Kesalahan no. 1: Meremehkan Pentingnya Karakter

Banyak orangtua tidak fokus dalam mengembangkan karakter anak dan bahkan menganggap karakter sebagai hal yang tidak penting. Padahal, karakter inilah yang akan meletakkan dasar mereka untuk bahagia dan masa depan yang sehat. Hal-hal ini lebih penting dari pada semua nilai, rapor, dan penghargaan yang pernah mereka terima.

Tidak seorangpun dari kita dapat memaksa anak kita untuk memiliki karakter tertentu. Hal ini karena bagi anak-anak usia 10 atau 15 tahun, karakter tidak akan berarti banyak. Mereka cenderung lebih peduli pada penghargaan secara langsung yang diberikan pada saat itu juga (short-term gratification). Namun, kita tahu bahwa apa yang akan terjadi pada usia 25, 30, dan 40 bukanlah seberapa jauh mereka dapat melempar bola, atau apakah mereka menjadi cheerleader, tetapi bagaimana mereka memperlakukan orang lain dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri. Jika kita ingin agar mereka membangun karakter, kepercayaan diri, kekuatan, dan kegembiraan, kita butuh untuk membiarkan mereka menghadapi kesengsaraan dan mengalami kebanggaan yang mengikuti ketika mereka menjadi lebih kuat di sisi lain.

Sulit untuk melihat anak-anak kita jatuh, tetapi kadang-kadang kita harus. Terkadang, rasa sakit jangka pendek adalah investasi bagi pertumbuhan dan ketahanan mereka di masa depan.

Karakter: Warisan Terbesar untuk Anak

Mengasuh anak memang bukan hal yang mudah, dan tidak ada orang tua yang sempurna. Namun, dengan memahami kesalahan orang tua dalam mendidik anak, kita bisa berusaha menjadi lebih baik.

Mari refleksikan kembali: Apakah Anda pernah melakukan salah satu kesalahan di atas? Bagaimana cara Anda memperbaikinya?

Kari Kubiszyn Kampakis.

Sumber: http://www.viacharacterblog.org/

20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

keluarga bahagia

Pernahkah Anda merasa mengembangkan karakter baik pada anak adalah hal yang menantang? Sebagai orang tua atau pendidik, kita tentu ingin membimbing mereka menjadi individu yang penuh perhatian, jujur, bertanggung jawab, dan berani. Namun, bagaimana cara terbaik untuk menanamkan nilai-nilai tersebut?

Dalam Parents, Kids & Character: Twenty-One Strategies to Help Your Children Develop Good Character, Dr. Helen LeGette membagikan strategi yang terbukti membantu anak tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan nilai. Berdasarkan pengalamannya selama 33 tahun di dunia pendidikan, ia menekankan bahwa membentuk karakter anak bukan sekadar memberi aturan, tetapi juga membangun kebiasaan dan keteladanan yang konsisten. Dengan pendekatan yang tepat, anak-anak akan lebih siap menghadapi kehidupan akademik, sosial, dan masa depan yang lebih baik.

Lantas, apa saja langkah konkret yang bisa dilakukan? Berikut 20 strategi yang dapat membantu anak mengembangkan karakter positif sejak dini!

Strategi Mengembangkan Karakter Anak di Rumah

1. Jadilah contoh atau teladan karakter di rumah.

“Tidak ada satupun yang lebih berpengaruh, dan lebih menentukan dalam hidup anak selain kekuatan moral dari contoh yang bisu” – William Bennet dalam The Book of Virtues.

Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika ingin mengembangkan karakter positif pada anak, orang tua harus melakukan apa yang mereka katakan dan menunjukkan nilai-nilai yang ingin diajarkan.

2. Perjelas nilai-nilai kita.

Beritahukan kepada anak-anak mengenai sikap kita terhadap isu-isu penting di sekitar. Karakter tumbuh melalui pembelajaran dan keteladanan. Untuk membantu anak menginternalisasi nilai-nilai positif, kita perlu mengajarkan keyakinan kita serta alasan di baliknya.

Ajak mereka berdiskusi mengenai berbagai isu sosial agar mereka memahami nilai-nilai yang penting dalam kehidupan.

3.  Tunjukkan rasa hormat pada pasangan, anak-anak, dan anggota keluarga lainnya.

Orang tua yang saling menghormati, berbagi tanggung jawab, dan menyelesaikan perbedaan dengan damai memberi teladan kuat tentang rasa hormat. Jika anak-anak mendapatkan pengalaman rasa hormat langsung dari dalam keluarga, lebih mudah bagi mereka untuk dapat menghormati orang lain. Sederhananya adalah, rasa hormat melahirkan rasa hormat.

4. Contohkan dan ajarkan sopan santun sejak dini.

Ajaklah anak-anak untuk menerapkan sopan santun di rumah, seperti mengucapkan “tolong” dan “terima kasih,” berbicara dengan hormat, serta mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian. Kebiasaan ini membentuk dasar interaksi sosial yang baik dan membantu mereka memahami pentingnya menghargai orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

5.  Sesering mungkin, makanlah bersama keluarga tanpa televisi.

Makan bersama adalah momen berharga untuk berkomunikasi dan membangun hubungan keluarga yang lebih erat. Tidak jadi masalah apakah makanan tersebut masakan rumah atau makanan yang dibeli di luar, namun unsur yang terpenting adalah waktu berbagi bersama-waktu yang disisihkan untuk memperkuat rasa memiliki satu sama lain dan rasa peduli pada keluarga.

6.  Rencanakan aktivitas keluarga.

Kegiatan sederhana seperti piknik, jalan-jalan, atau sekadar menghabiskan waktu bersama dapat menciptakan memori berharga dan memperkuat nilai kebersamaan dalam keluarga. Orang tua juga dapat melibatkan anak dalam perencanaannya. 

Baca juga: 13 Tips Ampuh Atasi Kemalasan – Dijamin Lebih Produktif!

Strategi Mengembangkan Karakter Anak Melalui Kebiasaan Positif

7.  Jangan berikan akses pada anak untuk alkohol dan obat-obat terlarang.

Teladankan perilaku yang benar dan ajarkan dampak negatif dari penyalahgunaan zat berbahaya agar mereka memahami pentingnya menjaga diri. Meskipun media dan lingkungan sering menggoda remaja untuk mencoba alkohol dan obat-obatan terlarang, contoh dan teladan orang tua tetap menjadi pengaruh terbesar dalam mencegah penyalahgunaan tersebut.

8.  Rencanakan proyek pelayanan keluarga atau kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kebangsaan.

Mengembangkan karakter anak bisa dilakukan dengan melibatkan mereka dalam kegiatan pelayanan masyarakat, seperti berbagi dengan tetangga atau membantu lansia. Hal ini dapat mengajarkan empati, kepedulian, dan kebiasaan melayani.

9.  Membacakan buku untuk anak-anak kita dan menyimpan atau menyediakan bacaan yang baik di rumah.

Buku adalah sumber inspirasi dan pendidikan karakter. Membaca bersama adalah bagian yang penting untuk menyampaikan warisan moral budaya dari generasi ke generasi. Pertanyaan dan pendapat anak-anak mengenai cerita memberikan pemahaman yang penting bagi orang tua mengenai pikiran, keyakinan, dan fokus perhatian anak-anak mereka.

10.  Batasi  pengeluaran atau belanja anak-anak.

Bantu anak-anak mengembangkan rasa menghargai pada hadiah, penghargaan atau reward yang bersifat non-material. 

Dalam budaya konsumerisme saat ini, anak remaja mudah untuk memercayai bahwa image-menggunakan baju yang “pantas”, mengendarai mobil yang “pantas”, dll-menggambarkan kesuksesan dan kebahagiaan.

Orang tua bisa menanamkan nilai yang lebih bermakna dengan menunjukkan cara bijak mengelola sumber daya atau dana yang dipercayakan kepada anak-anak.

11.  Diskusikan mengenai liburan dan maknanya.

Milikilah perayaan keluarga dan bangunlah tradisi keluarga. Abraham Lincoln mengamati bahwa dengan berpartisipasi dalam perayaan nasional menyebabkan orang-orang Amerika “merasa lebih terikat satu sama lain, dan terikat lebih kuat pada Negara dimana ia tinggal.” Memperhatikan liburan dan merayakan tradisi keluarga tidak hanya mengembangkan rasa keterikatan dan kekeluargaan dengan orang lain, tetapi hal ini juga menjadi perekat khusus yang mengikat kita bersama-sama sebagai manusia, anggota keluarga, dan warga negara.

12.  Gunakan momen sehari-hari sebagai kesempatan mendidik.

Gunakan berbagai situasi untuk memicu diskusi keluarga tentang isu-isu penting. Beberapa pendidikan karakter yang paling efektif dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang sedang berlangsung di dalam keluarga. Orang tua dan anak berinteraksi satu sama lain, mereka juga berinteraksi dengan orang lain di luar rumah, tak terhitung situasi yang dapat digunakan untuk mengajarkan pelajaran berharga tentang tanggung jawab, empati, kebaikan, dan belas kasih.

13.  Berikan tanggung jawab pekerjaan rumah untuk seluruh anggota keluarga.

Meskipun lebih mudah mengerjakan tugas rumah sendiri, menugaskan anak dengan pekerjaan rumah tangga akan mengajarkan mereka tanggung jawab dan kerja sama yang penting dalam kehidupan bermasyarakat.

14.  Tetapkan ekspektasi untuk anak-anak dan pertahankan agar mereka bertanggung jawab atas tindakannya.

Menentukan batasan yang rasional dan menerapkannya dengan benar akan menjadikan orang tua sebagai pemimpin moral di dalam rumah. Hal ini akan memberikan rasa aman bagi anak dan remaja, serta memungkinkan anak-anak tahu bahwa kita peduli pada mereka dan ingin mereka menjadi orang yang memiliki karakter baik.

15.  Jaga anak-anak tetap sibuk dalam kegiatan-kegiatan positif.

Anak-anak dan remaja memililki tingkat energi yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana menyalurkan energi tersebut ke dalam kegiatan-kegiatan positif, seperti olah raga, hobi, musik, seni, atau ke dalam kelompok komunitas gereja atau anak muda, atau kepramukaan. Kegiatan-kegiatan tersebut mempromosikan sikap memperhatikan orang lain, peduli, kerja sama dan juga memberikan anak perasaan berhasil.

Strategi Orang Tua dalam Membimbing Karakter Anak

16.  Belajar untuk mengatakan TIDAK dan jelaskan mengapa.

Sangat alami bagi anak-anak-khususnya remaja-untuk menguji batasan orang tua dan menantang otoritas orang tua. Terlepas dari protes yang diajukan anak, tindakan kasih sayang terbesar yang dapat diberikan oleh orang tua adalah dengan selalu bersikap tegas dan melarang keterlibatan anak dalam kegiatan yang berpotensi melukai mereka.

17.  Ketahuilah anak-anak sedang berada dimana, melakukan apa, dan dengan siapa.

Orang dewasa perlu mengkomunikasikan dengan berbagai cara bahwa kita peduli pada anak-anak dan mengharapkan yang terbaik dari mereka, tetapi kita juga menganggap serius tanggung jawab kita untuk membangun standar, memonitor, mendampingi, dan mengawasi mereka. Jangan ragu untuk mengenal teman dan orang tua mereka, meski dianggap “kuno.”

18.  Jangan menutup-nutupi atau membuat alasan untuk membenarkan perilaku anak yang tidak pantas.

Jika anak melakukan kesalahan, bantu anak memahami konsekuensi kesalahan mereka tanpa mencari pembenaran. Melindungi mereka dari akibat logis hanya menghambat pembelajaran tanggung jawab dan memberi kesan bahwa aturan bisa diabaikan.

19.  Perhatikan konten media yang dikonsumsi anak.

Di tengah maraknya konten dan informasi negatif, ajarkan anak menonton dengan bijak melalui contoh dan diskusi terbuka. Jika mereka mengakses tontonan tak pantas, berterus teranglah dan bagi perasaan kita mengenai hal itu, kemudian diskusikan mengapa bahan tontonan yang tidak pantas itu menyakiti dan mengganggu nilai-nilai keluarga.

20.  Ingat bahwa kita adalah orang dewasa.

Anak-anak tidak membutuhkan kita sebagai teman lain, tetapi mereka  membutuhkan kita sebagai orang tua yang peduli untuk mengatur dan menetapkan batas-batas yang tepat untuk perilaku mereka. Terkadang mengatakan “ayah saya tidak mengijinkan saya” dapat memberikan anak-anak remaja pelarian yang nyaman ketika mereka tidak ingin ikut serta dalam kegiatan yang meragukan.

Mengembangkan Karakter Anak, Investasi Jangka Panjang

Mengembangkan karakter anak bukan sekadar tugas, tetapi investasi jangka panjang dalam membentuk individu yang bertanggung jawab, beretika, dan siap menghadapi tantangan hidup. Dengan membiasakan mereka menerapkan sopan santun, memahami konsekuensi dari tindakan mereka, serta menetapkan batasan yang jelas, kita membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan berintegritas.

Adapted from Parents, Kids, & Character by Helen LeGette. – Available from the National Center for Youth Issues or from the Character Development Group. Used by permission.

Sumber: http://charactered.net -IB/ Tim karakter

Pelayanan Kaum Muda, Hati Sejuk di Zaman Penuh Tekanan

Oleh: Benny Dewanto, Kabag PK3.

kaum muda

Tentang Kaum Muda

Dalam pelayanan kaum muda, terdapat sebuah metode untuk menangkap kejujuran mereka saat berbicara tentang diri dan masa depannya melalui rekaman video pribadi (self-talk). Dalam durasi singkat, kurang lebih lima menit, metode self-talk tersebut ternyata dapat menggambarkan kejujuran kaum muda dan memungkinkan kaum muda untuk mengekspresikan refleksi mendalam tentang identitas, pergumulan hidup, serta harapan mereka. Padahal, kaum muda seringkali dianggap sebagai kelompok yang sulit dipahami, sehingga diperlakukan sebagai segmen yang khusus. Tidak jarang, karena cara pandang tersebut, terbangun gap antara kaum muda dengan generasi di atasnya.

Dari self-talk di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kaum muda merupakan pribadi yang rentan menderita karena perubahan zaman. Self-talk juga mencerminkan bagaimana kaum muda bangkit dan mendorong perubahan sebagai bentuk protes terhadap tekanan yang mereka hadapi. Ketika kaum muda gelisah karena “beban” tersebut, mereka mengambil aksi dengan melakukan perubahan zaman. Semakin besar tekanan tersebut, semakin cepat pula mereka melakukan perubahan. Alhasil, semakin lebar pula gap yang terjadi karena banyak pihak yang sulit mengerti atau memahami perubahan-perubahan tersebut. Jadi, ini seperti sebuah putaran yang tak berujung, yang menjadi lingkaran hidup kaum muda, yaitu tekanan (penderitaan) – ekspresi perubahan – gap ketidakmengertian.

Pelayanan Kaum Muda: Memahami dan Menolong yang Tawar Hati

Amsal 24:10–12 berkata: “10Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu. 11Bebaskan mereka yang diangkut untuk dibunuh, selamatkan orang yang terhuyung-huyung menuju tempat pemancungan. 12Kalau engkau berkata: “Sungguh, kami tidak tahu hal itu!” Apakah Dia yang menguji hati tidak tahu yang sebenarnya? Apakah Dia yang menjaga jiwamu tidak mengetahuinya, dan membalas manusia menurut perbuatannya?”

Perenung Amsal mengatakan bahwa Amsal 24:10–12 berbicara tentang perintah terhadap orang yang paham untuk menolong mereka yang rentan menyerah (the quitter). Bila renungan ini direfleksikan ke dalam fenomena kaum muda, ada sebuah pertemuan antara pihak yang tawar hati/sesak, yaitu kaum muda, dengan pihak yang— di mata Tuhan—sesungguhnya mengerti tentang persoalan yang menyebabkan tawar hati/sesak tersebut. Oleh karena itu, perenungan ini mengajak kita untuk berdiri sebagai pihak yang kedua.

Dalam perenungan tentang kaum muda yang dikaitkan dengan ayat di atas, sekalipun mereka melejit mengemukakan dunia, dalam kesesakan, mereka seperti pribadi yang tidak punya kekuatan karena tawar hati (ayat 10). Banyak penelitian yang menyatakan bahwa kekecewaan kaum muda berasal dari orang-orang terdekat yang seharusnya menjadi panutan hidup. Dalam hal ini, kata “tawar hati” pada Amsal menjelaskan makna lemas (hang limp), sebuah gambaran kekecewaan yang begitu mendalam hingga membuat dirinya enggan lagi berharap (grow slack). Akibatnya, kondisi lesu dan kecewa ini menjadikan mereka seperti korban empuk yang diintai untuk “dibunuh oleh dunia.”

Lebih lanjut, Amsal 24: 10–12 dapat dijadikan topik self-talk baik bagi kaum muda maupun kita, kaum dewasa. Dengan kata lain, ayat ini mengajak kita berdialog secara pribadi, menelusuri kejujuran hati terhadap apa yang kita rasakan dan ketahui. Ayat ini dapat direnungi oleh seluruh anggota komunitas Athalia, untuk menyejukkan hati agar komunitas ini siap menyejukkan hati generasi muda dalam menghadapi zaman-zaman selanjutnya: zaman yang bergerak cepat yang memunculkan kekhawatiran dan kecemasan; zaman alternatif yang akan semakin masif.

Menjaga Generasi Muda agar Tidak Terhuyung dalam Arus Dunia

Perjalanan iman anak-anak kita akan semakin ditantang oleh dunia yang akan menawarkan lebih banyak pilihan. Jurang jarak antara kebenaran dan kepalsuan menjadi semakin besar, membuat “mata menjadi rabun” dalam membedakannya. Dalam kondisi ini, semakin banyak kaum muda yang berpotensi berjalan terhuyung-huyung. Akankah kita abai dan tetap berada di dalam gap ini? Apakah kita akan membiarkan mereka terhuyung-huyung menuju kebinasaan seperti orang yang akan dipancung?

Untuk menolong mereka yang terhuyung-huyung, tentu kita sendiri tidak boleh menjadi linglung dan limbung. Membangun konsep pertolongan kehidupan yang terbaik adalah melalui pertemuan berbagi hidup, yaitu saling menggenggam dalam meniti jalan lurus dengan hati yang tulus. Amsal 24: 12 menuntut kita untuk memahami bahwa jiwa kita boleh terus bertumbuh oleh karena pertolongan-Nya. Karena itulah Dia menjaga dan meminta kita menjaga anak-anak ini.

Amsal 24: 12 nyata berkata bahwa kita seharusnya menjadi pribadi yang matang, pemerhati kebenaran dan pelaku pemberi pertolongan. Janganlah cepat berkata, “Kami tidak tahu tentang hal itu!” Janganlah menjadi bagian yang membuat kaum muda seperti terhuyung-huyung menuju tempat pemancungan. Mata-Nya yang tajam akan senantiasa menatap isi hati dan pikiran kita. Berdirilah tegak dalam kebenaran, tidak terseok-seok. Dalam pelayanan kaum muda ini, mari genggamlah kaum muda mendekat agar turut pula berdiri tegak dalam kebenaran. Hati-Nya yang sejuk pun akan menjadikan kaum muda Athalia menjadi penyejuk zaman.

Baca juga: Titik Temu Antargenerasi – Saling Memahami

Titik Temu Antargenerasi – Saling Memahami

Elia Okki (staf Bagian SDM)

pendidik dan siswa antargenerasi

Memahami Perbedaan Antargenerasi

Melakukan panggilan Tuhan untuk membawa anak-anak menjadi murid-Nya tidak hanya tugas orang tua, tetapi juga tugas orang dewasa di sekitarnya. Begitu pula di lingkungan Sekolah Athalia. Para pengajar dan staf mengemban peran yang sama, yaitu mendampingi setiap murid berproses dalam pertumbuhan karakter mereka. Namun, stigma yang dimiliki setiap generasi dapat menjadi penghalang untuk melayani lintas generasi.

Antargenerasi akan menghadapi kesenjangan karena setiap zaman memiliki ciri khas ketika mereka tumbuh besar. Oleh karena itu, kita perlu mencoba meminimalisasi kesenjangan antargenerasi dengan cara melihat peristiwa dan kondisi yang membentuk suatu generasi tiap zaman.

Setiap generasi lahir dengan sejarah yang berbeda. Kita ambil contoh generasi Milenial dan Gen-Z. Stillman (2018)1 menyebutkan bahwa generasi Milenial menghabiskan masa kecilnya dengan bermain dan kebanyakan lahir dari orang tua generasi Boomers yang memfokuskan diri untuk menumbuhkan harga diri anak dengan cara “lihat dan dengar anak”. Perspektif kerja Boomers ialah untuk kepuasan batin yang melahirkan pencarian makna bagi generasi Milenial dalam bekerja. Generasi Milenial akrab dengan istilah “komunikatif, kolaboratif, optimis, idealis, yang terbaik, work-life balance, menjadi teman”. Juga slogan “Susah-senang, mari rayakan hidup!” membuat Milenial fokus menikmati hidup di masa kini. Itulah ciri khas generasi Milenial.

Bagaimana dengan Gen-Z? Gen-Z menghadapi isu persoalan ekonomi dunia yang membentuk cara mereka menyikapi hidup. Orang tua yang kebanyakan berasal dari Generasi X, dengan sepenuh hati menyiapkan anak-anak Gen-Z dalam menghadapi dunia nyata secara mandiri. Peristiwa politik, COVID-19, resesi berat, masa depan, terorisme modern, isu lingkungan, disrupsi teknologi, dan sebagainya berdampak dalam hidup mereka. Mereka berjuang menata hidup masa depan agar memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dari orang tua mereka. Sebab itulah, pemikiran mereka terfokus pada “Apakah kehadiranku menghasilkan perbedaan atau tidak?

Baca juga: Kunci Berkomunikasi dengan Anak: Buat Lebih Bermakna! dan My Story is God’s Story

Menjalani Iman di Tengah Perbedaan Generasi

Jadi, bagaimana kita bisa berjalan bersama generasi muda yang Tuhan titipkan di tengah kekacauan zaman? Perbedaan menjalani hidup antargenerasi tak seharusnya menjadi penghalang untuk jalan bersama dan menjadi murid-Nya, terutama di dalam kelompok kecil KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) yang dilayani oleh penulis.

Benner (2012)2 menekankan agar perjalanan bersama anggota kelompok kecil haruslah berfokus kepada Allah. Ia menyebutkan bahwa keramahan, kehadiran, dan dialog rohani perlu dibangun jika kita ingin menjalin persahabatan yang dasarnya adalah Kristus. Oleh karena itu, relasi harus dibangun dengan memprioritaskan perenungan mendalam daripada sekadar pertanyaan benar dan salah, menjadi komunitas doa, membagikan pengalaman rohani, penerimaan, dan saling mendukung. Zaman dan generasi bisa saja berbeda, tetapi Allah yang berdaulat dalam dunia dan kehidupan akan selalu menjumpai umat-Nya melampaui cara dan pikiran manusia. Anak-anak yang sedang berjalan bersama kita menghadapi pergumulannya, begitu pun kita. Kondisi ini membuat kita, generasi yang berbeda dengan mereka, perlu kepekaan dari Roh Kudus agar bisa berjalan bersama mereka. Hanya di dalam keterhubungan dan keterlibatan Allah saja ada pengharapan hidup. Kiranya Tuhan menolong kita.

  1. Stillman, D. & Jonah Stillman. 2018. Generasi Z: Memahami Karakter Generasi Baru yang Akan Mengubah Dunia Kerja. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ↩︎
  2. Benner, D. 2012. Sacred Companions (Sahabat Kudus). Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur. ↩︎

Perjalanan Mencari Komunitas yang Bertumbuh

Elizabeth Liswandi (orang tua Siswa Kelas IV dan TK A)

Menemukan Komunitas

Hai Athalians, perkenalkan nama saya Elizabeth. Saya memiliki dua anak yang bersekolah di Athalia, yaitu Ruth dan Joy. Saya berasal dari keluarga Kristen yang taat. Setiap minggu kami sekeluarga selalu pergi ke gereja. Orang tua dan ketiga kakak saya adalah aktivis gereja, sehingga ketika ada pembentukan kepanitiaan atau pengurus untuk acara gereja, saya selalu diajak. Semua berjalan dengan sendirinya tanpa perlu usaha. Semua kemudahan yang didapat membuat saya seolah-olah take it for granted terhadap setiap kesempatan yang hadir. Sampai suatu keadaan membuat saya harus berpindah gereja.

Pada masa itu Tuhan seperti menutup kesempatan yang dahulu Dia berikan dengan mudahnya. Saya mulai menyadari bahwa melayani dan punya komunitas yang bertumbuh itu anugerah dari Tuhan. Saya pun sadar bahwa saya perlu teman-teman yang bisa saling menyemangati, menegur, dan mengingatkan.

Bertahun-tahun berlalu, sampai saya menikah dan punya anak, saya belum juga menemukan komunitas yang cocok di hati. Namun, saya tetap mencari sambil berdoa, “Tuhan, kalau boleh, saya rindu bertemu dengan komunitas yang bisa membantu saya untuk bertumbuh dan melayani”. Perlahan-lahan, Tuhan mulai menjawab doa saya. Ia mempertemukan saya dengan komunitas Kristen di luar gereja, pasutri di gereja, dan juga di Sekolah Athalia. Saya bersyukur karena akhirnya bisa menemukan teman orang tua yang saling peduli, sharing, dan support.

Lihat Juga : My Story is God’s Story

Bertumbuh dan Melayani Bersama dalam Komunitas

Sekolah Athalia memiliki komunitas doa Parents in Touch (PIT). Saat pertama kali ikut PIT, perasaan saya mengatakan, “Saya sudah berada di tempat yang tepat”. Saya merasa diberkati dengan firman Tuhan dan kesaksian yang disampaikan. Kami juga bisa saling mendoakan, hal ini tidak saya dapatkan di sekolah Ruth sebelumnya. Di Athalia bukan anak saja yang belajar, saya juga belajar dan bertumbuh dengan adanya seminar parenting. Saya juga melihat perubahan demi perubahan terjadi di diri Ruth dan Joy.

Perjalanan mencari komunitas untuk bertumbuh bersama mengajarkan saya tentang banyak hal:

1. Sikap hati yang benar

Tanpa sikap hati yang benar, ketika kita berada di komunitas yang baik pun kita tidak akan bisa bertumbuh sesuai yang Tuhan mau. Kita perlu ingat bahwa semuanya dari Tuhan dan dikembalikan untuk kemuliaan Tuhan. Jangan sombong apabila Tuhan memberi kita kesempatan. Itu semua bukan karena hebatnya kita. Mungkin kita berpikir, “Sendiri juga bisa kok, bertumbuh. Baca Alkitab sendiri juga bisa bertumbuh, gak perlu komunitas.” Tentu saja bisa. Namun, berapa lama bisa bertahan? Kita tetap butuh orang lain untuk saling mengingatkan. Seperti firman Tuhan di Amsal 27:17:

“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”


2. Membuka diri

Terkadang ketakutan tidak diterima membuat kita enggan untuk membuka diri, bahkan menjauh dari komunitas. Namun, keterbukaan justru dapat memudahkan kita mendapatkan kekuatan dan dukungan untuk mengatasi tantangan dalam hidup.


3. Berdampak

Kita diciptakan Tuhan dengan satu tujuan. Di mana pun kita ditempatkan, Tuhan mau kita memancarkan karakter Kristus yang berdampak bagi orang lain.

Semoga kisah ini bisa bermanfaat. Tetap semangat dan jangan lupa bahagia. Tuhan Yesus memberkati.

Baca artikel lainnya tentang PIT:

https://sekolahathalia.sch.id/pit-parents-in-touch/

https://sekolahathalia.sch.id/parents-in-touch-keluarga-yang-berpusat-pada-kristus/

Jangan Takut Berbeda, Jadilah Pribadi Autentik!

Oleh: Betsy K. Witarsa – Konselor SMA

pribadi autentik

Sebagai manusia, kita adalah ciptaan Allah yang paling mulia karena diciptakan segambar dan serupa dengan diri-Nya. Kita diberi kemampuan untuk berpikir, berencana, merasakan emosi, berekspresi, dan mengambil tindakan. Setiap kita juga memiliki karakteristik, kepribadian, dan bakat unik yang membuat diri kita unik dan berbeda satu dengan yang lain.

Menjadi pribadi autentik berarti memahami diri, menghargai keunikan yang diberikan Tuhan, dan memaksimalkan potensi diri. Kehidupan yang autentik memberikan kepuasan dan makna yang lebih mendalam jika kita mampu melihat diri dari perspektif Allah.

Sayangnya, ada berbagai hal yang seringkali menghambat kita untuk bisa menjadi pribadi yang autentik. Beberapa orang tumbuh dalam lingkungan yang minim teladan dan kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan secara sehat, sehingga terbiasa untuk memendam atau bahkan menyangkal pikiran dan perasaan yang ada di dalam diri. Ada pula yang diberi tuntutan untuk mencapai atau menjadi sesuatu yang sebenarnya tidak selaras dengan bakatnya, lalu dikritik dan dipandang sebelah mata ketika hasilnya kurang maksimal.

Banyak manusia terbiasa memakai topeng demi mendapat penerimaan dan pengakuan. Ketika hal ini berlanjut dalam jangka waktu yang lama, sehingga mereka semakin tidak peka dengan pikiran, emosi, dan kebutuhannya sendiri. Kehidupan tidak lagi dilandasi oleh pengenalan yang benar akan diri dan Allah menjadikan hidup mudah terombang-ambing tanpa arah.

Bagaimana Menjadi Pribadi yang Autentik?

Tidak ada kata terlambat untuk mulai menjalani hidup dengan lebih autentik, sembari tetap menjaga keharmonisan relasi dengan orang-orang di sekitar. Kata kuncinya adalah membangun relasi yang baik dan dekat dengan diri sendiri. Kita dapat melatih diri untuk melakukan beberapa hal berikut ini:

  1. Perhatikan dan sadari apa yang terjadi di tubuh kita. Leher atau bahu yang tegang mungkin terkait dengan apa yang ada dalam pikiran, perasaan, pemikiran, dan memori kita. Kondisi fisik dan psikologis kita saling mempengaruhi.
  2. Biasakan memvalidasi pikiran dan perasaan kita, bukan menyangkalnya. Hal ini bukan berarti kita tidak boleh mengevaluasi apa yang kita pikirkan dan rasakan, tetapi langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengakui dan memberi ruang terlebih dahulu. Contoh kalimat validasi yang bisa kita katakan pada diri sendiri yaitu: “Aku menyadari bahwa aku berpikir kalau orang lain lebih beruntung dari diriku dan aku jadi mengasihani diri sendiri”, “Saat ini sedang ada kesedihan yang begitu besar dalam diriku dan aku mengizinkan diriku untuk merasakannya”, dan “Aku sebenarnya tidak suka dengan kecemasan yang sering muncul ini, tetapi aku belajar mengakui bahwa saat ini memang seperti itu kondisinya”.
  3. Kenalilah diri kita sendiri. Apa yang kita kuasai, apa yang kita suka lakukan, apa yang membuat hati kita tergerak, apa yang penting dan bernilai bagi kita, dan semacamnya. Hadapi kebenaran tentang siapa kita dan akuilah jika memang ada aspek-aspek dari diri sendiri yang masih sulit untuk diterima. Kebenaran tidak selalu menyenangkan, tetapi dapat berpotensi membebaskan kita.

Baca juga: Menjadi Otentik, Kunci Bertumbuh

Menjadi Autentik, Kunci Bertumbuh

Sebagai orang tua, kita sering berpikir bahwa tugas utama kita adalah membimbing anak bertumbuh. Namun, pernahkah kita menyadari bahwa justru dalam proses itu, kita sendiri juga terus belajar dan bertumbuh?

Kami sekeluarga, termasuk Fidelio, anak kami, sepakat bahwa Fidelio tidak diberikan gadget atau laptop sampai waktu yang belum ditentukan, sampai umur dan pengendalian dirinya dirasa cukup. Suatu hari, sepulang kerja, saya dikejutkan oleh pengakuan jujur dari Fidelio, anak kami. Fidel bercerita dengan muka lesu, 

“Ma, tadi papa lupa ya bawa laptopnya ke sekolah, ketinggalan di rumah”.
“Oh, iya ya? Lalu kenapa, Nak?” (meski saya sudah bisa menebak jawabannya)
“Tadi aku tergoda main sebentar dan nonton, tapi cuma 1 film pendek kok, Ma..”
“Kamu merasa baik-baik saja?”
“Ga, tadi pas buka laptop aku deg-degan.. Jadi abis nonton film, aku cepet-cepet tutup laptop, terus ngobrol lama sama Tuhan, terus tidur siang..”
“Oh..”
“Maaf ya, Ma, tadi juga aku minta maaf sama Tuhan..”
Beberapa detik saya mencerna dan sontak berbicara dengan Tuhan, “Tolong saya, Tuhan… tolong percakapan ini.”
“Terima kasih, ya Fidel, sudah mau jujur dan mau datang pada Tuhan, mau belajar taat meski susah ya pasti…tadi di sekolah Mama juga sempat jatuh, gagal dalam ini itu…bla bla bla…”

Iya ya, saya bersyukur percakapan itu ada sebelum saya membuat artikel ini. Saya pikir sebagai orang tua, sayalah yang seharusnya menolong anak saya bertumbuh. Namun, tidak secepat itu. Saya dan suami, sebagai komunitas terkecil di dalam keluarga untuk anak saya, justru tidak berhenti bertumbuh dan belajar, bahkan dari anak yang dititipkan Tuhan. Komunitas seperti apa yang dapat memungkinkan anggota-anggota di dalamnya bertumbuh?

bertumbuh

Komunitas yang Sehat, Tempat Bertumbuh yang Sejati

Sebuah komunitas yang memungkinkan pertumbuhan bukanlah yang menuntut kesempurnaan, tetapi yang terbuka, otentik, dan tidak takut mengakui kelemahan. Tempat di mana kegagalan bukan akhir, tetapi kesempatan untuk belajar dan berubah.

Diri kita ibarat tanah, bagaimana benih bisa bertumbuh dengan baik kalau tanahnya tidak digemburkan, diaduk, bahkan dikeluarkan kerikil-kerikil yang menghalangi? Begitu juga kita, apakah masih menyimpan ego dan dosa yang bisa menghambat pertumbuhan diri sendiri, pasangan, atau anak-anak kita?

“It takes a village to raise a child”

Bagi semua anak-Nya yang diberi panggilan keorangtuaan, baik orang tua, pendidik, staf, pimpinan, yayasan, mari ‘keroyok’ anak-anak kita: keroyokan mendoakan, keroyokan ngumpul untuk saling berbagi dan belajar, keroyokan bergantung pada Tuhan, dan antusias mencari jawaban tentang relasi seperti apa yang Tuhan inginkan terjadi di dalam komunitas ini, terutama dalam komunitas keluarga kita masing-masing. Di luar sana, bahkan hanya dalam satu genggaman gadget, anak-anak kita diserbu dan dikeroyok dengan berbagai ‘hama’, kecuali.. kita, secara komunal, mau membayar harga, memberi diri sepenuhnya, sebisa kita.

Di tengah-tengah kesibukan apa pun yang kita kerjakan, ketika pulang ke rumah, mari beri relasi dan komunikasi yang nyata, otentik, tidak malu-malu, tidak ‘jaim’ (jaga image). Tentu tidak mudah, makanya jangan sendirian! Mari tidak berhenti merawat komunitas ini agar bersama-sama bertumbuh. Dengan demikian, anak-anak kita juga dapat ikut-ikutan bertumbuh dalam karakter Kristus karena berada di ‘taman’ komunitas yang menyuburkan. Salam gembur dan tumbuh!

Tirza Naftali (staf Chaplain)

Baca juga: Jangan Takut Berbeda, Jadilah Otentik!

Komunitas yang Membantu Bertumbuh

Victor Sumua Sanga (Kepala SMA Athalia)

“Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.”
(Efesus 4:11-12)

Komunitas yang Membantu Bertumbuh

Angela Duckworth tumbuh dan dibesarkan di dalam keluarga dengan seorang ayah yang meragukan kompetensi intelektual anak-anaknya. Sang ayah dalam berbagai kesempatan mengatakan kepada Angela, “Kamu bukan orang jenius”. Namun, Angela tidak terjebak dalam label itu.

Jauh di dalam lubuk hatinya Angela ingin berkata, “Ayah bilang saya bukan orang jenius dan saya tidak membantahnya. Tetapi ada satu hal yang ingin saya katakan. Saya akan tumbuh dewasa dengan perasaan cinta terhadap apa yang saya lakukan. Saya akan menantang diri saya sendiri setiap hari. Bila terpukul roboh, saya akan bangkit kembali. Saya mungkin bukan orang yang paling pintar di satu komunitas, tapi saya berjuang menjadi orang yang paling tabah.” Menariknya, ia kemudian meraih beasiswa MacArthur, yang sering disebut beasiswa “Genius Grant“.

Apa Itu Grit dan Bagaimana Kita Bisa Menumbuhkannya?

Ide, pemikiran, dan penelitian tentang pengaruh ketabahan untuk mendukung pertumbuhan diri disarikan oleh Angela Duckworth. Dalam bukunya berjudul Grit, Angela Duckworth menjelaskan bahwa ketabahan (grit) dapat bertumbuh melalui empat faktor utama, meliputi :

  1. Minat (Interest)
  2. Latihan (Practice)
  3. Tujuan (Purpose)
  4. Harapan (Hope)

Ketika membahas tentang minat, Angela menyatakan hal yang penting bahwa, “minat akan berkembang bila ada dorongan dari beberapa pendukung, termasuk orang tua, pendidik, pelatih, dan rekan. Mereka memberikan dorongan berkelanjutan dan informasi penting yang membuat Anda semakin menyukai sesuatu.” Kalimat ini dengan tepat menunjukkan bagaimana sebuah komunitas berperan penting dalam membangun minat yang kemudian akan membentuk ketabahan dan mengoptimalkan pertumbuhan diri.

Peran Komunitas dalam Membantu Kita Bertumbuh

Alkitab juga menekankan pentingnya komunitas dalam membantu bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, menyatakan bahwa Allah memberikan berbagai peran seperti rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, dan pengajar untuk memperlengkapi umat-Nya. Siapa mereka ini bagi komunitas Kristen? Mereka adalah orang tua, para pendidik, rohaniwan, para sahabat, rekan sepelayanan, yang Allah tempatkan di sekitar untuk memperlengkapi kita menemukan dan menekuni panggilan-Nya untuk melayani Tuhan dan sesama. Bagian firman Tuhan ini mengingatkan orang tua dan pendidik untuk memanfaatkan setiap momen dan ruang-ruang perjumpaan untuk memberikan informasi sekaligus inspirasi pertumbuhan diri anak-anak dalam pengasuhan kita.

Sayangnya, tidak semua anak mendapatkan inspirasi dari lingkungan mereka. Sebagian justru mengalami intimidasi, yang menjadi hambatan atau batu sandungan pada pertumbuhan diri dan pencarian panggilan Tuhan dalam hidup mereka. Bagian firman Tuhan ini juga mengingatkan anak-anak untuk mengucap syukur kepada Allah dan berterima kasih atas kehadiran para penolong dalam pertumbuhan hidup mereka. Dukungan dan kehadiran para penolong di sekitar ini sering kali kurang dihargai, take it for granted, tidak lagi disyukuri, dan tidak mendapat ucapan terima kasih.

Ada yang mengatakan, “kehilangan akan membuktikan keberhargaan suatu kehadiran,” tetapi semoga kita tidak harus mengalami kehilangan lebih dahulu untuk bisa menyadari kehadiran para penolong di sekitar kita.

Baca juga: Perjalanan Mencari Komunitas yang Bertumbuh

Penyertaan Tuhan Itu Nyata? Ini Buktinya

Griceline Ruth – Alumni Angkatan III SMA Athalia

Hai, salam kenal. Nama saya Griceline Ruth. Saya adalah alumni SMA Athalia angkatan III, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong. Saat ini saya bekerja sebagai pramugari di Singapore Airlines. Sebenarnya, saya tidak pernah menyangka kalau suatu hari saya akan bekerja sebagai seorang pramugari.

Semua berasal dari rasa penasaran saya tentang bagaimana rasanya tinggal di luar negeri, dan belajar hidup mandiri serta terekspos dengan budaya di luar Indonesia. Banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk menjadi seorang pramugari. Kesiapan mental, kemampuan bahasa, penampilan fisik, dan sebagainya. Terkadang tantangan terberat justru datang dari diri saya sendiri. Misalnya, saat saya akan menjalani proses wawancara. Berbagai pertanyaan “bagaimana jika” terlintas begitu saja di pikiran saya.
Bagaimana jika gagal di tahap terakhir, bahkan di tahap awal?
Bagaimana jika saya tiba-tiba gugup dan tidak bisa menjawab?
Puji Tuhan, dengan persiapan yang baik serta kerendahan hati untuk meminta pertolongan-Nya dalam setiap langkah, saya bisa melewati tahap tersebut.

Bila saya ingat kembali, pendidikan karakter yang saya dapatkan ketika bersekolah di Athalia ternyata menolong saya melewati setiap tahap perjalanan karier sebagai seorang pramugari. Saat di sekolah, saya dan teman-teman yang lain selalu diingatkan untuk berdoa sebelum melakukan segala sesuatu. Tidak hanya itu, kami juga berdoa sebelum kelas dimulai, sesudah kelas berakhir, dan juga dalam kegiatan chapel yang diadakan setiap minggu.

Ada satu kejadian yang sampai sekarang masih saya ingat ketika saya menjalani proses training. Saat itu saya sedang menjalani tes final flight stewardess, mulai dari safety sampai service procedure. Rangkaian tes ini akan menentukan apakah seseorang sudah layak atau belum untuk bertugas. Jujur, saya sangat tegang dan sulit untuk berkonsentrasi.

penyertaan Tuhan

Tuhan Bekerja dan Penyertaan-Nya Selalu Ada Melalui Orang-Orang di Sekitar Kita

Sebelum tes dimulai saya berdoa di toilet agar diberikan kekuatan, ketenangan, dan penyertaan Tuhan dalam menjalani tes. Namun, entah mengapa tiba-tiba saya merasa ada dorongan dari dalam diri yang menginginkan agar saya juga bisa menjadi berkat bagi teman-teman yang sedang menjalani tes tersebut. Saat tes dimulai, teman saya mendapat giliran pertama. Saya berperan sebagai penumpang yang dilayani, dan dia berperan sebagai pramugari.

Saat sesi “serving the meal” karena tegang, dia melupakan nama menu yang sedang diuji, dan saya dilarang untuk memberitahukannya. Saya pun tersenyum padanya sambil berharap senyuman tersebut bisa membantu dia untuk lebih rileks. Tiba-tiba dia menjadi tenang dan bisa menyelesaikan ujiannya dengan lancar. Kurang dari lima menit sebelum saya diuji, teman saya datang dan berkata bahwa dia sangat bersyukur karena entah mengapa, senyum yang saya berikan membuat dia bisa rileks sehingga dapat menyelesaikan ujiannya dengan baik. Kata-kata tersebut adalah booster yang saya perlukan di saat yang tepat. Semua ketegangan yang saya rasakan hilang 100%.

Proses ujian berjalan lancar, bahkan hasilnya sungguh di luar ekspektasi saya. Penyertaan Tuhan ada. Ia menjawab doa saya dan memberi kekuatan tepat pada waktunya in a very surprising way. I know it was Him. Kejadian yang saya alami ini menunjukkan bahwa ketika kita mengakui Dia dalam segala jalan, Dia akan membantu meluruskan dan memberi kita petunjuk jalan mana yang perlu dipilih.

Trust God from the bottom of your heart; don’t try to figure out everything on your own. Listen for God’s voice in everything you do, everywhere you go; He’s the one who will keep you on track (Proverbs 3:5-6)

Terima kasih Tuhan Yesus.

Setiap dari kita punya cerita tentang bagaimana Tuhan menyertai diri kita di waktu yang tak terduga. Apa momen penyertaan Tuhan yang paling berkesan dalam hidupmu?

Baca juga: Tuhan Besertaku Setiap Waktu

Rahasia 30 Tahun Perjalanan Karakter

Bella Kumalasari-Plt. Kasie. Karakter

Perjalanan 30 tahun Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong diwarnai dengan berbagai musim. Begitu pun ketika kita berbicara mengenai karakter. Pendidikan karakter bak sebuah perjalanan panjang. Ada berbagai hal yang dilewati, jatuh-bangun yang dihadapi, sehingga semuanya merupakan proses yang perlu dijalani. Dunia yang penuh dengan ketergesa-gesaan dan serba instan membuat kita tidak sabar akan proses yang panjang dan tidak mudah. Maka dari itu, kita sebagai pendidik dan orang tua perlu terus mengingatkan diri sendiri akan hal ini ketika mendampingi anak-anak kita, sehingga terus memberikan ruang untuk bertumbuh.

Sekolah Athalia percaya bahwa setiap murid berproses dalam perjalanan panjang karakternya. Meski mungkin tahun lalu tampak ada kemajuan tapi tahun ini tidak, terkadang tampak jelas terkadang samar, Sekolah Athalia percaya bahwa setiap murid tetap berproses dalam perjalanannya masing-masing. Oleh sebab itu, di setiap akhir tahun ajaran Sekolah Athalia mengadakan “Perayaan Karakter” sebagai momen untuk mengapresiasi pertumbuhan sekecil apa pun.

Di dalam perayaan karakter, murid-murid diajak untuk mengingat kembali proses pembelajaran karakter yang telah mereka alami selama satu tahun terakhir. Mereka merefleksikan dan mengevaluasi dirinya dalam proyek-proyek yang sudah dilakukan, serta diajak untuk melihat karya dan penyertaan Tuhan dalam diri mereka dan teman-teman. Guru memberikan apresiasi bagi setiap murid dan memberikan dukungan untuk terus berproses di level berikutnya. Selain guru, orang tua dan sesama murid pun diajak untuk memberikan apresiasi bagi anak-anak dan teman-temannya.

Baca juga : Komunitas Athalia yang Bertumbuh

Mengapresiasi Setiap Perjalanan Karakter

Guru TK mendoakan satu per satu muridnya dengan rasa haru akan pertumbuhan yang Tuhan berikan dalam diri setiap murid secara unik. Guru dan orang tua siswa SD memberikan apresiasi secara personal kepada setiap anak. Anak-anak terharu membaca surat yang ditulis oleh orang tuanya. Murid-murid SMP juga merasa senang karena dapat bersama teman-teman saling mengenal dan memperhatikan selama satu tahun terakhir. Beberapa murid SMA menangis terharu ketika membaca kartu apresiasi dari teman sekelasnya karena tidak menyangka bahwa teman-temannya memperhatikan dirinya sedemikian rupa. Mereka merasa senang diapresiasi atas usaha yang mereka lakukan sekaligus diterima dalam kelemahan mereka.

Mari kita terus dukung pertumbuhan karakter anak-anak kita untuk makin serupa Kristus. Tahun ajaran yang baru, lembaran yang baru, dengan Tuhan yang sama, dengan kesetiaan dalam perjalanan yang sama. Meskipun mungkin kita merasa lelah karena merasa “Kok begitu lagi, begitu lagi, dibilangin berkali-kali seperti tidak ada bedanya”, kita percaya ketika anak berproses bersama Tuhan, mereka berproses makin dalam dan makin dalam. Meski terkadang tampak sama, ada hal yang Tuhan sedang kerjakan di dalam diri mereka. Mari terus ingat, yang terpenting bukan kecepatannya, tetapi arah yang benar menuju keserupaan dengan Kristus.