Oleh: Kenneth Girvan – Alumni SMA Athalia Angkatan 6
Kehidupan tidak pernah lepas dari konflik. Kita tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang atau membuat semua orang suka terhadap kita. Dalam perjalanan hidup, terutama dalam pergaulan sosial, pasti ada orang-orang yang sulit untuk kita dekati atau yang tidak bisa menerima kita sepenuhnya.
Saya mengingat masa sekolah sebagai sebuah periode yang penuh dengan eksplorasi dalam pertemanan. Saya berusaha berteman dengan semua orang, tanpa pilih-pilih atau membatasi diri dalam kelompok tertentu. Namun, di tengah usaha tersebut, saya menemukan bahwa tidak semua orang dapat menerima saya. Ada teman-teman yang enggan berteman dengan saya karena kami tidak memiliki hobi yang sama, tidak bisa bepergian dengan cara yang mereka inginkan, atau karena karakter dan kepribadian saya tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Dikarenakan hal-hal tersebut, seringkali saya mendengar ejekan dan sindiran dari teman-teman.
Bukankah sulit sekali untuk mengasihi orang-orang tersebut? Di saat saya mencoba untuk berteman baik dengan semua orang, tetapi malah respons kurang mengenakkan yang saya dapatkan. Mengasihi mereka yang sulit dikasihi sangat tidak mudah. Sebagai manusia, kita cenderung bereaksi secara emosional terlebih dahulu, seperti kesal atau marah ketika ada yang memperlakukan kita dengan buruk dan memberikan label kepada kita yang memiliki penampilan kurang baik atau bersikap tidak pantas.
Kasih merupakan perasaan atau emosi, tetapi dalam kekristenan, kita mengenal kasih juga memerlukan reasoning. Mungkin pertanyaan terbesar dalam hati kita adalah, Mengapa kita harus mengasihi mereka yang sulit dikasihi dalam hidup kita? Jawabannya cukup sederhana, namun seringkali sulit diresapi. Ya, karena Tuhan terlebih dahulu mengasihi kita.
Ketika kita melihat kembali kehidupan kita, baik di masa lalu maupun saat ini, betapa sering kita hidup dalam dosa dan membuat hati Tuhan terluka. Sadarkah kita bahwa kita juga termasuk orang yang sulit dikasihi, lho? Tetapi, kok, Tuhan mau, ya, memberi kita keselamatan dan memilih tetap sayang sama kita meskipun kita adalah orang yang seumur hidup mendukakan hati Tuhan? Menyadari hal ini membuat saya berpikir bahwa mengasihi sesama bukan karena suka atau tidak suka. Seberapa sulit pun seseorang untuk dikasihi, saya ingin belajar memilih untuk mengasihi dan menerima mereka, sebagaimana Tuhan telah lebih dahulu mengasihi dan menerima saya.
Tidak masalah jika Anda merasa sulit mengasihi mereka saat ini. Memang dibutuhkan waktu untuk berproses. Anda bisa mulai bawa dalam doa dan minta kepada Tuhan untuk dimampukan mengasihi mereka yang sulit dikasihi, serta minta Tuhan untuk memulihkan emosi Anda sehingga dapat mengasihi mereka dengan lebih tulus. Hal tersebut tidak hanya mengubah orang lain, tetapi juga diri kita sendiri dan membuat kita semakin serupa dengan Kristus. Kiranya kebenaran ini bukan hanya diingat dan dimengerti, namun juga dapat dialami dalam perjalanan iman Anda bersama dengan Tuhan.
Oleh: Antonius Hermawan – Orang tua siswa kelas 4M
Kondisi ekonomi di tahun 2023 diprediksi oleh banyak ekonom akan semakin berat. Selain itu kondisi pandemi dua tahun terakhir seakan tidak berakhir. Bahkan varian baru COVID-19 terus ditemukan, membuat akhir dari pandemi sulit untuk diprediksi. Selain tantangan kesehatan, dunia juga menghadapi ketegangan geopolitik akibat perang Ukraina dan Rusia yang berdampak besar pada ekonomi global. Harga pangan dan energi melonjak, rantai pasokan terganggu, dan banyak negara mengalami ketidakstabilan ekonomi. Dalam kondisi seperti ini, banyak orang merasa cemas dan terbeban oleh situasi yang sulit.
Mengetahui hal di atas tidak membuat hidup kita jauh lebih mudah, sebaliknya pengetahuan di atas justru menambah beban hidup kita dengan realita yang tidak mudah pula. Mulai dari pemikiran mau makan apa hari ini, konflik dengan teman sekantor atau teman usaha, konflik dengan pasangan, hingga masalah anak-anak. Maka tidak heran, banyak orang mulai bertanya-tanya, “Bagaimana kita dapat tetap bersukacita di tengah kondisi ini?”
Alkitab mengajarkan bahwa sukacita sejati tidak berasal dari keadaan eksternal, melainkan dari hubungan kita dengan Tuhan. Rasul Paulus dalam Filipi 4:4-7 menasihatkan, “Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan!”. Ia bahkan mengulangi perintah ini untuk menegaskan bahwa sukacita dalam Tuhan bukanlah pilihan, tetapi panggilan bagi setiap orang percaya. Menariknya, Paulus menulis surat ini ketika ia sendiri berada dalam kondisi sulit. Namun, ia tetap menekankan pentingnya pengharapan. Bagaimana kita bisa memiliki sukacita seperti ini?
Kuncinya ada dalam Filipi 4:6: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Ketika kita menghadapi situasi sulit, kita dapat membawa segala kekhawatiran kita kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Dengan itu, damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus.
Janji Tuhan bagi mereka yang hidup dalam doa adalah damai sejahtera yang melampaui segala akal. Filipi 4:7 menegaskan bahwa damai sejahtera Allah akan memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus. Ini berarti bahwa sukacita dan ketenangan sejati tidak bergantung pada perubahan situasi, tetapi pada kehadiran Tuhan yang memelihara kita.
Di tengah segala keadaan yang tidak menentu dan seakan tidak berpengharapan, kita tetap memiliki alasan untuk mengucap syukur. Mengapa? Karena kita memiliki Allah yang senantiasa mendengar doa-doa kita. Kita tidak harus menghadapi segala permasalahan dengan kekuatan sendiri. Sebaliknya, kita dapat datang kepada-Nya dalam doa, menyerahkan setiap kekhawatiran, pergumulan, dan ketakutan kita.
Damai yang Melampaui Akal
Pemeliharaan dalam Kristus menjadi sesuatu yang pasti bagi kita karena Ia bukan Tuhan yang tidak pernah mengalami pencobaan sebagai manusia, melainkan Ia sendiri telah turun sebagai manusia dan taat sampai mati. Artinya Tuhan mengerti segala pergumulan kita.
Ketika kita menyadari bahwa Tuhan selalu hadir dalam hidup kita, kita dapat menghadapi setiap situasi dengan hati yang tenang. Sukacita yang sejati bukanlah hasil dari berpikir positif atau memotivasi diri sendiri, tetapi anugerah dari Tuhan. Kristus telah menyelesaikan karya keselamatan-Nya, dan karena itu kita memiliki pengharapan yang teguh di dalam Dia.
Jadi sukacita yang dituliskan di sini bukan sukacita sebagai motivasi atau pikiran positif yang kita usahakan, tapi semata-mata karena anugerah Tuhan yang telah dikerjakan di dalam kita, sehingga kita dapat berdoa dalam situasi apapun dalam pemeliharaan damai sejahtera-Nya.
Itulah sukacita yang sejati, bukan sukacita yang didasarkan oleh kondisi sekitar kita, tapi sukacita karena pengharapan di dalam Dia, bahwa kita ini milik-Nya, dan kita selalu dapat berdoa kepada-Nya.
Mari luangkan waktu sejenak untuk merenungkan : Di mana kita menempatkan pengharapan kita hari ini? Apakah kita bersedia melepaskan kekhawatiran kita untuk menggantinya dengan sukacita dan kepercayaan kepada Allah yang berjanji memelihara kita?
Dalam perjalanan kami menjadi orang tua, kami terus diteguhkan bahwa menjadi orang tua adalah sebuah panggilan. Allah yang memanggil kami untuk menjalankan peran ini dan menitipkan seorang anak, yang sesungguhnya adalah milik-Nya sendiri, untuk kami asuh. Sungguh sebuah panggilan mulia yang kami sambut dengan sukacita dan semangat untuk memberikan yang terbaik.
Dalam menjalankan peran sebagai orang tua, kami tentunya ingin memberikan yang terbaik bagi anak. Dengan kesadaran ini, kami mulai belajar cara pengasuhan yang baik, berusaha menerapkan apa yang benar, berdiskusi, hingga mencari komunitas untuk bertumbuh bersama. Namun di tengah perjalanan, kami mulai menyadari bahwa meskipun kami sudah berusaha memberikan yang terbaik, hasilnya berlum tentu seperti yang kami harapkan.
Belum lagi banyak kisah di sekitar kami yang membuat hati kami kecil. Ada keluarga yang sudah menerapkan prinsip-prinsip pengasuhan dengan baik, tetapi tetap menghadapi tantangan besar dalam membesarkan anak-anak mereka. Ada orang tua yang setia mengajarkan nilai-nilai kebaikan, tetapi tetap harus menghadapi anak yang memberontak atau terjebak dalam pergaulan yang salah. Hal ini membawa kami kepada sebuah perenungan. Apakah kami berusaha menjadi yang terbaik karena kami mengasihi Allah, atau karena kami hanya ingin memastikan anak kami tumbuh tanpa masalah?Bisakah menjadi yang terbaik dinilai dari hasil yang nampak?
Dalam bukunya Bijak Menjadi Orang Tua, Paul David Tripp menuliskan bahwa pengasuhan bukanlah tentang menggunakan kuasa untuk mengubah anak-anak kita. Pengasuhan adalah tentang kesetiaan yang rendah hati dalam kesediaan untuk berpartisipasi dalam karya pengubahan Allah demi kebaikan anak-anak kita. Dari sini kami belajar bahwa pengasuhan adalah urusan antara orang tua dengan Allah, bukan sekadar hubungan antara orang tua dan anak. Kita tidak dipanggil untuk membentuk anak sesuai dengan keinginan kita sendiri. Manusia tidak bisa mengubah hati siapa pun, hanya Allah yang mampu membawa perubahan sejati dalam hati anak-anak kita.
Kami belajar bahwa menjadi terbaik dimulai dengan menyadari bahwa kita hanyalah perpanjangan tangan Tuhan. Setiap hari, kita membutuhkan hikmat dan kuasa-Nya untuk menjalankan panggilan sebagai orang tua. Menjadi terbaik bukan dinilai dari apakah kita memiliki anak yang baik, penurut, berprestasi, bisa dibanggakan di social media, di mana kemudian kita merasa bahwa ini adalah karya kita, Allah hanyalah partisipan yang kita undang untuk menjaga anak kita tetap baik. Malah menjadi kengerian tersendiri, apakah anak-anak yang baik ini mengenal dan mengasihi Allah?
Menjadi yang terbaik artinya sedia untuk taat dan setia kepada Allah yang punya urusan pengasuhan ini. Hal ini ditujukan supaya kita setia tunduk dalam doa dan menyerahkan segala proses kepada Tuhan. Tidak hanya itu, hal ini juga dilakukan agar kehendak Allah terjadi atas anak-anak kita, sehingga mereka mengenal dan mengasihi-Nya seumur hidup. Kami rindu Allah mendapati kita semua taat dan setia di akhir perjalanan kita sebagai orang tua nantinya. Mari terus bersedia dan setia menjadi orang tua yang terbaik, di mata Allah. Salam.
Oleh: Selly Christina Siregar, orang tua siswa kelas 8R dan kelas 4E
Gempuran bahasa asing bukanlah hal baru di era globalisasi. Setiap hari, kita mendengar berbagai istilah asing digunakan. Sebagai ibu dengan dua anak yang usianya terpaut jauh, seringkali saya mendengar beberapa kosakata baru yang mereka suka lontarkan di dalam percakapannya. Cerita saya kali ini tentang bagaimana saya memposisikan diri sebagai “wakil dari kaum generasi Y” yang saat mendengar anak-anak masa kini berkomunikasi menggunakan bahasa anak Jaksel.
Berkomunikasi menggunakan bahasa campur-campur atau dikenal sebagai “bahasa anak Jakarta Selatan (Jaksel)” kini mendadak populer. Penggunaan frasa seperti which is, basically, literally, dan bahasa asing lainnya menjadi hal yang biasa. Kedua putra saya pun mulai ikut-ikutan menggunakan bahasa campuran ini.
Menurut saya, kata-kata tersebut sebenarnya adalah kosakata dasar dalam bahasa Inggris. Namun kata-kata ini menjadi populer lantaran banyak dicampur dengan bahasa Indonesia. Masyarakat memandangnya sebagai bagian dari identitas dan eksistensi sosial.
Mungkin saja, ada rasa bangga tersendiri jika seseorang dengan mahir melafalkan bahasa asing, sebagai bahasa tambahan. Penggabungan dua bahasa, kemudian menarik perhatian lantaran dianggap berbeda dari bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya sendiri tidak menilai fenomena ini sebagai hal negatif. Bahasa selalu berkembang mengikuti zaman, termasuk bahasa gaul yang digunakan generasi muda.
Saya masih mengingat tren bahasa gaul era 90-an saat saya duduk di bangku SMP. Ada bahasa gaul yang bokis, yongkru, tengsin, dan borju yang sangat populer dan mendorong setiap orang, untuk ikut-ikutan mengucapkannya. Setiap zaman memiliki ciri khas atau trennya tersendiri. Hal ini termasuk pada bahasa gaul yang banyak dipakai anak muda pada masa tersebut. Namun, pertanyaannya, bagaimana kita menempatkan bahasa Indonesia agar tetap relevan dan keren?
Pentingnya Bahasa sebagai Identitas Bangsa
Memasuki bulan Oktober, rasanya siapa pun akan teringat pada momen bersejarah bangsa Indonesia, yaitu Sumpah Pemuda. Salah satu butir dalam Sumpah Pemuda 1928 menyatakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Sejak lama, bahasa Indonesia menyatukan masyarakat dari berbagai suku dan budaya yang beraneka ragam (keren, ya?). Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga identitas nasional.
Dalam aktifitas sehari-hari kami di rumah, saya dan suami memperkenalkan ragam bahasa kepada anak-anak sejak kecil. Saya dan suami berasal dari Sumatera Utara. Namun, dalam praktik keseharian, kami lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan bahasa Batak sebagai bahasa kesukuan kami. Bukan berarti bahasa sesuai suku kami dihilangkan ya.. tetapi dengan menggunakan bahasa Indonesia, terasa lebih mudah dipahami maknanya dan melatih mereka juga untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita lihat, beberapa petunjuk di tempat umum, menggunakan bahasa mix atau full in english. Bersama dengan ini, saya memiliki pengalaman pribadi bersama keluarga. Salah satunya adalah petunjuk dalam bahasa asing, tapi jika diartikan memiliki makna yang sama.
Pada suatu kesempatan, saya dan anak-anak menikmati makan siang di sebuah Mal daerah Kota Tangerang Selatan. Di dekat tempat makan, ada galeri ATM. Saat itu, iseng saya bertanya, “Apakah kamu mengetahui, apa kepanjangan ATM, bang?”.
Putra saya menjawab, “Automatic Teller Machine, mam.”
Saya pun menanggapi, “Pakai bahasa Indonesia dong jawabnya..”
Anak saya terdiam sejenak lalu berkata, “Itu sudah benar, mam. Aku menjawab dengan pengertiannya langsung, kalau dalam bahasa Indonesia, aku tidak tahu…”
Jawabannya membuat saya tersenyum. Saya kemudian menjelaskan bahwa dalam bahasa Indonesia, ATM berarti Anjungan Tunai Mandiri. Kata ini dialihbahasakan, sehingga memiliki makna yang sama dengan istilah aslinya. Tentu saja kita tahu bahwa ATM itu sebenarnya berasal dari bahasa Inggris, Automatic Teller Machine. Namun siapa pun pencetus kata itu, berhasil menciptakan kata yang saat disingkat tetap sama dengan bahasa aslinya. “Wah…benar juga ya mam, keduanya memiliki pengertian yang sama,” putera saya menanggapi.
Sebagai ibu, saya merasa senang bisa memberikan wawasan baru kepada anak saya. Hal sederhana seperti ini berhasil membuatnya mengetahui pengertian dalam 2 bahasa.
Dari sini saya belajar bahwa pembelajaran bahasa harus memberikan pemahaman mendalam kepada pelajar dan kaum muda. Berbahasa Indonesia bukan sekadar keterampilan, tetapi juga bagian dari identitas yang harus dikomunikasikan dengan baik dan benar. Bahasa yang benar berarti sesuai dengan kaidah, sedangkan bahasa yang baik harus sesuai dengan konteks dan situasi. Jangan sampai hanya karena terbiasa menggunakan bahasa asing, kita kehilangan kebanggaan terhadap bahasa sendiri.
Jika dibiarkan, rasa enggan menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari bisa semakin meluas. Tentu hal ini akan berakhir kepada penurunan mentalitas berbahasa serta ancaman kepunahan bahasa. Wah.. jika demikian yang terjadi, akan memengaruhi identitas kita sebagai Warga Negara Indonesia.
Tips sederhana yang mungkin bisa terus kita ingatkan untuk generasi penerus terutama yaitu anak-anak kita adalah dengan menanamkan rasa cinta terhadap bangsa, budaya, dan bahasanya kepada generasi penerus. Cinta terhadap Indonesia bukan hanya sebatas status sebagai warga negara, tetapi juga kebanggaan terhadap keberagaman budaya, bahasa, dan agama yang dimiliki bangsa ini. Kita bisa memulainya dengan membiasakan anak bertutur kata sopan, berbicara dengan baik dan benar, serta menghindari kata-kata kasar. Bahasa mencerminkan karakter seseorang, dan etika dalam berkomunikasi sangat berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan kata lain, kita harus terus mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia yang baik. Membiasakan diri berbahasa Indonesia juga melatih tata bahasa kita agar semakin terjaga. Hal ini akan berdampak dan mendukung perkembangan Bangsa Indonesia dengan memperluas kehadirannya di dunia internasional. Dengan bahasa kita menyapa, dengan bahasa kita berkarya.
Oleh: Erika Kristianingrum, orang tua siswa 8R dan 4E
“Bunda jahat… aku mau ganti orang tua aja, semua yang aku lakuin salah!”
Begitulah teriakan putri pertamaku yang saat itu sudah beranjak dewasa. Ia marah ketika saya merebut HP-nya saat ia sedang sibuk chatting di WA dengan teman-temannya sementara ia sedang mengikuti pembelajaran online.
“Ya… memang kamu salah karena tidak memperhatikan gurumu malah sibuk chatting,“ sahut saya. Namun, setelah berkata demikian, saya hanya terdiam. Kata-katanya terasa seperti tamparan keras bagi saya. Saya sadar bahwa sebagai orang tua, saya sering gagal dan perlu berubah. Saya harus berubah agar anak saya juga bisa berubah!
Sebagai orang tua, kita sering kali bingung bagaimana menetapkan batasan untuk anak remaja. Jika terlalu banyak aturan, mereka bisa memberontak dan menjauh dari orang tua. Di sisi lain, jika terlalu longgar di usia mereka yang baru masuk pada masa peralihan, mereka bisa kehilangan arah. Remaja sedang berada dalam masa peralihan. Mereka ingin memiliki otonomi sendiri, tetapi masih butuh bimbingan. Terkadang, pilihan mereka tidak sesuai dengan harapan kita. Namun, mereka tetap perlu belajar mengambil keputusan untuk masa depan mereka sendiri.
Untuk mengatasi kebingungan ini, saya memutuskan untuk memulai dengan menerima keadaannya. Saya paham bahwa mengikuti sekolah online mungkin bukanlah hal yang mudah bagi anak saya. Ia pasti merasa bosan. Di sisi lain, HP adalah satu-satunya hal yang bisa menghiburnya walaupun dapat mengganggu konsentrasinya. Tetapi, saya pun harus tetap menetapkan batasan untuk anak saya agar ia tetap bertanggung jawab.
Cara Menetapkan Batasan untuk Anak agar Tidak Menimbulkan Konflik
Saya sadar bahwa menetapkan batasan harus dilakukan dengan cara yang tepat. Berikut beberapa hal yang saya lakukan dalam membuat batasan agar tetap dihormati oleh anak tanpa menimbulkan konflik:
Berdiskusi tentang Batasan yang Diterapkan. Hal ini saya terapkan khususnya dalam membahas terkait aturan menggunakan HP. Saya akan mendengarkan kebutuhannya dan menjelaskan apa yang harus ia lakukan. Dari diskusi ini, kami akhirnya memperoleh beberapa kesepakatan yang harus dijalani bersama sebagai orang tua dan anak. Dengan ini, anak akan merasa lebih dihargai karena pendapat dan perasaannya didengarkan.
Mengubah Cara Menegur menjadi Lebih Santai. Saya juga menyadari bahwa cara menegur sangat berpengaruh terhadap reaksi anak. Oleh karena itu, saya mengubah cara saya berbicara kepada anak saya menjadi lebih santai dan menggunakan intonasi yang lebih lembut. Selain itu, saya tidak akan menegurnya saat sedang capek, lapar, atau mengantuk. Saya sadar bahwa jika saya menegurnya dalam kondisi tersebut, kemungkinan besar justru akan terjadi konflik.
Ternyata, setelah saya mengubah diri saya dan berusaha untuk berkomunikasi lebih baik, batasan-batasan yang telah disepakati dapat berjalan tanpa konflik. Sekarang, setiap kali aku bertanya kepadanya, “Masih mau ganti orang tua?”, dengan mantap ia akan menjawab, ‘Tidak… bunda tetap yang terbaik.” Kami pun tertawa bersama.
Sebuah kapal besar dapat bersandar dengan baik di pelabuhan jika memiliki jangkar yang kuat. Jangkar akan menjaga kapal tersebut tetap stabil dan tidak terombang-ambing. Dalam Ibrani 6:19 dikatakan “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir.”
Ayat ini adalah janji firman Tuhan bagi kita semua. Ketika kita memiliki pengharapan hanya pada Tuhan, maka jangkar hidup kita akan kuat. Pengharapan kita tidak akan goyah karena telah dilabukan sampai ke belakang tabir, yaitu di tempat Allah Bapa kita.
Berawal dari suatu hal baru yang Tuhan letakkan di hati kami di tahun 2018, di mana kami merasa bahwa kami perlu renovasi rumah. Bukan untuk bergaya, tetapi karena kondisi bangunan rumah sudah di atas 10 tahun. Banyak bagian yang perlu diperbaiki agar lebih layak. Selain itu, rumah kami hanya memiliki dua kamar, sementara anak kami ada dua dengan gender berbeda. Belum lagi setiap Jumat, rumah kami ada persekutuan komunitas sel group. Jadi rasanya alasan untuk kami merenovasi rumah, sangat kuat. Kami sekeluarga mulai doakan hal ini sambil menabung. Kami letakkan harapan kami pada Tuhan.
Pada tahun 2020, dunia mengalami perubahan besar dengan datangnya pandemi COVID-19. Suatu kondisi yang sangat baru yang sebelumnya tidak pernah ada. Banyak orang mengalami kesulitan ekonomi dan rencana kami seolah harus ditunda. Namun, di tengah situasi sulit ini, Tuhan bekerja dengan cara yang tak terduga. Rumah orang tua saya yang diwariskan kepada kami 4 bersaudara tiba-tiba mendapatkan pembeli. Padahal, rumah ini sudah dipasarkan sejak tahun 2015, tetapi tidak pernah ada kesepakatan harga. Prosesnya tidak langsung berjalan lancar. Ada banyak kendala, mulai dari dokumentasi, pajak, hingga proses KPR di bank. Saat itu, pengharapan kami pasang surut. Kami sering bertanya-tanya, “Apakah rumah ini benar-benar akan terjual?”
Namun, di akhir tahun 2020, tepat di hari terakhir tutup buku bank, rumah tersebut akhirnya terjual dengan harga yang kami harapkan. Kami melihat bagaimana Tuhan membuka jalan bagi keluarga kami untuk mewujudkan harapan baru dalam merenovasi rumah.
Penyertaan Tuhan tidak sampai di situ. Kami dipertemukan dengan arsitek yang tidak hanya pintar, tetapi juga mau mendengar kebutuhan kami. Ia menggandeng kontraktor yang baik dan dapat dipercaya. Meski proses renovasi dilakukan di tengah pandemi, semuanya berjalan lancar tanpa kendala. Tuhan juga menyediakan tempat tinggal sementara dengan harga yang terjangkau. Kami bisa menempatinya selama proses renovasi berlangsung. Semua kebutuhan terasa seperti telah disiapkan dengan sempurna.
Menaruh Harapan Sepenuhnya pada Tuhan
Akhirnya, pada akhir Oktober 2021, proses renovasi selesai tepat waktu. Dana yang kami miliki juga sangat cukup, hanya ada sedikit pinjaman yang kini hampir lunas. Saya bersyukur atas setiap proses ini. Saya melihat bagaimana Tuhan bertanggung jawab penuh atas apa yang telah Ia mulai dengan tidak membiarkan saya terombang-ambing tidak tentu arah.
Kini, kami menikmati rumah yang telah direnovasi dengan nyaman. Semua ini adalah bukti bahwa Tuhan setia dan berkuasa. Ia tidak membiarkan kami terombang-ambing dalam ketidakpastian, karena kami memilih untuk menaruh harapan kepada-Nya.
Tidak mudah dalam melabuhkan pengharapan pada Tuhan, karena natur kita sebagai manusia pastinya menggunakan hal yang bisa dipikirkan oleh logika dan akal kita. Sedangkan bentuk pengharapan umumnya adalah abstrak, sesuatu yang tidak terlihat, tidak nampak, hanya BERHARAP…
Namun kembali lagi, jika Tuhan yang menaruhkan suatu yang baru dalam hidup kita untuk kita menaruhkan harapan kita pada Tuhan, percayalah, Dialah jangkar yang kuat dan sempurna, yang sangat aman bagi jiwa kita.
Saya percaya Tuhanku Maha Kuasa. Dia sanggup melakukan apa pun yang kadang tidak terpikirkan oleh manusia. —Susiana, Orang Tua Siswa.
Selama empat hari pertama di HICU, Ariel berada dalam kondisi kritis. Empat hari itu pula, hati saya menangis melihat banyak selang di tubuh Ariel. Warna tubuhnya juga berubah menjadi kuning pekat sebagai efek dari sakit paru-paru yang sudah merembet ke hati. Sebagai seorang ibu, saya hanya bisa terus memohon belas kasihan Tuhan karena hanya Dia yang sanggup menyembuhkan Ariel. Saya berdoa agar dokter dan obat-obatan menjadi perpanjangan tangan-Nya untuk menolong Ariel kembali pulih.
Selama Ariel dirawat di HICU, ada sesuatu yang membuat saya heran. Setiap kali makan, anak saya minta disuapi oleh papanya. Padahal, biasanya dia lebih dekat denganku. Saya melihat mereka bisa mengobrol, bercanda, dan berdoa bersama meskipun Ariel masih kesulitan bicara karena sesak napas.
Pemulihan Hati dan Tubuh oleh Allah yang Maha Kuasa
Hari keenam Ariel dirawat di HICU menjadi titik balik bagi kami. Saat itu, ia yang justru mengajak kami berdoa bersama. Saya dan suami sangat kaget sekaligus terharu. Biasanya kami yang mengajaknya berdoa. Tapi kali ini, dia yang memimpin. Ariel memegang tangan saya dan suami, kemudian menyatukannya. Dengan suara tersengal-sengal karena sesak napas, dia mulai berdoa. “Tuhan, Ariel percaya bahwa sakit ini bukan untuk membuat Ariel menderita, tapi Tuhan mau membuat keluarga Ariel lebih baik lagi.”
Doa itu membuat saya dan suami kaget. Kami berdua menangis. Seketika itu pula, saya merasa Tuhan membukakan mata dan hati saya sambil berkata, “Inilah Aku yang penuh kuasa.” Saya tidak bisa berkata-kata selain mengucap syukur di dalam hati. Tuhan sudah menjamah hati anak saya sedemikian rupa hingga dalam kondisi sakit pun dia bisa melihat rencana indah yang Tuhan siapkan untuk keluarga kami.
Selama sakit sampai harus dirawat di HICU, Ariel menjalani semua rangkaian pengobatan tanpa mengeluh. Namun, saya tidak pernah menyangka, anak saya punya pemikiran seperti dalam doanya itu. Tuhan sungguh menjamah dia!
Setelah melalui berbagai proses, akhirnya kondisi Ariel membaik sehingga dipindahkan ke kamar biasa. Setelah dirawat selama hampir satu bulan di rumah sakit, akhirnya dia diizinkan pulang! Sejak saat itu, Ariel menjadi lebih dekat dengan kami, terlebih papanya. Lagi-lagi, saya diingatkan bahwa Allah yang Maha Kuasa bisa memakai peristiwa apa pun untuk membuat hubungan ayah dan anak menjadi lebih dekat. Saya percaya, semua rancangan-Nya indah karena Ia sangat mengasihi kita.
Caring and Sharing merupakan profil karakter SMP Athalia. Untuk menolong siswa semakin menghidupi karakter ini, Sekolah Athalia menyelenggarakan kegiatan Caring and Sharing Camp (Cas-Camp). Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa-siswi kelas VIII. Acara puncak dilaksanakan pada Jumat, 11 Maret 2022. Meskipun begitu, beberapa hari sebelumnya, para pelajar telah memulai rangkaian kegiatan dengan berbagai challenge caring and sharing di rumah. Hal ini dilakukan dengan membantu anggota keluarga atau menunjukkan kepedulian kepada orang di sekitar.
Pada puncak acara, pelajar dibagi menjadi beberapa kelompok dan masuk ke break out room di aplikasi Zoom. Mereka mengikuti berbagai permainan yang dirancang untuk melatih sikap caring and sharing bersama teman-teman sekelompok. Di akhir acara, siswa diteguhkan melalui kebenaran firman Tuhan sebagai dasar hidup dalam karakter ini. Firman Tuhan dibawakan oleh Lao Shi Wendy, seorang youth pastor, yang membimbing siswa untuk merenungkan makna mengasihi diri dan sesama.
Kesadaran akan Kasih Yesus
Sebelum Friman disampaikan, pelajar diminta berdiskusi mengenai pandangan dan pemikiran mereka terhadap fenomena mengasihi diri dan sesama. Dunia mengenal beberapa perilaku mengasihi diri yang salah, seperti operasi plastik, menikah dengan diri sendiri atau menunjukkan kekurangan fisik demi mendapatkan pengakuan. Fenomena keliru lainnya juga disoroti, seperti pernikahan dengan sesama jenis, hologram tokoh anime, atau mengadopsi boneka sebagai anak. Setelah mendengarkan diskusi mereka, Lao Shi Wendy membahas isu-isu tersebut dari sudut pandang Alkitab. Beliau mengupas dua prinsip caring and sharing berdasarkan ayat Alkitab yang terambil dalam Lukas 7: 36-47.
Dalam Lukas 7: 36-47, diceritakan tentang seorang perempuan berdosa yang melayani Yesus. Perempuan tersebut membasahi kaki-Nya dengan air mata lalu menyeka dengan rambutnya, meminyaki kaki Yesus, bahkan rela dipandang najis karena menyeka dan mencium kaki Yesus. Ia melakukan itu semua karena sadar betapa ia amat berdosa dan membutuhkan pengampunan. Yesus mengasihi dan mengampuninya! Inilah yang menjadi prinsip pertama dalam melakukan tindakan caring and sharing.
Prinsip kedua dijelaskan dengan kisah Simon yang mendapat teguran dari Yesus karena ia tidak melayani-Nya saat Yesus datang ke rumahnya. Yesus menanyakan tentang perumpamaan orang yang berutang 500 dan 50 dinar. Jika keduanya dibebaskan dari utang, siapakah yang lebih mengasihi si pembebas utang? Simon menjawab, yang berhutang lebih besar—500 dinar.
Lewat kisah ini, Lao Shi Wendy ingin menekankan bahwa orang yang merasa sedikit diampuni, akan sedikit juga berbuat kasih. Semakin besar seseorang menyadari pengampunan yang diberikan baginya, ketidaklayakannya menerima pengampunan tersebut, maka akan semakin besar kasih yang ditunjukkan bagi Yesus, bahkan sesama!
Selanjutnya, Lao Shi Wendy juga mengingatkan bahwa CaS (Caring and Sharing) bukanlah:
Keselamatan
Penerimaan
Pencitraan
Kompromi.
Lebih dari itu, sebagai anak Tuhan yang sudah diselamatkan, kita harus melakukan tindakan caring and sharing dengan tulus karena Yesus telah lebih dulu mengasihi dan menerima kita apa adanya. Yang menjadi pertanyaan refleksi: sudahkan kita secara pribadi merasakan kasih Allah yang begitu besar? Bukan hanya sebagai bahan perenungan, tetapi para siswa juga didorong untuk terus mempraktikkan beberapa hal untuk menunjukkan caring and sharing, yaitu:
Kasihilah sesamamu manusia – segala prioritas terhadap diri sendiri perlu diarahkan untuk kebutuhan orang lain.
Berikan perhatian – secara intentional, menghubungi teman-teman yang ada di sekitar, menanyakan kabar, dan mendoakan mereka.
Berikan pertolongan – mendiskusikan dengan orang tua untuk memberikan bantuan kepada orang di sekitar yang sedang membutuhkan.
Lakukan kebenaran – jika ada orang di sekitar kita yang belum mengenal Tuhan, jangan menggosip, mencibir, atau mem-bully. Namun, kasihi mereka sebagai sesama manusia, perkenalkan kepada Kristus, dan ajak ke gereja. Share your life!
Kiranya melalui kegiatan CaS-Camp ini, para siswa kelas VIII dapat mengingat, mengevaluasi, serta semakin bertumbuh dalam karakter tanggung jawab dan berkontribusi lebih luas kepada sesama melalui tindakan caring and sharing. Tentu saja, pertumbuhan karakter membutuhkan waktu dan proses sepanjang hidup. Oleh karena itu, siswa membutuhkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya, yaitu orang tua, pengajar, dan komunitas yang sehat untuk berjalan bersama! (MRT)
Mungkinkah seseorang mengasihi walau terluka? Pertanyaan ini mungkin menantang hati dan logika kita.
Bila mengasihi dalam kondisi terluka adalah sebuah pilihan, rasanya tidak banyak orang yang akan memilihnya. Kasih biasanya dinyatakan melalui sesuatu yang indah, menghibur, menyenangkan bahkan membahagiakan. Sangat jarang kasih diekspresikan melalui bentuk yang menyakitkan atau menyedihkan. Sebuah fenomena yang paradoks, mengasihi sekaligus terluka. Namun justru dalam paradoks itulah makna terdalam dari kasih terungkap.
Kisah paradoks ini, menjadi kisah yang spektakuler, kisah kasih yang berkorban dan menyelamatkan dunia. Kisah hidup Kristus, Sang Juruselamat. Dalam 1 Yohanes 3:16 tertulis, “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” Melalui kematian-Nya, Kristus menunjukkan kualitas kasih yang sejati.
Rasul Yohanes mengingatkan para pengikut Kristus untuk hidup meneladani Sang Juruselamat. Menyatakan kasih kepada sesama sampai menyerahkan nyawanya. Apa artinya hal ini bagi kita? Artinya, jika kita mengatakan bahwa kita mengasihi, akan ada pembuktian atas perasaan kasih tersebut. Karena kasih tidak berhenti pada perasaan, tetapi kasih dibuktikan melalui tindakan nyata dan pengorbanan diri.
Mengasihi Lewat Tindakan
Mengikuti teladan Kristus yang menyerahkan nyawanya bagi orang lain adalah tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri. Mengasihi artinya bersedia untuk menanggalkan ego, berempati, bahkan rela berkorban bagi orang lain. Untuk hal inilah kita, para pengikut-Nya dipanggil. Adakah kerelaan untuk tidak selalu mengutamakan diri sendiri?
Bila kita mengatakan bahwa kita mengasihi sesama kita, mengasihi orang-orang di sekitar kita, adakah kepedulian terhadap orang lain tampak dalam tindakan? Jika kita katakan bahwa kita mengasihi orang lain, adakah kita memiliki kerelaan untuk membantu, mendampingi, bahkan ikut menanggung kesulitan yang sedang dihadapi orang lain? Apakah kita berjuang untuk menghidupi kebenaran ini dalam diri, demikian kita dapat mengatakan bahwa kasih bukanlah sekadar perasaan, mengasihi adalah tindakan.
Perlu juga diingat bahwa tidak semua tindakan baik kepada orang lain didasari oleh kasih. Untuk dapat mengetahuinya kita perlu merenungkan motivasi kita dalam bertindak. Apakah sesuatu yang kita perbuat adalah tindakan yang disertai kasih, ataukah tindakan karena mementingkan kepentingan diri?
1 Korintus 13:3: “Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.”
Rasul Paulus mengingatkan untuk memperhatikan dasar dari tindakan kita. Manusia memiliki potensi untuk bisa melakukan sesuatu yang terlihat baik, tetapi tidak didasari oleh kasih. Manusia mudah melihat rupa. Ada orang yang sepertinya mengasihi, memberi dirinya untuk orang lain, tetapi dasar tindakan itu belum tentu berasal dari kasih. Kasih yang sejati tidak berpusat pada cinta akan diri sendiri. Mengasihi adalah tindakan yang rela mengorbankan diri dan tidak mengambil keuntungan dari orang lain.
Kasih dalam Keluarga dan Komunitas
Seorang ayah yang mengasihi anggota keluarganya akan membuktikan kasihnya melalui tindakan merawat dan melindungi seluruh anggota keluarganya dan bukan sebaliknya. Para orang tua akan bekerja keras demi keluarganya, melakukan tanggung jawabnya demi kesejahteraan anggota keluarganya. Namun, jika tidak disertai kasih kepada seluruh anggota keluarganya, misalnya tidak memberikan diri untuk relasi yang intim dengan keluarganya, dan hadir dalam kehidupan mereka, apakah mereka melakukan seluruh tanggung jawab tersebut karena kasih? Marilah kita merenungi adakah kasih itu hidup dalam diri dan apakah kehidupan kita meneladani kasih Kristus yang rela menyerahkan nyawa bagi orang lain?
Bagi tenaga kependidikan, yang telah bekerja keras dan rela berkorban demi pendidikan para murid, adakah kasih dalam diri, memiliki kerinduan untuk membangun relasi dengan para murid, dan mendasari seluruh tindakannya atas dasar kasih?
Kita tidak dapat mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan, jika kita tidak berupaya keras mewujudkan kasih kepada Tuhan melalui seluruh aspek dalam hidup kita. Mengasihi artinya akan mengampuni walau dilukai, kasih sejati akan dengan sabar memberi kesempatan, kasih sejati akan bertahan dalam kesulitan, kasih sejati akan memampukan seseorang tetap mengasihi orang yang melukainya. Perwujudan kasih sejati tidak hanya tampak melalui kata-kata yang diucapkan atau tindakan yang dilakukan, tetapi juga melalui niat terdalam yang mendorong setiap perilaku. Kasih sejati hanya bersumber pada Dia yang telah menjalaninya terlebih dahulu. Di tengah relasi yang rapuh dan dunia yang sering menyakitkan, kasih yang lahir dari sumber ilahi akan tetap bertahan. Ia menjadi kekuatan yang memungkinkan seseorang untuk tetap mengasihi, bahkan ketika hatinya sendiri sedang terluka.
Oleh: Ni
Putu Dewi, staf Pengembangan Karakter Sekolah Athalia.
Metamorphosis Camp (MetCamp) merupakan kegiatan tahunan SMP Athalia yang diperuntukkan bagi seluruh siswa kelas VII. Kegiatan ini bertujuan sebagai jembatan pembelajaran karakter bagi siswa yang baru lulus dari jenjang SD dan masuk ke SMP. Pada tahun pelajaran ini, profil karakter siswa SD Athalia adalah Tanggung Jawab, sedangkan profil karakter siswa SMP adalah Caring and Sharing.
Sesuai dengan namanya, “metamorphosis” berarti perubahan. Kami berharap, para siswa semakin menyadari bahwa mereka akan mengalami beberapa perubahan di usia remaja—tidak hanya secara fisik, tetapi juga dalam hal tanggung jawab. Kini, tanggung jawabnya bukan hanya memikirkan kebutuhan diri sendiri, melainkan juga kebutuhan orang lain, yang merupakan wujud nyata dari caring & sharing.
Generasi Z dan Tantangan Digital
Para siswa SMP Athalia tahun ini termasuk dalam Generasi Z (Gen Z), sehingga kehidupan mereka sangat dekat dengan gadget dan media sosial. Kondisi pandemi Covid-19 juga membuat keseharian mereka terus terkoneksi dengan internet. Hal inilah yang mendasari bahasan salah satu sesi berjudul “Tanggung Jawab Remaja dalam Penggunaan Media Sosial dan Internet”.
Sesi ini dibawakan oleh Pak Christian Naa dengan sangat interaktif. Dibuka dengan pertanyaan, “Apa kata firman Tuhan mengenai media sosial dan teknologi? Apakah ada hukum Taurat yang secara rinci mengatakan tentang penggunaan handphone dan Instagram?” Jawabannya: tidak ada! Namun, bukan berarti Alkitab tidak memberikan prinsip tentang cara hidup yang benar di zaman ini.
Di dalam 1 Korintus 10: 23-24 & 31, Paulus memaparkan secara jelas tentang prinsip hidup yang tidak akan tergerus oleh zaman.
“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna.
“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.
Jangan seorang pun yang mencari keuntungan sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain. …
Aku menjawab: jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.
Artinya, kita sebagai orang yang telah ditebus oleh Kristus di atas kayu salib diperbolehkan melakukan “segala sesuatu”.
Pak Christian menekankan bahwa sebelum melakukan sesuatu, kita perlu mengajukan empat pertanyaan penting:
1. Apakah “sesuatu” itu berguna? 2. Apakah “sesuatu” itu membangun orang lain? 3. Apakah “sesuatu” itu untuk keuntungan/kepentingan orang lain, bukan hanya tentang diri saya? 4. Apakah “sesuatu” itu untuk kemuliaan nama Tuhan?
Empat pertanyaan ini menjadi landasan dalam menilai tindakan, termasuk saat menggunakan media sosial. Untuk mempermudah para siswa memahami sesi ini, Pak Christian Naa memberikan sebuah ilustrasi. Misalnya, saat kita liburan ke Swiss dan melihat gunung yang besar di sana. Kita memfoto dan mengunggahnya di Instagram dengan caption “How Great Thou Art”. Pertanyaannya: apakah motivasinya untuk menyombongkan diri, atau untuk menunjukkan kehebatan Allah sebagai Pencipta?
Tidak hanya soal motif, media sosial juga memberi banyak pengaruh lain dalam kehidupan. Contohnya, beberapa orang yang terlalu fokus di media sosial jadi tidak memperhatikan relasi dengan orang lain di dunia nyata, keinginan untuk menunjukkan hanya sisi baik dan keren di media sosial, menyebarkan berita bohong, bahkan menjadi pelaku cyber bullying. Lalu bagaimana cara agar kita bijak dalam menggunakan media sosial?
Berikut adalah beberapa tips bijak menggunakan media sosial dari sesi ini.
Bagikan hal baik yang kita lihat dan dengar.
Hindari memberikan like atau comment pada konten yang bersifat negatif. Ingat bahwa algoritma media sosial bekerja berdasarkan aktivitas pengguna. Media sosial tetaplah aplikasi yang tidak bisa membedakan antara baik dan buruk, sehingga frekuensi kemunculan konten-konten tergantung pada postingan yang sering kita beri perhatian melalui like dan comment.
Selalu periksa kebenaran suatu informasi dari beberapa sumber terpercaya sebelum membagikannya di media sosial.
Berhati-hatilah dalam melakukan obrolan melalui Direct Message dengan orang yang tidak dikenal.
Sesi ini juga menekankan bahwa apa yang kita bagikan di media sosial menunjukkan siapa diri kita, sehingga perlu berhikmat dalam mengunggah sesuatu di media sosial. Sebelum sesi berakhir, Pak Christian Naa juga mengajak para siswa kelas VII untuk melakukan social media check up dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut secara pribadi.
Apa yang ingin saya tunjukkan melalui media sosial?
Apakah saya menampilkan sosok pribadi yang sama, baik di media sosial maupun dunia nyata?
Siapa saja yang saya follow sehingga memengaruhi cara pikir dan perilaku saya?
Sesi ini memberikan wawasan mendalam mengenai tanggung jawab remaja dalam dunia media sosial dan internet. Setelah mengikuti sesi ini, siswa kelas VII SMP Athalia diharapkan dapat semakin bijak dalam memilih, membagikan, dan merespons konten digital.