“Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi nama-Mu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancangan-Mu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu. (Yesaya 25:1)
“…panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia, serta mulia, serta mulia…”
Demikianlah bagian lirik lagu yang kerap dinyanyikan di saat seseorang berulang tahun. Ada harapan di dalamnya untuk lanjut usia dan mulia. Lanjut usia, menjadi tua, dan memiliki rambut putih adalah harapan setiap orang. Harapan itu akan terwujud indah bila dijalani bersama pasangan dan anggota keluarga yang lain. Hal ini dikarenakan menjadi tua akan penuh tantangan yang bila dihadapi sendiri akan membuat seseorang berpikir ulang untuk menyanyikan lirik lagu “panjang umurnya.”
Dalam pesannya kepada anak muda untuk menikmati hidup yang kelak akan dibawa ke pengadilan Allah, Pengkhotbah pada pasal 12 memberikan gambaran tantangan menjadi tua, yaitu:
tak ada kesenangan (ay.1);
tua, lemah dan tertekan (ay.2);
tubuh mulai gemetar, gigi ompong dan mata kabur (ay.3);
pendengaran berkurang (ay.4);
takut ketinggian, jalan susah dan impoten (ay.5).
Semua itu merupakan gambaran kehidupan yang tentunya sulit bila tidak dilalui bersama keluarga yang saling melayani didasari karena “cinta”.
Saling melayani karena mencintai syarat utama untuk menjadi tua bersama. Itulah inti dari keluarga. Ingat kata “family” dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Latin “famulus”, yang artinya “servant” (dalam bahasa Indonesia diwakilkan dalam kata “pelayan”). Dalam dinamika untuk tua bersama, keluarga sebagai pelayan harus memiliki dua warisan ilahi yang dituliskan dalam Yesaya 25:1, yaitu kesetiaanyang teguh dan iman akan rancangan Allah yang ajaib.
Kebersamaan, apalagi di saat-saat sulit, hanya bisa dilalui dengan kesetiaan yang berlandaskan kasih. Setia berarti berpegang teguh pada janji, suatu wujud tanggung jawab iman sebagai seorang pelayan. Kasih dan setia harus selalu bersama karena kasih tanpa kesetiaan hanya meninggalkan luka dan kesetiaan tanpa kasih adalah sebuah perbudakan. Untuk menjadi setia (Inggris: faithful), kita butuh “iman”. Iman inilah yang meyakini bahwa Allah melaksanakan rancangan-Nya yang ajaib.
Menjadi tua bersama keluarga tidak sekadar dihiasi masalah kesehatan fisik, tetapi juga masalah ekonomi, dan pergumulan kehidupan yang lain dapat saja mengikutinya. Untuk dapat melalui itu bersama, harus ada keyakinan iman bahwa Allah sedang mengerjakan rancangan-Nya yang ajaib sehingga ketabahan dan kekuatan akan selalu ada. Tidak mudah melihat dan memahami keajaiban rancangan Allah tersebut. Oleh karena itu, kita perlu belajar untuk selalu menjadi penemu hal yang baik.
Kidung Agung mengajarkan bagaimana menjadi penemu barang yang baik itu. Lihat Kidung 4: 1–4, di dalamnya ada tujuh hal yang dipuji di malam pertama: mata, rambut, gigi, bibir, pelipis, leher, buah dada. Bandingkan dengan pujian dalam Kidung Agung 7: 1–5, ada sepuluh hal yang dipuji: langkah, pinggang, pusar, perut, buah dada, leher, mata, hidung, kepala, dan rambut. Seiring bertambahnya waktu, bertambah pula pujian. Ini menandakan bertambahnya pengenalan dan bertambahnya kemampuan melihat yang baik.
Ketika semua anggota keluarga meyakini bahwa di balik apa pun yang terjadi ada rancangan Allah yang baik dan menjadikan kasih setia sebagai wujud nyata iman, menjadi tua akan dapat dilalui bersama dengan sukacita dan semangat saling melayani. Katakan, “TUA: Tuhan Untuk-Mu Aku Ada.” Amin!
“Andaikan aku memintanya untuk tetap di rumah saja…”
“Ini RS pasti gak menangani dengan benar…”
“Aku gagal… aku ga mampu menyelamatkan nyawanya… mestinya aku lebih
cepat membawanya ke RS…”
Kehilangan seseorang yang dikasihi, apalagi yang selama ini menjadi
belahan jiwa, akan menimbulkan dukacita yang mendalam. Ini adalah emosi yang
bisa sangat menguasai seseorang dan tidak mudah untuk dihadapi, apalagi bila
terjadi secara mendadak. Respons yang muncul umumnya adalah penyesalan,
kegundahan yang besar karena meyakini bahwa seharusnya kehilangan ini bisa
dihindari, andai saja…
Elizabeth Kübler-Ross dan David Kessler dalam bukunya On Grief and Grieving menuliskan bahwa
seseorang yang mengalami grief atau
dukacita umumnya akan masuk dalam lima tahap. Tahapan ini tidaklah baku karena
manusia adalah individu yang unik. Duka yang dialami atas peristiwa yang sama
bisa menimbulkan respons emosi yang berbeda antara satu individu dengan yang
lain. Grief bersifat individual
sehingga tidak semua orang menjalani pola yang sama dan dalam jangka waktu yang
sama. Teori mengenai Five Stages of Grief
ini diberikan sebagai upaya menolong seseorang yang mengalami dukacita untuk
setidaknya memiliki gambaran tentang apa yang akan dilaluinya, dan untuk
mengenali emosi-emosi yang mungkin akan dialami saat berduka.
1. Denial (Penyangkalan)
“Rasanya gak percaya dia tidak akan pernah duduk di kursi itu lagi…”
“Dia seperti hanya sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota
seperti biasa, dan sebentar lagi akan menelepon saya…”
Tahap pertama ini tidak berarti seseorang sengaja mengingkari
realitas yang ada. Namun kabar yang begitu tiba-tiba bisa membuatnya diserang shock yang hebat dan tak mampu lagi
merasa. Bagai terputus dari ruang dan waktu. Respons seperti ini sering kali
muncul karena realitas itu terlalu berat untuk ditanggung oleh jiwa. Berita
kematian terasa tidak nyata, seperti mimpi, karena otak tidak mampu
memrosesnya. Dalam tahap ini, tanpa disadari denial sedang menolong seseorang yang berduka untuk mengelola
perasaan, memberinya waktu untuk sedikit berjarak dengan dukacitanya. Tahap ini
membawa anugerah tersendiri karena secara natural seseorang akan mampu menerima
tekanan hanya sebatas kekuatannya saja. Bila tahap ini tidak hadir, munculnya
emosi yang membludak dengan begitu tiba-tiba bisa sangat mengguncangkan.
Di tahap ini mereka yang berduka akan banyak bercerita tentang orang yang dikasihi tersebut, tentang masa akhir hidupnya, rencana yang belum tercapai, dan cerita lain. Ini adalah cara pikiran beradaptasi dengan realitas. Dengan melakukan hal ini, penyangkalan perlahan mulai hilang dan realitas muncul dengan jelas di depan mata, membawa orang masuk ke tahap berikutnya: mencari jawaban. “Mengapa ini semua terjadi, apakah sebenarnya bisa dicegah?”, atau “Apa salahku sehingga pantas menerima ini?” Pada akhirnya, dengan banyaknya pertanyaan yang mulai bermunculan, makin menguat kesadaran bahwa kehilangan itu nyata. Penyangkalan mulai reda seiring dengan proses ini. Berbagai emosi mulai muncul ke permukaan.
Setelah melalui tahap penolakan, seseorang mulai menyadari bahwa mereka mampu bertahan. “Aku masih di sini… Aku masih bisa menghadapi semuanya…” Namun, di balik kesadaran itu, muncul berbagai emosi yang menyakitkan seperti marah, sedih, panik, kecewa, dan kesepian. “Kenapa ini terjadi padaku? Aku tidak pantas menerima ini! Aku belum siap!”
Kemarahan bisa tertuju ke mana saja—pada orang yang telah pergi, pada diri sendiri yang merasa tidak berdaya, atau bahkan pada Tuhan. “Kenapa kamu pergi dan meninggalkanku? Kenapa tidak lebih berhati-hati?” Amarah juga bisa muncul sebagai bentuk protes kepada Tuhan, mempertanyakan kehadiran-Nya di tengah penderitaan.
C.S. Lewis dalam A Grief Observed menggambarkan rasa kehilangan dengan begitu jujur: Ketika kita bahagia, Tuhan terasa dekat. Namun, saat kita dilanda duka dan mengetuk pintu-Nya, justru kita merasakan keheningan yang menyakitkan. Tahap kemarahan adalah bagian dari proses berduka yang perlu diterima. Luapkan kemarahan dengan cara yang sehat. Misalnya seperti berbicara dengan orang terdekat, menulis, berteriak di tempat yang aman, atau menyalurkannya melalui aktivitas fisik. Semakin kita mengizinkan diri merasakannya, semakin cepat kemarahan mereda.
Menurut Dr. Jill Bolte Taylor, reaksi kimia akibat emosi hanya bertahan 90 detik. Namun, jika seseorang terus merasa marah atau sedih berkepanjangan, itu sering kali disebabkan oleh pikirannya sendiri yang terus menghidupkan kembali perasaan itu. Dengan mengelola emosi, kemarahan akan berlalu. Ketika amarah mereda, muncul emosi lain—kesedihan, frustrasi, atau bahkan iri pada mereka yang tidak mengalaminya. Menghadapi setiap emosi dengan kesadaran akan membantu kita perlahan pulih.
3. Bargaining (Tawar-menawar)
Fase berikutnya yang umum terjadi adalah pikiran yang terus melayang ke masa sebelum dukacita… “Kalau aku lebih banyak berbuat baik, akankah semua ini berubah jadi sekadar sebuah mimpi buruk?” atau “Kalau saja aku lebih memahami dirinya, mungkinkah dia akan lebih sehat danlebih kuat bertahan…?” Rasa bersalah adalah emosi yang umumnya mendasari fase ini. Kalimat seperti “Tuhan, tolonglah…aku akan lakukan apa pun agar dia kembali…” merupakan respons khas yang dapat muncul juga di fase ini. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, Kübler-Ross dan Kessler menuliskan bahwa tahap demi tahap tidak selalu bersifat linear. Seseorang yang berdukacita dapat kembali lagi ke fase sebelumnya, atau bahkan melewati salah satu fase.
Sama seperti pada fase yang lain, penting untuk menerima emosi yang
muncul. Rasa bersalah dan tawar-menawar yang dilakukan adalah bagian upaya
untuk keluar dari rasa sakit akibat kehilangan, upaya mengalihkan diri dari
kepedihan yang sebenarnya. Mereka yang berduka tahu bahwa tawar-menawar tak
akan mengembalikan orang yang dikasihinya, tetapi tetap melakukannya selama
beberapa waktu karena dapat memberi kelegaan walau sesaat. “Tuhan, bagaimana bila aku saja yang mati dan
jangan dia?” Pikiran-pikiran semacam
ini akan terus muncul. Seiring
pikiran memproses seluruh tawar-menawar itu, akan muncul kesadaran mengenai
realitas yang sesungguhnya: orang terkasih sudah benar-benar pergi selamanya!
4. Depression (Depresi)
Perasaan hampa mulai muncul, sementara dukacita semakin mendalam. Namun, penting untuk memahami bahwa perasaan ini bukan gangguan mental, melainkan respons alami terhadap kehilangan yang besar. Ada keengganan menjalani hari, keinginan untuk tetap berada dalam kesedihan, dan pertanyaan tentang makna hidup. “Mengapa harus bangun? Untuk apa makan? Apa gunanya semua ini jika harus dijalani sendirian?”
Banyak orang berusaha mencegah mereka yang berduka agar tidak tenggelam dalam depresi. Kondisi ini sering dianggap tidak wajar dan perlu segera diatasi. Padahal, dalam proses berduka, depresi adalah bagian yang alami. Justru aneh jika kesedihan mendalam tidak menimbulkan perasaan tersebut.
Dalam konteks dukacita, depresi berfungsi sebagai mekanisme perlindungan. Sistem saraf secara alami menutup diri agar seseorang tidak langsung menghadapi emosi yang terlalu berat. Oleh karena itu, mendesak seseorang untuk segera pulih justru bisa memperburuk keadaan. Ibarat badai yang sedang mengamuk, memaksanya “keluar” terlalu cepat sama dengan memaksanya menghadapi gelombang besar tanpa persiapan.
Depresi bukan perasaan yang nyaman, tetapi cara terbaik menghadapinya adalah dengan menerimanya. Mengabaikannya hanya akan membuatnya terus menghantui. Seiring waktu, perasaan ini akan mereda, dan kehidupan perlahan berjalan kembali. Namun, dukacita tidak benar-benar hilang. Dari waktu ke waktu, rasa pedih itu mungkin datang lagi.
Seorang ibu yang kehilangan anaknya berkata, “Saya pikir sudah lebih baik, tetapi depresi itu kembali menghantam saya. Saya tahu, satu-satunya cara menghadapi badai ini adalah dengan melaluinya.”
5. Acceptance (Penerimaan)
Banyak yang mengira acceptance
terjadi ketika kita bisa menerima kehilangan dan menganggapnya sebagai peristiwa
yang biasa saja. Namun, acceptance
bukanlah seperti itu. Tahap ini adalah tentang menerima kenyataan bahwa dia
yang kita kasihi telah meninggalkan kita selamanya. Kita tak akan pernah
menyukai realitas ini atau merasa baik-baik saja. Namun, pada akhirnya kita
akan menerimanya dan belajar untuk hidup berdampingan dengan rasa kehilangan
ini. Kita mungkin akan berhenti marah kepada Tuhan, berhenti mencari jawaban,
dan menerima bahwa memang sudah waktunya kekasih hati kita pergi. Sementara
bagi kita, inilah waktunya untuk sembuh.
Dengan berjalannya waktu, ketika kita sedikit demi sedikit belajar hidup berdampingan dengan realitas, kita akan melihat bahwa ada hal-hal yang perlu diselaraskan karena hidup telah berubah selamanya. Kita perlu mengatur ulang peran kita, melepaskan tanggung jawab yang tak bisa kita pikul, dan melakukan penyesuaian lainnya. Acceptance adalah proses yang membutuhkan waktu. Griefing antara satu orang dengan yang lainnya berbeda karena sifatnya yang sangat personal.
Sedikit demi sedikit, energi yang kita curahkan pada kepedihan akan teralih pada hidup yang ada di hadapan kita. Kita mulai membangun perspektif baru, menemukan cara untuk mengenang dia yang telah pergi, dan menyelaraskan diri. Dalam proses ini, kita semakin mengenal diri. Anehnya, seiring dengan proses melewati dukacita ini, kita merasa makin dekat dengan kekasih yang telah pergi. Berbagai kenangan tentangnya mulai memberi kehangatan dan bukan lagi luka. Kita mulai belajar menyatukan lagi pecahan-pecahan hidup kita. Kita memulai relasi dan kisah baru, memberi perhatian kepada apa yang kita butuhkan. Selain itu, kita juga bergerak, berubah, bertumbuh…. kita mulai hidup lagi.
Itu semua akan terjadi bila kita memberi waktu pada diri kita untuk berduka.
Tips Mendukung Seseorang yang Sedang Mengalami Dukacita
1. Pahami tahap-tahap yang umumnya terjadi pada seseorang yang sedang mengalami kedukaan.
2. Kedukaan bersifat personal. Oleh karena itu, penanganannya bisa berbeda antara satu individu dengan yang lain. Bersabarlah bersama mereka untuk melalui tahap demi tahap sesuai kondisi masing-masing.
3. Seorang yang berduka perlu diberi kesempatan untuk berproses dan mengalami kesedihannya. Umumnya kita ingin menolong agar dia kembali bahagia, tetap melihat sisi positif, dan fokus pada berbagai hal baik yang hadir di sekelilingnya. Namun, sikap seperti itu bila terlalu cepat dikomunikasikan hanya akan membuat yang berduka makin terluka karena merasa kesedihannya dianggap tidak penting.
4. Tawarkan bantuan. Kita bisa menemani, memberi informasi, memberi dukungan dana, memberi bantuan transportasi, membelikan kebutuhan sehari-hari, membelikan mainan untuk anak, dan lain-lain.
Berduka dan Beriman
“Jangan sedih, dia sudah bahagia di surga…” adalah ungkapan penghiburan yang umum. Namun, apakah orang beriman tidak boleh bersedih saat kehilangan orang terkasih? Bagaimana seharusnya seorang beriman menghadapi dukacita?
Penelitian empiris menunjukkan bahwa individu lebih mampu mengatasi dukacita ketika diberikan ruang untuk berproses. Dukacita bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Kehilangan orang terkasih mengubah hidup secara signifikan. Oleh karena itu, wajar jika seseorang merasakan kesedihan mendalam.
Roma 12:15 menegaskan, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Paulus memahami bahwa menangis adalah respons alami terhadap kehilangan. Orang beriman boleh menangis dan diminta untuk mendukung sesama yang berduka dengan empati.
Dukacita Orang Beriman
Paulus menulis dalam 1 Tesalonika 4:13 bahwa orang beriman tidak berdukacita seperti mereka yang tidak memiliki pengharapan. Dalam teks aslinya, Paulus menggunakan kata “tertidur” untuk menggambarkan kematian. Ia menekankan bahwa orang percaya menantikan kedatangan Yesus kembali.
Orang yang telah meninggal tidak hilang selamanya. Mereka akan dibangkitkan ketika Kristus datang kembali. Pada saat itu, orang percaya akan bersatu kembali dengan mereka dalam kemuliaan Tuhan. Oleh karena itu, dukacita bagi orang beriman bukan tanpa batas, melainkan tetap diiringi pengharapan.
Paulus tidak mengabaikan kebutuhan emosional seseorang. Namun, ia menekankan bahwa kematian bersifat sementara. Kesedihan tetap ada, tetapi tidak boleh menjadi kesedihan yang tanpa harapan. Penghiburan sejati ditemukan dalam iman kepada Tuhan.
Makna Hidup dalam Menghadapi Dukacita
Pandangan terhadap hidup sangat memengaruhi cara seseorang menghadapi dukacita. Paulus berkata, “Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Ia menganggap hidup sebagai kesempatan untuk melayani Kristus.
Bagi Paulus, kehidupan di dunia ini bersifat sementara. Oleh karena itu, ia tidak takut menghadapi kematian. Justru, ia merindukan saat bersama Tuhan. Perspektif ini membantu orang beriman dalam menghadapi kehilangan.
C.S. Lewis dalam A Grief Observed menggambarkan hidup seperti permainan menyusun kartu. Kita bisa tertawa saat menyusunnya, tetapi situasi berubah jika setiap kartu menyangkut hidup dan mati seseorang. Kesadaran akan kefanaan membuat kita lebih serius dalam menjalani hidup.
Dukacita dapat menjadi momen refleksi. Ini adalah kesempatan untuk bertanya, “Apa makna hidup yang sejati?” Ketika menghadapi kehilangan, kita diajak untuk merenungkan tujuan hidup dalam terang iman kepada Tuhan.
Proses dalam Dukacita : Perspektif Psikologi dan Iman
R. Scott Sullender dalam Saint Paul’s Approach to Grief: Clarifying the Ambiguity menyebutkan bahwa setiap orang membutuhkan ruang untuk mengekspresikan emosi mereka. Namun, banyak orang justru menekan emosinya dan mengalihkannya ke hal lain.
Studi Cambridge University menemukan bahwa dukacita sehat mencapai puncaknya dalam 4-6 bulan. Setelah itu, kesedihan perlahan mereda. Proses ini sejalan dengan tahapan grief yang umum dialami seseorang.
Dalam menghadapi kehilangan, kita membutuhkan struktur, jeda, dan penghiburan. Struktur ini dapat ditemukan dalam ibadah dan pemahaman doktrin agama. Iman menuntun seseorang untuk tetap terhubung dengan Tuhan. Ibadah juga membantu seseorang dalam mengelola emosinya dengan lebih baik.
Kisah Ayub memberikan gambaran tentang keterpurukan akibat dukacita. Ia bahkan berharap tidak pernah dilahirkan (Ayub 3:10-11). Dalam penderitaannya, Ayub mempertanyakan Tuhan dan mengungkapkan emosinya dengan jujur.
Allah tidak langsung menjawab pertanyaannya, tetapi memberi respons yang dibutuhkan Ayub. Di akhir kisah, Ayub berkata, “Sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Ayub bertumbuh melalui penderitaan, bukan saat kondisinya pulih, tetapi ketika ia memahami Tuhan dengan lebih dalam.
Iman menjadi kekuatan bagi Ayub dalam menghadapi penderitaan. Ini juga berlaku bagi setiap orang percaya. Dalam dukacita, iman menjadi sumber penghiburan dan keteguhan hati.
Paulus menekankan pentingnya penghiburan dalam komunitas orang percaya. Penghiburan ini dapat dilakukan dengan tiga cara:
Memberikan pemahaman yang benar tentang dukacita, bahwa kesedihan orang Kristen bersifat sementara dan ada harapan akan sukacita mendatang.
Menyampaikan kata-kata penghiburan yang memberi harapan berdasarkan kebenaran firman Tuhan.
Melakukan interaksi langsung dengan mereka yang berduka. Paulus sendiri pernah merasakan penghiburan dari kunjungan Titus dan Timotius.
Ketika seseorang mengalami dukacita, kehadiran dan empati dari sesama orang beriman sangatlah berarti. Penghiburan bukan sekadar kata-kata, tetapi juga tindakan nyata dalam mendampingi mereka yang berduka.
Mazmur 119:92 berkata, “Sekiranya Taurat-Mu tidak menjadi kegemaranku, maka aku telah binasa dalam sengsaraku.” Dalam dukacita, iman kepada Tuhan memberi kekuatan dan penghiburan sejati bagi setiap orang percaya.
Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. (Amsal 3: 5)
Saat kelas X, saya mendapat kesempatan menjadi pengurus OSIS. Awalnya, saya ragu karena jadwal sekolah sangat padat. Namun, dengan pengalaman di OSIS SMP, saya percaya dan memberanikan diri untuk menerima tawaran itu.
Masuk ke kepengurusan OSIS SMA, saya belajar banyak hal baru. Saya belajar mengatur waktu, menentukan prioritas, dan memahami organisasi lebih dalam. Selain itu, saya juga belajar membangun hubungan baik dengan pengajar dan teman-teman.
Setahun berlalu, kepengurusan OSIS berganti. Saya dipercaya teman-teman menjadi ketua OSIS. Saya sadar bahwa semua terjadi karena jalan-Nya. Sejak awal, saya menjadikan Tuhan sebagai fondasi kepemimpinan saya. Setiap kegiatan OSIS selalu saya bawa dalam doa. Saya meminta tuntunan dan penyertaan Tuhan agar bisa menjalankan tugas dengan baik.
Namun, pada suatu waktu, ada rencana kegiatan OSIS yang tidak mendapat izin karena bentrok dengan kegiatan yang diadakan oleh sekolah. Gejolak pun muncul di dalam pengurus OSIS. Banyak yang mempertanyakan keputusan sekolah pada waktu itu. Saya pun pada waktu itu mencoba untuk bernegosiasi dengan pembimbing OSIS dan beberapa pengajar yang bersangkutan, tetapi tidak membuahkan hasil. Hal yang lebih mengesalkan lagi, kami tidak terlalu dilibatkan di dalam kegiatan sekolah yang bisa dibilang berskala besar.
Saya bergumul. Saya mulai mempertanyakan Tuhan. Kenapa pada waktu
itu Tuhan seperti tidak campur tangan? Kenapa pada waktu itu Tuhan tidak
membuka jalan untuk kegiatan OSIS SMA? Karena merasa seperti Tuhan tidak pernah
bertindak, pada akhirnya saya kecewa dengan Tuhan.
Kekecewaan saya terhadap Tuhan berdampak hampir ke seluruh aspek hidup saya. Saya jadi jarang baca Alkitab dan saat teduh. Kepribadian saya juga mulai berubah menjadi lebih temperamental. Saya mengatakan apa saja yang ingin saya katakan tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Saya menjadi congkak dan egois. Cara pandang saya dalam mengambil keputusan rapat yang biasa didasari dengan hati yang tenang dan damai berubah menjadi penuh kekesalan dan hati yang gundah. Hal ini berdampak pada pengambilan keputusan yang tidak memuaskan.
Masalah demi masalah terus datang dan selalu selesai dengan tidak memuaskan. Rasanya ada yang kurang dan selalu menghalangi kebahagiaan di dalam diri. Hal ini juga terasa di dalam lingkungan OSIS. Kami, yang biasanya selalu menanggapi ledekan dan kata-kata “manis” sebagai sebuah candaan, berubah jadi lebih mudah tersulut emosinya. Waktu terus berjalan dan saya masih menyimpan rasa kecewa. Rasanya tidak mungkin pada waktu itu berdamai dengan Tuhan.
Berserah dan Percaya: Menyerahkan Segala Masalah kepada Tuhan
Hingga pada suatu saat di kegiatan OSIS yang diadakan di sekolah, saya menerima pesan dari ibu saya. Isi pesannya pada waktu itu: “Nak, baca Amsal 16, ya.” Dalam hati, saya bertanya-tanya maksudnya. Namun, saya mengikuti saran ibu saya dan membaca kitab yang dimaksud. Saat membacanya, beberapa ayat terngiang-ngiang terus di kepala saya yang membuat saya akhirnya kembali kepada Tuhan.
Namun, pergumulan yang dihadapi setelah itu adalah “memperbaiki” kondisi pribadi dan kondisi di dalam kepengurusan OSIS yang pada waktu itu kian memanas. Banyak hal yang menjadi beban pikiran kami. Kami hanya mengandalkan kepintaran sendiri sehingga masalah-masalah yang ada sulit sekali untuk diselesaikan. Saya akhirnya menyadari kalau ada yang salah. Setelahnya, saya mencoba untuk mendamaikan diri dengan berdoa dan membaca Alkitab.
Saya menemukan satu ayat yang saya percaya menjadi pedoman yang menguatkan saya. Amsal 3: 5 yang berbunyi, “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”
Akhirnya, saya berdoa dan mencoba menyerahkan semua masalah yang
saya hadapi, termasuk OSIS. Puji Tuhan, masalah yang ada Tuhan selesaikan
dengan cara-Nya. Saya kembali menjadi pribadi yang tenang dan tidak mudah
marah. Puji Tuhan, kondisi di OSIS pun lebih kondusif. Aura persahabatan
kembali terasa kental di antara pengurus OSIS.
Masalah di atas membuat saya belajar untuk bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan tidak kecewa kepada-Nya. Berdasarkan pengalaman saya, kekecewaan tersebut justru menimbulkan masalah-masalah baru yang membuat hidup menjadi tidak damai. Dengan kita percaya, berserah, dan bergantung kepada Tuhan, Dia akan membantu kita dan menuntun kita di jalan-Nya.
Saya seorang ibu dengan tiga orang anak. Dua orang putri dan satu anak laki-laki. Ketiganya saya rawat dan besarkan seorang diri karena ayahnya bekerja jauh yang pulang beberapa kali dalam satu tahun. Meskipun sangat repot, ada rasa sukacita manakala melihat anak-anak bertumbuh dengan baik.
Dalam
mendidik anak, saya berusaha untuk tidak mendikte mereka. Untuk urusan yang
berhubungan dengan kegiatan mereka, saya selalu mendiskusikannya, bahkan sejak
mereka masih balita. Mereka boleh mengajukan pendapat meskipun saya yang
memutuskan. Saya akan menjelaskan alasannya jika ternyata keputusan berbeda
dengan pilihan mereka. Begitu pula bila mereka melakukan kesalahan, bukan saja
menegurnya, saya harus menerangkan alasan saya marah sampai mereka paham.
Anak-anak
juga tidak ada yang mengikuti les mata pelajaran. Saya mendampingi mereka saat
belajar di rumah. Namun, ketika mereka kelas tiga SD, saya mulai melepaskan
perlahan. Mereka sudah mulai belajar secara mandiri, dan saya hanya memantau.
Pada awalnya, nilai agak turun (memang tidak sampai di bawah KKM), tetapi itu
tidak apa-apa. Biar mereka belajar bagaimana harus berjuang untuk meraih
sesuatu sesuai yang diharapkan.
Hebatnya,
ternyata mereka memiliki standar untuk diri mereka sendiri, tanpa saya perlu memintanya.
Mereka begitu bersemangat, sementara saya hanya mengawal dan mendampingi,
sambil menggali dan mencari tahu potensi yang ada di dalam diri tiap anak. Ketika saya mulai melihat
talenta yang Tuhan karuniakan, saya berusaha untuk mendukung dan terus
mengembangkannya.
Tidak semua anak memiliki pola perkembangan yang sama. Anak pertama kami lebih membutuhkan perhatian khusus, tapi kami berhasil melewatinya. Saya percaya semua ini adalah campur tangan Tuhan. Roh Kudus yang memberikan kepada mereka hati yang bertanggung jawab, mandiri, dapat membedakan yang baik dan tidak, mana yang boleh dan tidak. Bahkan jika melakukan kesalahan, mereka terbuka mau bercerita kepada saya. Sebagai orang tua, kami tidak mengalami kesulitan dalam mendidik mereka. Sukacita itu selalu ada dalam perjalanan kami.
Berbeda
dengan kedua kakaknya (jaraknya cukup jauh), putra kami yang bungsu setiap hari
belajar bersama kelompoknya, tapi tetap di rumah masing-masing. Tentu saja
awalnya saya bingung karena saya kira dia cuma sedang mengobrol. Ternyata, dia
sedang berdiskusi secara online bersama tiga orang temannya. Di
situ saya merasa bangga karena
dia memanfaatkan teknologi dengan tujuan baik. Meskipun jika ada waktu, mereka
juga bermain game bersama.
Di sinilah saya belajar bahwa beda generasi, beda pula cara asuhnya. Semakin ke sini, mau tidak mau anak akan tumbuh berdampingan dengan teknologi. Karena itu, modal yang saya tanamkan kepada mereka adalah bahwa dalam menjalani hidup, mereka bertanggung jawab kepada Tuhan. Orang tua tidak selalu ada untuk mereka, tetapi ada Tuhan yang menjaga sekaligus mengamati. Saat ini, kedua putri kami sedang menempuh kuliah, dan saat tulisan ini ditulis, keduanya sudah di akhir semester.
Sementara putra bungsu kami duduk di kelas sepuluh. Walaupun ada sedikit riak-riak, segala sesuatu termasuk berjalan dengan lancar. Dalam perjalanan mendidik anak-anak, ada banyak tantangan, tetapi lebih banyak lagi sukacita yang saya rasakan. Kami juga merasakan penyertaan Tuhan dalam setiap langkah kami. Tuhan telah mempertemukan kami dengan orang-orang dan kondisi yang tepat, seperti salah satunya dengan sekolah dan pengajar Athalia. Dia selalu ada, serta menolong tepat di saat kami membutuhkan pertolongan.
Peribahasa “Tak Kenal, maka Tak Sayang” tampaknya tepat untuk menggambarkan perjalanan anak kami saat pertama kali masuk sekolah dasar. Awalnya, kami berharap ia akan menikmati suasana sekolah. Namun, harapan tersebut bertolak belakang dengan kenyataan. Setiap hari, ia menangis dan menolak masuk kelas. Terus terang, sebagai orang tua, kami berharap anak akan senang ketika berada di sekolah. Namun, harapan itu ternyata jauh dari kenyataan. Saya sempat kaget melihat anak saya menolak masuk kelas dan terus menangis.
Sementara itu, temannya dengan santai dan percaya diri melenggang masuk ke kelas. Anak saya terus menangis, berkata bahwa dia tidak mau sekolah dan mau pulang saja. Saya shock sampai menelepon istri dan berkata, “Apa perlu kita pindahkan sekolahnya?” Padahal, sewaktu mengikuti tes penerimaan siswa baru, anak kami mampu menjawab pertanyaan dengan baik. Dia juga terlihat senang dan mau sekolah di Athalia. Mungkin anak kami kaget melihat suasana sekolah yang ramai. Saat TK, memang lingkungannya lebih kecil dengan sedikit teman.
Saat pulang ke rumah, terus terang pikiran saya tidak tenang. Saya mengingat kembali ketika dia berusia 2,5 tahun. Dengan riang gembira, dia selalu mengikuti Sekolah Minggu. Begitu juga ketika dia masuk TK. Bahkan, dia kami ikutkan jemputan dan tidak pernah ada masalah sama sekali. Mungkin inilah yang terjadi, ekspektasi orang tua terhadap anak tidak sesuai kenyataan.
Setelah satu minggu mengantar-jemput anak selesai, kami melimpahkan tugas tersebut kepada mobil
jemputan. Kami pikir semuanya sudah berlalu. Namun, ternyata kami salah.
Menghadapi Tantangan Awal Sekolah dengan Kesabaran
Suatu pagi, terjadi kehebohan karena anak saya
menolak ikut mobil jemputan. Istri saya mengantarnya sampai ke dalam mobil, tetapi
anak kami berteriak-teriak tidak mau sekolah. Dia menangis dan memberontak,
ingin lompat ke luar mobil. Saya sampai tepok
jidat. Kenapa
lagi anak ini? Setelah
melakukan pembicaraan dengan anak dan sopir jemputan, akhirnya
dia mau berangkat sekolah.
Kami bersyukur bahwa fase tersebut akhirnya berakhir. Seiring berjalannya waktu, anak kami mulai menikmati sekolahnya. Dia bercerita teman-temannya ternyata sangat baik, sangat welcome. Meskipun teman-temannya sebagian besar merupakan siswa Athalia sejak TK, mereka mau mengajaknya bermain dan tidak pernah mengejeknya.
Bahkan, setelahnya, anak kami tidak pernah mau izin tidak masuk sekolah. Ketika dia sakit, dia tidak mau izin. Pernah suatu hari karena lupa dia makan ikan laut sehingga alerginya kumat, di badannya tampak bentol-bentol dan dia merasa kurang sehat. Namun, ketika disuruh pulang oleh wali kelas, dia tidak mau, saking cintanya dengan Sekolah Athalia dia memilih tetap belajar hingga selesai jam sekolah.
Dia bilang kepada mamanya, “Aku tidak mau ketinggalan pelajaran di sekolah.” Bahkan, ketika sedang demam pun di rumah tetap belajar agar bisa ikut ulangan. Kami terharu ketika melihat perjuangannya mengenal sekolah, lingkungan, teman, dan segala hal baru. Kami menyadari bahwa dengan dukungan dan sayang yang tulus, anak kami dapat melewati tantangan yang awalnya terasa berat.
Anak kami berhasil naik ke kelas 3 dengan mendapatkan piala hasil kumulatif dari piagam top score yang dia kumpulkan dari kelas 1 sampai kelas 2. Itu adalah momen terindah baginya dan suatu kejutan bagi kami. Bahkan, malam sebelum dia terima rapor, saya bilang, “Ahhh…sepertinya kamu tidak mungkin deh dapat banyak nilai bagus karena agak malas belajar kelas 3 ini. Kalo sampai kamu dapat nilai bagus yang banyak, akan papa belikan jam tangan yang tahan air deh…”
Sekali lagi, ekspetasiorang tua tidak sesuai kenyataan. Ternyata, anak kami malah membawa pulang piala. Saya pun harus memenuhi janji membelikan sebuah jam tangan yang tahan air agar bisa dipakai berenang. Ini adalah momen tepok jidat yang kedua.
Saat anak kami berada di kelas 3, dia mendapatkan rujuan dari RS untuk berobat dan menjalani serangkaian tes di RS Siloam Karawaci. Kami berangkat dari rumah jam 6 pagi karena jarak yang lumayan jauh. Dia berpesan untuk dibawakan seragam dan tas sekolah. Dia berharap proses tes tidak terlalu lama sehingga bisa lanjut pergi ke sekolah. Namun, ternyata proses tes berjalan lama sampai lewat jam makan siang sehingga hari itu dia tidak bisa masuk sekolah.
Puji Tuhan, akhirnya anak kami menemukan dunia yang indah di masa kecilnya untuk belajar banyak hal dan bermain. Kami sebagai orang tua mencoba mengajarkan kepada anak kami dengan memberikan keteladanan hidup, moral, dan iman untuk masa depannya. Dengan luar biasa, Sekolah Athalia membentuknya dengan cara mendidik karakternya untuk menjadi anak yang takut akan Tuhan dan berguna bagi bangsa dan negara, seperti moto sekolah ini “Right From The Start”, benar sejak awal. Kami percaya bahwa dengan kasih sayang, anak-anak dapat berkembang menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab, siap menghadapi masa depan dengan percaya diri.
Sekilas saya melihat tatapan wajah anak saya yang kosong, menatap ke luar jendela. Kepalanya tersandar dengan lesu. Setelah berbincang mengenai ini dan itu, akhirnya saya menemukan jawabannya. Ia merasa letih dengan jadwal belajar yang padat menjelang ujian nasional. Sebagai ibu yang mendampingi di rumah, saya pun merasakan hal itu. Iba sekaligus bangga melihat anak usia SD berjuang keras untuk meraih yang terbaik. Meski baru pulang sekolah, dia punya waktu belajar dan mengerjakan tugas-tugas. Luar biasa!
Saya dan suami melibatkan diri dalam mendukungnya agar tetap semangat. Kami bergandengan tangan untuk menjaga semangatnya sampai lulus UN dengan nilai yang sangat baik. Puji Tuhan. Namun, menjelang usianya yang sudah remaja, sebagai orang tua kami tak hanya ingin melihat anak berkembang secara kognitif alias punya pencapaian bagus dalam hal akademis. Kami butuh sekolah yang mendidik dan mendampingi anak-anak dengan nilai-nilai Kristiani sekaligus memberikan bekal untuk pengembangan karakternya.
Melibatkan Nilai-Nilai Karakter dalam Pendidikan Anak
Anak kami ini sangat peduli dengan orang lain dan paling tidak bisa melihat orang lain bersedih. Hal itu sudah ditunjukkannya sejak ia masih kecil. Bahkan, pada saat TK A, ia sendiri yang bercerita bahwa salah seorang temannya tidak dibawakan bekal. Berhubung bekalnya masih ada, ia memberikan beberapa keping biskuit ke temannya itu tanpa disuruh pengajar.
Namun, di lain sisi ia juga menjadi
anak yang tidak tegas. Tidak tegas untuk mengatakan “tidak” terhadap hal-hal
yang kurang baik. Contohnya, saat kelas TK A, ada salah seorang temannya yang
menggodanya, tetapi ia cuek. Justru temannya itu menjadi emosi dan
akhirnya hidungnya ditonjok hingga lebam dan berdarah. Bahkan, dampak dari kejadian itu
hidungnya mengalami trauma sehingga sering kali mimisan.
Peristiwa
itu menjadi pergumulan kami dan puncaknya ketika di kelas 4 dia mengalami perundungan dari
seorang temannya. Suatu hari, dia membawa bekal susu kotak. Lalu, temannya bilang bekalnya
sudah habis, tetapi masih lapar dan meminta susu kotak itu. Dengan senang hati
anak kami memberikannya.
Namun, rupanya tak berhenti di situ. Besok dan besoknya lagi setiap
jam sarapan atau makan siang, anak itu selalu meminta bekal anak kami. Suatu hari, anak kami menolak permintaan
temannya karena memang dia tidak membawa bekal lebih. Jawaban itu memicu
kemarahan temannya yang berakibat seisi tas sekolah anak kami ditumpahkan di
kelas.
Diperlakukan seperti itu, anak kami tetap bergeming. Dia tidak melawan. Salah seorang siswa yang melihat kejadian itu melapor kepada wali kelas dan pengajar. Akhirnya, orang tua anak tersebut dipanggil ke sekolah. Anak itu mendapatkan teguran serta skorsing.
Ketegasan dalam Menghadapi Perundungan
Mungkin maksud anak kami baik, tidak membalas keburukan dengan keburukan. Namun, kemudian kami melihat, ia menjadi anak yang kurang tegas untuk berkata “tidak” untuk hal-hal yang dirasa tidak baik. Ini menjadi satu kerinduan kami sebagai orang tua agar anak kami memiliki karakter yang makin baik dan makin mengenal Allah. Ketika akhirnya tebersit untuk mencari sekolah dengan muatan pendidikan karakter, kami memohon kepada Tuhan untuk campur tangan.
Kami
berpikir, tak mudah memindahkan seorang
anak remaja ke sekolah yang baru. Kami pun
tak jarang mendengarkan pertanyaan-pertanyaan dari orang tua
atau teman di sekolah sebelumnya.
“Ngapain pindah? Bukannya sekolah di sini
sudah bagus?”
“Yakin
pindah ke Athalia? Ngapain?”
Kami
berpikir, di mana pun tempat pasti akan ada pertanyaan, dan kadang
itu retoris.
Jadi, bersama Tuhan kami terus
memantapkan langkah untuk memindahkan anak kami ke Sekolah Athalia.
Fase adaptasi di tempat yang baru, teman-teman yang baru, pengajar dan lingkungan baru tentu bukan hal yang mudah untuk dilewati. Kami sempat khawatir, tetapi kami yakin Tuhan yang pilihkan, Ia pun akan memampukan.
Kami
perhatikan, perkembangan anak kami baik sekali. Satu
semester terlewati dengan baik. Dia
berhasil beradaptasi dalam hal akademis. Sikapnya di kelas juga sangat baik.
Bahkan, kami dibuat terharu ketika wali kelas bercerita bahwa anak kami
bersikap sangat sopan dan suka menolong teman-temannya.
Menuju
semester dua, lagi-lagi Tuhan buat kami mengucap syukur.
Meski anak baru, ia memperoleh piagam besar dan piagam kecil High Achievement untuk mata pelajaran PKN. Senyumnya merekah seakan berhasil menaklukkan tantangan yang berat. Hal itu menjadi pencapaian yang membanggakannya karena pada dasarnya dia tak menyukai pelajaran PKN. Namun, dia justru mencetak prestasi di mata pelajaran tersebut.
Kami pun menasihatinya,“Jika kita melibatkan Tuhan, maka Ia mampu membuat hal yang paling tidak kita sukai sekalipun, menjadi jalan keberhasilan, Nak…”
Melibatkan Tuhan dalam Setiap Langkah Anak Kami
Sejak
hari itu, dia paham bahwa suka atau tidak suka, semua harus dipelajari dengan
sungguh-sungguh. Meski demikian, anak kami masih terus berproses di Athalia,
hingga ke masa yang akan datang pun ia akan terus berproses. Setidaknya, ia menyelesaikan kelas 7 dengan baik dan dia memasuki kelas 8. Mengingat tujuan utama kami memindahkan sekolahnya, yaitu untuk
memberikan yang terbaik untuk pertumbuhan karakternya, tentu saja hal itu
menjadi fokus kami.
Satu tahun
pertama, hal yang paling mengharukan adalah dia sudah mulai mencuci piring dan
gelas yang ia gunakan setelah makan dan minum. Dia juga membantu
mamanya menjemur pakaian dan menyapu. Hal-hal sederhana yang sebelumnya tidak
pernah ia lakukan. Setahap demi setahap ini adalah wujud dari pertumbuhan
karakternya ke arah yang lebih baik.
Begitu juga
dengan sikapnya yang perlahan mulai lebih terbuka. Tadinya ia tidak pernah
cerita kalau tidak ditanya. Sekarang, dengan sendirinya, tiap pulang sekolah, dia akan aktif bercerita kepada kami
tanpa harus ditanya.
Selain
itu,
kini dia
punya banyak teman. Bahkan, sejak kelas 7, beberapa kali dia mengajak teman-temannya ke rumah untuk mengerjakan
tugas. Anak-anak pun sangat senang
mengerjakan tugas bersama. Jika ada kendala dalam membuat presentasi, papanya dengan senang hati
membantu anak-anak. Bahkan, dari kegiatan mengerjakan bersama PR itu, kami memiliki ide untuk membuka les pemrograman untuk anak-anak, sesuai skill yang kami dalami.
Itu semua adalah contoh-contoh kecil perubahan yang sangat berarti buat kami. Rupanya, pilihan di Athalia direstui oleh Tuhan. Kami yakin, Tuhan akan melibatkan tangan-Nya dalam perjalanan ini.
Terima kasih, Sekolah Athalia. Kiranya Tuhan memberkati anak-anak, pengajar, kepala sekolah, Ibu Charlotte, karyawan, orang tua, dan semua yang berada di dalam komunitas Athalia.
Judul buku: THE SACRED SEARCH (Pencarian Pasangan Hidup yang Kudus)
Informasi terkait buku:
Penulis: Gary Thomas Penerjemah: Paksi Ekanto Putra Tahun terbit: Cetakan Kesepuluh, Agustus 2018 Jumlah halaman: 261 halaman
Pada umumnya, dua dari beberapa tugas perkembangan manusia dewasa ialah menjalin hubungan dengan lawan jenis dan menikah. Namun, dalam perjalanan kehidupan, kita hampir tidak pernah diajarkan bagaimana membangun relasi secara formal maupun mencari pasangan hidup. Sering kali, dasar seseorang dalam menjalin relasi dan mengambil keputusan untuk menikah hanyalah karena perasaan jatuh cinta. Padahal, ada faktor-faktor lain yang jauh lebih kuat, mendasar, dan kekal yang seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam memutuskan menikah. Hal-hal inilah yang dikupas secara mendalam dalam buku The Sacred Search (Pencarian Pasangan Hidup yang Kudus).
Mengupas Buku The Sacred Search (Pencarian Pasangan Hidup yang Kudus)
Buku ini mengangkat tema relasi dari perspektif iman Kristen. Banyak orang sering bertanya: “Siapa orang yang paling tepat untuk dinikahi?” Namun, penulis buku ini mengarahkan untuk merenungkan pertanyaan yang lebih mendasar: “Mengapa menikah?” Berawal dari pertanyaan ini, penulis mengajak para lajang untuk mengevaluasi alasan terdalam yang melandasi keputusan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Penekanan utama ada pada dasar yang harus berakar pada firman Tuhan dan secara langsung berkaitan dengan pertumbuhan rohani bersama pasangan hidup. Dalam konteks ini, membangun relasi menuju pasangan hidup yang sejalan dengan kehendak Tuhan menjadi tujuan yang jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti dorongan emosional sesaat.
Penulis membahas persoalan yang diperlukan dalam mengembangkan keterampilan berelasi yang mengutamakan Tuhan. Pembaca diajak berefleksi mengenai panggilan hidup dan pengenalan diri secara utuh. Selain itu, pembaca juga diajak untuk melihat bagaimana neuroscience dan psikologis memengaruhi hubungan antarpribadi. Buku ini membahas bagaimana pasangan menjalani panggilan hidup bersama dalam pernikahan. Penulis menekankan pentingnya membangun landasan yang kokoh dalam relasi dengan lawan jenis. Maka dari itu, pembaca diajak mempertimbangkan pandangan dalam memilih calon pasangan di masa mendatang. Lebih jauh lagi, penulis juga membahas hal-hal yang berkaitan dengan intimasi pernikahan dan pembaca diharapkan terbuka menelisik diri sendiri untuk dapat membangun hubungan yang sehat dan kudus dengan pasangan kelak.
Refleksi, Aplikasi, dan Tantangan dalam Membangun Relasi Sejati
Uniknya, buku ini tidak menyajikan tips and trick, tapi justru membuka wawasan pembaca terhadap kemungkinan baik dan buruk ketika berelasi. Misalnya, meninjau kembali gaya pernikahan yang dibahas dalam satu bab, penulis memaparkan berbagai gaya pernikahan yang mungkin mengarah pada kemungkinan gaya pernikahan di masa mendatang. Pembaca juga diajak meninjau gaya pernikahan tersebut. Apakah mampu beriringan dengan seseorang yang sedang digumulkan untuk menjadi pasangan? dan apakah lifestyle tersebut dapat menumbuhkan diri dan pasangan dalam pernikahan?
Kisah ilustrasi yang dipakai dalam tiap
bab memang kurang kontekstual dengan tradisi orang Asia. Namun, prinsip yang
ditekankan cukup relevan dan tidak hanya mewakili satu budaya tertentu. Istilah
bidang kedokteran, psikologi, dan teologi banyak dipakai dalam buku ini.
Gaya tulisan yang bercerita dan bahasa yang mudah dimengerti adalah poin lebih dari buku ini. Pembaca diajak mengambil waktu untuk mengevaluasi diri melalui pertanyaan studi lanjut di tiap bab untuk dijawab. Hal ini menolong pembaca mengurai setiap bahasan yang diterima dan merefleksikannya di dalam diri. Pembaca juga diajak meninjau kembali pengenalan diri serta harapan terhadap hubungan dengan pasangan.
Buku ini disarankan untuk dibaca oleh
kaum muda yang bergumul tentang pasangan hidup, orang tua yang rindu
mendampingi anaknya menemukan pasangan hidup yang sepadan dan seimbang, pembimbing
rohani, dan pasangan menikah untuk memperkokoh hubungan. Buku ini cocok dipakai
dalam persekutuan kelompok-kelompok kecil yang membahas tentang relasi lawan
jenis menuju pernikahan.
Seorang gadis muda datang kepada sahabatnya dengan hati yang penuh luka. Mulutnya tak mampu membendung umpatan atas segala kekesalannya. Ia bercerita mengenai opa dan omanya yang selama ini telah mengasuhnya sejak usia 3 tahun. Sebagai seorang gadis muda, ia bertumbuh di dalam lingkungan kaum muda yang memberikan banyak gaya hidup. Namun, seiring dengan hal tersebut, opa dan omanya tidak dapat mengerti seluruh perkembangan gaya hidup anak muda zaman sekarang. Tidak aneh bila tiap hari terjadi keributan besar—hanya karena perbedaan nilai hidup. Ditambah lagi ketidakhadiran orang tua kandungnya karena perceraian. Jadilah gadis ini kehilangan arah nilai hidup.
Nilai hidup adalah sebuah dasar sekaligus pengarah hidup seseorang. Seseorang dapat melihat sebuah nilai hidup sebagai sesuatu yang bernilai atau tidak, dilatari oleh banyak hal yang beragam. Artinya, nilai hidup dipengaruhi oleh suatu hal yang tertanam di dalam diri seseorang. Penanaman pemahaman tentang nilai hidup membutuhkan intensitas yang terukur dan memerlukan terang rohani agar konsep nilai itu menjadi yang benar di mata Tuhan. Penanaman tersebut harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga.
Hal ini dapat dilihat dalam Kejadian 7:1 “… Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.” Di antara manusia lainnya, yang akan musnah karena nilai hidup yang tidak benar (dosa), Nuh dan keluarganya dibenarkan dan diselamatkan Tuhan. Ketaatan Nuh telah membawa keluarganya juga ikut taat masuk ke dalam bahtera. Tanpa proses penyampaian nilai hidup agar taat kepada Tuhan, tidaklah mungkin bahtera tersebut dapat diisi segala macam binatang dan Nuh sekeluarga.
Kunci Menemukan Nilai Hidup yang Benar dalam Keluarga
Untuk dapat menemukan nilai hidup yang benar di hadapan Tuhan membutuhkan hikmat. Tanpa hikmat, nilai hidup akan menjadi nilai yang bias, tidak tetap, dan mudah beralih. Hikmat mengarahkan manusia melihat apa yang dikehendaki Tuhan. Kisah Para Rasul 16:19-34 menceritakan kepala penjara yang bertobat ketika melihat Paulus dan Silas diselamatkan Tuhan. Kepala penjara mendapat hikmat bahwa peristiwa yang terjadi kepada Paulus dan Silas merupakan bukti bahwa Tuhan itu ada. Melalui hikmat, dirinya mendapatkan nilai hidup tentang injil. Nilai hidup itu dibawanya kepada seisi rumahnya, dan mereka merayakan sukacita keselamatan.
Mari kita hidup dengan aliran hikmat, hari demi hari. Karena dunia tidak akan pernah berhenti menawarkan nilai-nilai hidup yang menarik. Tugas kita sebagai orang percaya adalah mula-mula menggembalakan seluruh isi rumah untuk hidup dalam nilai hidup keselamatan. Jangan biarkan kita kering akan hikmat agar dapat melihat nilai hidup yang benar.
Yakobus 1:5 mengatakan, “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah …”. Kehadiran hikmat Allah akan menolong keluarga kita berjalan dengan penuh bijaksana. Melangkahlah bersama keluarga kita dengan hikmat Allah. Tuhan menolong kita semua.
Beberapa bulan terakhir, dunia mengalami perubahan besar akibat pandemi. Segala lini kehidupan dipaksa untuk beradaptasi, termasuk dunia pendidikan. Proses belajar mengajar tidak lagi dilakukan di sekolah, melainkan dari rumah. Siswa harus mengikuti kelas daring tanpa bisa bertemu langsung dengan teman atau pengajar. Itulah yang dialami para siswa Sekolah Athalia. Mereka memulai tahun ajaran baru melalui layar komputer, bukan di ruang kelas. Pertanyaannya, apakah kondisi ini menjadi masalah serius bagi anak-anak zaman sekarang?
Dunia Digital yang Menjadi Rumah Kedua
Tanpa kita sadari, banyak masalah yang muncul di dalam diri para remaja yang berhubungan dengan platform daring. Namun kini, sudah empat bulan lebih mereka melakukan pembelajaran secara daring—mengumpulkan tugas, melaksanakan ujian sekolah, proyek mata pelajaran, bahkan sesi kelas tatap muka pun harus dilakukan dengan platform daring.
Pertanyaannya, apakah benar mereka sedang beradaptasi dengan metode daring atau sebenarnya sudah menjadi “warga” dunia daring dan teknologi digital? Tidak bisa dipungkiri, anak-anak remaja saat ini adalah generasi digital. Menurut Hanlie Muliani dalam webinar berjudul “Memahami 7 Karakteristik Gen Z dan Parenting Style untuk Gen Z” yang dilaksanakan pada 4-5 Mei 2020, para remaja ini disebut sebagai generasi local residents di zaman kemajuan teknologi sehingga berhasil menciptakan sebuah era baru dalam dunia sosial. Mereka bisa berteman dengan siapa saja dari seluruh dunia hanya dalam sekali klik di komputer atau gadget mereka.
Fenomena sosial di kalangan generasi Z menunjukkan bahwa meskipun tidak bisa bertemu langsung, mereka tetap bisa akrab melalui media sosial. Platform seperti Instagram, Twitter, dan Facebook menjadi ruang komunikasi, ekspresi, dan solidaritas. Media sosial memungkinkan remaja menjalin hubungan dan mempertahankan interaksi secara intens. Bahkan, para remaja kini lebih menguasai media sosial dibandingkan orang tua mereka. Jadi, di awal Tahun Pelajaran 2020-2021 ini, apakah menjadi sebuah masalah bagi para remaja saat mereka tidak bisa bertemu teman?
Kebanyakan dari mereka mungkin sedang mengeluh betapa bosannya di rumah dan merindukan untuk bisa kembali bertemu teman-teman di sekolah. Menurut penelitian Barna (2019), kebanyakan dari para remaja ini memang sudah merasa saling terhubung, tetapi perasaan dicintai dan didukung oleh orang lain tidaklah sebesar itu. Itulah mengapa hari-hari ini mereka sangat mudah untuk memiliki teman, tetapi tidak dapat membangun rasa saling mengasihi satu sama lain dengan maksimal karena mereka kesulitan bertemu secara tatap muka.
Peran Orang Tua dalam Mendampingi Generasi Z
Menyikapi fenomena ini, orang tua diharapkan bisa membangun hubungan atau relasi yang hangat dengan anak-anak supaya mereka tetap merasakan dukungan dan punya teman untuk bicara di masa-masa PJJ. Harapannya, lewat hubungan yang dibangun dengan anak-anak, orang tua bisa membimbing para remaja menggunakan media sosial dengan lebih bijak. Kiranya interaksi-interaksi di media sosial atau post yang di-upload boleh menjadi berkat bagi yang melihat dan menyaksikannya.
Biarlah setiap orang tua di awal tahun ajaran ini semakin dimampukan Tuhan untuk membimbing anak remaja mereka tetap berjalan dalam kebenaran Tuhan di masa-masa pembelajaran online ini.
Referensi: Barna Group. 2019. The Connected Generation: How Christian Leaders Around the World Can Strengthen Faith and Well-Being Among 18-35-Year-Olds. California: Barna Group.
LEAD LIKE JESUS (Belajar dari Model Kepemimpinan Paling Dahsyat Sepanjang Zaman)
Lihat Keterangan Buku Lebih Lanjut
Judul buku: LEAD LIKE JESUS (Belajar dari Model Kepemimpinan Paling Dahsyat Sepanjang Zaman) Penulis: Ken Blanchard & Phil Hodges Penerbit: Visimedia Penerjemah: Dionisius Pare Tahun terbit: 2006 Jumlah halaman: 317
“Di mana Anda bisa menemukan model kepemimpinan yang dapat mengubah hidup Anda?” Pertanyaan ini menjadi pengantar reflektif dalam buku karya Ken Blanchard dan Phil Hodges, Lead Like Jesus. Berdasarkan telaah mendalam terhadap Kitab Suci (Alkitab), Ken dan Phil menemukan banyak hikmah kepemimpinan melebihi yang mereka pikirkan selama ini. Belajar cara memimpin seperti Yesus membuat kita menemukan perbedaan besar dalam hidup dan dalam kehidupan orang-orang yang kita pimpin.
Transformasi Pribadi melalui Kepemimpinan Yesus
Buku ini diawali dengan refleksi penulis tentang perubahan sudut pandang terhadap makna kepemimpinan.
Sebagai pembaca, kita diajak untuk mengalami transformasi yang dimulai dari kehidupan personal yang kemudian bergerak memimpin orang lain dalam hubungan satu-satu (one on one), lalu memimpin satu tim atau kelompok, dan akhirnya memimpin satu organisasi atau masyarakat. Siklus ini dapat terjadi baik dalam peran hidup pribadi maupun organisasi. Dengan membaca buku ini, kita diharapkan mampu menjadi pemimpin yang memiliki hati untuk melayani seperti yang Yesus lakukan, bukan pemimpin yang ingin dilayani.
Buku ini terdiri atas tujuh bab yang di dalamnya terdiri atas pemaparan penulis mengenai cara sederhana menjadi pemimpin seperti Yesus. Pembaca juga diajak untuk memahami konsep kepemimpinan Yesus. Selain itu, pembaca juga diajak untuk memahami konsep, melakukan refleksi, menyusun rencana aksi, serta mengevaluasi diri melalui jurnal dan pertanyaan panduan.
Setiap prinsip yang disampaikan selalu dikaitkan dengan kebenaran Firman Tuhan dan diperkuat dengan kisah nyata dari penulis serta tokoh-tokoh lain. Selain itu, adanya lembar kerja berupa pertanyaan atau panduan untuk mendukung proses mengalami transformasi kepemimpinan seperti Yesus. Selamat membaca dan merasakan dampak dari buku ini. [PK3]
Referensi : Blanchard, K., & Hodges, P. 2006. Lead Like Jesus: Belajar dari Model Kepemimpinan Paling Dahsyat Sepanjang Masa. Jakarta: Visimedia. URL : https://www.leadlikejesus.com/