Octovianus L. Riwu-6uru Matematika SMA
Matematika merupakan sebuah cabang ilmu yang sering menjadi “momok” dan dipandang hanya sebagai ilmu angka. Hal tersebut membuat matematika menjadi pelajaran yang cukup membosankan dan menakutkan bagi anak-anak. Padahal, entitas matematika adalah sebuah pemberian Allah (God’s gift) bagi manusia.
Galileo Galilei, seorang fisikawan dan astronom dari Italia, pernah menyatakan dalam bukunya The Assayer, “Mathematics is the language in which God has written the universe. The laws of nature are written by the Hand of God in the language of mathematics”. Begitu juga dalam esainya yang berjudul “Letter to the Grand Duchess Christina” (1615), “God is known by nature in His works, and by doctrine in His revealed Word”. Artinya, Allah menciptakan alam semesta dengan sebuah tatanan dasar matematika. Saat manusia mengamati ciptaan-Nya, mereka akan menemukan unsur matematika di dalamnya.
Hal tersebut sejalan dengan pendapat Johannes Kepler yang mengatakan bahwa keteraturan hanya bisa ditemukan oleh manusia di dalam alam ciptaan-Nya yang Ia ungkapkan melalui bahasa matematika. Oleh karena itu, esensi dari ilmu matematika harusnya semakin menyadarkan manusia dan kagum akan Allah saat melihat ciptaan-Nya. Hal ini senada dengan Van Brummelen dalam bukunya yang berjudul Walking With God In the Classroom.
“Ilmu matematika membawa kekaguman terhadap rencana dan susunan ciptaan Allah yang menyatakan kesetiaan, keberadaan, dan kebesaran Allah.”
Sebagai bahasa yang digunakan Allah untuk menciptakan dunia, matematika perlu diajarkan kepada anak-anak sejak dini guna memahami dunia ciptaan-Nya. Orang tua sebagai prime educator harus menyadari tujuan sejati dalam pembelajaran matematika. Bukan hanya soal angka, tapi juga mengenalkan anak pada Sang Pencipta.

Tip dan Trik
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk mengajarkan matematika sekaligus pengajaran tentang dunia ciptaan Allah kepada anaknya. Poin 1-3 untuk anak TK dan SD, sedangkan poin 4 untuk SMP dan SMA.
1. Belajar melalui bermain
Anak-anak sangat senang bermain. Kegiatan bermain merupakan tools yang baik dalam meningkatkan minat belajar anak terhadap matematika. Orang tua dapat menggunakan media daun dan tanaman di sekitar rumah untuk mengajari anak tentang angka dan tumbuh-tumbuhan ciptaan Allah. Misalnya, menggunakan daun untuk menjelaskan tentang struktur daun dan pentingnya daun bagi kehidupan manusia. Setelah itu, orang tua dapat mengajak anak berkreasi membuat bentuk angka dengan menggunakan daun-daun kering.
2. Mengenalkan matematika melalui dongeng atau bercerita
Bercerita merupakan pembelajaran yang efektif untuk membantu anak-anak meningkatkan konsentrasi serta daya ingat. Seperti yang dikatakan Virginia Walter, proses mendongeng atau bercerita bagi anak dapat mengembangkan keterampilan berlogika dan melatih kemampuan anak dalam memprediksi peristiwa.
3. Belajar matematika melalui praktik langsung
Pembelajaran akan sangat berkesan dan meaningful bagi anak jika dilakukan secara praktik langsung. Hal ini dikarenakan kegiatan hands-on dapat merangsang otak anak dalam memahami informasi dan menyimpannya pada long term memory sebanyak 60%-70%. Seirama dengan Novita Tandry yang mengatakan bahwa memori anak sebanyak 60%-70% berasal dari tindakan, sehingga kegiatan memperkenalkan matematika dapat dilakukan dengan mengajak anak terjun langsung mempraktikkan hal-hal yang berhubungan dengan matematika melalui aktivitas sehari-hari.
Kegiatan praktik langsung yang dapat dilakukan oleh orang tua antara lain memperkenalkan operasi matematika, hubungan spasial, dan juga bentuk geometri melalui bentuk-bentuk yang ada di alam ciptaan Allah atau yang melekat pada diri anak itu sendiri. Lewat kegiatan-kegiatan tersebut, anak tidak hanya memahami tentang konsep matematika, tetapi juga semakin mengagumi Allah sebagai pencipta dunia ini.
4. Belajar matematika melalui proses diskusi
Proses diskusi adalah suatu cara merangsang dan menggali informasi anak guna mengetahui pemahaman dan cara berpikirnya. Kegiatan diskusi dilakukan dengan tujuan untuk saling berbagi informasi (knowledge sharing). Kegiatan diskusi yang dilakukan secara intensional oleh orang tua secara khusus tentang berbagai hal yang terjadi melalui berita maupun informasi terkini dapat mengajarkan anak tentang konsep epistemologi, relasi sebab akibat, serta kemampuan membaca situasi, dan peluang yang ada. Proses ini juga akan mengingatkan anak-anak tentang tugas manusia sebagai penatalayanan (stewardship) di dalam dunia ciptaan Tuhan.
Sumber :
Galilei, G. (1615). Letter to the Grand Duchess Christina of Tuscany. Stanford University. https://web.stanford.edu/~jsabol/certainty/readings/Galileo-LetterDuchessChristina.pdf
Palmerino, C. R. (2016). The ontological and epistemological underpinnings of mathematical realism. In K. Chemla & R. K. Smith (Eds.), The language of nature: Reassessing the mathematization of natural philosophy in the seventeenth century (pp. 29–50). Minnesota Studies in the Philosophy of Science. https://doi.org/10.5749/j.ctt1d390rg.4