Paskibra Sekolah Athalia: Bukan Aku, Bukan Kamu, tetapi Kita

Joanne Emmanuel Layar (Siswa Kelas IX Wa)

paskibra sekolah athalia

Perkenalan

Halo! Nama saya Joanne Emmanuel Layar, anggota Paskibra Sekolah Athalia. Ini adalah tahun kedua saya menjadi anggota Paskibra. Sekitar dua tahun lalu saya memutuskan untuk mendaftar. Awalnya saya mendaftar tanpa ekspektasi akan diterima, hanya sekadar ingin mendisiplinkan dan menantang diri dengan hal yang baru. Pada hari seleksi, saya sedikit ragu karena tes-tes yang diberikan sangat berat dan menuntut kekuatan fisik. Namun, puji Tuhan saya diberi kesempatan untuk belajar lebih banyak lewat Paskibra.

Kisah Sebagai Paskibra Sekolah Athalia

Melalui Paskibra, saya dan teman-teman merangkai kisah kami masing-masing. Tentunya cerita yang kami rangkai setiap tahunnya berbeda. Bukan proses yang mudah karena kami harus membagi waktu dan melakukan tanggung jawab sebagai siswa sekaligus anggota Paskibra. Kegiatan ini bukan hanya sekadar berlelah-lelah latihan fisik dan baris-berbaris, tetapi juga tentang respons kami saat menghadapi rasa lelah tersebut. Ada saat kami merasa kemampuan kami sudah mencapai batas maksimal. Ada saat tidak yakin bahwa memilih untuk menjadi pengibar adalah pilihan yang tepat, bahkan sulit sekali untuk merasakan yang namanya semangat.

Selama latihan banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan, salah satunya yaitu saling mendukung antarteman. Paskibra Athalia memiliki kalimat khas yang berbunyi “Satu untuk semua, semua untuk satu”. Bila ada satu anggota yang melakukan kesalahan, semua anggota juga akan mendapatkan hukumannya yaitu “satu paket” untuk setiap kesalahan. Satu paket yang dimaksud setara dengan sepuluh kali push up. Hal itu mengajarkan saya bahwa ini bukan tentang siapa yang benar dan yang salah, tetapi tentang seluruh anggota adalah satu tim.

Menghitung sisa-sisa hari latihan yang makin menipis dan hari pengibaran yang makin dekat, banyak perasaan yang bercampur aduk antara khawatir, lelah, bangga, dan bersemangat. Akhirnya tibalah hari yang dinanti-nantikan. Sabtu, 17 Agustus 2024 merupakan hari yang sangat membanggakan dan mengharukan, tetapi juga menyedihkan. Saya sangat bersyukur dan bangga karena kami berhasil memberikan yang terbaik dalam melaksanakan tugas sebagai satu tim. Satu hal yang paling terasa setelah melaksanakan tugas adalah rasa bersyukur karena saya merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Banyak momen tak terulang yang akan saya rindukan, mulai dari berlari menuju lapangan supaya tidak telat latihan, hingga merasakan tulang yang encok sehabis latihan.

Hal yang Bisa Dipetik

Paskibra memproses diri saya untuk menjadi pribadi yang tangguh, disiplin, rendah hati, bertanggung jawab, dan masih banyak lagi. Walaupun sulit untuk dijalani, saya tidak pernah menyesal telah menjadi bagian dari tim Paskibra yang dapat membanggakan Indonesia. Satu kalimat dari saya untuk tim Paskibra, “Bukan aku, bukan kamu, tapi kita”. Pesan dari saya, jika bukan saat ini, biarkan Tuhan yang menentukan saatnya.

“PaskibraAA! Terima kasih.”

Baca juga: Pengalamanku Sebagai Paskibra

Pengalamanku Sebagai Paskibra Sekolah Athalia

Andreas Stefrans Wijaya – Siswa kelas XII MIPA 1

Andreas Stefrans Wijaya

Halo, namaku Andreas. Aku mau berbagi cerita mengenai pengalamanku saat menjadi anggota Paskibra 2024. Sebenarnya aku sudah berencana untuk mengikuti kegiatan ini semenjak satu tahun yang lalu. Namun, saat itu aku ditunjuk sebagai petugas chapel dan latihan chapel bertabrakan dengan hari seleksi, akhirnya aku memilih chapel. Setelah satu tahun berlalu, aku kembali mendaftarkan diri untuk ikut proses seleksi Paskibra. Mengapa aku mendaftar kembali?

Alasanku Menjadi Paskibra Sekolah Athalia

Sejak dulu aku memiliki fisik yang lemah. Agar mencapai fisik yang lebih baik, tentu aku harus mulai berolahraga. Namun, aku malas untuk memulainya. Oleh karena itu motivasi utamaku bergabung di Paskibra adalah untuk memaksakan diri berolahraga. Aku melihat kegiatan Paskibra sangat identik dengan latihan fisik. “Salah sedikit push up, kurang disiplin push up, intinya sedikit-sedikit push up”. Aku berpikir, jika aku bergabung di sini, mau tidak mau aku harus ikut latihan fisik. Hasilnya tentu akan berbeda jika aku berolahraga sendirian, kalau sedang malas bisa skip latihan. Setelah melewati seleksi, namaku tidak tertulis di lembaran daftar anggota yang diterima. Namun, seminggu kemudian pelatih Paskibra mengajakku untuk bergabung. Ternyata awalnya aku dipilih sebagai cadangan, tetapi karena ada beberapa siswa yang mengundurkan diri akhirnya aku diterima sebagai anggota inti.

Aku ingat sekali latihan pertama dilakukan di bulan Juli setelah liburan sekolah yang panjang. Awalnya badanku kaget merespons hasil latihan. Otot-otot terasa kaku sampai-sampai penglihatanku menjadi gelap. Tidak hanya aku yang mengalami, beberapa teman pun merasakan hal yang sama. Latihan demi latihan kujalani setiap hari. Terkadang aku merasa lelah, tetapi dengan anugerah Tuhan serta niat untuk mendapatkan fisik yang kuat, aku tetap bertahan. Jujur kukatakan, kekuatan fisikku sekarang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Hal yang Paling Berkesan

Ada hal berkesan yang paling aku ingat selama menjalani proses latihan. Saat kami sedang belajar baris-berbaris, Pak Iwan berkata, “Jawablah seakan-akan besok kamu mati, maka kamu akan menjawab secara tulus”. Kalimat ini diucapkan ketika kami dalam posisi istirahat. Ia mengkritik jawaban “Siap!” dari kami yang terdengar kurang tegas. Mungkin teman-teman yang lain hanya menangkap poin “menjawab dengan tulus dan tegas”. Namun, perkataan itu mengingatkanku akan frasa latin “memento mori” yang telah lama kujadikan sebagai deskripsi (about) WhatsApp. Kalimat “seakan besok kamu mati” adalah sesuatu yang spesial karena sebagai manusia kita tidak tahu kapan kita akan mati. Mungkin saja besok atau mungkin satu detik kemudian, tidak ada yang benar-benar tahu. Renungan ini membuat aku menjadi lebih bersyukur akan anugerah dan kesempatan yang Allah berikan untuk bertobat.

Kita diberikan anugerah dan dibebaskan dari dosa, jadi kita harus hidup sesuai dengan kehendak Allah seperti yang tertulis dalam Alkitab. Gunakanlah kesempatan yang diberikan Allah untuk membantu sesama, menolong yang membutuhkan, dan berkontribusi bagi bangsa demi memuliakan nama Tuhan.

In nomine Patris, et Filii, et Spiritus Sancti, Amen.

Pakibra HUT RI 2024

Baca juga: Paskibra Sekolah Athalia: Bukan Aku, Bukan Kamu, tetapi Kita

Pengalaman Sebagai Panitia Mengajarkan Menghargai Hal-Hal Kecil

Oleh: Galvin Farrel N. U. – Koordinator Bidang Pertandingan Athalia Cup 2023

Perkenalkan nama saya Galvin Farrel Nathanael Ulag. Saya diminta untuk menjadi Koordinator Bidang Pertandingan Athalia Cup 2023. Puji Tuhan, Athalia Cup akhirnya dapat dilaksanakan kembali setelah vakum kurang lebih 4 tahun. Sebenarnya, apa Athalia Cup itu? Athalia Cup adalah ajang perlombaan olahraga antar sekolah yang diselenggarakan oleh Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong. Tahun ini terdapat dua cabang olahraga yang diadakan, yaitu futsal dan basket. Tujuan dari Athalia Cup adalah untuk mengembangkan potensi diri secara khusus dalam bidang olahraga dan mempererat hubungan antar sekolah.

Pengalaman sebagai Panitia

Tentunya banyak sekali pengalaman yang saya peroleh sebagai panitia Athalia Cup 2023. Posisi sebagai Koordinator Bidang Pertandingan adalah salah satu posisi yang sangat penting perannya dalam Athalia Cup. Namun, tidak ada keraguan dalam hati saya saat menerima tawaran posisi tersebut. Saya berkomitmen akan bekerja keras untuk kelancaran jalannya Athalia Cup. Berada di posisi ini memberi saya kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatur sebuah acara yang cukup besar dengan rapi dan memperhatikan detail-detail kecil supaya acara dapat berjalan dengan lancar. Ini tidak mudah bagi saya karena saya bukanlah orang yang rapi dalam bertugas dan memperhatikan detail-detail kecil.

Proses persiapan Athalia Cup benar-benar membentuk saya untuk memperhatikan detail-detail pekerjaan sekecil apapun. Jika ada detail yang terlewat pasti akan berdampak untuk saya sebagai Koordinator Bidang, bahkan berdampak untuk bidang lain yang bekerja sama dengan bidang pertandingan. Dari awal sampai akhir, guru pendamping selalu mengingatkan kami untuk membuat laporan pencatatan dengan detail. Pernah beberapa kali saya tidak mencatat dengan detail perlengkapan yang digunakan table Athalia Cup. Ketika saya ditanya guru pendamping, saya kesulitan untuk menjawab karena tidak mencatat dengan detail. Belajar dari pengalaman tersebut, saya membiasakan diri mencatat dengan detail setiap hasil pembahasan atau tugas bidang. Catatan yang detail ini membuat saya lebih siap ketika mendapat pertanyaan dari orang lain terkait dengan bidang pertandingan. Saya bisa menjawab dengan lancar karena apa yang saya tulis dengan detail, sangat membantu ketika ditanyakan mengenai bidang yang saya pegang.

Puji Tuhan, saya bersyukur bisa mendapatkan pengalaman ini karena pengalaman yang berharga ini sangat berguna untuk masa depan saya, saat bersekolah, kuliah, dan bekerja. Melalui penyertaan Tuhan, saya belajar menjadi seorang pemimpin yang detail sehingga dapat mengarahkan pertandingan selama satu minggu dengan baik dan terstruktur.

Aksen SMA Athalia

Oleh: Joan Adalia Budiman – Koordinator Bidang Acara AKSEN 2023

Apa Itu Aksen?

Aksen, atau Ajang Kreativitas dan Seni, merupakan kegiatan pentas seni tahunan yang diselenggarakan oleh SMA Athalia, sekolah Kristen di BSD, Serpong. Aksen menjadi wadah bagi seluruh siswa-siswi Sekolah Athalia untuk berkontribusi, baik sebagai panitia, pemeran, maupun penampil.

Setelah dua tahun vakum akibat pandemi COVID-19, Aksen akhirnya kembali digelar tahun lalu, meski tanpa Athalia Cup. Tahun ini, Sekolah Athalia kembali menghadirkan Aksen bersamaan dengan Athalia Cup, membawa semangat baru bagi seluruh siswa.


Konsep Unik Aksen: Siswa Sebagai Bintang Utama

Berbeda dari sekolah lain yang biasanya menutup acara olahraga antar sekolah dengan penampilan musisi tamu, SMA Athalia mengusung konsep berbeda.
Dalam Aksen, siswa-siswi SMP dan SMA Athalia sendiri menjadi bintang utama yang menampilkan bakat mereka di atas panggung.

Konsep ini lahir dari keyakinan bahwa setiap siswa memiliki potensi kreatif dan talenta luar biasa yang layak untuk ditampilkan dan dikembangkan.


Charity Night: Bentuk Nyata Karakter “Influencing and Contributing

Salah satu kegiatan istimewa dalam Aksen adalah Charity Night, sebuah malam amal yang menjadi wujud nyata nilai karakter Sekolah Athalia: Influencing and Contributing.
Melalui acara ini, siswa diajak untuk memberikan dampak positif kepada komunitas sekitar, belajar berbagi, dan berkontribusi bagi sesama.


Pengalaman Pribadi: Menjadi Bagian dari Aksen 2023

Sebagai Koordinator Bidang Acara, menjadi bagian dari Aksen 2023 merupakan pengalaman luar biasa dan berharga.
Awalnya, rasa tidak percaya diri muncul karena tanggung jawab yang besar. Saya sempat merasa belum cukup mampu untuk memimpin dan merancang konsep acara besar yang akan disaksikan ratusan orang.

Namun, seiring waktu, berbagai proses seperti rapat acara, penyusunan naskah drama, latihan penampil, hingga persiapan properti membentuk saya menjadi pribadi yang lebih kuat.
Meski ada tantangan dan hambatan, dukungan dari teman-teman dan guru membuat semua terasa lebih ringan.


Pelajaran Berharga dari Aksen

Mengikuti Aksen tidak hanya mengasah kemampuan organisasi, tetapi juga membentuk karakter dan kepemimpinan.
Beberapa hal yang saya pelajari antara lain:

  1. Kerendahan hati untuk mendengarkan orang lain, terutama saat melakukan kesalahan.
  2. Manajemen waktu, agar kegiatan belajar dan tugas kepanitiaan bisa seimbang.
  3. Pengorbanan dan dedikasi, karena untuk menghasilkan karya besar dibutuhkan usaha dan komitmen.

Penutup: Aksen sebagai Wadah Pertumbuhan dan Syukur

Menjadi bagian dari Aksen adalah pengalaman yang penuh makna dan patut disyukuri.
Saya bersyukur kepada Tuhan yang telah memampukan saya melalui setiap prosesnya.
Aksen bukan sekadar acara tahunan, tetapi juga ajang pembentukan karakter, kreativitas, dan iman siswa SMA Athalia.

Mampukah Kita Tetap Mengasihi Meskipun Sulit?

Oleh: Kenneth Girvan – Alumni SMA Athalia Angkatan 6

Kehidupan tidak pernah lepas dari konflik. Kita tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang atau membuat semua orang suka terhadap kita. Dalam perjalanan hidup, terutama dalam pergaulan sosial, pasti ada orang-orang yang sulit untuk kita dekati atau yang tidak bisa menerima kita sepenuhnya.

Saya mengingat masa sekolah sebagai sebuah periode yang penuh dengan eksplorasi dalam pertemanan. Saya berusaha berteman dengan semua orang, tanpa pilih-pilih atau membatasi diri dalam kelompok tertentu. Namun, di tengah usaha tersebut, saya menemukan bahwa tidak semua orang dapat menerima saya. Ada teman-teman yang enggan berteman dengan saya karena kami tidak memiliki hobi yang sama, tidak bisa bepergian dengan cara yang mereka inginkan, atau karena karakter dan kepribadian saya tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Dikarenakan hal-hal tersebut, seringkali saya mendengar ejekan dan sindiran dari teman-teman.

Bukankah sulit sekali untuk mengasihi orang-orang tersebut? Di saat saya mencoba untuk berteman baik dengan semua orang, tetapi malah respons kurang mengenakkan yang saya dapatkan. Mengasihi mereka yang sulit dikasihi sangat tidak mudah. Sebagai manusia, kita cenderung bereaksi secara emosional terlebih dahulu, seperti kesal atau marah ketika ada yang memperlakukan kita dengan buruk dan memberikan label kepada kita yang memiliki penampilan kurang baik atau bersikap tidak pantas.

Baca Juga : Mengasihi Orang yang Menyakitimu? Ternyata Bisa, Lho!

Mengapa Kita Perlu Mengasihi?

Kasih merupakan perasaan atau emosi, tetapi dalam kekristenan, kita mengenal kasih juga memerlukan reasoning. Mungkin pertanyaan terbesar dalam hati kita adalah, Mengapa kita harus mengasihi mereka yang sulit dikasihi dalam hidup kita? Jawabannya cukup sederhana, namun seringkali sulit diresapi. Ya, karena Tuhan terlebih dahulu mengasihi kita.

Ketika kita melihat kembali kehidupan kita, baik di masa lalu maupun saat ini, betapa sering kita hidup dalam dosa dan membuat hati Tuhan terluka. Sadarkah kita bahwa kita juga termasuk orang yang sulit dikasihi, lho? Tetapi, kok, Tuhan mau, ya, memberi kita keselamatan dan memilih tetap sayang sama kita meskipun kita adalah orang yang seumur hidup mendukakan hati Tuhan? Menyadari hal ini membuat saya berpikir bahwa mengasihi sesama bukan karena suka atau tidak suka. Seberapa sulit pun seseorang untuk dikasihi, saya ingin belajar memilih untuk mengasihi dan menerima mereka, sebagaimana Tuhan telah lebih dahulu mengasihi dan menerima saya.

Baca Juga = Athalia Learning Community News Edisi Februari 2023

Tidak masalah jika Anda merasa sulit mengasihi mereka saat ini. Memang dibutuhkan waktu untuk berproses. Anda bisa mulai bawa dalam doa dan minta kepada Tuhan untuk dimampukan mengasihi mereka yang sulit dikasihi, serta minta Tuhan untuk memulihkan emosi Anda sehingga dapat mengasihi mereka dengan lebih tulus. Hal tersebut tidak hanya mengubah orang lain, tetapi juga diri kita sendiri dan membuat kita semakin serupa dengan Kristus. Kiranya kebenaran ini bukan hanya diingat dan dimengerti, namun juga dapat dialami dalam perjalanan iman Anda bersama dengan Tuhan.

Manfaatkan Pandemi untuk Mengembangkan Potensi Diri Remaja

Ratu Putri Hiemawan dari kelas X IPS 1.

Mengembangkan Potensi Diri di Masa Pandemi

Pernahkah merasa malas mengembangkan potensi diri, atau merasa masa remaja terbuang sia-sia? Padahal, remaja dan pemuda merupakan penentu masa depan bangsa. Beberapa tahun ke depan, Indonesia akan dipimpin oleh generasi muda yang saat ini sedang tumbuh dan berkembang.

Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, pernah berkata:

“Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.”

Kutipan ini menegaskan besarnya peran pemuda dalam kemajuan bangsa. Terlebih di masa pandemi, kreativitas dan kontribusi generasi muda sangat dibutuhkan untuk menciptakan inovasi baru yang bermanfaat.

Salah satu contoh nyata adalah hadirnya situs Aku Pintar, yang didirikan oleh Lutvianto Pebri Handoko (kelahiran 1993). Platform ini membantu pelajar menemukan minat, bakat, gaya belajar, dan jurusan kuliah secara daring. Hal ini membuktikan bahwa pemuda tetap mampu mengembangkan potensi diri di tengah keterbatasan pandemi.

Peran Teknologi Digital dalam Pengembangan Potensi Diri

Saat ini, Indonesia berada di era revolusi industri 4.0, di mana teknologi menjadi kunci utama kemajuan bangsa. Menurut data Tekno Kompas (2021), jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta jiwa, dan 49,5% di antaranya berusia 19–34 tahun.

Fakta ini menunjukkan bahwa remaja dan pemuda adalah generasi yang paling akrab dengan teknologi. Oleh karena itu, sudah seharusnya teknologi dimanfaatkan secara maksimal untuk mengembangkan potensi diri selama pandemi, bukan hanya untuk hiburan semata.

Setiap Orang Memiliki Potensi yang Unik

Setiap individu memiliki potensi yang berbeda-beda. Ada yang unggul di satu bidang, ada pula yang memiliki banyak bakat. Namun, setiap orang memiliki peluang yang sama untuk sukses, tergantung pada kemauan untuk menemukan dan mengembangkan potensinya.

Sayangnya, masih banyak siswa yang:

  • Belum menemukan potensi dirinya
  • Sudah menemukan potensi, tetapi malas mengembangkannya
  • Menjadikan pandemi sebagai alasan untuk berhenti berkembang

Padahal, keterbatasan bukanlah alasan untuk menyerah.

Kendala Mengembangkan Potensi Diri di Masa Pandemi

1. Kendala Pembelajaran Daring dan Akses Teknologi

Pembelajaran daring dinilai kurang efektif oleh sebagian siswa karena:

  • Minimnya interaksi langsung
  • Keterbatasan akses internet di beberapa daerah
  • Adaptasi yang belum maksimal

Indonesia yang memiliki wilayah luas masih menghadapi kesenjangan akses teknologi, sehingga menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan potensi diri.

2. Faktor Internal yang Menghambat

Beberapa faktor internal yang sering menghambat pengembangan potensi diri antara lain:

  • Tidak memiliki tujuan hidup yang jelas
  • Kurangnya rasa percaya diri
  • Minimnya motivasi
  • Terjebak dalam zona nyaman
  • Trauma terhadap kegagalan

Rasa takut gagal memang wajar, tetapi jangan sampai kegagalan menghentikan proses belajar dan berkembang.

3. Faktor Eksternal dari Lingkungan

Selain faktor internal, faktor eksternal juga berpengaruh besar, seperti:

  • Stigma masyarakat (misalnya seni dianggap tidak menjanjikan)
  • Stereotip gender (tari dan kecantikan hanya untuk perempuan)
  • Kurangnya apresiasi dari lingkungan sekitar

Padahal, apresiasi sekecil apa pun dapat meningkatkan motivasi, terutama bagi mereka yang baru memulai.

Masa Remaja sebagai Waktu Terbaik Mengembangkan Potensi Diri

Masa remaja bukan hanya waktu untuk bersenang-senang, tetapi juga masa penting untuk:

  • Mengenali bakat dan minat
  • Menentukan jurusan kuliah
  • Mempersiapkan masa depan

Salah memilih arah karena tidak mengenal potensi diri dapat berdampak besar di kemudian hari.

Cara Menemukan dan Mengembangkan Potensi Diri

1. Mengenali Diri Sendiri

Luangkan waktu untuk:

  • Mendengarkan suara hati
  • Jujur pada diri sendiri
  • Merefleksikan hal-hal yang disukai sejak dulu

Pandemi justru memberikan lebih banyak waktu untuk introspeksi diri.

2. Berani Mencoba Hal Baru

Cobalah:

  • Webinar
  • Lomba daring
  • Kegiatan online lainnya

Jangan takut gagal, karena kegagalan adalah bagian dari proses menuju versi terbaik diri sendiri.

3. Mengembangkan Potensi secara Daring

Manfaatkan teknologi untuk:

  • Mencari sumber belajar
  • Menonton video edukatif
  • Mengikuti seminar dan perlombaan online

Internet membuka peluang tanpa batas bagi siapa pun yang mau berusaha.

Webinar, Lomba, dan Komunitas sebagai Sarana Pengembangan Diri

Mengikuti webinar memberikan banyak manfaat, seperti:

  • Materi pengembangan diri
  • Wawasan baru
  • Tips praktis dari para ahli

Selain itu, perlombaan daring memberikan kesempatan lebih luas karena tidak terhambat jarak dan biaya perjalanan.

Bergabung dengan komunitas sesuai minat melalui media sosial juga penting untuk:

  • Bertukar informasi
  • Belajar dari pengalaman orang lain
  • Mendapatkan dukungan dan motivasi

Tips Menghadapi Kesulitan dalam Mengembangkan Potensi Diri

Beberapa hal yang dapat dilakukan saat menghadapi kesulitan:

  • Menanamkan komitmen dan tujuan yang jelas
  • Menjadikan orang tua atau cita-cita sebagai motivasi
  • Tetap konsisten meskipun kondisi tidak ideal

Saya sendiri mengalami kesulitan saat les piano daring karena delay dan koneksi internet. Namun, dengan motivasi untuk cepat lulus dan membanggakan orang tua, saya tetap berusaha maksimal.

Bahkan, saya memanfaatkan pandemi dengan mengikuti ujian ABRSM secara daring, yang justru memberikan banyak keuntungan dibandingkan ujian tatap muka.

Kesimpulan: Pandemi Bukan Penghalang untuk Berkarya

Pandemi memang membawa banyak keterbatasan, tetapi juga membuka peluang baru. Dengan motivasi yang tepat, kemauan beradaptasi, dan pemanfaatan teknologi, kita tetap bisa mengembangkan potensi diri secara optimal.

Ingatlah, pandemi bukan alasan untuk berhenti berkarya.
Mari manfaatkan masa pandemi ini sebaik mungkin untuk mengembangkan potensi diri dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Daftar Pustaka:

Riyanto, G. P. (2021). Jumlah Pengguna Internet Indonesia 2021 Tembus 202 Juta. Diakses pada 11 Oktober 2021, dari https://tekno.kompas.com/read/2021/02/23/16100057/jumlah-pengguna-internet-indonesia-2021-tembus-202-juta

Anwar, Fahrul. (2021). Lutvianto Pebri Handoko : Bantu Pelajar Dalam Memilih Minat dan Jurusan. Diakses pada 11 Oktober 2021, dari https://youngster.id/technopreneur/lutvianto-pebri-handoko-bantu-pelajar-dalam-memilih-minat-dan-jurusan/

Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK): Menjadi Excellent Servant, History Maker

Oleh: Accoladea Wijaya, XI MIPA 1 , Ketua OSIS 2020

Pengalaman Pertama Mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan

Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) adalah kegiatan wajib bagi setiap calon pengurus OSIS yang bertujuan membekali mereka dengan kemampuan dasar dalam memimpin.

Pertama kali saya mengikuti LDK pada tahun 2019, bisa dibilang kekuatan fisik dan mental saya benar-benar “dihajar”. Banyak peraturan yang harus ditaati, setiap tindakan memiliki konsekuensi yang melatih kedisiplinan, kekuatan fisik, serta keteguhan mental.

Pengalaman tersebut membuat saya merasa cemas sebelum mengikuti LDK tahun ini. Berbagai pertanyaan muncul di benak saya:
“Seberapa tegas ya komandannya nanti?”
“Konsekuensinya seberat tahun lalu tidak, ya?”
“Apakah saya bisa melewatinya?”


Makna Baru di Balik Kegiatan LDK

Sehari sebelum LDK dimulai, kami mengikuti briefing. Saya masih ingat pesan pembina kami yang berkata bahwa LDK bukan ajang untuk dimarahi, tetapi sebagai persiapan diri untuk melayani Tuhan. Jika kita memaknainya demikian, LDK tidak akan terasa berat dan justru bisa dinikmati.

Ternyata benar, LDK tahun ini sangat berbeda. Dengan tema “Excellent Servant, History Maker”, kegiatan lebih difokuskan pada pengembangan spiritual dan pembentukan karakter kepemimpinan yang melayani. Kami belajar memperbaiki gambar diri, berdamai dengan masa lalu, serta melakukan rekonsiliasi dengan orang-orang di sekitar kami.


LDK dan Pembentukan Karakter Pemimpin Sejati

Di balik suka dan duka selama mengikuti LDK, saya merasa sangat diberkati. Segala latihan fisik dan mental yang dulu terasa berat kini terbukti membentuk saya menjadi pribadi yang lebih sabar dan kuat.

Rasanya seperti besi yang harus ditempa dan dipanaskan agar menjadi pedang tajam. Melalui LDK, saya merasa didamaikan. Gambar diri saya yang dulu penuh keraguan mulai dipulihkan. Saya belajar memaafkan orang lain, memperbaiki hubungan yang retak, dan merendahkan hati.

Salah satu momen paling berkesan adalah simulasi pembasuhan kaki, seperti yang dilakukan Yesus kepada murid-murid-Nya. Kegiatan itu mengajarkan kami arti kerendahan hati yang sesungguhnya. Kami juga dilatih untuk aktif melayani sesama, misalnya dengan membantu saat makan siang bersama kelompok.


Makna Menjadi “Excellent Servant” dan “History Maker”

LDK mengajarkan kami semua tentang makna sejati dari seorang servant leader — pemimpin yang disiplin dan tegas, tetapi juga memiliki hati seorang pelayan. Kami belajar bahwa seorang pemimpin sejati bukan hanya memberi perintah, melainkan juga melayani dan memberi teladan.

Kegiatan ini mempersiapkan kami untuk menjadi pemimpin bagi diri sendiri, pemimpin bagi orang lain, dan pelayan bagi Tuhan.
Seperti tema yang diangkat tahun ini, kami diajak menjadi seorang “Excellent Servant” — pelayan yang unggul, dan “History Maker” — pembuat sejarah yang membawa perubahan positif bagi lingkungan sekitar.


Kesimpulan: LDK Membentuk Pemimpin yang Melayani

Melalui LDK, saya belajar bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang kuasa, melainkan tentang tanggung jawab dan ketulusan untuk melayani.
Kegiatan ini menjadi wadah pembentukan karakter, disiplin, dan spiritualitas yang kuat bagi calon pemimpin muda.

Sebagai peserta LDK, saya tidak hanya belajar menjadi pemimpin yang baik, tetapi juga menjadi pelayan yang rendah hati.
LDK bukan sekadar pelatihan, melainkan perjalanan menjadi pemimpin yang menginspirasi dan melayani dengan hati.