Sekolah Kristen Unggul di Serpong untuk Pendidikan Anak

Perjalanan pembentukan karakter murid di Sekolah Athalia

Memilih sekolah yang tepat merupakan keputusan penting bagi setiap orang tua. Lingkungan belajar yang baik tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, nilai moral, serta perkembangan sosial anak.

Bagi keluarga yang mencari sekolah dengan pendidikan berbasis nilai Kristiani di wilayah Serpong dan Tangerang Selatan, sekolah Kristen dapat menjadi pilihan yang tepat karena menggabungkan pendidikan akademik dengan pembentukan karakter yang kuat.

Mengapa Memilih Sekolah Kristen?

Sekolah Kristen umumnya memiliki pendekatan pendidikan yang menekankan pada:

 

  • Pembentukan karakter

Anak tidak hanya belajar mata pelajaran akademik, tetapi juga nilai seperti integritas, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.

  • Lingkungan belajar yang positif

Sekolah dengan nilai Kristiani biasanya membangun budaya saling menghormati, disiplin, dan kasih terhadap sesama.

  • Pendidikan holistik

Pendidikan tidak hanya fokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga perkembangan emosional, sosial, dan spiritual anak.

  • Pendampingan guru yang lebih personal

Banyak sekolah Kristen menekankan hubungan yang lebih dekat antara guru dan siswa sehingga perkembangan anak dapat dipantau dengan baik.

 

Kriteria Sekolah Kristen yang Baik

Sebelum menentukan pilihan sekolah, orang tua dapat mempertimbangkan beberapa hal berikut:

  1. Kurikulum dan metode pembelajaran

Pastikan sekolah memiliki kurikulum yang mendukung perkembangan akademik sekaligus karakter anak.

  1. Fasilitas belajar

Fasilitas seperti ruang kelas yang nyaman, laboratorium, perpustakaan, serta area olahraga dapat membantu proses belajar menjadi lebih optimal.

  1. Program pengembangan karakter

Sekolah yang baik biasanya memiliki program khusus yang membantu anak mengembangkan nilai moral dan kepemimpinan.

  1. Kegiatan ekstrakurikuler

Kegiatan tambahan seperti musik, olahraga, seni, dan klub akademik membantu anak menemukan minat serta bakatnya.

 

Sekolah Kristen di Serpong

Wilayah Serpong dan Tangerang Selatan memiliki beberapa pilihan sekolah swasta dengan pendekatan pendidikan berbasis karakter dan nilai Kristiani.

Salah satu sekolah yang menyediakan pendidikan dari jenjang KB, TK, SD, SMP hingga SMA adalah Sekolah Athalia.

Sekolah ini menekankan pada pendidikan karakter serta pengembangan potensi siswa secara menyeluruh sehingga anak tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga secara moral dan sosial.

 

Tips Mengunjungi Sekolah Sebelum Mendaftar

Sebelum memutuskan sekolah untuk anak, ada baiknya orang tua melakukan beberapa langkah berikut:

  • Mengunjungi sekolah secara langsung
  • Berbicara dengan guru atau staf sekolah
  • Melihat fasilitas belajar
  • Menanyakan program pembelajaran dan kegiatan siswa

Dengan cara ini, orang tua dapat memastikan bahwa lingkungan sekolah sesuai dengan kebutuhan dan karakter anak.

 

Kesimpulan

Memilih sekolah yang tepat merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan anak. Sekolah dengan pendidikan berbasis nilai Kristiani dapat membantu membentuk karakter, integritas, serta kemampuan akademik yang seimbang.

Bagi orang tua di wilayah Serpong dan Tangerang Selatan yang mencari sekolah Kristen dengan pendidikan karakter, penting untuk mempertimbangkan kurikulum, lingkungan belajar, serta program pengembangan siswa sebelum mengambil keputusan.

Ibadah Syukur HUT ke-30 Sekolah Athalia

Klik di sini untuk melihat/men-download album dokumentasi rangkaian acara HUT ke-30 Sekolah Athalia.

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan (Staf PK3)

Penyertaan Tuhan

Perjalanan selama tiga puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Perjalanan ini juga tidak selalu dilalui dengan kegemilangan dan tanpa rintangan. Namun, perjalanan ini layak untuk dijalani, bahkan disyukuri, sebab ada Tuhan di sana dengan anugerah-Nya. Tuhan hadir, memimpin, menyertai, serta menopang Sekolah Athalia sampai hari ini. Perjalanan ini menjadi bukti nyata betapa luar biasanya Allah yang berkarya di sekolah ini.

Acara Ibadah Syukur dalam Rangka HUT ke-30 Sekolah Athalia

Oleh sebab itu, pada momen HUT ke-30 Athalia ini, Komunitas Sekolah Athalia bersama-sama menikmati Ibadah Syukur. Ibadah syukur khusus karyawan diadakan pada Jumat, 24 Oktober 2025, dan dilayani oleh Pdt. Yung Tik Yuk. Sedangkan ibadah syukur untuk umum beserta tamu undangan diadakan pada Sabtu, 25 Oktober 2025, dilayani oleh Ev. Anne Kartawijaya.

Ibadah Syukur ini kembali mengingatkan setiap anggota komunitas betapa besar dan ajaib kebaikan dan karya Tuhan di tengah Sekolah Athalia. Ibadah ini diwarnai dengan pujian, penghormatan, dan pengagungan atas kasih setia Allah kepada komunitas ini. Selain itu juga melalui kesaksian kisah hidup dari guru, siswa, dan orang tua yang secara langsung merasakan topangan tangan Tuhan.

Setiap kesaksian membuktikan bagaimana Tuhan setia dan terus bekerja dalam hidup setiap individu maupun komunitas Athalia. Kesaksian dari rekan-rekan mengingatkan kembali tentang bagaimana Tuhan berkenan memakai sekolah ini untuk terus menjadi berkat bagi banyak orang. Setiap pembelajaran dan setiap interaksi dipakai Tuhan untuk membentuk komunitas Athalia agar terus mengandalkan Tuhan dan makin serupa dengan Kristus.

Kebenaran firman Tuhan yang disampaikan oleh hamba-hamba-Nya juga mengingatkan setiap pendengar untuk terus berjalan bersama Tuhan. Diajak untuk mengalami Tuhan, baik di dalam komunitas Athalia maupun dalam kehidupan pribadi. Juga untuk memiliki perspektif yang benar dan mengikuti kehendak Tuhan dalam dunia pendidikan: mendidik anak untuk hidup takut akan Tuhan dan makin serupa dengan Kristus.

Komitmen untuk terus berjalan bersama Tuhan juga diteguhkan bersama-sama dalam ibadah ini. Ibadah diakhiri dengan pujian syukur atas apa yang telah Tuhan kerjakan di dalam dan melalui Sekolah Athalia. Selain itu juga sekaligus menaikkan doa agar Tuhan terus memimpin perjalanan Athalia selanjutnya.

Doa dan Harapan

Perjalanan Sekolah Athalia ke depan mungkin akan penuh tantangan, ditambah lagi dengan kemajuan zaman yang dapat menggerus iman anak-anak Tuhan. Oleh sebab itu, mari kita terus berdoa bagi Sekolah Athalia. Kiranya Tuhan terus menjaga dan memakai sekolah ini untuk membimbing setiap siswa menjadi murid Tuhan dan menghidupi rencana Tuhan baginya.

Doakan juga setiap anggota Komunitas Athalia—yayasan, pimpinan, karyawan, siswa, serta orang tua—agar bertumbuh dalam iman, memiliki karakter Kristus, dan menjadi terang di mana pun berada. Kiranya Sekolah Athalia terus meninggikan Tuhan dan dipakai Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya di setiap zaman.
Soli Deo Gloria.

HUT ke-80 RI di Athalia – sekolah Kristen di Serpong

Delapan puluh tahun yang lalu, para pahlawan berjuang dengan semangat, doa, dan harapan akan masa depan Indonesia yang lebih baik.
Mereka percaya, Indonesia harus merdeka —
agar anak cucu bisa menikmati hidup yang damai, aman, dan sejahtera.

Hari ini, kemerdekaan itu sudah ada di tangan kita.
Tapi perjuangan belum selesai.
Sekarang giliran kita untuk menjaga dan meneruskannya.

Di Sekolah Athalia, sebuah sekolah Kristen di Serpong,
kami turut ambil bagian dalam perjuangan ini —
melalui pendidikan karakter yang ditanamkan sejak awal.
Kami percaya, bangsa yang besar dimulai dari generasi muda yang punya hati benar,
berintegritas, dan siap membawa Indonesia maju.

Mari terus jaga persatuan,
teguhkan kedaulatan,
wujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dari Athalia, sekolah Kristen di Serpong, kami membawa semangat dan cinta untuk Indonesia Maju.
Dirgahayu ke-80 Republik Indonesia!
Merdeka!

HUT ke-80 RI di Athalia, sekolah Kristen di Serpong Utara

Ikuti IG Sekolah Athalia: komunitassekolahathalia (https://www.instagram.com/komunitassekolahathalia)

HUT ke-30 Athalia: Rangkaian Acara

HUT ke-30 Athalia

Dalam rangka menyambut HUT ke-30 Athalia, Sekolah Athalia mengadakan rangkaian acara bertema ‘God’s Amazing Journey‘. Tema ini dipilih sebagai bentuk refleksi atas penyertaan Tuhan yang luar biasa sejak Sekolah Athalia berdiri 30 tahun yang lalu hingga saat ini.

Berikut adalah rangkaian acara HUT ke-30 Sekolah Athalia:

  1. Seminar 6uru: 12 April 2025
  2. Seminar Pasutri: 24 Mei 2025
  3. Family Day: 7 Juni 2025
  4. Alumni Homecoming: 5 Juli 2025
  5. AORTAlia (Alumni Orang Tua Athalia) Homecoming: 20 September 2025
  6. Ibadah Syukur: 25 Oktober 2025


Untuk informasi lengkap seputar jadwal dan detail acara, kunjungi Instagram resmi Sekolah Athalia di komunitassekolahathalia.

Mari rayakan bersama momen penuh makna ini dan jadi bagian dari God’s Amazing Journey!

Baca juga: Ibadah Syukur HUT ke-25 Tahun Sekolah Athalia

Siapakah Sesamaku Manusia?

Stella Ika Yunita Tahapary (Staf Kerohanian PK3)

engasihi sesama manusia

Mengasihi Sesama Manusia tanpa Pandang Bulu

Yesus cinta semua anak, semua anak di dunia, kuning, putih, dan hitam semua dicinta Tuhan..” kalimat ini adalah lirik dalam sebuah lagu Sekolah Minggu yang menyampaikan pesan tentang kasih Allah yang besar untuk semua orang dari berbagai ras, suku, dan budaya. Kasih Tuhan tidak membedakan siapa kita, tetapi menyentuh setiap hati yang terbuka untuk menerima-Nya. Kasih Allah memberikan teladan kepada kita untuk bisa mengasihi sesama manusia tanpa memandang kesamaan atau perbedaan di antara manusia, lalu siapakah yang dimaksud dengan sesama kita?

Perumpamaan Tentang Kisah Orang Samaria yang Baik Hati

Salah satu kisah yang sangat mengesankan dalam Alkitab adalah perumpamaan tentang seorang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37). Tuhan Yesus memberi gambaran empat tokoh dalam kisah ini. Tokoh pertama adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Yerusalem adalah kota suci bagi umat Israel dan Yerikho adalah kota yang terletak lebih rendah, sehingga perjalanan ini biasanya dilakukan setelah seseorang selesai beribadah. Dalam perjalanan ini, orang tersebut dirampok oleh penyamun dan dibiarkan terluka setengah mati.

Tokoh kedua adalah seorang imam dan tokoh ketiga adalah orang Lewi. Keduanya sama-sama melayani Tuhan. Kedua tokoh ini adalah orang-orang yang seharusnya lebih peka terhadap penderitaan sesama. Namun, keduanya melewati orang yang terluka itu dan tidak memedulikan nasibnya. Mereka lebih memilih untuk menghindar daripada menolong. Hal ini menunjukkan ironi yang mendalam: orang-orang yang mengaku sebagai pelayan Tuhan dan rajin beribadah justru gagal mengamalkan kasih Allah dalam kehidupan nyata mereka.

Tokoh keempat adalah seorang Samaria yang mungkin tidak terduga bagi ahli Taurat. Orang Samaria sering dianggap lebih rendah oleh orang Yahudi karena mereka merupakan keturunan campuran antara orang Yahudi dan bangsa lain. Namun, dalam perumpamaan ini, orang Samaria justru menunjukkan tindakan kasih yang luar biasa. Hatinya tergerak oleh belas kasihan (Lukas 10:33). Ia membalut luka-luka orang yang terluka itu dengan minyak dan anggur dan membawanya ke tempat penginapan untuk dirawat lebih lanjut. Ia bahkan rela berkorban lebih jauh dengan memberikan uang kepada pemilik penginapan dan menjanjikan pembayaran lebih jika diperlukan.

Tiga hal yang dilakukan oleh orang Samaria ini adalah:

  1. Tergerak oleh belas kasihan: Ia tidak peduli dengan latar belakang orang yang terluka itu. Hanya belas kasihan yang mendorongnya untuk bertindak.
  2. Melayani dengan sukacita: Orang Samaria ini menolong dengan sukacita tanpa mengharapkan balasan.
  3. Rela berkorban: Ia berkorban baik waktu, tenaga, dan uang untuk menolong orang yang terluka itu.

Jika kita merangkum kisah ini, tiga hal yang dilakukan oleh orang Samaria adalah contoh nyata dari kasih yang diajarkan Yesus kepada kita. Sama seperti orang Samaria, Yesus Kristus juga datang untuk menolong kita yang berdosa. Ia tergerak oleh belas kasihan, menolong kita dengan sukacita, dan rela berkorban dengan memberikan hidup-Nya untuk menanggung dosa kita. Kasih Allah yang besar inilah yang seharusnya kita teladani dalam hidup kita.

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk mengasihi sesama tanpa membedakan latar belakang baik itu agama, suku, ras, atau status sosial. Seperti orang Samaria yang menolong tanpa memandang perbedaan, kita juga diajak untuk menunjukkan kasih Allah dengan cara yang sama. Kasih yang tidak membeda-bedakan, kasih yang tergerak oleh belas kasihan, kasih yang melayani dengan sukacita, dan kasih yang rela berkorban.

Pada bulan ini, banyak orang merayakan hari Valentine, hari yang penuh kasih dengan berbagi kepada orang yang mereka kasihi. Namun, kita sebagai orang Kristen dipanggil untuk berbagi kasih dengan cara yang lebih luas. Kasih yang melampaui batas-batas yang sering dibentuk oleh dunia. Mungkin Tuhan menggerakkan Anda untuk berbagi kasih dengan orang yang berbeda agama, berbeda suku, atau bahkan dengan musuh kita. Semua ini kita lakukan dengan satu kesadaran bahwa Allah terlebih dahulu mengasihi kita, sehingga kita bisa mengasihi sesama kita. Kiranya Tuhan menolong kita menjadi saluran berkat bagi sesama.

13 Tips untuk Mengatasi Kemalasan

Kemalasan sepertinya sudah mendarah daging dalam diri manusia. Namun tetap saja hidup yang penuh dengan kemalasan tidak akan dapat membawa kebaikan. Khususnya saat kita bekerja. Apakah kita dapat mengalahkan kemalasan dan memberi diri yang terbaik untuk menyelesaikan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita? Berikut ini adalah 12 tips mengatasi kemalasan yang dapat membantu kita melawan kemalasan dalam diri.

1. Break down a task into smaller tasks

Kita seringkali menghindari tugas karena kita melihatnya terlalu besar, terlalu membutuhkan banyak tenaga dan waktu. Memecah tugas menjadi tugas-tugas sederhana dapat mengatasi hal ini. Maka setiap tugas tidak akan terlihat terlalu sulit atau mengintimidasi. Daripada langsung mengerjakan satu tugas besar, kita dapat menyelesaikan tugas-tugas kecil yang tidak terlalu membutuhkan banyak tenaga. Pendekatan ini dapat diaplikasikan tak hanya dalam mengerjakan tugas, tetapi juga tujuan atau capaian lain yang perlu kita lakukan. Hal ini cenderung dapat mengurangi kemalasan yang sering kita rasakan.

2. Rest, sleep and exercise

Dalam kasus tertentu, kemalasan dapat diakibatkan kelelahan dan kekurangan energi. Jika hal ini yang terjadi, kita perlu beristirahat dan juga memberikan tubuh latihan yang cukup serta udara yang segar.

3. Motivation

Dalam kasus tertentu, alasan dari kemalasan adalah karena kurangnya motivasi. Kita dapat memperkuat motivasi melalui afirmasi/penegasan, visualisasi dan pikiran mengenai pentingnya melakukan dan mengerjakan tugas untuk mencapai tujuan.

4. Have a vision of what and who you want to be

Seringkali dengan merefleksikan diri pada sosok ideal kita, tujuan yang kita ingin capai, kehidupan yang kita inginkan, dapat memotivasi kita untuk memulai aksi kita.

5. Think about benefits

Pikirkan keuntungan-keuntungan yang akan kita raih bila kita mengatasi kemalasan dan mulai bekerja, dari pada berpikir mengenai kesulitan dari tugas-tugas yang ada. Fokus pada kesulitan dari tugas dapat membuat kita menjadi lemah dan putus asa, ingin menghindar dan malas. Penting untuk kita memfokuskan pikiran dan perhatian pada hal yang positif dan tidak fokus pada hal-hal yang menyulitkan/menghambat.

6. Thinking about the consequences

Pikirkan mengenai apa yang akan terjadi bila kita mengalah pada kemalasan dan tidak melaksanakan tugas kita. Pikiran mengenai konsekuensi ini dapat mendorong kita juga untuk mulai mengerjakannya.

7. Doing one thing at a time

Fokuslah untuk mengerjakan satu hal di satu waktu. Jika kita merasa ada banyak hal yang harus dilakukan kita mungkin akan langsung merasa terbanjiri tugas dan membiarkan kemalasan menguasai kita dimana seharusnya kitalah yang menguasai kemalasan kita.

8. Visualization

Imajinasi kita memiliki pengaruh yang besar pada pikiran, kebiasaan dan sikap kita. Visualisasikan diri kita mengerjakan tugas dengan mudah dan penuh semangat. Lakukan hal ini sebelum memulai satu tugas dan juga ketika merasa malas atau ketika pikiran berbisik pada kita untuk meninggalkan tugas-tugas.

9. Repeat affirmations

Katakan pada diri sendiri:

“Saya dapat mencapai tujuan dan target saya.”

“Saya memiliki energi dan motivasi untuk bekerja dan melakukan apa yang saya inginkan.”

“Mengerjakan sesuatu membuat saya lebih kuat.”

“Melakukan sesuatu membuat semua mungkin tercapai.”

10. Regards a task as an exercise

Anggaplah setiap tugas sebagai latihan untuk membuat kita lebih kuat, lebih meyakinkan dan lebih tegas.

11. Procrastination

Hindari penundaan yang merupakan salah satu bentuk kemalasan. Jika ada hal yang harus dilakukan, mengapa tidak melakukannya sekarang dan menyelesaikannya? Kenapa membiarkannya mengganggu pikiran kita?

12. Learn from successful people

Lihatlah orang-orang yang sukses, dan bagaimana mereka tidak membiarkan kemalasan menang. Belajarlah dari mereka, bicara pada mereka dan asosiasikan diri dengan mereka.

13. Pray

Satu hal yang tak boleh kita lupakan saat bekerja adalah memulainya dengan doa. Jika kita percaya bahwa setiap pekerjaan berasal dari Tuhan dan untuk Tuhan saja maka tentunya kita dapat lebih termotivasi untuk menyelesaikannya. Bersandarlah dan minta pertolongan pada Tuhan saat pikiran dan kemalasan menghinggapi diri kita.

Dari tips mengatasi kemalasan di atas, mana yang paling mudah untuk dipraktekkan?

Diterjemahkan dari     : www.successconsciousness.com/overcoming-laziness.html-LDS

“Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga,”

Amsal 12:27

Baca juga: Rajin

Paduan Suara SD Athalia Tampil dalam Festival

paduan suara sd athalia
Tim paduan suara SD Athalia, sebuah sekolah Kristen di Serpong, tampil bersemangat di ajang Penabur International Choir Festival (PICF) 2024, yang berlangsung pada tanggal 9-14 September 2024. Di bawah arahan dan bimbingan conductor Ibu Asafel, tim paduan suara ini telah berhasil membawakan dua lagu berjudul “Naik Delman” dan “Alleluia, Alleluia!”, dengan iringan piano dari Ibu Bulan dan perkusi dari Pak Adit. Berkat latihan yang rutin dan intensif, penampilan para siswa mendapatkan apresiasi dari juri dan penonton, mereka juga dinilai penuh energi dan emosi yang menyentuh hati. Ibu Asafel mengungkapkan kebanggaannya, “Anak-anak ini luar biasa. Mereka belajar bekerja sama dan tampil dengan percaya diri”. Semoga pengalaman ini dapat menjadi motivasi besar bagi mereka untuk terus berkarya di masa depan, memuji dan memuliakan Tuhan melalui musik dan lagu, dan semangat tim paduan suara SD Athalia juga dapat menginspirasi anak-anak Indonesia lainnya untuk berani bermimpi dan berprestasi di kancah internasional”. Baca juga: Prestasi Paduan Suara Sekolah Athalia

Paskibra Sekolah Athalia: Bukan Aku, Bukan Kamu, tetapi Kita

Joanne Emmanuel Layar (Siswa Kelas IX Wa)

paskibra sekolah athalia

Perkenalan

Halo! Nama saya Joanne Emmanuel Layar, anggota Paskibra Sekolah Athalia. Ini adalah tahun kedua saya menjadi anggota Paskibra. Sekitar dua tahun lalu saya memutuskan untuk mendaftar. Awalnya saya mendaftar tanpa ekspektasi akan diterima, hanya sekadar ingin mendisiplinkan dan menantang diri dengan hal yang baru. Pada hari seleksi, saya sedikit ragu karena tes-tes yang diberikan sangat berat dan menuntut kekuatan fisik. Namun, puji Tuhan saya diberi kesempatan untuk belajar lebih banyak lewat Paskibra.

Kisah Sebagai Paskibra Sekolah Athalia

Melalui Paskibra, saya dan teman-teman merangkai kisah kami masing-masing. Tentunya cerita yang kami rangkai setiap tahunnya berbeda. Bukan proses yang mudah karena kami harus membagi waktu dan melakukan tanggung jawab sebagai siswa sekaligus anggota Paskibra. Kegiatan ini bukan hanya sekadar berlelah-lelah latihan fisik dan baris-berbaris, tetapi juga tentang respons kami saat menghadapi rasa lelah tersebut. Ada saat kami merasa kemampuan kami sudah mencapai batas maksimal. Ada saat tidak yakin bahwa memilih untuk menjadi pengibar adalah pilihan yang tepat, bahkan sulit sekali untuk merasakan yang namanya semangat.

Selama latihan banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan, salah satunya yaitu saling mendukung antarteman. Paskibra Athalia memiliki kalimat khas yang berbunyi “Satu untuk semua, semua untuk satu”. Bila ada satu anggota yang melakukan kesalahan, semua anggota juga akan mendapatkan hukumannya yaitu “satu paket” untuk setiap kesalahan. Satu paket yang dimaksud setara dengan sepuluh kali push up. Hal itu mengajarkan saya bahwa ini bukan tentang siapa yang benar dan yang salah, tetapi tentang seluruh anggota adalah satu tim.

Menghitung sisa-sisa hari latihan yang makin menipis dan hari pengibaran yang makin dekat, banyak perasaan yang bercampur aduk antara khawatir, lelah, bangga, dan bersemangat. Akhirnya tibalah hari yang dinanti-nantikan. Sabtu, 17 Agustus 2024 merupakan hari yang sangat membanggakan dan mengharukan, tetapi juga menyedihkan. Saya sangat bersyukur dan bangga karena kami berhasil memberikan yang terbaik dalam melaksanakan tugas sebagai satu tim. Satu hal yang paling terasa setelah melaksanakan tugas adalah rasa bersyukur karena saya merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Banyak momen tak terulang yang akan saya rindukan, mulai dari berlari menuju lapangan supaya tidak telat latihan, hingga merasakan tulang yang encok sehabis latihan.

Hal yang Bisa Dipetik

Paskibra memproses diri saya untuk menjadi pribadi yang tangguh, disiplin, rendah hati, bertanggung jawab, dan masih banyak lagi. Walaupun sulit untuk dijalani, saya tidak pernah menyesal telah menjadi bagian dari tim Paskibra yang dapat membanggakan Indonesia. Satu kalimat dari saya untuk tim Paskibra, “Bukan aku, bukan kamu, tapi kita”. Pesan dari saya, jika bukan saat ini, biarkan Tuhan yang menentukan saatnya.

“PaskibraAA! Terima kasih.”

Baca juga: Pengalamanku Sebagai Paskibra

Pengalamanku Sebagai Paskibra Sekolah Athalia

Andreas Stefrans Wijaya – Siswa kelas XII MIPA 1

Andreas Stefrans Wijaya

Halo, namaku Andreas. Aku mau berbagi cerita mengenai pengalamanku saat menjadi anggota Paskibra 2024. Sebenarnya aku sudah berencana untuk mengikuti kegiatan ini semenjak satu tahun yang lalu. Namun, saat itu aku ditunjuk sebagai petugas chapel dan latihan chapel bertabrakan dengan hari seleksi, akhirnya aku memilih chapel. Setelah satu tahun berlalu, aku kembali mendaftarkan diri untuk ikut proses seleksi Paskibra. Mengapa aku mendaftar kembali?

Alasanku Menjadi Paskibra Sekolah Athalia

Sejak dulu aku memiliki fisik yang lemah. Agar mencapai fisik yang lebih baik, tentu aku harus mulai berolahraga. Namun, aku malas untuk memulainya. Oleh karena itu motivasi utamaku bergabung di Paskibra adalah untuk memaksakan diri berolahraga. Aku melihat kegiatan Paskibra sangat identik dengan latihan fisik. “Salah sedikit push up, kurang disiplin push up, intinya sedikit-sedikit push up”. Aku berpikir, jika aku bergabung di sini, mau tidak mau aku harus ikut latihan fisik. Hasilnya tentu akan berbeda jika aku berolahraga sendirian, kalau sedang malas bisa skip latihan. Setelah melewati seleksi, namaku tidak tertulis di lembaran daftar anggota yang diterima. Namun, seminggu kemudian pelatih Paskibra mengajakku untuk bergabung. Ternyata awalnya aku dipilih sebagai cadangan, tetapi karena ada beberapa siswa yang mengundurkan diri akhirnya aku diterima sebagai anggota inti.

Aku ingat sekali latihan pertama dilakukan di bulan Juli setelah liburan sekolah yang panjang. Awalnya badanku kaget merespons hasil latihan. Otot-otot terasa kaku sampai-sampai penglihatanku menjadi gelap. Tidak hanya aku yang mengalami, beberapa teman pun merasakan hal yang sama. Latihan demi latihan kujalani setiap hari. Terkadang aku merasa lelah, tetapi dengan anugerah Tuhan serta niat untuk mendapatkan fisik yang kuat, aku tetap bertahan. Jujur kukatakan, kekuatan fisikku sekarang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Hal yang Paling Berkesan

Ada hal berkesan yang paling aku ingat selama menjalani proses latihan. Saat kami sedang belajar baris-berbaris, Pak Iwan berkata, “Jawablah seakan-akan besok kamu mati, maka kamu akan menjawab secara tulus”. Kalimat ini diucapkan ketika kami dalam posisi istirahat. Ia mengkritik jawaban “Siap!” dari kami yang terdengar kurang tegas. Mungkin teman-teman yang lain hanya menangkap poin “menjawab dengan tulus dan tegas”. Namun, perkataan itu mengingatkanku akan frasa latin “memento mori” yang telah lama kujadikan sebagai deskripsi (about) WhatsApp. Kalimat “seakan besok kamu mati” adalah sesuatu yang spesial karena sebagai manusia kita tidak tahu kapan kita akan mati. Mungkin saja besok atau mungkin satu detik kemudian, tidak ada yang benar-benar tahu. Renungan ini membuat aku menjadi lebih bersyukur akan anugerah dan kesempatan yang Allah berikan untuk bertobat.

Kita diberikan anugerah dan dibebaskan dari dosa, jadi kita harus hidup sesuai dengan kehendak Allah seperti yang tertulis dalam Alkitab. Gunakanlah kesempatan yang diberikan Allah untuk membantu sesama, menolong yang membutuhkan, dan berkontribusi bagi bangsa demi memuliakan nama Tuhan.

In nomine Patris, et Filii, et Spiritus Sancti, Amen.

Pakibra HUT RI 2024

Baca juga: Paskibra Sekolah Athalia: Bukan Aku, Bukan Kamu, tetapi Kita

Perjalanan Remaja Mencari Identitas Diri

Anita Latifia-Konselor SMP

Proses Pencarian Identitas Diri

Setiap individu akan mengalami berbagai fase perkembangan dalam hidupnya. Fase remaja merupakan salah satu tahapan yang sangat penting dalam proses pencarian identitas diri. Meskipun hal ini merupakan proses seumur hidup yang sudah dimulai sejak masa kanak-kanak. Namun, masa remaja adalah masa yang sangat signifikan. Menurut Santrock, hal yang penting dari perkembangan identitas diri pada masa remaja, terutama remaja akhir, adalah bahwa untuk pertama kalinya, perkembangan fisik, kognitif, dan sosioemosional sang remaja berkembang ke titik di mana ia dapat memilah, memadukan identitas, dan mengenali masa kanak-kanaknya, untuk membangun jalan yang sepantasnya menuju kedewasaan (Santrock, 2010).

Empat Status Identitas Diri

Menurut Santrock, identitas merupakan potret diri seseorang yang terdiri dari banyak bagian, diantaranya keyakinan spiritual; karier yang ditempuh; kepribadian; citra tubuh (body image); minat; suku bangsa/etnis dan lainnya. Dalam proses pembentukan identitas ini, remaja akan melakukan eksplorasi untuk menemukan pilihan mana yang paling sesuai dan nyaman buat dirinya, serta komitmen terhadap pilihannya. Santrock mengatakan bahwa Marcia mengelompokkan identitas individu ke dalam empat status berdasarkan ada tidaknya proses eksplorasi (krisis) serta komitmen yang diambil. Keempat status identitas tersebut adalah:


Identity Diffusion

Status pada individu yang belum melakukan eksplorasi dan belum mengambil komitmen atas pilihannya. Kemungkinan individu pada status ini belum tertarik akan pencarian identitas tersebut.


Identity Foreclosure

Status pada individu yang belum melakukan eksplorasi, tetapi sudah berkomitmen terhadap pilihannya. Hal ini sering kali terjadi oleh karena pilihan orang tua atau figur lain ditambah individu malas untuk melakukan eksplorasi terhadap alternatif-alternatif pilihan lainnya.


Identity Moratorium

Status pada individu yang tengah melakukan eksplorasi, tetapi belum juga berkomitmen terhadap pilihannya. Hal ini membuat individu tersebut kurang teguh pada pilihannya dan mudah goyah jika terdapat alternatif lain yang baru dieksplor.


Identity Achievement

Status pada individu yang telah melakukan eksplorasi dan membuat komitmen terhadap pilihannya.

Usulan Bagi Orang Tua dalam Menemani Remaja Mencari Identitas Diri

Perjalanan pencarian jati diri ini bukan hal yang mudah untuk dilalui oleh setiap remaja. Pendampingan dan dukungan yang tepat dari orang tua merupakan hal yang sangat dibutuhkan para remaja dalam menjalani proses ini. Berikut ini merupakan beberapa usulan yang bisa dilakukan oleh orang tua dalam menemani perjalanan anak-anak remaja mereka:

  • Menyadari bahwa ini merupakan perjalanan sang anak bersama dengan Tuhan dalam menemukan identitas seperti yang Dia inginkan.
  • Memberikan dukungan moral dan spiritual berdasarkan prinsip-prinsip iman Kristen yang baik, serta menciptakan lingkungan yang aman bagi remaja untuk berani melakukan eksplorasi diri.
  • Membantu dalam mengevaluasi hasil eksplorasi yang telah dilakukan anaknya dengan memberikan pertimbangan yang sesuai dengan pengenalan orang tua terhadap sang anak.

Melalui artikel singkat ini, kiranya orang tua bisa lebih memahami proses pencarian identitas pada remaja serta serius dalam mendampingi mereka dalam perjalanan ini.

identitas diri

Referensi:

Santrock, John W. (2010). Life-span Development (thirteenth edition). The McGraw-Hill Companies.

“Siapakah Aku?” Krisis Identitas yang Biasa Dialami Remaja. Yogyakarta: Center for Life-span Development, 2024. Diambil dari: https://clsd.psikologi.ugm.ac.id/2024/05/04/siapakah-aku-krisis-identitas-yang-biasa-dialami-remaja/

Baca juga: Menjadi Teman Perjalanan Anak Bertumbuh