Komitmen Murid Kristus

komitmen murid kristus

 

Victor Sumua Sanga (Kepala SMA Athalia)

 

Dipahat oleh Tuhan

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Markus 8:34)

Michelangelo, sang maestro seni rupa, pernah berujar bahwa tugasnya saat memahat patung David bukanlah menciptakan keindahan, melainkan membuang segala sesuatu yang “bukan David” dari blok marmer besar tersebut. Ia memandang setiap bongkahan batu mengandung mahakarya tersembunyi yang hanya bisa muncul melalui proses pemahatan yang keras dan presisi.
Ilustrasi ini adalah metafora sempurna bagi disiplin rohani dalam Markus 8:34. Menjadi murid Kristus bukanlah tentang menambahkan atribut agamawi, melainkan mengizinkan Tuhan “memahat” dan membuang ego, kesombongan, serta ambisi pribadi yang menutupi gambar Kristus dalam diri orang percaya.

Disiplin Murid Kristus

Melalui perkataan-Nya kepada orang banyak dan murid-murid-Nya, Yesus sedang meruntuhkan ekspektasi mereka yang mengikutinya karena mengharapkan kejayaan politik dan kekuasaan. Yesus mendefinisikan ulang makna “mengikuti Aku” dari obsesi pada takhta kekuasaan menjadi komitmen siap menderita.
Ayat ini menegaskan tiga disiplin yang tidak terpisahkan dan perlu dimiliki oleh pengikut Kristus, diantaranya:

  1. Menyangkal Diri: Ini adalah pemutusan hubungan dengan kepentingan ego. Ketika Petrus pernah “menyangkal” Yesus dengan berkata, “Aku tidak kenal Dia.” Hal itu serupa dalam bagian ini, bahwa seorang murid harus “menyangkal diri” dengan berkata, “aku tidak lagi mengenali diriku sebagai tuanku sendiri.” Kita berhenti menjadi pusat gravitasi hidup kita.
  2. Memikul Salib: Bagi jemaat mula-mula, memikul salib berarti perjalanan satu arah menuju eksekusi. Ini dimaknai sebagai penyerahan total terhadap konsekuensi mengikut Yesus. Kepengikutan kita kepada Yesus memiliki konsekuensi yang dapat menghantar kita pada penderitaan dan penganiayaan dalam berbagai bentuk.
  3. Mengikut Yesus: Menggunakan bentuk kata kerja yang berkelanjutan menunjukkan bahwa kepengikutan kita kepada Yesus adalah perjalanan sehari-hari, bukan peristiwa sekali jadi. Karakter Kristus dibentuk melalui pengulangan yang setia dan ketekunan dalam penderitaan.

Tanpa disiplin ini, murid Yesus bisa terjebak dalam apa yang disebut Dietrich Bonhoeffer sebagai “anugerah murahan”. Pengampunan tanpa pertobatan atau salib tanpa ketaatan. Dalam bukunya The Cost of Discipleship, Bonhoeffer menulis: “Ketika Kristus memanggil seseorang, Dia mengundangnya untuk datang dan mati.” Kematian yang dimaksud adalah matinya manusia lama agar kehidupan baru di dalam Kristus dapat memancar.

Ajakan untuk Berkomitmen

Sebagai komunitas Sekolah Athalia, disiplin rohani bukan sekadar peraturan formal, melainkan “ruang kerja” Allah untuk pertumbuhan kita. Sebagai pendidik dan tenaga kependidikan, menyangkal diri berarti melayani siswa bukan demi validasi profesional, melainkan melampaui itu. Menyangkal diri sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan berarti membuang ego merasa “paling tahu” demi pertumbuhan anak didik. Sebagai siswa, memikul salib berarti siap menerima penolakan dari teman sebaya, rela sendiri, dicap “munafik” demi membangun disiplin rohani sebagai murid Kristus. Sebagai orang tua, itu berarti, berhenti menjadikan anak sebagai alat pencapaian ambisi pribadi, melainkan dengan rendah hati mendukung rencana dan panggilan Tuhan atas hidup mereka.

Mari kita izinkan Sang Seniman Agung terus memahat hidup kita hingga yang tersisa hanyalah gambar Kristus yang nyata.

 

Rooted in God’s Story

Rooted in God's Story

Sylvia Tiono Gunawan (Staf Kerohanian)

 

Akar merupakan bagian pohon yang umumnya berada jauh di dalam tanah dan tidak terlihat. Namun, akar memiliki peran yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Akar yang sehat menyerap sari-sari makanan dengan baik sehingga tanaman dapat bertumbuh kuat, sehat, bahkan berbuah. Sama seperti akar pohon yang tertanam sehat dan kuat berdampak pada pertumbuhan pohon, demikian pula iman. Iman yang tertanam kuat di dalam Kristus akan menolong pertumbuhan rohani setiap orang percaya.

Berakar pada Firman Tuhan

Rasul Paulus, dalam surat Kolose, mengingatkan kita bahwa menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan iman orang percaya. Perjalanan hidup yang masih Tuhan izinkan untuk kita lalui harus terus diisi dengan kehidupan yang seturut kehendak-Nya. Hal ini hanya dapat terjadi ketika kita terus berakar di dalam Dia. Dengan berakar pada Firman-Nya—kisah kasih dan karya Allah yang tertuang dalam Alkitab—kita akan diteguhkan dan diarahkan untuk menapaki hari depan.

 

Berakar dalam Kisah Tuhan

Berakar dalam kisah Tuhan berarti belajar memahami dan menghayati karya Tuhan dalam Alkitab serta membiarkan kisah itu membentuk hidup kita. Hal ini berarti kita terus belajar mengenal Tuhan lebih dalam. Kita terus berusaha memahami siapa Dia, apa yang Dia inginkan, dan bagaimana Dia bekerja. Kehidupan yang berakar pada kisah-Nya berarti menjadikan Dia pusat hidup kita. Dalam praktiknya, semakin kita mengenal Dia, semakin kita percaya kepada-Nya. Hidup kita pun akan diubahkan menjadi makin serupa Kristus dari waktu ke waktu.

Berakar dalam kisah-Nya tidak terjadi secara otomatis, melainkan membutuhkan upaya yang terus-menerus dan penuh kesungguhan dari setiap orang percaya. Artinya, sebagai tenaga pendidik, orang tua, dan murid yang telah menerima Kristus, kita belajar meninggalkan kebiasaan hidup yang tidak sesuai dengan firman-Nya, menjalani setiap detail kehidupan dengan cara Tuhan, terus-menerus mencari kehendak-Nya, serta bertanya kepada Tuhan dalam mengambil setiap keputusan, baik yang besar maupun yang kecil.

Kehidupan yang berakar pada Tuhan akan memfilter cara pikir dan cara hidup kita. Kita dituntun untuk melihat kehidupan ini dengan cara pandang-Nya, membuat keputusan dengan cara pikir-Nya, serta menghadapi kesulitan dengan iman yang tetap teguh. Dalam prosesnya, Roh Kudus tidak meninggalkan kita menghadapi kehidupan ini sendirian. Ia akan menolong dan menopang kita sehingga kita bukan hanya makin berakar di dalam Dia, tetapi juga dapat bertumbuh dan berbuah bagi kemuliaan nama Tuhan. Oleh karena itu, sebagai tenaga pendidik, orang tua, dan murid, marilah kita terus berakar di dalam Tuhan agar hidup kita menyenangkan hati-Nya dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.

 

Kepenuhan Hidup dalam Kristus (Kolose 2:6–7)
“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu, hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia. Hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.”

Identitas Orang yang Lahir Baru

Kisah Nikodemus

 

Stella Ika Yunita Tahapary (staf PK3)

 

Dasar Identitas

Kasih Allah menjadi dasar dari identitas baru orang yang lahir kembali di dalam Kristus. Melalui percakapan Yesus dengan Nikodemus dalam Yohanes pasal 3, kita melihat bahwa kelahiran baru bukanlah hasil usaha manusia, melainkan respons terhadap kasih Allah yang begitu besar—kasih yang rindu menyelamatkan manusia dari kebinasaan dan menganugerahinya hidup yang kekal.
Pernahkah kita berpikir, siapakah jati diri kita yang sesungguhnya?

 

Identitas Sejati

Setiap hari, kita mungkin membawa dokumen identitas seperti KTP, SIM, atau paspor. Dokumen-dokumen tersebut mencatat data fisik dan legal kita. Namun, apakah hal itu cukup untuk mendefinisikan siapa diri kita? Tentu tidak. Identitas sejati melampaui sekadar tulisan di atas kertas; ia adalah “akar” yang membentuk cara kita berpikir, bersikap, dan memandang hidup.

Sebagai orang percaya, bagaimana kita menyandang identitas “lahir baru” di tengah dunia yang fana ini? Untuk memahami hal tersebut, mari kita belajar dari Nikodemus. Ia adalah seorang Farisi—seorang terpelajar yang memahami Hukum Taurat dengan sangat baik. Namun, secara mengejutkan, ia justru mengalami kebingungan ketika Yesus berkata:

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh. Janganlah engkau heran karena Aku berkata kepadamu: kamu harus dilahirkan kembali.”

Dua Macam Identitas

Melalui kisah Nikodemus, Yesus membedakan dua jenis identitas manusia. Pertama, daging (sarx). Daging melambangkan natur manusia yang berdosa, yang cenderung hidup mandiri tanpa Tuhan dan menuruti hawa nafsu. Apa yang dilahirkan dari daging menghasilkan dosa (Galatia 5:19–21). Identitas lama ini berpusat pada diri sendiri.
Kedua, roh (pneuma). Roh melambangkan Roh Kudus sebagai Sang Pemberi Hidup. Orang yang dilahirkan oleh Roh menjadi “anak-anak Allah” (Roma 8:14), dipimpin oleh Roh, dan menghasilkan buah Roh (Galatia 5:22–23). Lahir baru berarti mengalami pergantian identitas, dari sarx menuju pneuma.

Menanggapi hal ini, teolog Tim Keller mengemukakan tiga tanda nyata dari seseorang yang memiliki identitas sebagai orang yang telah lahir baru. Pertama, kesadaran akan kehadiran Tuhan. Hidup tidak lagi dipenuhi kekosongan, melainkan persekutuan yang hidup dengan Allah setiap hari. Kedua, transformasi oleh firman. Alkitab tidak lagi sekadar menjadi buku pengetahuan, melainkan kekuatan yang secara aktif mengubah cara hidup serta keputusan yang diambil. Ketiga, kekaguman akan kasih karunia. Semakin seseorang mengenal Tuhan, ia tidak menjadi sombong secara rohani, tetapi justru semakin rendah hati dan menghargai anugerah-Nya yang tak terhingga.

 

Menghidupi Identitas

Pada akhirnya, identitas kita sebagai orang yang lahir baru berakar sepenuhnya pada kasih Allah yang tidak bersyarat—kasih yang rela memberikan Anak-Nya yang tunggal demi keselamatan kita. Kiranya kasih ini tidak berhenti hanya sebagai pemahaman intelektual, melainkan menjadi identitas yang sungguh kita hidupi. Marilah kita menunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah milik Kristus melalui perkataan dan perbuatan yang memancarkan kasih-Nya.

Siapakah Sesamaku Manusia?

Stella Ika Yunita Tahapary (Staf Kerohanian PK3)

engasihi sesama manusia

Mengasihi Sesama Manusia tanpa Pandang Bulu

Yesus cinta semua anak, semua anak di dunia, kuning, putih, dan hitam semua dicinta Tuhan..” kalimat ini adalah lirik dalam sebuah lagu Sekolah Minggu yang menyampaikan pesan tentang kasih Allah yang besar untuk semua orang dari berbagai ras, suku, dan budaya. Kasih Tuhan tidak membedakan siapa kita, tetapi menyentuh setiap hati yang terbuka untuk menerima-Nya. Kasih Allah memberikan teladan kepada kita untuk bisa mengasihi sesama manusia tanpa memandang kesamaan atau perbedaan di antara manusia, lalu siapakah yang dimaksud dengan sesama kita?

Perumpamaan Tentang Kisah Orang Samaria yang Baik Hati

Salah satu kisah yang sangat mengesankan dalam Alkitab adalah perumpamaan tentang seorang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37). Tuhan Yesus memberi gambaran empat tokoh dalam kisah ini. Tokoh pertama adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Yerusalem adalah kota suci bagi umat Israel dan Yerikho adalah kota yang terletak lebih rendah, sehingga perjalanan ini biasanya dilakukan setelah seseorang selesai beribadah. Dalam perjalanan ini, orang tersebut dirampok oleh penyamun dan dibiarkan terluka setengah mati.

Tokoh kedua adalah seorang imam dan tokoh ketiga adalah orang Lewi. Keduanya sama-sama melayani Tuhan. Kedua tokoh ini adalah orang-orang yang seharusnya lebih peka terhadap penderitaan sesama. Namun, keduanya melewati orang yang terluka itu dan tidak memedulikan nasibnya. Mereka lebih memilih untuk menghindar daripada menolong. Hal ini menunjukkan ironi yang mendalam: orang-orang yang mengaku sebagai pelayan Tuhan dan rajin beribadah justru gagal mengamalkan kasih Allah dalam kehidupan nyata mereka.

Tokoh keempat adalah seorang Samaria yang mungkin tidak terduga bagi ahli Taurat. Orang Samaria sering dianggap lebih rendah oleh orang Yahudi karena mereka merupakan keturunan campuran antara orang Yahudi dan bangsa lain. Namun, dalam perumpamaan ini, orang Samaria justru menunjukkan tindakan kasih yang luar biasa. Hatinya tergerak oleh belas kasihan (Lukas 10:33). Ia membalut luka-luka orang yang terluka itu dengan minyak dan anggur dan membawanya ke tempat penginapan untuk dirawat lebih lanjut. Ia bahkan rela berkorban lebih jauh dengan memberikan uang kepada pemilik penginapan dan menjanjikan pembayaran lebih jika diperlukan.

Tiga hal yang dilakukan oleh orang Samaria ini adalah:

  1. Tergerak oleh belas kasihan: Ia tidak peduli dengan latar belakang orang yang terluka itu. Hanya belas kasihan yang mendorongnya untuk bertindak.
  2. Melayani dengan sukacita: Orang Samaria ini menolong dengan sukacita tanpa mengharapkan balasan.
  3. Rela berkorban: Ia berkorban baik waktu, tenaga, dan uang untuk menolong orang yang terluka itu.

Jika kita merangkum kisah ini, tiga hal yang dilakukan oleh orang Samaria adalah contoh nyata dari kasih yang diajarkan Yesus kepada kita. Sama seperti orang Samaria, Yesus Kristus juga datang untuk menolong kita yang berdosa. Ia tergerak oleh belas kasihan, menolong kita dengan sukacita, dan rela berkorban dengan memberikan hidup-Nya untuk menanggung dosa kita. Kasih Allah yang besar inilah yang seharusnya kita teladani dalam hidup kita.

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk mengasihi sesama tanpa membedakan latar belakang baik itu agama, suku, ras, atau status sosial. Seperti orang Samaria yang menolong tanpa memandang perbedaan, kita juga diajak untuk menunjukkan kasih Allah dengan cara yang sama. Kasih yang tidak membeda-bedakan, kasih yang tergerak oleh belas kasihan, kasih yang melayani dengan sukacita, dan kasih yang rela berkorban.

Pada bulan ini, banyak orang merayakan hari Valentine, hari yang penuh kasih dengan berbagi kepada orang yang mereka kasihi. Namun, kita sebagai orang Kristen dipanggil untuk berbagi kasih dengan cara yang lebih luas. Kasih yang melampaui batas-batas yang sering dibentuk oleh dunia. Mungkin Tuhan menggerakkan Anda untuk berbagi kasih dengan orang yang berbeda agama, berbeda suku, atau bahkan dengan musuh kita. Semua ini kita lakukan dengan satu kesadaran bahwa Allah terlebih dahulu mengasihi kita, sehingga kita bisa mengasihi sesama kita. Kiranya Tuhan menolong kita menjadi saluran berkat bagi sesama.

Pelayanan Kaum Muda, Hati Sejuk di Zaman Penuh Tekanan

Oleh: Benny Dewanto, Kabag PK3.

kaum muda

Tentang Kaum Muda

Dalam pelayanan kaum muda, terdapat sebuah metode untuk menangkap kejujuran mereka saat berbicara tentang diri dan masa depannya melalui rekaman video pribadi (self-talk). Dalam durasi singkat, kurang lebih lima menit, metode self-talk tersebut ternyata dapat menggambarkan kejujuran kaum muda dan memungkinkan kaum muda untuk mengekspresikan refleksi mendalam tentang identitas, pergumulan hidup, serta harapan mereka. Padahal, kaum muda seringkali dianggap sebagai kelompok yang sulit dipahami, sehingga diperlakukan sebagai segmen yang khusus. Tidak jarang, karena cara pandang tersebut, terbangun gap antara kaum muda dengan generasi di atasnya.

Dari self-talk di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kaum muda merupakan pribadi yang rentan menderita karena perubahan zaman. Self-talk juga mencerminkan bagaimana kaum muda bangkit dan mendorong perubahan sebagai bentuk protes terhadap tekanan yang mereka hadapi. Ketika kaum muda gelisah karena “beban” tersebut, mereka mengambil aksi dengan melakukan perubahan zaman. Semakin besar tekanan tersebut, semakin cepat pula mereka melakukan perubahan. Alhasil, semakin lebar pula gap yang terjadi karena banyak pihak yang sulit mengerti atau memahami perubahan-perubahan tersebut. Jadi, ini seperti sebuah putaran yang tak berujung, yang menjadi lingkaran hidup kaum muda, yaitu tekanan (penderitaan) – ekspresi perubahan – gap ketidakmengertian.

Pelayanan Kaum Muda: Memahami dan Menolong yang Tawar Hati

Amsal 24:10–12 berkata: “10Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu. 11Bebaskan mereka yang diangkut untuk dibunuh, selamatkan orang yang terhuyung-huyung menuju tempat pemancungan. 12Kalau engkau berkata: “Sungguh, kami tidak tahu hal itu!” Apakah Dia yang menguji hati tidak tahu yang sebenarnya? Apakah Dia yang menjaga jiwamu tidak mengetahuinya, dan membalas manusia menurut perbuatannya?”

Perenung Amsal mengatakan bahwa Amsal 24:10–12 berbicara tentang perintah terhadap orang yang paham untuk menolong mereka yang rentan menyerah (the quitter). Bila renungan ini direfleksikan ke dalam fenomena kaum muda, ada sebuah pertemuan antara pihak yang tawar hati/sesak, yaitu kaum muda, dengan pihak yang— di mata Tuhan—sesungguhnya mengerti tentang persoalan yang menyebabkan tawar hati/sesak tersebut. Oleh karena itu, perenungan ini mengajak kita untuk berdiri sebagai pihak yang kedua.

Dalam perenungan tentang kaum muda yang dikaitkan dengan ayat di atas, sekalipun mereka melejit mengemukakan dunia, dalam kesesakan, mereka seperti pribadi yang tidak punya kekuatan karena tawar hati (ayat 10). Banyak penelitian yang menyatakan bahwa kekecewaan kaum muda berasal dari orang-orang terdekat yang seharusnya menjadi panutan hidup. Dalam hal ini, kata “tawar hati” pada Amsal menjelaskan makna lemas (hang limp), sebuah gambaran kekecewaan yang begitu mendalam hingga membuat dirinya enggan lagi berharap (grow slack). Akibatnya, kondisi lesu dan kecewa ini menjadikan mereka seperti korban empuk yang diintai untuk “dibunuh oleh dunia.”

Lebih lanjut, Amsal 24: 10–12 dapat dijadikan topik self-talk baik bagi kaum muda maupun kita, kaum dewasa. Dengan kata lain, ayat ini mengajak kita berdialog secara pribadi, menelusuri kejujuran hati terhadap apa yang kita rasakan dan ketahui. Ayat ini dapat direnungi oleh seluruh anggota komunitas Athalia, untuk menyejukkan hati agar komunitas ini siap menyejukkan hati generasi muda dalam menghadapi zaman-zaman selanjutnya: zaman yang bergerak cepat yang memunculkan kekhawatiran dan kecemasan; zaman alternatif yang akan semakin masif.

Menjaga Generasi Muda agar Tidak Terhuyung dalam Arus Dunia

Perjalanan iman anak-anak kita akan semakin ditantang oleh dunia yang akan menawarkan lebih banyak pilihan. Jurang jarak antara kebenaran dan kepalsuan menjadi semakin besar, membuat “mata menjadi rabun” dalam membedakannya. Dalam kondisi ini, semakin banyak kaum muda yang berpotensi berjalan terhuyung-huyung. Akankah kita abai dan tetap berada di dalam gap ini? Apakah kita akan membiarkan mereka terhuyung-huyung menuju kebinasaan seperti orang yang akan dipancung?

Untuk menolong mereka yang terhuyung-huyung, tentu kita sendiri tidak boleh menjadi linglung dan limbung. Membangun konsep pertolongan kehidupan yang terbaik adalah melalui pertemuan berbagi hidup, yaitu saling menggenggam dalam meniti jalan lurus dengan hati yang tulus. Amsal 24: 12 menuntut kita untuk memahami bahwa jiwa kita boleh terus bertumbuh oleh karena pertolongan-Nya. Karena itulah Dia menjaga dan meminta kita menjaga anak-anak ini.

Amsal 24: 12 nyata berkata bahwa kita seharusnya menjadi pribadi yang matang, pemerhati kebenaran dan pelaku pemberi pertolongan. Janganlah cepat berkata, “Kami tidak tahu tentang hal itu!” Janganlah menjadi bagian yang membuat kaum muda seperti terhuyung-huyung menuju tempat pemancungan. Mata-Nya yang tajam akan senantiasa menatap isi hati dan pikiran kita. Berdirilah tegak dalam kebenaran, tidak terseok-seok. Dalam pelayanan kaum muda ini, mari genggamlah kaum muda mendekat agar turut pula berdiri tegak dalam kebenaran. Hati-Nya yang sejuk pun akan menjadikan kaum muda Athalia menjadi penyejuk zaman.

Baca juga: Titik Temu Antargenerasi – Saling Memahami

Penyertaan Tuhan Itu Nyata? Ini Buktinya

Griceline Ruth – Alumni Angkatan III SMA Athalia

Hai, salam kenal. Nama saya Griceline Ruth. Saya adalah alumni SMA Athalia angkatan III, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong. Saat ini saya bekerja sebagai pramugari di Singapore Airlines. Sebenarnya, saya tidak pernah menyangka kalau suatu hari saya akan bekerja sebagai seorang pramugari.

Semua berasal dari rasa penasaran saya tentang bagaimana rasanya tinggal di luar negeri, dan belajar hidup mandiri serta terekspos dengan budaya di luar Indonesia. Banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk menjadi seorang pramugari. Kesiapan mental, kemampuan bahasa, penampilan fisik, dan sebagainya. Terkadang tantangan terberat justru datang dari diri saya sendiri. Misalnya, saat saya akan menjalani proses wawancara. Berbagai pertanyaan “bagaimana jika” terlintas begitu saja di pikiran saya.
Bagaimana jika gagal di tahap terakhir, bahkan di tahap awal?
Bagaimana jika saya tiba-tiba gugup dan tidak bisa menjawab?
Puji Tuhan, dengan persiapan yang baik serta kerendahan hati untuk meminta pertolongan-Nya dalam setiap langkah, saya bisa melewati tahap tersebut.

Bila saya ingat kembali, pendidikan karakter yang saya dapatkan ketika bersekolah di Athalia ternyata menolong saya melewati setiap tahap perjalanan karier sebagai seorang pramugari. Saat di sekolah, saya dan teman-teman yang lain selalu diingatkan untuk berdoa sebelum melakukan segala sesuatu. Tidak hanya itu, kami juga berdoa sebelum kelas dimulai, sesudah kelas berakhir, dan juga dalam kegiatan chapel yang diadakan setiap minggu.

Ada satu kejadian yang sampai sekarang masih saya ingat ketika saya menjalani proses training. Saat itu saya sedang menjalani tes final flight stewardess, mulai dari safety sampai service procedure. Rangkaian tes ini akan menentukan apakah seseorang sudah layak atau belum untuk bertugas. Jujur, saya sangat tegang dan sulit untuk berkonsentrasi.

penyertaan Tuhan

Tuhan Bekerja dan Penyertaan-Nya Selalu Ada Melalui Orang-Orang di Sekitar Kita

Sebelum tes dimulai saya berdoa di toilet agar diberikan kekuatan, ketenangan, dan penyertaan Tuhan dalam menjalani tes. Namun, entah mengapa tiba-tiba saya merasa ada dorongan dari dalam diri yang menginginkan agar saya juga bisa menjadi berkat bagi teman-teman yang sedang menjalani tes tersebut. Saat tes dimulai, teman saya mendapat giliran pertama. Saya berperan sebagai penumpang yang dilayani, dan dia berperan sebagai pramugari.

Saat sesi “serving the meal” karena tegang, dia melupakan nama menu yang sedang diuji, dan saya dilarang untuk memberitahukannya. Saya pun tersenyum padanya sambil berharap senyuman tersebut bisa membantu dia untuk lebih rileks. Tiba-tiba dia menjadi tenang dan bisa menyelesaikan ujiannya dengan lancar. Kurang dari lima menit sebelum saya diuji, teman saya datang dan berkata bahwa dia sangat bersyukur karena entah mengapa, senyum yang saya berikan membuat dia bisa rileks sehingga dapat menyelesaikan ujiannya dengan baik. Kata-kata tersebut adalah booster yang saya perlukan di saat yang tepat. Semua ketegangan yang saya rasakan hilang 100%.

Proses ujian berjalan lancar, bahkan hasilnya sungguh di luar ekspektasi saya. Penyertaan Tuhan ada. Ia menjawab doa saya dan memberi kekuatan tepat pada waktunya in a very surprising way. I know it was Him. Kejadian yang saya alami ini menunjukkan bahwa ketika kita mengakui Dia dalam segala jalan, Dia akan membantu meluruskan dan memberi kita petunjuk jalan mana yang perlu dipilih.

Trust God from the bottom of your heart; don’t try to figure out everything on your own. Listen for God’s voice in everything you do, everywhere you go; He’s the one who will keep you on track (Proverbs 3:5-6)

Terima kasih Tuhan Yesus.

Setiap dari kita punya cerita tentang bagaimana Tuhan menyertai diri kita di waktu yang tak terduga. Apa momen penyertaan Tuhan yang paling berkesan dalam hidupmu?

Baca juga: Tuhan Besertaku Setiap Waktu

TUHAN BERJALAN BERSAMA KITA

TUHAN BERJALAN BERSAMA KITA

Lili Irene-Plt. Kabag. PK3

…Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau atau melalui sungai-sungai engkau tidak akan dihanyutkan, apabila engkau berjalan melalui api engkau tidak akan dihanguskan dan nyala api tidak akan membakar engkau. Sebab Akulah Tuhan, Allahmu…”
(Yesaya 43:1-3)

Puji syukur kepada Tuhan yang telah menyertai perjalanan kita di tahun ajaran lalu dan terus mengimani bahwa Tuhan yang sama juga akan bersama kita di tahun ajaran 2024/2025 ini. Tuhan yang memimpin secara khusus perjalanan yayasan Athalia Kilang menuju 30 tahun ini adalah berkat yang luar biasa. Komunitas Athalia tidak akan berjalan sendirian karena ada Tuhan yang luar biasa yang akan menuntun perjalanan kita.

Mengawali tahun ajaran ini dengan firman Tuhan dalam Yesaya 43:1-3 yang memberi penguatan kepada kita untuk tidak takut. Perasaan takut pasti pernah menghampiri setiap orang. Ketakutan akan masa depan anak-anak kita, sakit-penyakit, kehilangan orang terkasih, masalah keuangan, kesepian, relasi, ketidakmampuan dalam bekerja dan masih banyak ketakutan lainnya baik secara pribadi maupun lembaga.

Mari Kita Renungkan

Mari ambil waktu sejenak merenungkan bagian ini ketika Tuhan mengatakan, ”Jangan takut.”

Pertama, Tuhan mengenal kita secara pribadi, bahkan ia tahu nama kita masing-masing. Betapa sukacitanya ketika mendengar Tuhan berkata,”Lili… (bisa menyebut nama kita sendiri) jangan takut karena Aku berjalan bersamamu. Engkau kepunyaan-Ku…”. Ini perasaan yang tentunya sangat mengharukan. Tuhan mengatakan bahwa kita kepunyaan-Nya dan menenangkan bahwa kita tidak sendiri. Namun, ada Tuhan di samping kita yang berjalan setiap saat.

Kedua, Tuhan dengan jelas menyebutkan bahwa Ia akan menyertai kita. Ketika kita harus menyeberang air atau melalui sungai kita tidak akan hanyut, bahkan ketika harus melewati api sekalipun kita tidak akan hangus. Ini artinya dalam kondisi tersulit dan kritis sekalipun Tuhan ada di samping kita menemani dan berjalan bersama untuk melewati semua itu. Ketika harus kehilangan anak dalam kandungan dengan jelas saya merasakan kehadiran Tuhan, bahkan memeluk saya ketika dalam ruang operasi. Perasaan sedih berganti dengan kekuatan luar biasa karena Tuhan tidak meninggalkan saya sendirian. Ia menemani, menghibur, dan mendampingi saya melewati masa kelam dan sedih ini. Tuhan hadir secara pribadi bagi setiap kita.

Ketiga, Tuhan adalah Allah kita. Perjalanan yang kita lalui di dunia ini tidak kita jalani sendirian karena Tuhan adalah Allah kita yang luar biasa. Pertanyaannya adalah, apakah kita menjalani ziarah iman kita di dunia ini dengan berserah dan bergantung penuh kepada Tuhan Allah kita atau apakah perjalanan ini masih kita lalui sendirian saja. Henri Nouwen, dalam bukunya Mere Spirituality berkata “Attentivenes helps us look fully at God. To invite God in more completely. It leads us into the depths of God’s healing mercies”. Perlunya mengarahkan perhatian kita dengan memandang kepada Tuhan Allah. Serta mengundang Tuhan masuk secara penuh dalam hidup kita. Mengundang Ia berjalan bersama dan menikmati kemurahan Tuhan Allah kita. Inilah iman kita.

Komitmen

Sebagai komitmen, yang bisa kita lakukan untuk komunitas ini adalah saling mendoakan secara pribadi, mendampingi yang membutuhkan, dan menguatkan mereka dalam setiap pergumulan yang dihadapi untuk tidak takut karena ada Tuhan Allah. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk melewati setiap musim kehidupan. Tetap semangat dan jangan lupa bahagia.

Baca juga: Tuhan Hadir Di Setiap Musim

Tuhan Hadir Di Setiap Musim

Sylvia Tiono Gunawan-Staf Kerohanian PK3

Bumi memiliki enam musim yang siklus pergantian atau pembagiannya setiap beberapa bulan sekali. Enam musim tersebut dibagi lagi menjadi dua musim di daerah iklim tropis dan empat musim di daerah iklim subtropis. Dengan kata lain, ada negara yang hanya merasakan dua musim saja, salah satunya adalah Indonesia yang memiliki musim kemarau dan musim hujan. Musim yang ada di bumi juga memiliki pengaruh yang sangat besar bagi keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya (https://gramedia.com/literasi/musim/).

Musim Kehidupan yang Terus Berganti

Apa yang terjadi jika sepanjang tahun hanya ada satu musim? Tentu berbagai tanaman dan satwa tidak dapat bertahan hidup, bahkan manusia juga akan mengalami kesulitan untuk bertahan hidup. Beberapa tanaman hanya dapat tumbuh dengan suhu tertentu di musim tertentu, demikian juga beberapa satwa. Fakta ini menunjukkan kepada kita bahwa setiap musim yang ada membawa kebaikan dan memiliki manfaat masing-masing. Musim-musim itu berganti di sepanjang tahunnya untuk menolong setiap makhluk hidup yang ada di bumi ini tetap terpelihara. Inilah salah satu bukti karya Tuhan yang luar biasa. Tuhan bukan hanya menciptakan bumi dan segala isinya, Ia juga menyediakan apa yang dibutuhkan oleh ciptaan-Nya agar tetap terpelihara dengan baik.

Sama seperti musim yang berganti demikian juga kehidupan kita. Kehidupan adalah suatu hal yang dinamis, terus bergerak, dari hari ke hari tidak selalu sama. Apa yang kita hadapi hari ini, belum tentu kita hadapi esok hari. Kesulitan yang kita pikul hari ini belum tentu kita pikul di momen berikutnya. Tawa kita di hari ini bisa berganti duka di waktu yang lain. Pengkhotbah 3:1 mengatakan “untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya”. Pahami dan ingatlah bahwa Tuhan kita tidak pernah berubah. Kasih setia Tuhan tetap sama baik dulu, sekarang maupun yang akan datang.

Segala Sesuatu Indah Pada Waktunya

Ayat 11 mengatakan bahwa Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Sayangnya, manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir sehingga di saat tertentu dalam kehidupan, kita merasa Tuhan tidak mengasihi dan memedulikan kita.

Seorang penulis Kristen bernama Joyce Meyer pernah berkata beberapa momen kehidupan memang kadang kala bisa terasa sangat berat, tetapi jika kita hanya menemukan kegembiraan di musim-musim tertentu, kita kehilangan hal terbaik dari Tuhan di musim-musim lainnya. Tuhan mau kita menemukan sukacita di setiap momen hidup kita karena itu biarkan Tuhan memproses kita dalam tiap musim kehidupan yang kita lewati supaya kita bertumbuh makin kuat dan indah di hadapan Tuhan.

Tuhan Selalu Hadir

Suka duka bisa datang silih berganti. Namun, dalam kesemuanya itu Tuhan selalu hadir, Ia tidak pernah meninggalkan kita dan mau kita terus mengingat-Nya. Ayat 14 mengatakan bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia. Dalam menyadari keterbatasan kita, mari belajar terus bergantung kepada Tuhan pada setiap musim kehidupan kita.

Baca juga: Tuhan Ada di Setiap Musim Hidup Kita

Tuhan Ada di Setiap Musim Hidup Kita

Lili Irene-Plt. Kabag PK3

Tuhan Ada di Setiap Musim Hidup Kita

Mazmur 139:16 mengatakan, “Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk sebelum ada satupun daripadanya”.

Segala Sesuatu Ada Waktunya

Pernahkah kita merasa dalam kehidupan ini seolah-olah kesulitan menimpa kita terus-menerus? Atau kita mengalami sukacita secara beruntun? Jika kesulitan atau kesedihan seakan tiada akhir tentu saja ini melelahkan kita. Setiap orang pasti mengharapkan hidupnya selalu dipenuhi oleh sukacita. Namun, hidup tidak berjalan demikian. Setiap orang memiliki perjalanannya masing-masing. Jika kita melihat dalam konteks hidup di Indonesia, ada musim hujan dan kemarau. Hujan tidak selalu terus-menerus tanpa henti atau kemarau panjang tanpa akhir. Di balik hujan ada pelangi dan di balik kemarau ada Tuhan yang berkuasa atas alam. Segala sesuatu ada waktunya.

Tuhan Selalu Ada

Mazmur 139: 16 mengatakan, “Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk sebelum ada satupun daripadanya”. Ayat ini mengingatkan bahwa Tuhan ada dalam setiap perjalanan hidup kita bahkan sejak kita masih di dalam kandungan. Betapa istimewanya kita sehingga Ia mengingat dan menjaga kita dari awal hidup kita, bahkan sampai masa tua pun Tuhan tetap menggendong kita. Yesaya 46:4, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus, Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.” Pada akhir perjalanan kita di dunia ini nantinya, Tuhan pun tidak pernah melepaskan tangan kita. Ia selalu ada untuk kita.

Janji Tuhan

Apakah pergumulan dan kesulitan yang sedang kita alami saat ini sehingga membuat kita merasa sesak, bahkan mempertanyakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita? Tuhan yang hadir ketika kita masih bakal anak, Ia pun akan selalu hadir dalam setiap pergumulan dan kesulitan yang kita alami. Tentu tidak mudah melewati semua pergumulan sakit penyakit, pekerjaan, kebutuhan hidup, persoalan keluarga, dan sebagainya. Namun, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendiri melewati semua ini. Tuhan ada di dalam setiap musim yang kita lewati. Ia memelihara hidup kita. Kasihnya memeluk kita dengan penuh kelembutan dan berkata,”Anak-Ku, Aku ada di sini untukmu. Tetaplah kuat, Aku akan berjalan bersamamu”.

Mari ambil waktu sejenak untuk merenungkan lagu berikut ini,
“Semusim berlalu namun Kau s’lalu p’liharaku.
Kasih dan setia-Mu tak pernah layu di hidupku.
Lebih luas dari samudra Kebaikan-Mu Bapa tak kan habis di hidupku.
Lebih tinggi dari cakrawala tak terbatas kasih-Mu sungguh kubersyukur”
. (https://bit.ly/4aBKCkS)

Setiap musim atau kondisi apapun yang kita alami Tuhan ada di sana menemani kita. Tuhan mengasihi kita semua. Tetaplah semangat!

Baca juga: Tuhan Hadir Di Setiap Musim

Anugerah Tuhan

Anugerah Tuhan

Willa Nikki Aleta-Alumni SMA Athalia Angkatan XI

Perkenalan

Hai, salam kenal! Namaku, Willa Nikki Aleta, alumni SMA Athalia tahun 2023, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong. Saat ini, aku tengah menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi. Sungguh perjalanan yang panjang untuk aku sampai di titik ini, dan tentunya perjalanan tersebut masih belum usai. Perjalanan itu bermula dari aku menjejakkan kaki di SMA Athalia, perjalanan yang mengubah hidupku. Sedikit cerita, sejak masuk SMA, jujur aku sangat “clueless”, tidak tahu mau jadi apa saat lulus serta tidak tahu potensi dan kelebihan diri. Di saat teman-temanku yang nampaknya sudah memiliki segudang bakat, aku masih di fase bertanya-tanya.

Merasakan Anugerah Tuhan

Bersyukur Tuhan menempatkan aku di SMA Athalia karena aku sungguh merasakan adanya bimbingan dan arahan untuk mencari potensi diri. Aku ingat sekali momen yang mengubah hidupku. Kala itu pembelajaran daring dan mata pelajaran Bahasa Indonesia mengharuskan kami untuk membacakan sebuah puisi. Saat itu Bu Merry melihat adanya potensi dalam diriku. Tanpa ragu beliau mendorong aku untuk menjadi perwakilan SMA Athalia dalam lomba membaca puisi.
Di tengah ketidakpercayaan diriku, para pengajar Bahasa Indonesia pada saat itu terus meyakinkan diriku bahwa aku bisa, tentunya dengan segala nasehat dan perbaikan. Sejak saat itu, jujur saja, rasa kepercayaan diriku meningkat drastis. Aku jadi lebih berani mencoba hal-hal baru. Aku juga didorong untuk mengikuti lomba public speaking, hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya karena aku selalu berpikir bahwa diriku “demam panggung”.


Sungguh rencana dan anugerah Tuhan selalu tepat pada waktunya. Momen-momen yang membentuk diriku itu membuatku jadi paham akan potensi diriku dalam public speaking, sastra, hingga dalam kemampuan bersosialisasi. Hingga akhirnya, aku memiliki tujuan setelah lulus SMA dan di sinilah aku berada, di tanah Malang, berlabuh pada Jurusan Ilmu Komunikasi. Jika kembali dipikirkan, aku selalu mensyukuri momen-momen tersebut yang sudah membentuk diriku. Segala puji syukur dan kemuliaan hanya bagi Tuhan!

Baca juga: Semua karena Kasih Karunia Allah