
Victor Sumua Sanga (Kepala SMA Athalia)
Dipahat oleh Tuhan
Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Markus 8:34)
Michelangelo, sang maestro seni rupa, pernah berujar bahwa tugasnya saat memahat patung David bukanlah menciptakan keindahan, melainkan membuang segala sesuatu yang “bukan David” dari blok marmer besar tersebut. Ia memandang setiap bongkahan batu mengandung mahakarya tersembunyi yang hanya bisa muncul melalui proses pemahatan yang keras dan presisi.
Ilustrasi ini adalah metafora sempurna bagi disiplin rohani dalam Markus 8:34. Menjadi murid Kristus bukanlah tentang menambahkan atribut agamawi, melainkan mengizinkan Tuhan “memahat” dan membuang ego, kesombongan, serta ambisi pribadi yang menutupi gambar Kristus dalam diri orang percaya.
Disiplin Murid Kristus
Melalui perkataan-Nya kepada orang banyak dan murid-murid-Nya, Yesus sedang meruntuhkan ekspektasi mereka yang mengikutinya karena mengharapkan kejayaan politik dan kekuasaan. Yesus mendefinisikan ulang makna “mengikuti Aku” dari obsesi pada takhta kekuasaan menjadi komitmen siap menderita.
Ayat ini menegaskan tiga disiplin yang tidak terpisahkan dan perlu dimiliki oleh pengikut Kristus, diantaranya:
- Menyangkal Diri: Ini adalah pemutusan hubungan dengan kepentingan ego. Ketika Petrus pernah “menyangkal” Yesus dengan berkata, “Aku tidak kenal Dia.” Hal itu serupa dalam bagian ini, bahwa seorang murid harus “menyangkal diri” dengan berkata, “aku tidak lagi mengenali diriku sebagai tuanku sendiri.” Kita berhenti menjadi pusat gravitasi hidup kita.
- Memikul Salib: Bagi jemaat mula-mula, memikul salib berarti perjalanan satu arah menuju eksekusi. Ini dimaknai sebagai penyerahan total terhadap konsekuensi mengikut Yesus. Kepengikutan kita kepada Yesus memiliki konsekuensi yang dapat menghantar kita pada penderitaan dan penganiayaan dalam berbagai bentuk.
- Mengikut Yesus: Menggunakan bentuk kata kerja yang berkelanjutan menunjukkan bahwa kepengikutan kita kepada Yesus adalah perjalanan sehari-hari, bukan peristiwa sekali jadi. Karakter Kristus dibentuk melalui pengulangan yang setia dan ketekunan dalam penderitaan.
Tanpa disiplin ini, murid Yesus bisa terjebak dalam apa yang disebut Dietrich Bonhoeffer sebagai “anugerah murahan”. Pengampunan tanpa pertobatan atau salib tanpa ketaatan. Dalam bukunya The Cost of Discipleship, Bonhoeffer menulis: “Ketika Kristus memanggil seseorang, Dia mengundangnya untuk datang dan mati.” Kematian yang dimaksud adalah matinya manusia lama agar kehidupan baru di dalam Kristus dapat memancar.
Ajakan untuk Berkomitmen
Sebagai komunitas Sekolah Athalia, disiplin rohani bukan sekadar peraturan formal, melainkan “ruang kerja” Allah untuk pertumbuhan kita. Sebagai pendidik dan tenaga kependidikan, menyangkal diri berarti melayani siswa bukan demi validasi profesional, melainkan melampaui itu. Menyangkal diri sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan berarti membuang ego merasa “paling tahu” demi pertumbuhan anak didik. Sebagai siswa, memikul salib berarti siap menerima penolakan dari teman sebaya, rela sendiri, dicap “munafik” demi membangun disiplin rohani sebagai murid Kristus. Sebagai orang tua, itu berarti, berhenti menjadikan anak sebagai alat pencapaian ambisi pribadi, melainkan dengan rendah hati mendukung rencana dan panggilan Tuhan atas hidup mereka.
Mari kita izinkan Sang Seniman Agung terus memahat hidup kita hingga yang tersisa hanyalah gambar Kristus yang nyata.








