“…masakan Allah tidak akan menyelidikinya? Karena Ia mengetahui rahasia hati!” — Mazmur 44:21
Ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan yang Mahatahu. Ia mengenal setiap ciptaan-Nya secara mendalam — sejak sebelum kita lahir, Ia sudah mengetahui tujuan hidup dan perjalanan kita. Sifat Allah yang Mahatahu bukan hanya tentang pengetahuan tanpa batas, tetapi juga tentang pemahaman yang penuh kasih terhadap apa yang terbaik bagi kita, bahkan ketika cara-Nya tidak sesuai dengan rencana atau keinginan kita.
Kesaksian Pribadi
Beberapa waktu lalu, saya mendapat kesempatan untuk memimpin PIT (Parents in Touch), yaitu persekutuan doa bersama orang tua dan staf/pendidik di Sekolah Athalia, sekolah Kristen di BSD, Serpong. Namun, situasi saya saat itu cukup menantang. Saya tidak memiliki asisten rumah tangga, dan ketiga anak saya masih kecil — dua di antaranya mengikuti sekolah online, sementara si bungsu baru berusia empat tahun.
Saya pun berdiskusi dengan koordinator PIT dan menjelaskan kemungkinan akan terlambat datang karena harus menemani anak-anak, serta rencana membawa si bungsu saat kegiatan onsite berlangsung dan memohon maaf karena merasa tidak bisa melayani secara maksimal.
Selama minggu-minggu persiapan, saya terus berdoa:
“Tuhan, Engkau tahu isi hati saya. Saya mau melayani, tetapi kalau saat ini belum waktunya, saya akan menerimanya. Namun jika Engkau izinkan, tolong supaya anak saya bisa tenang ketika saya melayani, agar pelayanan tidak terganggu.”
Sempat terlintas untuk mengundurkan diri. Namun ternyata, cara Tuhan bekerja sungguh luar biasa dan di luar dugaan manusia. Beberapa hari sebelum acara, angka positif COVID-19 kembali meningkat, dan akhirnya PIT diadakan secara online. Dengan begitu, saya tetap bisa melayani dari rumah sambil menjaga anak-anak.
Saya tidak bersukacita karena pandemi, tetapi saya bersyukur karena Tuhan mengenal pergumulan saya dan memberikan solusi terbaik. Allah sungguh Mahatahu dan penuh kasih terhadap umat-Nya.
Belajar Jujur di Hadapan Allah yang Mahatahu
Pengalaman ini mengajarkan saya untuk selalu terbuka dan jujur di hadapan Tuhan. Sering kali kita berkata, “I’m okay,” di hadapan orang lain, padahal hati kita sedang tidak baik-baik saja. Namun, Tuhan tahu segalanya, bahkan hal-hal yang kita sembunyikan dari orang lain.
Mazmur 44:21 kembali mengingatkan:
“…masakan Allah tidak akan menyelidikinya? Karena Ia mengetahui rahasia hati!”
Karena itu, marilah kita belajar seperti pemazmur — jujur dalam setiap keadaan, baik ketika bersukacita maupun ketika merasa lemah, kehilangan, atau khawatir. Kita boleh datang kepada Tuhan dengan doa yang sederhana namun tulus:
“Tuhan, tolong saya yang lemah ini agar tidak tenggelam dalam perasaan-perasaan ini. Ajari saya untuk kembali memandang-Mu dan percaya penuh pada rencana-Mu.”
Kesimpulan: Allah Tahu yang Terbaik bagi Kita
Allah yang Mahatahu selalu mengetahui isi hati dan kebutuhan kita yang terdalam. Ia tidak hanya menyelidiki hati, tetapi juga memahami dan menyediakan yang terbaik bagi setiap anak-Nya — sesuai kehendak-Nya, bukan keinginan kita.
Kiranya melalui renungan ini, kita semakin percaya bahwa Tuhan mengenal dan memelihara hidup kita sepenuhnya. Jujurlah di hadapan-Nya, karena tidak ada yang tersembunyi bagi Allah yang mengetahui rahasia hati manusia.
“Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah; tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan. Anak hamba-hamba-Mu akan diam dengan tenteram, dan anak cucu mereka akan tetap ada di hadapan-Mu.” (Mazmur 102:26–28)
Allah yang Tetap Sama dari Dahulu, Sekarang, dan Selamanya
Ketidakberubahan adalah salah satu atribut Allah yang luar biasa. Sifat, kuasa, dan otoritas-Nya tetap sama dari masa ke masa.
Segala sesuatu di dunia akan menjadi usang dan binasa seiring waktu—namun Allah tidak pernah berubah. Ia tetap Allah yang sama dari dahulu kala hingga selama-lamanya.
Kesadaran akan hal ini membawa ketenteraman bagi orang percaya. Fakta bahwa Allah tidak berubah membuat kita mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan kehidupan, karena kita tahu bahwa kasih setia dan kuasa-Nya tidak pernah berkurang.
Refleksi dari Sebuah Peristiwa di Pantai
Saya mendapat pengalaman berharga tentang hal ini ketika berlibur ke rumah keponakan pada akhir tahun lalu. Pada hari terakhir tahun itu—31 Desember 2021—saya menemani cucu keponakan bermain di pantai.
Pagi itu sedikit mendung, dan tidak lama kemudian hujan turun. Saya sempat bimbang: apakah sebaiknya tetap bermain di pantai atau kembali ke rumah? Akhirnya, kami memutuskan untuk tetap bermain sambil hujan-hujanan. Tak lama kemudian, hujan berhenti dan matahari kembali bersinar.
Saya mendongak, dan benar—pelangi yang indah membentang di langit. Saat itu hati saya tersentuh. Rasanya seperti pesan pribadi dari Tuhan di penghujung tahun: saya akan menjalani tahun yang baru bersama Allah yang setia pada janji-Nya.
Keyakinan ini membawa ketenangan mendalam, sebab saya tahu bahwa kasih setia dan kuasa Allah tidak pernah berubah. Seperti Ia telah menyertai dan menolong saya di tahun-tahun sebelumnya, demikian pula anugerah-Nya akan terus nyata di tahun yang baru.
Pelajaran dari Seekor Anak Kucing
Masih di pantai yang sama, saat saya duduk santai, seekor anak kucing tiba-tiba mendekat dan duduk di pangkuan saya. Tak lama, ia tertidur dengan tenang. Ketika saya mencoba mengangkat tangan, kucing kecil itu menariknya kembali, seolah takut kehilangan kehangatan.
Momen sederhana itu membuat saya merenung:
Apakah saya juga seperti anak kucing itu terhadap Allah? Apakah saya ingin selalu dekat dan tidak menjauh dari-Nya?
Karena hanya bersama Allah yang tidak berubah, saya dimampukan untuk menghadapi setiap tantangan hidup dengan tenang.
Kasih setia dan kuasa-Nya tidak lekang oleh waktu — tetap sama dari generasi ke generasi.
🌈 Penutup
Melalui pelangi dan kehadiran seekor anak kucing, Allah seakan mengingatkan bahwa Dia tetap setia dan tidak berubah. Di tengah dunia yang terus berganti, satu hal yang pasti:
Tuhan yang sama yang menolong kemarin, adalah Tuhan yang juga akan memelihara kita hari ini dan selamanya.
Mungkinkah seseorang mengasihi walau terluka? Pertanyaan ini mungkin menantang hati dan logika kita.
Bila mengasihi dalam kondisi terluka adalah sebuah pilihan, rasanya tidak banyak orang yang akan memilihnya. Kasih biasanya dinyatakan melalui sesuatu yang indah, menghibur, menyenangkan bahkan membahagiakan. Sangat jarang kasih diekspresikan melalui bentuk yang menyakitkan atau menyedihkan. Sebuah fenomena yang paradoks, mengasihi sekaligus terluka. Namun justru dalam paradoks itulah makna terdalam dari kasih terungkap.
Kisah paradoks ini, menjadi kisah yang spektakuler, kisah kasih yang berkorban dan menyelamatkan dunia. Kisah hidup Kristus, Sang Juruselamat. Dalam 1 Yohanes 3:16 tertulis, “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” Melalui kematian-Nya, Kristus menunjukkan kualitas kasih yang sejati.
Rasul Yohanes mengingatkan para pengikut Kristus untuk hidup meneladani Sang Juruselamat. Menyatakan kasih kepada sesama sampai menyerahkan nyawanya. Apa artinya hal ini bagi kita? Artinya, jika kita mengatakan bahwa kita mengasihi, akan ada pembuktian atas perasaan kasih tersebut. Karena kasih tidak berhenti pada perasaan, tetapi kasih dibuktikan melalui tindakan nyata dan pengorbanan diri.
Mengasihi Lewat Tindakan
Mengikuti teladan Kristus yang menyerahkan nyawanya bagi orang lain adalah tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri. Mengasihi artinya bersedia untuk menanggalkan ego, berempati, bahkan rela berkorban bagi orang lain. Untuk hal inilah kita, para pengikut-Nya dipanggil. Adakah kerelaan untuk tidak selalu mengutamakan diri sendiri?
Bila kita mengatakan bahwa kita mengasihi sesama kita, mengasihi orang-orang di sekitar kita, adakah kepedulian terhadap orang lain tampak dalam tindakan? Jika kita katakan bahwa kita mengasihi orang lain, adakah kita memiliki kerelaan untuk membantu, mendampingi, bahkan ikut menanggung kesulitan yang sedang dihadapi orang lain? Apakah kita berjuang untuk menghidupi kebenaran ini dalam diri, demikian kita dapat mengatakan bahwa kasih bukanlah sekadar perasaan, mengasihi adalah tindakan.
Perlu juga diingat bahwa tidak semua tindakan baik kepada orang lain didasari oleh kasih. Untuk dapat mengetahuinya kita perlu merenungkan motivasi kita dalam bertindak. Apakah sesuatu yang kita perbuat adalah tindakan yang disertai kasih, ataukah tindakan karena mementingkan kepentingan diri?
1 Korintus 13:3: “Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.”
Rasul Paulus mengingatkan untuk memperhatikan dasar dari tindakan kita. Manusia memiliki potensi untuk bisa melakukan sesuatu yang terlihat baik, tetapi tidak didasari oleh kasih. Manusia mudah melihat rupa. Ada orang yang sepertinya mengasihi, memberi dirinya untuk orang lain, tetapi dasar tindakan itu belum tentu berasal dari kasih. Kasih yang sejati tidak berpusat pada cinta akan diri sendiri. Mengasihi adalah tindakan yang rela mengorbankan diri dan tidak mengambil keuntungan dari orang lain.
Kasih dalam Keluarga dan Komunitas
Seorang ayah yang mengasihi anggota keluarganya akan membuktikan kasihnya melalui tindakan merawat dan melindungi seluruh anggota keluarganya dan bukan sebaliknya. Para orang tua akan bekerja keras demi keluarganya, melakukan tanggung jawabnya demi kesejahteraan anggota keluarganya. Namun, jika tidak disertai kasih kepada seluruh anggota keluarganya, misalnya tidak memberikan diri untuk relasi yang intim dengan keluarganya, dan hadir dalam kehidupan mereka, apakah mereka melakukan seluruh tanggung jawab tersebut karena kasih? Marilah kita merenungi adakah kasih itu hidup dalam diri dan apakah kehidupan kita meneladani kasih Kristus yang rela menyerahkan nyawa bagi orang lain?
Bagi tenaga kependidikan, yang telah bekerja keras dan rela berkorban demi pendidikan para murid, adakah kasih dalam diri, memiliki kerinduan untuk membangun relasi dengan para murid, dan mendasari seluruh tindakannya atas dasar kasih?
Kita tidak dapat mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan, jika kita tidak berupaya keras mewujudkan kasih kepada Tuhan melalui seluruh aspek dalam hidup kita. Mengasihi artinya akan mengampuni walau dilukai, kasih sejati akan dengan sabar memberi kesempatan, kasih sejati akan bertahan dalam kesulitan, kasih sejati akan memampukan seseorang tetap mengasihi orang yang melukainya. Perwujudan kasih sejati tidak hanya tampak melalui kata-kata yang diucapkan atau tindakan yang dilakukan, tetapi juga melalui niat terdalam yang mendorong setiap perilaku. Kasih sejati hanya bersumber pada Dia yang telah menjalaninya terlebih dahulu. Di tengah relasi yang rapuh dan dunia yang sering menyakitkan, kasih yang lahir dari sumber ilahi akan tetap bertahan. Ia menjadi kekuatan yang memungkinkan seseorang untuk tetap mengasihi, bahkan ketika hatinya sendiri sedang terluka.
Apa yang Kita Pikirkan Saat Mendengar Kata “Takut”?
Setiap mendengar kata takut, apa yang kita pikirkan? Bagi banyak orang, kata ini sering diasosiasikan dengan hal-hal yang negatif. Namun, ada satu jenis rasa takut yang justru paling positif di dunia ini — yaitu takut akan Tuhan.
Rasa takut yang satu ini membawa saya untuk mengalami hubungan yang semakin akrab dan indah dengan Tuhan. Mengapa demikian? Karena dalam hubungan yang terjalin itu, saya mengenal Tuhan bukan sebagai pribadi yang menakutkan, melainkan sebagai Pribadi yang penuh kasih karunia dan kuasa, yang setia menemani setiap langkah hidup saya.
Belajar dari Kehidupan Musa
Saya belajar dari kehidupan Nabi Musa, yang ucapannya tercantum dalam Ulangan 9:19. Musa adalah tokoh Alkitab yang memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir. Namun, perjalanan hidupnya yang fenomenal tidak terjadi seketika. Awalnya, Musa menolak tanggung jawab yang Tuhan berikan dengan alasan, “Aku tidak pandai berkata-kata.” Ia merasa tidak layak diutus untuk memimpin bangsa Israel menuju tanah perjanjian.
Ketika akhirnya Musa memutuskan untuk menjalani panggilan Tuhan, perjalanan itu membawanya kepada hubungan yang semakin karib dengan Tuhan. Ia bahkan berani berkata, “Walau aku tahu Tuhan murka dengan apa yang sudah dilakukan bangsa Israel, tapi aku kenal Tuhanku dan Ia akan mendengarkan permohonanku.” Pernyataan ini menunjukkan adanya hubungan yang istimewa antara Musa dan Tuhan — hubungan yang hanya bisa dialami oleh seseorang yang benar-benar takut akan Tuhan.
Pengalaman dalam Kehidupan Pribadi
Dalam pengalaman pribadi saya, takut akan Tuhan bukan berarti saya harus melakukan segala sesuatu yang baik hanya karena takut akan hukuman Tuhan. Saya bisa saja patuh kepada Tuhan, tetapi tanpa memiliki hubungan yang akrab dengan-Nya.
Namun, Tuhan menginginkan hubungan yang berkualitas dengan saya. Karena itu, saya memilih untuk hidup dalam takut akan Tuhan.
Saat saya hidup dalam rasa takut yang benar kepada Tuhan, hubungan yang karib dan istimewa dengan-Nya membuat saya memiliki kesadaran untuk tetap dekat dengan Tuhan — dan justru takut untuk menjauh dari-Nya.
Hidup Berkenan di Hadapan Tuhan
Perspektif ini membawa saya pada keputusan hidup seperti berikut:
“Saya memutuskan dengan sadar untuk memilih cara hidup yang berkenan dan menyenangkan hati Tuhan, karena hubungan kami sangat istimewa. Saya ingin mempertahankannya demi kebaikan saya sendiri, yaitu pertumbuhan iman saya.”
Apakah mudah melakukan komitmen seperti ini? Mungkin tidak. Namun, saya percaya hanya Tuhan yang sanggup memperbesar kapasitas hati saya untuk memiliki dan menjalankan komitmen seperti ini.
Hadiah dari Tuhan
Tuhan berkenan kepada orang yang hidupnya takut akan Dia. Selalu ada berkat dan hadiah yang menanti bagi mereka yang memiliki rasa takut yang benar — bukan karena rasa terpaksa, tetapi karena kasih dan penghormatan yang tulus.
“Fear ensures compliance; Fear of God inspires commitment.” Rasa takut biasa menuntut kepatuhan; takut akan Tuhan menumbuhkan komitmen.
Tuhan memanggil tiap kita untuk melayani-Nya dengan berbagai cara. Ada yang dipanggil melayani di gereja sebagai Hamba Tuhan. Ada yang dipanggil melayani di dunia profesional, dan ada yang dipanggil untuk melayani keluarga di rumah. Setiap orang lahir di dunia dengan perannya masing-masing dan Tuhan sudah merancangkannya dengan indah bagi kita.
Misi Tuhan dalam Panggilan Orang Tua
Begitu juga dengan menjadi orang tua. Kita tidak pernah memilih untuk menjadi orang tua, melainkan Tuhanlah yang memanggil kita untuk menjadi orang tua. Sebagai orang percaya, kita mengimani bahwa rancangan Allah adalah yang paling baik. Kita memilih untuk mengikuti jalan Allah—yang tentu tak pernah mudah—dan menjadikan keimanan kita sebagai pelita untuk menerangi jalan kita. Begitu kita dipanggil untuk menjadi orang tua, Tuhan memastikan tidak akan membiarkan kita berproses sendirian dalam perjalanan panjang itu.
Lalu, apa misi Tuhan menitipkan seorang anak kepada kita? Apakah semata-mata hanya untuk mengasuh dan mendidik anak itu? Ternyata tidak hanya untuk itu. Ada rancangan yang lebih besar yang Tuhan mau kita lakukan, yaitu bertumbuh.
Sebagai manusia, kita diminta untuk terus bertumbuh dan berkembang. Setiap waktu yang berlalu seharusnya membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Anak menjadi salah satu prasarana bagi kita untuk menjadi versi yang lebih baik dari diri sendiri. Pernahkah Anda merenungkan siapa Anda 10 tahun yang lalu dibandingkan dengan sekarang? Mungkin, dulu Anda adalah seseorang yang mudah marah atau impulsif. Namun, ketika anak hadir dalam kehidupan Anda, banyak hal yang memaksa Anda untuk menahan diri. Ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan sebelum mengucapkan atau melakukan sesuatu.
Bertumbuh bersama anak bukan hanya tentang mereka yang belajar dari kita, tetapi juga tentang kita yang belajar dari mereka. Anak membentuk kita menjadi orang yang lebih baik. Bersama anak, kita bertumbuh bersama mereka. Tidak hanya mereka yang belajar dari kita. Justru, kita “dididik” oleh anak dengan cara yang sudah Tuhan rancangkan!
Menjadi Orang Tua yang Bertumbuh dalam Kasih Tuhan
Menjadi orang tua adalah proses yang tidak pernah berhenti. Di setiap tahap kehidupan anak, kita juga mengalami perubahan dan perkembangan. Anak-anak adalah sarana Tuhan untuk mendidik kita, sementara kita juga memiliki peran penting dalam mendidik mereka.
Setiap hari adalah kesempatan baru untuk bertumbuh dalam kasih, kesabaran, dan pengertian. Kita diajar untuk taat dan berserah saat kehabisan kata-kata menghadapi tingkah anak yang menjengkelkan. Kita diajarkan untuk bersabar dan menggunakan kasih dalam mendidik anak. Kristus menjadi satu-satunya teladan kita dalam menjalani parenting. Kita “dipaksa” untuk bertumbuh di dalam Allah melalui kehadiran seorang anak.
Selamat bertumbuh dalam karakter melalui peran kita sebagai orang tua. Anak-anak bisa menjadi salah satu sarana Tuhan mendidik kita, tetapi di sisi lain juga merupakan bagian dari peran kita sebagai orang tua. Mari terus belajar, membiarkan Tuhan mendidik kita, sambil mendidik anak-anak kita. Semuanya demi kemuliaan Allah!
“Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi nama-Mu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancangan-Mu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu. (Yesaya 25:1)
“…panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia, serta mulia, serta mulia…”
Demikianlah bagian lirik lagu yang kerap dinyanyikan di saat seseorang berulang tahun. Ada harapan di dalamnya untuk lanjut usia dan mulia. Lanjut usia, menjadi tua, dan memiliki rambut putih adalah harapan setiap orang. Harapan itu akan terwujud indah bila dijalani bersama pasangan dan anggota keluarga yang lain. Hal ini dikarenakan menjadi tua akan penuh tantangan yang bila dihadapi sendiri akan membuat seseorang berpikir ulang untuk menyanyikan lirik lagu “panjang umurnya.”
Dalam pesannya kepada anak muda untuk menikmati hidup yang kelak akan dibawa ke pengadilan Allah, Pengkhotbah pada pasal 12 memberikan gambaran tantangan menjadi tua, yaitu:
tak ada kesenangan (ay.1);
tua, lemah dan tertekan (ay.2);
tubuh mulai gemetar, gigi ompong dan mata kabur (ay.3);
pendengaran berkurang (ay.4);
takut ketinggian, jalan susah dan impoten (ay.5).
Semua itu merupakan gambaran kehidupan yang tentunya sulit bila tidak dilalui bersama keluarga yang saling melayani didasari karena “cinta”.
Saling melayani karena mencintai syarat utama untuk menjadi tua bersama. Itulah inti dari keluarga. Ingat kata “family” dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Latin “famulus”, yang artinya “servant” (dalam bahasa Indonesia diwakilkan dalam kata “pelayan”). Dalam dinamika untuk tua bersama, keluarga sebagai pelayan harus memiliki dua warisan ilahi yang dituliskan dalam Yesaya 25:1, yaitu kesetiaanyang teguh dan iman akan rancangan Allah yang ajaib.
Kebersamaan, apalagi di saat-saat sulit, hanya bisa dilalui dengan kesetiaan yang berlandaskan kasih. Setia berarti berpegang teguh pada janji, suatu wujud tanggung jawab iman sebagai seorang pelayan. Kasih dan setia harus selalu bersama karena kasih tanpa kesetiaan hanya meninggalkan luka dan kesetiaan tanpa kasih adalah sebuah perbudakan. Untuk menjadi setia (Inggris: faithful), kita butuh “iman”. Iman inilah yang meyakini bahwa Allah melaksanakan rancangan-Nya yang ajaib.
Menjadi tua bersama keluarga tidak sekadar dihiasi masalah kesehatan fisik, tetapi juga masalah ekonomi, dan pergumulan kehidupan yang lain dapat saja mengikutinya. Untuk dapat melalui itu bersama, harus ada keyakinan iman bahwa Allah sedang mengerjakan rancangan-Nya yang ajaib sehingga ketabahan dan kekuatan akan selalu ada. Tidak mudah melihat dan memahami keajaiban rancangan Allah tersebut. Oleh karena itu, kita perlu belajar untuk selalu menjadi penemu hal yang baik.
Kidung Agung mengajarkan bagaimana menjadi penemu barang yang baik itu. Lihat Kidung 4: 1–4, di dalamnya ada tujuh hal yang dipuji di malam pertama: mata, rambut, gigi, bibir, pelipis, leher, buah dada. Bandingkan dengan pujian dalam Kidung Agung 7: 1–5, ada sepuluh hal yang dipuji: langkah, pinggang, pusar, perut, buah dada, leher, mata, hidung, kepala, dan rambut. Seiring bertambahnya waktu, bertambah pula pujian. Ini menandakan bertambahnya pengenalan dan bertambahnya kemampuan melihat yang baik.
Ketika semua anggota keluarga meyakini bahwa di balik apa pun yang terjadi ada rancangan Allah yang baik dan menjadikan kasih setia sebagai wujud nyata iman, menjadi tua akan dapat dilalui bersama dengan sukacita dan semangat saling melayani. Katakan, “TUA: Tuhan Untuk-Mu Aku Ada.” Amin!
Oleh: Benny Dewanto, Kepala Bagian PK3 Sekolah Athalia
Tujuan Keluarga Kristen
Gary Thomas, penulis buku-buku pernikahan, mengutarakan pandangan yang jarang dipikirkan oleh banyak orang, yaitu makna keluarga adalah tentang kekudusan, bukan semata kebahagiaan. Thomas berkata bahwa keluarga Kristen perlu memikirkan dan mengarahkan tujuan perjalanan bahteranya pada tujuan kekudusan. Bagi Thomas, makna kekudusan memiliki nilai keutamaan ketimbang kebahagiaan. Sekalipun pandangan ini tidak populer di telinga banyak pasangan, sebagai keluarga yang perlu memikirkan warisan iman bagi setiap anak-anak, pandangan ini penting untuk direnungi.
Mari kita ikuti pemikiran Gary Thomas yang mendorong bahwa setiap keluarga Kristen seharusnya mengutamakan kekudusan ketimbang “kebahagiaan saja”. Dimulai dari pendalaman 1Korintus 7:1 yang berkata: “Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin.” Kutipan ayat ini mendorong kita untuk mengetahui mengapa Paulus menyarankan laki-laki tidak kawin. Bukankah nasihat ini terkesan bertentangan dengan pemeo pria bahwa mereka adalah mahluk yang memiliki hasrat besar untuk kawin? Rupanya Paulus hendak menyampaikan pesan tentang hasrat yang terkelola melalui kekudusan, bukan hasrat liar percabulan. Bila tidak mampu hidup dalam konsep kudus, lebih baik tidak kawin atau tidak menikah. Di luar konsep kudus, perkawinan menjadi perjalanan hasrat yang nyaris sama dengan percabulan. Kekudusanlah yang membedakan perkawinan yang benar dan dengan yang tidak benar.
Dari sisi inilah Gary Thomas memberikan perenungan bahwa sasaran kekudusan menjadi hal yang penting dalam kehidupan keluarga Kristen. Kudus adalah berbeda. Kudus adalah kekhususan, tidak serupa dengan dunia, tetapi serupa dengan Kristus. Keluarga Kristen yang berpusat pada Kristus seharusnya menjadi keluarga yang mengutamakan pertumbuhan melalui nilai-nilai Kristus. Keluarga Kristen adalah pelaku penuh hasrat tentang nilai-nilai Kristus. Sedemikian besar hasrat tersebut sehingga sekalipun harus berhadapan dengan kesulitan, sasaran kekudusan tetap dikejar ketimbang sekadar merasa bahagia. Membangun keluarga yang berpusat pada Kristus adalah keluarga yang hidup setia di dalam kuk bersama Kristus dan itulah sasaran nilai kebahagiaannya!
“Jangan sedih, dia sudah bahagia di surga…” adalah kalimat
penghiburan yang sering terucap. Apakah orang percaya tidak seharusnya bersedih
ketika menghadapi kematian orang yang dikasihi? Bagaimanakah seorang beriman
seharusnya menghadapi dukacita?
Sejak masa Perjanjian Lama sebenarnya sudah dikenal tradisi ratapan ketika seseorang meninggal. “Kemudian matilah Sara…lalu Abraham datang meratapi dan menangisinya (Kejadian 23:2). Penelitian empiris dalam dunia psikologi menemukan bahwa seorang yang mengalami kehilangan akan lebih mampu mengatasi dukacitanya bila kepedihan hati diberi ruang dan dibiarkan berproses (baca artikel berjudul “Memahami Dukacita”). Kehilangan bukanlah peristiwa sehari-hari yang bisa dihadapi dengan hati ringan, karena hidup tidak lagi sama. Maka wajar bila kita berduka.
Dukacita dalam Kehidupan Orang Beriman
Dalam Roma 12:15, Rasul Paulus menulis, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Paulus mengetahui bahwa dalam kondisi tertentu dukacita tidak bisa dihindari dan menangis adalah respons natural. Orang percaya diperbolehkan menangis. Orang percaya juga diminta untuk menopang mereka yang berduka, dengan cara menangis bersama mereka.
Di sisi lain, Paulus mengingatkan bahwa dukacita orang beriman berbeda karena orang Kristen memiliki harapan. “Selanjutnya kami tidak mau saudara-saudara bahwa kamu tidak mengetahui mengenai mereka yang meninggal, supaya kamu tidak berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan” (1 Tesalonika 4:13). Dalam teks asli Alkitab, Paulus menggunakan kata yang bermakna “tertidur” untuk menggambarkan seseorang yang telah meninggal. Paulus ingin menekankan bahwa orang percaya hidup dalam penantian akan kedatangan Yesus yang kedua kali. Mereka yang meninggal tidak hilang begitu saja, melainkan akan dibangkitkan kembali saat Yesus datang, bagai orang yang sedang tertidur kemudian akan bangun kembali. Bila saat itu tiba, kita akan bergabung bersama mereka dan tinggal selamanya bersama Tuhan dalam kemuliaan-Nya.
Paulus tidak mengabaikan atau menyangkal kebutuhan akan ruang untuk
emosi negatif. Paulus menekankan bahwa kematian bagi orang Kristen bersifat
sementara. Tak seharusnya orang Kristen berduka tanpa batas. Dukacita orang
Kristen adalah duka yang diwarnai oleh harapan. Ketika orang Kristen memahami
bahwa kematian orang percaya berarti dia pulang kepada Bapa, maka di tengah
dukacita tetap terpancar harapan yang memberi penghiburan sejati.
Cara Pandang Kristiani Terhadap Kehidupan dan Kematian
Yang sering kali menjadi persoalan adalah cara kita memandang
kehidupan ini. Di manakah fokus kita? Bagi Paulus, hidup adalah Kristus dan
mati adalah keuntungan. Namun, jika dia harus hidup di dunia ini, itu berarti
bekerja memberi buah (Filipi 1:21). Paulus menjalani hidupnya sebagai sesuatu
yang bersifat sementara dan harus diisi dengan bekerja bagi Kristus. Dia
menyadari bahwa hidupnya bukanlah miliknya, melainkan milik Kristus. Oleh
karena itu, pulang ke rumah Bapa dan berada bersama-sama Dia dalam kekekalan
adalah hal yang dirindukannya.
Dalam buku Grief Obeserved,
C.S. Lewis melukiskan bahwa seseorang bisa dengan santai terlibat dalam
permainan menyusun kartu bridge
hingga setinggi mungkin… satu demi satu kartu disusun ke atas diselingi tawa
dan canda di antara yang bermain bersama. Suasana akan berubah drastis ketika
seseorang harus bermain dengan mempertaruhkan nyawanya atau nyawa orang yang
dikasihinya. Setiap kesalahan kecil yang dibuat akan menyebabkan tumpukan kartu
jatuh dan konsekuensi fatal terjadi.
Memproses Dukacita
Demikian juga kita sering kali tidak sungguh-sungguh serius
menghadapi hidup. Lewis menuliskan bahwa seseorang memang kadang harus
mengalami kejatuhan fatal agar bisa menemukan akal sehatnya. Jadi, bila saat
ini kita menghadapi dukacita atau bergumul bersama mereka yang sedang berduka,
mungkin ini momen yang dianugerahkan bagi kita untuk berhenti sejenak dan
merenung… “Apa sebenarnya hakekat hidup
ini?”
Dalam jurnal yang berjudul “Saint Paul’s Approach to Grief: Clarifying the Ambiguity”, R. Scott Sullender, seorang psikolog, penulis buku, sekaligus profesor di sebuah seminari, menuliskan bahwa dalam konteks dukacita, tiap orang membutuhkan ruang untuk mengekspresikan emosinya. Namun, dalam proses itu kita membutuhkan struktur sehingga bisa mendapatkan jeda dan penghiburan yang kita butuhkan. Struktur itu bisa kita temukan misalnya dalam ritual ibadah dan pemahaman doktrin agama. Sebagai contoh, iman akan menimbulkan kebutuhan untuk berelasi dengan Tuhan walau mungkin hanya dengan berdiam diri dan menangis dalam doa. Pemahaman doktrinal akan membuat seseorang mulai mampu berdialog dengan diri sendiri atau mungkin mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Tuhan untuk mendapatkan peneguhan iman. Ritual ibadah juga akan memberi struktur yang serupa sehingga seseorang tertuntun dalam mengelola dukacitanya (lihat five stages of grief dalam “Memahami Dukacita”).
Tokoh yang Berduka dalam Kisah Alkitab
Kisah Ayub adalah contoh penggambaran keterpurukan seseorang akibat dukacita yang mendalam. Bahkan, Ayub berkata lebih baik dia tidak pernah dilahirkan ke dunia ini (Ayub 3:10-11). Dalam kepedihan hati dan kesakitan fisik, Ayub meneriakkan begitu banyak pertanyaan, bahkan menggugat Allah karena dia tidak paham alasan Tuhan menimpakan banyak musibah kepadanya. Dengan jujur Ayub mengungkapkan emosinya dan Allah membiarkannya. Namun dalam ayat-ayat yang begitu panjang dengan keluh kesah terlihat bagaimana Ayub tidak lari dari imannya pada Tuhan. Iman yang tak meredup membuat dia mengejar Tuhan untuk menemukan jawaban. Di akhir kisah Ayub, kita tahu bahwa Allah tidak menjawab pertanyaan Ayub, tetapi memberi respons yang sesungguhnya dibutuhkan Ayub. Dia membuka pengertian Ayub dan memberi diri-Nya dikenal hingga Ayub pun berkata, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”
Ayub bertumbuh melalui penderitaan karena iman. Bukan ketika kondisinya dipulihkan Tuhan, melainkan ketika dia bisa memandang Tuhan dengan pemahaman yang sejati. Iman menjadi mitigasi yang menghibur dan menguatkan dalam dukacita dan memberi jeda yang melegakan saat kita mengalami naik turun badai emosi. Sungguh sebuah eureka rohani ketika akhirnya kita bisa klik dengan apa yang Tuhan ingin ajarkan melalui berbagai misteri kehidupan.
Penghiburan di Antara Sesama Orang Percaya
Dalam pelayanannya, Paulus beberapa kali menunjukkan pentingnya penghiburan di antara sesama orang percaya. Hal itu dilakukan dengan beberapa cara.
Paulus memberi dasar pengertian yang benar mengenai natur dukacita, yaitu bahwa dukacita orang Kristen adalah sementara dan ada harapan akan sukacita mendatang.
Paulus mendorong agar sesama orang percaya menghibur dengan kata-kata yang memberi pengharapan dalam pengetahuan tentang kebenaran.
Paulus menekankan pentingnya interaksi langsung antarsesama orang percaya dalam memberi penghiburan. Ketika sedang berbeban berat, Paulus sendiri merasakan bagaimana kunjungan Titus dan Timotius sangat menguatkan dirinya. Dia pun sebisa mungkin berupaya mengunjungi jemaatnya untuk menghibur dan menunjukkan kasihnya yang besar kepada mereka.
Sekiranya tauratMu tidak menjadi kegemaranku maka aku telah binasa dalam sengsaraku (Mazmur 119:92)
Seorang gadis muda datang kepada sahabatnya dengan hati yang penuh luka. Mulutnya tak mampu membendung umpatan atas segala kekesalannya. Ia bercerita mengenai opa dan omanya yang selama ini telah mengasuhnya sejak usia 3 tahun. Sebagai seorang gadis muda, ia bertumbuh di dalam lingkungan kaum muda yang memberikan banyak gaya hidup. Namun, seiring dengan hal tersebut, opa dan omanya tidak dapat mengerti seluruh perkembangan gaya hidup anak muda zaman sekarang. Tidak aneh bila tiap hari terjadi keributan besar—hanya karena perbedaan nilai hidup. Ditambah lagi ketidakhadiran orang tua kandungnya karena perceraian. Jadilah gadis ini kehilangan arah nilai hidup.
Nilai hidup adalah sebuah dasar sekaligus pengarah hidup seseorang. Seseorang dapat melihat sebuah nilai hidup sebagai sesuatu yang bernilai atau tidak, dilatari oleh banyak hal yang beragam. Artinya, nilai hidup dipengaruhi oleh suatu hal yang tertanam di dalam diri seseorang. Penanaman pemahaman tentang nilai hidup membutuhkan intensitas yang terukur dan memerlukan terang rohani agar konsep nilai itu menjadi yang benar di mata Tuhan. Penanaman tersebut harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga.
Hal ini dapat dilihat dalam Kejadian 7:1 “… Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.” Di antara manusia lainnya, yang akan musnah karena nilai hidup yang tidak benar (dosa), Nuh dan keluarganya dibenarkan dan diselamatkan Tuhan. Ketaatan Nuh telah membawa keluarganya juga ikut taat masuk ke dalam bahtera. Tanpa proses penyampaian nilai hidup agar taat kepada Tuhan, tidaklah mungkin bahtera tersebut dapat diisi segala macam binatang dan Nuh sekeluarga.
Kunci Menemukan Nilai Hidup yang Benar dalam Keluarga
Untuk dapat menemukan nilai hidup yang benar di hadapan Tuhan membutuhkan hikmat. Tanpa hikmat, nilai hidup akan menjadi nilai yang bias, tidak tetap, dan mudah beralih. Hikmat mengarahkan manusia melihat apa yang dikehendaki Tuhan. Kisah Para Rasul 16:19-34 menceritakan kepala penjara yang bertobat ketika melihat Paulus dan Silas diselamatkan Tuhan. Kepala penjara mendapat hikmat bahwa peristiwa yang terjadi kepada Paulus dan Silas merupakan bukti bahwa Tuhan itu ada. Melalui hikmat, dirinya mendapatkan nilai hidup tentang injil. Nilai hidup itu dibawanya kepada seisi rumahnya, dan mereka merayakan sukacita keselamatan.
Mari kita hidup dengan aliran hikmat, hari demi hari. Karena dunia tidak akan pernah berhenti menawarkan nilai-nilai hidup yang menarik. Tugas kita sebagai orang percaya adalah mula-mula menggembalakan seluruh isi rumah untuk hidup dalam nilai hidup keselamatan. Jangan biarkan kita kering akan hikmat agar dapat melihat nilai hidup yang benar.
Yakobus 1:5 mengatakan, “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah …”. Kehadiran hikmat Allah akan menolong keluarga kita berjalan dengan penuh bijaksana. Melangkahlah bersama keluarga kita dengan hikmat Allah. Tuhan menolong kita semua.
Dalam Markus 6:30 kita membaca bahwa para murid melaporkan apa yang sudah mereka kerjakan dan ajarkan kepada orang-orang yang mereka jumpai. Pasti terjadi diskusi yang menarik antara mereka dengan Tuhan Yesus. Mungkin ada pujian, koreksi, dan lain-lain yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Pendek kata ada evaluasi yang Tuhan Yesus sampaikan kepada mereka.
Lalu pada ayat 31 kita membaca adanya ajakan Tuhan Yesus kepada mereka untuk pergi ke tempat yang sunyi untuk beristirahat di sana karena mereka baru saja melakukan pelayanan yang sangat melelahkan. Namun ketika Tuhan Yesus melihat orang banyak yang mencari-cari (membutuhkan) Dia, niat-Nya untuk beristirahat diurungkan-Nya (Markus 6:33,34). Ayat 34 mencatat bahwa hati-Nya tergerak oleh “belas kasihan” kepada mereka.
Makna Belas Kasihan
Belas kasihan adalah perasaan kasih yang ditunjukkan lewat perbuatan nyata. Markus 6:34b mencatat bahwa Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Mereka membutuhkan pengajaran Tuhan Yesus karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala (Markus 6:34a).
Perasaan belas kasihan-Nya tidak berhenti pada perasaan simpati dan atau empati saja tapi dilanjutkan dengan perbuatan memberi pengajaran kepada orang banyak yang terlantar tersebut. Bahkan ketika hari mulai malam Tuhan Yesus meminta murid-murid-Nya untuk memberi makanan kepada orang banyak yang baru menerima pengajaran-Nya. Orang banyak membutuhkan makanan jasmani setelah mereka menerima makanan rohani dari Tuhan Yesus. Perasaan belas kasihan-Nya kembali mewujud nyata dalam bentuk perbuatan yaitu memberi orang banyak makanan yang mereka butuhkan.
Ada banyak hal yang sangat menarik berkaitan dengan mujizat 5 ketul roti dan 2 ekor ikan. Ketika diberitahukan kepada Tuhan Yesus bahwa “modal” makanan yang mereka miliki hanyalah 5 ketul roti dan 2 ekor ikan, Tuhan Yesus tidak berkomentar negatif melihat perbandingan yang sangat tidak seimbang antara jumlah makanan dan jumlah orang yang butuh makanan, yang membutuhkan makanan ada lebih dari 5.000 orang (Markus 6:44).
Alkitab mencatat ada 5.000 orang laki-laki yang mendengarkan khotbah Tuhan Yesus pada waktu itu. Jumlah perempuan dan anak-anak yang hadir tidak ditulis. Mungkin ada 5.000 perempuan dan 5.000 anak-anak yang juga hadir menerima pengajaran Tuhan Yesus. Berarti totalnya ada +/- 15.000 orang yang membutuhkan makanan. Lalu Tuhan Yesus mengucap syukur dan membagi-bagikan roti dan ikan itu kepada mereka (Yohanes 6:11). Dan terjadilah mujizat. Roti dan ikan itu tidak kunjung habis. Semua orang mendapat makanan dan makan sampai kenyang (Markus 6:42). Bahkan masih tersisa 12 bakul penuh (Markus 6:43). Belas kasihan Tuhan Yesus yang disertai ucapan syukur menghasilkan mujizat yang mencukupi kebutuhan jasmani dan rohani 15.000 orang.
Refleksi
Bagaimana dengan perasaan belas kasihan yang kita miliki? Apakah perasaan tersebut mewujud nyata dalam bentuk perbuatan? Atau hanya berhenti pada perasaan simpati dan atau empati saja? Hanya berputar-putar pada poros perasaan kasihan semata. Kita cuma berkata, ”Kasihan ya bapak itu?” Namun tidak ada perbuatan nyata yang kita lakukan. Bahkan mungkin kemudian menggosipkan orang yang kita kasihani itu panjang lebar dengan teman kita. Ironis, bukan?!
Mengapa banyak orang hanya memiliki perasaan simpati dan atau empati saja tanpa disertai perbuatan nyata? Mungkin karena mereka sendiri belum pernah mengalami kasih ilahi dalam kehidupan mereka yaitu kasih Allah yang membawa-Nya naik ke bukit Golgota. Sehingga mereka tidak dapat membagikan kasih ilahi kepada orang lain karena kantong kasih mereka kosong melompong. Alkitab berkata bahwa Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita melalui kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib ketika manusia (kita) masih berdosa (Roma 5:8). Dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi, kita menerima kasih ilahi yang menyucikan kita dari segala dosa dan pelanggaran kita. Dengan modal kasih Allah tersebut kita dimampukan untuk mewujudnyatakan kasih kita kepada orang lain melalui perbuatan kita.
Ada banyak orang di sekitar kita membutuhkan injil Kristus. Ada banyak orang di sekitar kita membutuhkan uang kita, tenaga kita, telinga kita, waktu kita, nasehat kita, dan lain-lain. Maukah kita berbelas kasihan kepada mereka dengan memberitakan injil Kristus? Maukah kita berbelas kasihan kepada mereka dengan memberikan uang kita, tenaga kita, telinga kita, waktu kita, nasehat kita? Mari kita menjawabnya di hadapan Tuhan secara pribadi…