Kasih Sejati

Kasih Hal Terbesar dalam Kehidupan Orang Percaya (1 Korintus 1313)

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian PK3

Firman Tuhan Tentang Kasih

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”
— 1 Korintus 13:13

Ayat ini ditulis oleh Rasul Paulus untuk menjelaskan pentingnya kasih dalam kehidupan orang percaya. Paulus menegaskan bahwa kasih adalah yang paling besar di antara iman dan pengharapan.
Namun, bukan berarti iman dan pengharapan tidak penting. Sebaliknya, tanpa kasih, semua hal itu menjadi sia-sia di hadapan Tuhan.


Kasih: Dasar dari Ibadah dan Kehidupan Sehari-hari

Ketekunan kita beribadah, berdoa, dan melayani akan kehilangan makna bila dilakukan tanpa kasih kepada Tuhan.
Tanpa kasih, ibadah menjadi sekadar kewajiban dan formalitas rohani.

Demikian juga dalam kehidupan keluarga. Jika kita menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua, pasangan, atau anak tanpa kasih, maka kehadiran orang lain bisa terasa sebagai beban, bukan sukacita.
Kasih Kristus seharusnya menjadi dasar dan motivasi utama dalam setiap aspek kehidupan kita.


Kasih Sejati Menurut Henry Drummond

Dalam bukunya The Greatest Thing in the World, Henry Drummond menuliskan bahwa ujian terakhir dalam kehidupan rohani bukanlah seberapa benar atau suci kita di hadapan Tuhan, melainkan seberapa besar kita mengasihi Tuhan dan sesama.

Ia juga menjelaskan bahwa kasih sejati memiliki sembilan ciri penting:

  1. Sabar
  2. Baik hati
  3. Murah hati
  4. Rendah hati
  5. Tidak egois
  6. Tidak mudah marah atau terprovokasi
  7. Tidak dendam dan tidak memperhitungkan kesalahan orang lain
  8. Tulus dan jujur
  9. Menegakkan kebenaran

Melalui sifat-sifat ini, kasih sejati membawa kebaikan dan kebenaran, baik bagi kita sendiri maupun bagi mereka yang kita kasihi.
Inilah kasih yang Tuhan ingin kita nyatakan dalam kehidupan setiap hari.


Menghidupi Kasih Kristus dalam Kehidupan Sehari-hari

Melalui renungan ini, mari kita mengevaluasi kehidupan rohani kita:

  • Apakah kita sudah mengasihi Tuhan dengan segenap hati?
  • Apakah kasih Kristus nyata dalam relasi kita dengan keluarga, teman, dan sesama?

Kasih bukan hanya perasaan, tetapi tindakan nyata yang mencerminkan pengorbanan Kristus.
Sebagaimana Allah telah mengasihi kita dengan memberikan yang paling berharga — yaitu Yesus Kristus — demikian juga kita dipanggil untuk mengasihi Allah dan sesama dengan segenap hati, jiwa, dan kehidupan.


Kesimpulan: Kasih Adalah Puncak Kehidupan Rohani

Kasih adalah inti dari kekristenan dan puncak dari segala kebajikan.
Tanpa kasih, pelayanan kehilangan makna; dengan kasih, setiap tindakan menjadi ibadah sejati kepada Tuhan.

Kiranya kita terus belajar menghidupi kasih Kristus setiap hari — mengasihi Tuhan sepenuh hati dan menyalurkan kasih itu kepada sesama, agar hidup kita menjadi berkat dan memuliakan nama Tuhan.

Belajar dari Henokh yang Hidup Bergaul Dengan Allah

Oleh: Naomi Fransisca Halim – guru agama SMA Athalia

Renungan Ibadah Berdasarkan Kitab Kejadian 5:1-32

Pada tanggal 4 Januari 2023, Sekolah Athalia dan Pinus, telah mengawali tahun dan semester baru dengan ibadah secara onsite di aula C. Dengan suasana ruangan yang dipenuhi dengan lilin menyala, kami diajak untuk merenungkan kembali perjalanan kehidupan di sepanjang tahun 2022. Selain itu juga diajak memantapkan hati untuk perjalanan di 2023. Ibadah kali ini, dipimpin oleh Bapak Ishak Sukamto dan didasari dari Kitab Kejadian 5:1-32.


Dalam pembacaan silsilah ini, Pak Ishak mengajak kami melihat bahwa setelah manusia jatuh dalam dosa, maka pekerjaan manusia adalah hidup selama beberapa tahun, menikah, memperanakkan, mencapai usia sekian dan meninggal. Begitu seterusnya siklus ini terus berlangsung bahkan sampai zaman sekarang.


Menariknya, dalam perikop yang dibaca, Henokh, salah satu tokoh dalam cerita tersebut, merupakan tokoh yang memiliki umur yang terbilang lebih singkat dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain dalam kisah tersebut. Namun pertanyaan pentingnya bukan seberapa lama seseorang hidup tetapi seberapa berkualitas hidup itu atau bagaimana seseorang mengisi kebermaknaan eksistensi dirinya?

Kehidupan Henokh yang Singkat

Dalam perenungan ini, Pak Ishak memberikan satu frasa yang menarik, yaitu “No More.” Istilah ini merujuk kepada salah satu tokoh, Henokh yang pada akhir hidupnya tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah. Di tengah “singkat” hidupnya, Henokh menikmatinya dengan hidup bergaul dengan Allah. Dalam beberapa terjemahan lain Henokh berjalan bersama dengan Allah dan setelah itu, Henokh no more.

Belajar dari Henokh yang Hidup Bergaul dengan Tuhan dalam Masa Kehidupannya yang Singkat

Pada bagian ini, saya menyadari bahwa kematian merupakan sebuah keniscayaan. Walaupun Henokh dikisahkan tidak meninggal namun ia sudah tiada. Dalam ibadah ini ketiadaan ini disimbolkan dengan para guru dan staf merobek kain hitam yang sudah disediakan. Juga sebagai simbol komitmen kita untuk mau hidup seperti Henokh yang bergaul dengan Allah. Supaya bisa demikian, maka kita harus meninggalkan kehidupan lama kita yang disimbolkan dengan kain hitam yang disobek. Dalam perenungan saya, ketika merobek kain hitam tersebut dengan kuat, saya menyadari bahwa tangan saya terbuka. Bersamaan dengan saat itu, cuplikan lirik lagu yang dinyanyikan pun seakan menjadi doa saya. Ketika menyadari bahwa siklus kehidupan manusia sangat singkat, lagu tersebut mengingatkan saya untuk selalu “bersujud di hadapan-Nya. Juga untuk meminta Tuhan agar memenuhkan bejana diri saya dengan air sungai-Nya.”

Di tengah penyanderaan rutinitas kehidupan manusia, maukah kita mendisrupsi hidup kita dengan menjawab undangan Tuhan untuk datang, hidup bergaul dan berjalan bersama-Nya supaya tidak hanya kuantitas umur kita saja yang bertambah tetapi juga kualitas hidup kita. Biarlah pesan singkat ini menjadi rhema dalam kehidupan kita saat memasuki tahun yang baru ini sampai kita bertemu dengan Tuhan dan menikmati persekutuan sesungguhnya dengan Sang Pencipta Agung itu. Amin.

Allah adalah Sempurna (Ulangan 32:1-4)

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan, staf Kerohanian Sekolah Athalia

Ada banyak hal di dalam dunia ini yang bagi kita mungkin sangat berharga dan mampu melengkapi hidup kita. Tanpa hal-hal itu hidup terasa kurang. Lagu Andra and The Backbone yang berjudul Sempurna, juga mengisahkan tentang seorang wanita yang menurutnya begitu sempurna sehingga dapat melengkapi hidupnya. Namun jika kita renungkan, sesungguhnya semuanya itu bersifat fana, sementara dan dapat lenyap sekejap dan kapan saja. Jika kita menggantungkan hidup kita pada hal-hal yang sementara, kita hanya akan menerima kekecewaan dan kesedihan.

Satu-satunya Pribadi yang dapat kita andalkan hanyalah Tuhan. Ia, adalah Allah Pencipta kita, bukan pelengkap hidup kita yang kalau kita butuh baru kita datang kepada-Nya. Tuhan adalah sumber kehidupan kita. Semua hal dalam dunia boleh lenyap, asal ada Tuhan. Memiliki Tuhan berarti kita telah memiliki segalanya. Mengapa? Karena Ia adalah Allah yang sempurna; segala sifatnya dan/karakternya sempurna. Kebaikan-Nya sempurna, kasih-Nya sempurna dan kuasa-Nya pun sempurna.

Menyadari bahwa Allah kita adalah Allah yang sempurna maka:

  • Kita dapat mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan, Allah yang sempurna itu. Kita memang tidak bisa menyelami pemikiran dan kuasa-Nya yang sempurna karena kita terbatas dan Ia sempurna, namun kita dapat yakin bahwa kita dapat bersandar sepenuhnya di dalam Dia, Allah yang sempurna.
  • Kita belajar hidup sempurna untuk merefleksikan gambar kemuliaan-Nya. Sebagaimana Allah yang sempurna, Ia ingin kita juga hidup merefleksikan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu kita harus terus berjuang semakin serupa Kristus dalam seluruh aspek hidup kita supaya ketika orang lain melihat kita, mereka dapat melihat Kristus dalam diri kita dan memuliakan Bapa di surga (Matius 5:48).

Kiranya Tuhan menolong kita untuk menjadi pelaku firman-Nya, percaya penuh kepada-Nya dan belajar hidup makin serupa Kristus.

Bahasa Kasihnya Tuhan

bahasa kasihnya Tuhan

Oleh: Lili Irene, M.Th – Staf Kerohanian Sekolah Athalia

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia
dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih
aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing
(1 Korintus 13:1)

Penting yang Mana, Menguasai Banyak Bahasa atau Memiliki Kasih?

Berapa bahasa yang kita kuasai? Mungkin ada yang menguasai satu, dua, bahkan ada yang lebih. Bella Devyatkina, seorang anak usia empat tahun, memukau penonton televisi di negerinya, Rusia, karena berhasil menguasai enam bahasa asing sekaligus. Tentu suatu kebanggaan jika kita bisa menguasai berbagai bahasa yang ada di dunia. Lewat penguasaan berbagai bahasa, selain terlihat keren juga bisa memudahkan kita dalam pergaulan dan berelasi dengan semakin banyak orang.

Ayat 1 Korintus 13:1 menyentak kita dengan mengatakan bahwa sekalipun kita bisa berkata-kata atau menguasai semua bahasa bahkan bahasa malaikat sekalipun namun jika kita tidak mempunyai kasih maka itu sia-sia saja.

“Andai kata kulakukan yang luhur mulia, jika tanpa kasih cinta, hampa tak berguna. Ajarilah kami bahasa kasih-Mu agar kami dekat pada-Mu ya Tuhanku”. Ini adalah kutipan sebuah lagu yang sekaligus doa agar kita diajari bahasa kasihnya Tuhan. Ayat sekaligus nyanyian ini mengingatkan kita bahwa memang penting menguasai banyak bahasa, namun yang paling penting bagi kita orang percaya adalah menguasai bahasa kasih atau bahasa cintanya Tuhan.

Kata-kata dan Dampaknya

Mungkin ada di antara kita yang mempunyai kesulitan untuk bisa mengendalikan kata-kata sehingga begitu mudah mengucapkan kata-kata yang kasar dan makian ketika kita marah. Bahkan, ketika berusaha menerapkan bahasa kasihnya Tuhan dengan berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengatur bahasa yang kita gunakan, tetap saja ada kalanya kita masih terpeleset, bukan?

Bahasa yang kita gunakan sangat mungkin bisa menyakiti orang lain jika kita tidak berhati-hati. Mungkin kita pernah mendengar ada anak-anak atau orang-orang yang sakit hati atau memendam luka oleh kata-kata yang kasar, kritikan, atau dibanding-bandingkan dengan saudaranya/temannya. Semua itu menghancurkan harga diri mereka. Anak-anak yang sejak kecil mendengar kata-kata kasar dari orang di sekitar mereka, seperti orang tua, pendidik, ataupun teman-temannya akan hidup dalam kepahitan. Seorang anak yang tidak pernah dipuji untuk apapun yang ia kerjakan, malah dihina dan diejek, akhirnya putus asa dan memilih jalan pintas. Hal ini sungguh menjadi sebuah ironi, bukan?

Lima Bahasa Kasih

Gary Chapman dalam bukunya, mengatakan ada 5 cara untuk mengekspresikan bahasa kasih, yaitu:

  • Pujian (Words Of Affirmation)
  • Waktu bersama (Quality Time)
  • Tindakan Pelayanan (Art of Service)
  • Menerima Hadiah (Receiving Gift)
  • Sentuhan Fisik (Physical Touch)

Kelima bahasa kasih yang diungkapkan Gary ini adalah hal-hal yang juga anak-anak kita butuhkan dalam kehidupan mereka. Mereka memerlukan pujian, pemberian penghargaan, waktu yang kita berikan, sentuhan kehangatan, dan tindakan nyata kita kepada mereka.

Bahasa Kasihnya Tuhan

Hal penting yang perlu kita ingat sebagai orang tua dan para pendidik adalah untuk terus berdoa agar kita diajar bahasa kasihnya Tuhan. Dengan bahasa kasih itu kita dapat berkata-kata yang sifatnya membangun dan menguatkan bagi anak-anak dan orang-orang di sekitar kita.

Bahasa kasihnya Tuhan yang telah nyata diberikan kepada kita orang berdosa yaitu lewat pengorbanan-Nya. Ia rela mati di atas kayu salib, dihina dan dicemooh, namun tidak membalas. Dengan bahasa kasih yang lemah lembut Tuhan telah menerima kita orang berdosa. Ia berkorban, mengampuni dan menyelamatkan kita. Oleh karena itu, biarlah kita juga bisa memberikan bahasa kasihnya Tuhan lewat tutur kata yang lembut, membangun dan menguatkan bagi anak-anak kita dan orang-orang di sekitar kita. Kiranya Tuhan memampukan kita semua.

Berdoa bagi Indonesia

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan, staf Kerohanian Sekolah Athalia.

Kondisi Jemaat Kristen di Zaman Kaisar Nero

Jemaat saat itu mengalami tekanan yang besar. Kaisar Nero yang terkenal kejam adalah raja yang memerintah dan seringkali mengeluarkan keputusan yang mempersulit orang Kristen. Bahkan ketika ia melakukan tindakan korupsi, ia menjadikan orang Kristen sebagai kambing hitam. Sehingga oleh karenanya banyak orang Kristen yang akhirnya dianiaya karena imannya. Sekalipun demikian, Paulus tetap mendorong jemaat untuk berdoa bagi para pemimpin negara mereka. Paulus meminta jemaat untuk tidak berdoa bagi diri sendiri saja tetapi juga untuk orang lain termasuk raja-raja dan semua pembesar. Sebab hanya Tuhan yang dapat mengubah kekerasan hati para pemimpin dan melindungi mereka dari tekanan yang ada.


Kondisi Bangsa Kita

Hari ini kita berada di Indonesia dengan segala carut-marut kehidupan berbangsa dan bernegara. Sudah 77 tahun negara kita merdeka. Namun, entah berapa banyak rakyat yang sungguh-sungguh merdeka dari kemiskinan, bebas beribadah, mengenyam pendidikan, dan menikmati kerukunan. Ada begitu banyak kepentingan dari segelintir orang yang ingin meraup kenikmatan dengan cara memecah-belah persatuan bangsa dan bertindak korup dalam berbagai aspek. Kita mungkin sudah lelah dengan berbagai berita bobroknya negeri ini. Namun, di tengah semua itu, pernahkah kita bersyukur untuk hal baik yang masih ada di negeri ini? Pernahkah kita berdoa bagi bangsa Indonesia dalam doa pribadi kita? Sudahkah kita menaikkan permohonan dan doa syafaat bagi pemimpin bangsa ini dan semua jajaran pemerintahan? Sudahkah kita mendoakan mereka yang bertindak jahat agar Tuhan menyadarkan mereka? Ataukah kita lebih sering mengeluh dan mencela tanpa pernah berdoa bagi mereka?

Berdoa Bagi Indonesia

Melalui bagian firman Tuhan ini, kita diingatkan untuk tidak hanya berdoa bagi diri kita dan orang-orang yang kita kasihi saja. Kita diingatkan juga untuk berdoa bagi orang-orang di sekitar kita termasuk pemimpin negara kita yang duduk dalam pemerintahan. Doakanlah mereka supaya kekuasaan yang dipercayakan kepada mereka digunakan dengan bertanggung jawab untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Doakan juga supaya mereka yang bertindak jahat dan memecah belah bangsa melalui isu suku, agama dan berbagai hal lainnya disadarkan dari kejahatan mereka. Berdoa agar mereka berbalik dari segala kejahatan mereka dan belajar mencintai bangsa ini dengan benar. Mari kita belajar mengasihi negara di mana kita hidup, bekerja dan berlindung dengan cara mendoakan kesejahteraan dan keamanan bangsa ini.

PERUBAHAN dan PERTUMBUHAN

Tema Tapel 2022/2023

Board of Directors (BoD) menetapkan tema besar tahun pelajaran 2022/2023 adalah Back to School: The Year of Recovery. Selama pandemi COVID-19, pembelajaran berubah dari luring menjadi daring. Memasuki tahun ketiga pandemi, seiring menurunnya kasus COVID-19, maka pemerintah membuat kebijakan supaya pembelajaran kembali dilakukan secara luring. Tentunya akan ada banyak hal lagi penyesuaian atau perubahan-perubahan yang perlu dilakukan, supaya pemulihan bisa terjadi.

                Terlebih memasuki tapel 2022/2023 ada beberapa perubahan, yaitu: (1) persiapan menyambut kurikulum baru yaitu kurikulum Merdeka, (2) perubahan kurikulum karakter untuk lebih sistematis, dan (3) perubahan pembelajaran dari daring ke luring. Setiap perubahan perlu dikelola dengan baik, sehingga menghasilkan pertumbuhan iman di setiap individu dan organisasi. Oleh karena itu, pada kesempatan pembukaan tapel 2022/2023 Senin, 4 Juli 2022 sie kerohanian mengadakan pembinaan bertema “Perubahan & Pertumbuhan” yang dibawakan oleh Ev. Fini Chen dari SLH-SDH.

Bertahan di Tengah Perubahan

                Ev. Fini Chen mengawali pemaparan materinya dengan memperkenalkan sebuah buku berjudul “Thank You for Being Late” yang ditulis oleh Thomas L. Friedman. Buku ini ditulis dengan harapan menjadi panduan untuk bertahan di tengah dunia yang semakin cepat berakselerasi. Ada banyak perubahan di bidang teknologi yang semakin cepat yang berdampak pula terhadap globalisasi dan iklim. Perubahan-perubahan itu menimbulkan rasa sukacita menyambut sesuatu yang baru, tetapi juga membawa kepusingan tersendiri mempelajari hal-hal baru tersebut. Buku ini ingin menjawab pertanyaan, bagaimana hidup di masa akselerasi? Bagaimana menjaga agar langkah tetap selaras dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat dan memusingkan?

Hidup dan Melayani Secara Ilahi

                Dalam pembinaan ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: bagaimana hidup dan melayani secara ilahi di masa akselerasi?

Ada dua prinsip yang perlu dilakukan, adalah:

– Pancang

Galatia 4:19, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.”

Dulu yang menjadi agen budaya yaitu keluarga, sekolah, agama, media, kepemimpinan, dan hukum. Namun kini terjadi perubahan. Yang menjadi agen budaya yaitu media digital. Media digital menjadi penentu rasa, nilai, dan pemikiran (Vanhoozer, 2017).

Di tengah segala perubahan yang terjadi perlu diajukan pertanyaan yang tepat. Di dunia Pendidikan, pertanyaan tersebut harusnya terkait dengan humanitas, karena yang dididik adalah manusia. Mereka perlu dididik untuk mengenal Pencipta/Penebus dan hidup seturut gambar Pencipta-Nya sebagai manusia Allah. Pertanyaan-pertanyaan itu, adalah:

  • Manusia
    seperti apa saya-kamu-kita sebenarnya dan seharusnya?
  • Sudah
    berapa tepatkah saya-kamu-kita berubah?
  • Sudah
    berapa tepatkah saya-kamu-kita bertumbuh?

Setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda. Namun, sebagai komunitas, saya-kamu-kita perlu memiliki satu titik fokus perhatian yang sama yaitu visi dan misi lembaga/sekolah. Visi sekolah Athalia yaitu “Siswa yang Menjadi Murid Tuhan” sedangkan misinya yaitu “Mendidik siswa menghidupi rencana Tuhan baginya”. Setiap pribadi, saya-kamu-kita perlu melihat perspektif orang lain dan mengacu pada visi dan misi. Dengan demikian setiap pribadi berproses, sehingga bertumbuh menjadi semakin serupa Kristus.

– Pegang

Galatia 4:19, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.”

Setelah komunitas memiliki fokus yang sama, yaitu visi dan misi, maka perlu saling berpegangan tangan untuk meraih tujuan, karena perubahan-perubahan bisa membuat gamang yang menimbulkan rasa seperti sakit bersalin, namun pada akhirnya akan melahirkan pertumbuhan.

Kurva perubahan Kubler-Ross menunjukkan bahwa, perubahan berpotensi adanya pengalaman baru, keputusan-keputusan baru, dan pembaharuan tiap individu karena adanya integrasi.

Namun, jika saya-kamu-kita tidak saling memahami perspektif masing-masing orang, maka hanya akan bertahan di fase depresi dan tidak menghasilkan pertumbuhan karena menghasilkan tingkah laku organisasi yang tidak sehat. Setiap pribadi perlu memahami posisi orang lain di kurva perubahan dan berhati-hati supaya setiap perkataan maupun tindakan tidak membuat orang lain stuck.

Untuk menuju permulaan yang baru ada hal-hal yang perlu diubah atau dihilangkan, apa yang perlu dipertahankan. Selain itu hal yang perlu dilakukan lainnya yaitu membangun jembatan dengan melakukan diskusi dan argumentasi yang bernalar. Saya-kamu-kita perlu berpegangan tangan untuk bersama-sama bertumbuh dengan mengakhiri hal-hal yang tidak baik dan menuju memulai yang baik.

Acara pembinaan diakhiri dengan kegiatan refleksi pribadi kemudian saling berbagi di dalam kelompok devosi. Peserta mengendapkan dan merenungkan materi yang disampaikan lalu mengambil langkah nyata untuk siap menghadapi perubahan dan bertumbuh dengan mengandalkan kekuatan Tuhan.

Setelah mengikuti pembinaan ini, diharapkan komunitas Athalia semakin siap menghadapi berbagai perubahan yang menanti di tapel 2022-2023 dengan terus belajar memahami perspektif yang berbeda-beda. Namun tetap fokus pada visi dan misi sekolah dan berpegangan tangan sebagai sebuah komunitas, bersedia menanggung benefit & risk dari setiap perubahan, dan bertumbuh bersama-sama menuju awal yang baru. Dengan tekun menanggung rasa sakit bersalin, maka rupa Kristus menjadi nyata di setiap pribadi dan komunitas.

Allah yang Mahatahu dan Mengetahui Rahasia Hati Kita (Mazmur 44:21)

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan (orang tua siswa)

Firman Tuhan: Allah Mengetahui Rahasia Hati Kita

“…masakan Allah tidak akan menyelidikinya? Karena Ia mengetahui rahasia hati!”
— Mazmur 44:21

Ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan yang Mahatahu. Ia mengenal setiap ciptaan-Nya secara mendalam — sejak sebelum kita lahir, Ia sudah mengetahui tujuan hidup dan perjalanan kita.
Sifat Allah yang Mahatahu bukan hanya tentang pengetahuan tanpa batas, tetapi juga tentang pemahaman yang penuh kasih terhadap apa yang terbaik bagi kita, bahkan ketika cara-Nya tidak sesuai dengan rencana atau keinginan kita.


Kesaksian Pribadi

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kesempatan untuk memimpin PIT (Parents in Touch), yaitu persekutuan doa bersama orang tua dan staf/pendidik di Sekolah Athalia, sekolah Kristen di BSD, Serpong.
Namun, situasi saya saat itu cukup menantang. Saya tidak memiliki asisten rumah tangga, dan ketiga anak saya masih kecil — dua di antaranya mengikuti sekolah online, sementara si bungsu baru berusia empat tahun.

Saya pun berdiskusi dengan koordinator PIT dan menjelaskan kemungkinan akan terlambat datang karena harus menemani anak-anak, serta rencana membawa si bungsu saat kegiatan onsite berlangsung dan memohon maaf karena merasa tidak bisa melayani secara maksimal.

Selama minggu-minggu persiapan, saya terus berdoa:

“Tuhan, Engkau tahu isi hati saya. Saya mau melayani, tetapi kalau saat ini belum waktunya, saya akan menerimanya. Namun jika Engkau izinkan, tolong supaya anak saya bisa tenang ketika saya melayani, agar pelayanan tidak terganggu.”

Sempat terlintas untuk mengundurkan diri. Namun ternyata, cara Tuhan bekerja sungguh luar biasa dan di luar dugaan manusia.
Beberapa hari sebelum acara, angka positif COVID-19 kembali meningkat, dan akhirnya PIT diadakan secara online.
Dengan begitu, saya tetap bisa melayani dari rumah sambil menjaga anak-anak.

Saya tidak bersukacita karena pandemi, tetapi saya bersyukur karena Tuhan mengenal pergumulan saya dan memberikan solusi terbaik. Allah sungguh Mahatahu dan penuh kasih terhadap umat-Nya.


Belajar Jujur di Hadapan Allah yang Mahatahu

Pengalaman ini mengajarkan saya untuk selalu terbuka dan jujur di hadapan Tuhan.
Sering kali kita berkata, “I’m okay,” di hadapan orang lain, padahal hati kita sedang tidak baik-baik saja. Namun, Tuhan tahu segalanya, bahkan hal-hal yang kita sembunyikan dari orang lain.

Mazmur 44:21 kembali mengingatkan:

“…masakan Allah tidak akan menyelidikinya? Karena Ia mengetahui rahasia hati!”

Karena itu, marilah kita belajar seperti pemazmur — jujur dalam setiap keadaan, baik ketika bersukacita maupun ketika merasa lemah, kehilangan, atau khawatir.
Kita boleh datang kepada Tuhan dengan doa yang sederhana namun tulus:

“Tuhan, tolong saya yang lemah ini agar tidak tenggelam dalam perasaan-perasaan ini. Ajari saya untuk kembali memandang-Mu dan percaya penuh pada rencana-Mu.”


Kesimpulan: Allah Tahu yang Terbaik bagi Kita

Allah yang Mahatahu selalu mengetahui isi hati dan kebutuhan kita yang terdalam.
Ia tidak hanya menyelidiki hati, tetapi juga memahami dan menyediakan yang terbaik bagi setiap anak-Nya — sesuai kehendak-Nya, bukan keinginan kita.

Kiranya melalui renungan ini, kita semakin percaya bahwa Tuhan mengenal dan memelihara hidup kita sepenuhnya.
Jujurlah di hadapan-Nya, karena tidak ada yang tersembunyi bagi Allah yang mengetahui rahasia hati manusia.

Allah yang Tidak Berubah

Oleh: Ngatmiati, Staf Kerohanian Sekolah Athalia.

“Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian; seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah; tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan. Anak hamba-hamba-Mu akan diam dengan tenteram, dan anak cucu mereka akan tetap ada di hadapan-Mu.”
(Mazmur 102:26–28)


Allah yang Tetap Sama dari Dahulu, Sekarang, dan Selamanya

Ketidakberubahan adalah salah satu atribut Allah yang luar biasa. Sifat, kuasa, dan otoritas-Nya tetap sama dari masa ke masa.

Segala sesuatu di dunia akan menjadi usang dan binasa seiring waktu—namun Allah tidak pernah berubah. Ia tetap Allah yang sama dari dahulu kala hingga selama-lamanya.

Kesadaran akan hal ini membawa ketenteraman bagi orang percaya. Fakta bahwa Allah tidak berubah membuat kita mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan kehidupan, karena kita tahu bahwa kasih setia dan kuasa-Nya tidak pernah berkurang.


allah yang tidak berubah

Refleksi dari Sebuah Peristiwa di Pantai

Saya mendapat pengalaman berharga tentang hal ini ketika berlibur ke rumah keponakan pada akhir tahun lalu. Pada hari terakhir tahun itu—31 Desember 2021—saya menemani cucu keponakan bermain di pantai.

Pagi itu sedikit mendung, dan tidak lama kemudian hujan turun. Saya sempat bimbang: apakah sebaiknya tetap bermain di pantai atau kembali ke rumah? Akhirnya, kami memutuskan untuk tetap bermain sambil hujan-hujanan. Tak lama kemudian, hujan berhenti dan matahari kembali bersinar.

Tiba-tiba, cucu saya berteriak gembira, “Pelangi! Pelangi!”

Saya mendongak, dan benar—pelangi yang indah membentang di langit. Saat itu hati saya tersentuh. Rasanya seperti pesan pribadi dari Tuhan di penghujung tahun: saya akan menjalani tahun yang baru bersama Allah yang setia pada janji-Nya.

Keyakinan ini membawa ketenangan mendalam, sebab saya tahu bahwa kasih setia dan kuasa Allah tidak pernah berubah. Seperti Ia telah menyertai dan menolong saya di tahun-tahun sebelumnya, demikian pula anugerah-Nya akan terus nyata di tahun yang baru.


Pelajaran dari Seekor Anak Kucing

Masih di pantai yang sama, saat saya duduk santai, seekor anak kucing tiba-tiba mendekat dan duduk di pangkuan saya. Tak lama, ia tertidur dengan tenang. Ketika saya mencoba mengangkat tangan, kucing kecil itu menariknya kembali, seolah takut kehilangan kehangatan.

Momen sederhana itu membuat saya merenung:

Apakah saya juga seperti anak kucing itu terhadap Allah?
Apakah saya ingin selalu dekat dan tidak menjauh dari-Nya?

Karena hanya bersama Allah yang tidak berubah, saya dimampukan untuk menghadapi setiap tantangan hidup dengan tenang.

Kasih setia dan kuasa-Nya tidak lekang oleh waktu — tetap sama dari generasi ke generasi.


🌈 Penutup

Melalui pelangi dan kehadiran seekor anak kucing, Allah seakan mengingatkan bahwa Dia tetap setia dan tidak berubah. Di tengah dunia yang terus berganti, satu hal yang pasti:

Tuhan yang sama yang menolong kemarin, adalah Tuhan yang juga akan memelihara kita hari ini dan selamanya.

Tips Mengasihi Ketika Merasa Terluka

Mungkinkah seseorang mengasihi walau terluka? Pertanyaan ini mungkin menantang hati dan logika kita.

Bila mengasihi dalam kondisi terluka adalah sebuah pilihan, rasanya tidak banyak orang yang akan memilihnya. Kasih biasanya dinyatakan melalui sesuatu yang indah, menghibur, menyenangkan bahkan membahagiakan. Sangat jarang kasih diekspresikan melalui bentuk yang menyakitkan atau menyedihkan. Sebuah fenomena yang paradoks, mengasihi sekaligus terluka. Namun justru dalam paradoks itulah makna terdalam dari kasih terungkap.

Kisah paradoks ini, menjadi kisah yang spektakuler, kisah kasih yang berkorban dan menyelamatkan dunia. Kisah hidup Kristus, Sang Juruselamat. Dalam 1 Yohanes 3:16 tertulis, “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” Melalui kematian-Nya, Kristus menunjukkan kualitas kasih yang sejati.

Rasul Yohanes mengingatkan para pengikut Kristus untuk hidup meneladani Sang Juruselamat. Menyatakan kasih kepada sesama sampai menyerahkan nyawanya. Apa artinya hal ini bagi kita? Artinya, jika kita mengatakan bahwa kita mengasihi, akan ada pembuktian atas perasaan kasih tersebut. Karena kasih tidak berhenti pada perasaan, tetapi kasih dibuktikan melalui tindakan nyata dan pengorbanan diri.

Mengasihi Lewat Tindakan

Mengikuti teladan Kristus yang menyerahkan nyawanya bagi orang lain adalah tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri. Mengasihi artinya bersedia untuk menanggalkan ego, berempati, bahkan rela berkorban bagi orang lain. Untuk hal inilah kita, para pengikut-Nya dipanggil. Adakah kerelaan untuk tidak selalu mengutamakan diri sendiri?

Bila kita mengatakan bahwa kita mengasihi sesama kita, mengasihi orang-orang di sekitar kita, adakah kepedulian terhadap orang lain tampak dalam tindakan? Jika kita katakan bahwa kita mengasihi orang lain, adakah kita memiliki kerelaan untuk membantu, mendampingi, bahkan ikut menanggung kesulitan yang sedang dihadapi orang lain? Apakah kita berjuang untuk menghidupi kebenaran ini dalam diri, demikian kita dapat mengatakan bahwa kasih bukanlah sekadar perasaan, mengasihi adalah tindakan.

Perlu juga diingat bahwa tidak semua tindakan baik kepada orang lain didasari oleh kasih. Untuk dapat mengetahuinya kita perlu merenungkan motivasi kita dalam bertindak. Apakah sesuatu yang kita perbuat adalah tindakan yang disertai kasih, ataukah tindakan karena mementingkan kepentingan diri?

1 Korintus 13:3: “Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.”

Rasul Paulus mengingatkan untuk memperhatikan dasar dari tindakan kita. Manusia memiliki potensi untuk bisa melakukan sesuatu yang terlihat baik, tetapi tidak didasari oleh kasih. Manusia mudah melihat rupa. Ada orang yang sepertinya mengasihi, memberi dirinya untuk orang lain, tetapi dasar tindakan itu belum tentu berasal dari kasih. Kasih yang sejati tidak berpusat pada cinta akan diri sendiri. Mengasihi adalah tindakan yang rela mengorbankan diri dan tidak mengambil keuntungan dari orang lain.

Kasih dalam Keluarga dan Komunitas

Seorang ayah yang mengasihi anggota keluarganya akan membuktikan kasihnya melalui tindakan merawat dan melindungi seluruh anggota keluarganya dan bukan sebaliknya. Para orang tua akan bekerja keras demi keluarganya, melakukan tanggung jawabnya demi kesejahteraan anggota keluarganya. Namun, jika tidak disertai kasih kepada seluruh anggota keluarganya, misalnya tidak memberikan diri untuk relasi yang intim dengan keluarganya, dan hadir dalam kehidupan mereka, apakah mereka melakukan seluruh tanggung jawab tersebut karena kasih? Marilah kita merenungi adakah kasih itu hidup dalam diri dan apakah kehidupan kita meneladani kasih Kristus yang rela menyerahkan nyawa bagi orang lain?

Bagi tenaga kependidikan, yang telah bekerja keras dan rela berkorban demi pendidikan para murid, adakah kasih dalam diri, memiliki kerinduan untuk membangun relasi dengan para murid, dan mendasari seluruh tindakannya atas dasar kasih?

Baca Juga : Keluarga yang Bersyukur

Kita tidak dapat mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan, jika kita tidak berupaya keras mewujudkan kasih kepada Tuhan melalui seluruh aspek dalam hidup kita. Mengasihi artinya akan mengampuni walau dilukai, kasih sejati akan dengan sabar memberi kesempatan, kasih sejati akan bertahan dalam kesulitan, kasih sejati akan memampukan seseorang tetap mengasihi orang yang melukainya. Perwujudan kasih sejati tidak hanya tampak melalui kata-kata yang diucapkan atau tindakan yang dilakukan, tetapi juga melalui niat terdalam yang mendorong setiap perilaku. Kasih sejati hanya bersumber pada Dia yang telah menjalaninya terlebih dahulu. Di tengah relasi yang rapuh dan dunia yang sering menyakitkan, kasih yang lahir dari sumber ilahi akan tetap bertahan. Ia menjadi kekuatan yang memungkinkan seseorang untuk tetap mengasihi, bahkan ketika hatinya sendiri sedang terluka.

Artikel Oleh: Nostagia Pax Nikijuluw, M.Div.

Makna Sejati Takut Akan Tuhan

makna takut akan tuhan

Oleh: Sylvia Radjawane

Apa yang Kita Pikirkan Saat Mendengar Kata “Takut”?

Setiap mendengar kata takut, apa yang kita pikirkan?
Bagi banyak orang, kata ini sering diasosiasikan dengan hal-hal yang negatif. Namun, ada satu jenis rasa takut yang justru paling positif di dunia ini — yaitu takut akan Tuhan.

Rasa takut yang satu ini membawa saya untuk mengalami hubungan yang semakin akrab dan indah dengan Tuhan. Mengapa demikian? Karena dalam hubungan yang terjalin itu, saya mengenal Tuhan bukan sebagai pribadi yang menakutkan, melainkan sebagai Pribadi yang penuh kasih karunia dan kuasa, yang setia menemani setiap langkah hidup saya.


Belajar dari Kehidupan Musa

Saya belajar dari kehidupan Nabi Musa, yang ucapannya tercantum dalam Ulangan 9:19. Musa adalah tokoh Alkitab yang memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir.
Namun, perjalanan hidupnya yang fenomenal tidak terjadi seketika. Awalnya, Musa menolak tanggung jawab yang Tuhan berikan dengan alasan, “Aku tidak pandai berkata-kata.” Ia merasa tidak layak diutus untuk memimpin bangsa Israel menuju tanah perjanjian.

Ketika akhirnya Musa memutuskan untuk menjalani panggilan Tuhan, perjalanan itu membawanya kepada hubungan yang semakin karib dengan Tuhan.
Ia bahkan berani berkata, “Walau aku tahu Tuhan murka dengan apa yang sudah dilakukan bangsa Israel, tapi aku kenal Tuhanku dan Ia akan mendengarkan permohonanku.”
Pernyataan ini menunjukkan adanya hubungan yang istimewa antara Musa dan Tuhan — hubungan yang hanya bisa dialami oleh seseorang yang benar-benar takut akan Tuhan.


Pengalaman dalam Kehidupan Pribadi

Dalam pengalaman pribadi saya, takut akan Tuhan bukan berarti saya harus melakukan segala sesuatu yang baik hanya karena takut akan hukuman Tuhan. Saya bisa saja patuh kepada Tuhan, tetapi tanpa memiliki hubungan yang akrab dengan-Nya.

Namun, Tuhan menginginkan hubungan yang berkualitas dengan saya. Karena itu, saya memilih untuk hidup dalam takut akan Tuhan.

Saat saya hidup dalam rasa takut yang benar kepada Tuhan, hubungan yang karib dan istimewa dengan-Nya membuat saya memiliki kesadaran untuk tetap dekat dengan Tuhan — dan justru takut untuk menjauh dari-Nya.


Hidup Berkenan di Hadapan Tuhan

Perspektif ini membawa saya pada keputusan hidup seperti berikut:

“Saya memutuskan dengan sadar untuk memilih cara hidup yang berkenan dan menyenangkan hati Tuhan, karena hubungan kami sangat istimewa. Saya ingin mempertahankannya demi kebaikan saya sendiri, yaitu pertumbuhan iman saya.”

Apakah mudah melakukan komitmen seperti ini? Mungkin tidak.
Namun, saya percaya hanya Tuhan yang sanggup memperbesar kapasitas hati saya untuk memiliki dan menjalankan komitmen seperti ini.


Hadiah dari Tuhan

Tuhan berkenan kepada orang yang hidupnya takut akan Dia.
Selalu ada berkat dan hadiah yang menanti bagi mereka yang memiliki rasa takut yang benar — bukan karena rasa terpaksa, tetapi karena kasih dan penghormatan yang tulus.

“Fear ensures compliance; Fear of God inspires commitment.”
Rasa takut biasa menuntut kepatuhan; takut akan Tuhan menumbuhkan komitmen.