Belajar Karakter di Sekolah Athalia

Oleh: Grace Maharani Eraputri – Alumni SMA Athalia Angkatan XI

Perkenalan

Halo perkenalkan namaku Grace Maharani Eraputri alumni Sekolah Athalia, sebuah sekolah di Serpong. Aku alumni tahun 2023 dan sekarang aku sedang berkuliah di Universitas Indonesia jurusan Teknologi Bioproses. Puji Tuhan, aku bisa masuk ke jurusan impianku dan ikut bahagia dengan teman-teman lulusan Athalia yang lulus ke PTN (Perguruan Tinggi Negeri) dan jurusan yang mereka minati juga. Aku sangat bersyukur diberikan teman-teman seperjuangan, komunitas, dan sekolah yang sangat baik.


Siap masuk ke dunia perkuliahan tidak terlepas dari apa yang telah Athalia ajarkan dan bekalkan padaku. Nyatanya, iman dan karakter teguhlah yang menguatkanku selama berkuliah. Sekarang, aku mau sharing perjalananku bersama Tuhan selama bersekolah di Athalia.

Kisah Berjalan Bersama Tuhan Selama Belajar Karakter di Sekolah Athalia

Perjalanan yang cukup panjang aku habiskan di Athalia. Aku belajar dan bertumbuh di Sekolah Athalia sejak berumur 3 tahun, alias masih imut di play group. Awal play group aku sangat penakut, banyak anak-anak yang asik bermain tetapi aku cuma duduk mengamati. Tapi menariknya, aku tidak pernah sendiri. Tahukah mengapa? Karena selalu ada Bu Guru yang menggandengku, sama seperti Allah yang menyertai dari awal hidupku. Jadi, kalau kami lagi keluar dari kelas, pasti aku ada di paling depan karena digandeng oleh Bu Guru. Aku merasa diterima dan ketika satu tahun lewat, aku sudah jadi anak paling riang gembira di sekolah menyanyikan lagu-lagu karakter dan beraktivitas bersama teman-teman. Jadi dari cerita tersebut, aku jadi mengenali dan mempelajari karakter kasih. Ketika di Sekolah Dasar, aku dididik tentang penguasaan diri, tentang bagaimana menjadi anak yang taat, sabar, murah hati, setia, dan lain-lain.

Lalu bagaimana aku belajar karakter di Sekolah Athalia ketika di jenjang SMP dan SMA? Pengertian yang jauh lebih berharga lagi ada di SMP dan SMA, karena di sinilah aku mulai belajar peduli dan berkontribusi bagi sesama. Pak Jefry, Captain BB mengajarkanku menjadi orang yang bersandar pada Tuhan meski kondisi menakutkan dan meragukan. Meski mendaki ke gunung saat itu merupakan keputusan yang sulit buat aku, beliau yang meneguhkanku sampai akhirnya terbukti bahwa Tuhan menyertai kami. Jadi, sampai sekarang aku belajar untuk mengandalkan Tuhan dan bukan pengertian sendiri, caranya dengan berdaya tahan, sabar, dan tekun menghadapi segala sesuatu. Aku juga jadi memahami tujuan Tuhan dalam hidupku dan menurutku itu ajaib dan menarik.

Aku berterima kasih pada Athalia karena telah mendidikku jadi anak Tuhan yang bisa mengimplementasikan karakter-karakter Allah. Semua pengajaran ini akan sangat berguna di masa hidupku. Sekian, terima kasih sudah diberi kesempatan untuk berbagi lewat tulisan ini. Tuhan memberkati.

Kita Berharga di Mata Tuhan

Kita Berharga di Mata Tuhan

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian (PK3)

Yesaya 43:4
Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi Engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu

Firman Tuhan ini disampaikan oleh Yesaya kepada orang Israel yang saat itu berada dalam pembuangan. Pembuangan adalah masa di mana Israel dihancurkan oleh Babel dan orang-orang Israel diangkut keluar dari negerinya untuk menjadi budak di Babel. Hal ini terjadi sebagai hukuman atas dosa yang Israel lakukan. Namun, di tengah hukuman yang mereka rasakan, Tuhan tetap baik dan mengasihi mereka.

Sekalipun saat itu Israel belum bertobat, Ia tetap menjanjikan keselamatan kepada umat-Nya. Ia berjanji akan melepaskan mereka dari Babel dan mengembalikan mereka ke negerinya. Keselamatan Tuhan berikan kepada umat-Nya bukan karena Israel baik atau sempurna melainkan karena anugerah Tuhan semata. Tuhan memberikan keselamatan kepada umat-Nya karena di mata-Nya mereka berharga, mulia, dan Ia mengasihi umat-Nya.

Kiranya pengalaman Israel bersama Tuhan menjadi pengingat bahwa saat ini kita pun dikasihi-Nya. Tuhan memandang setiap anak-Nya berharga dan mulia sehingga memberikan yang paling berharga untuk menyelamatkan kita, yaitu nyawa Putra Tunggal-Nya, Yesus Kristus. Meskipun kita lemah dan terbatas, Ia tidak membuang kita. Sebaliknya, Ia mau terus merangkul dan menopang kita karena Ia mengasihi kita dengan anugerah-Nya. Percayalah dan bersyukurlah untuk kasih-Nya. Lebih daripada itu, Ia pun rindu, kita memiliki cara pandang dan sikap yang sama kepada sesama kita terutama pasangan dan anak-anak kita. Mari belajar menghargai kehadiran mereka, menerima dan mengasihi mereka dengan segala keunikannya sebagaimana Tuhan memandang kita berharga dan mengasihi kita.

Baca juga: Kita Berharga di Mata Tuhan

Merdeka dari Dosa VS Merdeka Berbuat Dosa

Merdeka dari Dosa VS Merdeka Berbuat Dosa

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian (PK3)

Galatia 5:13
Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.

Keselamatan Adalah Anugerah

Ajaran Yudaisme yang berkembang di Galatia mengajarkan bahwa untuk mendapat keselamatan, seseorang harus menaati hukum Taurat. Hal ini jelas bertentangan dengan apa yang Yesus ajarkan. Oleh sebab itu, Rasul Paulus menegaskan bahwa keselamatan itu adalah anugerah Allah, bukan usaha atau perbuatan baik manusia. Orang percaya telah dibebaskan dari kutuk dosa dan menerima hidup yang kekal karena anugerah Allah. Orang percaya adalah orang-orang yang merdeka dari dosa dan tidak berada di bawah hukum Taurat melainkan di dalam kasih karunia Allah.

Merdeka dari Dosa

Jika kita tidak memerlukan perbuatan baik untuk mendapat keselamatan, apakah itu berarti kita boleh hidup semau kita termasuk berbuat dosa? Tentu tidak. Paulus menuliskan bahwa memang orang percaya telah dimerdekakan dari dosa tetapi jangan menggunakan kemerdekaan itu untuk hidup dalam dosa. Kita sudah dibebaskan dari kutuk dosa dan diselamatkan dengan darah Kristus, mengapa kita mau kembali hidup di dalam dosa lagi? Merdeka dari dosa bukan berarti merdeka berbuat dosa. Sebaliknya, hal ini berarti tidak lagi berbuat dosa sebagai wujud syukur serta kasih kita kepada Allah dan agar nama-Nya dimuliakan melalui kesaksian hidup kita.

Hidup Menjadi Berkat

Mari kita menjadi saksi Tuhan dan menyatakan kasih kita kepada Tuhan melalui kehidupan yang merdeka dari dosa, hidup yang menjadi terang dan garam di mana pun kita berada dan juga dengan mengasihi dan menjadi berkat bagi sesama. Kiranya Tuhan menolong setiap kita. Tuhan Yesus memberkati.

Pembinaan Karyawan YPK Athalia Kilang Being Firmly Rooted, Being Build Up In Christ

Oleh: Sie Kerohanian (PK3)

Pembinaan Karyawan di Sekolah Athalia

Pembinaan karyawan Sekolah Athalia (YPK Athalia Kilang), sebuah sekolah di Serpong, tahun ini mengundang Ev. Hellen Pratama untuk menolong peserta kembali mengevaluasi kehidupan pribadi-Nya dengan Tuhan.

Kolose 2:6-7 mengingatkan peserta bahwa perjalanan sebagai murid Kristus adalah sebuah perjalanan yang progresif dan harus didasari oleh pengenalan yang benar tentang Tuhan serta adanya relasi yang intim dengan Tuhan. Perjalanan spiritualitas atau pembentukan spiritualitas (spiritual formation) yang demikian, bukanlah hal yang bisa terjadi secara alami melainkan harus dilakukan secara sengaja dan dalam sebuah komunitas dengan pertolongan Roh Kudus. Sehingga dengan demikian pada akhirnya orang percaya dapat menjadi makin serupa Kristus, memuliakan Tuhan dan menjadi berkat buat sesama.


Formasi spiritual terjadi dalam keseharian orang percaya. Setiap hari orang percaya diperhadapkan pada pilihan dan pilihan-pilihan yang dibuat menentukan apakah seseorang akan makin mendekat kepada Tuhan atau menjauh dari Tuhan. Hal yang ingin dicapai dalam formasi spiritualitas adalah seseorang yang mengasihi Tuhan, diri dan sesama dengan benar. Selain itu juga dapat bertumbuh menjadi seorang yang makin utuh dan kudus, hidup dengan jati diri yang sejati dalam Kristus (David Benner).


Berikut Empat Krisis dalam Kerohanian dan Penyebabnya:

  • Narsisisme (lebih mencintai diri sendiri daripada Tuhan),
  • Pragmatisme (mengutamakan hasil yang menguntungkan daripada apa yang benar di mata Tuhan),
  • Konsumerisme (mendorong kita untuk membeli apa yang tidak perlu dan menuntut situasi untuk selalu memuaskan diri)
  • Burn-out (kelelahan, terus melakukan aktivitas dan tidak beristirahat dengan benar).

Hal yang mendorong munculnya krisis kerohanian adalah hidup dalam manusia lama yang dibentuk oleh dunia ini. Dunia melihat manusia dari apa yang saya punya, apa yang saya lakukan dan apa kata orang sehingga manusia berusaha tampil seperti yang dunia inginkan.

Cara Mengatasi Krisis

Cara mengatasi krisis rohani adalah dengan sengaja menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru (Efesus 4:22,24). Untuk itu peserta perlu belajar lebih mengenal diri dan mengenal Tuhan sebab makin seseorang mengenal Tuhan, ia akan mampu makin mengenal diri, demikian sebaliknya. Peserta juga harus mendisiplin diri dan terus berlatih hidup sebagai manusia baru. Peserta perlu terus mengevaluasi diri, jujur di hadapan Tuhan dan izinkan Tuhan memproses kehidupannya.

Demikianlah pembinaan kali ini menolong setiap karyawan Athalia melihat relasinya dengan Tuhan lebih penting dari hanya sekadar menjadi pengikut saja. Relasi yang makin dekat dengan Tuhan menolong setiap karyawan untuk hidup terus diubahkan oleh Roh Kudus. Juga makin hari makin menjadi murid Kristus yang menyerupai Dia dalam setiap aspek kehidupan, sehingga nama Tuhan dimuliakan dan setiap karyawan hidupnya bertumbuh dan menjadi berkat.

Soli Deo Gloria. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.

Tetap Melangkah Bersama Tuhan

Tetap Melangkah Bersama Tuhan

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian (PK3)

Yosua 1:9
Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.

Frasa kuatkan dan teguhkanlah hatimu serta janji penyertaan Tuhan tertulis beberapa kali dalam bagian ini. Mengapa? Mungkin karena kegentaran yang dirasakan Yosua sangatlah besar. Sebagai orang yang ditunjuk untuk menggantikan Musa, ia harus memimpin bangsa yang besar dan keras kepala. Di zaman Musa saja, ada begitu banyak pemberontakan sehingga Musa yang terkenal lembut hatinya bisa sangat marah menghadapi Israel. Di saat yang sama, ia juga harus memimpin peperangan melawan bangsa asing untuk menduduki tanah perjanjian. Orang Israel tidak ahli berperang karena mereka dulunya adalah budak di Mesir dan peralatan perang mereka pun sederhana sedangkan musuh yang dihadapi sangat kuat.

Melalui firman-Nya, Tuhan berulang kali meneguhkan Yosua bahwa dia tidak sendiri. Tuhan mau Yosua ingat bahwa Ia hadir dan menyertai Yosua dan bangsa Israel. Jika Tuhan yang ada di pihak mereka, tidak akan ada yang dapat mengalahkan mereka. Asal mereka tetap melakukan firman Tuhan dengan sungguh-sungguh dan setia, Tuhan berjanji tidak akan meninggalkan mereka. Dan janji penyertaan Tuhan ini juga berlaku bagi setiap anak-anak Tuhan hari ini.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk tidak takut menghadapi apa pun yang akan terjadi di depan sebab Ia berjanji akan menyertai kita. Adapun yang Ia minta dari kita adalah tetap hidup dalam firman-Nya dan mengandalkan Dia. Karena itu tetaplah melangkah bersama dengan Tuhan dan jangan bersandar pada hikmat dan kekuatan kita sendiri. Ia, Allah yang setia akan terus menopang kita senantiasa.

Mengakhiri dengan Baik

Mengakhiri dengan baik

Oleh: Ngatmiati – Staf kerohanian Sekolah Athalia

Sebuah peribahasa berbunyi, “hangat-hangat tahi ayam”. Peribahasa ini mengandung makna melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh hanya di awal. Pada awalnya giat atau semangat melakukannya, namun pada akhirnya mulai malas dan akhirnya mungkin saja pekerjaan yang dilakukan tidak terselesaikan. Hal yang penting bukan hanya kita memulai dengan baik, namun juga perlu menyelesaikannya dengan baik pula.

Teladan Paulus

Hal ini mengingatkan kita pada frasa yang diucapkan oleh Rasul Paulus di dalam Kisah Para Rasul 20:24 dan 2 Timotius 4:7. Di kedua ayat tersebut, Paulus menyinggung tentang mencapai garis akhir. Paulus menggambarkan perjalanan hidupnya sebagai suatu pertandingan. Pertandingan di dalam bahasa aslinya mengandung makna perlombaan, perjuangan, dan pergumulan. Paulus telah memulai pertandingan dengan baik, ia pun rindu bisa mengakhirinya dengan baik pula. Secara khusus pertandingan yang dimaksudkan oleh Paulus adalah pertandingan iman dalam berjuang memberitakan atau menyaksikan Injil kasih karunia Allah. Dalam pertandingannya itu, Paulus mengalami banyak tantangan dan pergumulan (Kis. 20:19; 2 Kor. 11:23-28). Meski demikian, Paulus menolak untuk menyerah. Ia tetap memelihara imannya sampai akhir sambil terus bergantung pada kasih karunia Tuhan yang melimpah dalam hidupnya.

Bagaimana dengan Kita?

Sama halnya dengan Paulus, kita semua sedang menjalani pertandingan iman di dalam hidup kita dalam peran kita masing-masing di mana pun kita berada. Untuk dapat mencapai garis akhir dengan baik seringkali tidak mudah. Ada banyak tantangan yang kita hadapi yang menggoda kita untuk berhenti di tengah jalan ataupun menjalaninya dengan tidak benar. Hendaknya dalam menjalani setiap pertandingan yang kita ikuti kita senantiasa memelihara iman kita. Apapun kesulitan yang kita hadapi kita jalani dengan iman dan ketaatan kepada Tuhan. Terlebih lagi dalam setiap pertandingan kita, mari kita jadikan itu sebagai ajang untuk menyaksikan Injil kasih karunia Allah yang telah kita terima kepada orang-orang di sekitar kita. Baik itu anak didik kita, rekan kerja kita, anggota keluarga kita, maupun di lingkup yang lebih luas dalam pelayanan maupun bermasyarakat. Sebagaimana Paulus menantikan mahkota yang Tuhan sediakan baginya jika ia mencapai garis akhir dengan tetap memelihara imannya, mari jadikan itu sebagai penyemangat bagi kita.

Baca juga: Setia Sampai Akhir

Setia Sampai Akhir

setia sampai akhir

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian PK3

1 Korintus 9:24
Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!

Dalam bagian firman Tuhan ini, Paulus menjelaskan bahwa ia adalah manusia bebas karena Kristus telah menyelamatkannya. Namun, ia tidak mau menggunakan kebebasannya untuk hidup sembarangan. Sebaliknya, ia berusaha menjaga kehidupannya sedemikian rupa supaya melalui hidupnya yang baru ia dapat bersaksi tentang Tuhan dan menjadi berkat untuk orang lain. Paulus bersikap demikian karena ia sadar bahwa keselamatan yang diperolehnya adalah anugerah yang dibayar mahal oleh Kristus. Mengikut Kristus tidak boleh setengah-setengah dan harus setia sampai akhir.

Kehidupan mengikut Kristus diumpamakan seperti sebuah pertandingan oleh Paulus. Dalam sebuah pertandingan, kita tidak boleh hanya bersemangat dan gigih di awal, namun harus menuntaskannya sampai akhir dengan sekuat tenaga untuk memperoleh mahkota. Demikian juga dalam mengikut Kristus. Ketika pertama mengenal Kristus, kita mungkin begitu bersemangat dan mau melakukan segala sesuatu untuk Tuhan. Namun dengan berjalannya waktu, tanpa sadar semangat dan kasih yang mula-mula mulai surut. Doa, ibadah, baca Alkitab dan hal-hal rohani lainnya bisa jadi terasa hambar, tidak lagi menggetarkan hati. Belum lagi ketika kesulitan yang tak kunjung usai membuat kita lelah untuk terus bertahan dalam iman hingga akhir. Atau, mungkin juga ketika segala sesuatu terlalu lancar, kita melihat berkat Tuhan sebagai hal yang biasa sehingga kita makin kehilangan arah dan jauh dari Tuhan.

Bagaimana dengan kita hari ini? Masihkah kita berjuang dengan gigih untuk terus dekat kepada Tuhan? Melalui firman Tuhan ini, kita diingatkan untuk tidak membiarkan hambatan apapun menghalangi kita dengan gigih mengikut Tuhan seumur hidup kita. Mari kita terus berjuang setia sampai akhir sehingga dalam pertandingan iman, kelak kita memperoleh mahkota surgawi.

Allah Menyediakan (Jehovah Jireh) Kisah Para Rasul 14:17

Allah Menyediakan (Jehovah Jireh)

Oleh: Tri Ananda – Kepala Bagian SDM YPK Athalia Kilang

Makna “Menyediakan”

Kata “menyediakan” menurut KBBI memiliki arti mengadakan (menyiapkan, mengatur dan sebagainya) sesuatu untuk yang lain.1 Bagi Allah yang berdaulat atas segala ciptaan-Nya, ditunjukkan dengan cara Dia menyediakan segala sesuatu untuk ciptaan-Nya. Namun, segala sesuatu itu apa? “Segala sesuatu” memiliki makna “tidak terbatas (unlimited)”. Pengetahuan manusia yang terbatas tidak mampu mengidentifikasi apa saja yang tidak terbatas itu. Meski demikian, setiap kita tentu memiliki pengalaman rohani bagaimana Allah menyediakan “sesuatu” sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing.

Dari Kisah Para Rasul 14:17 yang disediakan Allah yaitu: “berbagai-bagai kebajikan: menurunkan hujan, memberikan musim subur, memuaskan hati dengan makanan, dan kegembiraan”. Allah begitu baik (bajik), sehingga Dia menyediakan hal-hal baik yang dibutuhkan manusia tanpa membeda-bedakan hingga manusia merasa puas hati dan gembira. Dalam perenungan pribadi saya terhadap ayat ini, saya mendapatkan bahwa Tuhan menyediakan:

Apa yang tidak dapat disediakan manusia

Tuhan menyediakan musim hujan bagi manusia. Meskipun sekarang ada hujan buatan, tetapi terbatas pada destilasi dan belum tentu berhasil. Hal yang menyentuh hati dan mendatangkan sukacita adalah Allah menyediakan keselamatan yang tidak bisa diperoleh manusia dengan upayanya sendiri.

Untuk kebaikan manusia

Tuhan mendatangkan kegembiraan dan kepuasan hati. Dalam hal ini kita juga harus terus belajar meyakini bahwa kesedihan atau bahkan penderitaan, Tuhan izinkan untuk kebaikan manusia.

Dengan memampukan manusia

Tuhan memakai dan memampukan manusia sebagai rekan sekerja-Nya untuk menjadi alat Tuhan dalam menyediakan sesuatu untuk sesama manusia.

Allah yang Maha Menyediakan

Kebajikan Allah kepada manusia tidak bergantung pada apa yang dilakukan manusia. Di ayat 16 dikatakan bahwa, “Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing”. Lalu, di ayat 17 diawali dengan kata “namun” yang menunjukkan manusia menuruti jalannya masing-masing, tetapi Allah tetap menyediakan berbagai kebajikan. Allah menyediakan segala sesuatu dalam kondisi apapun, termasuk ketika kita masih menjadi seteru Allah. Dia telah menyediakan keselamatan bagi manusia melalui Tuhan Yesus Kristus.

Mengalami Jehovah Jireh

Saya akan membagikan salah satu hal yang Allah sediakan bagi keluarga kami yaitu menyediakan arah hidup bagi anak kami. Ada tiga peristiwa yang ingin saya bagikan, pertama pada saat anak kami usia TK, kami melihat dia memiliki bakat menyanyi. Kami selaku orang tua berpikir mungkin anak ini kelak bisa menjadi idola cilik, maka kami membawa anak kami ke tempat les musik dan tarik suara untuk mendaftar. Namun, anak kami menolak dan lebih memilih les piano, karena merasa sudah cukup belajar tarik suara dari kak Nina.

Kedua, saat anak kami kelas IX terjadi ketegangan di antara kami orang tua dengan anak saya, karena dia ingin melanjutkan SMA di sekolah negeri. Kami tidak kuasa menahan keinginannya dan kami pun menyerah. Namun, Tuhan memberikan pengertian kepada anak kami, sehingga dia tidak jadi melanjutkan di sekolah negeri.

Ketiga, pada saat anak kami lulus SMA hal yang sama juga terjadi berkaitan dengan pemilihan jurusan kuliah dan kampus. Tetapi, kami pun menyerah dan membiarkan anak kami pada pilihan yang diminatinya.

Dari setiap kejadian itu, kami sebagai orang tua yang naif belajar bahwa Allah telah menuntun dan menyediakan arah bagi anak kami dan kami ingin seperti “Silas dan Timotius tinggal di Berea” menantikan pelayanan Paulus. Kiranya Tuhan menolong.

Kisah ini berawal dari ayat yang kami pahami, yaitu ayat dari Kisah Para Rasul 17: 14 “Tetapi saudara-saudara menyuruh Paulus segera berangkat menuju ke pantai laut, tetapi Silas dan Timotius masih tinggal di Berea”. Secara ringkas dari ayat ini kami memahaminya bahwa Allah telah menuntun dan menyediakan arah yang harus dilalui Paulus dalam pelayanannya. Ayat ini yang menjadi dasar bagi saya untuk menceritakan tiga kejadian di atas.

1https://kbbi.web.id/sedia-2

Ganjaran dari Tuhan yang Mendatangkan Kebaikan

Oleh : Lili Irene – Staf kerohanian PK3

Ganjaran dari Tuhan yang Mendatangkan Kebaikan

Di antara kita mungkin pernah mengajukan pertanyaan ini, “Kenapa aku menderita, harus mengalami masalah ini, harus menanggung ganjaran ini, atau kenapa Tuhan meninggalkan aku? Mungkin masih banyak lagi pertanyaan kenapa lainnya yang kita tanyakan. Terkadang pertanyaan tersebut bisa saja jawabannya adalah karena kesalahan kita sendiri. Kita menderita akibat apa yang kita lakukan.

Renungan Ibrani 12:1-11

Rasul Paulus menuliskan kitab Ibrani khususnya pasal 12 ayatnya yang ke 1-11, ia menekankan pada nasihatnya perihal kesabaran dan ketekunan ketika kita harus menghadapi penderitaan sebagai orang percaya. Dikatakan pergumulan orang percaya ketika harus melawan dosa belum sampai mencucurkan darah. Maksudnya melawan dosa adalah berjuang demi suatu tujuan yang baik karena dosa adalah musuh kita. Kita terus-menerus berjuang untuk melawan keinginan daging kita. Melawan berbagai karakter yang tidak baik dalam diri kita, melawan bujukan iblis untuk tidak taat pada Tuhan dan sebagainya.


Ketika penderitaan datang mungkin saja diakibatkan karena kita sedang berjuang melawan dosa. Waktu kita gagal dalam melawan dosa, kita harus ingat kepada didikan, teguran, atau ganjaran dari Tuhan karena kita adalah anak-anak-Nya. Dalam ayat 7 dikatakan bahwa jika kamu harus menanggung ganjaran, Tuhan memperlakukan kita sebagai anak. Adakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Seorang ayah bisa saja memberikan ganjaran kepada anaknya untuk kebaikan anak tersebut. Memang dikatakan pada waktu ganjaran diberikan tentu saja tidak mendatangkan sukacita melainkan dukacita. Tapi ingatlah kemudian hasilnya adalah buah kebenaran dan damai sejahtera.

Sikap dalam Menerima Ganjaran dari Tuhan

Matthew Hendry dalam tafsiran surat Ibrani mengatakan penderitaan yang ditanggung dengan sikap benar, meskipun hal itu merupakan buah rasa tidak senang Tuhan, tetap saja merupakan bukti kasih kebapaan-Nya terhadap umat-Nya dan kepedulian-Nya terhadap mereka (ay.6-7). Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya dan Ia menyesah orang yang diakuinya sebagai anak.


Anak-anak Allah yang terbaik membutuhkan ganjaran ketika mereka melakukan kesalahan yang perlu diperbaiki. Allah akan menolong kita memperbaiki dosa yang kita lakukan sebagai anggota keluarga-Nya dan Ia akan menegur mereka ketika dibutuhkan. Allah bertindak sebagai ayah dan memperlakukan mereka sebagai anak-anak-Nya. Tidak ada ayah yang bijaksana yang menutup mata terhadap kesalahan anak-anaknya sendiri.


Teguran Tuhan sebagai Bapa tidak dimaksudkan untuk membuat kita sedih atau menderita. Teguran selalu untuk kebaikan kita dengan tujuan untuk memperbaiki dan membuat kita berperilaku menyerupai Dia. Pada akhirnya rasul Paulus menganjurkan agar kita rendah hati dan tunduk terhadap Bapa Surgawi kita pada waktu menerima teguran dari-Nya.


Dalam konteks hubungan relasi orang tua dan anak di dunia ini pun lebih kurang demikian. Orang tua tidak hanya mengasihi anak-anak mereka namun mereka juga mendidik dan menegur mereka jika mereka melakukan kesalahan. Orang tua juga mendampingi anak-anak agar mereka bisa menghadapi setiap konsekuensi akibat kesalahan yang mereka lakukan. Memberi anak-anak ganjaran yang sepadan namun tetap mendampingi dan memeluk mereka ketika mereka dalam proses untuk berubah.


Kiranya kita sebagai anak-anak Allah juga belajar terus tunduk ketika kita ditegur atau diganjar oleh-Nya. Dan dengan rendah hati kita menerima semua didikan Tuhan dalam bentuk apapun dan berproses terus-menerus untuk berubah menjadi lebih baik dan menyerupai Allah. Ganjaran Tuhan selalu mendatangkan kebaikan. Tuhan menolong kita semua.

Mendidik Anak: Menggandeng atau Menggendong?

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian PK3

Mendidik Anak Menggandeng atau Menggendong

Ulangan 32:11
Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya,

Pesan dari Musa

Musa memberikan pesan-pesan di saat terakhirnya kepada umat Israel melalui sebuah nyanyian. Dalam pesannya, ia mengingatkan Israel bahwa dalam perjalanan iman bersama Tuhan, kadang Ia mengizinkan umat-Nya mengalami masa sulit namun tidak meninggalkan mereka berjalan sendiri. Seperti induk rajawali ketika mengajar anaknya untuk terbang, ia akan dengan sengaja membongkar sarang, lapis demi lapis sampai tersisa lapisan yang kasar dan keras supaya anaknya keluar dari kenyamanan. Ia bahkan mendorong anaknya ke ujung tebing lalu menjatuhkannya supaya anaknya belajar mengembangkan sayap dan melatih ototnya. Namun, ketika anak rajawali terlihat seperti dibiarkan jatuh oleh induknya dan akan mati, tepat pada saat itu pula sang induk akan mengembangkan sayapnya dan menangkapnya kembali. Hal ini dilakukan berulang kali sampai anak itu dapat terbang.


Sekilas kita mungkin berpikir sang induk kejam, namun sebenarnya apa yang induk rajawali lakukan adalah untuk menolong anaknya supaya menjadi seekor rajawali yang kuat, tangguh dan mampu bertahan hidup. Demikian juga dengan Tuhan ketika Ia mengijinkan kita mengalami pergumulan. Sesungguhnya ia sedang mendidik kita agar bertumbuh dalam iman. Ia mau kita semakin tangguh menghadapi zaman ini dan tetap memiliki iman yang teguh apapun keadaannya.

Saat Mendidik Anak: Menggandeng atau Menggendong?

Sebagaimana Tuhan mendidik kita untuk makin dewasa, kiranya setiap kita juga belajar untuk mendidik anak-anak kita agar makin kuat dan mandiri. Jangan sampai atas nama kasih kita tidak mengijinkan anak mengalami kesulitan. Kita memperlakukan mereka seperti seorang bayi yang harus terus ‘digendong’ dan ‘disuapi’. Akibatnya, anak-anak tidak siap menghadapi kesulitan hidup dan tantangan zaman. Orang tua tidak bisa selamanya menemani anak, karena itu mari latih anak untuk mandiri dan bertanggung jawab atas hidupnya. Dalam prosesnya, doakan mereka, gandeng mereka dan topanglah jika diperlukan. Hingga pada saatnya, lepaskan mereka agar dapat mengembangkan sayapnya dan terbang tinggi seperti induk rajawali melihat anaknya terbang tinggi. Mari, memohon hikmat Tuhan dan terus berlatih mendampingi anak kita menjadi dewasa.