Bahasa Kasihnya Tuhan

bahasa kasihnya Tuhan

Oleh: Lili Irene, M.Th – Staf Kerohanian Sekolah Athalia

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia
dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih
aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing
(1 Korintus 13:1)

Penting yang Mana, Menguasai Banyak Bahasa atau Memiliki Kasih?

Berapa bahasa yang kita kuasai? Mungkin ada yang menguasai satu, dua, bahkan ada yang lebih. Bella Devyatkina, seorang anak usia empat tahun, memukau penonton televisi di negerinya, Rusia, karena berhasil menguasai enam bahasa asing sekaligus. Tentu suatu kebanggaan jika kita bisa menguasai berbagai bahasa yang ada di dunia. Lewat penguasaan berbagai bahasa, selain terlihat keren juga bisa memudahkan kita dalam pergaulan dan berelasi dengan semakin banyak orang.

Ayat 1 Korintus 13:1 menyentak kita dengan mengatakan bahwa sekalipun kita bisa berkata-kata atau menguasai semua bahasa bahkan bahasa malaikat sekalipun namun jika kita tidak mempunyai kasih maka itu sia-sia saja.

“Andai kata kulakukan yang luhur mulia, jika tanpa kasih cinta, hampa tak berguna. Ajarilah kami bahasa kasih-Mu agar kami dekat pada-Mu ya Tuhanku”. Ini adalah kutipan sebuah lagu yang sekaligus doa agar kita diajari bahasa kasihnya Tuhan. Ayat sekaligus nyanyian ini mengingatkan kita bahwa memang penting menguasai banyak bahasa, namun yang paling penting bagi kita orang percaya adalah menguasai bahasa kasih atau bahasa cintanya Tuhan.

Kata-kata dan Dampaknya

Mungkin ada di antara kita yang mempunyai kesulitan untuk bisa mengendalikan kata-kata sehingga begitu mudah mengucapkan kata-kata yang kasar dan makian ketika kita marah. Bahkan, ketika berusaha menerapkan bahasa kasihnya Tuhan dengan berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengatur bahasa yang kita gunakan, tetap saja ada kalanya kita masih terpeleset, bukan?

Bahasa yang kita gunakan sangat mungkin bisa menyakiti orang lain jika kita tidak berhati-hati. Mungkin kita pernah mendengar ada anak-anak atau orang-orang yang sakit hati atau memendam luka oleh kata-kata yang kasar, kritikan, atau dibanding-bandingkan dengan saudaranya/temannya. Semua itu menghancurkan harga diri mereka. Anak-anak yang sejak kecil mendengar kata-kata kasar dari orang di sekitar mereka, seperti orang tua, pendidik, ataupun teman-temannya akan hidup dalam kepahitan. Seorang anak yang tidak pernah dipuji untuk apapun yang ia kerjakan, malah dihina dan diejek, akhirnya putus asa dan memilih jalan pintas. Hal ini sungguh menjadi sebuah ironi, bukan?

Lima Bahasa Kasih

Gary Chapman dalam bukunya, mengatakan ada 5 cara untuk mengekspresikan bahasa kasih, yaitu:

  • Pujian (Words Of Affirmation)
  • Waktu bersama (Quality Time)
  • Tindakan Pelayanan (Art of Service)
  • Menerima Hadiah (Receiving Gift)
  • Sentuhan Fisik (Physical Touch)

Kelima bahasa kasih yang diungkapkan Gary ini adalah hal-hal yang juga anak-anak kita butuhkan dalam kehidupan mereka. Mereka memerlukan pujian, pemberian penghargaan, waktu yang kita berikan, sentuhan kehangatan, dan tindakan nyata kita kepada mereka.

Bahasa Kasihnya Tuhan

Hal penting yang perlu kita ingat sebagai orang tua dan para pendidik adalah untuk terus berdoa agar kita diajar bahasa kasihnya Tuhan. Dengan bahasa kasih itu kita dapat berkata-kata yang sifatnya membangun dan menguatkan bagi anak-anak dan orang-orang di sekitar kita.

Bahasa kasihnya Tuhan yang telah nyata diberikan kepada kita orang berdosa yaitu lewat pengorbanan-Nya. Ia rela mati di atas kayu salib, dihina dan dicemooh, namun tidak membalas. Dengan bahasa kasih yang lemah lembut Tuhan telah menerima kita orang berdosa. Ia berkorban, mengampuni dan menyelamatkan kita. Oleh karena itu, biarlah kita juga bisa memberikan bahasa kasihnya Tuhan lewat tutur kata yang lembut, membangun dan menguatkan bagi anak-anak kita dan orang-orang di sekitar kita. Kiranya Tuhan memampukan kita semua.

Posted in Renungan and tagged , .