Menemukan Kasih Sejati dari Tuhan

Menemukan Kasih Sejati dari Tuhan

Oleh: Tegar Juel Prakoso – Alumni Angkatan IV SMA Athalia

Sebelum berbicara tentang kasih sejati, perkenankan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Halo, perkenalkan nama saya Tegar Juel Prakoso, biasa dipanggil “Tegar”. Saya adalah alumni SMA Athalia angkatan IV, sebuah sekolah Kristen di BSD, Serpong. Saat ini saya mengajar TIK di SMP Athalia kelas 7 dan 8, dan SD Pinus kelas 4-6. Saat ini saya juga sedang melanjutkan studi magister di STT Bethel Indonesia jurusan Pendidikan Agama Kristen. Dalam tulisan ini saya akan membagikan kisah bagaimana saya menemukan kasih sejati dari Tuhan.

Pencarian Kasih Sejati

Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari mencari makna dan tujuan hidup. Di Athalia saya diajarkan tentang kasih Tuhan ketika saya mencari kasih yang sejati ini. Bersyukur saya menemukan kasih sejati dari Tuhan yang menurut saya salah satu aspek yang penting bagi kehidupan orang percaya. Konsep kasih dalam kehidupan orang Kristen mengacu pada kasih Tuhan. Kasih Tuhan disebut kasih Agape. Kasih Agape ini bersifat tanpa pamrih dan tulus. Contoh konkret kasih Agape yang tulus berasal dari Tuhan dapat kita lihat dalam Yohanes 3:16, Tuhan mengasihi dunia ini dengan memberikan Anak-Nya yang tunggal yaitu Yesus Kristus itu sendiri. Sebuah pengorbanan yang tiada ternilai harganya, tidak dapat dibandingkan dengan kasih mana pun di dunia ini.

Cara Saya Menemukan Kasih Sejati

Ketika menjalani kehidupan sebagai orang Kristen, saya merasa bukan hal yang mudah. Banyak hal duniawi yang mengalihkan fokus saya dalam mencari kasih yang sejati itu. Sebagai salah satu anak muda yang hidup di era sekarang ini yang menggoda saya untuk berpaling dari jalur Tuhan. Lantas, bagaimana cara saya menemukan “Kasih Sejati” itu? Ada dua cara saya menemukan kasih yang sejati itu.

Pertama, menjalin hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus. Dalam membangun sebuah hubungan, diperlukan sebuah komunikasi yang intens. Layaknya hubungan bapak dan anaknya. Ketika anak kerap kali menginginkan sesuatu dari bapaknya atau ketika anak tidak dianggap, tidak dipedulikan, bahkan tidak dikasihi di dunia ini, anak bisa mengadu pada Allah dalam doa. Saya memberikan waktu khusus secara teratur untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Ketika bangun pagi atau pun menjelang tidur, tidak lupa berdoa. Terkadang doa yang saya panjatkan berisi curhatan dan harapan yang ingin saya capai. Dan bersyukur, selama saya bersekolah dan mengajar di Athalia selalu diingatkan akan relasi dengan Tuhan. Dalam memulai hari dan menutup hari pasti diingatkan untuk selalu berdoa.

Kedua, mencari kebenaran yang sejati dalam Alkitab. Alkitab adalah sebuah petunjuk bagi orang percaya. Alkitab adalah sumber utama tentang kasih sejati Tuhan Yesus. Hal yang telah Tuhan perbuat telah tertulis semua di dalam Alkitab. Dalam Alkitab kita dapat membaca dan memahami karakter Tuhan, rencana-Nya, dan segala ajaran-Nya. Di Athalia tidak pernah terlepas dari aktivitas devosi. Setiap memulai hari, baik sebagai murid maupun sebagai tenagan pendidik selalu memulai hari dengan devosi. Melalui devosi saya dapat merenungkan isi dari firman Tuhan bersama dengan rekan sesama pengajar maupun bersama dengan siswa.

Respons Terhadap Kasih Tuhan

Tuhan sudah mengasihi kita, apa yang dapat kita lakukan sebagai wujud mengasihi-Nya? Hal yang saya lakukan sebagai respons wujud kasih Tuhan adalah melayani sesama. Menemukan kasih sejati dari Tuhan tidak hanya sebatas pengalaman pribadi, tetapi juga melibatkan pelayanan kepada sesama. Tuhan senang jika kita dapat memanfaatkan segala talenta yang kita miliki untuk melayani-Nya di mana saja. Melayani sebagai worship leader dan bidang multimedia di GBI Anugerah adalah salah satu respons saya sebagai wujud kasih kepada sesama.

Merupakan sebuah anugerah yang Tuhan berikan kepada saya untuk dapat kembali lagi ke Athalia sebagai seorang pengajar. Dulu saya diajar, sekarang saya mengajar. Hal ini sebagai wujud kasih saya kepada Tuhan dan sesama.

Saya bersukacita ketika mengajar murid-murid di Athalia dalam mata pelajaran TIK atau Informatika. Awalnya memang tidak mudah mengajar anak-anak yang telah dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital saat ini, sehingga saya mencoba mengajar dengan memberikan kasih yang pernah saya terima dari Tuhan. Lewat proses mengajar dengan kasih inilah saya bisa mengajar murid dengan penuh sukacita. Inilah kisah saya sebagai alumni semoga menjadi berkat bagi kita sekalian.

Baca juga: Kasih Sejati Allah

Kasih Sejati Allah

kasih sejati tuhan

Oleh: Lili Irene – Plt. Kabag PK3

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

Kasih dari Dunia

Secuplik bait lagu,”Belum pernah ada kasih di dunia sanggup mengubahkan hidupku, selain kasih-Mu Yesus …” Sungguh sebuah pernyataan iman yang besar bahwa di dunia ini kita sulit menemukan kasih yang sejati selain di dalam Tuhan Yesus.

Berbagai kisah tentang kasih yang mungkin pernah kita dengar baik kasih antara orang tua kepada anak, suami kepada istri, kakak kepada adik, sahabat kepada sahabat selalu membuat kita terharu, bukan? Di dalam kasih yang dinyatakan selalu ada pengorbanan. Namun, dalam kenyataannya tidak sedikit pula kasih yang ditunjukkan ada alasan atau pamrih di baliknya, sehingga sering timbul pertanyaan kenapa begitu sulit sekali untuk menemukan kasih tanpa pamrih di dunia ini.

Kita mungkin pernah mendengar banyak orang tua yang katanya mengasihi anaknya tetapi menuntut anaknya untuk melakukan apa yang diingini orang tuanya. Suami yang mengatakan bahwa ia mengasihi istrinya tetapi menuntut istri untuk tampil sempurna. Kakak yang katanya mengasihi adiknya, tetapi meminta balasan atas apa yang dilakukan. Teman yang berkata mengasihi temannya tetapi meminta ia untuk setuju dengan semua yang dilakukan. Pengajar yang hanya akan mengasihi muridnya jika mereka bersikap baik. Sungguh ironis berbagai kisah kasih di dunia ini pada akhirnya berujung dengan kisah sedih di mana setiap orang yang ada di dalamnya terlibat konflik berkepanjangan. Kenapa? Karena kasih manusia selalu menuntut dan ada pamrihnya.

Kasih dari Allah

Berbeda sekali dengan kasih Allah yang tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan atau balasan. Dalam Alkitab ada istilah yang dipakai untuk menunjukkan kasih yang seperti ini, yaitu kasih Agape. Kasih yang merupakan kasih Allah kepada manusia. Kasih sejati yang memberi tanpa meminta balasan, bahkan rela memberikan nyawa kepada orang yang dikasihi.

Yohanes 3:16 mengatakan bahwa Allah bahkan memberikan anak-Nya yang Tunggal untuk mati di atas kayu salib bagi kita manusia. Ada banyak orang yang bersedia mati untuk orang baik tetapi untuk orang tidak baik dan berdosa, siapa yang mau mati? Hanya Allah yang mau melakukannya bagi kita orang berdosa ini. Inilah “kasih sejati” itu. Allah mengasihi kita sebagaimana kita apa adanya, tanpa memandang status atau kedudukan kita. Kasih yang hadir di setiap musim kehidupan kita suka maupun duka. Kasih Sejati-Nya merangkul dan memeluk kita.

Kiranya kita melekat kepada kasih sejati Allah dalam menempuh hidup di dunia dan terus-menerus belajar untuk membagikan kasih sejati itu kepada orang-orang yang membutuhkan. Tuhan memberkati.

No Matter what storm you face
You need to know that God loves you.
He has not abandoned you

Franklin Graham

Baca juga: Menemukan Kasih Sejati dari Tuhan

Kasih Karunia dari Allah

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian PK3

Kasih karunia dari Allah

Lukas 1:30-31
Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.

Apa itu Kasih Karunia Allah?

Maria mendapat kasih karunia di hadapan Allah. Kasih karunia yang dimaksud oleh malaikat adalah mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan menjadi Juru Selamat dunia. Di satu sisi, ini adalah sebuah hak istimewa yang luar biasa, rahim manusia berdosa dipakai untuk hadir-Nya Yesus, Putra Allah. Namun, di sisi lain tentu ini merupakan tugas yang berat karena Maria masih perawan. Saat itu di Israel, jika seorang wanita yang belum menikah mengandung seorang anak maka ia akan mendapatkan hukuman mati. Karena itu, kasih karunia yang diterima Maria adalah sebuah tanggung jawab mulia dari Allah. Ia menjadi rekan sekerja Allah untuk mewujudkan rencana Allah yang mulia yaitu menyelamatkan manusia yang berdosa.

Apa yang kita pikirkan ketika berbicara mengenai kasih karunia? Apakah berkat-berkat jasmani, kemudahan hidup dan kesenangan dunia ini? Kasih karunia Allah jauh melampaui keindahan dan kenikmatan dunia ini, karena kasih karunia Allah adalah ketika kita bisa menjadi bagian dari penggenapan rencana Allah yang mulia. Kasih Karunia adalah ketika kita bersedia dipakai menjadi hamba-Nya, melakukan kehendak-Nya seperti Maria (Lukas 1:38). Dan dalam prosesnya, Allah tidak meninggalkan umat-Nya.

Kasih Karunia Sebagai Orang Tua

Salah satu kasih karunia Allah bagi kita adalah dengan menjadi orang tua. Tidak semua orang punya kesempatan ini, namun jika kita memilikinya, bersyukurlah. Sebab anak adalah hak istimewa sekaligus tanggung jawab yang mulia dari Allah. Adakalanya tanggung jawab ini terasa berat sebab orang tua dan juga anak-anak sama-sama manusia yang terbatas. Namun, itu bukan berarti orang tua di dalam Tuhan tidak akan mampu mengemban tanggung jawab ini. Sebab kasih karunia Allah juga berarti adanya penyertaan Allah bagi mereka yang dipilih Allah untuk melakukan misi-Nya.

Natal Sebagai Kisah Kasih Karunia dari Allah

The story of Christmas is the story of God’s relentless love for us – Kisah Natal adalah kisah kasih Tuhan yang tiada henti bagi kita (Max Lucado). Oleh karena itu, biarlah momen Natal mengingatkan kita bahwa kasih karunia Allah telah dinyatakan bagi kita dengan kehadiran Kristus yang mengasihi dan menyelamatkan kita. Dan kiranya teladan kasih Allah itu mendorong kita untuk menjadi orang tua yang menyatakan kasih Kristus kepada anak-anak yang Tuhan percayakan kepada kita.

Ganjaran dari Tuhan yang Mendatangkan Kebaikan

Oleh : Lili Irene – Staf kerohanian PK3

Ganjaran dari Tuhan yang Mendatangkan Kebaikan

Di antara kita mungkin pernah mengajukan pertanyaan ini, “Kenapa aku menderita, harus mengalami masalah ini, harus menanggung ganjaran ini, atau kenapa Tuhan meninggalkan aku? Mungkin masih banyak lagi pertanyaan kenapa lainnya yang kita tanyakan. Terkadang pertanyaan tersebut bisa saja jawabannya adalah karena kesalahan kita sendiri. Kita menderita akibat apa yang kita lakukan.

Renungan Ibrani 12:1-11

Rasul Paulus menuliskan kitab Ibrani khususnya pasal 12 ayatnya yang ke 1-11, ia menekankan pada nasihatnya perihal kesabaran dan ketekunan ketika kita harus menghadapi penderitaan sebagai orang percaya. Dikatakan pergumulan orang percaya ketika harus melawan dosa belum sampai mencucurkan darah. Maksudnya melawan dosa adalah berjuang demi suatu tujuan yang baik karena dosa adalah musuh kita. Kita terus-menerus berjuang untuk melawan keinginan daging kita. Melawan berbagai karakter yang tidak baik dalam diri kita, melawan bujukan iblis untuk tidak taat pada Tuhan dan sebagainya.


Ketika penderitaan datang mungkin saja diakibatkan karena kita sedang berjuang melawan dosa. Waktu kita gagal dalam melawan dosa, kita harus ingat kepada didikan, teguran, atau ganjaran dari Tuhan karena kita adalah anak-anak-Nya. Dalam ayat 7 dikatakan bahwa jika kamu harus menanggung ganjaran, Tuhan memperlakukan kita sebagai anak. Adakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Seorang ayah bisa saja memberikan ganjaran kepada anaknya untuk kebaikan anak tersebut. Memang dikatakan pada waktu ganjaran diberikan tentu saja tidak mendatangkan sukacita melainkan dukacita. Tapi ingatlah kemudian hasilnya adalah buah kebenaran dan damai sejahtera.

Sikap dalam Menerima Ganjaran dari Tuhan

Matthew Hendry dalam tafsiran surat Ibrani mengatakan penderitaan yang ditanggung dengan sikap benar, meskipun hal itu merupakan buah rasa tidak senang Tuhan, tetap saja merupakan bukti kasih kebapaan-Nya terhadap umat-Nya dan kepedulian-Nya terhadap mereka (ay.6-7). Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya dan Ia menyesah orang yang diakuinya sebagai anak.


Anak-anak Allah yang terbaik membutuhkan ganjaran ketika mereka melakukan kesalahan yang perlu diperbaiki. Allah akan menolong kita memperbaiki dosa yang kita lakukan sebagai anggota keluarga-Nya dan Ia akan menegur mereka ketika dibutuhkan. Allah bertindak sebagai ayah dan memperlakukan mereka sebagai anak-anak-Nya. Tidak ada ayah yang bijaksana yang menutup mata terhadap kesalahan anak-anaknya sendiri.


Teguran Tuhan sebagai Bapa tidak dimaksudkan untuk membuat kita sedih atau menderita. Teguran selalu untuk kebaikan kita dengan tujuan untuk memperbaiki dan membuat kita berperilaku menyerupai Dia. Pada akhirnya rasul Paulus menganjurkan agar kita rendah hati dan tunduk terhadap Bapa Surgawi kita pada waktu menerima teguran dari-Nya.


Dalam konteks hubungan relasi orang tua dan anak di dunia ini pun lebih kurang demikian. Orang tua tidak hanya mengasihi anak-anak mereka namun mereka juga mendidik dan menegur mereka jika mereka melakukan kesalahan. Orang tua juga mendampingi anak-anak agar mereka bisa menghadapi setiap konsekuensi akibat kesalahan yang mereka lakukan. Memberi anak-anak ganjaran yang sepadan namun tetap mendampingi dan memeluk mereka ketika mereka dalam proses untuk berubah.


Kiranya kita sebagai anak-anak Allah juga belajar terus tunduk ketika kita ditegur atau diganjar oleh-Nya. Dan dengan rendah hati kita menerima semua didikan Tuhan dalam bentuk apapun dan berproses terus-menerus untuk berubah menjadi lebih baik dan menyerupai Allah. Ganjaran Tuhan selalu mendatangkan kebaikan. Tuhan menolong kita semua.

Kasih Sejati

Kasih Hal Terbesar dalam Kehidupan Orang Percaya (1 Korintus 1313)

Oleh: Sylvia Tiono Gunawan – Staf Kerohanian PK3

Firman Tuhan Tentang Kasih

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”
1 Korintus 13:13

Ayat ini ditulis oleh Rasul Paulus untuk menjelaskan pentingnya kasih dalam kehidupan orang percaya. Paulus menegaskan bahwa kasih adalah yang paling besar di antara iman dan pengharapan.
Namun, bukan berarti iman dan pengharapan tidak penting. Sebaliknya, tanpa kasih, semua hal itu menjadi sia-sia di hadapan Tuhan.


Kasih: Dasar dari Ibadah dan Kehidupan Sehari-hari

Ketekunan kita beribadah, berdoa, dan melayani akan kehilangan makna bila dilakukan tanpa kasih kepada Tuhan.
Tanpa kasih, ibadah menjadi sekadar kewajiban dan formalitas rohani.

Demikian juga dalam kehidupan keluarga. Jika kita menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua, pasangan, atau anak tanpa kasih, maka kehadiran orang lain bisa terasa sebagai beban, bukan sukacita.
Kasih Kristus seharusnya menjadi dasar dan motivasi utama dalam setiap aspek kehidupan kita.


Kasih Sejati Menurut Henry Drummond

Dalam bukunya The Greatest Thing in the World, Henry Drummond menuliskan bahwa ujian terakhir dalam kehidupan rohani bukanlah seberapa benar atau suci kita di hadapan Tuhan, melainkan seberapa besar kita mengasihi Tuhan dan sesama.

Ia juga menjelaskan bahwa kasih sejati memiliki sembilan ciri penting:

  1. Sabar
  2. Baik hati
  3. Murah hati
  4. Rendah hati
  5. Tidak egois
  6. Tidak mudah marah atau terprovokasi
  7. Tidak dendam dan tidak memperhitungkan kesalahan orang lain
  8. Tulus dan jujur
  9. Menegakkan kebenaran

Melalui sifat-sifat ini, kasih sejati membawa kebaikan dan kebenaran, baik bagi kita sendiri maupun bagi mereka yang kita kasihi.
Inilah kasih yang Tuhan ingin kita nyatakan dalam kehidupan setiap hari.


Menghidupi Kasih Kristus dalam Kehidupan Sehari-hari

Melalui renungan ini, mari kita mengevaluasi kehidupan rohani kita:

  • Apakah kita sudah mengasihi Tuhan dengan segenap hati?
  • Apakah kasih Kristus nyata dalam relasi kita dengan keluarga, teman, dan sesama?

Kasih bukan hanya perasaan, tetapi tindakan nyata yang mencerminkan pengorbanan Kristus.
Sebagaimana Allah telah mengasihi kita dengan memberikan yang paling berharga — yaitu Yesus Kristus — demikian juga kita dipanggil untuk mengasihi Allah dan sesama dengan segenap hati, jiwa, dan kehidupan.


Kesimpulan: Kasih Adalah Puncak Kehidupan Rohani

Kasih adalah inti dari kekristenan dan puncak dari segala kebajikan.
Tanpa kasih, pelayanan kehilangan makna; dengan kasih, setiap tindakan menjadi ibadah sejati kepada Tuhan.

Kiranya kita terus belajar menghidupi kasih Kristus setiap hari — mengasihi Tuhan sepenuh hati dan menyalurkan kasih itu kepada sesama, agar hidup kita menjadi berkat dan memuliakan nama Tuhan.

Bahasa Kasihnya Tuhan

bahasa kasihnya Tuhan

Oleh: Lili Irene, M.Th – Staf Kerohanian Sekolah Athalia

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia
dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih
aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing
(1 Korintus 13:1)

Penting yang Mana, Menguasai Banyak Bahasa atau Memiliki Kasih?

Berapa bahasa yang kita kuasai? Mungkin ada yang menguasai satu, dua, bahkan ada yang lebih. Bella Devyatkina, seorang anak usia empat tahun, memukau penonton televisi di negerinya, Rusia, karena berhasil menguasai enam bahasa asing sekaligus. Tentu suatu kebanggaan jika kita bisa menguasai berbagai bahasa yang ada di dunia. Lewat penguasaan berbagai bahasa, selain terlihat keren juga bisa memudahkan kita dalam pergaulan dan berelasi dengan semakin banyak orang.

Ayat 1 Korintus 13:1 menyentak kita dengan mengatakan bahwa sekalipun kita bisa berkata-kata atau menguasai semua bahasa bahkan bahasa malaikat sekalipun namun jika kita tidak mempunyai kasih maka itu sia-sia saja.

“Andai kata kulakukan yang luhur mulia, jika tanpa kasih cinta, hampa tak berguna. Ajarilah kami bahasa kasih-Mu agar kami dekat pada-Mu ya Tuhanku”. Ini adalah kutipan sebuah lagu yang sekaligus doa agar kita diajari bahasa kasihnya Tuhan. Ayat sekaligus nyanyian ini mengingatkan kita bahwa memang penting menguasai banyak bahasa, namun yang paling penting bagi kita orang percaya adalah menguasai bahasa kasih atau bahasa cintanya Tuhan.

Kata-kata dan Dampaknya

Mungkin ada di antara kita yang mempunyai kesulitan untuk bisa mengendalikan kata-kata sehingga begitu mudah mengucapkan kata-kata yang kasar dan makian ketika kita marah. Bahkan, ketika berusaha menerapkan bahasa kasihnya Tuhan dengan berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengatur bahasa yang kita gunakan, tetap saja ada kalanya kita masih terpeleset, bukan?

Bahasa yang kita gunakan sangat mungkin bisa menyakiti orang lain jika kita tidak berhati-hati. Mungkin kita pernah mendengar ada anak-anak atau orang-orang yang sakit hati atau memendam luka oleh kata-kata yang kasar, kritikan, atau dibanding-bandingkan dengan saudaranya/temannya. Semua itu menghancurkan harga diri mereka. Anak-anak yang sejak kecil mendengar kata-kata kasar dari orang di sekitar mereka, seperti orang tua, pendidik, ataupun teman-temannya akan hidup dalam kepahitan. Seorang anak yang tidak pernah dipuji untuk apapun yang ia kerjakan, malah dihina dan diejek, akhirnya putus asa dan memilih jalan pintas. Hal ini sungguh menjadi sebuah ironi, bukan?

Lima Bahasa Kasih

Gary Chapman dalam bukunya, mengatakan ada 5 cara untuk mengekspresikan bahasa kasih, yaitu:

  • Pujian (Words Of Affirmation)
  • Waktu bersama (Quality Time)
  • Tindakan Pelayanan (Art of Service)
  • Menerima Hadiah (Receiving Gift)
  • Sentuhan Fisik (Physical Touch)

Kelima bahasa kasih yang diungkapkan Gary ini adalah hal-hal yang juga anak-anak kita butuhkan dalam kehidupan mereka. Mereka memerlukan pujian, pemberian penghargaan, waktu yang kita berikan, sentuhan kehangatan, dan tindakan nyata kita kepada mereka.

Bahasa Kasihnya Tuhan

Hal penting yang perlu kita ingat sebagai orang tua dan para pendidik adalah untuk terus berdoa agar kita diajar bahasa kasihnya Tuhan. Dengan bahasa kasih itu kita dapat berkata-kata yang sifatnya membangun dan menguatkan bagi anak-anak dan orang-orang di sekitar kita.

Bahasa kasihnya Tuhan yang telah nyata diberikan kepada kita orang berdosa yaitu lewat pengorbanan-Nya. Ia rela mati di atas kayu salib, dihina dan dicemooh, namun tidak membalas. Dengan bahasa kasih yang lemah lembut Tuhan telah menerima kita orang berdosa. Ia berkorban, mengampuni dan menyelamatkan kita. Oleh karena itu, biarlah kita juga bisa memberikan bahasa kasihnya Tuhan lewat tutur kata yang lembut, membangun dan menguatkan bagi anak-anak kita dan orang-orang di sekitar kita. Kiranya Tuhan memampukan kita semua.

Allah Yang Maha Kuasa

Saya percaya Tuhanku Maha Kuasa. Dia sanggup melakukan apa pun yang kadang tidak terpikirkan oleh manusia. —Susiana, Orang Tua Siswa.

Selama empat hari pertama di HICU, Ariel berada dalam kondisi kritis. Empat hari itu pula, hati saya menangis melihat banyak selang di tubuh Ariel. Warna tubuhnya juga berubah menjadi kuning pekat sebagai efek dari sakit paru-paru yang sudah merembet ke hati. Sebagai seorang ibu, saya hanya bisa terus memohon belas kasihan Tuhan karena hanya Dia yang sanggup menyembuhkan Ariel. Saya berdoa agar dokter dan obat-obatan menjadi perpanjangan tangan-Nya untuk menolong Ariel kembali pulih.

Selama Ariel dirawat di HICU, ada sesuatu yang membuat saya heran. Setiap kali makan, anak saya minta disuapi oleh papanya. Padahal, biasanya dia lebih dekat denganku. Saya melihat mereka bisa mengobrol, bercanda, dan berdoa bersama meskipun Ariel masih kesulitan bicara karena sesak napas.

Baca Juga : Harapan Baru, Awal yang Lebih Baik untuk Masa Depan

Allah Yang Maha Kuasa

Pemulihan Hati dan Tubuh oleh Allah yang Maha Kuasa

Hari keenam Ariel dirawat di HICU menjadi titik balik bagi kami. Saat itu, ia yang justru mengajak kami berdoa bersama. Saya dan suami sangat kaget sekaligus terharu. Biasanya kami yang mengajaknya berdoa. Tapi kali ini, dia yang memimpin. Ariel memegang tangan saya dan suami, kemudian menyatukannya. Dengan suara tersengal-sengal karena sesak napas, dia mulai berdoa. “Tuhan, Ariel percaya bahwa sakit ini bukan untuk membuat Ariel menderita, tapi Tuhan mau membuat keluarga Ariel lebih baik lagi.

Doa itu membuat saya dan suami kaget. Kami berdua menangis. Seketika itu pula, saya merasa Tuhan membukakan mata dan hati saya sambil berkata, “Inilah Aku yang penuh kuasa.” Saya tidak bisa berkata-kata selain mengucap syukur di dalam hati. Tuhan sudah menjamah hati anak saya sedemikian rupa hingga dalam kondisi sakit pun dia bisa melihat rencana indah yang Tuhan siapkan untuk keluarga kami.

Selama sakit sampai harus dirawat di HICU, Ariel menjalani semua rangkaian pengobatan tanpa mengeluh. Namun, saya tidak pernah menyangka, anak saya punya pemikiran seperti dalam doanya itu. Tuhan sungguh menjamah dia!

Setelah melalui berbagai proses, akhirnya kondisi Ariel membaik sehingga dipindahkan ke kamar biasa. Setelah dirawat selama hampir satu bulan di rumah sakit, akhirnya dia diizinkan pulang! Sejak saat itu, Ariel menjadi lebih dekat dengan kami, terlebih papanya. Lagi-lagi, saya diingatkan bahwa Allah yang Maha Kuasa bisa memakai peristiwa apa pun untuk membuat hubungan ayah dan anak menjadi lebih dekat. Saya percaya, semua rancangan-Nya indah karena Ia sangat mengasihi kita.

Tahun Ajaran Baru “Melangkah dengan Iman”

Oleh: Bella Kumalasari, Staf Karakter – PK3

Mengakhiri dan memasuki tahun ajaran baru dengan situasi bekerja dan belajar dari rumah tentu bukan menjadi kebiasaan kita. Situasi ini terasa asing, mungkin aneh. Di satu sisi, suasana belajar dari rumah bisa terasa nyaman, tetapi di sisi lain juga menyedihkan dan membawa gejolak di dalam hati.

Pandemi Covid-19 seolah membawa kita masuk ke dalam ketidakpastian yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, mudahnya konektivitas global melalui internet, dan hadirnya artificial intelligent, kita justru dihadapkan dengan ‘musuh’ yang bahkan tidak bisa kita lihat. Virus yang sangat kecil ini memorakporandakan seluruh rencana yang mungkin sudah kita susun sejak awal tahun atau bahkan tahun lalu.

Beberapa rencana yang telah disusun sejak lama seperti liburan atau bertemu dengan keluarga di kampung halaman terpaksa harus ditunda. Sementara itu, kebijakan-kebijakan pemerintah yang terus diperbarui membuat sebagian masyarakat kebingungan, tetapi rasanya tidak kunjung menjawab persoalan. Ajakan untuk hidup di ‘normal’ yang baru sudah dicanangkan dengan gamblang. Namun, apakah semudah itu menjalaninya?

Dapat dikatakan bahwa pandemi ini menimbulkan penderitaan bagi umat manusia. Mungkin kita mulai meragukan Allah, jiwa kita lelah dan terkuras, atau kita sangat khawatir dan mulai bertanya, “Sampai kapan kita akan bertahan?” Namun, alih-alih menjadi semakin terpuruk karena kondisi ini (atau kondisi lainnya kalaupun bukan virus corona), mari kita datang kepada Allah, Sang Batu Karang yang teguh.

Allah Berdaulat dalam Setiap Tahun Ajaran Baru

Allah adalah Allah yang berdaulat atas segala sesuatu—termasuk dalam kesulitan yang kita anggap pahit. Ia mengizinkan segala sesuatu terjadi dalam kendali-Nya, bukan karena Ia gemar melihat manusia menderita, melainkan karena hikmat-Nya yang sempurna dan kasih-Nya yang tidak berubah. Allah tidak bertindak secara plin-plan. Ia tidak dikuasai oleh kebingungan atau perubahan. Dalam segala penderitaan, penyakit, bencana, atau krisis, Tuhan tetap memegang kendali. Justru karena kita tidak mampu memahami-Nya sepenuhnya, maka Ia layak dipercaya.

John Piper (2020) menyampaikan bahwa, “Kedaulatan yang memerintah atas penyakit adalah juga kedaulatan yang menopang dalam masa kehilangan. Kedaulatan yang mencabut nyawa adalah kedaulan yang juga mampu menaklukkan maut dan membawa orang-orang percaya ke surga dan kepada Kristus. Kedaulatan yang dapat menghentikan wabah virus corona. Meski sekarang tidak melakukannya, adalah kekuatan yang sama yang memelihara jiwa-jiwa yang sekarang ada di dalamnya”.

Kita mungkin tidak memahami jalan pikiran-Nya. Namun, firman-Nya mengajarkan bahwa tidak seekor burung pipit pun jatuh tanpa izin-Nya. Bahkan rambut di kepala kita pun terhitung. Maka, kita dapat yakin bahwa tidak ada virus pun hadir tanpa sepengetahuan-Nya. Kabar baiknya, kita jauh lebih berharga dibanding banyak burung pipit (Mat. 10:29–31).


Baca Juga : Athalia Learning Community News Edisi Juni – Juli Tahun 2020

Allah yang Mengasihi Kita

Lebih dari sekadar berdaulat, Allah juga adalah Pribadi yang mengasihi kita. Roma 8:32 menyatakan, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakan mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?

Kerelaan Allah menyerahkan Anak-Nya yang tunggal telah membuktikan kasih-Nya kepada kita sekaligus menegaskan betapa Ia akan memakai seluruh kedaulatan-Nya untuk “mengaruniakan segala sesuatu kepada kita”. Ya, segala sesuatu, termasuk ketika “… kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari …” (Roma 8:36) demi kemuliaan-Nya—entahkah membawa kita melewati bahaya maut ini dengan selamat ataupun seperti yang dikatakan Paulus dalam ayat-ayat selanjutnya, “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup … tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 8:38-39).

Keberadaan Allah yang berdaulat sekaligus mengasihi saya membuat kita dapat melangkah dengan yakin bahwa ada tangan yang memegang hidup kita dengan sempurna meskipun kita tidak dapat melihat berpuluh-puluh langkah ke depan. Kedaulatan-Nya dalam menciptakan dunia ini, kasih-Nya dalam kisah penebusan di kayu salib dan kubur yang kosong, tidak berhenti sebagai kisah klasik beribu-ribu tahun yang lalu ataupun suatu kisah “dongeng” yang indah dalam kekekalan kelak. Ia ada saat ini, di sisi Anda dan saya, terlibat dan menentukan ini dan itu dalam setiap detik kehidupan kita, “… supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia” (1 Tes. 5:10).


Baca Juga : 20 Strategi untuk Mengembangkan Karakter Baik pada Anak

Menghidupi Tahun Ajaran Baru dalam Rengkuhan Kasih-Nya

Di tengah semua perubahan, marilah kita menyambut tahun ajaran baru dengan iman yang diperbarui. Kita memiliki Tuhan yang tidak pernah keliru dan senantiasa menyertai. Kedaulatan dan kasih-Nya bukanlah teori, melainkan kenyataan yang bisa kita alami setiap hari.

Mari mengarahkan hati kepada-Nya. Selamat memulai tahun ajaran baru di dalam rengkuhan kasih dan kedaulatan-Nya yang tak pernah berubah.

*Artikel ini merupakan sebuah refleksi dari beberapa referensi buku dan webinar, meliputi Coronavirus and Christ (John Piper, 2020), Where Is God in A Coronavirus World? (John Lennox, 2020), serta webinar apologetika mengenai kejahatan dan penderitaan oleh Bedjo Lie, M.Th.

The Greatest Love

Oleh: Wahyu Setianingrum, guru Agama SMP

“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”
(1Yohanes 4:8)

Allah adalah Kasih

Ketika kita berpikir tentang Tuhan, kita tidak bisa memungkiri fakta bahwa Tuhan itu penuh dengan kasih. Kasih-Nya sangat besar, bahkan kasih Allah adalah yang terbesar yang pernah ada. Apa buktinya? Ketika Dia mengirimkan Anak-Nya untuk mati di atas kayu salib untuk menebus kita dari dosa, itu berarti Dia sangat mengasihi kita dan tidak mau kita terpisah dengan-Nya (Yohanes 3:16). Dia adalah Bapa yang menginginkan anak-anak-Nya untuk selalu dekat dengan-Nya. Bila kita melihat lebih jauh lagi mengenai kasih, kita akan menyadari bahwa kasih tidak dapat dilihat dan tidak dapat disentuh, tetapi dapat kita rasakan dalam hati kita. Allah pun sama. Walaupun kita tidak dapat melihat dan menyentuh-Nya, kehadiran-Nya dapat kira rasakan dalam hati kita.

Dialah yang Memampukan Kita untuk Bisa Mengasihi

Kita dapat mengasihi karena Dia sudah terlebih dahulu mengasihi kita (1Yohanes 4:19). Allah adalah kasih. Saat Allah menciptakan kita sesuai dengan gambar dan rupa-Nya, kita membawa kasih-Nya dalam diri kita. Rasul Paulus mengatakan bahwa tidak ada apa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Kristus Yesus. Alkitab mencatat ketika Yesus memberikan sebuah perumpamaan dalam Lukas 15 mengenai anak yang hilang. Dalam perumpamaan ini, digambarkan mengenai kasih seorang Bapa kepada anak-Nya. Walaupun sang anak mengambil setengah dari harta warisan bapaknya dan meninggalkannya, bapak tidak berhenti berharap anaknya kembali. Saat dia melihat anaknya dari jauh, dia berlari, memeluk dan mencium anaknya. Begitu pula Allah, Dia begitu mengasihi kita dan tidak akan membiarkan kita untuk mengambil jalan yang salah. Itulah alasan mengapa Dia mengirimkan anak-Nya untuk mati menebus kita dari dosa.

Perbedaan kasih Allah dan Manusia

Kasih Allah kepada kita begitu besar. Kasih-Nya tidak seperti kasih manusia. Manusia bisa berhenti untuk mengasihi tapi Allah tidak pernah. Walaupun manusia melakukan banyak dosa sejak Adam dan Hawa melanggar perintah Allah, kasih Allah kepada kita tidak pernah berhenti. Tidak peduli apa pun yang pernah kita lakukan, tidak ada suatu hal apa pun yang akan membuat Tuhan menutup pintu terhadap kita apabila kita mau kembali kepada-Nya. Sebaliknya, kitalah yang sering pergi meninggalkan Allah. Alkitab sudah menunjukkan dengan jelas bahwa kasih Allah tidak akan pernah gagal. Sekali lagi, ketika Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk datang ke dunia mati bagi kita, hal itu menunjukkan bahwa Dia sangat mengasihi kita. Tidak ada hal apa pun yang dapat membayar segala hal yang Tuhan sudah lakukan demi kita. Dia melakukan semua itu atas dasar kasih-Nya kepada kita. Kasih Allah itu tak bersyarat dan tidak mementingkan diri sendiri, tetapi selalu mementingkan orang lain.

Kasih Agape

Tuhan mau kita mengasihi bukan dengan kekuatan kasih kita sendiri. Dia mau kita mengasihi dengan kasih-Nya yang tak bersyarat, yaitu kasih agape. Kasih agape Allah tidak pernah gagal. Saat kita mengasihi anak kita atau murid-murid kita seharusnya kita mengasihi juga dengan kasih agape. Kita dapat mengasihi mereka tanpa melihat kekurangan ataupun kesalahan mereka. Apakah kita akan tetap mengasihi mereka ketika mereka melakukan kesalahan, mereka dalam pergumula, bahkan dalam segala keterbatasan dan kekurangan yang mereka miliki? Bila kita mengizinkan Tuhan menjadi pusat dalam hidup kita dan membiarkan Kasih-Nya memenuhi hidup kita, Ia akan menolong kita untuk dapat memiliki kasih yang tak bersyarat itu.

Bila kita melihat lebih jelas 1 Korintus 13:4–8, kita dapat melihat arti kasih. Dan arti kasih itu akan membuat kita mengerti mengapa kasih Allah tidak pernah gagal. Bila kita mempraktikkan arti kasih tersebut dalam relasi kita sebagai orang tua dan anak, pendidik, dan murid, kita akan dapat menemukan cara untuk mengasihi dengan kasih agape. Sudahkah anak-anak kita, murid-murid kita, menemukan kasih Agape itu dalam diri kita (sebagai orang tua atau sebagai pendidik)?

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Desember, di mana kita akan merayakan kelahiran Tuhan Yesus. Di mana Allah menunjukkan kasih-Nya dengan mengutus Tuhan Yesus ke dalam dunia untuk mencari kita, orang berdosa. Marilah kita gunakan momen ini untuk sama-sama belajar mengasihi anak-anak dan murid-murid kita dengan kasih Agape, kasih yang besar dan tanpa syarat. Mengasihi mereka seperti Tuhan mengasihi mereka. Tuhan memampukan kita semua!